Terbang

angel-arms-beauty-cute-dress-girl-Favim.com-103305

sumber: favim

Ada kejanggalan yang mengganjal batinku, tapi tak bisa kuterjemahkan secara gamblang. Aku belum ingin mengambil kesimpulan dan belum tau harus menyusun prosesi apa jika itu adalah pertanda buruk. Mungkin, yang harus kusanggupi hanyalah sebuah kesiapan untuk menerima hal yang tak bisa kucegah.

Kamu menarik punggung tanganmu dari genggamanku dengan pelan setelah setengah jam lamanya aku betah tak memedulikan hal lain. Senyummu mengembang tanpa sepatah kata yang melayang, menguatkan kejanggalan yang kurasa.

Rasanya aku seperti sedang berhadapan dengan lawan bicara berkepribadian ganda. Kadang kamu bisa seheboh pesta kembang api, kadang pula kamu sebisu dini hari. Itulah kesimpulanku untukmu. Begitu kontras. Padahal tadi kamu berbicara seperti rentetan peluru. Menembakkan kalimat acak berisi pembahasan mulai dari salah satu teman kita yang sama-sama sedang kita tidak disukai, kesibukan kuliahmu dan bagian terakhir, bagaimana kebersamaan ini ke depannya. Bagian yang paling kucemaskan.

Kalimat terakhir yang kamu ucap sebelum bibirmu terkatup rapat dan membuatku refleks mematikan rokok yang baru saja kuhidupkan ke permukaan asbak adalah, “Maafkan aku..”

Kamu tidak mengindahkan gelas iced macchiato pesananmu yang mulai berkeringat. Pandanganmu berlari-lari tanpa tujuan pasti. Sedangkan pandanganku hanya tertuju kepada dua bola matamu yang tertutup softlense biru, menutupi binar yang masih mengharapkan masa lalunya kembali. Namun, ingin sekali aku bertanya bila saja dapat kusentuh alam bawah sadarmu, adakah mata yang lebih hebat memerhatikan engkau selain aku?

Kalimat terakhir yang kamu ucapkan segera menamparku untuk segera tahu diri, untuk tidak melanjutkan kehangatan kita ke permukaan. Perkenalan kita tidak lebih dari seumur jagung. Baru dua bulan kita saling mengenal lewat sebuah perkumpulan anak-anak media sosial. Namun meski masih sebentar, kuyakin jika ada alat yang berfungsi untuk mengukur perasaan, alat itu akan meyakinkanmu betapa dalamnya perasaanku. Ini bukan obsesi untuk menaklukan hati, bukan pula napsu yang mendorongku untuk menjelajahi tubuhmu. Ini adalah cinta yang murni.

Kumahfumi semua ini terjadi begitu saja tanpa renana. Berawal dari empati yang secara otomatis kuberikan lebih kepadamu. Untuk memahamimu keadaanmu yang sedang terpuruk, merasakan kesedihanmu dan tergerak untuk membantumu menyudahinya. Empati yang menceburkan diriku untuk menyelamatkanmu dari kolam bernama masa lalu. Namun sepertinya kamu memilih tenggelam.

“Septa, are you okay?” Pelan kamu mengajukan pertanyaan itu dengan senyum tipis. Memberangus keheningan yang membelenggu pita suara.

Aku memalingkan pandanganku ke arah lain secepat kilat, lalu mengembalikan fokusnya kepada matamu. “Nope, it’s okay. Harusnya aku yang bertanya. Aku tahu kamu masih butuh waktu..”

“Kamu bahkan mengenalku lebih dari diriku sendiri..”

“Aku senang kamu mengizinkannya..” Aku tersenyum dan kembali mencoba menggenggam tanganmu, namun kamu lebih dulu menariknya sambil menggelengkan kepala dengan senyum yang tak dapat kuartikan maknanya.

Aku tidak mau mengatakan bahwa kamu adalah perempuan bodoh atau bahkan seorang idiot yang masih berharap kepada mantan kekasihmu yang sekarang sudah menjadi milik orang lain, untuk kembali padamu. Bukan sebuah masalah jika kamu hanya menjaga hubungan baik. Tetapi apakah matamu memang membutakan diri saat melihat seseorang di hadapanmu yang jelas-jelas mencintaimu? Entah kepedihan macam apa yang bulat-bulat kuterima ketika keningmu kukecup agar kau merasa aman, namun binar matamu menunjukkan sosok lain. Ini terlalu rumit untuk sebuah keinginanku yang sederhana. Aku ingin kamu pelan-pelan menjalani kehidupan baru, bersamaku.

