My Romantic Purple

tumblr_inline_mlk49mP9gB1qz4rgp

source: tumblr

It’s the darkness in you that makes me so pure
The image of you has been burn into my eyes.

Pukul setengah empat sore Depok mendung untuk ke sekian kalinya dalam dua bulan terakhir, begitulah kira-kira cuaca kota Belimbing ini. Kulihat gumpalan awan kelabu bergantung pada langit yang gelap menutupi matahari yang barangkali mengalah, dan sesekali terdengar petir menggelegar yang menjadi pertanda sebentar lagi semesta menangis. Tanpa sadar, entah kenapa seulas senyum sederhana terhias di bibirku.

Pandanganku teralih pada Ashalia yang sedang bertopang dagu di hadapanku. Gadis itu mengenakan kaus putih yang dibungkus cardigan cokelat dan celana jeans yang menutupi setengah bagian pahanya yang putih mulus. Kakinya terbalut Vans Authentic hitam buluk dengan tali yang diikat asal. Aku seringkali mengomel padanya setiap kali ia mengenakan celana jeans jahanam itu.

Terang saja aku tidak ingin lelaki berotak mesum melihat betapa mulus kulitnya. Namun ia selalu mengantisipasi omelanku lewat manuver kalimat ajaib ditambah tatapan tajam. ‘Kalau gue udah jadi pacar lo, baru gue buang nih celana.’ Jika sudah begitu, aku hanya diam dan mengembuskan napas panjang.

Kepala Ashalia sedang menengok ke kiri, memandangi dua ekor anak kucing yang saling berkejaran tidak jauh dari tempat kami duduk di teras McDonald’s ini,  tempat kami biasa membunuh waktu senggang kala realita terasa membosankan.

“Fan, anak kucing itu lucu deh, dari tadi mereka saling kejar-kejaran,” kata Ashalia mengomentari dua kucing itu seraya tersenyum tipis, lalu ia terkekeh. Binar kedua matanya menunjukkan seolah ia juga menjadi kucing namun dalam bentuk yang lain.

Aku menyuap McFloat rasa blueberry yang kupesan tujuh menit lalu ke dalam mulut dengan sendok plastik kecil, dan merasakan rasa manis-asam-dingin terkecap di lidahku, lalu bergumam, “Iya, mereka kejar-kejaran gitu. Apa nggak capek ya?”

“Ya pasti capek, lah, Fan. Apalagi yang dikejar selama ini gak tau.” Tiba-tiba saja Ashalia mengucapkan kalimat itu dengan lirih dan membuatku hampir tersedak. Sekilas kulihat wajahnya mulai terlihat sendu.  Aku langsung menyambar botol Aqua yang berdiri angkuh di tengah meja kami, lalu meneguknya dengan cepat.

Setelah beberapa tegukan dan menyeka sisa-sisa air di sekitar mulut, aku berdeham. “Santai, Sha. Suatu hari nanti mungkin Kia bakal sadar kalau lo sayang sama dia,” kataku pelan.

“Tapi kapan, Fan?” Ashalia mendesah dan tersenyum pilu. Lagi-lagi ia bertanya pertanyaan yang membuatku gusar.

“Entahlah…” Hanya itu jawaban yang bisa kuucapkan sembari mengangkat bahu. Ya, entah kapan kamu juga menyadari keberadaanku selama ini, Sha, ucapku meringis dalam hati.

Ashalia mengalihkan pandangannya kepadaku setelah dua ekor kucing yang sedari tadi dia perhatikan pergi entah ke mana. Alisnya yang tebal terangkat dan kepalanya miring ke kanan beberapa derajat, membuat rambut bob-nya ikut bergerak. “Kalo lo jadi gue, lo bakal gimana, Fan?” tanya gadis itu dengan kening berkerut.

Aku jelas melihat banyak sekali peluh di sana. Peluh selama setahun ini menunggu seseorang yang dicintainya sadar sedang dicintai teramat sangat. “Jawab serius atau bercanda nih, Sha?” Aku berbalik tanya dengan senyum iseng.

“Oh, baiklah. Gue pulang nih…” Ashalia seketika cemberut, kedua tangannya memegang pegangan kursi besi, bersiap beranjak dari posisi duduknya. Sepertinya mood-nya sedang buruk.

“Hahaha, Ashalia Renata, jangan baper kenapa sih.” Sebelah tanganku mengacak-acak rambutnya yang hitam legam. “Oke, oke, gue jawab serius ya.”

I listening to you, now, Affandi Darmawan.” Wajah gadis yang mirip penyanyi Youtube bernama Hannah Trigwell itu tersenyum dan kembali bertopang dagu seperti semula, tetapi kali ini ekspresinya serius. Pipi tirusnya yang dianugrahi sebelah lesung di bagian kanan seolah menggodaku untuk mencubitnya sebelum hendak berbicara. Namun niat jahil itu segera kuurungkan sebelum McFloat blueberry milikku yang mulai mencair berpindah ke wajahku.

Aku menarik napas panjang sejenak, membiarkan udara yang kini terasa sedikit dingin memenuhi rongga paru-paru. Kemudian, aku membakar sebatang rokok Sampoerna mild merah dan menghisapnya dalam-dalam. Kubiarkan sedikit rasa sesak menyeruak di kerongkonganku.

