The Last Will

7779858778_ce0c71c38a

Tuhan bolehkah aku sedikit saja meminta kebaikan hatiMu sebelum pergi?

Sederhana saja, aku hanya ingin ia mengetahui hadirku meskipun dalam kesempatan yang digadai detik. Aku ingin mendekapnya erat, menghentikan sepasang air terjun di matanya, dan meyakinkannya bahwa ia mampu melewati semua ini.

Bagaimana pun juga, ini bukanlah kesalahannya, bukan keinginannya, bukan juga realita yang seharusnya ia tanggung. Aku hanya.. Aku tidak lain hanya kehabisan waktu untuk mendedahkan padanya bahwa aku benar-benar mencintainya.

Ia sedang duduk termenung meratapi keramik persegi bertuliskan namaku tanpa mengindahkan senja di atas kepalanya. Lagi-lagi, warna hazel matanya menjelaskan kelam hatinya lewat tetes-tetes menyerupai sungai kecil yang mendedangkan nada minor. Tubuhnya terlihat ringkih, rahangnya bergetar hebat, dan bibir tipisnya terkatup melepaskan bait doa padat permohonan untuk merayu kemustahilan demi mengembalikan waktu sebelum takdir mencetuskan kesanggupannya merebut aku.

Kuyakin jika kau berada di posisiku, kata hancur, remuk, lebur, luluhlantak, tak cukup untuk mendeskripsikan apa yang kurasa demikian saat ini.

Di ujung jalan, tampak seorang pria dengan setangkup senyum sabar menunggunya. Aku perlahan turun dari angkasa untuk menghampiri gadisku, menerobos gumpalan awan kemuning yang menyemburatkan gradasi warna biru, oranye, merah muda, dan kelabu, yang menyajikan lukisan Tuhan yang maha adiluhung. Burung-burung yang hendak pulang ke sarangnya melintas seiring aku merendah.

Akhirnya, kakiku menyentuh bumi, lalu kuperintahkan kakiku untuk berlari secepat mungkin walau aku sadar aku tak lebih lambat dari seekor kura-kura. Seluruh nadi di jantungku berdenyut hebat menimbulkan kabut di pelupuk mataku. Dadaku bergemuruh seperti kali kedua aku bertemu gadisku di pasar malam untuk berkencan. Aku tersenyum dan mencoba untuk menyentuhnya, tapi ragaku tak dapat melanggar hukum dimensi lain. Lenganku menembus tubuh gadisku.

Tuhan, kumohon untuk kali ini saja, batinku penuh doa.

Kemudian, perlahan, kurasakan tubuhku bercahaya, kemudian memadat tapi tetap tak dapat digapai mata yang masih bernyawa. Aku tak menyia-nyiakan kesempatan ini. Segera kupeluk gadisku erat. Namun ia hanya terdiam, berdiri mematung.

Rasakan, aku memelukmu.

Tangis gadisku berhenti perlahan, ia terpejam. Lantas, aku berbisik lekat-lekat di telinganya, “Aku mencintaimu, Maharani. Jaga dirimu baik-baik sampai kita bertemu kembali.”

Aku merasakan debar jantung gadisku berdebar seirama dengan jantungku. Sungguh, meski aku tidak tahu apakah ia benar-benar merasakan kehadiranku, tapi aku sangat bahagia. Kulihat gadisku tersenyum, meskipun ia memalingkan wajahnya, ia berkata dalam hati, suaranya menutup gendang telingaku dari eksistensi suara di bumi ini.

“Aku pun mencintaimu, Juna. Selamat jalan dan jangan sampai tergoda oleh bidadari di surga.”

Aku terkekeh. Tentu sudah pasti aku akan membuat para bidadari cemburu dan merajuk ketika mendengar jawaban siapa orang pertama yang ingin kutemui di nirwana.

Pria di ujung jalan itu tampak melihat ke arah kami. Sepasang matanya seolah dapat melihat keberadaanku. Aku cukup kaget ketika mendengar pria itu dapat berbicara lewat bahasa sukma. “Hei, sobat, Aku tahu, aku tidak akan pernah bisa menggantikan posisimu di hati Maharani. Tapi aku berjanji, aku akan mencintainya dengan seluruhku.

Aku tersenyum dan membalasnya dari kejauhan dengan suara yang disampaikan embusan angin yang mengajak dedaunan di sekitar menari.

“Kututipkan Maharani padamu, cintai ia lebih dari kesanggupanku.”

Pria itu tersenyum tipis dan mengangguk pelan, namun yakin.

Tiba-tiba entah dari mana asalnya, sesosok cahaya putih bersayap lebar yang sangat menyilaukan berada di belakangku, terlalu terang untuk kucerna bentuknya. Lengan dari cahaya itu menepuk pundakku, mengisyaratkan bahwa waktuku sudah habis. Dengan senyum tidak rela, aku mengecup kening gadisku, lalu melepas pelukan.

Permintaan terakhirku tersampaikan.

Tanpa aba-aba, aku kembali melesat ke angkasa dengan laju yang lebih kencang dari kecepatan cahaya. Melintasi antar galaksi dan bintang-bintang untuk menuju tempat di mana aku menunggu gadisku sampai tiba waktunya ia menyusulku.

Terima kasih, Tuhan.

Advertisements

2 thoughts on “The Last Will

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s