Usaha Bunuh Diri

hangmans-noose11

Nyala temaram lampu berbentuk telur yang menggantung di atas meja tempat kita berhadapan membuat wajahmu terlihat samar. Sementara pembicaraan kita sedari setengah jam lalu sedang melahirkan jeda, aku memperhatikan rekatan pecahan kaca yang membungkus bohlam di dalamnya, setelah kau memasukkan sebuah lingkaran logam mulia ke saku kemejamu dengan mata merah.

Orang-orang dengan berbagai macam ekspresi di sekitar kita tampak sibuk dengan urusannya masing-masing sambil sesekali menikmati hidangan di meja mereka. Mereka seolah tak menyadari keberadaan dua anak manusia yang sedang berada di ujung tanduk sebuah kebersamaan: kita.

Pecahan-pecahan kaca pada lampu itu mengganggu pikiranku, seperti merefleksikan kita, Naviela. Sudikah kiranya kau memikirkan nasib genggaman tangan kita setelah perbincangan ini. Aku tidak tahu pasti dari mana ketakutan ini muncul. Ketakutan ini semakin menyeruak ketika melihat raut cemas yang kentara di wajahmu, membuat kekhawatiran di relung dadaku berfluktuasi.

Mulutmu bungkam dengan pandangan berlari-lari ke setiap sudut kafe ini dan belum menginginkan hinggap di kedua mataku. Sialnya, aku tidak bisa melakukan apa-apa demi menghentikan laju pikiranmu yang tidak dapat kutebak.

Senyummu tak lagi ceria seperti kali pertama kita bertegur sapa meskipun selalu kuupayakan usaha agar kedua ujung bibir itu terangkat. Namun tampaknya kau memilih untuk pasrah dan mengajakku melakukan hal yang sama.

“Kau mencintainya?” tanyaku sambil menggerakkan jemari tangan kananku mendekati punggung tanganmu.

“Aku terpaksa harus mencobanya, Ndra.” Tanganmu yang hendak kugenggam beringsut. Barulah sepasang cokelat matamu yang sedari tadi berlari-lari hinggap di mataku.

“Mengapa?”

“Karena ini bukan keinginanku,” ucapmu dengan rahang bergetar dan penekanan nada pada kata ‘bukan keinginanku’. Napasmu mulai memburu dan kutahu kau sedang menahan sesuatu yang sebentar lagi meledak dari matamu, “bagaimana bisa aku menjalani rumah tangga selamanya bersama seseorang jika aku tidak mencintainya? Apakah itu bukan salah satu percobaan bunuh diri yang direncanakan?”

Tenggorokanku tercekat mendengar pertanyaanmu. Tak ada satu pun kalimat yang bisa menjadi jawaban untukmu, lantas hanya diam yang bersua di pita suaraku. Andai saja setelah lambain tangan dan beberapa pesan penghibur yang menghancurkan rasa terucap, kenangan pada hari-hari kita selama dua tahun dapat terhapus semudah menekan tombol delete di ingatan.

Aku terpejam sambil merasakan nyeri yang maha mulai merangkak dari dada ke mata, lalu berkata dengan nada lirih, “Tak adakah kemungkinan yang bisa kulakukan demi mempertahankan kita?”

Kamu membuang napas berat. “Ada.”

“Apa itu? Katakanlah, aku akan melakukan apapun,” kataku seraya menelan ludah. Aku sudah tidak lagi butuh pemikiran panjang dan mempedulikan risiko dari hal gila yang nantinya akan kulakukan.

Sungguh, Naviela, bersamamu adalah satu-satunya yang kubutuhkan demi keberlangsungan hidupku. Aku sudah lelah mencari dan berkelana dari satu hati ke hati lainnya demi menemukan seseorang yang membuatku merasa cukup dan setia sampai hela napas terakhir.

“Kita mati bersama-sama,” ucapmu pelan, dan yakin. Kedua matamu yang memerah mulai berlumuran air yang menyimbolkan sebuah batas tegar.

Haruskah aku menarik ucapanku barusan? Apapun akan kulakukan tapi terkecuali perkataanmu barusan. Aku belum ingin mati. Aku masih ingin menyulam kebahagiaan bersamamu meski nantinya akan banyak pisau ancaman yang selalu siap menusuk kita. Tapi…, tapi bukan berarti pisau itu berasal dari tangan kita sendiri.

Udara dingin yang menguar di sekitar kita mulai menimbulkan gigil di kulitku yang tidak mengenakan jaket. Namun tak kubiarkan gigil ini melahirkan jeda pada pembicaraan kita untuk kedua kalinya.

“Ela, kau mencintaiku?”

“Menatap matamu selalu berhasil membuatku merasa pulang dan menemukan diriku. Pelukanmu seperti obat penenang yang menyembuhkanku dari getirnya kenyataan. Butuh alasan apa lagi untuk berkata tidak?”

Secuil senyum tabah terhias di bibirku. Baiklah.

Aku menggenggam tanganmu sambil menarik napas yang panjang dan berat. Sorot matamu kembali teduh, tapi menyiratkan tanya terhadap hal yang sedang kulakukan ini. Mulutmu terangkat setengah.

Aku mengusap butiran air mata yang memeluk pipimu sambil menatapmu lekat-lekat. Garis wajahmu memperlihatkanku sebuah usaha untuk tersenyum.

“Berjanjilah kau akan mencintaiku sampai batas yang tak bisa kamu lakukan, Ela. Aku telah memutuskan seluruh hidupku untuk membuatmu bahagia sejak bertemu denganmu, tapi bukan dengan cara menghilangkan nyawa.”

Air matamu jatuh lagi.

Kamu terisak tanpa menghiraukan berpasang-pasang mata yang kini menaruh perhatian dan mencari tahu tentang apa yang terjadi di antara kita. Namun kita memilih tidak peduli.

“Entah aku harus melakukan apa lagi di sisa hidupku yang malang ini. Namun jika mati kau anggap jalan terbaik, maka kebersamaan kita selama ini jelas adalah kesalahan.” Aku mengeratkan genggaman tanganku pada tanganmu, “tak perlu ucapkan selamat tinggal, karena kau akan tetap tinggal selamanya di sini,” lanjutku sambil menunjuk bagian dada kiri.

Air mataku jatuh.

Usaha bunuh diri ini berhasil.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s