Bersulang

heineken-ignite

Entah apa yang membuatmu menggedor pintu rumahku seperti orang kesurupan –tetapi terdengar di telingaku seperti mencakar sambil memukul, kemudian menyeruak masuk layaknya polisi menggerebek markas teroris. Untunglah tetangga tidak ada yang melihat dan curiga. Perbuatanmu yang tidak memikirkan norma kesopanan itu membuat daun pintu mengecup keningku dengan keras dan tiba-tiba.

Baru saja aku hendak mencerna apa yang sedang terjadi sembari meringis dan mengusap kening, kamu sudah duduk di sofa sambil menutupi wajah. Bingung dan khawatir segera bertengger di tampuk benakku. Tidak ada di kamus hidupmu bahwa kamu benci hujan. Maka aneh sekali apabila motif kamu tiba-tiba datang ke rumahku hanya untuk numpang berteduh atau karena ingin bertemu denganku. Motif kedua lebih masuk akal, tetapi sungguh akan lebih elok bila kamu bertamu dengan cara yang wajar, dan tentu saja aku akan menyambutmu dengan manis.

Masih sambil berdiri, kuperhatikan seksama kekacauan macam apa yang sebenarnya kamu bawa sembari meraba dinding untuk memencet saklar lampu. Kamu tidak pernah berubah, selalu memberiku kejutan. Baik yang membuatku tersenyum malu atau justru mendesah berat karena sangat tidak habis pikir. Ya, aku mendesah berat.

“Va, ada ap–”

“Bisa nggak nanya-nanya dulu?!” tukasmu cepat. Aku tersentak hingga secara tidak sadar mundur satu langkah dan menyilangkan lengan. Bersikap defensif.

“Lo mau–”

“Bir!” tukasmu lagi, memberi komando. “Sebotol, harus yang paling dingin. Nggak mau tau..”

Aku mendesah lagi, lalu mau tidak mau memenuhi mkap menyebalkan itu. Padahal jarakmu dengan kulkas hanya berjarak tiga meter dari sofa yang tidak bersalah itu.

Calm your mind, atau gue kasih bir sisa seminggu lalu.”

“Lo tega ngasih gue bir basi?” tanyamu sedih, kontras dengan nada bicaramu sebelumnya. Kamu membuka telapak tangan, memperlihatkan pemandangan wajah cemberut dan sekusut benang layangan yang digulung asal, sekaligus kode yang harus kupecahkan hanya dengan dua-tiga kalimat tanya. Namun sekacau apa pun keadaanmu, kekacauan itu tak membatalkan kecantikanmu. Kamu, masih tetap memesona.

Sambil memilih botol bir terdingin di kulkas, aku menerawang –melihat sekilas ke arahmu yang kini menikmati sebatang nikotin mentol yang di ujung lidah meninggalkan rasa tipis buah anggur, aku baru menyadari rambutmu yang lepek itu kini sebahu, dan kamu mengenakan kaus putih kado ulang tahun ke-19 dariku. Dulu saat kamu menerimanya, kamu langsung menelponku hanya untuk mengejek font tulisan lorem ipsum dolor sit amet yang kamu nilai terbaca seperti bahasa Sanskerta yang ditulis bocah yang patah tangannya.

Tidak biasanya kamu begini.

“Gue taruh di meja, ya, Va?” Aku tersenyum simpul seraya menaruh botol bir di meja.

Kamu mengembuskan napas berat sambil menghempaskan tubumu ke sofa hingga terdengar sedikit bunyi berdebam, lalu menggenggam botol bir. “Maaf, Gue capek, Jod.”

“Capek kenapa?”

Kamu memandangku dengan raut datar, melirik bir di tangan, kemudian meneguknya dengan cepat dan penuh khidmat selayaknya pemeran iklan minuman soda. Bahkan kamu tidak sempat mendentingkan botol kita sebagai simbol perbincangan lebih lanjut dimulai.

“Ya udah nggak usah dijawab, biar masih bisa nanya dua kali,” ucapku singkat, lalu meneguk birku dengan cepat. Hanya sepersekian detik aku meninggalkan pandangan, kamu sudah memejamkan mata. Bir di tanganmu sudah tandas. Aku menghela napas. Kuambil selimut dari kamarku agar nyamuk tidak lagi membuatmu terkapar di unit gawat darurat, lalu membuat ayahmu nun jauh di sana mencecarku dengan berbagai pertanyaan menyudutkan.

Lama aku memandangimu dengan posisi dagu disangga lengan. Kembali menerawang badai apa yang kini kamu bawa. Kedatanganmu tidak pernah bisa kuduga. Untung saja aku sedang tidak di luar. Tak bisa kubayangkan kamu, dengan kuyup, duduk terdiam di depan pintu seperti seorang anak yang sedang dihukum ibu tirinya. Kamu terakhir ke mari setengah tahun lalu, setelah itu kamu seolah menjadi angin di sekitarku. Orang-orang yang mengenal kita kerap kali bertanya kabarmu kepadaku. Tak bisa kujawab banyak dan pasti selain kalimat, “Paling lagi berkelana, nanti juga nongol lagi..”

