Regret Forever

beautiful-cute-fashion-forever-Favim.com-1043940

sumber: favim.

“Hei, akhirnya kamu ketemu juga…”

Gerakan jemari Fajar yang sedang mengetik di keyboard komputer berhenti mendengar suara itu. Ia menengok perlahan ke arah sumber suara, sedikit terbelalak, lalu membuang muka dengan malas sembari mengembuskan napas panjang.

“Ada apa kamu kemarin? Kukira aku nggak akan pernah melihat kamu lagi, Hana,” kata Fajar dengan nada dingin.

“Sepertinya kamu belum berubah ya, Jar.” Gadis bernama Hana itu menyilangkan kedua tangannya di dada. Ia mengenakan dress hitam selutut berlengan panjang. Rambutnya tergerai menyentuh kerah kemeja. Bibirnya yang tipis dibalut lipstick merah muda. Kedua kakinya yang jenjang dipakaikan sepatu flat putih.

“Bisa minta waktunya sebentar? Aku mau ngobrol sama kamu.” Hana menyampirkan poni rambutnya seraya tersenyum. Di dalam senyum itu, barangkali Fajar tidak melihat jutaan rasa yang tak bisa dideskripsikan pemiliknya.

“Aku lagi sibuk, Han,” jawab Fajar sambil merapikan berkas-berkas kertas di kubikelnya, bertingkah seolah sedang sibuk. Kening Hana mengernyit memandang Fajar dengan tatapan sedikit kecewa.

“Sebentar saja, Jar. Aku datang ke sini juga bukan tanpa alasan, please. Ini juga kan udah jam makan siang.” Hana menggigit bibirnya, kedua matanya berbinar penuh harap layaknya anak kecil yang sedang melihat permen.

Rahang Fajar mengeras, ia lalu membalikkan badan menatap Hana dengan sorot mata yang tajam. “Nggak ada yang meminta kamu datang ke sini, termasuk aku,” katanya sambil berdeham. “Nggak ada alasan juga aku harus memberikan kamu waktu. Seharusnya kamu nggak perlu kembali.”

Kalimat yang diucapkan Fajar membuat Hana tersentak, juga suasana kantornya yang tadinya ramai dengan suara perpaduan irama tombol keyboard dan mouse menjadi hening seketika. Tujuh orang yang masih berada di ruang kerjanya sekilas memperhatikan mereka, ingin mengetahui apa yang sedang terjadi. Beberapa detik kemudian, mereka pergi keluar ruangan satu per satu seolah mengerti apa yang sedang terjadi.

Fajar mengusap wjahnya, ia sadar emosinya meluap. “Aku nggak nyangka Irfan ngasih izin kamu masuk ke sini.”

“Irfan sebenarnya nggak ngasih izin ke aku, tapi aku memohon sama dia untuk ketemu kamu dan dia memperbolehkan,” jelas Hana. “Kita makan siang bareng, yuk? Sekalian ngobrol.” Hana menggamit tangan Fajar.

Tetapi tidak seperti harapan Hana, Fajar langsung menarik tangannya dan melangkahkan kakinya dengan terburu-buru menuju pintu keluar yang berjarak sekitar tujuh meter, meninggalkan Hana sendirian di ruangan. Hana menahan air matanya yang hampir tumpah dengan sebelah tangan. Wajahnya merah padam. Gadis itu terdiam sejenak, kemudian menyusul Fajar dengan langkah yang berat.

***

“Terima kasih, Mbak Fen,” ucap Fajar sambil menukar uang sepuluh ribu rupiahnya dengan gelas plastik berisi teh poci hangat.

“Kembali kasih, Mas Fajar,” balas gadis itu dengan anggukan dan senyum simpul.

Fajar menengok ke arah sekelilingnya beberapa detik, menimang-nimang destinasi meja mana yang cocok untuk dirinya menghabiskan jam makan siang. Ia mencari meja kosong sekaligus memastikan Hana tidak ada di sekitar kantin yang ramai ini. Fajar tidak ingin emosinya meluap lagi, terlebih di tengah keramaian. Ia tidak mau mempermalukan dirinya di hadapan umum. Bukankah hal yang sangat konyol jika ia ditegur atasannya karena membuat keributan dengan alasan masalah asmara? Fajar berdecak kesal dan memutuskan pergi menuju ruang meeting kantor untuk menghabiskan waktu istirahat. Di sana pasti tidak ada orang, pikirnya.

