Dua Sisi, Satu Pertanyaan

Screen Shot 2016-05-21 at 02.25.28

source: Tumblr

Pertanyaan ini mungkin tidak akan pernah tersampaikan kepadamu, sebab aku sendiri tidak paham terhadap apa yang pikiranku jelaskan. Aku pun takut kamu tidak dapat memahami pertanyaan ini. Tentang kamu. Mungkin hanya aku yang merasakannya. Atau, boleh jadi aku tidak sendiri dan justru banyak orang yang juga merasa demikian. Itu berarti semakin kuat kepercayaanku akan dalamnya kombinasi proses kognisi dan praduga manusia.

Aku seperti terdampar di dalam dimensi lain di luar alam sadarku. Sebuah bentuk ruang kelas untuk belajar sesuatu yang secara lisan dijabarkan oleh lobus frontal sebagai sang guru, persis sewujud guru yang lengkap atributnya. Mata pelajarannya bukan rumitnya soal matematika, rumus fisika apalagi hasil gabungan zat kimia. Pelajaran ini tentang batin. Tujuh puluh persen logika dan tiga puluh persen hati –setidaknya hanya aku– yang  selama ini kuyakini sebagai seorang laki-laki. Sang guru merepresentasikan interpretasi kejadian demi kejadian tentang aku dan kamu. Membahas makna di balik pertemuan kita, kemungkinan-ketidakmungkinan, seberapa besar peran semesta dan yang paling penting, kamu. Kamulah pertanyaan terbesarku.

Tetapi aku diintruksikan olehnya untuk duduk di sudut paling belakang. Aku duduk di bangku dekat jendela, terhalang murid lainnya –yang sebenarnya adalah sosok dari pemikiran lain di kepalaku yang sedang kucoba telaah. Aku berusaha untuk memahami apa yang sedang dijelaskan. Akan tetapi, suara sang guru terlalu kecil untuk sampai di telingaku. Sementara murid lain sudah bersiap mengangkat telunjuknya bersamaan sembari berseru demi mencuri perhatian sang guru, agar memperoleh kesempatan emas menyampaikan pertanyaan yang sudah mereka nanti jawabannya.

Sisi pertama diriku ingin memberanikan diri untuk berdiri dan bilang kepada sang guru agar diperbolehkan untuk duduk di depan meskipun belum tenti ia izinkan, dan jadilah aku orang pertama yang melayangkan telunjuk di udara agar aku mendapatkan jawabannya segera. Sekalipun aku orang kedua, ketiga, terakhir, atau tidak memiliki kesempatan itu, setidaknya aku dapat dengan mudah mudah mencatat setiap patah suara kata yang dihantarkan udara hingga sampai di telingaku. Mencatat setiap poin yang tertangkap mataku dari gerakan jemarinya sebagai gestur. Kemudian, dengan sigap aku mencerna apa, mengapa, dan bagaimana yang selama ini memenuhi serta mengganggu pikiranku sebagai petunjuk menelusuri kamu sepenuhnya.

Sisi kedua diriku memutuskan untuk berbuat sebaliknya. Aku memilih terdiam pasrah. Berusaha mencari pemahaman sendiri perihal apa yang sedang terjadi. Tidak ada petunjuk ataupun sontekan. Yang bisa kulakukan hanya memicingkan mata, memerhatikan gerakan bibir sang guru yang terlalu cepat. Seandainya saja waktu dapat kulambatkan dalam hitungan milisekon agar aku dapat merekam kata demi kata yang menguar di udara tanpa mengindahkan gestur tubuh sang guru. Seandainya.

Aku ingin tahu. Aku ingin mengerti. Aku ingin benar-benar paham kita dirancang secara substansi untuk apa di luar konsep pertemuan dan perpisahan. Sebab yang pasti dalam takdir adalah mati. Sedangkan kisah dan kasih kita ialah nasib. Sungguh, aku butuh jawaban terhadap pertanyaan yang belum kumengerti, setidaknya dapat mengakhiri rasa penasaran ini, tetapi ini tidak sama sekali. Mungkin inilah peran misteri di genggaman rahasia. Mungkin pulalah itu alasan mengapa mereka ada. Aku dituntut untuk tersesat dalam pikiranku sendiri demi menguaknya meski kudapati diriku muak dengan alasan-alasan tidak masuk akal. Kalau saja hidup ini ada yang merancang buku manual, tentu saja itu akan mempermudahkan kita sebagai manusia normal. Untuk saat ini, aku ingin membaca bagian hati dan serba-serbinya.