Well, ya, kalau gue jadi elo, gue bakal berhenti mengejar seseorang yang sedang mengejar orang lain, Sha. Tepatnya, berhenti mengejar orang yang gak pernah melihat ke arah lo.” Aku tersenyum sekilas lalu pura-pura batuk, “ada baiknya mending lo kasih jeda sebentar buat hati lo istirahat. Juga, ya, lo melihat di sekitar siapa tau aja ternyata selama lo ngejar Kia, ada juga yang lagi mengejar lo.”

Ashalia mengerjap, air mukanya jelas menunjukkan kebingungan. “Maksud lo selama gue mencintai Kia, mungkin ada juga yang sedang mencintai gue?” Matanya berbinar.

Aku menganggukkan kepala seraya tersenyum lebar. “Yap, that’s the point.”

Namun bukannya Ashalia berpikir, ia malah justru mengibaskan tangan. “Ah gak mungkin, kalau memang ada pasti orang itu ngedeketin gue, Fan.”

“Yaaah, segimana lo aja deh, Sha. Ini kan menurut gue aja.” Aku mendesah pelan, pura-pura merasa sebal. Namun memang ada sedikit rasa kesal mendengar responnya begitu.

Ashalia hanya terkekeh dan meraih ponselnya untuk mengabadikan wajahku yang terlihat konyol. Aku tidak peduli dan marah jika wajah konyol itu ia unggah di media sosial, tak masalah, asal dia merasa bahagia. Asal senyumnya merekah dan tawanya mengudara. Barangkali hal-hal kecil seperti itu yang dapat kulakukan untuknya agar tidak bersedih memikirkan Kia.

Ya, begitulah orang yang sedang jatuh cinta dan mengejar orang yang dicintainya. Mereka tidak memperhatikan sekitarnya karena terlalu fokus menatap ke depan. Padahal, siapa yang tau jika ada seseorang yang sedang bersembunyi dan menyembunyikan perasaan terhadapnya? Bagaimana mereka dapat mengetahui keberadaan orang yang melihat mereka di belakang jika mereka tidak berhenti sejenak dan membalikkan badan?

Seperti aku selama ini.

Hujan deras pun turun membasahi bumi disertai jerit petir yang mewakili hati kami. Deru angin yang dingin membekukan suasana. Hanya suara bulir hujan yang menelan keheningan di antara aku dan Ashalia. Tak ada sepata kata yang terucap hingga petugas kebersihan McDonald’s mulai mengepel lantai dan membersihkan sisa makanan kami.

Aku dan Ashalia hanya saling menunduk dengan garis senyum yang tak selesai dan pikiran yang saling memunggungi.

***

I see you before me, before everything I see.

Aku masih ingat setahun lebih tiga bulan empat hari lalu sejak pertama kali bertemu Ashalia di kafe dekat kampus kami. Ya, aku dan Ashalia kuliah di universitas dan angkatan yang sama namun berbeda fakultas. Ia Manajemen, sedangkan aku Sistem Informasi.

Kala itu aku sedang berkutat di depan laptop mengerjakan tugas coding-an yang super rumit sambil menikmati hazelnut coffee dengan telinga tersumpal earphone yang menghantarkan playlist lagu-lagu dari band The Milo. Tibalah malapetaka itu setengah jam kemudian. Saat tugasku setengah selesai, seorang gadis dengan langkah ceroboh menyandung kabel charger laptopku yang menyala tanpa baterai karena terhubung langsung pada colokan di sudut dinding yang tersusun dari batu bata cokelat.

Suara DUG! terdengar bersamaan dengan laptopku yang tiba-tiba mati. Aku sontak berdiri sambil menepuk kening. “Astaga! Tugas gue…”

Aku memutar badan dan melihat kabel charger laptopku terlepas sepaket dengan Ashalia yang sedang bersandar di dinding sambil meringis dan mengusap-usap lututnya. Beruntung suasana kafe yang penuh lukisan kopi ini di tiap sisinya sedang sepi, hanya ada kami berdua di smoking area.

Tsk! Kalau jalan hati-hati dong, Mbak. Hilang deh tuh tugas gue yang setengah jadi,” desahku sambil menggaruk rambut dengan kasar, lalu membantu gadis itu yang sedang berusaha berdiri dengan payah. Tadinya aku hendak marah, tetapi amarahku langsung menguap saat melihat lutut kanannya berwarna merah kebiruan di balik rok hitam sebetisnya.

“Serius? Maaf, maaf,” kata Ashalia panik sambil memegang lenganku yang sedang membopongnya. “Sumpah gue tadi jalan pikiran gue ke mana tau. Aduh gimana dong?”

Sambil menuntun Ashalia duduk di kursi terdekat, aku berkata, “Yaudah gak apa-apa, masih bisa gue kerjain nanti.”

“Beneran?” Ashalia memandangku dengan ekspresi penuh rasa bersalah bercampur menahan rasa sakit. Aku mengangguk sambil menggulung kabel charger laptop, lalu memasukkannya ke dalam tas. “Iya, it’s okay. Kaki lo luka tuh, tunggu di sini sebentar.”

“Eh, lo mau nga–“

Tanpa menunggu Ashalia menyelesaikan kalimatnya aku langsung bergegas ke meja kasir untuk meminta handuk bersih dan es batu pada waiter yang tadi mengantar pesananku. Setelah mendapatkan keduanya beberapa menit kemudian, dengan langkah cepat aku menghampiri Ashalia yang tangannya sedang bertumpu pada sisi kursi sambil meringis kesakitan.

