Simpul

140127MD7_5676.jpg

(source: mark4photography)

Kita sama-sama mumpuni dan radikal soal mencari serta meyakini kesia-siaan. Karenanya, kita pernah saling mencintai. Sebabnya pula, kita sepakat untuk berhenti.

Kalimat disertai montase kenangan tiga tahun silam yang membuai benak ambyar serentak.

Suara kereta yang mengantarmu dari Ibu Kota Lama memekik kala wajah senja sedang indah-indahnya. Semburat jingga dan gradasi biru gumpalan awan yang rupawan, disertai sepoi angin petang yang menawan. Aku baru sadar, semesta tampaknya bersolek hari ini.

Jarum jam tanganku menunjukkan sudah tiga jam lebih aku duduk di kursi peron. Gemuruh resah dan gelisah kian membuncah, pula rasa bersalah yang semakin pongah manakala kakiku beranjak. Setelah tiga tahun kita –lebih tepatnya aku– dibekuk keraguan yang berujung pada penyesalan yang menikam. Aku terlampau ogah meyakinkan diri bahwa eksistensi cinta memang ada. Lebih tepatnya, masih tersedia kesempatan untuk menerimanya. Tak hirau seberapa gulitanya masa lalu, tak dinyana kelamnya jati diri, kita patut menerimanya selagi kita mau menyambutnya. Menerima hati diikat dan terikat oleh simpul yang menyulur alamiah. Simpul yang secara konsep disebut komitmen. Konsep yang dahulu kala muasal dari runtutan sejarah kegagalan yang menakutkan bila terulang bersamamu. Aku terlalu pengecut memberlakukan konsep itu kepada kita jika kehilanganmu adalah konsekwensinya.

Namun aku mendapati sebuah makna yang mahal setelah mereka ulang realitas dari kegagalan lalu. Sebuah hubungan yang cuma dilandaskan cocok dan nyaman, selalu memiliki kemungkinan dihadapkan kepada cekcok dan bosan. Yang akan bertahan sampai toleransi menemui tepian. Toleransi yang kerap kali menyuplai maaf hingga lambat laun memuaikan muak jika bahagia yang dialami tidak sebanding dengan kecewa yang dipanen. Kemudian, opsi paling memikat ialah merayakan selamat tinggal yang sepihak maupun hasil mufakat. Lahirlah kekecewaan yang membludak atas kegagalan itu. Menjadi siklus yang memicu jemu.

Hati butuh mekanisme yang mendorong pemiliknya merawat keselarasan terhadap keberlangsungan baik dan buruk. Agar tidak mengukuhkan perpisahan sebagai solusi pokok. Supaya simpul yang mengikat tidak terlepas atau putus karena terlalu kendur maupun terlampau erat. Simpul itu ialah refleksi kesetiaan, yang mana takkan mengikat bila dikuasai keraguan, apalagi jika hanya ditarik-ulur. Simpul itu hanya akan mengikat bila kita yakin untuk mendekat dan rela tiba pada kewajaran. Dan keyakinan akan menerima simpul itu baru muncul seribu seratus hari lebih kemudian setelah skenario perjalanan kita bubar. Menerimamu adalah bentuk penerimaan diriku sendiri.

Aku butuh kamu kembali. Aku ingin kamu tau bahwa aku telah yakin untuk menerima simpul itu darimu.

Kutebak kamu baru saja terjaga dari lelap yang seadanya karena gemerusuk penumpang yang bersiap turun. Kamu menarik napas berat seraya mengumpulkan keping kesadaran yang masih asyik berlarian di alam absurd. Kamu selalu menikmati perjalanan panjang dengan memandangi panorama yang berkelebatan, hingga takluk oleh kantuk. Seringnya kamu merenung, tapi sesekali kamu menangkap momen dengan lensa di tengah lesat roda kereta. Aku masih hapal kebiasaanmu.

Namun, apakah aku masih pantas menatap lekat cokelat matamu yang teduh itu? Mata yang pemiliknya dulu jungkir balik menawarkan penerimaan. Apakah kita masih bisa bertukar tawa dan ria tanpa takut kehabisan topik sampai dihampiri pagi muda laiknya dahulu kala? Lebih sederhananya, masihkah aku boleh menunaikan penyambutan akan kepulanganmu yang tiba-tiba?

