Save Me

tumblr_static_tumblr_static_4n9blmol4jcw0kc0sok0o448w_640

You think you want to die, but in reality you just want to be saved.

Sekilas tak ada yang istimewa dengan kalimat itu. Kalimat yang keluar dari mulut salah satu temanku, yang belakangan ini kuketahui ia dapatkan dari Google saat ia mem-posting-nya di Path. Namun ada arti yang dalam, tajam, menusuk nalarku yang hampir karam.

Kalimat itu terus terngiang-ngiang di benakku saat kamu beranjak dari meja ini meninggalkan secangkir long black coffee yang uapnya masih mengepul, setengah bungkus rokok Camel Purple yang mengonggok di tepi meja, dan pernyataan bahwa kamu akan pergi ke Jepang tiga hari ke depan. Menggantungkan pahit di balik raut wajah yang berusaha terlihat biasa-biasa saja. Aku tidak tahu ini perang dingin untuk kali ke berapa  dengan masalah yang masih sama. Tidak ada adu mulut yang melibatkan tarik menarik urat leher, yang ada hanya obrolan dengan kalimat penutup. “Aku nggak mau ngebahas itu lagi ya. Kamu udah tau jawaban aku apa.”

Kamu selalu bersikeras dengan pilihanmu yang enggan menikah tanpa koma. Bagimu kompromi hanya akan menghasilkan pernyataan-pertanyaan retorikal. Bagimu pernikahan adalah konsep ikatan yang nantinya membelenggu kebebasanmu untuk melihat keindahan dunia. Buat apa menikah bila kita tetap bisa bersama atau hanya mengikuti norma, tanyamu dengan ekspresi tidak habis pikir tapi penuh kemenangan karena sanggahanku selalu berakhir percuma.

Ya, kamu ingin menikmati setiap detik dengan menapaki setiap senti bumi ini. Sudah berpuluh-puluh cap stempel berbagai negara bersemayam di paspormu dan foto pemandangan indah yang kamu abadikan lewat lensa kamera yang kemudian kamu unggah di media sosialmu. Membuat banyak mata terperangah, lalu dengan sukarela memenuhi notifikasi ponselmu dengan tanda hati, tak jarang dibubuhi pujian. Sedangkan aku? Seorang peracik kopi yang menginginkan hidup sederhana, membuat kopi enak yang menjadi nyawa supaya kafe dipenuhi pengunjung, kemudian menaikkan insentif para pegawaiku agar mereka bekerja dengan hati, bukan hanya berdasarkan menanti gaji.

Menikahlah pada saat kamu susah, supaya rumah tangga kalian tidak berdasarkan materi, pesan Ibuku. Masih kuingat betul malam itu, binar mata Ibu yang penuh dengan harapan menatapku setelah ia selesai bercerita keluh kesahnya kepada Sang Pencipta. Bagaimana bisa aku tidak memenuhinya?

Kadang aku berpikir, alasan bodoh macam apa yang membuatku masih bertahan dalam hubungan yang sudah memasuki tahun keenam tapi yang kudapati hanyalah keangkuhan seseorang terhadap pilihannya, kamu. Sempat terlintas dalam benakku untuk mencari seseorang yang setidaknya paham apa yang kubutuhkan, tapi nyatanya tidak semudah orang menasihati dengan kalimat yang menggetarkan hati untuk mengakhirinya. Aku mencintaimu seperti membuat secangkir kopi, sepenuh hati ini menunjukkan bukti, bukan lisan yang melenakan telinga melalui bualan janji.

“Lagi?” Tiba-tiba Tama duduk di hadapanku dengan kepala menggeleng seolah paham terhadap apa yang terjadi, lalu menyalakan sebatang rokok yang kamu tinggalkan.

“Udahlah, Man..” Aku memutuskan untuk mengambil sebatang lagi. Kubakar pelan-pelan.

Tama menatapku iba. “Nggak bisa begitu, udah jelas, kan, duduk perkaranya. Kenapa masih nahan-nahan sih lo? Gue kasian ngeliat lo kayak gini terus, padahal udah jelas lo harus ngelakuin apa..”

“Udah de—” Aku mencoba memberikan penjelasan yang kutebak sudah ia hapal.