Aku berjongkok di hadapan Ashalia. “Angkat dikit rok lo, gue mau tempelin es batu biar gak bengkak,” perintahku seraya menggulung es batu dengan handuk. Ia hanya menangguk dan perlahan mengangkat roknya dengan wajah sedikit memerah.

“Tenang, gue bukan cowok mesum yang suka cabul sama cewek.” Aku mengusap lutut Ashalia dan menempelkan handuk berisi es batu.

Ashalia tersenyum memandangku yang sedang menekan pelan es batu di lututnya. “Iya, gue percaya kok. By the way, terima kasih ya, dan maaf banget atas kecerobohan gue.”

No problem. Tugas bisa gue kerjain ulang. Luka lo lebih penting.” Aku membalas senyumnya. Kemudian terjadilah hening yang cukup panjang di antara kami. Aku menatap handuk yang menempel di lutut gadis itu baru menyadari betapa pemiliknya ternyata sangat manis.

Kurang lebih tiga menit kemudian barulah keheningan kami selesai. Ashalia menepuk pundakku masih dengan senyum yang sama. “Nama gue Ashalia, and you?”

“Gue Affandi, panggil aja Fandi,” jawabku sambil menjabat tangannya. “What’s your problem? Sampai bikin lo gak konsen jalan dan membumihanguskan tugas gue,” ledekku sambil tergelak.

Bibir gadis itu cemberut. “Kenapa sih cowok itu gak peka?” Tiba-tiba ia bertanya.

“Okay, kenapa juga cewek selalu ngasih kode? Gengsi? Malu?”

Both, masa sih cewek harus ngomong langsung kalau suka?”

“Emang itu sebuah kesalahan?” Aku terkekeh memandang Ashalia yang menyilangkan lengan di dada. Wajahnya lucu sekali. Cemberut, kesal, dan malu bercampur menjadi satu.

“Iya bukan sih, tapi kaaaan… Tau ah! Sebel!” gerutu gadis itu sambil secara reflek memukul pelan pundakku.

“Hei, hei, hei. Kok keselnya jadi sama gue?” Gantian aku yang memasang wajah kesal.

Ashalia menutup mulutnya dengan telapak tangan. “Eeeeh, iya, maaf. Aduh gue kok jadi oon gini sih gara-gara si Kia.”

“Oh, jadi namanya Kia.” Aku menganggukkan kepala dan melepas handuk dari lututnya. “Nah, sekarang lo minta tolong sama dia aja nih buat megangin handuk. Gue mau ngerjain tugas lagi.”

“Yaaaah, jangan dong, masa sih lo tega nyuruh gue begitu.” Ashalia menahan tanganku. Namun dengan cepat melepasnya lagi. Merasa serba salah. Aku tertawa terbahak-bahak di dalam hati.

“Makanya jangan nyebelin,” kataku seraya berdiri dan melangkah menuju kasir untuk mengembalikan handuk dan sisa es batu. Sekembalinya, aku membereskan laptop dan memasukkannya ke dalam tas, lalu menghabiskan kopiku yang telah dingin dalam satu tegukan.

Kulihat Ashalia menundukkan kepala dan terdiam di samping tas backpack-nya. Entah apa yang sedang berada dalam pikiran gadis itu. Aku menebak ia sedang memikirkan pria bernama Kia.

Aku mencolek punggung gadis itu. “Hei, lo gak pulang? Gue cabut duluan ya? Bayarin tuh kopi gue sebagai ganti rugi.”

Ashalia tidak menjawab ucapanku. Namun samar-samar terdengar isakan. Aku mencoleknya sekali lagi, barulah ia mengangkat kepalanya dan kulihat wajahnya basah. Aku langsung melempar tas selempangku ke meja dan secara refleks memeluk gadis itu. Dan tidak ada tanda-tanda penolakan dari gadis itu.

“Sha, are you okay?” tanyaku sambil mengusap punggungnya. Kurasakan sangat jelas jantungku berdebar kencang sekali dan perlahan hadir hasrat ingin melindunginya.

“…”

Aku mengerjapkan mata, mencoba mengingat apakah aku melakukan kesalahan atau salah mengucapkan kalimat. “Hei, sorry kalau gue salah terus bikin lo nangis. Please, say something…”

Ashalia beberapa kali menarik napas dengan sedikit kesulitan, barulah ia dapat berbicara meski sedikit terbata-bata. “Gu… Gu-gue… Gue… Nggak kuat jalan. Kaki gue sakit banget, Fan.”

“Astaga, bilang dong, nggak pake nangis gini. Gue udah keburu panik. Untung gak ada yang liat, bisa-bisa gue disangka mesum.” Aku segera melepas kedua tanganku dari punggungnya dan duduk di samping gadis itu.

Isakan Ashalia berhenti, lalu ia berkata dengan nada menyebalkan bercampur pasrah. “Ya abis kaki gue sakit, nggak bisa jalan, terus gimana gue pulang ke kosan? Ngesot?”

Giliran aku yang ingin menangis. Sungguh menyusahkan sekali gadis itu. “Yaudah gue anter, kosan lo di mana?”

