Rindu yang Membawa Kita Pulang

Screen Shot 2015-11-07 at 23.21.00

“Sudah lama sekali ya rasanya..”

Pria itu tersenyum memandangi sepasang bocah yang kompak sedang membangun istana pasir yang tak jauh di hadapannya. Tak ada yang tahu, mungkin, kecuali wanita yang duduk di sebelahnya. Pria itu berusaha menahan sesuatu yang hendak mencuat dari batinnya. Sesuatu yang ia tahan sekuat harga dirinya sebagai seorang pria.

Sebaliknya si wanita, dengan tatapan lurus pada objek yang sama, tersenyum tenang sambil menepuk pelan punggung tangan pria itu. “Ya, sudah lama sekali, Fathan. Semuanya sudah jauh berbeda..”

Mereka berdua kembali terdiam, menikmati sepoi angin petang sambil duduk di atas tikar yang terbentang. Terlihat di sekitar mereka orang-orang berekspresi ceria sedang berkumpul di atas tikar pula, muda-mudi yang saling bersandar, dan beberapa pedagang yang nampak semringah melayani para pembeli lewat sepeda ontel berisi minuman ringan yang menjadi sumber kehidupannya.

“Maria, doa kamu hari ini apa kalau aku boleh tahu?” tanya pria itu sembari menatap lekat-lekat sepasang mata hazel yang kini membalas tatapnya.

“Masih sama,” ucap si wanita pelan. “Kalau.. kamu?”

Sebelum menjawab, pria itu terpejam, mengembuskan napas panjang, lalu menggenggam tangan si wanita. “Aku pun,” ujarnya singkat dengan senyum, seolah mengetahui si perempuan pasti tahu maksudnya.

Tak ada lagi yang terucap setelah itu. Namun, dalam hati, ada gema yang angkat bicara, katakanlah mengungkit, menyoal takdir yang di ujung kisah menyisakan kata seandainya. Perbedaan yang kata banyak orang seharusnya untuk dipersatukan, menjadi ironi pada kenyataannya. Takdir terlalu tebal untuk mereka terobos, dengan risiko mengkhianati Tuhan mereka. Dan takdir pulalah yang merakit mereka berdua menjadi sosok lain dalam tahun-tahun terberat dan terasa lebih panjang demi menghadapi hidup yang tak mereka inginkan.

Mereka menarik sebuah pemahaman sebelum dipaksa rela berdamai dengan kenyataan dan membangun epitaf di permukaan hati, bahwa cinta, sekali pun dikubur di dasar bumi, takkan mati semudah meniup lilin. Sebab rindu selalu menjadi pedoman mereka pulang, meskipun pertemuan mustahil adanya. Mereka sama-sama menerima, pertemuan mereka selalu terjadi dalam doa lirih padat permohonan yang diiringi air mata dan diakhiri kata amin yang seirama.

Mereka berdua masih ingat betul hari-hari silam yang dijalani penuh toleransi tanpa mempermasalahkan Tuhan mereka memiliki nama berbeda. Pria itu masih menggunakan sajadah yang terbuat separuh sutra dari hadiah si wanita untuk menghadap Sang Pecinpta. Di tepi leher mulus si wanita pun masih indah terkalung rosario, yang talinya terangkai butiran mutiara dan bagian salibnya terbuat dari perak mengilap, pemberian pria itu, yang selalu ia genggam sepenuh hati kala memanjatkan doa. Hanya saja, orang yang melahirkan menghadirkan mereka ke dunia, dengan keras dan tegas tak memberikan restu untuk bersatu walaupun segala daya dan upaya pengertian telah diutarakan.

Barangkali, dalam hening mereka kini, cinta adalah keikhlasan yang tak bisa digugat oleh waktu, sekali pun tik-tok samar jarum jam di lengan kiri mereka dengan pelan dan tegang menerjemahkan pemilik hati mereka berdua adalah pihak yang membuat cinta mereka dituntaskan secara seremonial.

“Maa..”

“Paaapaaa..”

Mereka berdua beranjak dari posisi duduk, melihat anak mereka masing-masing yang datang menghampiri dengan setengah berlari.

Pria itu memasang senyum senang menyambut anak lelakinya, lalu mengusap rambut anaknya penuh kasih sayang. Sedangkan si perempuan dengan cepat mengusir keikhlasan yang meleleh di ekor matanya, lalu berjongkok untuk menyamakan tinggi dengan anak perempuannya yang memamerkan senyum bahagia.

“Gabriella, senang main sama Fabian?” tanya si wanita sembari mengusap tangan anak perempuannya yang sedikit kotor dengan sisa-sisa pasir, lalu melihat ke arah si pria dengan tatapan penuh makna dari lubuk hatinya.

Anak si wanita mengangguk mengiyakan, pun anak pria yang anggukannya lebih kencang.

“Senang doong, masa sih nggak senang? Iya, kan, Fabian?” Pria itu menuntun anak lelakinya agar semakin dekat dengan kedua perempuan di sampingnya.

“Fabian, kata Mamaku, nanti kita sekolahnya bareng lho!” seru si anak perempuan dengan senyum girang.

“Iyaaa.. Kata Papaku nanti aku jagain kamuuu. Kamu jangan nakal yaaa biar aku nggak susah jagainnya..” Dengan gemas si anak lelaki mengucapkan kalimatnya diiringi cekikan, seolah tak sabar menanti hari pertama mereka bersekolah.