Sesampainya di depan pintu ruang meeting setelah beberapa kali berjalan mengendap-endap, Fajar berdiri mematung. Entah memikirkan apa. Pria itu membuka gagang pintu dengan perlahan sambil memejamkan mata dan menahan napas. Pintu terbuka setengah, ia menengok ke dalam, tidak ada orang. Fajar menghampiri meja meeting dan meletakkan teh pocinya di salah satu sudut, lalu duduk di di kursi. Hari ini Fajar merasa tidak lapar, selera makannya menguap entah ke mana meskipun banyak pilihan makanan di kantin kantornya. Ia pun tidak sadar mengapa memilih teh poci, ia belum pernah sekalipun meminumnya sejak bekerja di perusahaan finance ini dua tahun lalu. Fajar hanya berpikir minuman dingin dapat sedikit menenangkan pikirannya yang mendadak kacau balau.

Kedatangan Hana langsung menganggu konsentrasinya. Untuk apa gadis yang pernah sangat dicintainya itu datang kembali saat hidupnya sudah berjalan normal dan baik-baik saja? Barangkali Hana tidak pernah tau, setelah kepergiannya, Fajar menjalani setahun terberat dalam hidupnya untuk membangun lagi kehidupan yang hancur. Bukan hal yang mudah mengikhlaskan kepergian orang yang paling dicintai demi pendidikannya.

Ya. Fajar mengikhlaskan dua tahun hubungan dengan Hana berakhir demi pendidikan gadis itu. Hana pindah ke Yogyakarta untuk mengambil beasiswa kuliahnya saat semester dua. Bukan masalah yang besar jika Fajar harus menunggu Hana kembali ke tanah air, tetapi Hana menempuh pendidikan di universitas yang sama dengan mantan kekasih sekaligus cinta pertamanya di kelas dua SMA, Riangga.

Bagaimana Fajar bisa tenang jika ia tau hubungan Riangga dan Hana dulu berakhir karena pria itu pindah bersama keluarganya ke Yogyakarta, dan Hana tidak bisa menjalani hubungan jarak jauh. Tidak menutup kemungkinan Riangga masih menyimpan perasaannya dan berusaha menjalin hubugannya lagi dengan gadis itu. Atau justru sebaliknya.

Pada tiga bulan pertama hubungan jarak jauh, Fajar selalu berusaha mengusir prasangka buruk yang tidak henti-hentinya bermunculan di pikirannya. Ia berusaha memberikan kepercayaan penuh untuk Hana. Setengah tahun berlalu, komunikasi di antara mereka berdua mulai berkurang dikarenakan Hana sibuk belajar untuk ujiannya. Fajar mencoba mengerti dan memaklumi, namun komunikasi tentu sangat penting dalam hubungan jarak jauh, bukan?

Suhu ruang meeting yang dingin mulai mengusik kulit Fajar. Pria itu mereguk pelan teh poci di genggamannya, merasakan kesegaran teh hangat itu mengalir perlahan melewati kerongkongannya. Kepalanya terasa sedikit pusing karena tertekan pekerjaan akhir bulannya yang belum selesai, ditambah kedatangan Hana yang tiba-tiba membuat ingatannya mengenang lagi. Hatinya pun perlahan-lahan terasa perih.

Fajar tidak ingin perasaan yang dahulu telah dibunuh paksa hidup lagi. Tidak. Hidupnya sudah baik-baik saja tanpa Hana. Meskipun jauh di lubuh hatinya mengakui bahwa ia masih mencintai gadis itu. Ia tidak ingin kembali.

 ***

“Sayang, menurut kamu aku ambil beasiswa nggak? Beasiswa itu cukup penting buat nanti aku kerja.” Hana mengusap rambut Fajar yang sedang konsentrasi mengerjakan tugas kuliah gadis itu sejak pukul satu siang di rumahnya.

