Reuni

msology-e1351789781565

source: Tumblr

Sepasang jenjang kakimu yang seputih susu kompak mengayun udara seperti anak kecil yang menanti es krim yang dibelikan ibunya tiba. Dress putih yang kamu kenakan tampak pas dan membuatmu terlihat lebih muda. Meskipun angka usia yang tertera di kartu tanda penduduk perlahan merenggut kecantikanmu, namun di mataku, pesonamu tidaklah pudar.

Di kursi kayu di tengah taman sekolah inilah kita bertemu kembali –yang menurutmu sebuah kebetulan– setelah dua puluh lima tahun lamanya terpisah. Di kursi inilah yang dahulu menjadi tempat kita biasa menunggu petang undur diri. Kamu sedang tersenyum lebar melihat suasana sekitar, menatap banyak objek dari kejauhan di balik kacamata berlensa tebal; murid-murid sekolah yang berhamburan, burung-burung yang terbang menuju sarang dan gradasi warna langit senja. Seperti usia kita.

Tak ada yang ingin kulakukan lagi selain mewanti-wanti kedua mataku untuk merekam sosokmu yang sedang terpaku, agar ketika aku meminjam gelap dalam pejam, wajahmu jelas kulihat. Tanpa mengalihkan pandangan, aku merogoh saku kardigan abu-abu yang membungkus tubuhku untuk mengambil sebatang rokok kretek, lalu kembali memerhatikanmu sambil merebah di permukaan kursi karena encokku mulai menganggu.

Aku tersenyum dan mengira-ngira pertanyaan apa yang dapat menghangatkan pertemuan ini. Seseorang telah membawamu jauh dariku. Jauh yang menciptakan jarak yang tak bisa kutempuh. Sebab, jarak itu tidak memiliki destinasi. Jarak itu adalah tembok pembatas maha tinggi yang harus kamu patuhi sebagai kewajiban seorang istri. Entah alasan apa yang nantinya akan kamu jelaskan, tapi lebih baik tidak.

“Rif, kamu ingat kapan terakhir kali kita ke sini?” tanyamu dengan alis terangkat dan pandangan yang masih lurus melihat langit oranye. Kalimat pertama yang terucap dari lidahmu setelah sepuluh menit kita membisu sejak tiba di taman ini. Sementara kamu belum benar-benar mengindahkan jawabanku, kupandangi kerutan di wajahmu yang kentara.

Aku bergumam sambil berpikir sejenak, meski aku sudah tahu jawabannya karena tak pernah berhenti kuhitung sejak hari pertama kamu pergi. “Dua puluh lima tahun lalu. Benar, kan, Put?”

Kamu mengangguk membenarkan sambil memperlihatkan deretan gigi yang putih, lalu berkata dengan nada meledek, “Kukira uban yang mulai memenuhi keras kepalamu itu bikin kamu pikun. Hahaha.” Tawamu tergelak.

“Sejujurnya aku telah lupa beberapa hal, Putri. Tapi saat mendengar kabar mengejutkan mengenai–” Aku berhenti sebentar, “ah, kurasa kamu sudah tahu..”

Seulas senyum simpul kamu sunggingkan, lalu kamu mengembuskan karbon dioksida dengan kasar dari mulutmu. “Ya, aku tidak menyangka kebetulan ini menciptakan reuni.”

“Ya, ya, aku pun berpikir demikian,” ucapku sambil beberapa kali mengangguk, kemudian memberi nyawa sebatang rokok yang sedari tadi kupegang.

“Dasar bocah tua nakal! Baru saja kita bertemu, kamu malah mengurangi jatah umurmu.”

Aku terkekeh mendengar omelanmu sambil memperhatikanmu menggerai rambut. Caramu menggerai rambut masih sama, menghadirkan daya pikat magis. Dulu, pemandangan itu selalu memecut debar jantungku berpacu seperti rentetan peluru. Usia lima puluh tujuh tahun tetap tak membantah keindahanmu sebagai seorang wanita beranak dua. Sedangkan aku, yang dua tahun lebih tua darimu, sudah terlihat renta.

“Memiliki dua anak membuatmu jadi semakin cerewet, Put..”

Kamu menoleh pertama kalinya dengan raut sebal. “Heh, Rif, kamu tidak tahu bagaimana repotnya mengurus dua anak perempuan sekaligus, kan? Ketika mereka remaja, aku sudah menjanda. Jadi wajar sajalah..”

