Ninevelove: Sembilan Cerita, Empat Suara, Satu Cinta

screen-shot-2017-01-07-at-18-48-47

credit: js_khairen

Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.

Kali ini gue gunakan kalimat petuah itu sebagai pembelaan karena gue udah lama nggak nulis di blog, sekaligus nepatin janji yang gue sanggupi kepada Jombang Santani Khairen alias J.S. Khairen, salah satu sobi (sobat) terbaik, untuk menulis review buku romance pertamanya: Ninevelove.

6763

Well, sebagai orang yang sering lupa –tapi nggak sampai ahistoris– akhirnya gue bisa menulis review bukunya meski gue udah cukup lama menutup halaman terakhir. Maklum, perkuliahan semester akhir begitu menguras tenaga dan pikiran dan membuat gue menunda mengeksekusi ide dan draft tulisan. Sebelumnya gue udah baca lima buku J.S. Khairen, yaitu 30 Paspor (dua buku), Bunda Lisa, dan Karnoe, juga satu manuskripnya yang konon sebentar lagi (nggak tau sebentarnya tuh kapan) akan terbit. Kelimanya diborong dengan tema dan pengemasan yang cukup serius. Lantas, saat J.S. Khairen mengabari gue dia hendak menulis romance, gue ketawa kenceng banget sampai muka doi merah pas dia nanya referensi buku yang kiranya cocok dia baca.

“Hahahahahahahahaha, yakin lo nulis romance? ” tanya gue setengah ragu dengan mimik meledek, kemudian keingetan naskah buku kedua yang gue endapkan karena banyaknya tugas kuliah semester akhir.

“Iya men, gue harus mencoba sesuatu yang baru, lah. Bosen kali gue nulis yang serius mulu..” jawab J.S. Khairen dengan nada serius khasnya yang diiringi deham.

Dan benar, beberapa bulan kemudian #Ninevelove-nya terbit. Wow! Cepet banget nih anak, pikir gue. Tadinya dia hendak diberikan satu buku lepas untuk gue baca. Tapi sebagai sobi yang baik, tentu gue menolaknya secara halus, lalu ke Gramedia terdekat buat memboyong buku itu ke kasir. Karena gue membiasakan diri menghargai pikiran yang dicurahkan, cangkir kopi dan waktu yang dihabiskan, serta betapa pegalnya sepuluh jari menulis sebuah naskah yang kemudian harus direvisi. Cie gitu. Oke langsung aja yak!

Ninevelove berkisah tentang problematika kehidupan empat anak Fakultas Ekonomi Universitas Negeri paling megah di Depok, yang dikemas dengan sudut pandang orang pertama. Gue yang tadinya datang ke FE cuma buat nonton Jazz Goes To Campus, perlahan bisa tau gambaran bagaimana pergaulan dan flow fakultas ini. Gue yang selalu mengira naq FE serius –sama halnya dengan J.S. Khairen, bisa dibuat tertawa terpingkal-pingkal dibuatnya. Secara gamblang dia menorehkan macam-macam sifat dan perilaku anak FE, mulai dari yang jenius banget sampai yang kok-ada-ya-makhluk-kayak-gini. Khususnya sih anggota organisasi Tinta Kampus, yang sebenarnya relate dengan organisasi fakultas pada umumnya. Hanya saja, mungkin gue termakan stereotipe bahwa anak FE itu kebanyakan kayak kanebo kering, kaku. Berubahlah penilaian itu perlahan berkat Ninevelove.

Tersebutlah Guruh, Joven, Dewi, dan Dinda, yang menjadi karakter dan nyawa utama organisasi Tinta Kampus, yang mana menjadi latar hampir 70 persen cerita. Persahabatan mereka lah sebagai sorotan utama. Kita bakal tau seluk-beluk organisasi, peraturan, cara berpikir dan prinsip anak FE, sampai ke minus-minusnya. Yang gue demen adalah mengenai unsur politis. Ini kalian harus baca sendiri. Tampaknya, si J.S. Khairen ini pengin nunjukkin kritik yang kita kira flawless itu ternyata ada lecetnya juga.