“Ya kalau beasiswanya bagus ambil aja, lumayan kan,” jawab Fajar dengan alis terangkat sebelah tanpa mengalihkan pandangannya dari kertas folio yang sudah terisi dengan rumus-rumus ekonomi.

Hana cemberut dan menghentikan usapannya. “Kamu ngomong sama tugas? Aku di samping kamu loh…”

Fajar cekikikan dan menghentikan kegiatannya. “Ya ngomong sama kamulaaah,” katanya seraya meletakkan pulpen di atas kertas dan meraih wajah Hana dengan sebelah tangan untuk mendekat ke wajahnya. “Huh, pacarku yang satu ini merajuk mulu deh, pengin banget dipeluk…”

Dengan penuh kelembutan, Fajar mengusap kening Hana perlahan dan mengecupnya. Hana terdiam dengan wajah memerah dan senyum malu. Kekasihnya itu selalu bisa membuatnya terkejut dengan rasa nyaman. Mereka berdua pun berpelukan. Hana tenggelam dalam pelukan itu dan menikmati irama degup jantung Fajar yang berpacu seirama dengan degup jantungnya. Perlahan-lahan kecupan demi kecupan terlahir di kamar kos yang sepi pada siang itu.

Beberapa menit kemudian Hana melepas pelukannya, ia menggigit bibir sembari berpikir. Ada sesuatu yang ia ingin katakan namun belum ada kalimat yang tepat untuk mengutarakannya. Fajar memperhatikan Hana yang sedang tampak bingung.

“Ada apa, Han?” tanya Fajar, dia menggenggam tangan Hana. Seolah dapat menebak pikira gadis itu, Fajar berkata, “Kalau ada yang pengin kamu katakan, jelasin aja.”

“Umm…—“

“Tentang beasiswa yang pengin kamu ambil itu, ya?” Fajar merangkul tubuh Hana. “Ada apa dengan beasiswanya?”

Hana membuka mulutnya perlahan hendak menjelaskan, tetapi dia menutupnya lagi. Ia takut Fajar mendadak tidak menyetujuinya. Gadis itu memandang kedua mata Fajar yang sedang menatapnya. Hana tau Fajar sedang menunggu jawabannya.

Ssatu napas berat terbuang, Hana memutuskan berkata sesujujurnya. “Iya, aku pengin ambil beasiswa itu, tapi aku dapat beasiswanya di Yogyakarta. Dan beasiswa itu di kampus yang sama dengan Riangga. Aku takut kamu nggak setuju.”

Kedua bola mata Fajar seakan loncat dari tempatnya setelah mendengar penjelasan Hana. Bagaimana bisa beasiswa penting itu terletak di kampus yang sama dengan mantan pacar Hana? Tiba-tiba saja Fajar berpikir keras tentang ucapannya tadi. Tidak mungkin dia melarang Hana mengambil beasiswa itu jika berpengaruh terhadap karirnya nanti. Namun di lain sisi, Fajar tau bagaimana hubungan Hana dan mantan kekasih gadis itu. Hubungannya yang telah berjalan setahun ini harus dipertaruhkan.

Hana menyandarkan kepalanya di bahu Fajar, lalu berkata, “Aku tau apa yang lagi kamu pikirin, Jar. Kamu tau segalanya tentang aku di masa lalu. Aku tau kamu takut hubungan kita terganggu jika aku ambil beasiswa itu. Nggak apa-apa kok, kalau kamu nggak pengin aku ambil beasiswa itu, aku akan melakukannya,” ucapnya sungguh-sungguh.

Mendengar ucapan Hana, Fajar tersenyum dan mengusap rambut wajah gadis itu. Da begitu menyayangi Hana, dia pun yakin Hana menyayanginya. Namun Fajar merasa sangat egois jika dia meminta Hana menolak beasiswa itu. Fajar yakin ada pilihan lain yang setidaknya bisa menjadi jalan tengah.

