Masa Lalu Secangkir Kopi Bersama An

IMG_5298

Aku tiba di sebuah kafe yang disarankan seorang temanku setelah menempuh perjalanan dengan motorku sekitar dua puluh menit dari rumah. Katanya, kafe ini cukup nyaman dengan balutan suasana vintage. Kafe ini terletak tidak terlalu jauh dari sebrang jalan Kober, tepatnya di antara deretan toko es Pocong menuju gapura raksasa ucapan: Selamat Datang di Kota Depok.

“Selamat malam, selamat datang,” sapa seorang barista pria yang menengok ke arahku dari balik mesin brew kopinya saat aku baru saja menutup daun pintu kaca buram kafe ini. Aku tersenyum dan menganggukan kepala sebagai jawaban.

Aku mengedarkan pandangan, suasana kafe minimalis ini sudah ramai pada pukul enam sore. Di sisi pojok, meja para pengunjung terbuat dari bekas mesin jahit, meja-meja itu berbaris rapi dipasangkan dengan sofa hitam panjang. Di sisi tengah terisi pengunjung yang menikmati pesanannya di meja rendah dan kursi berukuran sama. Dinding kafe –dekat meja barista– ditempeli poster-poster bergaya klasik. Penerangan kafe ini menggunakan lampu gantung terang menyerupai bola yang ditusuk. Tidak ketinggalan juga kipas angin dengan tiga sayap kokoh menggagahi langit-langit.

Aku memilih duduk di sofa pada sudut ruangan. Tepat saat aku menjatuhkan pantat, seorang pelayan wanita menghampiriku dengan membawa secarik kertas kecil dan pulpen, ia berkata, “Silakan, ingin pesan apa, Mas?”

Cappuccino dengan tiga shoot gula pasir, Mbak, itu saja dulu,” kataku tanpa melihat buku daftar menu.

“Baik, tunggu sebentar ya.” Pelayan itu mengangguk, tersenyum singkat, lalu pergi menuju meja barista.

Tidak lama kemudian, sekitar tiga menit aku menunggu sambil memerhatikan seisi kafe ini, pelayan yang sama mengantarkan pesananku. “Silakan menikmati, Mas,” ucapnya dengan senyum ramah seraya meletakkan secangkir cappuccino dengan sebatang kecil kayu manis dan gelas kecil berisi air putih dingin ke atas meja. Aku membalas ucapannya dengan senyum senada.

Tadinya aku tidak ingin memesan secangkir kopi, aku ingin menikmati minuman hangat yang manis seperti green tea. Bulan ini, aku merasa sudah sangat berlebihan mengkonsumsi kopi. Tetapi akhirnya aku memilih mengecap rasa pahit dan buaian kafein yang membuatku sering tidur telat. Bukan sebuah dosa besar juga sepertinya menikmati kopi di kafe yang baru pertama kali kunjungi.

Bolehkah aku bercerita sedikit tentang mengapa aku begitu menyukai kopi? Tadinya aku sangat membenci kopi, karena ayahku adalah perokok berat. Dia menikmati lintingan tembakaunya itu dengan khidmat bersama secangkir kopi hitam. Ibuku selalu mengomelinya setiap kali melihat kebiasaannya itu. Sejak saat itu aku memiliki prinsip; merokok, tapi tidak ngopi.

Tetapi itu semua berubah.

Suatu ketika, ada seorang gadis yang sempat begitu sangat berarti dalam hidupku pernah berkata padaku, ‘Jika kenyataanmu sedang terasa pahit, minumlah secangkir kopi. Darinya kau akan belajar bahwa rasa pahit pun dapat dinikmati.’

Aku tercenung saat mencoba mencerna ucapannya kala itu. Sejak saat itu, setiap kali kurasa kenyataan sedang tak berbelas kasih menyediakan rasa manisnya hidup, aku mulai menyukai kopi. Umm… Mencintai kopi, lebih tepatnya.

