Save Me

tumblr_static_tumblr_static_4n9blmol4jcw0kc0sok0o448w_640

You think you want to die, but in reality you just want to be saved.

Sekilas tak ada yang istimewa dengan kalimat itu. Kalimat yang keluar dari mulut salah satu temanku, yang belakangan ini kuketahui ia dapatkan dari Google saat ia mem-posting-nya di Path. Namun ada arti yang dalam, tajam, menusuk nalarku yang hampir karam.

Continue reading

Kenapa Ragu dan Takut?

tumblr_m1l0wmuF1v1qfx0emo1_500

sumber

Kita pernah menjadi seorang pengecut, benar bukan? Terlalu lama berpikir dan terjebak pada pilihan ‘Ya’ dan ‘Tidak’, dan akhirnya, kita tidak memilih dua-duanya.

Selama napak tilas 20 tahun kehidupan ini, dari zaman pertama kali gue jatuh cinta pas umur 15 tahun hingga sekarang, sering banget gue lebih memilih memendam perasaan gue daripada mengungkapkannya.

Kenapa?

Continue reading

Menemukanmu

Banyak sekali hal yang sedang aku pikirkan, salah satunya adalah memikirkan kamu, dan aku pun terkadang tidak mengerti jalan pikiranku sendiri. Apakah kau juga pernah merasakan hal ini?

Aku mengetik ini sambil kebingungan, bingung dengan pertanyaan diriku sendiri. Apakah kita memang sama-sama sedang mencari untuk saling menemukan? Atau setelah kita dipertemukan, kita akan dipisahkan?
Sepertinya kita hanyalah korban dari rahasia waktu, kita terlalu sering mengira-ngira akan jatuh cinta pada siapa, akan memiliki hati siapa, dan akan menitipkan hati pada sesiapa. Itu adalah urusan hati, dan hati selalu berurusan pada waktu.

Saat kau patah hati, apa yang kamu lakukan selain meyakinkan diri untuk tabah, sembuh, dan melupakan? Kembali lagi, semua adalah perihal waktu. Kenapa harus berkaitan dengan waktu? Aku selalu penasaran dengan retorika pertanyaan-pertanyaan yang nihil jawaban itu.

Tapi, mungkin jawaban paling benar adalah: ini semua masih rahasia sang waktu.

Rahasia yang membuatmu terdorong untuk selalu mencari dan menatap, menatap kemudian menitip, menitip lalu menutup. Menutup hati untuk menetap pada hati seseorang yang kamu cari untuk kamu temukan dan seseorang itu mencari untuk menemukan kamu.

Hidup ini terlalu singkat, untuk itu aku saat aku mencari dan menemukanmu, aku ingin berlama-lama denganmu untuk hidup yang singkat ini.

3 notes

Renungan Pengembalian

Pernah kau merasa begitu sepi? hingga kau terperanjat sendiri bahwa keadaan di sekitarmu sangat hampa. Bahkan udara tak bersuara.

Pikiranmu menerawang jauh menjelajahi koridor masa. Menapaki jejak curam kenangan silam bersama seseorang di lobi ingatan.

Bir dingin dan beberapa sesap nikotin akan membuatmu lebih tenang. Sesaat sebuah kabar kehilangan mampir ke liang pendengaran.

Kau hanya bisa membisu dan tak ingin berkata apapun.


Tak ada yang salah dalam perhitungan waktu, semua hanya kumpulan kata seandainya yang tertahan di ujung lidah. Kelu. Bercampur pilu.
Kau hanya bisa terpaku melihat arah jarum jam bergerak ke arah kiri. Menghipnotis jalan pikiranmu agar kau berjalan melewati selasar-selasar yang samar untuk membuka sebuah pintu. Pintu masa lalu.

Apa yang akan dan ingin kau lakukan jika diberi kesempatan untuk kembali ke masa lalu? Apakah kau memilih untuk kembali mengulang untuk memperbaiki semua rinci kesalahan yang tercap di nadi; yang menjadi sebab kepergian. Atau kau lebih memilih untuk menulis cerita baru dan menghapus ingatan tentang sebuah pertemuan yang berujung perpisahan tak terelakan.

