Kamu Adalah Jakarta

37415994_210766472935017_7704325001423355904_n

*tulisan ini terinspirasi dari lagu Adhitia Sofyan yang berjudul ‘Forget Jakarta’ dan ‘Selamat Pagi, Malam’ karya Oendari

“Kamu sadar nggak, kita tuh nggak pernah benar-benar bisa membenci Jakarta,” katamu tiba-tiba. Senyummu tipis menatap siluet gedung pencakar langit di seberang halte tempat kita duduk, pada malam yang muram dan suasana temaram. Udara dingin dan nyamuk, keduanya kompak menggigit kulit. Hanya aroma parfum mahalmu yang merknya mirip sinonim sperma menjadi alasanku betah di sini. Menemanimu sambil menanti paket. Baru saja satu menit lalu kita baru membahas carut marut Ibukota.

Alisku terangkat. “Loh, bukannya dulu kamu bilang benci banget sama Jakarta, El? Macetnya, perilaku barbar penghuninya, birokrasinya, tukang bolos di Senayan, dan gubernur yang dipanggil gabener karena cuma bisa retorika nutupin kerjanya yang nggak becus.”

Kamu menutupi bibir berpoles gincu merah menyala yang tergelak dengan sebelah tangan. “Iya, tapi setelah dipikir-pikir, aku nggak bisa membenci Jakarta, Har.”

“Alasannya?”

Kamu melirikku sedetik lebih lekas dari laju bus yang barusan melintas, lalu menarik napas panjang sebelum menjelaskan. “Kota ini jadi sejarah napak tilas banyak orang, Har. Mereka berani mengambil keputusan besar dalam hidupnya demi berada di sini dan membawa pulang banyak hal. Mengadu nasib, meraih cita-cita, bahkan mencoba peruntungan cinta. Kota ini mengubah diri banyak orang dan nggak jarang membuat mereka menggunakan berbagai topeng. Kalau kota ini nggak ada, atau karakternya nggak keras begini, mungkin hidup mereka masih gitu-gitu aja. Nothing changes.

“Termasuk kita, kan?” Aku terkekeh seraya menatap sorot matamu yang merefleksikan kerlip lampu berbagai warna.

Kamu mengangguk samar, kembali menerawang jauh. “Jakarta menyediakan kita sebuah fase. Dari yang bukan siapa-siapa, bisa jadi seseorang, berlaku juga sebaliknya. Aku suka memerhatikan wajah-wajah asing yang berjuang mencari rupiah demi keluarga di rumah atau ngirim ke kampung. Wajah tegang yang nggak diduga memberi sulas senyum kepada kita saat berpapasan. Aku menikmati pemandangan ekspresi penuh semangat dan ngehirup parfum mereka di pagi hari. Sorenya, berubah jadi raut capek dan aku mau nggak mau nyium bau ketek. Mereka yang nahan ngantuk di kereta atau busway, ada juga yang ketiduran tanpa peduli muka konyol mereka jadi bahan tertawaan.

“Lebih menarik lagi, aku jadi bisa peka melihat wajah-wajah baik yang tertekan melakukan pekerjaan yang nggak diinginkan. Bersebrangan dengan nilai-nilai diri mereka. Nggak jarang pekerjaan itu memaksa mereka menggadaikan harga diri demi menyambung nyawa. Nggak semuanya bisa berkompromi atau mengubah haluan semudah jentikin jari, entah karena kebutuhan atau telanjur terjun bebas. Some people choose heavy road while some choose shortcut for survive. But aside every single good and bad thing, I think it’s the art of living.

Aku terdiam, mengambil sebatang rokok kretek, lalu menyalakannya.

Kamu menoleh, binar matamu memaknai sesuatu. “Menurut kamu gimana?”

“Aku sepakat sama argumen kamu, ya meski kayak paradoks.”

“Gitu aja?”

“Kupikir penjelasan kamu sedikit banyak merepresentasikan pemikiran orang lain, termasuk aku,” jawabku sambil menyentil abu rokok.

How about the shortcut part?

Aku mengerjap. “Semua orang berhak memilih jalan mana pun, I mean, nggak peduli itu jalan panjang berliku atau shortcut. Kewajiban kita cuma menjalani mekanismenya sebaik mungkin, which is sebagai bentuk konsekwensi atas risiko yang di dalamnya. Kita nggak perlu jadi polisi moral bagi orang lain. We never know what kind of hell that faced by everyone in every day, because we don’t step into their shoes. Cukup ambil nilai baiknya. There is a beautiful heart in devil face, vice versa.”

Kamu mengangguk senang mendengar validasi dariku. “Kita sepemikiran ya.”

“Nggak sekalian sehati?” godaku pelan.

Kulihat kamu mengernyitkan kening, lalu tertawa hambar. “I no longer have my heart since being here..

Why?

I don’t deserve it, I guess.”

“Kenapa kamu berpikir begitu?”