Wajahmu kini memerah, samar kulihat kantung matamu yang semakin menghitam bergetar. Tanpa perlu kamu jelaskan, kutahu itu adalah rasa bersalah yang mengutuk dirimu, yang nantinya akan memecahkan ketabahan lewat tetes air mata. Kamu berusaha menahannya sekuat mungkin agar bom kepedihan itu tidak meledak.

Melihatmu begitu kontan membuat dadaku sesak. Aku ingin sekali memelukmu, namun kamu sudah membangun benteng pendirian untuk tidak lagi kuintervensi. Aku tahu kamu ingin menunjukkan kepadaku bahwa kamu mampu menjalani semuanya tanpaku.

Tiba-tiba aku teringat sesuatu.

Salah seorang teman pernah berkata kepadaku, bahwa di dalam hidup, akan ada seseorang yang dapat kau sebut penyayang. Kau dapat memiliki raganya, namun takkan pernah bisa menggenggam hatinya, sampai kapan pun. Ia menyayangi dan memperlakukanmu layaknya kekasih. Membuat kau menumbuhkan harapan. Kau mencintainya, tetapi ia sebaliknya. Ia memberikan kebaikan dalam bentuk kasih sayang, bukan cinta. Ketika kau sadar pada hari yang jauh saat ia memutuskan untuk berhenti. Kenyataan mengusir paksa dirimu untuk hengkang dari zona yang melenakan itu. Kau akan kalut, hatimu patah, sepatah-patahnya. Hal pertama yang kau salahkan adalah keadaan, padahal sudah jelas kesalahan itu berasal dirimu sendiri. Kau hanyalah seorang yang terjebak dalam perasaan sepihak kau ciptakan sendiri.

Kamu adalah seorang penyayang, Karina.

Ponselmu berdering, kulihat nama sang penelpon sesaat sebelum kamu dengan cepat mengangkatnya. Amarah dalam dadaku lantas melonjak, namun segera kutahan dengan rahang yang bergetar. Ialah yang menyebabkan kamu semenderita ini. Ialah yang dengan keji memancingmu untuk tetap bersamanya, meski kamu tahu akan ada dua pihak yang terluka. Aku dan kekasihnya. Kamu terlalu tega untuk memilih melakukannya. Cintamu kepadanya terlalu besar untuk dihentikan, pintu hatimu terlalu keras untuk kudobrak.

Kamu mengerjapkan mata, menarik napas berat sambil melirik ke arahku, lalu berkata dengan lirih, “Aku pergi, ya..”

Kupaksakan bibirku untuk tersenyum dengan sayatan yang kamu berikan lewat kalimat itu. Lapisan udara di dalam ruangan ini terasa terlalu tipis untuk menjagaku agar tetap terkendali. Kuperintah paru-paruku untuk menodong oksigen sebanyak-banyaknya agar aku tidak mati pengap atau memilih berlari ke luar kafe ini, lalu menghajar mantan kekasihmu sampai koma.

“Iya, hati-hati, perhatikan langkahmu..”

Kamu mengangguk pelan, lalu berjalan menjauh perlahan dengan kepala sedikit menunduk. Kutahu bom itu sebentar lagi akan meledak. Di mataku kini, kamu terlihat seperti seekor burung yang keras kepala dan lugu. Punggungmu tampak menggerakkan sayap yang belum benar-benar sembuh untuk melesat jauh.

Kamu menoleh ke arahku sesesaat sebelum pintu kafe tertutup dengan senyum yang menyiratkan kata maaf dan kamu takkan kembali.

Pergilah, kurelakan kau bebas. Aku hanyalah seorang yang kau pilih untuk merawat sayap-sayap patahmu, bukan menemanimu terbang.

Dan..

Tak perlu ada ucapan selamat tinggal, karena aku memang tak pernah ada. Jauh di bawah sayapmu yang terbang tinggi, aku akan bersembunyi sambil berdoa.

Semoga kamu tidak jatuh..

Advertisements

7 thoughts on “Terbang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s