“Gini deh.” Secepat kilat Tama memotong, “lo pilih mempertahankan cewek yang kukuh sama keputusannya, yang ngecewain pesan orang tua dan masa depan lo, atau lo mulai move on dari sekarang? Sulit bukan berarti nggak bisa, Man. Setiap keputusan pasti ada risiko dan konsekuensinya. Come on. Kalau lo dewasa, lo ambil dan hadapi. Tapi kalau lo pengecut, ya lo bakal terus terkurung dan investasiin percuma waktu lo buat sesuatu yang sia-sia. Elo tuh cuma lagi menghitung mundur bom waktu yang nunggu meledak. Gue kenal elo dari zaman kuliah. Sejak kafe ini masih berupa mimpi!” jelas Tama tanpa membiarkanku menyanggah.

“Gue kenal kopi dan kafe ini berdiri tiga tahun lalu juga berkat Eva, Tam..”

“Gue juga tau banget betapa keras kepalanya Eva, Shaka. Gue bukan mau ikut campur dan provokasi biar kalian bubar. Tapi ini berbicara tentang masa depan. Lo tetap bisa temenan, kan. Nyokap lo sendiri bilang ke gue, lo tuh udah butuh bini yang sepenuh hati ngelap keringet lo setelah bikin secangkir kopi yang enak dari siang sampai malam buta..”

Man, serius gue capek banget hari ini..” Aku menghela napas berat.

“Kalau gue jadi lo..” Tama mengisap rokok di antara telunjuk tangannya yang mengarah kepada seorang perempuan berkacamata yang sedang duduk melamun di sudut jendela dengan laptop di depannya. “Gue ajak kenalan cewek itu, dia sendirian dari jam delapan dan mesennya kopi hitam,” lanjutnya dengan tatapan tajam, kemudian berjalan ke luar dari kafe dengan melayangkan jari tengah kepadaku di sela-sela jaket yang ia gantungkan di pundak.

Aku perlahan memijit kening yang mendadak terasa pening. Ini sudah kronis kualami sejak tahun ketiga. Perbedaan pendapat, mengalahkan rasa bosan, hingga mencantumkan beberapa spasi di antara aku dan kamu. Untuk kali kesekian pula aku terkapar dalam lamunan karena kognisiku mendamprat dengan montase kenangan bersamamu. Menceritakan awal pertemuan kita, mereka ulang setiap inci banyak perjalanan panjang nan terjal yang telah kita lewati, mengeja derai tangis dan gelak tawa yang terajut dan.. mendikte betapa jatuh-bangun kita pertaruhkan segalanya demi mendirikan kafe ini. Apakah kita harus berakhir begitu saja hanya karena kerasnya batok kepalamu? Sungguh aku bingung tidak kepalang bila melihat perempuan seumuranmu kebanyakan sudah mulai menagih kata kapan dari yang cara yang lembut tersirat sampai vokal tersurat.

Kutekan ujung rokok di asbak hingga baranya kehilangan nyawa, lalu kulihat perempuan itu sedang memandangi jalan raya yang mulai lengang dan diselimuti air yang menggenang. Pandangannya mengingatkanku pada masa-masa kelam menanti kepastian dalam ketidakpastian. Persis seperti nasibku. Sial. Tama yang terkenal bajingan di antara teman-temanku itu mengerti seni sarkasme yang elegan.

Kubuka ponsel yang masih terkunci dan tidak ada notifikasi pesan darimu. Ah, kamu. Kerap kali kamu begini.

Tidakkah kamu merasa begitu egosentris mengejar –yang kamu elu-elukan– kesempurnaan yang akan tergapai tanpa perlu sepasang cincin di jari manis? Kita hanya perlu menjalani hidup seperti hari-hari kemarin, katamu. Aku dengan penuh semangat dan bahagia membuat kopi, dan kamu yang mengurusi klien agar terkumpul pundi-bundi rupiah yang kemudian kamu simpan untuk menjelajahi peta. Katamu, kita tidak butuh seremonial untuk menyejarahkan cinta kita di dalam buku cetak dan memori orang-orang mutual. Itulah komitmen kita yang menjadi kebenaran tertinggimu, yang sebenarnya amat sangat kusayangkan.

Sebegitu kukuhnya prinsipmu itu, hingga kamu menutup rapat mata dan telinga. Tidak pernah kamu ketahui aku tunggang-tungging merapal amin agar keangkuhanmu melunak. Agar pola pikirmu yang memunculkan toleransi demi kita berdua. Toleransi yang mengabulkan pengharapanku untuk memilikimu sepenuhnya dan menepati pesan orang tuaku, lalu kamu tetap bebas menghirup setiap hela udara di seluruh penjuru dunia.

