See You, When I See You!

Screen Shot 2015-09-29 at 23.21.00

Pertemuan adalah takdir yang direncanakan Tuhan dengan sangat baik, diawali dengan membuka mata. – See You, When I See You!

“AKHIRNYA BUKU PERTAMA GUE TERBIT!” Inilah kalimat yang gue serukan di telinga editor, Irsyad Zulfahmi, ketika datang ke kantor penerbit Bukuné setelah mendapat kabar See You, When I See You! terbit.

Saat menulis posting-an ini, jantung gue berdebar kencang seperti jatuh cinta berkali-kali dengan seseorang yang sama. Juga seperti membocorkan rahasia besar yang udah gue janjikan dengan semua tokoh dalam See You, When I See You!. Bayangin deh tuh rasanya jatuh cinta berkali-kali dengan orang yang sama. Seseorang? Ya, seseorang. Bagi gue See You, When I See You! adalah seorang anak yang lahir dari hasil racikan kata yang selama ini gue tulis. Bukan cuma sebuah buku sebagai perolehan akutalisasi diri untuk eksistensial aja, tapi punya nyawa yang berasal dari buah pencapaian proses menulis yang konsisten. Berangkat dari cuma nge-tweet puisi dan quote di Twitter, lalu terciptalah blog ini untuk gue berlatih menulis, yang menjadi media gue meningkatkan jam terbang hingga gue dapat menerbitkan buku.

Sore itu, pertengahan bulan April 2015. Elly, salah satu editor Bukuné, menghubungi gue via Line. Gue kaget saking senangnya saat membaca isi chat yang berisi ajakan menulis buku. Saking kagetnya, gue ngagetin orang di sebelah gue juga supaya ikutan kaget, biar gue nggak kaget sendirian. Hahaha. Enggak deng. Kemudian, pada 22 April 2015 lalu, abis magrib, kami ketemuan di Coffee Life untuk ngobrolin konsep buku. Waktu itulah kali pertamanya kenalan sama editor gue. Itulah juga cikal bakal lahirnya See You, When I See You!. Salah satu momen  yang nggak akan terlupakan.

IMG_1303

Kiri: editor gue, Irsyad Zulfahmi. Kanan: Elly, editor yang ngajak gue nulis.

Setelah corat-coret buku dengan pena berwarna merah, tertulislah outline berupa 10 kumpulan cerita dengan tiga tema; Musim, Nada, dan Kenangan, yang memiliki benang merah ‘Pertemuan’. Saat itu juga gue nulis untuk cerita pertama, ‘Dua Analogi’, yang nanti bisa langsung kamu baca di See You, When I See You!. Ini salah satu cerita yang gue jagokan bakal bikin hati kamu baper~

Proses menulis See You, When I See You! cukup singkat, yaitu sekitar 2 bulan plus revisi. Selama dua bulan itu, jujur aja, kepala gue sepet banget dan mata rasanya pengin meledak. Gue begadang tiap hari untuk menulis naskah selama 1 bulan lebih, baik di kafe tempat gue biasa nulis dan Mekdi di samping kampus. Sampai barista kafe nggak abis pikir ngeliat gue yang betaaah banget berjam-jam di depan laptop. Lucunya, Mas-Mbak Mekdi sampai ngajak gue ngobrol pas mereka lagi bersih-bersih dan nanyain gue lagi ngapain karena gue serius banget di depan laptop. Gue jawab aja ngerjain deadline pekerjaan dan nulis buku, terus mereka nyemangatin gue yang matanya udah merah dan sesekali ngasih kopi gratis. Terima kasih kepada Mbak Mumu dan Mas gue-lupa-namanya-maaf-ya. :’)

IMG_1304

Ini pas gue nulis bareng editor di kafe langganan. Iya, mukanya keliatan sangar. Aslinya, mah, yaelah~ *digetok*

CGDCyoVU8AAsxJp

Ini saat gue nulis naskah di Mekdi, dari pukul 9 malam hingga setengah 7 pagi. Percaya atau nggak, terserah kamu~

Selama proses menulis See You, When I See You!, gue cukup kehabisan banyak energi dan menutup diri dari dunia luar untuk urusan cinta. Karena, seluruh energi yang gue punya dikerahkan untuk menulis naskah dan rasa cinta itu sendiri gue berikan penuh kepada setiap rangkaian kata dalam buku ini. Pada paragraf pertama gue menulis, gue langsung sadar betapa berharga dan sakralnya sebuah pertemuan.