“Lo beneran mau nganterin gue pulang? Ya Tuhan, ternyata orang baik di dunia ini bukan cuma mitos.” Kedua mata Ashalia berbinar menatapku seolah tak percaya tawaranku barusan.

“Hadeh, iya, kosan lo gak jauh kan?”

“Enggak kok nanti gue kasih tau jalannya, yaudah yuk sekarang aja. Keburu hujan.” Tangan Ashalia memegang pundakku untuk berdiri perlahan-lahan. Aku membopongnya menuju pintu keluar smoking room yang terbuat dari kaca tebal.

“Pacarnya kenapa, Mas?” tanya penjaga kasir wanita sambil memandang heran ke arah kami saat aku membayar kopiku dan pesanan Ashalia.

“Biasa, oonnya kambuh, Mbak,” jawabku asal. Ashalia melirikku tajam dan mencubit pinggangku. Sontak aku menjerit, “Aww! Udah oon sensi lagi.”

Wajah gadis itu bersungut-sungut. “Saya bukan pacarnya, Mbak,” sanggahnya. Penjaga kasir itu tertawa geli melihat tingkah kami berdua.

Aku menuntun Ashalia duduk di jok belakang motor Beat-ku. Ia tampak susah payah mengangkat kaki kanannya. Akhirnya ia duduk dengan posisi kaki miring ke kiri. “Pegangan, Sha, kalau lo nggak mau sebelah kaki lo luka juga,” kataku sambil memasang helm half-face biruku ke kepalanya. Gadis itu mengangguk nurut dan melingkarkan kedua tangannya di pinggangku dengan sedikit kaku.

Motorku pun melaju pelan melewati jalan Kelapa Dua yang saat itu padat merayap akibat banyak mobil angkot yang ngetem. Berkali-kali aku mengeluh kesal melihat supir kendaraan umum itu suka seenaknya mencari rezeki dengan mengorbankan waktu dan emosi orang lain.

Setelah hampir sepuluh menit -seharusnya bisa lebih singkat- aku tiba di depan kos Ashalia yang terletak di belakang kampus. Ia turun dari motorku dan berusaha melangkah sedikit jinjit untuk membuka pintu gerbang besi hitam. Aku buru-buru mencegahnya dan membuka pintu gerbang itu, kemudian memasukkan motor dan duduk di sofa tamu.

“Ini kosan gue, kamar gue ada di pojok situ nomor dua belas.” Telunjuk Ashalia mengarah pada sebuah pintu bercat biru yang di bagian tengahnya memiliki flat plastik krem, tertera nomor dua belas yang tebal di sana.

“Okay, gue langsung cabut ya, Sha.” Aku menepuk pundaknya dan melangkah, tetapi tangan gadis itu menahanku. “Nggak mau mampir dulu? Gue belum ngasih lo minum,” ajaknya sambil tersenyum.

Aku menggelengkan kepala. “Next time deh, mending lo istirahat biar kaki lo cepet sembuh. Hmm…, ya, lo simpan aja nomor gue.” Ashalia menangguk dan mengeluarkan ponselnya dari dalam tas, lalu menyimpan dua belas digit nomor yang kuucapkan.

Then, semoga lekas sembuh dan gak banyak ngelamun, Sha.” Aku tersenyum seraya melambaikan tangan dan melangkah menuju motorku.

“Iya, thanks for everything. Lo orang paling baik yang pernah gue kenal,” balasnya dengan senyum tulus. Tiba-tiba langkah kakiku berhenti tanpa komando, seolah meminta kedua bola mataku merekam senyum itu yang terlihat manis sekali. Untuk kedua kalinya jantungku berdebar kencang dengan perut yang terasa diserang sakit maag kronis.

Aku jatuh cinta pada Ashalia.

***

If I tell the truth, would you understand me?

Aku mulai gelisah dan bertanya pada diriku sendiri. Sampai kapan aku akan terus begini? Aku sadar, sangat sadar, bahwa sampai kapan pun aku bukanlah orang yang berada di mata dan hati Ashalia. Gadis itu tidak pernah melihat keberadaanku dalam hidupnya. Ya, meskipun kami memang sering pergi dan menghabiskan waktu bersama, tapi nyatanya itu tak sekalipun dapat membuat celah kesempatan untuk berada di dalam hatinya.

Aku hanyalah bintang kecil yang berusaha bersinar dengan sisa-sisa cayaha untuk menerangi galaksi Ashalia.

Sempat terpikir olehku untuk jujur mengungkapkan perasaanku padanya. Tapi kupikir itu bukanlah cara yang tepat. Aku tidak ingin semuanya berubah saat Ashalia tau perasanku. Aku takut Ashalia pergi dariku. Aku tidak ingin Ashalia merasa terbebani akan perasaanku, karena jelas beban perasaannya terhadap Kia selama ini sudah terlalu berat untuk ia tanggung sendiri. Semua jelas akan hancur. Selama ini cinta Ashalia bertepuk sebelah tangan karena Kia telah memiliki kekasih tepat tidak lama sebelum kami bertemu di kafe itu.

Oh ya, perihal Kia, aku sudah lama mencari tau tentang pria itu. Seorang senior idola seantero fakultas manajemen. Berwajah tampan seperti Indra L Brugman, berpostur tinggi tegap dengan senyum yang memamerkan deretan gigi putih dan suara yang berwibawa, salah satu anggota BEM, dan pintar dalam bidang akademis. Hahaha. Siapa junior yang tak tertarik padanya? Sedangkan aku hanya mahasiswa biasa yang tidak pernah terpikir sekali pun menjadi sosok yang digandrungi perempuan.