Aku sepakat bila menikah memang bukan sebuah kewajiban, seperti kata orang yang mengatakan itu salah satu anjuran berdasarkan agama dan norma agar tidak muncul prasangka buruk. Tak ada peraturan tertulis yang mengharuskan setiap warga negara harus melakukannya. Namun impian terbesarku adalah, aku ingin sekali mengelap peluh di kening dengan punggung tanganku sambil tersenyum menatap rahim di balik bajumu yang bertambah besar setiap harinya, lalu mengecupnya dengan penuh rasa bangga dan ketidaksabaran dipanggil Ayah, dengan ikatan yang sah.

Tak kusadari, seriak air perlahan mengalir dari pelupuk mataku menuju pipi. Butuh waktu yang cukup lama untuk mengajak kesadaranku kembali menapak realita, ketika muncul beberapa deretan notifikasi pesan pamit dari pegawai shift malam yang pamit pulang di grup chat yang bertengger di permukaan atas layar ponsel. Ini kali ke sekian mereka sungkan berpamitan langsung kepadaku karena melihat sebegitu menyedihkannya pemimpin mereka. Kini, aku setuju dengan diriku bahwa kesempurnaan yang kamu cari itu tidaklah bermakna bagiku. Sebab hidup ini dinamis, tidak berhenti pada satu titik stagnan yang begitu kamu agungkan. Kita harus berubah untuk benar-benar tahu apa itu tujuan hidup. Seperti sebuah buku atau film yang memiliki rangkaian fase dan proses hingga menemui akhir. Entah bahagia atau sedih.

“Bang Shaka, gue pamit pulang duluan, ya?” izin seorang pegawai floor terakhir yang baru saja membersihkan lantas atas.

“Iya, lo duluan aja, Mal.”

“Itu cewek yang masih duduk gue kasih tau ya kafe udah mau tutup?”

“Enggak usah, biar nanti gue aja,” kataku, lalu ia pulang.

Aku mengangkat cangkir kopi dan asbak, lalu menaruhnya di bak cucian. Dengan penuh khidmat kupandangi seluruh penjuru kafe ini yang disinari penerangan remang.

“Permisi, Mas. Kafenya.. sudah ingin ditutup, ya?” Perempuan itu bertanya dari balik meja bar dengan suara lembut yang terbalut kesopanan dan rasa tidak enak.

Kegiatan mencuci segera kuurungkan. “Iya, tapi kalau masih mau di sini silakan, nggak usah di luar, dingin. Saya masih mau beres-beres, Mbak.”

“Umm.. Sebenarnya ada yang saya pengin omongin, Mas..” Perempuan itu tersenyum malu sambil memegang bloknot di tangan kanannya.

“Oh, tentang apa tuh?” Keningku mengernyit, mencoba menebak-nebak apa kepentingannya pada pukul dua pagi. Kamera CCTV di beberapa sudut ruangan sudah mengamati gerak-geriknya bila perempuan itu melakukan hal jahat.

“Mas selesain aja dulu beres-beresnya biar enak..” katanya singkat, kali ini ia menggosok kedua telapak tangan, kemudian ia kembali kemejanya.

Segera kumatikan mesin pendingin ruangan, lalu segera kubuat dua cangkir hot chocolate manis dengan untuk menyelamatkan kami berdua dari udara dingin yang berhasil menyusup ke dalam.

“Secangkir hot chocolate, silakan dinikmati..” kataku sambil meletakkan dua cangkir cokelat panas di permukaan meja perempuan itu.

Mata perempuan itu berbinar. “Eh? Saya, kan, nggak mesen cokelat, Mas…?”

“Saya Shaka, itu nama saya kalau pacar Mbak nanyain siapa orang yang ngajak ngobrol pagi-pagi buta begini..” Aku duduk di hadapannya, lalu menjabat tangannya sambil terkekeh. “Ini gratis kok, anggap aja komplimen dari saya. Silakan diminum.”

“Panggil saya Nia aja, Mas Shaka. Tenang, nggak ada yang nyariin saya kok. Hahaha.” Perempuan itu menjabat tanganku.

Aku menyesap cokelat panasku perlahan. “Omong-omong ada apa ya?”

“Tadi Mas yang rambutnya gondrong… Eh siapa itu namanya, Tamir, ya?” Dia berusaha mengingat seraya mengetuk pipinya.

“Tama?” Keningku mengernyit untuk kali kedua.

Mata perempuan itu berbinar. “Ah iya! Tama! Iya, tadi Mas Tama bilang kalau mau ngobrol sama Mas Shaka syaratnya harus nunggu Mas selesai beberes dulu..”

Monyet lo, Tam..

“Saya nggak— Oh, mungkin maksudnya biar saya bisa fokus. Tapi sebenarnya nggak apa-apa banget kalau Nia mau ngajak saya ngobrol daritadi, daripada nunggu lama..”