Sepakat atau enggak, menurut gue nggak ada pertemuan yang nggak disengaja baik cuma ketemu teman lama, mantan gebetan, atau mantan pacar di sebuah tempat yang nggak pernah terduga. Semua pertemuan udah direncanakan sama Tuhan, tinggal waktunya aja yang kapan. Setiap pertemuan pasti menciptakan rindu, kenangan, dan nggak menutup kemungkinan, cinta dan benci. Dari pertemuan itu jugalah sebuah cerita dimulai. Sebenarnya, nggak semua pertemuan itu berarti ‘dimulai’, tapi boleh jadi ‘kembali dimulai’, atau malah ‘diakhiri sebelum dimulai’. Itulah kenapa gue bilang betapa berharga dan sakralnya sebuah pertemuan. Soalnya, kita juga nggak pernah tahu kapan kali terakhir pertemuan terjadi, dengan kata lain; perpisahan.

Perpisahan adalah pertemuan terakhir yang menjadi gerbang pertemuan cerita berikutnya.

Kita perlu menyiapkan diri untuk pertemuan yang sudah direncanakan, agar kelak perpisahan kita yang terjadi nantinya ditutup dengan lambaian tangan berisi ucapan dan kenangan baik. Supaya suatu hari, ketika pertemuan yang ‘kembali dimulai’ itu nggak menimbulkan benci.

Gue melakukan pemikiran kontemplasi yang mendalam dari satu cerita ke cerita lainnya di dalam See You, When I See You!. Inilah yang bikin gue capek banget dan bikin gue migrain, tapi di lain sisi gue semangat gue selalu terisi penuh mengingat antusiasme pembaca blog yang selalu menanti buku pertama gue terbit. Semua tokoh dalam See You, When I See You! murni dari kegelisahan pribadi dan sudut pandang gue menilai sebuah pertemuan. Di ruang imajinasi, terjadi pertemuan batin antara gue dan para tokoh. Gue ngajak ngobrol setiap tokohnya dan meminta mereka menuntun gue kepada cerita yang mereka alami di buku ini. Gimana perasaan mereka ketika (ingin) bertemu seseorang yang dicintai, dibenci, dirindukan, dan ingin mereka tinggalkan.  Kami duduk melingkar sembari menyesap kopi dan menikmati kudapan. Curhat layaknya sahabat lama; ketawa-tiwi, ceng-cengan, saling mengoda, mendengarkan dan memahami, serta mengelap air mata salah satu dari mereka yang curhat tentang ceritanya. Campur aduk. Sampai-sampai di beberapa bagian cerita, kesepuluh jemari gue gemeteran ketika menulisnya karena penuh letupan emosi.

Bahkan, setelah gue selesai menulis ‘Dua Analogi’ dan ‘Herz Im Herbst’, lalu membaca ulang ceritanya. Hell ya, jujur, gue yang biasa bikin orang baper, malah jadi baper sendiri. Gue membayangkan jika berada dalam posisi dua tokoh dari cerita itu; Raka dan Eric, bagaimana mereka mencintai seseorang dan memperjuangkan cintanya. Tapi nggak semua cerita di dalam See You, When I See You! itu sedih, kok. Kayak permen nano-nano, banyak varian rasa. Ada yang lucu, bikin gemes dan mangkel, terheran-heran, dan penasaran Pokoknya, nanti kalian akan kenalan dengan semua tokoh di dalam cerita See You, When I See You! yang udah nggak sabar pengin ketemu kalian. Serius~

1

Akhir kata, gue berterima kasih untuk para role model yang mengajari gue menulis sejak nol; Dara Prayoga, Alitt Susanto, dan Raditya Dika. Dan para pembaca yang selalu menagih tulisan plus nggak henti-hentinya bertanya kapan See You, When I See You! terbit.

Gue sangat bahagia sekali karena ini adalah kado terindah di umur ke-22 yang pernah gue dapatkan seumur hidup. Dengan ini gue persembahkan See You, When I See You! untuk kalian semua yang (semoga) selalu setia membaca setiap tulisan gue. Terima kasih sebanyak-banyaknya!

kolasee

Untuk kamu-kamu yang pengin mengadopsi See You, When I See You edisi tanda tangan bisa kamu pesan di sini. Nanti kalau See You, When I See You! milik kamu sudah sampai dipelukan tolong dijaga ya, jangan lupa juga kabarin gue~

See You, When I See You! Selamat bertemu!

Advertisements

3 thoughts on “See You, When I See You!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s