Pria dan perempuan itu saling memandang dengan senyum bahagia yang terbalut kesepakatan. “Biarkan mereka memulai ceritanya sejak detik ini,” kata si pria sambil menatap dan mengusap bahu si wanita dengan sisa-sisa cahaya keikhlasan cintanya.

Si wanita mengangguk setuju seraya mengusap kebahagiaannya yang luruh di pipinya.

“Kuharap semoga mereka berdua bersatu..”

***

‘Rindu yang Membawamu Pulang’. Itulah buku yang menginspirasi gue menulis cerpen di atas, dan membuat hati gue tergerak mengikuti ajakan #BlogTour dari salah satu relasi penerbit. Dari judulnya, ternyata bisa gue sulap menjadi ide cerita yang cukup ‘gatal’ untuk di-break down. Melihat ke-relate-an dengan banyak orang yang mungkin pernah mengalami pengalaman serupa.

Memang, bagi gue, rindu selalu menuntun kita pulang kepada orang yang kita sayang. Setelah membaca novel terbitan Gagasmedia ini pula, gue merasa disentil dengan yang namanya perbedaan dengan kemasan cerita yang cukup membuat mood gue campur aduk saat lembar terakhir ditutup.

Boleh lah ya, gue membahas sedikit tentang buku ini~

Screen Shot 2015-11-05 at 23.21.00

Benarkah kita tak bisa memberi kesempatan
pada sesuatu yang takkan pernah sama?
Aku tak paham banyak tentang cinta,
tetapi bukankah kita hanya perlu merasakannya?

Ketika membaca kalimat di atas yang menjadi salah satu bait dalam blurb novel ini, hal pertama yang menghampiri benak gue adalah, pertanyaan, “Apakah kita bisa bersatu dalam perbedaan?”

Gue diam sejenak, merenungi jawaban dari pertanyaan tersebut. Ada pro dan kontra, tentunya. Ario Sasongko, penulis novel ini, dengan lihai dan gamblang mengkisahkan cerita perbedaan sepasang manusia yang saling mencintai, Gun dan Ling, dengan latar masa lalu, saat Indonesia masih berada di bawah penjajahan Belanda.

Gun adalah seorang Bumiputra tampan berdarah Jawa, sedangkan Ling, gadis Tionghoa cantik. Mereka tinggal di Batavia dan memiliki idealisme berbeda dalam menanggapi perbedaaanya, namun visi mereka sama, yaitu ‘menyatukan perbedaan’, termasuk cinta di dalam hati mereka.

Rasanya Arie berhak mendapat nilai plus dari gue. Selain karena dia melunaskan kerinduan gue akan cerita dengan konflik perbedaan keyakinan dan etnis, pula dengan latar cerita bernuansa klasik, yang jarang gue temukan di novel populer zaman sekarang, dia juga berani terang-terangan menyampaikan sudut pandangannya mengenai mind set dan kesenjangan sosial –yang berlandaskan kepentingan– antara kaum Bumiputra dan Tionghoa pada masa tersebut lewat Gun dan Ling, sampai akhirnya terlahir Sumpah Pemuda.

Arie menjabarkan dan membahasnya secara tajam dan kritis, yang mungkin nggak akan pernah berani gue lakukan. Rasanya seperti membaca sejarah yang menjadi luka yang ditutup-tutupi, namun pedih dari luka itu masih menjadi stigma yang cukup terasa hingga detik ini. Hebat kau, Ri!

Ciri khas bahasa dan diksi yang ditulis oleh Arie pun seperti karya sastra lama. Agak baku, namun sama sekali nggak membuat gue mengernyitkan kening, justru gue sangat menikmatinya. Pendeskripsian dengan cara showing-nya cukup baik dan dialognya memiliki ‘taste’ kuat untuk membuka pola pikir kita menanggapi perbedaan, serta membuat gue menyentuh dunia tahun 1920-an dengan mudah. Itulah kenapa gue dengan senang hati merekomendasikan novel ‘Rindu yang Membawamu Pulang’ untuk diadopsi. Saran gue, bacalah novel ini sambil menikmati secangkir kopi dan menatap langit malam.

Barangkali, cukuplah sedikit pembahasan dari gue untuk novel ‘Rindu yang Membawamu Pulang’. Gue pengin memberikan give away berupa 2 eksempelar novel ini. Caranya gampang, cukup jawab pertanyaan di bawah ini di kolom komentar:

“Apa yang akan kamu lakukan jika jatuh cinta dengan seseorang yang berbeda nama Tuhan?”

Tulis jawaban sekreatif mungkin sebagaimana sudut pandang kamu menyatukan perbedaan, jangan lupa sertakan username Twitter, ya. Gue tunggu sampai hari malam Rabu depan. Semoga beruntung!

Sejauh apa pun jarak di antara kita, rindu selalu tahu cara menuntun pulang.

