Mantan Ngajak Balikan? Pertimbangkan Dulu 4 Poin Ini

tem cover.jpg

“Halo, Han. Apa kabar?” Suara berat setengah gugup seorang pria terdengar dari sebrang sana.

Sori, ini siapa ya?” Hani mengernyitkan kening, jantungnya berdebar was-was. Gadis itu menebak-nebak siapa orang yang menelpon dengan nomor yang tidak terdaftar di kontak ponselnya. Takut-takut yang menelponnya adalah anggota MLM yang lagi nyari downline.

“Kamu udah nerima paket yang aku titip di pos satpam?” tanya pria itu dengan lembut, lalu diam sejenak. “Nanti kamu juga tau kok. Semoga kamu suka dan dipertimbangkan, ya,” tambahnya sebelum mengakhiri percakapan begitu saja.

Hani berdiri termenung akan tanda tanya raksasa akan siapa yang menelponnya barusan. Hani segera menyambangi pos satpam. Dia buru-buru turun dari kamar kosnya yang memiliki fasilitas kamar mandi di dalam tapi tidur di luar. Sesampainya di pos satpam, Hani langsung diberikan sebuah kotak krem yang dibungkus plastik bening tipis tanpa identitas si pengirim oleh Pak Satpam. Hani memandangi kotak kecil itu, menimangnya sejenak. Menerka isi dan siapa pengirimnya sambil berjalan kembali ke kamar. Keringat sebiji jagung menyembul ketika Hani membuka kotak itu, di dalamnya terdapat satu kotak kecil lagi berwarna merah muda yang diikat pita merah marun. Di antara ikatan pita itu terdapat secarik kertas tipis yang bertuliskan ‘About us’.

Hani menarik napas dan membuka kotak kecil itu dengan hati-hati, lalu mendapatkan beberapa cetak foto yang mengabadikan potret dirinya bersama seseorang. Seketika Hani ingat siapa orang yang menelponnya tadi. Ia ingat pria itu pernah mencintainya, tapi ia juga ingat alasan hubungannya berakhir. Ia juga teringat kembali pengkhianatan dan rindu yang dirasakannya hingga saat ini.

Di antara foto itu, Hani menemukan sebuah cincin yang pernah ia kenakan setahun yang lalu bersamaan dengan secarik kertas yang ia baca dengan kening berkerut.

Is there any chance for me to get back to you? Because, I’m still loving you, Hani.”

Hani menyeka air matanya yang begitu saja menganak sungai di pipi, beribu bimbang berkecamuk di pikirannya. Joko, mantan kekasihnya dua tahun lalu. Mereka berpisah karena Hani tidak lagi dapat membantu Joko melunasi kredit macetnya membeli motor Jialing. Apa yang harus ia lakukan?

Kalau kita berada di dalam posisi Hani, tentu kita pasti bakal dilema. Mantan ngajak balikan. Enggak pengin ya tapi masih sayang, pengin juga inget luka yang dulu diberikan. Banyak pertimbangan yang harus dipikirin, karena ini mempengaruhi hidup ke depannya. Jadi, harus gimana dong? Oke, mari pikirin serius tapi nggak serius-serius banget ya.

Inget penyebab putus
Saat si mantan ngajak balikan, hal pertama dan paling penting yang mesti dipertimbangkan adalah apa penyebab kalian putus? Dia mendua? Bosen? Perilakunya kasar? Faktor restu? Atau hal lain?

1

Kalau penyebabnya adalah mendua nggak menutup kemungkinan dia akan mengulanginya. Cara paling sederhana biar nggak kepikiran buat mendua adalah bersyukur sama pasangan saat ini. Bersyukur, kan, berarti merasa cukup. Jadinya bisa nahan buat ngejaga mata dan hati. Kalau bersyukur aja nggak bisa, yakin bisa nahan hasrat buat nggak mendua lagi? Nah ini nih..

Jika perilaku kasar jadi penyebab kalian putus, maka sudah sebaiknya ngapain balikan, wahai pegangan pengki. Lau pacar apa samsak? Perilaku kasar timbul karena nggak bisa mengontrol emosi –yang nggak stabil dan kontinuum. Itu bisa jadi kebiasaan. Ada yang salah banget sama kejiwaannya. Kalau lo nonton film Posesif, lo bisa tau kepribadian pasangan kayak gini tuh manipulatif. Abis nonjok, minta maaf dan bikin lo iba, lalu diulangin lagi. Terus begitu sampe badan lo jadi abon. Apa kabar pas berumah tangga, cuy! Hindari jauh-jauh mantan kayak dadu jumanji gini. Lebih baik mencegah daripada patah hati lagi.

Kalau alasan restu orang tua, pertimbangkanlah apakah masih ada kemungkinan restu itu didapetin. Kalau lo merasa pede, monggo sama-sama diperjuangin. Namun kalau enggak, lebih baik jangan. Orang tua pengin anaknya punya pasangan yang terbaik (nggak pengin susah, dll, dsb, ddddgmz), apalagi kalau tujuannya buat berumah tangga. Emang sih ini jadi bumerang banget pilihan orang tua yang nggak sesuai sama pilihan kita. Tapi restu orang tua itu ibarat doa paling tinggi. Kalau lo keukeuh pengin ngejalanin tanpa restu, baek-baek nggak berkah.