“Oh, ya? Kamu pikir memangnya tidak susah mengawasi anak laki-laki tunggal sendirian? Calon menantumu nanti itu lulusan anak bandel tahu!”

“Ah, iya. Aku lupa, Romy pernah bercerita ibunya meninggal saat masuk SMA, ya?”

“Begitulah, dan tidak pernah muncul keinginan di dalam benakku untuk menikah lagi.”

“Mengapa? Kamu barusan bilang susah mengawasi anak laki-laki tunggal.”

Karena aku hanya ingin menikah denganmu, Put.

“Tak apa-apa, aku telah memikirkan keputusan itu dengan matang. Jika aku menikah lagi, aku takut itu malah membuat Romy semakin terpukul. Anakku itu begitu menyayangi almarhum ibunya dan tak ingin digantikan oleh siapa pun,” jelasku singkat dengan nada yang kujaga betul artikulasinya agar tidak menyiratkan kebohongan.

Sebenarnya aku tidak pernah mencintai istriku. Ia hanya pelarianku saat orang tuaku tak tega melihatku patah hati ditinggal olehmu. Orang tuaku mengira, dengan menikahkanku dengan perempuan lain, aku bisa kembali merasakan cinta. Tapi itu malah memperparah keadaan. Selama dua puluh lima tahun aku mahir menjadi penipu berkedok suami. Kelahiran anakku pun hanya sebagai simbol pembahagia orang tuaku yang menginginkan cucu. Jujur kuakui, aku adalah seorang jahanam.

Namun kamu pasti sepakat bahwa cinta tak dapat direkayasa dan hati tak bisa dimanipulasi. Peribahasa witing tresno jalaran soko kulino tak berlaku kepada semua umat manusia, termasuk aku salah satunya. Aku menanggung kepalsuan, sedih dan getir masif yang enggan mengenal sudah. Hardiklah aku bila kamu menilai ini kejahatan paling keji. Jika aku memang penjahat, maka aku pun korban dari kejahatan yang kuperbuat. Aku tak mempunyai pilihan, selain aku sendiri yang menjadi pilihan itu.

Kita berdua kembali hening di antara siur angin petang yang teduh. Dalam hening itu, pikiranku mulai berkecamuk. Kenangan masa silam mengetuk pintu, minta dipersilakan masuk untuk menggali luka lama yang susah payah kusembuhkan. Perjodohan yang dilakukan oleh orang tuamulah yang membuat perpisahan tak terduga. Bila saja dahulu sudah semodern sekarang, sudah pasti aku mencari tahu informasi kehidupanmu lewat media sosial seperti yang digunakan orang-orang kekinian secara diam-diam. Kenyataannya, aku hanya bisa berprasangka baik kamu selalu bahagia dan tak lepas senantiasa mendoakanmu dalam lima waktu.

Tak ada persahabatan yang tetap sama ketika cinta lahir di antaranya, seperti yang kualami. Karena kau jelas mengenalnya luar dalam, dapat menyentuhnya, dan membicarakan apa saja, kecuali, perasaan. Dalam persahabatan, cinta itu pedang bermata dua yang merusak kebersamaan. Saat cinta itu diungkapkan, itu akan menusuk sahabatmu dan dirimu sendiri. Entah karena tak mampu membalas atau takut mengubah keadaan menjadi jauh ketika hubungan yang tercipta dari persahabatan berakhir. Aku tak berani menanggung risiko. Itulah mengapa aku selalu memaki diriku untuk tidak melakukannya. Saat kutahu kabar kau dijodohkan, rasanya seperti tersambar petir di siang bolong. Bermilyar volt residu patah hati memberangus ragaku hingga aku seperti mayat hidup. Semuanya lebur detik itu juga.

Tanganmu terangkat ke atas, namun tak melakukan apa-apa. Kamu seolah menyapa sesuatu. Hal itu menghentikan lamunan yang membuatku tenggelam dalam pilu. Kusadari rokok di sela jemari tangan kiriku sudah tandas sebelum sempat aku mengambil hak isapan kedua. Aku tergerak untuk menyudahi kebisuan ini.

“Ada apa?”

Matamu mengerling, lalu kamu menoleh dengan senyum tipis. “Tidak apa-apa, aku cuma menyadari ternyata banyak berubah..”

“Ya.. Waktu yang menuntun kita berubah. Aku, kamu, keadaan. Semuanya.”

“Kamu sendiri, apa yang berubah?”