Advertisements

34 thoughts on “Rindu yang Membawa Kita Pulang

  1. Bersyukur dan terus melangkah karena tak ada yang salah dengan jatuh cinta. Kita tak bisa mengendalikam dan memilih pada jatuh cinta.Jatuh cinta itu anugrah dan biar Tuhan yang memeluk kisah kita walau kita menyebutnya dengan nama yang berbeda.Soal kedepannya bagaimanya itu rahasiaNya kita hanya menjalani kepingan – kepingan kisah yang sudah diatur olehNya maka jangan pernah menyesal jika kita saling jatuh cinta walau kita menyebut Tuhan dengan nama yang berbeda syukurilah dan ikuti alurNya cinta itu anugrah. @henz_paristavia

  2. Saya pun pernah merasakannya, jatuh cinta pada seseorang yang berbeda nama Tuhan. Cinta adalah perkara yang tidak mampu kita duga, kapan dan kepada siapa ia akan jatuh. Lalu perkara perbedaan, semua hanya tentang keyakinan kita, apakah kita masing-masing mampu saling meyakinkan untuk menyatu, atau seperti pilihan saya dengan seseorang tersebut, yang akhirnya mengikhlaskan cinta pada waktu, bukan karena kita tidak sama berkeyakinan untuk berjuang, sebab kita yakin, cinta yang baik, tidak harus menuntut segala hal yang memang tak mungkin dipaksakan. – @rikaHNH

  3. Tuhan, artinya tergantung keperacayaan dan keyakinan masing2. Karena kita hidup di negara yg memiliki dasar negara pancasila. Jelas tertera pada sila pertama “ketuhanan yang maha esa” kamu tau? Tuhan bukan hanya milikku.. berbagai agama tumpah di negri ini. Toleransi tentu saja sikap yg paling benar. Lantas apa yg aku takutkan dengan perbedaan arti nama Tuhan?
    Aku jatuh cinta, tapi Tuhan kita tak sama. Tak perlu khawatir, lagipula kita telah terbiasa hidup dalam toleransi.

    twitter: @Madey_rcc

  4. Jujur dulu waktu kelas 3 SMP saya jatuh cinta dengan dia yang memiliki keyakinan yang berbeda dengan saya. Dia yang keturunan cina. Sedangkan saya gadis asli pribumi. Tidak banyak hal yang saya lakukan ketika jatuh cinta dengan dia yang beda keyakinan. karena kita sebenernya tetap sama. Hanya saja nama tuhan kita yang berbeda. Kami saling bertoleran bahkan tak jarang perbedaan itu hampir tak terlihat diantara kita berdua. Kita saling menyayangi. Karena apa yang salah diantara dua orang yang saling mencintai namun berbeda keyakinan?

  5. Ah, pertanyaannya! Seandainya gue jatuh cinta dengan orang yang beda nama Tuhan, yang akan gue lakukan tetap menjaga perbedaan itu. Bukan, bukan gue gak memperjuangkan. Tapi, apalah daya sebagai seorang hamba. Gak ada insan manapun yang mau dikhianati. Begitu pun, Tuhan. @ariestihe

  6. Ada pertanyaan “Disaat Tuhan menciptakan pertemuan, kenapa agama yang memisahkan? Jawabannya adalah Tuhan ingin melihat apakah kamu lebih mencintai ciptaanNya atau Sang Pencipta.
    Jadi kalau pun saya jatuh cinta dengan seseorang yang berbeda agama, sebisa mungkin menjauh sebelum terlalu jauh. Realistis itu perlu.
    Karena apa pun ceritanya berbeda agama itu tidak bisa bersatu kecuali salah satu pihak ada yang rela mengalah.

  7. Ada pertanyaan “Disaat Tuhan menciptakan pertemuan, kenapa agama yang memisahkan? Jawabannya adalah Tuhan ingin melihat apakah kamu lebih mencintai ciptaanNya atau Sang Pencipta.
    Jadi kalau pun saya jatuh cinta dengan seseorang yang berbeda agama, sebisa mungkin menjauh sebelum terlalu jauh. Realistis itu perlu.
    Karena apa pun ceritanya berbeda agama itu tidak bisa bersatu kecuali salah satu pihak ada yang rela mengalah. @TiaraRzkt

  8. Jatuh cinta? Salahkah?
    Tidak, ia tidak salah. Yang salah, kita yang terlalu berharap. Berharap cinta kita berbalas, namun nyatanya malah air mata yang berlarian dengan deras. Jatuh cinta itu wajar, sebagaimana cinta itu adalah fitrah manusia. Jika kau jatuh cinta, kuucapkan selamat, itu tandanya kau manusia normal.
    Namun, bagaimana jika kita jatuh cinta dengan seseorang yang berbeda nama Tuhan? Salahkah?
    Itu tergantung, apakah kita ingin mematuhi hukum dalam agama itu atau tidak. Dalam Islam, seorang lelaki boleh menikahi seorang wanita yang berbeda agama, namun seorang wanita tidak boleh menikahi seorang lelaki yang berbeda agama dengannya.
    Jika kita mematuhi aturan ini, sudah jelas, kita akan bahagia nantinya, walau bukan dengan seseorang yang sekarang kita damba.
    Namun, jika kita tetap memaksa, semua akan sirna. Sebab, kita telah melanggar aturan-Nya, dan yang kita dapat hanya Adzab belaka.
    Akan tetapi, jika kita masih bersikeras melanjutkan hubungan, itu tak apa. Terserah yang menjalankan. Sebab, kitalah pemeran utama dalam hidup. Pahit-manisnya hidup bergantung pada apa yang kita perbuat. Jika kita merasa baik dengan melanjutkan hubungan ini, maka lanjutkanlah. Namun, jika kita ragu, maka tinggalkanlah, sebelum semuanya menjadi tangis yang menyerah.
    Jalani saja apa yang terjadi dalam hidup, walau kita diterjang cahaya redup. Semua telah dilukiskan oleh-Nya, yang kita damba dengan sepenuh jiwa. Lanjutkan bila perlu, tinggalkan bila ragu. Putuskan sebelum terlambat, jangan sampai ada luka yang tertambat ~ @Abdullah_AMONG