“Ayah dan ibu ngizinin?” Fajar seraya mengetuk-ngetuk jarinya di kening Hana. Sebuah kebiasaan setiap kali mereka berdua membicarakan topik yang serius.

“Ngizinin, mereka pulang dari Bandung lusa. Nanti kamu ke rumah ya, mereka pengin ngobrol sama kamu, terutama ibuku. Kemarin ibu telepon aku nanyain kamu. Dia nanya kamu ngebolehin aku ambil beasiswa itu atau enggak,” jawab Hana, kemudian ia melanjutkan, “Ibu takut kamu nggak setuju. Karena kamu tau kan selama mereka ngejalanin bisnis di luar kota, siapa lagi yang jagain aku di Jakarta selain kamu? Aku kan nggak punya saudara di sini.”

“Ibu bilang gitu?” Kening Fajar mengernyit, dia tidak menyangka bila orang tua Hana sangat percaya kepadanya hingga dalam hal seperti ini mereka juga memikirkan pertimbangan Fajar.

Hana mengangguk dan mencubit pipi Fajar. “Iyaaaa, emang aku nggak tau ibu sering ngehubungin kamu buat nanyain aku.”

“Hahaha, yah ketauan deh. Tapi sekarang aku tanya hati kecil kamu, kamu pengin ambil beasiswa itu nggak? Kamu yakin dan siap kita hubungan jarak jauh?”

Hana terdiam sejenak. Kepalanya menengadah ke langit-langit kamar dengan ekspresi wajah yang berubah serius. Pertanyaan Fajar membuatnya teringat Riangga. Membuatnya teringat bagaimana hubungan dengan mantan kekasihnya itu berakhir. Sejujurnya, Hana masih menyimpan sisa-sisa rasa terhadap mantannya itu. Bagaimana pun hubungan mereka berdua berakhir karena dia tidak bisa menjalani hubungan jauh, bukan karena masalah perselingkuhan atau rasa bosan.

Hana menundukkan kepalanya, jemari tangannya mengetuk-ngetuk dagu. “Aku pengin ambil beasiswa itu. Aku mencoba yakin dan siap, Sayang. Aku harap kita bisa saling percaya, ya.”

Fajar mengembuskan napas panjang. “Baiklaaaah kalau keputusanmu sudah bulat, kita jalani hubungan ini sebaik mungkin.” Kemudian dia mengeratkan genggaman tangannya dan menatap lekat-lekat wajah cantik Hana yang jelas sekali terlihat guratan cemas. Sesungguhnya, Fajar pun merasa cemas. Jauh lebih cemas dari Hana. Fajar tidak bisa membayangkan jika Hana kembali ke dalam genggaman Riangga. Fajar hanya mencoba untuk yakin apa yang memang miliknya akan tetap menjadi miliknya.

Meskipun Fajar tau tidak ada jaminan untuk itu dan kemungkinan buruk bisa terjadi.

 ***

Sudah lima bulan berlalu sejak perpindahan Hana ke Yogyakarta pada bulan Mei. Belum ada gangguan berarti dalam komunikasi Fajar dan Hana. Walaupun begitu, Fajar merasa ada sesuatu yang mengganjal di batinnya yang menangkap adanya sinyal buruk. Setiap kali malam tiba, Fajar selalu sulit memejamkan matanya untuk terlelap.

Perbedaan waktu yang cukup mempengaruhi komunikasi mereka membuat Fajar insecure dan menyiasati beberapa hal. Mulai dari selekas mungkin mengerjakan pekerjaannya agar pulang ke kosnya lebih cepat, membeli ponsel dan nomor baru hanya untuk berkomunikasi Hana, hingga menyisihkan sebagian tabungannya untuk membeli paket internet yang jaringannya bagus demi menopang komunikasi di antara mereka.

Fajar tidak pernah bosan mewanti-wanti Hana untuk tidak tidur larut malam dan menjaga pola makannya agar teratur. Dia khawatir kesehatan Hana yang ringkih terganggu karena kuliah dan tugasnya. Fajar takut terjadi hal buruk dengan Hana karena dia tidak bisa menjaga kekasihnya itu seperti di Jakarta.

