Firasat

handcouplehandslovewedding3ad6567cbc3b6863c270ede1473ace1a_h

sumber: ask-fm

Ini adalah detik-detik terakhir aku berhak mencintaimu, ya, tentu saja. Sebelum akhirnya kita dipisahkan takdir yang tak pernah sudi memihakku. Seharusnya aku tidak ceroboh untuk jatuh cinta padamu. Maafkan aku jika selama ini aku tidak bisa melihatmu bahagia dengan orang yang bukan aku.

Apakah kau tau, adakah hal yang lebih membelenggu dari cinta yang tidak pernah diutarakan?

***

‘Hoi! Mentang-mentang gak ada dosen, tidur aja lo kerjaannya!’ Rio menepuk pundakku dan langsung saja aku terjaga dari tidur seiring dengan kesadaranku yang dipaksa kembali sesaat baru saja memasuki gerbang mimpi.

‘Aduh, Ri, lo bikin gue hampir kena serangan jantung aja pas ketiduran.’ Aku mengelus pelan dada kiriku, lalu mengusap wajah yang aku yakin terlihat konyol ini. Rio nyengir menatapku, menahan tawa. ‘Dasar kebluk!’

Tiba-tiba saja hampir seisi kelas tertawa melihatku. Keningku mengernyit, mencoba mencerna apa yang terjadi. Adakah hal lucu dari orang ketiduran?

‘Bintang, lo tidur produktif banget, sampe bikin pulau,’ ucap Tamara, salah satu teman kelasku, sambil cekikikan dan menunjuk ke arah pipiku.

Sontak aku langsung menempelkan telapak tangan ke pipi dan merasakan ada cairan yang menempel. Tanpa aba-aba dan menunggu kesadaranku terkumpul, aku langsung berlari ke kamar mandi diiringi gelak tawa.

Anjir lo, Ri. Untung aja lo sahabat gue. Kalau enggak, udah gue bejek lo! gerutuku dalam hati sambil membasuh wajah di westafel kamar mandi kampus.

‘Hahaha! Sorry, Sobin. Daripada Pak Ardi yang ngebangunin pake penghapus papan tulis, lebih malu lagi lo. ‘ Terdengar suara Rio di belakangku. Aku menghentikkan gerakan kedua tanganku yang sedang membasuh wajah dan melihat Rio dari cermin.

‘Iya, tapi kan lo bisa bangunin gue pelan-pelan. Gak ngagetin gitu. Kampret.’

‘Elo kebluk, kata nyokap lo pas gempa bumi aja lo tetep tidur pules,’ ujar Rio sambil cengengesan dan merapikan rambut mohawk Zayn Malik-nya. Aku tersenyum kecut.

Rio adalah sahabat kecilku. Sejak TK, kami telah saling kenal hingga duduk di bangku kuliah semester enam. Satu jurusan dan juga kebetulan satu kelas –sejak semester tiga. Orang tua kami telah sepakat untuk menguliahkan kami di universitas yang sama. Aku dan Rio seperti saudara kandung karena rumah bersebelahan. Pergi ke mana pun berdua, mengerjakan tugas, makan, dan kadang tidur –jika salah satu dari kami menginap.

Rio juga sosok yang menyenangkan, tetapi kadang jahil. Dan sialnya, ia tidak pandang bulu dalam melancarkan aksi kejahilannya, seperti yang tadi Rio lakukan terhadapku. Jika saja ia bukan sahabatku, mungkin kami tidak sedang di kamar mandi, melainkan di ruang dosen karena luka memar yang tercipta dari perkelahian. Aku menggelengkan kepala.

‘Masuk kelas duluan sonoh…’ Aku mematikan keran dan menyalakan sebatang rokok yang kuambil dari kantong flanel cokelat dengan tangan setengah basah.

‘Bareng aja, elah. Lo kalo gak gue samper, yang ada ujung-ujungnya lo nyuruh gue bawain tas ke kantin. Ogah banget,’ ucap Rio sambil menggoyang telunjuk kanannya. Seperti mengucapkan, Oooh, tidak bisa.