  9. Berpisah; yang ngejalanin hubungan emang kita tapi ada banyak orang yg harus kita libatin, orang tua salah satunya. Menikah kan salah satu tujuannya biar dapet berkah dari orang tua tapi gimana mau berkah kalo orang tua masih setengah hati? Kalo pindah agama tujuannya cuma buat nikah, mendingan pikir2 lagi deh. Nikah yg kayak gitu senengnya cuma di awal aja, setelah itu lo harus dituntut untuk bisa berdoa dengan cara yang baru dengan rutinitas yg berbeda. Untuk diri lo sendiri aja lo masih harus banyak belajar, gimana nanti lo mau ngajarin anak2 lo kelak? Mau bergantung sama pasangan? Iya kalo sehidup semati, kalo abis nikah dia mati? Jatuh cinta emang nggak bisa ditebak sama siapa, dengan yg nama tuhannya apa, tapi masih bisa kita kendaliin. Pernikahan beda agama cuma untuk orang2 yg udah terlalu nyaman dan nggak mau nyari lagi karna takut nggak dapet yg kayak ‘dia’.

  10. Jatuh cinta pd seseorang yg berbeda nama Tuhan ?
    Dilema pasti. Tp menurut gue jatuh cinta ngga pernah salah sih. Lagipula takdir untuk jatuh cinta kan udah di atur sama Tuhan. Jadi ngga ada kata salah.
    Menurut gue sebagai seseorang yang udah dewasa harusnya menyikapi hal itu dengan santai, jalanin aja kaya air mengalir. Toh setiap Tuhan tersebut pasti mengajarkan untuk selalu saling mengasihi terhadap sesama. Urusan dosa biarlah menjadi urusan pribadi masing2. Yang jelas jalani, nikmati, untuk ujungnya serahkan pada Tuhan. Keajaiban akan selalu ada. Jodoh selalu punya jalan cerita yang tak terduga 🙂
    @diandfz

  11. Cinta memang bukan sesuatu hal yang bisa dihindari atau ditolak datangnya. Tapi saya termasuk orang yang meyakini bahwa Tuhan lebih tahu apa yang saya butuhkan dibanding apa yang saya inginkan. Bukannya saya tidak mau berjuang ketika dihadapkan dalam situasi macam itu, hanya saja jodoh tak kan salah labuhannya. Apa yang Tuhan gariskan, entah itu ‘cinta yang dapat memiliki’ atau ‘cinta yang harus merelakan’ saya hanya akan melaluinya dan mencoba menerima dengan sepenuh hati ‘manusia biasa’ yang saya punyai. @tewtri

  12. saya tidak pernah jatuh cinta kepada seseorang yang berbeda nama Tuhan. kalaupun suatu saat saya dihadapkan pada kenyataan seperti itu, mungkin saya hanya bisa pasrah. toh jatuh cinta hal yang tak bisa dihindari, jadi selagi hati masih bisa jatuh, kenapa tidak dinikmati saja. saya senang merasakan sensasi kala jatuh cinta; debar jantung, mata yang selalu ingin menatap, bibir yang rajin merapal rindu.
    jatuh cinta pada manusia bukan perasaan yang abadi, saya percaya ia punya masanya sendiri. kalau tidak, mana mungkin ada ikatan janji semacam pernikahan untuk mengikat dua manusia yang tengah jatuh cinta itu.
    jadi ketika saya jatuh cinta pada seseorang yang berbeda nama Tuhan, saya akan menikmati, menunggu hingga masanya habis.
    saya punya Tuhan sendiri, dan harus menghargai Tuhan orang lain, tanpa berpaling dari-Nya. tak seperti jatuh cinta pada manusia, cinta kepada Tuhan tak ada ujungnya. saya tidak bisa merebut seseorang dari Tuhannya, karena saya tahu saat kita telah jatuh cinta, kita akan membiarkan diri jatuh asal bahagia. dan kepada Tuhan, cinta tak ada habis-habisnya.

    @fbriantipratiwi

  13. Jatuh cinta tidak bisa ditebak arah dan datangnya, ketika cinta itu datang kita hanya bisa menerima namun ketika cinta bertolak belakang dengan perbedaan nama Tuhan aku akan memilih menjauh bukan tidak ingin memperjuangkan tapi memilih cinta Tuhan akan lebih mendatangkan kebahagian. Karena rencana Tuhan akan lebih indah daripada memaksa kehendak untuk bersatu yang akan melahirkan ketidaknyamanan. @septy_r

  14. Jatuh cinta tidak ada yang tahu datang dan arah hati ke siapa, cinta berhak untuk siapa saja tetapi ketika cinta berhadapan dengan perbedaan nama Tuhan aku memilih menjauh bukan tidak ingin memperjuangkan tetapi memilih cinta Tuhan akan memberikan kebahagian karena rencana Tuhan lebih baik daripada rencana manusia, daripada memaksakan yang akan melahirkan ketidaknyamanan saat dijalankan.