Kini, di kamar kosnya yang lengang, Fajar telentang di tempat tidurnya. Pikirannya seolah beterbangan ke sana ke mari memikirkan Hana. Lagi-lagi ia tidak dapat mengawali pejam dengan nyenyak. Rasa lelah dan kantuknya terlalu lemah melawan kekhawatirannya yang mencuat dan kokoh.

Ini adalah kali pertama pengalaman Fajar menjalani hubungan jarak jauh. Bukan hal mudah bagi Fajar menjalaninya. Sedikit demi sedikit ia merasakan Hana mulai berubah. Dan gadis itu memang berubah.

***

Pukul sebelas malam lewat dua puluh lima menit Fajar tiba di depan kamar kos Hana setelah menempuh perjalanan satu hari satu malam dengan kereta. Sehari sebelumnya, dia telah mendapatkan izin kepada bapak pemilik kos untuk merayakan ulang tahun gadis itu. Dengan jantung berdebar, Fajar berdiri sambil memegang kerdus putih yang berisi kue ulang tahun. Dia menatap jam tangannya untuk menghitung waktu. Udara malam Yogyakarta mulai menusuk jaketnya yang melindungi tubuhnya dari sengatan dingin. Beberapa kali Fajar menggosok kedua telapak tangannya sembari meniupnya.

Tepat pukul dua belas malam Fajar mengetuk pintu kamar Hana. Namun sudah tiga kali dia mengetuk pintu, tak ada jawaban dari dalam kamar. Awalnya Fajar berpikir mungkin Hana terlalu lelah hingga tidak mendengar suara ketukannya. Fajar mengetuk pintu kamar Hana lagi untuk keenam kalinya dengan suara yang cukup keras, tapi tetap tidak ada jawaban. Pria itu memutuskan untuk duduk di lantai, barangkali saja Hana sedang keluar bersama teman-temannya. Biarlah dia menunggu sampai pagi tiba.

Fajar melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul dua pagi. Rasa kantuk mulai berlanjut manja di kelopak matanya. Tiba-tiba saja dari suara teras terdengar suara yang sangat Fajar kenal.

“Akhirnyaaa, sampai juga…”

Dengan sigap Fajar langsung menghampiri asal suara itu dengan rindu yang membuncah di dada. “Selamat ulang tahuu–“

“Fa… Jar… Sejak kapan kamu datang ke si…–“

Kue ulang tahun yang dipegang Fajar jatuh ke lantai, dia terbelalak melihat Hana yang sedang berciuman dengan seorang pria yang sudah sangat lama tidak dilihatnya, Riangga. Fajar menundukkan kepala dan bergegas melangkahkan kaki sambil berkata, “Maaf sudah mengganggu.”

“FAJAR, TUNGGU!” panggil Hana setengah berteriak dan mengejar Fajar yang berjalan cepat menuju parkirkan kos. Gadis itu meraih tangan Fajar dan berkata dengan suara bergetar, “Jar… Aku bisa jelasin semuanya. Kamu tenang dulu.”

“Terima kasih, nggak usah repot-repot menjelaskan, Han. Apa yang barusan aku lihat sudah menjelaskan semuanya,” ucap Fajar dengan nada lirih. Kemudian dia mengeluarkan sesuatu dari kantung jaketnya, sebuah kotak kado.

Fajar memberikan kotak kado itu dengan senyum tulus seraya bernyanyi, “Happy birthday to you, happy birth day to you, happy birthday happy birthday. Happy birthday to you. Selamat ulang tahun, Hana. Semoga kamu selalu bahagia dengan orang yang di sampingmu sekarang. Selamat tinggal, aku pamit pergi.”

Hana berdiri mematung dengan kedua tangan yang menggenggam kotak kado pemberian Fajar. Air mata mengucur deras di pipinya. Tak lama berdiri, Hana akhirnya jatuh terduduk. Dari arah belakang, Riangga menghampiri gadis itu dan mengajaknya masuk ke kamar.