Inget perubahan apa aja yang lo dapatkan saat bersamanya
Setiap hubungan yang dijalani pasti akan mengubah diri lo baik-buruk-banyak-dikitnya. Nah, apa aja perubahan itu? Apakah saat bersama dia, lo bisa berubah jadi power ranger warna ungu bengep? Sori, maksud gue jadi pribadi yang lebih baik? Atau sebaliknya?

2

Gue salah satu orang yang percaya bahwa pacaran itu salah satu fase yang mengubah mindset. Yang kemudian ngaruh ke karakter. Sebab nggak dipungkiri, saat mutusin buat ngejalanin hubungan sama seseorang, kita pasti beradaptasi jadi orang yang (berusaha) cocok sama dia baik itu diminta atau inisiatif. Ada yang pas jomlo tertutup, pas pacaran malah jadi terbuka banget. Ada yang pas jomlo nggak ngerti make up, pas pacaran jadi sering bedakan pake Bogasari. Ada yang pas jomlo orangnya gampang diajak nongkrong, pas pacaran susah banget ditemuin kayak nyari huruf ‘N’ di permen karet Yosan.

Ini berlaku nggak cuma antara diri lo dan pasangan lho, tapi juga interaksi lo ke orang lain. Perubahan apa yang lo dapatkan saat bersamanya? Kalau banyakan yang positif, balikan sama dia boleh jadi patut dipertimbangan ke arah setuju. Namun kalau lo malah jadi pribadi yang buruk, mending lo suruh dia balikan sama undur-undur aja.

Lihat kehidupan lo sekarang
Bersyukurlah karena lo masih bisa merasakan bahagia yang berasal dari orang-orang di sekitar yang lo sayang dan menyayangi lo. Berarti lo bukan tipe individu yang menggantungkan kebahagiaan sama pasangan. Soalnya kan ada tuh yang pas pacaran kebahagiaan bergantung sama pasangan. Setelah putus dan si mantan pergi, ya kehilangan alasan buat bahagia lagi. Bawaannya murung mulu mirip orang abis kalah judi ager, itu muka gelap banget buset kayak kamar dukun.

Kalau kehidupan lo sekarang jauh lebih baik setelah putus sama mantan, ya ngapain harus balikan? Jangan mengorbankan diri lo cuma karena masih sayang mantan, yang bikin lo malah nggak sayang sama diri sendiri. Kadang kita suka terjebak sama euforia dan terlena sama nostalgia yang menggiurkan, tapi pas menjalani lagi yang lo dapetin sama aja, atau malah jadi lebih buruk.

Jangan mudah goyah dengan rayuan maut. Selamatkan dirimu dari mantan yang ngajakin bikin dosa mulu, wahai anak muda!

3

Lihat mantan lo sekarang
Seiring berjalannya waktu, nggak menutup kemungkinan si mantan juga udah berubah karena manusia kan dinamis, tapi bisa juga stagnan. Gitu-gitu aja. Lo bisa kan tuh stalking atau pastiin dari orang-orang terdekatnya yang omongannya bisa dipercaya dan nggak tendensius ngebaik-baikin dia. Boleh juga lo pastiin langsung, tapi bukan berarti lo langsung setuju balikan. Ajak ngobrol sambil ngopi atau ngeteh lucu. Lihatlah apakah ada perubahan dalam dirinya?

Gunakan logika untuk ngontrol perasaan yang sekiranya terlalu menggebu untuk berpikir jernih. Jangan terjebak sama ego dan kangen yang bikin lo ngebet buat balikan. Ego bisa bikin orang cerdas jadi bego.

Memang, masa lalu biarkan berlalu dan nggak usah dibahas lagi, tapi ini berpengaruh buat masa yang akan datang juga. Apakah si mantan kini jadi lebih baik, enggak berubah, atau malah semakin buruk? Itu bisa jadi patokan dan jaminan bagaimana hubungan lo ke depannya.

4.gif

Balikan mungkin bisa jalan pintas ketika lo enggan memulai dengan orang baru. Balikan juga bukan hal yang buruk. Namun pertimbangkan dengan matang apakah jalan pintas ini worth it nggak. Cukup keledai aja yang jatuh ke lubang yang sama gara-gara baca buku yang udah tau ending-nya gimana, lo jangan deh. Terlebih tujuan lo pacaran emang buat jenjang yang serius. Kadang, yang lo butuhin cuma realistis bahwa masa lalu cukup jadi kenangan bukan buat lo ulang.

Beberapa mantan cukup diberi maaf dan dibikin menyesal sama diri lo yang jauh lebih baik, bukan kesempatan. Percaya, lo udah gede dan dewasa, bisa memilah apakah dia pantas dikasih kesempatan atau penolakan. Nggak perlu takut nggak ada lagi yang modelan kayak dia karena BANYAK yang jauh lebih baik. Tinggal gimana lo nyarinya aja. Ibarat mancing ikan, lo mau ikan yang gimana? Tentuin kolamnya dan pastiin diri lo perbaikin diri supaya siap! Mantap maniaaa, manciiiing!~

Kembali pada orang di masa lalu hanya berlaku untuk dia yang pantas memperbaiki masa depanmu.

Ada yang mau nambahin? Monggo di kolom komengtar ya.

Salam, Menteri Pergalauan Indonesia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s