Begitulah, sekarang sebaiknya aku menikmati sebuah novel baru yang kubeli beberapa waktu lalu di sebuah acara buku. Novel itu berjudul ‘Walking After You’, ditulis oleh penulis yang mungkin tidak asing di telinga, ia adalah Windry Ramadhina. Aku telah membaca beberapa novel yang ia tulis sebelumnya, yaitu Montase dan London: Angel. Ia seorang perajut kata yang hebat, menurutku. Aku mengagumi bagaimana cara dia menuturkan cerita, mulai dari deskripsi tempat yang sangat detil dan apik, caranya menciptakan tokoh yang tepat, dan makna dari cerita yang dia buat.

Aku menatap lekat-lekat sampul novel itu, berwarna krem dengan banyak guratan garis cokelat seperti permukaan triplek yang dicat tidak sempurna. Ada gambar secangkir kopi dengan busa tipis di permukaannya pada ujung kiri bawah sampul. Ditambah gambar tiga kue macaron biru di ujung kanan atas sampul. Tulisan ‘Walking After You’-nya sendiri berwarna cokelat kayu dan sedikit menyembul di permukaan sampul. Menimbulkan kesan menggugah sekaligus klasik. Oh ya, tidak lupa ada sebuah kalimat yang kurasa menggelitik siapapun yang membacanya.

Kau tak perlu melupakan masa lalu. Kau hanya perlu menerimanya.’

Sial, kalimat itu berhasil menamparku. Mengingatkanku kembali pada gadis yang membuatku mencintai kopi itu. Beruntungnya, hanya kenangan, tidak sepaket dengan rindu. Karena aku telah membunuh semua rindu terhadap gadis itu.

Aku mulai membaca halaman pertama novel ‘Walking After You’ dengan dibubuhi napas panjang yang sedikit sesak, ditambah dengan asap mengandung ribuan racun yang menjejali paru-paruku dari sebatang rokok yang baru saja kubakar, juga sedikit harapan.

Aku dapat menerima masa lalu itu.

***

Aku merasa momen membaca novel ini cukup berbeda dari biasanya, tidak hanya ingin sekadar ‘membaca sampai habis’, tetapi juga berinteraksi dengan para tokohnya serta menyesapi alur cerita yang mereka jalani. Dalam imajinasi yang tercipta dari tiap deretan kata, aku merasa diriku menjadi bagian dalam cerita novel ini.

Aku berkenalan dengan An –sang karakter utama, seorang gadis muram yang berusaha memperbaiki kesalahannya dan menghadapi kehilangan. Aku seratus persen yakin ia memiliki masa lalu yang pelik. Pada bab-bab pertama yang kuselami, ia jelas mempunyai luka yang teramat dalam terhadap seseorang yang menjadi bagian dirinya.

“Jadi apa masalahmu, Fal?” tanya gadis itu sembari meletakkan sepiring soufflé dengan sendok kecil di sampingnya –yang jelas membuat siapapun yang melihatnya mengeluarkan air liur– di meja tempatku duduk yang menghadap kaca jendela bening, yang menampilkan pemandangan langit sebentar lagi menangis. Tempat kami bercakap-cakap ini adalah toko kue tempat ia bekerja. Afternoon Tea, namanya. Sesuai namanya, toko kue bergaya Eropa kuno yang dominan diwarnai putih dengan suasana teduh ini adalah pilihan sangat tepat untuk dijadikan destinasi menikmati minuman dan kue-kue manis berbentuk lucu bersama teman-teman.

Aku melihat gerakan tangan putihnya yang hati-hati meletakkan kue itu ke meja. “Aku tidak terlalu suka kue manis, An. Hmm… Tampaknya kue itu manis sekali,” gumamku.

“Tidak terlalu suka bukan berarti membenci ‘kan?” An mengedipkan sebelah matanya seraya tersenyum jahil. “Hei, kau tidak tau kan soufflé Afternoon Tea adalah yang nomor satu di negeri ini,” jelasnya, ia pula menambahkan, “yang membuatnya adalah koki yang manis, sesuai dengan rasa kue ini. Tak perlu kuberi tahu namanya, inisalnya saja, huruf ‘J’.”