Aku meniup asal asap rokok dari tenggorokanku, lalu berkata, ‘Iyeee, yaudah…’ Kami berdua pun melangkah santai bersama ke dalam kelas dengan masing-masing rokok terselip di antara jari telunjuk dan jari tengah.

***

Pukul delapan pagi, ruang kelas penuh dengan keheningan. Tidak ada yang berani mengucapkan sepatah kata pun saat mata kuliah Metode Penelitian Bisnis yang diajarkan Pak Ardi, guru killer paling tersohor seantero fakultas Manajemen kampus ini. Karena ia tidak segan-segan ‘meracau’ pada mahasiswa yang berbicara atau bahkan berisik saat mata kuliahnya, lalu mengurangi nilai IPK. Sungguh mengerikan.

Setelah lima belas menit lalu pria gempal dan plontos itu berkutat di papan tulis dan menjelaskan materi, kini ia sibuk dengan laptopnya di meja dosen. Sesekali aku menebak-nebak apa yang sedang Pak Ardi lakukan di balik layarnya itu dengan ekspresi seriusnya.

‘Anak-anak, berhubung Ibu Anita yang menjadi wali kelas kalian sedang berada di luar kota.’ Pak Ardi tiba-tiba berkata dengan nada berat, lalu menurunkan kacamata frame tipisnya dengan telunjuk dan jempol seperti polisi yang sedang mengetik kronologi laporan pencurian. Fokus seluruh mahasiswa di kelas pun menoleh ke arahnya. Kemudian ia melihat ke arah pintu kelas dan mengangguk, semua mata pun memperhatikan apa yang akan terjadi.

Pak Ardi beranjak dari posisi duduknya dan berdiri ke depan kelas, disusul dengan kehadiran seorang gadis putih berambut panjang sesiku dan berkacamata yang mengenakan setelan kaos putih yang dibalut kemeja merah-hitam dan dipadukan celana jeans panjang serta sepatu Converse merah dari balik pintu. Aku memperhatikan wajahnya yang sedikit mirip dengan Chelsea Islan.

‘Perkenalkan teman baru kalian,’ kata Pak Ardi singkat dan memberikan kesempatan untuk gadis itu memperkenalkan diri. ‘Silakan, Nak,’ lanjutnya.

Dengan senyum ramah, gadis itu membetulkan posisi tas backpack yang memeluk punggungnya, lalu berkata dengan nada semringah, ‘Perkenalkan teman-teman, nama gue Sely Paramita. Salam kenal.’

‘Siapanya Paramita Rusadi? Kok cantik?’ celetuk Rio spontan, seisi kelas pun tertawa. Mahasiswa baru bernama Sely itu pun tersipu malu. Aku kaget mendengar Rio berkata seperti itu karena sejak masuk kelas tadi, ia terlihat seperti orang yang menunggu ajalnya tiba. Dalam hitungan detik, kupastikan Rio akan melakukan harakiri.

‘RIO! JAGA UCAPAN KAMU! DASAR TIDAK SOPAN!’ bentak Pak Ardi dengan suara membahana yang spontan membuat suasana sunyi lagi.

‘Eh, iya, maaf, Pak.’ Rio gelagapan dan langsung menunduk sambil menggigit bibirnya. ‘Aduh, mampus gue,’ ucapnya pada diri sendiri. Aku menahan tawa.

‘Hehehe, gak apa-apa kok, Pak,’ kata Sely sambil menjabat tangan Pak Ardi.

‘Maafkan teman baru kamu yang satu itu, ya, Nak. Dia emang gak bisa liat cewek cantik dikit,’ kata Pak Ardi dengan senyum yang entah-artinya-apa. Kemudian ia melanjutkan. ‘Kamu duduk di kursi kosong di belakang si ganjen itu tadi, ya. Tapi cuekin aja kalau dia godain kamu.’

‘Anjir bor, gue disebut ganjen sama Pak Ardi,’ kata Rio setengah berbisik kepadaku. Aku membalas dengan membisik juga. ‘Lo kan emang ganjen!’

Sely mengangguk, kemudian berjalan dengan anggun menuju kursi yang dimaksudkan. Rasanya aku ingin sujud syukur saat ini juga karena gadis itu duduk di sebelahku. Kini, ia mengeluarkan binder dan pulpen dari dalam tasnya, lalu mencatat materi di papan tulis.