  15. Cinta tak beralasan = cinta yang sesungguhnya.
    Perbedaan keyakinan ibarat benteng tinggi yang memisahkan apa pun. Yang bia dilakukan, kita coba menyatukan persamaan ‘saling cinta’. Tetapi repot, jika urusannya sudah ingin sampai ke pelaminan. Plus sama2 memegang teguh keyakinan masing2. Jalannya, ya pelan-pelan melupakan dan kembali kepada prinsip keyakinan yang dipegang. Meskipun saya tahu, bicara soal cinta itu persoalan mudah tapi, mengimplementasikannya (melupakan seseorang) yang sulit. Memohon petunjuk Allah SWT dan meminta diistiqomahkan di jalan-Nya.
    @yulianilachy

  16. Perbedaan keyakinan ibarat benteng tinggi yang memisah apa pun. Yang bisa dilakukan, kita coba menyatukan persamaan ‘saling cinta’. Tetapi repot, jika urusannya sudah ingin sampai ke pelaminan. Plus sama2 memegang teguh keyakinan masing2. Jalannya, ya pelan-pelan melupakan dan kembali kepada prinsip keyakinan yang dipegang. Meskipun saya tahu, bicara soal cinta itu persoalan mudah tapi, mengimplementasikannya (melupakan seseorang) yang sulit. Memohon petunjuk Allah SWT dan meminta diistiqomahkan di jalan-Nya.
    @yulianilachy

  17. Jika terjebak dalam cinta beda keyakinan? Bersiaplah menjaga hati sedini mungkin, terlalu berat untuk diperjuangkan, jadi biarlah cinta itu jatuh berserak seperti daun gersang yang berguguran dimusim gugur sebelum semuanya terpasung dalam kata telanjur. Cukuplah menitipkan cinta itu kepada Maha Cinta dalam setiap larik doa yang panjang dalam sujud, agar ia bisa bermuara ditempat yang baik dan tepat. Love needs heart, love needs logic. @keyhikaru

  18. Cinta kepada seseorang yang berbeda nama Tuhan memang menimbulkan dilema yang berkepanjangan. Saya bersyukur, saya belum pernah jatuh cinta kepada seseorang yang berbeda nama Tuhan dengan saya. Namun, jika itu terjadi hanya satu yang akan saya lakukan untuk menyatukan cinta kami, yaitu menyatukan nama Tuhan. Egois memang, tapi di negeri yang berketuhanan ini jika ingin menyatukan cinta dalam balut pernikahan haruslah memiliki nama Tuhan yang sama. Tidak dengan cara memaksa, tapi membiarkan satu sama lain belajar mencintai kita dan Tuhan kita. Karena cara Tuhan menganugrahkan cinta pada makhluknya bukanlah tanpa alasan, karena skenario Tuhan adalah yang terindah, karena cinta menyakup sebuah proses belajar memahami dan menerima, maka saya percaya cinta akan menemukan jalannya atas kehendak Tuhan.
    @RezkaHardini

  19. Kalau kita membahas perbedaan, pasti akan banyak sekali persepsi berbeda. Saya pernah mendengar slogan “Berbeda itu Indah”. Tapi, kita kembali ke pertanyaan di atas, ini tentang cinta. Cinta itu dapat menyatukan dua orang yang berbeda suku, bahasa, warna kulit, pendapat, selera bahkan juga agama.
    Beberapa perbedaan di atas pasti pernah terjadi. Tapi bila sudah menyangkut masalah agama, maka persoalan cinta akan rumit jadinya. Maka, satu-satunya jalan yang harus dipilih adalah mengakhiri perasaan yang dimiliki kepada seseorang tersebut. Pelan-pelan melupakan dan memegang teguh keyakinan masing-masing. Karena tidak ada toleransi untuk cinta bila sudah menyangkut perbedaan keyakinan.
    Bersyukur karena dapat merasakan cinta tersebut, karena cinta adalah anugerah dari Allah SWT. @VidyChanZu

  20. hubungan itu bukan tentang mengejar akhir ceritanya, tapi tentang bagaimana menjalani dan menghargai prosesnya. ini bukan tentang keyakinan buat terus memperjuangkan hubungan atau tidak, meski jodoh udah ditentuin oleh tuhan, kalo manusianya sendiri gak yakin sama pilihannya. hubungan itu gak akan bertahan lama
    @ade_khondel

  21. Aku pernah menjalani hubungan dengan seseorang yang berbeda nama Tuhan.

    Untuk seorang yang pernah mondok, rasanya tak mungkin dan tak akn pernah, aku akan mau menjalani hubungan dengan seseorang yang berbeda nama Tuhan pastinya!

    Tapi aku bisa apa, ketika rasa cinta itu hadir, tanpa bisa aku tolak, tanpa memikirkan bahwa kami memiliki perbedaan ketika menyebutkan nama Tuhan kami.

    Perbedaan diantara kami lah yang sebenarnya semakin mendekatkan kami, minim nya konflik karna saling menghargai perbedaan.