Guruh, cowok keturunan Maluku bermuka tegang yang disegani oleh para anggota Tinta Kampus dan digadang-gadang sebagai penerus kepala suku organisasi. Joven, cowok bengal berdarah Minang berprestasi yang kalau ngomong hampir nggak mikirin perasaan orang lain. Dewi, cewek Jawa yang serius kuliah demi orang tuanya di kampung. Dan terakhir, Dinda, cewek yang umurnya kecepetan kuliah, dengan sifat kanak-kanaknya berupaya membuktikan diri dia bisa bersikap dewasa. Keempatnya bercerita dengan sudut pandang masing-masing.

Guruh menanggung harapan teman-temannya yang berharap dia menjadi juara mewakili Tinta Kampus dalam setiap kompetisi fakultas, sementara dia sedang punya masalah dengan pacarnya, Salsabila. Guruh berusaha keras bersikap populis untuk menyenangkan semua orang. Awalnya Guruh merasa posisinya tergeser dengan kehadiran Joven di Tinta Kampus, karena cowok itu datang membawa background sebagai wartawan media ternama. Tetapi di situ pula Joven mendapat tekanan besar dari para anggota Tinta Kampus yang menolak kehadirannya secara subyektif. Pertentangan dari beberapa orang sangat dirasakan. Belum lagi Dewi, yang merelakan dirinya menjadi ratu drama dan ‘ibu’ untuk orang-orang di sekitarnya terhibur saat dia di-bully, pun benci dan jijik dengan Joven sejak hari pertama cowok itu masuk Tinta Kampus, bahkan terlibat pertengkaran. Seolah eksitensi Joven membawa perubahan kontras terhadap suasana organisasi itu. Kemudian Dinda, si cantik dengan sosok lugunya justru tertarik dengan Joven dan mengetahui sebenarnya cowok itu adalah orang baik. Hanya saja personanya aja yang tidak enak dilihat dan didengar. Joven akhirnya berhasil mendekati Dinda, tapi harus menghadapi Glenny, kakak Dinda yang secara terang-terangan ingin menyingkirkan Joven dari Tinta Kampus. Namun lambat laun, Guruh dan Joven justru akrab dan kooperatif. Dewi pun perlahan menerima eksistensi Joven dan lebih jauh mengenal sosok cowok itu saat Joven berpacaran dengan Dinda. Bahkan Dewi menjadi penengah bila Dinda dan Joven sedang bermasalah. Lambat laun pula mereka terikat oleh simpul persahabatan.

Keempatnya memiliki masalah dan goals masing-masing, tentu urusan kuliah dan asmara, yang mana selalu menjadi konflik mainstream. Joven yang berusaha mempertahankan hubungan dengan Dinda yang selalu dihantui rasa takut intimidasi Glenny. Sementara Dewi yang menyukai Guruh, selalu membangun tembok tinggi untuk menahan diri dan gejolak batinnya diri karena memegang erat prinsip bahwa cewek nggak boleh maju duluan. Di tengah-tengahnya, makna persahabatan dipertaruhkan. Sebab bagaimana pun risiko terbesar adanya cinta dalam persahabatan adalah mengubah (baca: menghancurleburkan) persahabatan atau meng-upgrade format relasi dan status itu menjadi hubungan yang lebih solid. Singkatnya, sahabat jadi pasangan.

Inilah yang menurut gue jadi daya tarik Ninevelove. Bagaimana empat orang, empat hati, dan empat pikiran, mengaduk-aduk alur cerita. Bagi gue yang tentu punya sudut pandang objektif: tentu gue nggak mau mengorbankan persahabatan karena cinta. Lalu bagaimana dengan nasib Guruh, Joven, Dewi, dan Dinda? Silakan nanti kamu adopsi bukunya.

