Lima Larik Hujan

Malam itu hujan turun, aku duduk di meja paling pojok sebuah kafe sepi pengunjung di dekat jendela sembari menyesap kopi yang diam-diam kutetesi air mataku sendiri. Lampu remang yang menerangi menyadarkanku bahwa cahaya hidupku semakin redup semenjak kau pergi.

Hujan semakin deras, tubuhku perlahan menggigil akibat dingin yang menduga sekuat apa aku tanpa kau. Kecipak air dari pengendara malam membenamkan genangan yang lebih lengang dari lengan penantian. Sebab kau tak pernah luput kunanti meski kenangan seringkali membuat pandanganku kabur dalam membedakan ada dan tiada.

Deras hujan semakin menghantam, gemuruh petir yang memantak mengingatkanku tentang diammu yang lantang dan lebih menyayat dari belati berkarat. Senyumku retak melihat cangkir kopiku menampilkan pemandangan kakimu menjauh, lalu perlahan hilang. Sebab kumahfumi, memahami ialah pelajaran yang tak mengenal evaluasi, dan aku gagal dengan cemerlang.

Hujan perlahan reda, aku mulai tergugah untuk menerka, mencari hadirmu di sela-sela asap rokok yang kuembuskan dengan gerak bibir berdansa. Di meja kasir, seorang barista memerhatikanku dengan tatapan curiga, segera kusiapkan uang tip seadanya sebelum diusir.

Hujan telah reda sepenuhnya, namun jiwaku justru merasa ditodong senjata yang kasat mata. Aku memejam sambil menghitung debar jantung yang linglung. Tak ada gema letupan yang memekik telinga, tapi jelas kurasa peluru rindu melesat dari selongsong dada, merambat dan mengenai batinku tepat.

Aku mati di tempat.

Depok, 9 November 2015

Advertisements

8 thoughts on “Lima Larik Hujan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s