Bukan, bukan aku merendah dengan membanding-bandingkan diriku dengan Kia. Karena sudah jelas aku kalah telak. Tapi, satu hal yang aku tau tentang penyebab Ashalia tidak dapat melupakan pria itu adalah…, percaya atau tidak, terserah, karena kenyataannya Kia adalah cinta pertamanya. Tidak mungkin, ya? Tidak, itu mungkin saja, aku pun sempat berpikir demikian. Tidak mungkin gadis secantik Ashalia belum pernah pacaran padahal banyak sekali pria baik di fakultasnya dan fakultas lain berusaha mendapatkan hatinya. Tapi faktanya memang begitu. Betapa ia pernah bilang kepadaku bahwa ia ingin kekasih pertamanya adalah cinta pertamanya, Raskia Putra Ramadhan.

Pernah suatu ketika aku memanfaatkan momen April Mop untuk mengutarakan perasaanku, ya aku memang sepengecut itu. Di kamar kosnya saat itu aku membantu Ashalia mengerjakan tugasnya. Kala itu Ashalia terlihat murung. Tidak perlu ditanyakan lagi penyebabnya apa dan siapa. Dan aku memegang tangan gadis itu tiba-tiba hingga ia terkejut dan berkata, “APAAN SIH?!” Ia hendak menarik tangannya, namun dengan cepat aku mengencangkan genggamanku.

“Sha, lo jangan marah ya,” ucapku sambil menatap dalam-dalam kedua matanya dengan memasang mimik serius. “Gue mau jujur kalo gue sebenarnya sayang sama lo.”

Seketika wajah Ashalia memerah dan sangat terkejut. Ia menggelengkan kepala. “Nggak, gak mungkin. Jangan bilang lo pengin gue jadi pacar lo?”

“Elo selalu tau maksud ucapan gue,” kataku sambil memasang senyum terbaik yang kupunya.

Ashalia hendak menggigit tanganku. Aku segera melepasnya sebelum tercipta bekas gigitan yang berpotensi membuat tanganku terasa lumpuh. “Nggak, gue gak mau pacaran sama sahabat gue.” Ashalia membuang muka, terlihat jelas sekali ekspresi kekesalan.

Hatiku mencelos dan terasa perih tiba-tiba. Namun secepat mungkin aku memasang senyum jahil. “Hahahaha! April Moooop!”

Gadis itu melotot dan memukul dadaku penuh kekesalan. “Iiih, lo tuh nyebelin banget sih, Fandi!” Kemudian ia memelukku sambil berkata sunggu-sungguh,”Gue juga sayang sama lo, tapi sayang sebagai sahabat. Gue nggak mau semuanya berubah kalau ini ternyata beneran. Lo tau kan arah hati gue ke mana? Gue gak mau ngecewain elo karena gue gak bisa mencintai elo,” jelasnya lirih. Terdengar isakan pelan dan aku merasakan kaus polo biruku mulai basah.

“Hahaha, iyalah, gue gak mungkin juga ngerusak persahabatan kita. Lagian mana mungkin juga gue jatuh cinta sama cewek senyebelin plus nyusahin macam elo, Sha.” Aku mengeratkan pelukanku, dan ia pun melakukan hal yang sama. Dalam pelukan itu, secara hati-hati aku mengecup lembut keningnya dengan setetes air mata yang jatuh.

Pelukan yang mungkin takkan ia sangka adalah pelukan terakhir. Pelukan seorang yang sudah ia anggap sahabat ketika tak ada yang seorang pun yang memahami dirinya. Pelukan yang berarti aku mengikhlaskan cintaku terbunuh atas nama persahabatan.

Pelukan yang menandakan kedua kakiku bersiap mengambil ancang-ancang untuk…

Pergi.

***

I won’t say good bye, ’cause I never there

Semenjak pelukan itu aku tidak pernah lagi berkomunikasi dengan Ashalia. Selain karena dua hari kemudian ponselku hilang ketika menonton festival musik jazz tahunan di kampus tetangga, alasan lainnya adalah karena aku ingin Ashalia menjalani kehidupan normalnya lagi. Aku tidak ingin ia selalu ketergantungan kepadaku. Ia punya kehidupan yang harus diurusi. Teman, keluarga, kuliah, dan hal-hal lainnya.

Aku sadar sejak mengenalku, ia jadi jarang berkumpul dengan teman segengnya, pulang ke rumah, dan mengerjakan tugas kuliahnya. Salah satu temannya yang bernama Sonia pernah menegurku di kantin kampus saat jam makan siang, ia menanyakan tentang hubunganku dan Ashalia. Jelas, aku menjawabnya dengan kata ‘sahabat’, tidak lebih dan tidak kurang. Aku pun berpesan pada Sonia agar lebih sering berkomunikasi dengan gadis itu supaya pertemanan mereka tetap terjaga.