Aku pura-pura serius menulis sambil mencuri-curi pandang ke arah gadis itu. Kulihat Rio pun melakukan hal yang sama. Aku mengembuskan napas berat membayangkan sekilas Rio akan mendekati gadis itu. Lucu saja jika aku harus bersaing dengan sahabatku sendiri. Karena bukan sebuah hal yang tidak mungkin terjadi.

Aku pun takut jika hal itu benar terjadi.

***

‘Sel, denger-denger lo pindahan dari luar kota ya? Eh, salam kenal, gue Bintang,’ kataku saat mata kuliah Etika Bisnis selesai.

‘Denger-denger dari siapa? Hiii, kepo lo. Hahaha. Iya salam kenal, Bintang.’ Sely tertawa mendengar pertanyaanku yang sebenarnya hanya basa-basi. Aku segera menggaruk kepala yang tidak gatal.

Namun kukira Sely tidak menanggapi pertanyaanku. Sambil memasukkan binder dan Samsung Galaxy Grand-nya, ia berkata, ‘Iya, gue dari Bandung.’

‘Nah kan, nggak salah kalo gue bilang lo siapanya Paramita Rusadi, soalnya orang Bandung kan geulis-geulis.’ Rio nimbrung ke dalam percakapan antara aku dan Sely. Aku langsung menggelengkan kepala. Kembali Sely tersipu malu.

‘Ah lebay lo, Ri. Tapi syukur deh gue dibilang cantik. Hihihi.’

‘Rio mah tapir dibedakin juga dibilang cantik, Sel,’ ujarku sambil mengetuk pulpen ke kepala Rio. ‘Aaaak! Sakit bego!’ Rio bertingkah seolah habis ditusuk pedang. Aku geregetan dan akhirnya Sely tidak dapat menahan tawa.

‘Kalian berdua tuh lucu banget deh kayak saudara kandung,’ kata Sely sambil bertopang dagu di papan kursi. Ia tersenyum ke arah kami. Pemandangan yang indah sekali. Aku dan Rio terpana melihatnya.

Tak pernah aku mengira jantungku berdegup kencang saat melihat senyum Sely yang begitu manis dalam perkenalan yang konyol ini. Jika saja aku tidak menepati janjiku pada Rio untuk tidak memiliki pacar sebelum ia mempunyai pacar, sudah pasti detik ini aku akan medekati Sely dan berusaha mendapatkan hatinya.

Jika saja jatuh cinta ini sebuah kesalahan, ini adalah kesalahan yang paling kusesali.

***

Tiga bulan berlalu, kegiatan kuliahku pun mendekati semester tujuh. Itu tandanya mendekati proses pembuatan skripsi. Alih-alih ingin mendekati Sely, ternyata waktuku tersita untuk mengurusi perin kuliah. Aku hanya memendam perasaan terhadap gadis itu, tidak pernah mencoba mendekatinya seperti yang pernah aku niatkan sejak pertama kali mengenalnya.

Awalnya aku pernah mencoba berkomunikasi dengan Sely, namun gadis itu biasa saja menanggapi seperlunya. Seperti tidak memiliki minat untuk saling mengenal lebih jauh. Di kelas pun, aku hanya menikmati pemandangan gadis itu dari jarak yang kubuat sendiri dan berbicara padanya hanya hal seputar kuliah dan guyonan tidak penting.

Sekarang gadis itu telah sangat dekat dengan Rio, anak-anak di kelas pun mengetahuinya, karena memang jelas terlihat. Tapi secara pribadi aku tidak tau jelas hubungan mereka berdua sudah dalam tingkat apa, dan aku pun tidak pernah ingin menanyakannya karena dari dulu kami jarang membahas proses pendekatan jika gadis yang didekati berada satu lingkungan, katakanlah anak satu kampus atau jurusan. Jika sudah pacaran, sudah pasti Rio akan bilang dengan nada bahagia kepadaku seperti yang dulu-dulu. Namun itu pasti menjadi kabar paling buruk yang pernah aku dengar. Semoga saja tidak.