    Bukan kami tak memperjuangkan hubungan kami ke jenjang yang lebih serius, tapi karna perbedaan nama Tuhan kami, dan orang tua kami, yang lebih memilih untuk mengakhiri hidup mereka daripada melihat kami bersatu..

    Kami tetap berjuang, tetap mempertahankan, meskipun kami mulai merelakan jika kami harus mencari pasangan baru yang memiliki panggilan Tuhan yang sama.

    Cinta..
    lebih baik diperjuangkan, meskipun harus menyerah di tengah perjalanan, daripada harus menyesal karna baru menyadari bahwa kami saling mencintai ketika kami sudah merasa kehilangan, karna berbeda nama Tuhan.

    Setidaknya kami sudah berjuang bersama, dan (mungkin) selamanya akan tetap saling mencintai, meskipun tak saling memiliki.

    Cinta seharusnya tak mempermasalahkan perbedaan, karna perbedaan itu seharusnyalah yang menyatukan dua orang yang saling mencintai..

    @luvlynesa

  22. Kata orang cinta datang tanpa diduga, cinta akan datang kepada siapa dan kapanpun ia mau. Tapi kita-lah yang harus menentukan ingin mencintai siapa. Jangan pernah dibutakan oleh cinta, apalagi harus menentang ketentuan Tuhan.
    Saya selalu menghindari untuk jatuh cinta pada yg berbeda keyakinan. Walaupun saya masih jauh dari kata orang yg taat, tapi saya hanya berusaha menjalani hidup sesuai perintah Tuhan. Itu saja!

    @nunaalia

  23. Jujur jika berpacu dalam sebuah keyakinan dengan berbda nama Tuhan sangat sulit adanya dalam kisah cinta. Ada dua pilihan yakni: YA atau TIDAK.
    Jika saya terpaut dalam kisah cinta seperti ini, pasti dapat berjalan lancar diawal dan tapi lama kelamaan pasti kita harus memlih dalam satu keyakinan yang sama. Karena dalam agama pasti kita harus memiliki pasangan hidup yang nama Tuhannya sama.
    Dan diakhir cerita, saya akan memilih jalan masing- masing untuk hidup dengan keyakinan masing- masing, satu cinta takkan bisa bahagia jika terus berlanjut dalam dua keyakinan. Takkan bahagia malah justru kau akan terjerumus mungkin dalam keyakinan yang bukan keinginanmu tapi keinginan cintamu. Maka, haruslah memilih keyakinan diatas cinta. Cinta itu buta tak mengenal apa keyakinanmu tapi justru cinta datang pasti pada orang yang tepat dan tepat waktunya.
    Jalan keluar seperti ini, akan membuat kita lebih bahagia dan nyaman, karena cinta tak harus dalam sebuah hubungan saja, tapi bisa dalam hal lain. -@ariniangger

  24. Tuhan itu satu, tapi kita yang menyebut-Nya dengan banyak nama, menyembah-Nya dengan berbagai cara. Karena kuasa-Nya kita bisa lahir ke dunia, karena cinta mahluk ciptaan beliau yang kita panggil dengan orang tua. Banyak dari mereka yang memberi petuah mengenai cinta, keyakinan yang sama menjadi prasyarat yang utama. Tapi bukankah bakti kita dibawa oleh diri kita masing-masing? Tanpa memperdulikan apakah dia yang bersamamu memiliki pandangan yang sama denganmu?
    Jika bicara idealisme, tentu saja banyak yang kontra. Tapi menurutku, hal ini dikembalikan kepada orang yang menjalaninya saja. Jika mereka bisa saling menghargai tentu keyakinan berbeda tidak ada masalah. Yang penting, berbeda tetap satu jua. Cinta itu memang menyatukan dua kepala dalam satu ikatan tapi tidak akan ada gunanya jika perbedaan dilihat sebagai penghalang.
    Aku memilih kembali menyerahkan kepada Sang Pemberi Kehidupan dan Cinta, kata hati jauh lebih berarti, pandangan keluarga utamanya orang tua tetap menjadi penuntun langkah tapi bukan memutuskan apa yanh akan kami jalani selanjutnya. Tidak ingin gegabah, tidak ingin juga pasrah.

    @rinicipta

  25. Aku mencoba tuli saat nama Tuhan tidak selaras dengan cinta. Membiarkan semua termasuk logika berteriak bahwa ada sesuatu yang bertentangan. Tak bisa dipungkiri saat aku masih membuka pendengaranku, dan dia berbicara tentang agamanya, hati yang awalnya subur dengan bunga lambat laun makin teriris,perih! Perbedaan itu terasa makin nyata. Maka aku biarkan hanya hati saja yang hidup. Aku menutup mataku saat dia melakukan kegiatan yang menyangkut agamanya,aku menutup telingaku saat dia bercerita tentang Tuhannya. “Untukmu agamamu, dan untukku agamaku” itu yang aku tahu. Jadi aku membiarkan cinta menikmati jalan ceritanya tanpa peduli perbedaan nama Tuhan. Tapi semakin lama, aku sadar,perbedaan yang indah itu tidak dapat disatukan. Lagi-lagi “Untukmu agamamu,dan untukku agamaku” kalimat ini benar.Pada akhirnya aku tetap dengan agamaku dan dia dengan agamanya. Aku menyerah dengan perbedaan nama Tuhan. Tapi setidaknya aku pernah berjuang dengan cinta yang beriringan dengan perbedaan nama Tuhan. @elvianarifah