Saat gue membaca buku ini, gue benar-benar membetulkan letak kacamata. Gue melihat jelas J.S. Khairen sepertinya menjudikan seluruh kemampuan menulis dan ekspektasinya demi novel romance pertamanya ini. Gue yang kenal dan paham bagaimana skema berpikir J.S. Khairen yang bila jadi satu kalimat, kurang lebih begini: ‘Elah cinta-cintaan mulu, males gue!’, ternyata berbalik 180 derajat. Di Ninevelove, gue dapat merasakan kompleksitas yang dialami J.S. Khairen supaya cerita nggak terkesan cheesy atau ‘aus’ di tengah jalan. Dia bersedia menelanjangi dirinya dan memakai topeng demi mendapatkan refleksi dan suara hati seorang blangsak, seorang yang disegani, seorang ratu drama, seorang yang selalu dianggap anak kecil, dengan kemasan kata yang mudah dimengerti. Kita bisa dengan mudah merasakan emosi dan teriakan hati setiap tokoh tanpa perlu lama-lama mencerna. Ambisi, keresahan, kecurigaan, kebahagiaan, patah hati, kecurigaan, dan bagaimana setiap tokoh membuat strategi dan solusi untuk menyelesaikan masalah. Semuanya tersaji cukup apik.

Cerita yang gue awalnya kira sederhana, ternyata jeroannya rumit banget, Jendral! Apalagi gue dibikin kaget dengan beberapa ‘ledakan’ nggak terduga yang hadir mulai di pertengahan menuju halaman terakhir. Sembilan chapter cerita mengalur dengan cukup baik meski ada beberapa bagian yang loncat untuk meringkas cerita. Nilai plusnya, J.S. Khairen nggak memperlakukan tokoh-tokoh lain sebagai pajangan belaka. Mereka memiliki porsinya masing-masing untuk berinteraksi dan memperkuat kerangka cerita.

Gue dibuat ketawa karena perilaku, celetukan dan lawakan yang selalu dipersembahkan tiap tokoh di setiap interaksinya. Karena keempatnya punya keistimewaan masing-masing. Transisi perubahan setiap tokoh dapat kita rasakan perlahan nantinya. Tersedia lokal jokes a la anak FE, nilai-nilai anak gunung, dan perumpamaan dengan diksi yang nggak umum, tapi tepat sasaran. Bikin gue ngekek sepaket dengan renungan pagi-pagi buta.

Kekurangan J.S. Khairen menurut gue adalah cukup minim porsi deskrispsi showing, yang membuat gue agak sulit menginterpretasikan setting tertentu. Mungkin ini juga karena faktor tuntutan point of view pertama yang menuntut penulisnya supaya nggak terlalu ‘bocor’. Apalagi J.S. Khairen punya pekerjaan yang sangat berat untuk menulis empat ‘kepala’ sekaligus, alhasil lebih mengedepankan narasi. Namun kekurangan itu nggak lantas membuat mood baca gue turun. Alih-alih ‘engap’, gue justru semakin penasaran dengan apa yang akan terjadi dengan keempat tokoh itu sampai titik kalimat terakhir.

Overall, gue pengin bilang bahwa buku Ninevelove ini lumayan bagus dan di luar ekspektasi gue yang awalnya cukup pesimis bisa berkata dalam hati, Oke, buku ini boleh juga. Cocok deh buat kamu yang rindu dengan bacaan romance tapi nggak melulu lenjeh. Banyak tersaji prinsip keras dan makna kehidupan yang membuat kamu merenung antara setuju dan tidak. Saran gue, bacalah saat benar-benar santai dan punya waktu luang untuk menikmatinya. Gue sangat merekomendasikannya.

7,8/10.

Btw, janji sudah ditepati ya, Jombsky!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s