Aku tidak tau dan tidak berani menjentikkan koin di kantung celana sebagai izin menentukan praduga. Aku cuma butuh satu kesempatan untuk memastikannya dengan mengulang pertemuan. Di antara lautan manusia yang menyemut, menemukanmu bagai memaksa mukjizat menyelinap.

Aku mulai menyusuri pintu-pintu gerbong yang menelurkan manusia. Aku tak berharap langsung menemukan sosokmu seperti mereka yang sudah bertukar informasi. Satu-satunya informasiku hanyalah naluri. Naluri menemukanmu. Aku yakin akan menemukanmu kendati melangkah pun sulit. Kuedarkan pandangan ke segala penjuru hanya berbekal potret wajahmu di ingatan.

Sepuluh menit berlalu. Kakiku mulai pegal ditambah perih akibat injakan langkah-langkah yang barbar. Lautan manusia pun menyurut, tapi belum juga kutemukan sosokmu. Aku mulai menyeka keringat pasrah. Apakah bentuk penerimaan juga tentang menerima kesia-siaan? Makin ngeri aku berasumsi.

“Kalau suatu hari nanti saya nggak ada di kehidupan kamu. Artinya kamu sudah bahagia dengan cara kamu sendiri..”

Kalimat terakhir yang kamu ucapkan itu terngiang dan sanggup menghentikan langkahku. Diimbuhi hilangnya daya tumpu lututku. Aku masih mencerap kamu angkat kaki untuk mengobati luka dan lelah penolakanku. Padahal dulu aku ingin bilang, “Saya sekarang bisa tersenyum lebar karena kamu..”

Hadirmu dulu begitu mendadak seperti laju kereta. Kamu menghampiriku yang duduk termenung di kursi peron stasiun ini karena cinta lama yang ingkar dan terlalu mengecewakan. Kamu memberi sapu tangan untuk menyeka air mata yang merembes. Lalu kamu bilang, manusia itu makhluk yang naif. Jarang ada manusia yang siap atau mempersiapkan diri menanggung kekecewaan karena sibuk memenuhi ekspektasi. Memasok bahagia setiap hari. Padahal kecewa dan bahagia adalah saudara kembar. Datangnya pasti, cuma berbeda tempo. Kesamaan mereka, tak bisa ditawar apalagi dicegah. Yang satu didamba, satunya lagi dilaknat. Kita selalu menganaktirikan kekecewaan, katamu. Kamu juga bilang, justru kekecewaan itu kejujuran yang memurnikan. Sebab dari situ tunas harapan baru tumbuh, dan manusia berupaya bangkit untuk kembali.

Ajaibnya saat mendengar itu tangisku yang menggugu selesai. Lebih ajaibnya lagi kamu tahan dengan kebisuan tiga jam lamanya. Setelahnya, tanpa diminta kamu menjelma pelipur lara hari-hariku. Sementara itu, diam-diam aku tau. Garis nasib asmaramu tidak lebih memprihatinkan.

Kini, senja di atas kepalaku perlahan dilahap gelap. Aku tertunduk lesu dan berusaha menerima kekecewaan yang mulai merebak. Bangku kereta yang konon mengantarmu hampir kosong. Tersisa satu dua orang yang keluar tergopoh-gopoh menenteng koper. Mungkin benar katamu, saat ini aku hanya siap memenuhi ekspektasi, tapi lupa bersiap mengatasi kecewa.

“Sudah yakin?”

Suara bariton yang satu desibel lagi menyerupai teriakan itu terdengar dari belakang. Jantungku mencelos. Nyaris tidak bisa membedakan ini kenyataan atau mekanisme pertahanan diri yang menyusun halusinasi. Keinginan muluk ini memaksaku berbalik.

Aku belari, terus berlari. Tidak pernah merasa sedekat dan seyakin ini. Tidak perlu validasi atau kesepakatan dari siapa pun untuk menghambur memelukmu.

“Saya sekarang bisa tersenyum lebar karena kamu..” bisikku pelan. Menyampaikan kejujuran yang memurnikan, bukan menyudutkan.

Kamu mengangguk mahfum. Kita sama-sama tidak ingin kehilangan lagi.

Pada akhirnya, keyakinanlah yang menuntunmu bertemu seseorang yang membuatmu sanggup menerima dirimu sendiri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s