Save Me

tumblr_static_tumblr_static_4n9blmol4jcw0kc0sok0o448w_640

You think you want to die, but in reality you just want to be saved.

Sekilas tak ada yang istimewa dengan kalimat itu. Kalimat yang keluar dari mulut salah satu temanku, yang belakangan ini kuketahui ia dapatkan dari Google saat ia mem-posting-nya di Path. Namun ada arti yang dalam, tajam, menusuk nalarku yang hampir karam.

Continue reading

Advertisements

Beberapa Pertanyaan di Sebuah Kedai.

a man

sumber

Merindukan seseorang itu wajar, kan?

Saat menulis ini aku sedang duduk sendirian di sebuah kedai kopi di daerah Kelapa Dua, Depok. Kedai yang tidak terlalu besar, dan juga tidak terlalu kecil. Ada tujuh meja berwarna merah marun yang tersedia di sini, dan dipasangkan dengan empat bangku hitam di tiap sisinya. Ada delapan orang yang sedang menikmati minuman dan obrolan hangat mengenai rencana esok hari, lima laki-laki dan tiga perempuan. Aku rasa kau sudah tahu, malam ini adalah malam pergantian tahun. Malam di mana orang berkumpul bersama keluarga, kerabat, orang-orang tersayang, atau dengan kesendirian. Aku? Aku sedang berkumpul bersama pilihan terakhir yang kusebutkan barusan. Tolong jangan tanyakan alasannya kenapa.

Aku sedang menunggu pesananku datang; segelas teh tarik dingin dan chicken steak. Sambil menunggu pesananku disediakan, aku menyalakan laptop untuk menulis cerita ini, dan mematikan telepon genggamku, sekedar memastikan konsentrasiku tidak terganggu oleh pesan yang masuk untuk menyelesaikan tulisan ini.

Continue reading

Percakapan Mengenai Seorang Gadis

image

“Gimana? Udah dapet?”

Hening. Gue terdiam sejenak dan berpikir kalimat apa yang harus gue keluarkan untuk menjawab pertanyaan ini.

“WOI! Lo ditanya malah diem aja!” Yoga langsung gebrak meja yang misahin tempat di mana kami duduk.

“Udah sih, tapi cuma nama. Santai lah,” jawab gue pelan dan memperhatikan keadaan sekitar yang cukup ramai. Masih ada sekitar lima belas orang yang duduk menikmati suasana malam sambil mengobrol dan menikmati minuman hangat di kafe daerah Depok ini.

“HAH? Nama?! Yang bener aja, Fal, udah dua minggu lo masih stuck di situ aja?” Yoga menggelengkan kepalanya kemudian nyalain rokok yang sedari tadi dia pilin di antara jemari tangan kanannya.

Gue menunduk, alasan apa lagi yang harus gue jelasin? Sobat gue yang satu ini emang pendengar yang baik, tapi dia paling males kalo dengerin alasan yang berbelit-belit.

“Iya, abisnya…, ya gitu deh, Ga. Gue takut,” ucap gue sambil ngegaruk kepala yang sebenarnya gak terasa gatal. Gue memperhatikan sebatang rokok Sampoerna Mild yang terhimpit di antara sela asbak yang masih bersih.

Yoga menghisap rokoknya dengan mata terpejam, seakan-akan dia sangat menikmati asap yang masuk ke paru-parunya. Kemudian Yoga  menghembuskan kepulan gumpalan racun tersebut dengan satu hela napas panjang yang membentuk garis putih lurus, “Elo tuh dari dulu gak berubah, Fal,” ucap Yoga sambil mematikan rokok yang masih tersisa setengah, “Kalo lo emang punya nyali, buktiin! Ajak dia kenalan dan jalan. Itu baru cowok!”

Dahi gue mengerut seketika pas ngedenger ucapan dia. Apalagi saat inget kejadian beberapa waktu lalu.

“Wih manis banget senyumnya nih cewek!” ucap gue spontan, gue langsung zoom avatar-nya dan ngubek-ngubek galeri foto dan video Twitter-nya. Gue liat tweet dia dari yang paling baru sampai dua bulan yang lalu, kemudian gue liat bergantian barisan-barisan foto yang berbentuk slide, kedua mata gue menyipit memperhatikan dengan jeli senyum gadis itu.

Manis. Satu kata yang mengerubungi otak gue.

Selang beberapa lama kemudian, gue memperhatikan pergerakannya di Twitter. Gak ada terlihat tweet-nya dia yang menunjukkan kalo dia udah punya pacar atau lagi deket sama cowok. Gue mulai optimis untuk deketin gadis itu.

Tapi…

Continue reading

Sebuah Percakapan Mengenai Jarak

image

Banyak yang takut kalah dengan jarak, dengan segala kemungkinan yang akan terjadi.

Ponsel gue bergetar. Ada panggilan masuk. Saat gue liat nama sang penelpon senyum gue mengembang dengan penuh sukacita.

“Halo, tumben kamu nelpon aku jam segini. Kangen ya? Hehehe.” Gue langsung  nyerocos kepada lawan bicara dengan semringah.