“Aku nggak mau menyakiti orang yang menyayangiku lagi. It’s fair enough.”

But that’s part of the phase, right? We just have to get through it.

Kamu tersenyum getir. “Ada orang yang nggak bisa melewati fase itu, lebih tepatnya, memilih nggak melewatinya. Ini bukan lagi fase yang harus kulewati, karena bentuk cinta menurutku adalah tulus berbuat baik tanpa melibatkan afeksi. Ini imanku.”

Belum sempat aku mengutarakan pendapat, tiba-tiba ponsel di dalam pouch-mu berdering. Seperti biasa, satu inisial yang tertera pada layar selalu berhasil menampilkan isyaratkan nestapa di wajahmu. Pernah suatu kali aku bertanya siapa gerangan inisial itu. Jawabanmu hanya rekan kerja lalu memintaku untuk tidak bertanya lebih rinci.

“Aku harus pergi sekarang,” ucapmu dengan embusan napas berat sambil melihat ke arah seberang. Sedan hitam itu menyalakan lampu hazard.

“Kita akan ketemu lagi, kan?”

Kamu tersenyum kecil sebagai jawaban sebelum beranjak.

“Hei..” panggilku ketika menyadari kamu lebih tergesa-gesa dari biasanya.

Kamu menghentikan langkah sebelum hendak menyebrang, lalu menoleh. “Apa?”

“Jaga dirimu baik-baik..”

Kali ini kamu tersenyum lebar. Aku semakin menangkap gelagat yang berbeda kali ini. Sebelum menyebrang, kamu berkata dengan nada bergetar. “Kamu pun hati-hati, jangan sampai jadi anak kijang. Dan.. jangan pernah membenci Jakarta, ya.”

Aku mengangguk mahfum dan mengamati punggungmu menjauh sebelum ditelan pintu mobil yang membawamu ke suatu tempat. Punggung yang menanggung muatan beban tak terukur yang harus diemban tanpa keluhan.

Itulah momen terakhir yang direkam memoriku, sebelum kamu menghilang umpama bintang yang ditelan kabut Jakarta. Aku tidak tau petaka macam apa yang kamu genggam. Setelah malam itu, tak kutemukan lagi sosokmu pada malam berikutnya, juga sedan hitam yang plat nomornya ternyata rekayasa. Hanya aku seorang yang duduk di halte ini menunggu kiriman bersama kepulan nikotin, nyamuk yang cari makan dan sepi yang menggeligis. Ada penyesalan yang pejal menggunduki dada mengingat tak pernah meminta kontakmu, atau setidaknya mengetahui identitasmu, bukan sebuah nama panggilan yang sempat kamu koreksi pada pertemuan kedua dahulu. Nyatanya kecanggihan ponsel pintar sepaket milyaran informasi yang tersaji dilucuti oleh banding satu kemungkinan.

Apakah ini karena aku membahas urusan hati, yang mana itu hal paling pantang dimulai dan penting untuk segera dihentikan? Entah, melempar dadu praduga agaknya malah mendramatisasi aja.

Kini kamu adalah bagian dari enigma ibukota yang dikodratkan merdeka dari ungkapan. Rahasia yang nyaris setengah gila kupecahkan berbekal keping-keping percakapan. Rahasia yang kelak menjelma bagian sejarah hidupku di kota ini seiring waktu mengeja sekian. Rahasia yang begitu memesona dalam ketidakterjangkauan.

Namun ada keyakinan yang kuat bahwa kamu tidak pernah bermutasi. Kamu masih berada di peta kota ini, kendati dukun tak mampu mendukung memberi petunjuk letakmu di petak mana. Kamu hanya berganti nama dan persona tapi tetap dengan peran yang sama. Berpindah dari satu titik panggung ke titik lain tanpa koma, melakukan pola serupa sejak malam meninggi hingga langit memboyong pagi.

Kamu benar, aku tidak pernah benar-benar bisa membenci Jakarta. Jika aku tidak pernah nekat angkat koper ke kota ini, jika malam itu aku tidak menolongmu dari anjing liar di halte ini, maka niscaya sua kita cuma konsep nihil urgensi. Aku sadar, kalimat terakhirmu sebetulnya sebuah permohonan bahwa kamu ingin kukenang, sebab kamu paham betul harus pergi kala panggilan itu tiba. Kita sama-sama tidak bisa berkompromi karena alasan sentimental dan fundamental yang bersintesis. Lagipula membenci Jakarta sama seperti menafikkan diriku, dan tentu memberangus kepercayaan akan eksistensimu.

Jakarta ialah kota yang menawarkan dinamika bagi mereka yang berani menghadapinya. Kota yang jadi arsip bagi orang-orang di dalamnya, sesuai jalan dan topeng yang telah dipilih, serta rahasia yang mereka ciptakan demi memenuhi panggilan.

Kamu adalah Jakarta.

Advertisements

One thought on “Kamu Adalah Jakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s