Kado

ef1640ec51ad2e6008958bd3eb9d775e

 

sumber: pinterest

“Seperti biasa ya, Mas.”

Minya enak, ambil aja kembaliannya. Makasih..”

Hanya dua kalimat itulah yang diucapkan oleh seorang gadis yang menjadi pelanggan setia mi ayam yang kujual di pinggir jalan Sudirman, tepatnya, di depan fX. Hari ini ia mengenakan kemeja krem dan rok selutut. Gadis itu duduk di antara jejeran sepuluh bangku plastik yang sudah ditempati pelanggan lain, yang sudah terlebih dahulu menikmati mi ayam buatanku berkat gerobak milik Koh Liem yang membantuku menyambung hidup di Ibu Kota.

Dengan harga lima belas ribu, ratusan orang yang bekerja di bagian selatan Ibu Kota ini sudah bisa mengenyangkan perut mereka ketimbang harus merogoh dompet lebih dalam dan mengantri demi memenuhi panggilan alam perutnya di dalam Mall.

Kalimat pertama sudah gadis itu ucapkan lima menit lalu. Kalimat yang menjadi komando agar aku segera menyajikan mi ayam. Aku tersenyum sembari mengaduk minyak ayam dan kecap asin yang kutambahkan dengan sedikit mecin sementara menunggu mi dan sawi hijau di dalam panci matang. Beberapa menit kemudian, aku mengangkat mi dan sawi hijau bersamaan dari panci dengan saringan, menaruhnya ke mangkuk dan meniriskannya sesaat, lalu mengaduk-aduknya agar bumbunya meresap. Kutambahkan beberapa sendok potongan daging ayam dengan kuah berwarna cokelat pekat yang menjadi nyawa cita rasa mi buatan Koh Liem.

Aku mengembuskan napas sejenak sebelum mengantar semangkuk mi ayam yang sedang kupegang kepada gadis itu. Kutundukkan kepala sambil berjalan menghampirinya.

“Ini, Mbak, silakan dinikmati,” ucapku kepada gadis itu sambil tersenyum tipis dan memberikan mangkuk.

Gadis itu mendongak. Ia menerima mangkuk mi ayam dengan tangan kanannya dan tersenyum lebar, sehingga dua gigi gingsulnya menyembul malu-malu. Kedua matanya berbinar cerah melihat semangkuk mi panas di tangannya.

Aku segera kembali ke gerobak sebelum tertangkap basah sedang terperangah melihat wajah manisnya. Sejenak, aku mengelap keringat di dahi dengan punggung tangan dan mengembuskan napas panjang, lalu mencuci mangkuk kotor sambil melihat gadis itu lewat ekor mata. Seperti biasa, ia sedang melakukan ritualnya: menyampirkan poni rambut ketika menghirup uap mi ayam sebelum menikmatinya. Sejurus kemudian, dengan wajah semringah, gadis itu melahapnya dengan sepasang sumpit di jemarinya.

Aku tersenyum semakin lebar melihat gadis itu tak memedulikan anak-anak rambutnya bergerak-gerak digoda angin nakal. Pemandangan yang membuatnya semakin tampak manis. Jika kuhitung, sudah hampir empat bulan gadis itu rutin makan mi ayam buatanku setiap jam makan siang tanpa merasa bosan. Kadang ia sendiri, kadang pula bersama beberapa temannya yang berpenampilan lebih ‘wah’ dengan dempulan make up. Sebenarnya aku tidak terlalu paham dengan kosmetik. Akan tetapi, tanpa berlama-lama mencatut diri di depan cermin pun kurasa hanya lelaki buta yang tidak tertarik padanya. Sesekali pula terkadang kulihat ada beberapa lelaki yang –entah temannya atau bukan– mengajaknya berbicara, atau sekadar berbasa basi untuk berkenalan.