Barangkali ini sedikit naif dan bodoh. Aku menyesal telah mengambil keputusan ini. Tapi di lain sisi, aku merasa lega karena dengan begini aku tidak lagi bertemu Ashalia dan bersusah payah bersikap biasa-biasa saja di depannya. Jelas itu hal yang sulit. Dan, ya, tampaknya gadis itu pun tidak mencariku, terakhir sebelum ponselku hilang, ia menghubungiku untuk menanyakan kabar dan seperti biasa mengajakku untuk ‘membunuh waktu bersama’. Tetapi aku menjelaskan bahwa aku sedang sibuk menyusun penelitian ilmiah. Setelah itu, tidak ada lagi percakapan panjang hingga pagi tiba. Tidak ada lagi  dering telepon yang melahirkan panggilan hanya untuk menyambut rasa kantuk. Tidak ada lagi duduk berhadap-hadapan dan mengomentari hal tidak penting.

Tak ada ucapan selamat tinggal untuk merayakan perpisahan antara aku dan Ashalia. Aku pun memang tidak pernah ingin mengucapkannya karena aku memang tidak pernah ada di hatinya. Ya, aku memang tidak pernah akan ada di hatinya.

***

I love you my romantic purple

Suatu malam aku menulis sebuah puisi di blog milikku yang telah lama tak kuurus. Puisi itu kutulis ketika rindu di dadaku ingin sekali kutendang ke ujung semesta karena betapa mereka tidak tau diri merengek memaksaku untuk melihat senyum Ashalia. Sebenarnya aku tidak pernah sama sekali tertarik -dan bisa- menulis puisi. Namun entah malam ini itu keinginan untuk menumpahkan isi hati menuntun jemariku menyalakan laptop.

Sambil menyesap penuh khidmat kopi hitam yang kubuat diam-diam di dapur –karena jika ibuku tau habislah sudah, perlahan kata demi kata kutulis dalam blog yang mungkin takkan pernah ada orang yang membacanya. Bahkan penyair termasyhur di negeri ini pun akan muntah saat baru membaca judulnya.

Bagaimana Aku Bisa Tega Mencintainya?

Bagaimana aku bisa tega mencintainya jika dalam tiap derap langkahnya yang mungil tujuannya bukanlah ke arahku?

Bagaimana aku bisa tega mencintainya jika di dalam sorot matanya yang penuh bintang kejora tak kutemukan satu pun aku di dalamnya?

Bagaimana aku bisa tega mencintainya jika tiap malam ia memandang langit-langit kamar dan senyum sebelum pejam bukan untuk memimpikanku?

Bagaimana aku bisa tega mencintainya jika acap kali ia berbicara perihal hati, bukan akulah orang yang ia maksud?

Bagaimana aku bisa tega mencintainya jika dalam pelukanku, yang ia bayangkan dalam tubuhku adalah sosok lain?

Bagaimana aku bisa tega mencintainya jika ia menginginkan arah jarum jam bergerak mundur bukan untuk bersamaku?

Bagaimana aku bisa tega mencintainya jika dalam debar jantung dan pula denyut nadinya, bukan namaku yang menjadi judul doa kala ia bersujud dengan tetes air mata yang jatuh?

Demi Tuhan, bagaimana bisa aku tetap tega mencintainya?

A.

Aku tersenyum getir ketika memencet tombol ‘A’ di keyboard laptop untuk mencantumkan inisial. Kupikir takkan ada satu pun orang di dunia ini yang sudi ingin mengetahui siapa yang menulis puisi picisan dengan penuh kata-kata ‘tega’. Biarlah puisi itu tertulis hanya untuk mengabadikan perasaanku yang akan lekang oleh waktu.

Setelah aku mem-posting puisi itu, aku langsung mematikan laptop dengan napas berat, lalu mencuci muka dan menggosok gigi. Aku melompat ke kasur setelah keluar dari kamar mandi dan menggulung diriku dengan selimut sambil melihat senyum Ashalia pada satu-satunya foto yang terabadikan oleh kamera ponselku. Di foto itu, senyum Ashalia terlihat sangat bahagia merangkulku yang sedang memandang matanya dengan background tembok berwarna ungu. Ya, salah satu hal yang masih sangat kuingat dari gadis itu adalah ia sangat menyukai warna ungu. Aku tertawa dalam hati dan tak dapat memungkiri bahwa aku pun merasa sangat bahagia saat foto itu terabadikan hingga akhirnya terabaikan.

Sebelum memejamkan mata, aku membaca doa dan merapal keinginan yang sangat sederhana, semoga aku terbangun dalam keadaan telah melupakannya.

***

Alunan nada melankolis, suara gesit tabuhan drum, dan petikan melodi yang mendayu-dayu terdengar dari sound system yang menghantarkan irama alat musik yang dimainkan band-ku yang sedang tampil di panggung kecil kafe ini. Kafe yang memang sering mengadakan acara musik dan memperbolehkan para pengunjungnya untuk nge-band.

Its the darkness in you that makes me so pure
The image of you has been burn into my eyes
I see you before me, before everything I see
If I tell the truth, would you understand me?

I wont say goodbye ’cause I never there
In the room you sleep on its the light of romantic

Aku menyanyikan tiap bait lirik lagu Romantic Purple milik The Milo, dengan penuh pengkhayatan diiringi gitar yang kumainkan. Para pengunjung kafe ini terlihat fokus menikmati penampilan kami; aku pada gitar dan vokal, Iskan pada melodi, Haryanto pada bass, dan Yehezia pada drum.