Semenjak Rio dekat dengan Sely, aku dapat merasakan dengan jelas hubungan kami renggang, tidak seperti biasanya. Berangkat-pulang kuliah, makan, dan menginap yang biasanya dijalani bersama pun tidak pernah lagi terjadi. Rio pun jadi sangat jarang nongkrong dengan anak kelas, ia sibuk mengejar ketertinggalan nilai-nilainya dan belajar bersama gadis itu. Di luar perkuliahan, aku tidak tau apa yang dia lakukan karena setiap kali kutanya, Rio jarang membalasnya.

Sebenarnya, aku merasakan sebuah firasat buruk yang terasa ganjil di pikiranku semenjak Rio dekat dengan Sely. Entah itu apa. Setiap kali hendak tidur, sambil menatap langit-langit kamar –seperti saat ini, aku menerka-nerka tentang isi firasat buruk itu. Tetapi hasilnya nihil. Aku hanya bisa berharap semuanya baik-baik saja.

Baru saja aku memejamkan mata, tiba-tiba ponselku berbunyi dua kali. Kulihat kedua nama sang pengirim chat di aplikasi WhatsApp. Dan seketika terkejut.

INBOX – Sely Paramita | Manajemen –

‘Bintang, gue mau nanya dong. Kan lo sahabatan sama Rio, dia tuh orangnya gimana sih kalau pacaran?’

INBOX – Rio Darmawan –

Sobin, doain ya gue diterima sama Sely. Nanti lo gue traktir makan sampe bego di Hanamasa.’

Kepalaku mendadak sakit membaca dua pesan itu. Kaget, dilema, dan kecewa langsung menghujam pikiranku. Aku mengenal Rio adalah pria yang baik bagi tiga mantan pacarnya yang sungguh tega menduakan dan menya-nyiakan cintanya dulu. Aku pun mengenal perasaanku terhadap Sely sangat kuat. Aku jatuh cinta padanya.

Tanganku bergetar meremas keras ponsel yang tidak bersalah ini. Berkali-kali kutulis pesan balasan, kulihat ulang, lalu kuhapus. Aku tidak tau harus membalas apa di situasi dilematis seperti ini. Antara mendukung selayaknya seorang sahabat atau mencoba mendapatkan kesempatan untuk memperjuangkan perasaan sendiri. Dua pilihan yang teramat berat.

SEND – Sely Paramita | Manajemen –

He is a good man if you decide to accept him to be your boyfriend. 😉

SEND – Rio Darmawan –

Aamiin, gue doain lo diterima asal lo tepatin janji! Good luck, hahaha!

Akhirnya kuputuskan untuk mengirim pesan itu dalam waktu berselang beberapa detik. Aku tidak ingin egois. Bagaimana pun juga, aku harus bersikap dewasa. Aku akui, aku senang melihat Rio bahagia daripada melihat ia menjadi pendiam saat gagal mendapatkan pujaan hatinya. Aku juga jelas merasakan sebuah ketakutan terbesar yang kuharap tidak pernah terjadi selama ini antara aku dan Rio.

Kehilangan sahabat adalah kehilangan yang paling hebat. – @lovepathie

***

Senyum, canda, dan tawa melekat erat di antara kami bertiga. Aku, Rio, dan Sely. Ya, aku dan Rio kembali dekat ditambah dengan kehadiran Sely. Rio telah berpacaran dengan Sely. Selama hampir setahun yang telah mereka lalui, tidak ada hambatan atau masalah yang berarti, yang membuat mereka mengakhiri hubungan. Aku senang melihat mereka berdua bahagia meski dengan perasaan tersiksa.

Ternyata jatuh cinta yang kurasakan masih nyata, dan tidak hilang begitu saja. Meski tersika melihat Sely berbahagia dengan orang yang bukan aku, aku tetap berusaha bersikap sebiasa mungkin di antara mereka berdua.

Semenjak Rio dan Sely berpacaran, aku tidak pernah lagi dekat dengan gadis lain. Sampai-sampai, Rio mencoba untuk mengenalkanku kepada teman-teman Sely yang katanya juga banyak yang cantik. Jelas aku tidak mencari kekasih hanya berpatokan pada kecantikan. Aku mencari kekasih dari orang yang membuatku jatuh cinta. Dan Sely lah orangnya. Hingga detik ini.