Aku? Menggenggam potret senyum gadis itu dari gerobak sudah menjadi anugerah dan penyemangat di tengah terik sinar matahari yang membuat keringat bercucuran dan tak jarang kepala pusing. Aku bukan lelaki berjas mahal yang memiliki pekerjaan berjabatan tinggi seperti lelaki kebanyakan yang bekerja di daerah ini, dan…, ya, memiliki gaji yang cukup untuk membeli mobil dan menyenangkan hati perempuan dengan mempersilakan mereka menguras kartu kredit.

“Minya enak, ambil aja kembaliannya. Makasih..” Gadis itu menyodorkan selembar uang dua puluh ribu kepadaku dengan senyum puas, kemudian berlalu.

Kulihat ia melangkah memunggungiku menuju gedung di sebelah fX. Tidak jauh kemudian, ia berpapasan dengan dua temannya. Yang satu berambut sebahu dan yang satunya lagi berambut bondol. Mereka berbicara beberapa saat sebelum melambaikan tangan.

Dua teman gadis itu ternyata memesan mi ayam untuk dibungkus, lalu berdiri di belakangku menunggu pesanannya kubuat. Ketika aku sedang membuatnya, tak sengaja kudengar percakapan mereka.

“Eh barusan si Irma ngomong tentang apa? Oh iya, lo udah nyiapin kado belum buat dia?”

“Nanti aja pas pulang gue kasih tau. Emang ulang tahunnya kapan?”

“Tanggal 12 September. Seminggu lagi”

Oh, namanya Irma, batinku.

Seketika aku teringat setiap uang kembalian yang gadis itu berikan kusimpan di bawah bantal di kamar indekos. Uang itu sama sekali belum kusentuh untuk membeli apa pun dan kupisahkan dari uang hasil penjualan yang kuserahkan kepada Koh Liem. Mungkin uang itu lebih baik menjadi kado untuk gadis itu.

Tapi, kado apa yang harus kuberikan dalam waktu seminggu?

***

Malam itu, setelah mendapat izin dari Koh Liem, aku menemui salah satu temanku yang bekerja sebagai pengrajin tanah liat di daerah Cikini. Dulu, saat masih menganggur dan belum bekerja untuk Koh Lie, aku sering melihat temanku membuat kerajinan tanah liat, termasuk mangkuk. Kuserahkan seluruh uang kembalian dari Irma untuk membeli tanah liat dan menyewa alat-alat dan perlengkapan membutsir milik temanku itu.

Kurasakan ketegangan yang menyenangkan saat aku mulai membuat mangkuk dari tanah liat untuk kali pertama. Ruangan yang penuh dengan kerajinan tanah liat dan keramik yang diterangi lampu neon inilah, yang menjadi saksi bisu aku menjelaskan apa yang tidak mampu kulisankan.

Kutekan bagian tengah tanah liat dengan kedua jempol untuk membuat lubang di atas permukaan meja kayu bundar. Sambil membayangkan senyum Irma di tengah keringat yang deras bercucuran, kuratakan lubang itu sehingga membentuk mulut mangkuk yang bentuknya masih belum beraturan dengan ukuran diameter 14 sentimeter dan tinggi 5 sentimeter. Kemudian, aku menghaluskan bagian lubang dan sisi pantat mangkuk dengan menggunakan alat putar kaki yang membuat meja bundar sebagai alas tanah liat terputar otomatis, agar tanah liat yang kubentuk dengan telapak tangan menjadi cekung sempurna.

Percobaan pertama, mangkuk yang kubuat bentuknya lebih mirip panci kecil yang bagian pantatnya penyok. Percobaan kedua, hasilnya seperti gelas bangsa Viking yang berukuran jumbo. Percobaan ketiga lah yang akhirnya menjadi mangkuk, meskipun tidak terlalu sempurna. Lantas, setelah mangkuk itu selesai, sangat hati-hati kuarsir satu kalimat di bagian luar mangkuk, lalu sisanya kuserahkan kepada temanku yang merapikan finishing-nya.