Namun Hana melepas tangan Riangga yang memegang pundaknya. Berjuta rasa bersalah dan penyesalan langsung mendobrak paksa masuk ke hatinya.

Dia tau, cepat atau lambat Fajar akan mengetahuinya. Dan dia tidak menyangka Fajar mengetahuinya dalam suasana yang tidak Hana harapkan. Suasana saat malam hari ulang tahunnya, saat Hana berciuman dengan Riangga.

***

“Ternyata kamu di sini. Aku udah keliling gedung buat nyari kamu,” kata Hana bernapas lega. dia langsung duduk di hadapan Fajar. “Kamu mau sampai kapan kayak gini?” tanyanya.

Fajar mengalihkan pandangannya dari gelas teh poci, lalu melihat Hana sudah duduk di hadapannya. Ia kaget. Sejak kapan gadis itu datang? Bahkan ia tidak mendengar suara pintu terbuka. Lamunannya benar-benar membuat dia tidak menyadari sekelilingnya.

“Sampai kapan kamu maksa aku buat bicara sama kamu?” Fajar membuang muka. “Pergilah, dan jangan pernah kembali lagi.”

Lengkung senyum di bibir Hana memudar. Hatinya kini dikerubungi perasaan bersalah yang dahulu menghantuinya. Dia merasa sangat jahat telah mengkhianati Fajar yang dulu begitu mencintainya. Hana datang menemui Fajar tidak lain untuk meminta maaf dan memperbaiki kesalahannya. Namun tampaknya pria itu enggan membahas masa lalu, bahkan hanya untuk membicarakannya sebentar.

Kesalahan terbesar yang Hana lakukan adalah tergoda untuk kembali ke masa lalu. Kembali ke pelukan Riangga. Sungguh, jika saja dia tau penyesalan atas keegoisan teramat sakit rasanya, pasti dia tidak akan bermain api dan bertindak bodoh. yang akhirnya membakar dirinya sendiri. Hana menyadari perbuatannya sangat menyakiti Fajar, juga orang tuanya. Bagaimana tidak kedua orang tuanya sangat marah ketika menanyakan bagaimana hubungannya dengan Fajar dan mendengar kabar bahwa dia justru kembali menjalani hubungan dengan Riangga.

Setelah hubungan bersama Fajar berakhir, Hana berpikir merasa masa depannya ada di Yogyakarta, bersama Riangga. Namun ternyata dia salah. Perasaan yang dirasakannya selama di Yogyakarta dengan Riangga ternyata hanya rasa rindu dan nyaman, bukan cinta. Pun dengan Riangga juga sudah berubah. Pria yang dulu ia cintai saat sekolah bukan lagi seperti yang dikenalnya. Setelah menelusuri dan mencari tau dari teman-teman sekampusnya, ternyata Riangga adalah playboy.

“Aku minta maaf, Jar. Maafkan kebodohan aku. Kuharap kamu memberiku kesempatan untuk memperbaiknya.” Hana terisak, suaranya lirih dan air matanya menetes perlahan di pipinya.

Tidak ada jawaban dari Fajar. Dia hanya dia melihat Hana dengan ekspresi yang tidak dapat diartikan. Sorot matanya kosong. Beberapa detik kemudian ia mengeluarkan ponselnya.

Fajar tersenyum getir menatap layar ponsel yang menampilkan pesan terakhir Hana dulu. “Kamu ingat kalimat terakhir pesan kamu?”

Hana menggelengkan kepala tanpa bersuara. Fajar menganggukkan kepalanya, lalu menyodorkan ponselnya ke hadapan wajah Hana. “Baca baik-baik kalimatnya, dan jangan bertanya lagi kenapa aku begini.”

Seolah mempersiapkan diri mengingat hal buruk yang pernah ia lakukan, Hana menarik napas dan memicingkan matanya. Gadis itu melihat deretan kalimat yang terakhir ia kirimkan kepada Fajar ketika memutuskan hubungan mereka.

Maafkan aku, Jar. Aku nggak bisa bertahan lagi dalam hubungan ini, itulah sebabnya aku kembali kepada Riangga. Maafkan aku, tolong jangan pernah hubungi dan temui aku lagi.