  26. Aku pernah menemui kisah ini saat beberapa tahun yang lalu, dengan membiarkan cinta terperangkap dalam kegelisahan tanpa tujuan, yang pada akhirnya membawa pada pilihan yang sudah sejak awal dirumuskan dan kita sama-sama sadar, hanya ada dua pilihan ketika perbedaan itu disatukan.
    Bersama dalam dekapan cinta sepasang manusia yang mendewakan cinta hingga lupa tuhan dan dunia, atau Berpisah dengan sadar dan dewasa mempersilahkan tuhan mengatur langkah untuk berpijak kembali pada dunia.
    Dan pada akhirnya aku memilih pilihan kedua dimasa silam, hanya maaf yang mampu terucap dariku untuk rajutan cinta yang kita sulam hari demi hari dan sekarang lenyap diterpa hembusan angin hingga tiada sisa yang bisa di kenang. Maaf kan kami juga atas ego yang menjadi landasan tautan hati bisa terlengkapi.
    Itu mungkin alasan ku dulu, menjadikan kita berpikir terlalu terburu-buru, dan sekarang ada hati yang terus menertawakan, bahwa kita sama-sama masih rindu masa lalu.
    Kita masih tersirat rasa yang sama, walau terkadang masih hadir layaknya rima, percayalah Tuhan kita pasti terkesima melihat kita mencintai dengan sadar dan bijaksana bersama takaran cinta yang semestinya.
    Sekarang kita sama-sama tahu,bahwa cinta hadir dariNya, tapi kita tak bisa menyalahkaNya. Takdir boleh tetap takdir tapi nasib kita sendiri yang menentukan, kupersilahkan rasa itu membalut hatiku bersama mu, kubiarkan pula kau menyebut namaku didepan Tuhanmu, akupun begitu, biar nanti terjawab alasan Tuhan membiarkan cinta diantara kita yang jelas-jelas berdoa pada nama Tuhan yang berbeda. Tak usah berfikir pada dua pilihan seperti sebelumnya, jalanin saja yang ada, ambil setiap hikmah dari perjalanan kita, hingga ada hidayah dari Tuhanmu atau Tuhanku yang mengizinkan kita bersatu, jika pada akhirnya kita tetap berpijak pada keyakinan yang berbeda, itulah sebenarnya pelajaran indah yang diberikan Tuhan untuk kita, bahwa Cinta tak harus bersama agar kita tahu bahwa kita tak pernah salah memberikan jiwa kepadaNya.
    @yurasade

  27. “Apa yang akan kamu lakukan jika jatuh cinta dengan seseorang yang berbeda nama Tuhan?”

    Ijinkan aku berpendapat. Jadi begini.. cinta bukanlah sebuah jarum jam yang bisa kau putar sesuka hati. Yang bisa kau permainkan dengan mudahnya dan tidak akan kembali lagi seperti semula. Tidak, cinta tidak seperti itu. Melainkan, cinta adalah sebuah bumerang. Lemparlah jika kau mau. Lemparlah sesuka hatimu. Tapi, apa yang terjadi? Bukankah bumerang itu akan kembali lagi pada kita?
    Yak, sama seperti cinta. Kau mencintai seseorang yang berbeda nama ‘Tuhan’ denganmu. Cinta itu sangat kuat menjalar di hatimu. Sedetikpun kau tak ingin pergi darinya. Tapi.. disaat yang seperti itu bisakah kamu tiba-tiba melupakannya dan pergi begitu saja? Tentu saja tidak kan?
    Karena apa? Karena cintamu adalah bumerang di kehidupanmu. Sekalipun cintamu dengannya tak sejalan dalam hal keyakinan, namun bukankah cinta tidak bisa dipaksakan? Baiklah jika mulutmu berkata “Aku tidak mencintainya”, tapi apakah hatimu berkata demikian?
    Perasaan adalah kejujuran, dan apa yang kamu rasakan adalah apa yang menjadi kejujuranmu.
    Cintailah dia dengan apa yang telah hatimu katakan, dan berhenti melukai dirimu yang selalu menahan perasaanmu sendiri.
    Cintailah apa yang menjadi cintamu. Bukankah cinta adalah suatu bentuk perbedaan yang disatukan?
    .
    Jadi, kesimpulannya.. tetaplah mencintainya. Jangan pernah berhenti sedikitpun. Insha allah, kau dan pasanganmu akan mendapat cinta dariNya.

    -@Bintang_Ach-

  28. Yang akan saya lakukan adalah melepaskannya tanpa harus menyelami rasa itu lebih jauh. Sebab, berbeda nama Tuhan berarti berbeda pedoman dan pegangan. Meski kita tau, rasa yg muncul adalah atas dasar apa yang Tuhan kita ijinkan. Jika memaksa bersatu, scr tidak sengaja hati akan makin tertaut. Ketika di lain waktu salah satu harus meninggalkan, maka akan ada yg terluka dan beban untuk melepaskan kepergiannya. Jadi, saya lebih mengutaman Tuhan drpd cinta berbeda nama Tuhan. Karena saya percaya, Tuhan menciptakan saya atas dasar cinta yg sama, bukan berbeda.

