Merpati Terbaik

5f18feb5ac87c43171bf2b63bce201c3

Hari terakhir bulan Juni sore hari.

Aku berlari –berharap bisa menyamai kecepatan cahaya, tapi tentu saja itu tidak mungkin– melintasi trotoar yang sepi, menginjak daun-daun kering yang ikhlas meninggalkan ranting, menutupi pinggiran jalan. Aku tidak mempunyai cukup kesabaran berpacu dengan waktu.

Aku harus segera sampai, merpatiku pulang..

Aku melihat halte bus itu dari kejauhan, tidak ada satu pun orang di sana. Napasku sudah hampir putus, dadaku terasa sesak, dan bulir-bulir keringat sudah membasahi sekujur tubuh, tapi itu tak menyurutkanku untuk tetap berlari hingga aku berdiri di bawah atap halte, barulah aku merasa lega. Aku duduk di salah satu deretan kursi cekung bercat kuning sedikit berkarat, sedangkan aku menunggu bus terakhir yang tiba sebelum petang minggat.

Sekarang pukul lima sore, seharusnya bus telah datang. Belum ada tanda-tanda roda bermesin yang melewati jalan di hadapanku selain angin yang perlahan terasa dingin. Sepuluh menit kudapati kekosongan sampai bajuku yang basah perlahan mengering. Tak apalah, aku sudah menunggu hari ini tiba, hari ketika kamu menyapa kembali tanah kelahiranmu. Seperti yang pernah kamu katakan lima tahun lalu, sebelum kamu menjadi seorang yang mencari peruntungan di ibu kota. Menggapai kehidupan sejahtera seperti mimpi-mimpi para pemuda di kampung ini, yang ingin pulang dengan senyum bangga karena pundi-pundi rupiah yang telah cukup membangun rumah baru, kemudian mempensiunkan orang tua beserta kerbaunya di sawah.

Aku menengok matahari yang mulai mengistirahatkan pijarnya. Kemudian kupejamkan mataku. Masih kuingat betul momen ketika kita berdua berdiri di halte butut ini pukul setengah enam pagi. Burung-burung  bersiap memainkan orkestra irama cicit di dahan pohon, menyemangati para kepala keluarga yang harus lekas membanting tulang agar peribahasa ayam mematuk rezeki manusia batal terjadi.

“Aku janji akan kembali, tepat bulan ini,” katamu dengan senyum penuh percaya diri sembari menggenggam erat tanganku.

Haruskah empat tahun?”

“Nggak perlu aku jelasin lagi, kan, apa aja yang harus aku lakukan selama itu?

“Ya enggak, sih. Tapi..” Aku memalingkan wajah, agar raut takutku tak terlihat olehmu.

Kamu terkekeh seraya mengacak-acak rambutku. “Takut kenapa? Takut aku selingkuh? Ya enggak mungkinlah, aku kan merpati terbaik, sepulang dari Jakarta aku bakal ngelamar kamu..”

“Tapi, aku—“

 “Ssstt.. Kalau kita nggak pernah mencoba dan bertaruh, atuh kita nggak pernah tau hasilnya. Anggaplah aku terbang untuk sementara..” Genggamanmu semakin erat, menginterupsi sanggahan-sanggahan berisi ketidakyakinan yang selalu menghantuiku menjelang lelap.

Kamu percaya aku kembali, kan?” Kamu tersenyum meyakinkanku sekali lagi.

Aku mengangguk pelan.

Kamu masa tega bikin perjalanan aku nggak tenang..”

Aku terdiam, tak bisa berucap lagi sebab bibirku telah terkunci rapat oleh bibirmu yang berusaha mengenyahkan segala ketidakrelaan.

Empat tahun lagi, di bulan ini, aku bakal berdiri halte ini. Entah tanggal berapa, tapi aku kan pulang. Aku mohon kamu sabar ya menunggu aku,” ucapmu pelan, menghibur kegundahan yang tak dapat kutaksir jumlahnya.

Setelah ucapan itu kurekam, kemudian terdengar gema bunyi klakson bus yang akan mengantarmu menuju ibu kota dalam lima puluh jam perjalanan. Aku berusaha menunda hujan di mataku saat melihatmu menggendong tas berisi perlengkapan bertahan hidup. Wajahmu nampak bersemangat, tapi tak dapat menyembunyikan kekhawatiran yang hampir sama kurasakan. Tak ada upaya yang dapat kulakukan demi mencegah tanganmu menggapai besi pegangan bus. Hanya doa yang kupanjatkan agar kamu selalu baik-baik saja, dan tentu selalu mengingatku sampai detik ketika kamu menepati janji. 

