Dia

boy-left-girl-goodbye-images

Dia.

Terlitas lagi saat kamu lengah. Degup jantungmu meningkat seketika. Dia, kamu kembali lagi mengingat dia, yang langkah kepergiannya terekam di ingatanmu serupa bulu burung yang terlepas lalu melayang di udara. Tanpa beban, atau justru melepas beban. Atau itu hanya persepsimu semata saat melihat punggungnya perlahan menjauh setelah ritual lambai tangan yang persis seperti saat kali pertama menyapamu. Memanggil namamu dengan suara sedikit bergetar malu. Namun saat itu kamu mendengar dia mengucapkan kalimat perpisahan tanpa lagi perasaan ragu, dengan nada yang lebih dingin dari segenggam salju. Nada yang membangkitkan amarah sekaligus penyesalan, nada yang saat itu juga kamu tetapkan secara resmi sebagai bunyi yang paling kamu benci.

Kamu masih ingat betul saat itu kamu spontan menggunakan intuisi untuk segera mencerna definisi mengapa dan seandainya. Kebebasanmu untuk berbicara mati layaknya nyala lilin ulang tahun yang ditiup dalam satu tarikan napas, bedanya tak ada harapan yang kamu ucapkan untuk segera dikabulkan. Amunisi mantra pembelaan yang sudah kamu siap ucapkan untuk mengubah keadaan terhenti di bibir yang setengah terbuka, lalu lenyap tanpa menyisakan makna. Kamu hanya bisa menunduk diam seperti anak kecil yang diomeli karena terjatuh saat berlari. Untuk ke sekian kalinya, pandanganmu memburam karena air bah. Tapi kamu tidak peduli.

Kamu akhirnya mempersilahkan kunjungan kenangan-kenangan manis namun berbisa. Kamu dibuat bahagia sekaligus sedih dalam satu waktu. Mengingat lagi, mengalami lagi, meraba-raba lagi apa yang kamu rasakan dan kamu peroleh terhitung sejak ucapan selamat datang dan selamat tinggal. Kemudian muncul dorongan untuk menengok folder rahasia yang sebenarnya sudah kamu sumpahi tidak lagi membukanya. Tentu kamu berusaha keras mencampakkan kata pernah yang hinggap dan menggantung.

Tapi kamu segera urung. Sebab dia terlalu kuat di ingatanmu, bahkan sekian banyak foto-foto yang mengabadikan momen kalian berbahagia tak lebih dari sekadar memoar. Sebab dia tampak lebih nyata saat kamu terpejam. Kamu mengakui kekalahan yang telak.

Kamu kembali evaluasi diri atas semua yang sudah kamu lakukan, berikan dan pertaruhkan demi sebuah kita yang tiada. Padahal kamu tahu itu sangat tidak perlu. Padahal kamu tahu itu hanya menyakitimu sepihak. Tapi sekali lagi, kamu tidak peduli. Rasa sakit bagimu adalah alat tukar yang berharga untuk mencicil kebutuhan egomu yang haus akan jawaban. Jawaban untuk tanda tanya yang tak terhitung. Kamu membiarkan logikamu berdarah titik demi titik agar kognisimu melakukan tugasnya untuk menjawab pertanyaan yang sudah usang. Kamu mereka ulang adegan sebab-akibat dan daftar kesalahan yang saban hari membuatmu lelah. Itu pula yang kamu simpulkan penyebab dia menyerah.

Tapi untuk menghibur diri, kamu mengingat lagi kali bagaimana kalian dipertemukan. Kamu tidak lagi memiliki benteng pertahanan. Kenangan bagimu adalah sobat yang menyajikan film hitam-putih dan kamu izinkan untuk membenamkan pedang secara perlahan ke ulu hatimu. Berangkat dari beradu pandang, keingintahuan, motivasi mencari identitas, hingga ke tahap perkenalan, jatuh cinta, dan sepakat menjalin hubungan. Kemudian berlanjut cara dia memperlakukanmu. Bagaimana dia berbicara dan mendengarmu, atensinya, senyumnya, anggukannya, sentuhannya, deru napasnya, temperatur tubuhnya. Setiap tempat, setiap cerita. Segalanya, semua terasa seolah nyata. Kamu tertawa kecil karena menyadari hampir gila mengetahui betapa kamu masih mencintainya. Kamu tersenyum mengingat dahulu kalian bersedia berkali-kali memecahkan diam yang ditenggarai sebagai isyarat ingin dipahami. Kamu menggelengkan kepala mengingat betapa kalian pernah sedemikian jauh berjalan saling mengiringi dan bergantian berbagi arah, melewati banyak rintangan, melompati sedalam-dalamnya jurang, melampaui hampir, sampai waktu ketika kalian berdiri di jalan itu. Dia melihat jalan itu buntu kendati kamu yakin masih ada arah lain. Dan saat itu, entah kenapa, dia tidak lagi menerima kompas yang kamu berikan.

