Buka-Bukaan Seru Di Kemang Bareng Bukalapak

cover.jpg

Gue ngerasa awesome banget untuk kali kedua, karena hari Sabtu (27/02/16) kemarin gue bisa bangun pagi lagi dan hadir ke acara Bukalapak ‘LingkarKemang: Buka-Bukaan Netizen #MampirBukaLapak’, di Plaza City View.

Malam sebelumnya, gue baca undangan acara ‘Lingkar Kemang: Buka-Bukaan Netizen #MampirBukaLapak’. Deretan nama narasumber yang jadi pembicara bikin gue segera masang alarm pukul 8 pagi sambil bergumam, “Gue nyesel nih kalau nggak datang..” Dan akhirnya gumaman itu benar jadi sugesti yang bikin gue bangun jam setengah delapan pagi. Saat bangun dengan ganteng, gue langsung metatap hangat layar hp yang nampilin alarm yang belum nyala. “Cieee yang keduluan..”

Gue awalnya heran, kenapa sih tema acaranya ‘Buka-Bukaan’? Emang apanya yang dibuka? Ternyata ‘Buka-bukaan’ yang dimaksudkan ini tuh perihal sharing dan diskusi informasi bareng para influencer inspiratif dari berbagai platform media sosial yang sekarang sedang masif digunakan kita, yaituuuu Blog, Twitter, Instagram dan Youtube. Zaman sekarang media sosial kan lagi gencar-gencarnya digunakan, mungkin kalau zaman dulu udah ada medsos, Hitler merintahin pasukannya buat baris bisa lewat broadcast massage. Di Indonesia sendiri, yang notabene angka pengguna media sosialnya termasuk paling banyak di dunia, media sosial udah jadi kebutuhan primer yang mencakup segala aspek kehidupan.

Dulu hal pertama yang dilakukan saat bangun pagi itu gosok gigi lalu sarapan. Sekarang bangun pagi, cek timeline Path, Instagram dan Twitter sambil gosok gigi, nggak lupa selfie natural face, baru deh sarapan. Dulu kalau naik ojek kudu nyamperin pangkalan atau ngehubungin Kang Ojek, sekarang tinggal menggunakan aplikasi aja terus duduk diem sambil cek timeline Path, Instagram dan Twitter nunggu dijemput. Dulu pun kalau belanja kudu ke toko, sekarang dengan mudahnya tinggal belanja di Bukalapak, terus nunggu belanjaan tiba di rumah sambil ongkang-ongkang kaki.

Nah, dilihat dari perubahan kebiasaan ini, berarti dampak dari media sosial emang sangat berpengaruh di kehidupan sehari-hari yang akhirnya muncul istilah digital lifestyle. Apa-apa ya serba digital. Gue pribadi pun nggak mengelak merasakan hal tersebut.

Tepat pukul sembilan pagi, gue sampai di kantor Bukalapak dengan elegan. Di sana ternyata gue ketemu teman-teman dari dunia maya, khususnya Twitter. Gue banyak melihat wajah yang familiar berseliweran di timeline Twitter setiap harinya.

1

Kembali ke laptop.. Eh, maksudnya, sharing. Tersebutlah para narasumber, yaitu Ainun Chomsum, Blogger yang mendirikan Akademi Berbagi, Muhadkly Acho, salah satu Tweeple berpengaruh merangkap Stand Up Comedian, Boy ‘Lagi’ Hardi, Instagrammer yang berhasil menggagas Instameet di Indonesia, Cameo Project, Youtuber yang lagi hits banget, daaaan…. Achmad Zaky, sang CEO Bukalapak yang ngakunya lagi sibuk jadi bintang iklan. Mereka berlima yang hadir nge-blend menciptakan diskusi yang menarik dan seru abis ngebahas digital lifestyle.

2

Para narasumber dari kiri ke kanan: Om Zaky, Mbak Ainun, Mas Boy, Bang Acho, Mas Andri dan Mas Martin.

Muhadkly Acho, dengan suara imutnya yang diiringi selipan lawakan yang bikin audience ketawa ngakak, ngebahas topik etika berkicau di Twitter yang bijak. Bang Acho mengatakan bahwa Twitter itu lebih spontan dibanding medsos lain, jadi harus punya etika. “Twitter itu bukan dunia maya, dia dunia nyata cuma medianya aja elektronik,” ucapnya. Gue sepakat. Kita, para pengguna, semestinya memiliki kesadaran etika yang sama seperti dunia nyata. Harus sopan dan santun menghargai orang lain dalam ‘berkicau’ supaya nggak seenaknya, meskipun kicauan kita diperantarai sebuah akun, sekalipun anonim.