“Oh gitu.. Iya nggak apa-apa deh, udah terlanjur. Tadi juga saya lihat Mas Shaka kayak lagi mikirin sesuatu, makanya saya tunda.” Dia menggaruk rambutnya. “Jadi gini, sebenarnya saya mau minta izin sama Mas Shaka untuk riset saya tentang customer kopi di kafe ini. Saya mau ambil sampel dari beberapa regular customer yang sering ngopi. Boleh, Mas?”

Aku berpikir sejenak. “Ya udah silakan.. Besok siang after lunch kalau Nia bisa ke sini lagi aja, nanti saya kenalin ke beberapa regular customer saya. Kalau nanti saya lagi sibuk bikin kopi, minta tolong Mas Tama aja ya, nggak usah sungkan. Kalau dia nggak mau sogok aja pakai rokok kretek.”

“Be-benar nih, Mas?” Kilatan matanya semakin berbinar terang seperti menang nomor undian.

“Iya..” Aku tersenyum. “Udah jam tiga nih, kamu mau saya pesenin taksi buat pulang?”

“Terima kasih banyak, Mas. Saya lega banget.” ucapnya tulus. “Nggak usah repot-repot, Mas. Saya ngekos nggak jauh dari sini. Cuma jalan kaki beberapa ratus meter aja.”

“Oh ya udah, kalau mau saya anter aja sampai deket kos. Jam segini bahaya jalan sendirian lagipula dingin abis hujan.” Spontan kalimat itu terucap begitu saja.

Dia menggigit bibirnya seraya bergumam. “ Ya udah deh kalau nggak ngerepotin.”

Kali ini aku yang berbinar senang dan merasa lega. Aku tidak tahu dari mana asalnya perasaan ini. Seperti menghirup sehela udara segar setelah terperangkap dalam sesak yang membuatku lupa cara bernapas.

Kini kuyakini, pertemuan dan perpisahan hanyalah konsep keadaan, yang mutlak adalah rasa, setidaknya itu yang kuyakini sekarang. Perisai egomu terlalu angkuh menutupi telingamu, sekadar memberi celah agar aku dapat berbisik pelan supaya kamu mengerti, tidak hanya mendengar. Cinta adalah induk segala rasa yang dipelihara oleh hati, diasuh waktu dan dijaga rindu, Sayang. Bagaimana cinta bisa bertahan bila debar jantung kian melemah setiap detiknya karena hati yang melahirkannya perlahan jauh meskipun pernah sepakat saling jatuh? Cinta versiku juga memberi dan menerima. Aku telah memberikanmu hampir segalanya, dan berharap kamu rela menghadiahkan apa yang selama ini kamu penjarakan, yang sampai detik ini tidak bisa kamu berikan.

Kamu, berangkatlah menyapa negri orang tanpa beban dengan sayap besi. Aku di sini, dengan sederhana ingin mencoba lepas dari cangkang yang selama ini mengekang. Dalam waktu dekat, aku akan menukar ucapan selamat tinggal demi sebuah selamat datang sebagai mantra yang melahirkan harmoni dan seremonial, dengan mencobanya melalui perempuan di hadapanku.

Berhenti berjuang juga butuh perjuangan, kan? Kugarisbawahi bahwa salah bagian tersulit dalam mencintai adalah tanda tanya pada kalimat ini. Dengan penuh penekanan, ini bukanlah tindakan berkhianat terencana bagiku.

Aku dan dia menghabiskan hot chocolate tak lama berselang setelah dia menyelesaikan cerita tentang risetnya untuk keperluan skripsi, kemudian aku mengantarkan dia pulang sampai dekat gang indekosnya dengan mobilku. Tak ada obrolan panjang. Hanya diam yang tampuknya dibubuhi ucapan terima kasih dan selamat istirahat tepat ketika dia menutup pintu.

Aku terpejam.

You think you want to die, but in reality you just want to be saved.

Sekali lagi kalimat itu terngiang dan menciptakan gema panjang di pikiranku sebagai sebuah permulaan. Kuberanikan diri melahirkan niat melepasmu, sekali, untuk yang pertama dan terakhir.

Kupikir aku akan mati. Tapi..

Aku memilih menyelamatkan diri.

Advertisements

4 thoughts on “Save Me

  1. Ini nagih sekali, tau-tau udah selesai baca. Ada lanjutannya nggak? Hehe.
    Suka banget diksinya, deskripsinya juga meskipun banyak yang panjang nggak ngebosenin. Huft, nice!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s