Kamu takkan bisa menghindar dari waktu, ia berjarak lebih dekat dari bayangan sepatu yang kau gunakan untuk berpijak satu demi satu.

Mari, mulai detik ini kita berlomba untuk saling melupakan, dan sudah ditetapkan aku yang akan terlupakan duluan.

Monolog

image

Sssttt….

Aku harap saat kamu membaca ini, kamu tidak sedang merasa bahagia atau pun sedih, biasa-biasa saja.
Kita mulai monolog ini…


Beranjak pergi dan kembali. Setiap orang akan selalu begitu, untuk mencari dan menemukan, seperti dulu saat aku mencarimu dan kamu menemukanku. Entah itu garis takdir yang sudah ditetapkan atau memang konspirasi semesta yang mempertemukan kita dan lalu… memisahkan.

Aku selalu kagum dengan rahasia waktu, khususnya pada pukul satu dini hari saat aku mendoakanmu. Lamat-lamat pikiranku berputar memikirkan doa apa lagi yang kurapal pada Tuhan untukmu? Jika kamu selalu bahagia bersama… orang lain di luar sana.

Aku sudah lupa rasanya bermanja-manja tanpa harus merasa takut dikejar-kejar waktu yang selalu cemburu ketika aku bersamamu.Dahulu di bangku taman atau kedai kopi langgananmu, kita berseteru untuk mengarang cerita-cerita lucu, yang nantinya kau tulis di buku diarimu.

Dan, waktu tanpa sadar akan selalu menuntutmu ke depan, sekali lagi. Aku semakin penasaran dengan rahasia waktu. Itu membuatku ingin mencopot jarum jam yang selalu bergerak ke arah kanan, dan memerintahkannya untuk bergerak ke arah kiri. Agar aku bisa kembali ke masa itu lagi.
Seperti biasa malamku sederhana, tak ada perayaan yang berlebihan selain merindukanmu pulang. Aku tidak terlalu berharap lagi untuk yang kusebutkan barusan, karena bagiku merelakan adalah satu-satunya pilihan yang harus kulaksanan tanpa ada opsi lain meski itu bukan yang terbaik. Setidaknya untukmu dan kesembuhan hatiku.

Ingin rasanya sesekali aku mampir lagi ke terminal tempat biasa aku menjemputmu pukul lima pagi, udara masih terlalu tajam untuk ditabrakan pada muka bantalku. Semua menjadi segar, karena yang kuingat adalah senyummu yang lebar ketika kamu turun dari bis yang mengantarmu dari rumah ke hadapanku. Aku selalu menyukai itu.

Sebentar lagi hari ulang tahunku, kau masih ingat itu? Kado yang paling kuinginkan hanyalah senyum manismu yang sederhana, tetapi syaratnya kamu harus memandangiku sebentar dan mengingat-ingat hal bodoh yang kita lakukan bersama dulu. Ya, bernostalgia.

Menaiki bianglala, menikmati keemasan senja di atas ketinggian permukaan tanah. Berputar naik ke atas dan ke bawah, seakan gravitasi enyah. Kita bertatapan dan membiarkan sorot mata kita yang berbicara lewat bahasanya. Kemudian saat senja mulai sempurna, tanpa sadar dan aba-aba bibir kita digerakkan rindu agar bertemu untuk mencicipi manisnya cinta. Kecupan kecil yang memabukkan, rasanya aku ingin waktu menghentikan tugasnya sementara, lalu terlelap dalam pelukanmu. Sebentar saja, tolong biarkan aku menikmati kebahagiaan yang nantinya akan kukenang selamanya.

Sekian…

Aku sedang dalam perjalanan melupakanmu. Tolong, kali ini aminkan doaku, agar aku selamat sampai ke tempat di mana tak ada lagi kamu.

 

image