Sambil bernyanyi, aku mengenang sudah dua setengah tahun berlalu semenjak tidak lagi bertemu Ashalia. Satu per satu kenangan hadir di ingatanku. Mulai dari pertama kali bertemu, menemaninya pergi ke tempat favoritnya, menonton film, begadang mengerjakan tugas, menghabiskan waktu di McDonald’s, dan mencari kado ulang tahun untuk Kia dan memberikannya secara diam-diam. Aku masih sangat jelas mengingat semua itu.

Ya, gadis itu adalah alasanku menyanyikan lagu Romantic Purple di panggung ini. Lagu yang selalu mengingatkanku tentang pelukan terakhir itu. Dan entah kenapa intuisiku merasa ada salah satu pengunjung yang sedang memperhatikanku dengan seksama. Aku memejamkan mata sambil tetap bernyanyi. Semoga saja itu bukan Ashalia. Jika pun memang dia, kuharap ia tidak mengenaliku yang kini berambut gondrong dan memakai topi. Aku tidak ingin bertemu dengannya lagi. Tolonglah semesta.

Setelah kurang lebih enam menit bermain di atas panggung, lagu yang kami mainkan pun berakhir dengan sambutan tepuk tangan dari penonton yang kompak berkata, “Lagi! Lagi! Lagi!”

Sayangnya, panitia telah memberi tau sebelum kami tampil bahwa setelah penampilan kami yang hanya membawakan satu lagu, akan ada pembacaan puisi. Aku beserta teman-temanku pun bersiap turun dari panggung dengan senyum dan perasaan puas. Dan aku tidak pernah menduga jika semesta memang mengkehendaki pertemuan yang sungguh tidak pernah aku harapkan. Saat aku turun dari panggung, secara bersamaan MC acara di kafe ini mempersilakan orang yang akan membacakan puisi untuk naik ke atas panggung. Aku dan orang itu berpapasan. Seorang gadis dengan rambut sebahu dan senyum yang masih kukenali dengan baik. Senyum yang ditujukan kepadaku.

Tubuhku bergetar hebat saat kami bertatapan dan melangkah saling melewati. Perasaan yang kukubur dalam-dalam di hatiku bangkit kembali dan berdiri kokoh menyerukan nama Ashalia. Goresan namanya di hatiku yang sudah lama kututupi dengan ketabahan terpampang dengan jelas dan nyata. Jantungku terasa ingin jatuh ke lantai dan berakibat pada kakiku yang tiba-tiba lunglai setengah mati. Teman-temanku yang sudah terlebih dulu duduk di jejeran bangku pengisi acara memperhatikan aku yang berjalan sempoyongan. Mereka menatapku heran.

“Ya, berikutnya adalah pembacaan puisi oleh–” MC pria yang mengenakan reglan merah itu berhenti sejenak untuk melihat ke secarik kertas putih yang berisi run down acara,”Ashalia,” lanjutnya sambil mengajak para pengunjung bertepuk tangan, kemudian mempersilakan gadis di sampingnya memperkenalkan diri.

Ashalia meraih stand mic dih hadapannya dan mendekatkan ke wajah, lalu melambaikan tangan kepada para pengunjung. “Halo, nama gue Ashalia Renata, salam kenal.” ucapnya memperkenalkan diri. Aku hampir pingsan menahan sesak. Seolah seluruh oksigen di ruangan ini tidak boleh kuhirup. Jika di dunia ini Doreamon itu nyata, sudah pasti aku akan memohon sambil menangis agar ia meminjamkan pintu ke mana saja.

Gadis itu menyampirkan poni rambutnya dengan sebelah tangan. Lalu tiba-tiba seorang pria yang juga kukenali menghampirinya dari arah meja pengunjung untuk memberikan secarik kertas yang terlipat. “Ah iya, puisinya ketinggalan. Makasih ya, Sayang.” Pria yang mengantarkan surat itu mengangguk dan bertepuk tangan seraya tersenyum.

“Yaaah, kirain masih jomlo!” seru salah satu pengunjung yang duduk di tengah keramaian, yang membuat seisi kafe tertawa. Setelah itu hening.

Ashalia membuka lipatan kertas itu, lalu berkata, “Gue mau membacakan puisi seorang anonim yang gue dapetin di sebuah blog. Sebelumnya, gue boleh cerita sedikit ya?” Aku melotot mendengarnya dengan deru napas yang memburu. Jangan. Jangan.

“Gue merasa seperti kenal dengan orang yang menulis puisi ini, dan merasa sangat dekat dengannya. Puisi ini jujur menggambarkan perasaannya yang pernah mencintai seseorang dengan sangat.” Mata gadis itu menyapu seluruh kafe untuk mencari seseorang. Bukan orang yang tadi ia panggil dengan sebutan ‘Sayang’. Namun ia mencari aku, ya, aku, dan ia menemukanku yang sedang membuang muka.

Ashalia melanjutkan dengan senyumnya yang membius seluruh mata yang sedang memandangnya. “Gue berterima kasih pada Tuhan telah memberikan seorang sahabat yang ternyata selama ini mencintai gue dan rela membantu gue mendapatkan cinta pertama, serta menulis puisi ini.” Setetes air bening turun dari kelopak matanya.

Para pengunjung bertepuk tangan lagi untuk memberi gadis itu kekuatan. Kemudian Ashalia menyapu air matanya. “Dia adalah orang terbaik di bumi ini.”