Rio pun tampaknya buta melihat kondisiku yang penuh kepura-puraan dan bersikap seolah tidak apa-apa. Ia tidak tau bagaimana rasanya hatiku tercabik-cabik saat melihatnya menggengam tangan Sely. Melihatnya berpelukan dan berciuman di rumahnya. Ya, Rio selalu mengajakku setiap kali ia berpacaran, seperti yang dulu-dulu. Sebagai sahabatnya, aku pun tau diri pada saat-saat tertentu untuk ‘menjauh’. Tetapi Rio selalu punya alasan yang kuat untuk memaknai kehadiranku. Hanya saat mereka berdua sedang bermesraan, aku selalu mencari momen yang tepat untuk tidak menganggu. Pada saat seperti ini, rasanya seperti pasrah ditampar dan diinjak-injak oleh orang kenyataan.

Lamat-lamat, terbitlah rasa sesal di hati dan pikiranku jika saja tau posisiku akan semenderita ini. Jika saja dulu aku tidak membalas pesan Sely dengan dukungan atau kalimat yang terkesan netral. Kurasa gadis itu akan mempertimbangkan lagi keputusannya untuk menerima Rio, karena kudengar dari teman-teman kelasanku banyak sekali pria yang berusaha mendapatkan hatinya.

Aku sempat merasa frustrasi dan pernah terbesit keinginan untuk mengungkapkan perasaanku sebenarnya kepada Sely ketika ada momen yang tepat saat Rio tidak sedang bersamanya. Tetapi selalu urung kulakukan. Aku sadar betul itu bentuk egosentrisme yang akan menjadi bumerang penghancur hubunganku dengan Rio. Kuyakin Sely pun pasti kaget dan mengambil sikap untuk menjauhiku demi menjaga perasaan kekasihnya. Andai kata bila Sely ternyata tidak menjauhiku dan malah mengkhianati cinta Rio demi diriku, sudah pasti cepat atau lambat Rio pun mengambil sikap untuk entah berbuat apa. Aku tau bagaimana Rio ketika marah dan kecewa.

Tidak ada pilihan yang adil dalam cinta segitiga, kau tau?

Di malam Minggu ini, setelah aku bilang kepada Rio bahwa aku ada urusan, lagi-lagi aku duduk menikmati waktu sendiri termenung di kafe yang ramai dengan orang-orang seumuranku. Dengan harapan pikiranku dapat teralihkan lewat secangkir kopi dan tatapan-tatapan tidak sengaja dengan lawan jenis yang -jika beruntung- berbuah perkenalan manis dan berujung pada sebuah hubungan. Ya, aku melakukan ini demi melupakan Sely. Sebuah usaha yang kuharapkan tidak nihil, selain menyambangi acara teman-temanku dengan tujuan mendapatkan kenalan baru yang dapat menghangatkan hatiku.

Berkali-kali kucoba, berkali-kali pula yang kudapatkan hanya kekosongan tanpa arti. Hingga akhirnya kusadari, hatiku hanya benar-benar terkunci pada Sely. Pada gadis yang sedang berbahagia bersama sahabatku sendiri.

Ternyata inilah firasat buruk yang terjadi dan tak dapat terelakkan. Inilah takdir yang harus kujalani dan kurasakan. Pahit dan getir yang menyatu setiap melihat senyum bahagia gadis itu bersama Rio.

Yang kubutuhkan hanya lelah dan menyerah, namun hati ini terlalu keras untuk dibantah. Logikaku selalu gagal berdamai dengan perasaan yang naif dan munafik. Yang harus kulakukan hanya mengikhlaskan dan rela, tetapi itu dua hal yang hampir mustahil untuk terlaksana.

Inikah cinta? Atau proses bunuh diri dengan penderitaan yang indah? Aku tidak tau. Hingga akhirnya waktu yang merobohkan diriku.

***

Di sinilah aku sekarang, duduk dengan mengenakan tuksedo hitam dengan rambut klimis yang menunjukkan penampilan terbaikku di hari satu-satunya sahabatku melakukan prosesi penyatuan bahagia yang hakiki. Setelah sekian lama waktu berlalu, akhirnya takdir menuntunku kembali melihat Rio dan Sely bahagia.