Contoh kasus tentang etika yang masih anget banget itu berita tentang Deddy Corbuzier yang menangkap haters-nya yang melakukan hate speech. Jadi, soal etika-etikaan ini emang kudu kita perhatikan supaya nggak jadi masalah, melihat apa pun yang kita ‘update’ bisa dilihat, dibaca dan dikonsumsi publik. Sudut pandang lain tentang media sosial juga, menurut Acho, membuat kita punya banyak teman baru dari dunia maya. Social networking itu mendekatkan yang jauh dan mengakrabkan yang dekat.

Selanjutnya, Mas Boy ‘Lagi’ Hardy, bercerita tentang kisah suksesnya berkat Instagram yang awalnya berangkat dari iseng-iseng foto lalu jadi hobi. Doi curhat dengan bangganya karena Instagram, doi bisa melanglang buana ke luar negri seperti Qatar dan Thailand (alig euy!). Mas Boy memutuskan untuk jadi Instagrammer karena filter Instagram itu lucu-lucu dan beda dari medsos lain. “Foto-foto di Instagram lebih unik dan artsy. Sekarang, cukup kaki, tangan, apa pun jadiii.,” ujar Mas Boy dengan semringah.

Oh iya, saking jatuh cintanya sama Instagram nih ya, Mas Boy sampai jadi inisiator acara InstaMeet Indonesia yang diselenggarakan di Monas, Jakarta, buat ikut berpartisipasi menyemarakkan World Wide InstaMeet. Kerennya, di luar ekspektasi Mas Boy, ternyata peserta InstaMeet yang kopdar berjumlah sampai 900 orang dan membuat Indonesia sukses jadi peserta terbanyak di dunia! GEBLEK BOR! Karena acara InstaMeet itu, doi sampai disamperin Digital PR Asia Instagram. Beeeuh! Dan lucunya, CEO kantor Mas Boy rela beli aipon 6 buat download Instagram cuma buat follow dan kepoin doi. Pernah pula Mas Boy di-gap-in bosnya pas diajak foto bareng sama anak ABG. HAHAHA!

Kemudian gue duduk anteng menyimak mbak Ainun Chomsum yang sharing seputar nge-blog yang dia mulai tahun 2008. Tahun segitu internet masih langka, guys. Nggak heran doi jadi Blogger senior. Awalnya, mbak Ainun nge-blog buat curhat tentang bosnya, yang pada tahun 2000 minta dia supaya belajar digital platform. Berkat blog, mbak Ainun membuktikan bahwa dirinya bisa menulis hingga bisa nerbitin buku! (aku bocahmu, Mbak. Wahaha~).

Lewat blog juga, mbak Ainun jadi kenal banyak orang bahkan ketemu teman sekampungnya sampai akhirnya menjadi Community Manager CNN dan mendirikan Akademi Berbagi. Di blognya, mbak Ainun sempat menulis tentang edukasi, politik dan parenting. “Menulis itu seperti terapi. Menulis adalah cara saya untuk meng-influence orang. Kalau mau jago nge-blog, ya menulislah dan jadi dirimu sendiri. Tulislah apa yang kalian amati, lihat dan rasakan. Menulislah karena itu mendokumentasikan pikiranmu, karena ingatan manusia terbatas,” ucap mbak Ainun. *merinding cakep*

Setelah itu, giliran Mas Andri dan Mas Martin dari Cameo Project yang sharing sejarahnya. Cameo Project ternyata berawal dari sebuah PH kecil dengan proyek pertama berupa wedding video demi bisa mendanai short movie. Lewat Youtube, Cameo Project mengunggah proyek dan profil mereka. Lewat Youtube pula Cameo Project dikenal luas  video parodi Jokowi-Ahok saat pemilu 2012 buatan mereka viral, lalu Cameo Project fokus dengan tema Indonesian Related Content.

Menurut Mas Andri dan Mas Martin, video yang menarik adalah video yang mengangkat sebuah isu yang berat jadi ringan untuk dicerna dan dipahami. Tantangannya terletak bagaimana caranya membuat video itu menghibur dan betah ditonton serta memberikan value. Mereka pun menambahkan, kesempatan kita buat jadi Youtuber di Indonesia itu gede banget dan akan terus berkembang. Iya banget! Kalau merhatiin nih ya, sekarang lagi tren banget para Youtuber bikin Vlog. Gue pribadi optimis beberapa tahun ke depan Youtuber Indonesia bakal go internezyenel.

Kemudian tiba giliran sang CEO, Achmad Zaky yang pada 12 Januari 2010 mendirikan Bukalapak, memegang mic untuk sharing. Om Zaky –fyi, gue beneran manggil Om– cerita sambil cengar-cengir tentang ketertarikannya sama dunia digital yang akan terus berkembang. Misinya mendirikan Bukalapak ternyata sangat mulia, wahai pemirsa. Om Zaky pengin banget para pengusaha kecil berkembang, makanya doi mendirikan ruang untuk mereka berjualan lewat Bukalapak. Iya sih, kalau dipikir-pikir, buka toko fisik sekarang itu butuh biaya yang nggak sedikit, ditambah nyari dan dapetin lokasi strategis yang makin bikin biayanya selangit.