Pagi hari, tanggal 11 September, aku sudah memasukkan seluruh pakaian dari lemari indekos ke dalam tas ransel termasuk mangkuk buatanku, lalu berpamitan dengan Koh Liem di teras indekos. Pria berumur 77 tahun yang telah mempercayakan dagangannya selama setahun kepadaku itu terlihat tidak rela. Ialah orang yang menyelamatkan seorang lelaki yang hampir putus asa mencari peruntungan di Ibu Kota dengan memberiku ilmu membuat mie ayam dan tempat tinggal layak.

Koh Liem memelukku cukup lama sambil menepuk punggungku beberapa kali, lalu berpesan untuk kembali lagi ke Jakarta suatu hari. Aku mengangguk mengiyakan sambil terpejam dan memantapkan hati sebelum meninggalkan indekos ini. Bang Rusli, tukang ojek pangkalan dekat indekos, telah menungguku di luar pintu gerbang. Aku menyalimi tangan Koh Liem sambil menyembunyikan sesuatu yang nyaris tumpah mengingat kebaikannya.

Kemudian, aku diantar Bang Rusli menuju sebuah indekos perempuan di daerah Fatmawati. Indekos yang menjadi tempat tinggal seorang gadis bernama Irma. Aku mengetahui alamatnya dari seorang tukang ojek yang biasa mengantar gadis itu berangkat dan pulang kerja. Sepanjang perjalan, tak henti-hentinya aku berdoa semoga kado ini diterima oleh Irma.

Sesampainya di sana, aku menekan bel di pintu gerbang berwarna putih. Lalu muncul wanita paruh baya mengenakan daster yang membuka pintu gerbang. Kujelaskan maksud kedatanganku ke sini untuk memberikan kado ulang tahun Irma. Wanita itu mengangguk mengerti dan tersenyum, lalu berkata bahwa ia akan memberikannya kepada Irma ketika gadis itu pulang kerja.

Aku tersenyum lega dan membiarkan perasaan bahagia ini mengalir di relung dadaku meski hanya sesaat. Ada batas yang akhirnya berani kulangkahi. Sesuatu yang mungkin disebut menyampaikan rasa dengan bahasa yang hanya bisa kamu sentuh.

Aku senang mendapatkan kesempatan mencintaimu walau hanya dalam diam. Apa yang telah menjadi rahasia, biarlah tetap menjadi rahasia. Sekali pun nantinya semesta berbaik hati mentitahkan waktu untuk mempertemukan kita kembali.

Kuharap itu menjadi awal yang indah.

***

Aku melangkah dengan riang menghampiri gerobak mi ayam langgananku. Tak sabar ingin segera menikmati mi ayam yang rasanya sama seperti buatan almarhum ayahku.

“Seperti biasa ya–“

“Biasa gimana ya, Mbak? Maaf saya orang baru yang ngurus mi ayam Koh Liem.” Tukang mi ayam itu membalikkan badan dengan raut bingung.

Aku mengerjapkan mata dan melihat tukang mie ayam yang berbeda. “Lho, memang Mas yang kemarin ngurus ke mana?”

“Dia pulang kampung tadi pagi, Mbak.”

“Serius? Ke mana?” Aku melotot tidak percaya.

Tukang mi ayam itu menggaruk rambut dan terlihat gugup. “Saya juga nggak tahu karena saya juga belum pernah ketemu, cuma tahu namanya aja dari Koh Liem. Kalau nggak salah namanya Indra.”

“Oh..” Entah kenapa terbesit rasa kecewa yang cukup dalam di batinku. “Ya udah, pesan mi ayamnya satu. Sawinya jangan pakai batang ya. Ini uang kembaliannya ambil aja.”

“I–Iya, Mbak. Terima kasih..”

Aku duduk di kursi plastik dengan perasaan cemas bercampur penasaran. Ada apa gerangan tukang mi ayam bernama Indra itu pulang kampung?

Apakah ada sesuatu yang buruk terjadi? Apakah ia dipecat oleh orang bernama Koh Liem? Ataukah ia teramat merindukan keluarganya? Ah, terlalu banyak pertanyaan yang kini berhamburan di pikiranku.