“Jangan ditanya! Kangen bangeeeet lah sama kamu. Udah empat bulan kita belum ketemu lagi,” ucap seorang gadis di seberang sana. Gue kangen banget sama suaranya. Karena cuma dalam waktu tertentu gue bisa ngobrol panjang lebar sama dia. Dan panggilan dari dia kali ini benar-benar nggak gue duga.

“Iya, udah empat bulan. Kamu gimana kabarnya? Masih sibuk banget ya? Sampai baru telepon aku lagi sebulan terakhir ini.”

“Aku baik-baik kok. Kamu juga kan? Ah kamu mah pasti masih sering begadang deh. Sebel,” gerutunya. Gue demen nih kalo udah begini, ngebayangin dia cemberut. Ngebayangin pipinya yang tembem itu mengembang. Kalo dekat pasti gue gue cubit.

Tiba-tiba hening sebentar.

Continue reading

Berakhir Sebelum Dimulai

image

Gue baru aja mengakhiri sesuatu yang belum dimulai.

Hari Jum’at yang panas, perut yang belum terisi, dan ada hal yang sedang mengusik pikiran gue. Ya, seperti biasa, penyakit menahun gue yang selalu takut untuk jujur ngungkapin perasaan sering kumat, tapi kali ini berbeda. Gue udah belajar berani minimal untuk diri sendiri.

Suatu ketika, gue kenal sama seorang cewek namanya, sebut aja Bunga. Gue kenalan sama dia ketika gue dapet kerjaan ngeliput event anak UI di daerah Kuningan, Jaksel. Anaknya asik, senyumnya manis (iya senyumnya), dan satu yang gue tertarik dari dia. Nada bicaranya dia yang malu-malu dan pipinya lucu, bikin gue pengin nyubit dia terus.

Awalnya, gue gak mengira perhatian gue bisa teralih jadi merhatiin dia. Selama acara, kosentrasi gue jadi kebelah dua. Antara nyimak sambil foto-foto acara dan ngeliatin dia terus. Dan dianya? Entah, feeling gue mengatakan bahwa dia juga ngeliatin gue sesekali. Gue gak mau ngerasa gede rasa.

Continue reading

Rasa Takut yang Mencuat

Rasa takut yang mengingatkan kalo semua itu akan berakhir di suatu hari.

Gue bangun dari tidur dan leyeh-leyeh sebentar. Setelah kesadaran dan otak gue udah mulai singkron, gue bergegas memulai aktivitas hari ini dan mengawalinya dengan mandi lalu berangkat kuliah tepat jam 07.12 WIB.

Gue menaiki si Aoi, motor belalang berwarna biru kesayangan gue yang selalu lebih setia dari siapa pun untuk nemenin gue pergi. Gue menancapkan gas dari rumah gue dan berhenti di lampu merah perempatan jalan Margonda – Juanda, gue matiin mesin motor gue karena gue liat detik waktu yang tertera di lampu merah masih menunjukkan detik 127. Masih sekitar dua menit untuk berganti jadi lampu hijau.

Gue buka kaca helm dan memperhatikan keadaan sekeliling gue sebentar. Udah mulai ramai. Di samping kanan ada bapak-bapak menunggangi motor Scorpio warna coklat dengan helm hitam full face, wajahnya terlihat masih ngantuk. Gue meluruskan pandangan ke depan, tetapi gue memperhatikan bapak-bapak itu dengan ekor mata, bapak ini tinggi gede orangnya. Kayaknya mau berangkat kerja.

Gue liat lagi di sebelah kiri gue, ada mas-mas boncengan sama cewek pake motor mio velg 17 knalpot racing. Cewek yang diboncenginnya adem ayem aja, tapi tampang si mas-nya kayak lagi menyimpan masalah. (Jangan suruh gue deskripsiin tampangnya, bayangin aja mas-mas Jawa gitu lagi bengong.)

Pas gue lagi bengong sebentar dan merhatiin garis-garis zebra cross, tiba-tiba ada satu pertanyaan klise yang melipir di pikiran gue.

Continue reading

Sepenggal Cerita di Dalam Kafe

image

Kenapa waktu seolah berjalan lambat saat aku mencoba melupakanmu?

Seorang pria melirik jam tangan yang dikenakannya. Pukul 16.54. Dia menghembuskan nafas berat. Rambut gondrongnya acak-acakan. Kemeja panjang berwarna hijau toska yang membungkus tubuhnya digulung selengan. Kedua bola matanya menatap berpasang-pasang remaja yang sedari tadi duduk berpapasan dengan kekasihnya.Wajah ramahnya terlihat lelah. Senyumnya pahit seperti kopi yang diabaikannya sejak 30 menit yang lalu.

Dia sepertinya ke tempat itu lagi. Ke sebuah taman yang dulu sering ia kunjungi bersama seorang gadis. Tepatnya, mantan kekasihnya satu tahun yang lalu. Satu-satunya manusia di bumi ini yang mampu membuatnya nyaman di keramaian.

“Fika apa kabar kamu di sana?” tanya pria itu dalam hati.

 

Perhatian pria itu beralih pada cairan hitam yang tergenang di gelas plastik bekas kemasan air mineral. Tatapannya kosong. Telunjuk kanannya tanpa sadar mengetuk bangku kayu yang dia duduki. Pikirannya gelisah.

Tuk… Tuk… Tuk…

Continue reading