Om Zaky berharap para pelaku Usaha Kecil Menengah (UKM) semakin kreatif dan dapat berjualan online dengan hampir zero cost. Katanya, UKM di Indonesia itu totalnya 60 juta, tapi baru 1% yang berjualan online. Sampai sekarang udah lebih dari 500 ribu orang pernah berjualan di Bukalapak, dan yang laku sekitar 100 ribuan. Om Zaky terus mengupayakan 400 ribu Pelapak yang belum begitu laku supaya laku yang berarti memajukan ekonomi bangsa, mulia sekali ya sodara-sodari. Makanya, mulai sekarang ayo kita bantu pedagang kita berkembang dengan belanja di Bukalapak sekaligus support produk lokal. Lagipula kualitasnya juga nggak kalah oke dari produk luar.

Satu hal pembeda yang gue suka dari Bukalapak. Situs jual-beli online ini tuh beda dari yang lain. Selain nggak ngerasa sungkan terjun langsung jadi bintang iklan tanpa perlu nge-casting Raisa –padahal pengin (maaf ya Om Zaky gue bocorin, huekeke), Om Zaky juga blusukan ngerangkul para Pelapak supaya maju bersama, bahkan sampai ada divisi bagian komunitas untuk menyatukan para Pelapak yang atas inisiatifnya sendiri bergabung dalam komunitas dari masing-masing kota yang diawali dengan kopi darat. Menghadirkan sense of belonging. Para Pelapaknya saling membantu dan kadang tukeran stok barang. Kompak banget buat ningkatin penjualan. Jadi selain mencari laba, mereka memupuk tali silaturahmi pula. Gue jadi kepikiran buat ngusulin Om Zaky jadi menteri ekonomi kreatif buat kabinet presiden selanjutnya.

Ini yang gue appreciate banget hingga gue menulis Memahami Arti Komunitas Dari Kopdar Bukalapak Bogor. Gue inget banget cara Om Zaky bilang saat menutup acara kopdar komunitas Bukalapak Bogor, dia berkata dengan nada hangat, “Ayo kita saling merangkul, ayo kita maju bareng-bareng..”

3.jpg

Foto kedua gue bareng om Zaky, dirangkul. (Semoga suksesnya nular ya, Om~)

Well, setelah para narasumber dari semua platform media sosial saling bertukar cerita, tiba waktunya ngebahas tentang komunitas. Saat kopdar, kata Mbak Ainun, jangan ngincer goodie bag doang, tapi ambil dan serap ilmu yang dibagikan dan interaksilah dengan banyak orang untuk menciptakan peluang. Bang Acho bilang, kita harus kompak menjaga nama baik komunitas, setuju. Cameo Project pun menambahkan bahwa kita harus berkolaborasi supaya semakin kuat dan erat. Jangan menganggap teman itu saingan, tapi rangkul menjadi kawan untuk menciptakan sinergi yang baik sebagai kunci menghasilkan karya yang bagus. Dan Om Zaky mengatakan, kita harus punya aturan yang jelas dan spirit yang sama dalam komunitas agar komunitas selalu teratur, berkembang dan konsisten.

Seru abis, kan? Nih gue tunjukkin foto-fotonya, soalnya abis ‘Buka-Bukaan’ dan makan siang, gue dan para pengunjung dikasih kesempatan keliling kantor Bukalapak yang ternyata kece parah buat foto-foto uhuy~

 

4

Pada hari itu, semua orang pada multi-tasking. Dengerin para narasumber sambil live tweet!

5.jpg

Setelah perut kenyang, waktunya ngobrol, siapa tau bisa kolaborasi~

6.jpg

Kira-kira itu wajah siapa ya yang digambar? 

7

Mari melantunkan aamiin yang kencang bersama untuk Hamba Allah.

8.jpg

 

9.jpg

Sendirian aja, Neng~

10

Nggak ada kubikel, adanya sarang. (lah?)

11.jpg

Mumet sama deadline, tinggal bilang, “Bang, nambah sejam..”

12.jpg

Kalimat motivasi yang bikin orang yang ngebaca ngangguk penuh semangat.

“Apa pun platform media sosial yang dipakai, sharing is caring, dan jadilah orang yang menginspirasi,” kata Mas Boy. *standing applause*

Siap, terima kasih untuk ‘Buka-bukaan’ penuh ilmu di Sabtu pagi yang menyenangkan. Maju terus untuk Bukalapak.com dan para Pelapak!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s