Sekarang penampilanmu berubah lebih dewasa dan.. approach-able. Baru kusadari kamu memakai gincu merah yang agak pudar. Perempuan tomboy yang selalu menutup mahkotanya dengan kupluk, memasang wajah galak, dan menggulung lengan baju seperti preman pasar, kini memakai lipstik. Aku memang memegang kepercayaan seseorang akan berubah seiring waktu, tetapi sikap dan perilaku barbarmu tidak hilang. Ya, itulah identitasmu, konsistensimu. Sikap yang membuat banyak pria brengsek tak berani berbuat lebih dari mengetahui nama dan menghubungimu satu-dua kali saja. Aku kagum dengan caramu beradaptasi, caramu bertahan hidup selepas perpisahan kedua orang tuamu.

“Jod..” Samar kudengar kamu memanggil namaku. Aku masih bergeming.

“Jodi..” Sekarang panggilan itu berubah lembut.

“Hmm?”

“Gue boleh.. tinggal sementara di sini lagi nggak?” tanyamu setengah ragu.

Keningku mengerut. “Ada masala–”

“Ya udah kalau nggak boleh..” potongmu cepat dengan nada kecewa, lalu menelan ludah.

“Sejak kapan emang gue ngelarang lo?”

“Berarti boleh?” Kamu balik bertanya dengan suara girang.

Aku mengangguk, entah kamu melihatnya atau tidak. “Asal bilang dulu ke bokap lo, gue nggak mau disangka nyulik anak orang lagi. Apalagi sampai disindir-sindir ‘Macam kau mampu saja ngasih makan..’,” kenangku sambil terkekeh.

Kamu pun terkekeh. “Ih, itu kan bilangnya sambil bercanda. Lagian lo taulah bokap gimana. Cuma lo doang sahabat laki-laki yang dipercaya sama dia, sampai tinggal bareng tahunan. Kalau cowok lain nggak tau udah dicacak sama dia. Gampanglah soal bilang mah.”

Aku tersenyum geli, mengingat napas yang tersengal dan kumis Oom Nas yang bergerak-gerak setiap kali beliau tertawa geli. “Kabar bokap gimana?”

Kulihat air mukamu berubah, kamu menerawang menatap langit-langit. Kedua ujung bibirmu terangkat, menyunggingkan senyum yang tidak dapat kuartikan.

“Bokap lagi tantrum nggak karuan gara-gara lagi berantem sama pacarnya.”

“Karena ini lo capek?”

Kamu mengangguk. “Tapi sebenarnya satu hal lain yang bikin gue capek batin, Jod.”

Aku terdiam, menunggu penjelasanmu selanjutnya.

“Tapi lo janji dulu kalau gue bilang, kita nggak akan berubah. Gue udah capek selama ini menghindari sesuatu yang jelas-jelas nggak bisa gue hindari.” Suaramu terdengar khawatir.

Aku meneguk bir sekali lagi. “Va, nggak biasanya lo ngejelasin sesuatu kayak gini. Ini bukan elo yang gue kenal..”

Kamu terbangun dari posisi rebah, menatapku nanar. “Karena itu gue minta lo janji dulu, kalau gue bilang jujur, kita nggak akan berubah. Please..”

Aku kembali terdiam. Kali ini mencari yang ditutupi binar matamu. Ada apa di balik binar mata itu? Sungguh sudah tahunan aku mengenalmu, mengetahui luar-dalammu, tetapi sikapmu kali ini benar-benar membuatku ingin menjadi cenayang saja. Mulutku terbuka, tapi tidak bisa berkata ‘Ya’. Tenggorokanku mendadak terasa kering. Seolah intuisiku mencegah terjadinya kausalitas bila aku mengatakannya.

“Lo nggak biasanya kayak gini..” Kamu memecah keheningan dengan suara putus asa.

Aku menggeleng pelan. “Bukan begitu. Gue–”

“Apa salah satu hal yang paling menyedihkan di dunia ini?” Tiba-tiba kamu melontarkan kalimat tanya yang membuatku terbelalak.

“Bersama hanya karena takut kesepian..” jawabku pelan. Pertanyaan itu.

“Yang lebih mengagetkan dari sambaran petir?”

“Kejujuran yang nyaris terlambat diucapkan.”

“Itu… Gue takut terlambat..” Kamu mulai menitikkan hujan dari matamu, lalu kembali menutup wajah. “Gue kira selama ini cuma nyari pembenaran bahwa perasaan gue salah..”

“Nggak ada perasaan yang salah, Va. Yang salah itu pas elo dibutakan perasaan itu lalu bersikap berlebihan.” Aku mengusap punggungmu pelan.

“Jadi selama ini gue berlebihan?”

“Maksudnya?”