Sekembalinya ke Jakarta, aku melihat cukup banyak perubahan. Orang-orang yang kukenal di kota penuh kemacetan ini sudah banyak yang berbeda. Di acara pernikahan bernuansa Italia ini, kuperhatikan jelas sekali banyak teman-teman kampusku yang sudah berkeluarga dan sukses.

Sejak kuputuskan bermigrasi ke Bandung untuk bekerja di salah satu perusahaan pajak, aku telah bertekad untuk meniti kehidupan baru dan juga hubungan baru. Tetapi ternyata tidak semua yang kuharapkan terwujud, seperti hubungan baru. Banyak wanita yang kukenal dengan baik, tetapi mereka tetap tidak dapat menggantikan Sely. Kuakui, aku pindah ke kota kembang itu dengan harapan dapat melupakan Sely, tapi aku tetap menjaga hubungan dengan Rio, ya, meskipun tidak sedekat dulu. Setidaknya itu adalah keputusan yang terbaik agar aku tidak terus tersiksa dengan keadaan yang salah.

Di tanganku, terselip sebuah puisi picisan yang kubuat dua tahun lalu –dan ketahuan oleh Rio yang membaca blog pribadiku. Ia ingin aku membacakannya di atas panggung sebelum bouquet dilempar ke para tamu. Di hari yang bahagia ini, aku juga ingin menyatakan perasaan ini kepada Sely lewat puisi itu tanpa harus diketahui gadis itu dan Rio. Aku ingin merasakan bagaimana rasanya lega menyatakan cinta, tanpa mengharapkan apa-apa.

“Gimana? Udah siap lo bacain, Bin?” tanya Rio yang tampak tampan dan gagah dengan jas pengantin berwarna krem. Sely tersenyum menatap ke arahku dengan mata berbinar. Terlihat jelas sinar bahagia di kedua mata itu. Jantungku kembali berdegup kencang mengingat pertama kali melihat senyum gadis itu.

“Gue gak pernah nyangka lo bisa nulis puisi lho.” Sely menggelengkan kepalanya setelah menepuk pundakku. Aku takjub melihatnya di balik gaun putih yang ia kenakan. Rambut panjang sesikunya dipotong sepundak, dihiasi headpiece bunga melati putih. Nampak serasi. Sely terlihat sangat anggun dan dewasa.

Aku mengedikkan bahu sebelum ketahuan terpesona dengan calon istri orang. “Gue pun gak tau punya bakat jadi pujangga. Hahaha!”

Tawa kami bertiga tergelak di luar pintu kamar pengantin. Kerumunan tamu tampaknya sedang menunggu momen pelemparan bouquet. Banyak orang yang percaya bahwa orang yang mendapatkan rangkaian bunga ini akan bertemu jodohnya. Kurasa, sepertinya tidak salah juga jika aku percaya.

“Waaah, udah nggak sabar nih dapetin jodoh?” kata Rio dengan nada iseng lewat mic kepada para tamu yang berkerumun di hadapannya.

“Iyaa dooong! Bosen jomlo mulu…,” ucap salah satu tamu undangan wanita berkebaya hijau muda.

“Biar cepet nyusul nikah juga kayak lo, Ri!” sahut tamu lainnya. Rio terkekeh melihat ungkapan-ungkapan jujur mereka.

Rio berdeham. “Oke, sebelum gue lempar bouquet, seorang sahabat terbaik di dalam hidup gue yang mau bacain puisinya dengan harapan yang sama seperti kalian. Ketemu jodohnya. Hehehe.” Aku tersenyum sebal mendengar ucapannya.

Setelahnya, Rio memberi isyarat kepadaku untuk berdiri di sampingnya. “Dia adalah Bintang Chandra Respati. Semoga sahabat gue ini bertemu dengan jodohnya, yang bisa aja berada di sini,” ucapnya dengan serius, lalu tersenyum mantap ke arahku.

Aku pun melangkah menuju stand mic, lalu sekilas memperhatikan para tamu yang memperhatikanku dengan senyum penuh harapan. Kebanyakan dari mereka adalah wanita.