Mungkin inilah yang dikatakan penantian, ketika menunggu adalah satu-satunya pilihan demi memperoleh pembuktian atas janji seseorang. Meski kamu tidak terlalu yakin apakah itu benar-benar tepat dilakukan untuk mengalami sebuah ditepati dari seseorang yang menempati hatimu. Seseorang yang akan luput dari pandangan saat dia menghitung langkah maju, sementara kamu menghitung mundur waktu ketika menyaksikan jarak perlahan menciptakan saput yang menahun kamu sadari bisa kapan saja memunculkan jera baik terhadap dia atau kamu sendiri. Sedetik sosok dia tak terlihat dari hadapanmu, saat itu pula sosoknya digantikan oleh rahasia yang berpagut dalam waktu yang kamu pertaruhkan, mencatut tanda tanya raksasa pada kata setelah akan. Kehilangan pelan-pelan menjadi momok yang menakutkan, patah hati yang tak terkira kadar deritanya, kamu mulai merasa tidak berdaya karena tidak bisa berupaya selain berusaha tabah tanpa kabar sembari menghitung debar yang senantiasa melapangkan sabar, agar selalu sadar ada hati yang menabung rindu sampai tiba hari bertemu.

Kamu tidak pernah bisa menakar kemungkinan absolut atau merasa memegang jaminan berdasarkan seberapa lama kamu mengenalnya dan merasa dicintainya. Sebab perasaan manusia mirip seperti secarik awan yang mengiringi rotasi bumi, kamu tidak pernah tau pasti bagaimana nasibnya di lintasan udara. Sekuat apa dia mampu mengukuhkan kesetiaan atau serapuh apa diterpa tekanan angin lalu pudar titik demi titik. Kedinamisan yang melayang dalam harmoni statis, kontradiksi yang mengandung ekspektasi berbuah manis. Singkat kata, penantianmu selayaknya melepas merpati terbaik, kamu tidak punya apa-apa selain keyakinan, permohonan, dan harapan semoga dia segera pulang ke sarang.

Atas nama apa pun, aku berani bertaruh empat tahun untuk selamanya bila dia kembali. Karena aku percaya sebuah janji terucap dari hati yang yakin dapat membuktikan, seperti yang telah aku lakukan satu lustrum. Aku tidak lagi memikirkan iming-iming orang yang persuasif mengatakan bahwa ibukota adalah kunci kesejahteraan agar para pemuda berani bertaruh nasib. Persetan. Aku tidak lagi peduli dengan apa yang kamu bawa di dalam tasmu saat pijakan pertama kakimu tanah kampung halamanmu ini. Aku hanya ingin kehadiranmu.

Samar kudengar mesin bertenaga bensin mendekat dari kejauhan. Aku lekas membuka mata dan berdiri dengan jantung berdegup kencang, rasanya seperti menunggu dia datang pada kencan pertama. Kulihat bus mendekat perlahan ke arah halte. Wajahku terasa panas seolah akan ada lelehan haru dari kelopak mataku, dan aku menahan aba-aba untuk menghambur memelukmu.

Satu… Dua… Tiga… Empat… Lima… Enam… Tujuh… Delapan…

Bus cokelat tua itu berhenti tepat di depanku. Kemudian kernet yang bergelantungan di pegangan bus turun.

“Naik, Neng?” tanyanya menawariku.

Aku melihat jendela bus, tidak ada tanda-tanda penumpang yang hendak turun. Tak ada pula penghuni lain di dalam bus selain sang supir yang menunggu perintah kakinya menginjak kembali pedal gas.

“Mau naik, Neng?” Sekali lagi kernet itu bertanya.

Aku menggeleng pelan.

Kernet itu kemudian meloncat kembali ke dalam bus. “TAAR—“

“TUNGGU, KANG!”

“Si Eneng teh, jadi naik nggak?” Kernet itu tampak bingung, memandangku heran.

Aku menelan ludah, kecemasanku menyeruak. “Punten, Kang. Nggak ada yang turun di sini?”

“Teu aya, Neng. Bus na kosong mau balik ka terminal. Aya naon?

Aku menggeleng. “Nggak ada, hatur nuhun, Kang.”

Sami-sami..” Kernet itu tersenyum sopan. “LANJUT TAAREEEK!”

Bus pun melaju menjauhi halte, meninggalkan kepulan asap hitam, bukan kamu. Aku berdiri mematung. Lelehan haru di mataku berubah menjadi anak sungai tangis pilu. Aku berusaha mengumpulkan oksigen untuk menjaga agar kesadaranku bertahan pada tempatnya, supaya aku mampu beranjak dari halte ini.

Aku tahu hari ini adalah kenaifan paling besar seumur hidupku dalam menggenggam kepercayaan. Memang benar tak ada ucapan yang dapat dipegang, hanya menjadi kata yang memanjakan telinga, menenangkan sementara pikiran yang tegang, tapi pada akhirnya mengerucut pada ujung kekecewaan. Entah kamu hanya terlambat atau kamu memang takkan kembali, keduanya sama saja. Penantian yang kucicil telah lunas, cintaku kontan habis, dan hatiku terasa teriris tipis. Janji yang selalu kujaga dan kutepati meskipun tiada sebuah kata pasti telah diberikan imbalan berupa ingkar. Tidak perlu ada penantian selanjutnya, di halte ini aku berhenti. Tidak semua merpati terbaik menepati janji.

Mungkin waktu telah menerbangkanmu terlalu jauh hingga kamu lupa ada yang selalu menunggumu pulang. Kini biarkan aku memakamkanmu di ingatanku sebagai kenang yang tak perlu ada seremoni perpisahan.

Tuhan, aku ingin segera melupakannya, semoga permohonanku kali ini tidak terlalu tinggi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s