Lima menit kemudian mi ayam yang kupesan sudah berada di tanganku. Aku menghirup uap mie ayam. Aroma gurih yang biasanya berhasil menghilangkan suntuk sangat berbeda sekali. Kucicipi suapan pertama. Dan lagi, rasanya berbeda, sedikit lebih asin. Selera makanku menguap seketika. Aku hanya memakan potongan daging ayamnya saja suapan demi suapan, hanya itu yang memotivasiku untuk mengusir lapar.

Aku melihat gerobak mi ayam dari posisi duduk. Tidak ada lagi curi-curi pandang melihat lelaki bertubuh tegap yang biasanya mengelap keringat dan sesekali melihat ke arah kantorku. Aku tidak mengerti dari mana asalnya kerinduan akan sosoknya yang selalu tersenyum ramah kepada setiap pelanggan dan suara beratnya yang sungguh membuatku ingin memeluknya. Melihatnya mengingatkanku pada sosok almarhum ayah di masa kecil, ketika menemani beliau berjualan mie ayam di sekolah dasarku.

Jika saja aku berani mengajaknya mengobrol sedari dulu, atau memperhatikan detil ketika ia membuat mi ayam terenak yang pernah kumakan, mungkin aku tidak akan merasa bodoh seperti ini.

***

Aku kaget ketika mendapati sebuah kado yang terbungkus kertas koran di depan pintu kamarku. Ada tanda tanya raksasa di benakku ketika aku membersihkan diri di atas shower. Siapa yang memberikan kado ini? Bila ia adalah teman kantor, tentunya kado yang diberikan sudah kumasukkan di dalam kantung plastik besar yang membuatku pulang menaiki taksi.

Lagi-lagi tanda tanya raksasa berserakan di pikiranku.

Setelah selesai mandi dan mengenakan piyama, aku kembali melihat kado itu. Sambil menahan debar jantung yang membuahi rasa penasaran, perlahan kubuka selotip bening yang merekatkan sisi kertas. Kudapati sebuah kotak lipat berwarna biru muda yang di dalamnya hanya berisi sebuah mangkuk cokelat mengilap seperti terbuat dari tanah liat.

Siapa yang menghadiahiku mangkuk?

Aku memperhatikan mangkuk itu dengan seksama. Tekstur permukaannya sangat halus. Aku mengusap seluruh bagian mangkuk itu dan perlahan-lahan terpejam membayangkan siapa pembuatnya.

Ingatanku mengantarkanku kepada seorang berambut cepak yang senyumnya selalu kurekam diam-diam saat jam makan siang. Caranya membuat mangkuk demi mangkuk mi ayam dengan penuh kesungguhan, caranya berbicara yang ramah, cara menatap mataku sambil menunduk, dan caranya yang lihai menyembunyikan sipu malu.

Kurasakan ada sesuatu yang begitu besar disampaikan mangkuk ini, seperti cinta yang telah lama dipendam sebegitu hebat sehingga tak pernah dideteksi indera pengelihatan. Aku mengenyahkan pertanyaan bagaimana cara dia mengetahui hari ulang tahun dan alamatku. Sebab, kejutan ini tak sama sekali memunculkan prasangka yang menyinggung etika. Kejutan ini terlalu indah untuk diganggu pemikiran buruk.

Bagian epidermis jemariku perlahan menyentuh sesuatu di permukaan mangkuk yang sangat samar untuk ditangkap mata, tapi jelas terjamah hati yang beralih peran sebagai indera peraba. Sesuatu berbentuk jejeran beberapa kata yang membentuk kalimat yang dibuat dengan penuh lembutnya ketulusan.

Selamat ulang tahun, Irma.

Aku tersenyum saat memafhumi kalimat itu. Semoga kelak suatu hari aku dapat menikmati mi ayam buatanmu lagi, lalu mengucapkan terima kasih dan memberikan senyum terbaikku untuk sebuah perkenalan.

Advertisements

2 thoughts on “Kado

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s