“Perkenalkan, nama gue Bintang. Semua yang diomongin Rio tadi itu jangan terlalu dipercaya ya, dia tuh orangnya iseng,” kataku membuka penampilan, yang disambut dengan tawa renyah.

Kemudian aku melanjutkan, “Okay, gue mau membacakan sebuah puisi singkat yang dibuat dua tahun lalu. Jujur, di dalam puisi ini, gue ingin menyampaikan cinta kepada seorang wanita yang sejak lama gue pendam. Dengan membacakan puisi ini, berarti tanda gue telah mengikhlaskannya dia berbahagia bersama orang lain.”

Para tamu pun diam dan memperhatikanku dengan seksama. Aku menarik napas mengumpulkan nyali dan membuang grogi. Badanku bergetar hebat. Aku melihat ke arah Rio dan Sely, mereka berdua tersenyum kepadaku. Untuk pertama kalinya aku memandang Sely dengan senyum paling tulus yang kupunya, gadis itu menganggukkan kepalanya, lalu mengelap air mata bahagia yang turun ke pipinya.

Denting piano mengalun pelan dan syahdu memainkan lagu Yiruma – River Flows In You. Dengan perlahan dan kesungguhan rasa, aku tersenyum membaca tiap deretan kata puisi.

Tentang Kamu

Apalagi yang harus kucari bila aku telah menemukanmu?
Sebuah cinta yang ternyata ada di dekatku.
Apalagi yang harus kulakukan untuk membuat kau mengetahuinya?Tanpa harus mengungkap rahasia yang ditahan debar jantungku.

Aku pernah mencintaimu, dengan sembunyi-sembunyi.
Layaknya bintang menuju pagi,
dan tak pernah rela subuh membuatnya pergi.

Sorak sorai dan tepuk tangan membanjiri setelah kata terakhir puisi itu menggema di pengeras suara. Rio dan Sely menghampiriku dan bergantian memelukku. Kemudian aku turun panggung dan berbaur dengan para tamu untuk berebut bouquet.

Sebelah tangan Rio dan Sely menggenggam bouquet yang hendak mereka lemparkan. Dalam aba-aba hitungan satu, dua, dan tiga, bouquet pun melayang di udara yang akan disambut oleh berpasang-pasang tangan yang ingin mendapatkannya.

Pada detik-detik ini, aku terdiam melihat bouquet itu menuju ke arahku. Aku menjulurkan lengan ke atas, kurasakan jantungku berdegup kencang seperti lintasan pacuan kuda saat mataku terpejam. Tanpa kusadari aku melompat rendah dan berhasil meraih bouquet itu, dan tidak pernah kuduga skenario Tuhan mengantarkan sebuah lengan lain yang juga ikut meraihnya secara bersamaan.

Aku membuka mata dan melihat siapa pemilik lengan seputih susu itu dengan jelas. Seorang wanita dengan terusan biru yang kaki jenjangnya dilindungi flat shoes berwarna senada. Rambut bobnya dimahkotai topi bundar cokelat yang tampak lucu. Bibir tipisnya terbalut tipis lipstik warna ruby.

Kedua ujung bibir wanita itu bergerak ke atas melahirkan senyum yang lebar untukku. Aku pun tersenyum dengan jantung yang berdegup kencang dan perut yang terasa seperti ada burung merpati terbang.

Kami berdua saling berpandangan cukup tanpa menyadari orang di sekitar kami memperhatikan. Rio dan Sely melihatku sambil bertepuk tangan.

“Terima kasih, Bintang. Nama aku Agatha Sefia,” ucap wanita itu dengan lembut. Aku mengangguk dan merasakan firasat baik. Seolah dituntun takdir, secara perlahan aku menggenggam tangannya yang masih memegang bouquet. Ia tidak menolak, justru tersipu malu dan memberikan senyum terindah yang pernah aku lihat. Senyum yang ingin kumiliki selamanya.

Aku percaya, ketika mengikhlaskan seseorang, Tuhan akan memberikan seseorang lain yang pantas dicintai, dan mencintai kita.

Advertisements

4 thoughts on “Firasat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s