Setelah membaca kalimat itu, Hana merasakan nyeri yang amat dahsyat membubuhi penyesalannya. Betapa ia tega melakukan hal itu kepada orang yang tulus dan sabar dalam mencintainya.

“Sudah paham kan? Jadi nggak ada alasan untuk aku memenuhi keinginan kamu untuk bertemu.”

“… Ta—tapi aku sudah berubah, Jar, aku nggak seperti dulu lagi,” Suara Hana bergetar hebat. Setetes air matanya jatuh ketika ia berkedip. Air mata yang menjadi suara dentuman gong rasa nyeri di hatinya meremas semakin hebat.

“Lalu apa bedanya kamu yang dulu dan sekarang? Apa janji kamu ketika pergi ke dahulu itu kamu tepati? Nggak. Apa pernah aku pernah meminta kamu untuk begini-begitu saat dulu dan sekarang? Enggak. Aku nggak pernah minta apa-apa selain kesetiaanmu dulu, karena aku percaya sama kamu, tapi sekarang, tidak lagi.” Wajah Fajar merah padam.

“Apakah gak ada kesempatan untuk aku memperbaiki semua kesalahanku?” Hana menangis hebat sejadi-jadinya, di tengah isakannya, dia mencoba meyakinkan Fajar untuk kedua kalinya. “Kumohon, aku sudah berubah, Jar…”

“Aku pun sudah berubah, Han. Aku bukan Fajar yang dulu lagi. Aku memang masih mencintai kamu, tapi Fajar yang kamu cari, yang kamu cintai, sudah nggak ada.” Fajar beranjak dari posisi duduknya dan meninggalkan Hana sendirian keluar ruangan. Ketika hendak menutup pintu, tangannya terhenti menahan gagang pintu. Fajar melihat Hana yang sedang terisak di balik kedua tangannya.

Fajar mengembuskan napas panjang yang sangat berat dan sesak. Kelopak mata pria itu tidak lagi dapat menahan sakit yang ia pendam sendirian selama kepergian Hana dahulu. Namun ia merasa lega telah bertemu Hana, lunas sudah rindu yang telah lama mati suri di dalam dadanya dan bangkit untuk mati selama-lamanya.

“Aku masih mencintai kamu, Han. Aku pun telah memaafkan kamu tanpa perlu kamu pinta jauh setelah kamu menghancurkan kita. Tapi maaf, aku nggak bisa kembali kepadamu. Aku banyak belajar setelah patah hati yang panjang sejak kepergianmu. Nggak kembali padamu adalah caraku mencintaimu,” ucap Fajar dengan senyum yang retak, lalu menutup pintu ruang meeting. Juga pintu hatinya untuk Hana.

Sinar senja menembus jendela ruang meeting yang berada di lantai dua belas. Udara air conditioner menguar sejuk mengitari Hana yang terkulai lemah. Kalimat terakhir Fajar terngiang-ngiang di telinga Hana.

“Aku masih mencintai kamu, Han. Aku pun telah memaafkan kamu tanpa perlu kamu pinta jauh setelah kamu menghancurkan kita. Tapi maaf, aku nggak bisa kembali kepadamu. Aku banyak belajar setelah patah hati yang panjang sejak kepergianmu. Nggak kembali padamu adalah caraku mencintaimu,”

Hana kembali teringat dengan kalimat terakhir yang ia ucapkan kepada Fajar. Kenangan demi kenangan berkelebatan di ingatannya. Canda, tawa, bahagia, juga sedih melayang-layang di pikirannya. Hana berusaha menghentikan laju air matanya yang malah jatuh semakin deras membasahi wajahnya. Seandainya saja Fajar memberinya kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya, dia akan melakukan apapun demi Fajar kembali. Demi inisal ‘HF’ yang terukir abadi di kalung pemberian Fajar saat ulang tahunnya dulu, yang kini melingkar indah di leher Hana.

Entah sampai kapan penyesalan itu selesai. Atau tidak akan pernah.

Advertisements

3 thoughts on “Regret Forever

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s