Dia mencari jalan keluar tanpa melibatkanmu.

 

***

Kamu bingung.

Kamu terjebak dalam sensasi nostalgia yang melenakan. Alih-alih melepaskan diri kamu malah menikmatinya, lalu merinding merasakan hadirnya rangsangan untuk mengetahui apa pun yang beraroma dia lagi. Awalnya kamu berprinsip mengenang tidak sama dengan mengulang, tapi kali ini kamu mengumpulkan keberanian untuk menyangkalnya. Kali ini kamu tidak melibatkan nalar. Perasaanmulah yang paling benar. Tiba-tiba kamu ingin menjadi detektif yang mengumpulkan bukti bahwa bahagia adalah dia. Nalar yang tadinya berfungsi untuk mencegahmu, berbalik kamu paksa mendukungmu. Kamu butuh pengakuan dan perubahan realita yang harus buktikan, bukan hanya kabar burung yang selewatan mengusik pikiran. Kamu berusaha memantapkan tekad.

Tapi di sisi lain lahir kekhawatiran yang sporadis menyebar pada neuron alam sadarmu. Kamu berpikir akan beberapa jumlah kemungkinan yang berpotensi merusak rencana yang sedang kamu buat, belum lagi risiko di luar perhitunganmu. Pada titik inilah kamu menampar diri, kamu bukan terjebak, tetapi menyesatkan diri. Kamu tersesat karena sesuatu yang selama ini kamu yakini belum selesai dan patut diselesaikan, padahal belum tentu dia mengalami hal ini. Kali ini kamu merasakan perih mahadashyat yang belum pernah kamu rasakan. Sementara kamu mencari jalan keluar, kamu kembali tersungkur mundur pada momen tertatih-tatih mengobati luka yang seharusnya sudah sembuh. Apa daya, kamu telanjur melukai diri untuk ambisi yang fana. Namun kamu beruntung belum sempat melakukannya lantas kamu bisa segera menyelamatkan diri. Kamu berterima kasih kepada logika yang sudah sekarat tapi masih berfungsi menyeretmu dari ilusi perasaan yang sungguh nyaris membuatmu gila.

Akhirnya kamu berdamai dengan hatimu sendiri. Kamu membujuk hatimu untuk tidak memenuhi kepuasan egonya kali ini. Kemudian kamu mengintruksikan diri untuk bangkit dan beranjak dari jalan buntu itu. Sebab dia yang kamu puja, dia yang kamu percaya, dia yang kamu agungkan, dia yang kini menempati penuh hati kecilmu, nyatanya memang tiada meski raganya masihlah hidup tapi entah di mana. Terlebih dia tidak ada pada titik terendah kamu saat ini. Dia, tidak menolongmu.

Akhirnya kamu mengusir air mata dari pipi dengan ujung jari dan menarik napas yang sangat panjang serta berat sebagai pertanda dramatis bahwa kamu siap mencari jalan keluar sendiri.

Pada langkah pertama, kamu sadar telah menghancurkan hatimu hanya demi melihatnya dalam kenangan yang dulu pernah kamu bunuh.

Pada langkah berikutnya, kamu paham. Dia yang dahulu pernah mencintaimu, kini hanyalah kenangan yang berusaha kembali hidup, dan berbahaya.

Pada langkah ke sekian, kamu tersenyum bangga. Kebahagiaanmu sesungguhnya ada di depan mata yang selama ini buta. Kamu percaya kamu kembali akan jatuh cinta, dengan dia yang berbeda.

Advertisements

2 thoughts on “Dia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s