Akhirnya aku memilih sisi kedua. Di mejaku terdapat puzzle kosong yang ratusan isi rangkaian kepingannya kemudian akan menyusun wajahmu. Aku ingin jujur, inilah awal mengapa aku tidak dapat menyampaikan pertanyaanku sebab aku merasa ada sesuatu yang belum selesai di dalam dirimu. Sebuah makna leksikal antara masa lalumu dan saat bersamaku yang tak dapat kujamah. Seolah tertutupi saput tebal yang menghalangi tatapanku yang menganalisa rahasia yang barangkali sangat rapi disembunyikan di balik indahnya matamu. Aku tidak mengerti itu apa, ataukah benar ada tidaknya, tetapi aku merasa rahasia itu ada meskipun aku tidak tahu itu apa. Rahasia itu hidup. Kamu rawat oleh ingatan yang cukup baik. Bila itu benar, aku tidak tahu alasan kamu mengingatnya untuk apa.

Sampai detik ini, aku masih mencoba memahamimu sebagai seseorang yang kucintai. Caramu berucap, caramu berekspresi, caramu berinteraksi merespons setiap bagian semesta, gerak-gerikmu, kurekam dengan baik. Namun, mengapa aku bisa merasa ada yang kamu rahasiakan? Rahasia macam apa dan apa kepentingannya hingga sedemikian rupa kamu bentengi dengan kesunyian rapat-rapat? Aku berani bertaruh dengan segala yang kumiliki bahwa tidak ada yang menyayangimu seperti aku. Tidak akan ada seorang pun yang berusaha keras memahamimu selain aku. Bahagiamu, sedihmu terutama. Kualami dengan baik.

Aku sudah berkata, aku menerimamu seutuhnya. Bila memang itu yang kamu rahasiakan, maka aku menyayangkannya. Mengapa kamu melakukannya? Sebaik dan sebanyak apa amunisi alasan yang kamu siapkan bila kelak rahasia itu tersingkap, layaknya tirai hitam yang menutupi sinar matahari yang hendak masuk menerangi hati. Sebesar apa ketakutanmu bila rahasia itu pada akhirnya terbongkar? Sesiap apa bila kenyataannya kamu menyesali kehilangan sosok yang pergi karena ketidakjujuranmu. Aku merasakan apa yang kamu rasakan semenjak aku mengenalmu. Bertaruh harapan meskipun hidup kadang seperti melempar dadu dan bersikeras berjuang agar takdir  tak selalu menyajikan kemustahilan. Takkan kuizinkan siapa pun berusaha menyentuh ragamu untuk menodaimu. Hatimu, takkan pernah kubiarkan makhluk bernapas melukainya.

Mungkin, suatu saat, jika ada keajaiban yang sukarela mengungkap rahasia itu atau setidaknya benar atau tidak pertanyaanku sebagai kompas, aku akan dengan senang hati mendengarnya dan berterima kasih, bahkan mencium kakinya ketika kudapati jawabannya. Sebab, keterbatasanku tak mampu membaca pikiran dan bahasa nurani orang lain sehingga hanya bisa membuatku mengira, menebak, menduga atau sinonim lain ketiga kata itu.

Inilah aku, dengan segala yang mungkin tidak pernah kamu ekspektasikan akan sebuah rasa penasaran. Inilah aku dengan segala yang mungkin tidak semesta duga sejumput daya demi menuntut sebuah pemahaman. Inilah aku dengan segala yang mungkin telah diskenariokan Tuhan untuk mendeskripsikan betapa kompleksnya struktur sintaksis antara pikiran dan hati manusia dalam mencari sebuah pemahaman.

Kedua sisiku mengangkat telunjuknya bersamaan ketika Sang guru bertanya apakah ada pertanyaan.

Sisi pertama diriku bertanya, “Relakah kamu hidup dalam rahasia dan aku meratapi tanda tanya?”

Sisi kedua diriku bertanya, “Pernahkah kamu ingin mati untuk sesuatu yang tidak pernah kamu mengerti?”

Sang guru terdiam, ia tersenyum layaknya seorang yang bijak, kemudian berkata dengan sangat pelan, “Hanya kamu yang dapat menjawabnya.”

Advertisements

One thought on “Dua Sisi, Satu Pertanyaan

  1. Pingback: Dua Sisi, Satu Pertanyaan — Falen Pratama – Catatan Pendek

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s