“Ya sikap gue.” Kamu menatapku nanar. “Selama ini sikap gue berlebihan, bikin cowok yang sayang sama gue pergi karena gue ternyata cuma takut kesepian karena seseorang yang selalu ada di pikiran gue, dan gue nggak mampu un–”

Kamu tidak melanjutkan kalimatmu. Rintik hujan di matamu menderas.

“Va, sorry, gue nggak tau harus respons apa.”

Nopeit’s okay.

Aku menarik lenganmu, merangkul pinggangmu, lalu menyandarkan kepalamu di dadaku. Kamu tidak menolak, hanya terdiam, terisak. Tempo isakanmu terdengar pelan, lalu perlahan tersedu-sedu. Rentetan tangismu itu membuat ruang tamu ini terasa semakin sempit. Bulir-bulir hujan yang menghempas genteng seolah musik pengiring kesedihan. Seumur-umur aku mengenalmu, tidak pernah kamu sesedih ini.

Kamu merapatkan pelukan, memperlakukanku seperti benang yang diikat perlahan. Aku benar-benar tidak mampu mencerna apa yang terjadi saat ini. Tubuhmu dingin sekali, sementara tubuhku terasa hangat. Kehangatan itu justru memunculkan anak-anak kekhawatiran di benakku. Ataukah hangat tubuhku ini justru reaksi fisik agar kamu tidak terlalu kedinginan? Satu, dua, tiga, empat, aku berusaha mengusir anak-anak kekhawatiran yang muncul dan percaya tidak ada hal buruk akan terjadi. Kurasakan debar jantungmu meningkat perlahan, milikku pun demikian. Tubuhmu perlahan menghangat. Aku kenal hangat ini. Hangat yang menenangkan.

“Jodi, gue nggak mau kehilangan lo..” ucapmu selirih embusan udara dingin yang mengelilingi ruangan ini. Aku sanggup mendengarnya. Barangkali kalimat itu terdengar sebatas ungkapan perasaan mutual sepasang sahabat yang sudah melalui suka dan duka bersama. Barangkali itu adalah bentuk penghargaan untuk kita yang memiliki banyak sejarah. Barangkali itu adalah doa agar kita tidak pernah tercerai.

Kita sudah melewati masa-masa itu. Sepiring nasi dan telur ceplok berdua, bergantian mencuci pakaian dalam, menertawakan kabar lamaran kerja yang ditolak, dan melucuti masa depan yang terlampau muluk. Memori itulah yang mengingatkan eksistensi kita, yang membawa kau dan aku berada di sini. Saat ini.

“Gue juga nggak mau kehilangan elo, Eva,” balasku pelan.

Kamu melonggarkan pelukan beberapa saat, menatapku dengan senyum terhangat yang baru kali ini kulihat, lalu perlahan mendekatkan bibir tipismu ke bibirku. Ciuman pertama yang meresmikan rangkuman tujuh tahun keterikatan kita yang kadangkala berjeda. Alur kehidupan telah menguji kamu dan aku tanpa hasrat ingin memiliki. Tetapi hasrat itu muncul tiba-tiba, bagai badai yang tercipta tanpa aba-aba. Menyanggah segala cegah, melepas sekat dan negasi yang selalu melekat. Badai yang meniuplayangkan kesadaranku akan kamu di sisiku. Melewati batas yang selama ini kupatuhi.

Kulihat jendela telah menggelap. Tak terasa momen ini mengalir cukup lama. Kini aku paham mengapa hati manusia bagaikan palung laut terdalam. Tak ada yang mengetahui isi dan misteri di titik permukaannya. Sementara prasangka tak lain adalah monolog yang dijadikan alat menyelam mencari jawaban, yang tentu kerap kali bersifat tentatif. Tak ada yang tahu seberapa jauh jarak yang harus diselami demi memanifestasikan rasa itu bila si pemilik hati tak angkat bicara.

Aku mahfum terhadap maksud mengapa kamu ingin aku berjanji, pertanyaanmu, dan pernyataanmu. Tak kuapkir sebenarnya selama ini aku hanya merasa sangat mengenalmu, mengenal sosok yang kamu ingin tampilkan dengan topeng ketegaran. Beruntungnya aku tak menganggap semua ini terlambat.

“Va..” panggilku pelan. Kamu menengok dengan binar mata yang bercahaya juga menyorotkan tanda tanya. “Apa yang selalu dipercaya akan berlalu?”

“Badai?”

Aku mengangguk sembari tersenyum. “Dan itu sudah berlalu, sekarang jadilah pelangi.”

Kamu tersenyum manis, mengerti ucapanku.

Aku beringsut dari sofa untuk mengambil lagi dua botol bir dingin dari dalam kulkas untuk mengusir semua pemikiran yang pernah kita anggap nahas. Kemudian kumatikan lampu ruang tamu untuk kembali mempersembahkan suasana favoritmu; remang yang melahirkan percakapan pemanggil kenang. Tentu aku bahagia, dan kupikir kamu pun demikian.

Setelah sekian lamanya terjebak dengan prasangka dan peristiwa kita akhirnya bersulang.

Bir dan bibir kita.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s