Ucapan gadis itu kembali mengantarkan ingatanku melintasi linimasa setahun lalu. Ketika aku menemui Kia yang kudengar baru putus dari pacarnya dan menjelaskan kepada pria itu bahwa ada seorang gadis yang telah lama mencintainya. Dengan hati yang tercabik-cabik aku memohon padanya untuk mendekati Ashalia dan memberikan kado ulang tahun untuk gadis itu berupa gelang perak dengan bandul permata berwana ungu yang kini melingkar di pergelangan tangan kanannya. Setelah itu, aku benar-benar menghilang dari kehidupan Ashalia. Demi kebahagiaannya, aku melakukan apa yang memang bisa kulakukan.

“Waw, apa judul puisinya?” tanya MC itu dengan wajah penuh rasa penasaran.

Dengan senyum bangga dan menahan tangis yang sudah di ujunng ekor mata, Ashalia menjawab, “Judulnya, ‘Bagaimana Bisa Aku Tega Mencintaimu?’ Seandainya dia sekarang berani naik ke atas panggung ini, gue pengin peluk dia sambil mengecup keningnya seperti yang dia lakukan dulu sebelum pergi menghilang.”

“Gue sayang banget sama dia, dan gue akan bacakan puisinya sebagai tanda terima kasih dan permintaan maaf karena dulu gak menyadari perasaannya,” Tangan Ashalia meraih stand mic di depannya, kemudian ia menarik napas dalam-dalam untuk mengumpulkan kekuatan.

“Untuk membalas lagu Romantic Purple yang tadi dia nyanyikan. Bagaimana aku bisa tega mencintainya?” Ashalia membacakan bait demi bait puisi yang kubuat dahulu dengan suara selembut sutra yang menyihir seluruh pasang mata dan telinga di kafe ini. Kami saling tersenyum dengan air mata mengalir perlahan di pipi. Aku menganggukkan kepala sebagai isyarat ‘selamat’ karena ia telah mendapatkan Kia, yang sedang berdiri tidak jauh dariku dengan senyum yang dahulu selalu dilihatnya secara diam-diam. Kini senyum pria itu adalah miliknya.

Aku berjalan pelan ke arah pintu kafe melewati kerumunan penonton untuk keluar menghirup udara segar sambil tetap mendengar suara Ashalia membaca puisiku dengan suara yang bergetar. Aku tau gadis itu pasti melihatku sekarang. Sesampainya di luar, aku membakar sebatang rokok, lalu menghisapnya dengan tarikan panjang agar sesak di dadaku tersamarkan. Kepalaku menengadah langit, melihat bulan purnama yang sempurna malam ini sejenak. Kemudian dari jendela di hadapanku, kulihat Ashalia sedang mengakhiri puisinya dengan berlinangan air mata dan tepuk tangan yang meriah dari para pengunjung.

Bibirku tersenyum –entah ini senyum apa– melihat Ashalia turun dari panggung dan langsung berpegangan tangan dengan Kia, sekilas gadi itu menengok ke sekelilingnya. Kedua mataku terpejam, ingatanku menerawang pada sebuah momen. Suatu malam ketika aku menemani Ashalia menonton sebuah film yang jika tidak salah berjudul You Are The Apple Of My Eye, di laptopnya. Sepanjang film mulai sampai berakhir, aku hanya memandangi gadis itu yang terlihat sangat serius, lalu menangis di akhir film. Aku masih ingat betul aku tertawa saat menyeka air mata di wajahnya yang terlihat bodoh. Setelah aku tidak lagi berhubungan dengan Ashalia, barulah aku tau mengapa ia menangis menonton film itu.

Baiklah, jujur, aku akhirnya menonton film asal Taiwan itu juga lewat kaset dvd yang kubeli. Ending yang mengenaskan, kurasa. Sang tokoh utama akhirnya harus merelakan gadis yang dicintainya menikah dengan pria lain setelah sekian lama memendam rasa cinta dan menjadi sahabatnya. Ya, mirip seperti aku, meski dengan akhir yang sedikit berbeda.

Berbahagialah Ashalia, kau telah mendapatkan cinta pertamamu. Aku boleh jujur, Sha? Kau itu sungguh menyebalkan jika sedang murung. Jadi, jangan pernah bersedih lagi karena seseorang yang kau cintai dan mencintaimu akan membuatmu selalu bahagia, bukan aku lagi. Sekarang, giliranmu yang melepaskanku dengan ikhlas seperti yang kulakukan padamu.

Jangan pernah mencariku lagi, ya. Biarkan aku melangkah dengan hati yang patah sampai tiba waktunya Tuhan menyerahkan rencana berikutnya pada semesta untuk mempertemukanku dengan seseorang yang mampu mengutuhkan hatiku.

Sekali lagi, bolehkah aku jujur, Sha? Ketika dulu aku mengecup keningmu, sebenarnya aku berkata tanpa suara bahwa aku sungguh mencintaimu. Maafkan aku karena telah berbohong dan menghilang hingga membuatmu menangis. Jaga dirimu, semoga kamu selalu baik-baik saja, Ashalia Renata.

Aku tidak menyesal telah mencintaimu dengan teramat sangat meski tak pernah ada di hatimu. Terima kasih telah membiarkanku mencintaimu.

I won’t say good bye, I love you my romantic purple.

Advertisements

13 thoughts on “My Romantic Purple

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s