Home (Part-1)

Young couple holding hands

sumber: tumblr

I’m only happy when I’m with you
home for me is where you are.
I try to smile and push on through.
But home for me is where you are.

Lagu Take Me Home milik Us The Duo terdengar pelan di seluruh penjuru kafe yang tidak terlalu ramai ini. Membuat suasana intim di antara aku dan Derry. Kalau kata orang, serasa dunia milik berdua.

Di atas meja cokelat tempat kami bertukar senyum, dua cangkir putih gading yang masing-masingnya terisi moccaccino dan hot green tea menemani perayaan tiga bulan kami yang sederhana. Jendela di samping kananku menawarkan pemandangan senja begitu indah dengan gradasi warna merah, oranye, dan biru bercampur mewarnai cakrawala.

“Vina, kamu kok tumben diem aja? Jangan bilang lagi nahan sakit perut?” tanya Derry dengan nada menggoda dan senyumnya yang berhasil membuat wajahku memerah.
“Kamu nggak tau aku diem kenapa?” Aku memiringkan kepala beberapa derajat.
Derry menggelengkan kepala.
“Dengerin lagu yang diputerin deh, pas banget buat perayaan tiga bulan hubungan kita.” Aku menghadiahi senyum untuk Derry yang kemudian mendengarkan lagu itu dengan seksama.

They tell me that I’ll make it.
It’ll only be a while.
But a while lasts forever
Without you…

Menurut teman-temanku –yang pengalaman pacarannya sudah mumpuni, ada beberapa fase yang menentukan perkembangan sebuah hubungan. Mereka bilang, satu bulan pertama adalah fase di mana dua orang di dalam hubungan itu saling beradaptasi. Bulan kedua, fase saling memahami karakter pasangan. Dan bulan ketiga, ialah fase hubungan sedang hangat-hangatnya. Alias mesra banget.

Ya, tak dapat kupungkiri bulan ketiga dalam hubungan kami penuh dengan senyum dan tawa. Belum ada kerikil kecil atau batu yang menyandung langkah kami berdua. Semua masih baik-baik saja. Derry begitu memahamiku yang cerewet dan, ya, sedikit manja.

Send out the alarms
I’m all alone
Wrap me in your arms
Take me home
Take me home
To your arms…

Derry masih terlihat menikmati lagu itu dan mencerna makna liriknya. Rambut ikalnya bergerak ke kiri dan ke kanan seiring kepalanya bergerak pelan. Ia tersenyum.

“Enak, kan, lagunya?” kataku seraya menyeruput pelan green tea milikku.
“Iya, nanti aku cari kunci nadanya deh, biar kita bisa nyanyi bareng. Aku main gitar, kamu yang nyanyi,” ucap Derry sambil mengetuk jemarinya di permukaan meja, menyamakan irama musik lagu yang terhantar di udara.
“Serius?” Aku sedikit kaget. Sejak pertama kali saling mengenal dua bulan lalu, tak pernah kutau jika Derry bisa bermain gitar.
Derry terkekeh seraya mengangkat sebelah alisnya. “Aku keren, kan?”
Aku menggelengkan kepala. “Enggak, biasa aja tuh.”

I won’t be happy ’till I’m with you
Home for me is where you are.
These four walls are nothing without you.
Home for me is where you are.

Kami berdua tertawa. Kemudian, perlahan-lahan kelima jari Derry bergerak mendekati tanganku. Demi Tuhan, jantungku berdebar kencang dan kurasakan hatiku menghangat.

You are my home, Avina,” ucap Derry pelan, lalu mengecup punggung tanganku. Lagu Take Me Home tetap berlanjut sementara sorot mata Derry menatapku penuh cinta.

Cerita pembuka #MenulisBerantai #TimPacaran dalam festival #LoveCycle yang diselenggarakan oleh @Gagasmedia

Simak kelanjutan ceritanya di nikmall.blogspot.com oleh @NikmalAbdul ya! 😀

header blog (2)

Advertisements

6 thoughts on “Home (Part-1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s