Aku mengangkat bahu. “Yang jelas kurasakan, aku mulai tua, sudah waktunya punya cucu untuk meneruskan generasiku.”

“Hahaha. Rif, kamu belum berubah..”

“Bagian mana dalam diriku yang belum berubah selain ketampananku yang membuat semua gadis jatuh hati?” Kuajukan pertanyaan klise kelas tiga tentang diriku yang kuharap kamu menanggapinya dengan gemas.

“Kecuali aku..” Kamu tergelak menjawabnya. “Waktu hanya membuat ragamu berubah, tapi tidak dengan jiwamu dan keras kepalamu, Rifki. Walau berpuluh-puluh tahun lamanya kita tak bersua, aku masih sangat mengenalmu.”

“Kuanggap itu sebagai pujian, Put.”

Arah pembicaraan kita berganti topik menjadi curhatan awal-awal pernikahanmu bersama almarhum suamimu. Bagaimana repotnya seorang perempuan yang naik level menjadi seorang istri yang mengurusi rumah tangga dan bagaimana belajar mencintai seorang pria yang baru kamu kenal, hingga melahirkan dua anak perempuan dan berjuang sendirian menghadapi hidup. Aku kagum mengetahuinya, kamu berhasil cemerlang menjadi seorang ibu. Sedangkan aku justru merasa gagal total menjadi seorang ayah. Yang kutahu hanyalah jerih payah mencari uang. Kubahagiakan almarhum istriku dengan hidup berkecukupan dan segala hal yang diinginkannya –kecuali cinta, karena itu selalu milikmu– sampai anak lelakiku hadir di dunia, dan hingga istriku menutup mata.

Selesai bercerita, kamu bertanya balik bagaimana cerita tentang diriku. Tapi aku enggan menjawabnya dengan detail. Kujelaskan kepadamu bahwa aku sama saja seperti suami pada umumnya yang bekerja keras untuk menghidupi keluarga. Namun aku tak menduga itu memicu kamu menatapku dengan tatapan yang menguliti. Bibirmu terkatup. Kamu terdiam lagi seperti tidak percaya dengan ceritaku. Selain jahanam, aku adalah satu-satunya manusia yang tak pandai berbohong di hadapan orang yang kucintai.

Diammu mengisyaratkan kamu sedang menerawang jauh. Kurasakan dengan jelas hukum gravitasi menghilang. Aku ditelanjangi dan tidak bisa bergerak padahal aku ingin sekali runtuh menjadi puing-puing kecil untuk kabur, lalu memadat kembali demi menghindari tatapan itu. Pupil matamu yang membesar serupa lubang hitam menelan sosok diriku bulat-bulat. Aku terpatri dalam satu titik seperti berdiri di sebuah ruangan yang diciptakan tatapan itu, lalu berjuta mata dari segala penjuru menganalisa seluruh bagian dalam diriku. Mencari semua yang kusembunyikan dan berupaya mengungkapnya. Kulihat diriku mengilap di kornea matamu. Kuakui aku merasa tak berdaya saat itu juga, kamu masih menjadi penguasa. Tiba-tiba terlintas pertanyaan di benakku.

Kenapa aku bisa ada di sini? Mengapa aku menolak ajakanmu dan tidak bersikap seolah telah melupakan semuanya?

Pertanyaan kedua hadir di pikiranku yang menangkap sebuah anomali. Kali ini tentang motivasi apa yang menyuruhmu melakukan tatapan itu.

Apakah kamu sekadar mengajakku mengenang atau mengulang?

Belum sempat aku menemukan jawaban untuk pertanyaanku, raut serius wajahmu berubah menjadi senyum menahan tawa. Aku memiringkan kepala. Merasa heran sekaligus lega kamu menyudahinya. Cukup lama kita terpaut hingga arah jarum jam di tanganku lupa bergerak normal dan kata-kata yang tersusun di pikiran tak punya nyali untuk mengganggu keintiman ini.

Aku tidak tahu apakah aku terlalu tua untuk membahas cinta. Aku juga tidak tahu apakah hatiku masih berfungsi membangkitkan rasa yang sudah terlalu usang. Namun aku mengecap rasa ini masih berlaku dan tak menghiraukan eksistensi waktu. Tak perlu bukti yang muluk-muluk untuk sebuah pemastian, sebab kuyakin kamu paham kenapa aku mau memenuhi ajakanmu. Dan itu menjadi jawaban pertanyaan keduaku.

