Sedatif

tumblr_o0l0fs6siU1r5dmcno1_500

Lagi-lagi lelaki itu terbangun dengan mata yang kosong. Kentara ia rasakan sesuatu yang masih berpusing di pikirannya. Pupil matanya menyesuaikan asupan cahaya agar pandangannya kembali normal. Rahangnya bergetar dengan napas yang terengah-engah.

Kedua alis lelaki itu terangkat melihat ke arah jam dinding tanpa tahu makna waktu. Kontinuitas waktu sudah tak berlaku baginya. Barangkali, bila jam dinding itu dapat berbicara, berjuta kali pun jarumnya menjelaskan sekarang adalah pukul lima sore kepada lelaki itu hanya menyisakan kata sia-sia.

Sebentar lagi seorang suster baik hati yang mengenakan kacamata dan masker wajah akan mengantarkannya makanan penuh asupan gizi, dan mengelap keringat sebesar biji jagung yang bertengger di dahi lelaki itu. Namun, makanan yang disuapkan kepadanya akan dimuntahkan karena mual yang terlalu. Walaupun tertelan, itu hanya membuat energinya kembali terisi untuk berteriak penuh amarah sampai lelah, ketika kepalanya kembali terasa ingin meledak akibat kolase ingatan masa lalu yang tak kunjung sirna.

Lelaki itu akan kembali bermimpi buruk setelah dokter menyuntikkan sesuatu yang membuatnya terlelap. Sudah genap setahun ia merasakan siklus yang begitu menyiksa. Seandainya lelaki itu masih dapat memperkerjakan logika, ia pasti sudah menyusun kata-kata menjadi kalimat yang setidaknya dapat diucapkan dengan jelas bahwa ia memilih untuk disuntik mati pada hari pertama ia berada di kamar itu, ketimbang kesadarannya dibawa pergi dengan paksa lalu menghadapi pejam yang mencekam.

Lelaki itu melangkah menuju kaca jendela yang memperlihatkan pemandangan langit sore. Perlahan kepalanya menyentuh kaca bening. Di hadapannya ada sebuah beranda kecil yang dibatasi oleh besi yang dirancang setinggi bahu orang dewasa untuk mencegah dirinya mengakhiri hidup dari lantai dua. Kedua matanya memandang belahan langit sore yang indah dipadu oleh gradasi warna-warni antara abu-abu, biru, dan oranye. Arak-arakan awan yang bergerak perlahan di atas kepalanya justru terlihat bergerak cepat seperti time lapse.

“Selamat sore, Haikal. Sudah waktunya makan.”

Suara penuh kelembutan itu berasal dari sang Suster baik hati. Lelaki bernama Haikal itu tetap berdiri mematung. Beberapa saat kemudian nasi, sup, ikan sarden dan segelas susu hangat telah tertata di meja di samping ranjangnya, dan Suster itu sudah di sampingnya.

“Makan, yuk? Kamu pasti lapar..” ajak Suster itu, meski ia tahu ajakannya hanya ditanggapi kekosongan.

Sore itu, seperti hari-hari sebelumnya, Haikal dituntun duduk di ranjangnya oleh Suster itu untuk disuapi makanan, yang hanya berhasil satu-dua sendok, tak pernah lebih. Itu adalah sebuah prestasi yang mungkin patut dibanggakan. Karena Suster-Suster sebelumnya memilih angkat tangan melihat jatah makanan yang mereka bawa berujung berceceran di lantai yang penuh pecahan piring dan gelas. Namun prestasi itu mengharuskan si Suster yang merawat Haikal mengasah ketabahannya demi menunggu momen mulut Haikal terbuka, lalu menyuapinya dengan sangat hati-hati. Sehati-hati ia menahan letupan kesedihan di kelopak matanya yang mulai mendung.

Di balik masker yang digunakan Suster itu, bukan kulit wajah yang terkelupas karena sedang melakukan perawatan atau bekas luka yang malu bila terlihat banyak orang, melainkan wajah yang dibanjiri anak sungai dari kelopak matanya yang meruah setiap kali ia berada di kamar Haikal.

“Se… Selly.. ” Kembali Haikal meracau dengan sengau. Kepalanya mendongak dan mulut menganga.

Air bah pun tumpah di pipi Suster itu. Namanya disebut oleh lelaki yang begitu ia cintai. Ia segera meletakkan piring dan sendok yang dipegangnya di bawah kasur, lalu beranjak ke kamar mandi. Di hadapan cermin yang menampilkan jelas wajahnya yang basah, ia kembali berpengharapan semoga waktu dapat terulang agar ia memperjuangkan haknya memilih pasangan hidup.

Jauh sebelum bisa berada di kamar itu, di suatu sore, Selly membulatkan tekad untuk menemui wanita yang semestinya menjadi ibu mertua. Awalnya wanita paruh baya itu menolak dengan cara halus, namun Selly bersikukuh sampai menanggalkan harga dirinya untuk memohon dan berlutut. Tak lama kemudian, Pratiwi, adik perempuan Haikal, datang dan melontarkan sumpah serapah kepada Selly supaya perempuan itu segera hengkang dari rumahnya.