  29. Saya pernah mengalaminya. Saya pernah mengenal seseorang yang memiliki keyakinan yang berbeda dari saya. Awalnya saya sudah membentengi diri untuk tidak terlalu merasa nyaman berada di dekatnya. Tapi apa daya, perasaan yang mati-matian saya larang itu muncul dengan lancangnya. Lebih parahnya, dia pun memiliki perasaan yang sama.

    Tapi kami paham kami berbeda. Kami paham ada tembok super tebal dan tinggi yang tidak bisa kami hancurkan agar kami bisa bersama. Kami paham bahwa kami tidak akan bisa melawan ketetapanNYA. Yang bahkan teramat sangat terlarang di pihak saya.

    Kalau saya mau egois barang sekali saja, saya bisa memintanya untuk memeluk keyakinan yang sama dengan saya. Maka dengan begitu, semua masalah ini selesai sekejap mata. Kami bisa bersama. Bahkan mungkin saat ini mungkin kami bisa saja berbagi ranjang yang sama. Tapi saya tidak punya hak sama sekali untuk melakukannya. Perasaan ini tidak boleh mengorbankan keyakinan seseorang dengan Tuhannya. Tidak secara paksa hanya karena alasan kami saling suka.

    Maka dalam suatu malam, setelah kami terdiam untuk waktu yang lama, yang terasa seperti selamanya—setelah dia untuk entah kali berapa menyatakan perasaannya—akhirnya kami memutuskan untuk melepaskannya. Kami memutuskan untuk menghancurkannya. Melepaskan dan menghancurkan perasaan yang ada di dalam dada. Perasaan yang tanpa sadar terpupuk hingga mengakar kuat dan bermimpi untuk hidup lebih lama.

    Tapi mimpi yang ini tidak akan bisa menjadi nyata. Selamanya ia akan jadi mimpi saja. Mimpi kami berdua. Mimpi yang kini jadi doa. Doa semoga Tuhan—dia dengan Tuhannya, dan saya dengan Tuhan saya—tidak pernah murka karena kami pernah bertukar rasa suka. Doa semoga Tuhan mengijinkan kami baik-baik saja, sekalipun kami tidak akan bisa bersama. Doa semoga ini bisa menjadi sebuah cerita untuk anak cucu kami bahwa mencintai seseorang kadang memang tidak melulu berakhir dengan bahagia.

    Ken | @orion____

  30. Yang akan saya lakukan adalah melepaskannya tanpa harus menyelami rasa itu lebih jauh. Sebab, berbeda nama Tuhan berarti berbeda pedoman dan pegangan. Meski kita tau, rasa yg muncul adalah atas dasar apa yang Tuhan kita ijinkan. Jika memaksa bersatu, scr tidak sengaja hati akan makin tertaut. Ketika di lain waktu salah satu harus meninggalkan, maka akan ada yg terluka dan beban untuk melepaskan kepergiannya. Jadi, saya lebih mengutaman Tuhan drpd cinta berbeda nama Tuhan. Karena saya percaya, Tuhan itu satu dan Tuhan menciptakan saya atas dasar cinta yg sama, bukan berbeda.
    @_chynnnn

  31. Pertama, pasti akan mencoba menjauhi orang itu. Lebih tepatnya mencoba menghapus rasa yang manjalar secara tiba-tiba di hati ini. Tuhan dan Cinta itu jauh berbeda. Walau cinta di berikan oleh Tuhan. Cinta mungkin telah diberi ramuan sedikit oleh setan. Tapi Tuhan, Dialah Tuhan yang harus aku turuti.

    @OephaIm

  32. Cinta, rasa yang datangnya dari Tuhan dan berakhir atas ketentuannya. Tuhan yang berhak menjadi hakim atas rasa yang diberikan oleh-Nya. Apakah cinta abadi jika Tuhan menghendaki bersatu atau cinta layu lalu mati ketika Tuhan memisahkan. Sebagai makhluk kita hanya mampu berikhtiar dalam hati untuk mempertahankan cinta. Namun apalah daya kita jika Tuhan sudah berkehendak. Terima segala ketentuan dari-Nya karena sesungguhnya rencana dariNya lebih baik untuk kita. tetapi ketika cinta kita disatukan, alangkah indahnya jika asma Tuhan kita sama. Seiman.

    @duwis11

  33. yaa yang penting satu saya hanya ingin melihat pasangan saya bahagia, kalau pasangan saya tersakiti pasti sang Pencipta nya juga bisa marah kalau ciptaan Nya di sakiti. Tuhan itu baik, tidak ada Tuhan yang menjrumuskan ciptaan Nya. Dia pasti selalu memberikan yang terbaik.

    @ludovicusluis

  34. Ngak ada yang tau Tuhan memberikan kita jodoh seperti apa. Ya, selama tidak pernah ada yang menyebabkan hubungan kami menjadi buruk itu berarti Tuhan memang menjodohkan kami. Jika tidak, maka Tuhan akan menjauhkan kami dengan caranya tersendiri. Jadi kalau aku tetap akan mencintainya selamanya, mungkin suatu keajaiban jika ternyata aku bisa mengajaknya ikut ke agamaku. Jika tidak, entahlah itu rahasia Tuhan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s