“Rif, kita mulai dari awal lagi, yuk?” Kamu bersandar di bahuku, lalu mengangkat tangan kanan. Kulihat kamu sedang menekuri cincin kawin yang tersemat di jari manismu. Jantungku berdebar kencang untuk kali kedua. Kali ini aku tidak dapat membedakan apakah ini debar tanda  hormon dopamine bekerja atau justru sebentar lagi malaikat pencabut nyawa menunaikan tugasnya.

“.. M-maksud kamu, persahabatan kita?”

“Tentu saja. Persahabatan kita akan semakin erat karena sebentar lagi kita menjadi besan, Rif. Aku kini tahu, kamu masih menyimpan rahasia tentang sesuatu sejak aku pergi hingga detik ini. Maafkan aku karena baru saja menyadarinya. Kini aku paham mengapa kamu ada di sini, tapi kita tidak memiliki banyak waktu lagi untuk melanjutkannya. Cukup kebersamaan kita dipeluk persahabatan.”

Aku tersenyum mengerti. “Kamu pun memang masih Putri yang dulu, Put. Jadi kamu setuju?”

“Kenapa tidak jika itu membuat kita kembali dekat? Kuperhatikan Romy dan Hana saling mencintai dan tak perlu ditunda-tunda. Aku juga tidak pikun kamu trauma dengan perjodohan yang membuat kita menjauh. Dan setelah kupikir-pikir, hubungan anak kita sepertinya bukan hanya kebetulan.”

“Ya, ini adalah dua garis takdir, Put. Kukira kamu memang menganggapnya hanya sebuah kebetulan. Mereka ditakdirkan bersama sebagai sepasang kekasih dan kita juga ditakdirkan bersama sebagai… sahabat.”

“Selamanya..” Kamu menambahkan dengan senyum bahagia, “Jadi kapan kita mulai atur rencana resepsinya?”

“Terserah mereka, tapi kuharap segera. Calon suami anakmu itu perencana yang baik, Put. Aku senang telah bertemu denganmu lagi dan aku masih.. A-aku..–” Aku tidak sanggup melanjutkan kalimat yang siap dilontarkan lidah. Seperti tali panah yang tiba-tiba putus ketika anak panah hendak dilesatkan.

Setetes air mataku jatuh karena aku membayangkan seandainya saja mesin waktu sudah diciptakan. Aku sungguh rela menjadi kelinci percobaan demi kembali ke masa itu sebelum penyesalan ini terasa pekat meremas hatiku.

“Aku paham..” Kamu refleks memelukku erat dan membiarkanku tenggelam dalam lengan hangat yang teramat kurindukan.

Malam prematur di taman ini menjadi saksi rahasia bernama cinta itu tumbuh mulai dari benih hingga menjadi pohon rindang, lalu rapuh dan rela ditebang demi sebuah kebersamaan yang lebih istimewa dari sepasang kekasih.

Cinta yang kusimpan sebagai sebuah rahasia ini memang sudah terlalu usang untuk diutarakan. Benar katamu, kita tak perlu meresmikannya ke dalam ikatan suci. Kita cukup menikmati usia senja sambil melihat anak-anak kita bahagia. Kita memang sudah semestinya meneruskan jalinan persahabatan, seperti garis takdir yang kita percaya.

Namun, mungkin kamu tidak tahu. Aku telah mengajak debar jantungku bersumpah. Di kehidupan berikutnya, saat kita kembali bangkit dalam keadaan muda, aku akan memohon kepada Tuhan agar orang pertama yang aku temui adalah kamu, begitu pula sebaliknya. Takkan kubiarkan siapa pun menghalangi kebersamaan kita meskipun dia bidadari, malaikat, bahkan lucifer. Cukuplah dahulu kita pernah sejauh bintang, namun aku ingin di surga nanti kita lebih lekat dari urat nadi. Aku ingin mengawali semuanya seperti sedia kala bermula. Biarlah rindu nanti menjelma cupid yang mempersiapkan pertemuan kita. Kalimat pertama yang akan kuucapkan dengan nada mesra padamu nanti adalah.

“Aku mencintaimu, kaulah jatukramaku..”

Advertisements

6 thoughts on “Reuni

  1. Pingback: Reuni | darinandita

  2. “Cukuplah dahulu kita pernah sejauh bintang, namun aku ingin di surga nanti kita lebih lekat dari urat nadi. Aku ingin mengawali semuanya seperti sedia kala bermula” — Nyesss !

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s