Sebab, tidak lama setelah Selly menikah dengan seorang lelaki yang dijodohkan oleh orang tuanya, Pratiwi mendapati Haikal duduk termenung di teras rumah. Berkali-kali Pratiwi memanggil Haikal, namun suaranya seolah embusan angin. Barulah Pratiwi menyadari sesuatu yang sangat buruk terjadi saat ia melihat wajah Haikal yang kehilangan jiwa. Pratiwi mengguncang-guncang tubuh kakaknya itu berkali-kali, namun tetap bergeming. Tak lama kemudian Haikal meneriakkan nama Selly layaknya lolongan serigala.

Setelah kejadian itu, berbagai upaya dikerahkan demi mengembalikan kesadaran Haikal, tetapi usaha para dokter dan psikolog yang mencoba menyembuhkannya tak dapat membantu banyak, dan hanya berujung menyarankan Haikal dirawat di rumah sakit jiwa. Terkoyaklah hati sang Ibunda mendapati anak lelaki yang menjadi pengganti almarhum suaminya kehilangan akal. Kabar mengenai keadaan Haikal itu pun sampai ke telinga Selly lewat cara yang tidak mengenakkan. Pratiwi datang ke kantor Selly di suatu siang saat jam istirahat, terjadi keributan di kantin kantornya ketika Pratiwi menghampirinya dan langsung menjambaknya dari belakang. Sumpah serapah tentu diikutsertakan dalam tiap kalimat yang keluar dari mulut Pratiwi. Selly begitu shock hingga tanpa berpikir panjang memutuskan resign esok harinya sebelum telinganya terbakar mendengar berbagai macam gosip rekan kantornya.

Rumah tangga Selly dengan suaminya berantakan sekejap, tepat ketika ia meminta pisah ranjang kepada suaminya yang alih-alih mengajaknya berkompromi agar perceraian tidak terjadi. Sang Ayah pun tak dapat berkata apa-apa lagi saat Selly mengancam akan bunuh diri bila ia tak diizinkan untuk menemui dan merawat Haikal. Itulah harga mahal yang Selly bayar demi penobatannya menebus dosa dan kesalahan atas cinta yang tak lagi bisa diperbaiki. Baginya, hanya menjadi seorang susterlah satu-satunya solusi agar ia tetap memiliki alasan untuk hidup.

Haikal, maaf untuk segalanya.., batin Selly, mengingat masa silam yang telah mereka lalui bersama dengan penuh suka dan duka, serta beberapa mimpi yang telah terwujud. Hubungan selama enam tahun yang seharusnya membawa mereka ke dalam bahtera rumah tangga penuh bahagia, ternyata dijungkirbalikkan oleh takdir yang menjadi perkara elusif.

“Suster, tolong rebahkan tubuh Haikal..” Tiba-tiba saja suara dokter pria paruh baya yang entah kapan sudah masuk ke dalam kamar Haikal, yang tanpa aba-aba memberangus habis ranjau memori yang meluluhlantakkan dada Selly.

“Seben–”

“Cepat, Sus! Tolong bersikap profesional!”

“Baik…”

Selly tak kuasa menahan ledakan emosi yang mengoyak batinnya ketika memegang paksa tangan Haikal untuk diam, lalu mengikatnya di lengan ranjang.

“SELLY! SEEEEELLY!” Haikal histeris memekik seperti hendak memutus pita suaranya sendiri. Disaksikannyalah kembali adegan berlumuran nestapa itu oleh Selly yang berusaha melebarkan tabahnya seluas angkasa.

Selly memeluk Haikal saat dokter sedang menyuntikkan obat penenang supaya Haikal menghentikan kegaduhan dan kembali terlelap. Lelaki yang dicintai dengan penuh telanjur oleh Selly itu pun perlahan terkulai kehilangan daya.

Akal sehat Haikal memang sudah mati, tetapi cintanya tidak. Cintanya terus meruah layaknya mata air yang menjadi olase di tengah gurun. Selly tersadar sesuatu ketika melepas maskernya dan perlahan melihat kesadaran Haikal perlahan menghilang. Ia memeluknya. Seseorang di pelukannya masih menjaga hakikat cinta untuknya meskipun nalarnya sudah tidak berlaku. Kini, cintanya kepada Haikal adalah bingkisan berisi keikhlasan dan sumpah untuk tidak meninggalkannya lagi meski dunia mereka dipisahkan oleh presensi logika.

“Selly, jangan pergi lagi..” ucap Haikal melihat wajah basah Selly dengan binar kosong namun pekat dengan ketakutan yang tak dapat dijelaskan, senyumnya mengembang sebelum sepasang matanya tertutup sempurna.

Barangkali, ketika durasi cerita mereka selesai, cinta mereka menjadi kenangan yang dikenang waktu. Tak ada masa depan yang muluk-muluk untuk diwujudkan. Tak perlu akhir yang indah di penghujung kisah. Yang mereka butuhkan hanyalah privasi untuk berdua di dalam ruangan sederhana yang menjadi perantara semesta mereka yang berbeda.

Selly mengecup kening Haikal. “Aku nggak akan meninggalkan kamu untuk kedua kalinya, Haikal..”

“Aku janji..”

Advertisements

One thought on “Sedatif

  1. Sedihnya:( yang seharusnya mereka berdua hidup bahagia bersama sejak awal. Harus mengalami keadaan seperti itu meskipun akhirnyapun bersama.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s