“Ah, ya. Baiklah. Terserahmu saja, An.” Aku tertekeh melihat tingkahnya dan mulai memindahkan potongan kecil soufflé itu dengan sendok kecil ke dalam mulut. Kulihat pramusaji lain memperhatikan perbincangan kami. Tetapi aku tidak peduli. Aku lebih peduli dengan apa yang berada di dalam mul–… AH!

“I-ini kue dengan krim terenak yang pernah–“

An tertawa geli dan menukas. “Sudah kubilang kan? Teruskanlah sampai sendok terakhir, Fal.” Ia menatapku dengan tatapan yang sedikit sayu, namun ia tetap berusaha santai. “Kata seseorang yang sangat berarti dalam hidupku, semua orang pernah mengalami hal yang buruk. Terkadang, satu sendok krim dapat menyelamatkan hari-harimu yang kelabu.”

Aku menganggukkan kepala, mengimani ucapan entah-siapa-seseorang-yang-dimaksudkan-An-itu. Krim soufflé ini lembut sekali. Selembut tatapan seseorang yang membuatku mencintai kopi.

“Siapa?” tanya An to the point, tatapannya berubah menyelidik. “Gadis itu, yang sedang di pikiranmu sekarang. Ceritakan saja. Kau bisa mempercayakan rahasiamu padaku.” Senyumnya melebar.

“Namanya? Sebut saja ‘Dia’,” kataku. Ada kegetiran yang menyelimuti hatiku setiap kali namanya kudengar atau kuucap. Ah, hujan pun turun di luar toko ini, bulir-bulirnya jelas terlihat menempel pada kaca jendela dan mulai mengembun. Suasana di toko kue ini perlahan berubah sendu.

An sedikit memiringkan kepalanya ke kanan. “Dia? Astaga, tampaknya kau tidak benar-benar terbuka padaku.” Gadis itu tersenyum masam.

Aku tertawa melihat ekspresinya yang lucu, lalu menyendokkan soufflé untuk kali ketujuh dan mulai bercerita. Kulihat perubahan An yang kini fokus menatapku tanpa bergerak sedikit pun. Kedua siku tangannya diam di permukaan meja, matanya memandang lurus mataku, dan bibirnya tertutup rapat. Menunggu beberapa kalimat muncul dari pita suaraku.

“Kami bertemu di sebuah toko buku. Gadis itu, yang masih kuingat adalah dia tidak menyukai pagi. Baginya, pagi hanya menawarkan cerita baru, tetapi tidak dapat memperbarui cerita lama.” Aku mengenang malam-malam panjang yang kulalui bersamanya lewat pesan sms dengan senyum getir. Karena saat itu belum ada aplikasi chatting sebanyak sekarang dan mengacaukan jam istirahat.

“Aku jatuh cinta pada caranya tersenyum, caranya berbicara, caranya mengikat rambut, dan caranya menenangkan kekhawatiranku,” lanjutku jujur.

“Gadis yang unik,” komentar An. Ia menengadahkan kepalanya beberapa saat sambil berkata, “mengingatkanku pada seseorang yang kalimatnya kuucapkan tadi.” Kami berdua sama-sama tersenyum getir.

Aku mulai bercerita lagi di antara samar suara butiran hujan. “Suatu hari, aku main ke rumahnya. Ia tak mengajukan kalimat ‘mau minum apa?’ layaknya memperlakukan tamu, tapi langsung menyuguhkan secangkir kopi.”

An mengangguk. Aku kembali menjelaskan, “Dia bilang ‘Jika kenyataanmu sedang terasa pahit, minumlah secangkir kopi. Darinya kau akan belajar bahwa rasa pahit pun dapat dinikmati.’ Begitu, katanya. Sejak saat itu, saat aku merasa kenyataan terasa pahit, aku menikmati secangkir kopi.”

An bergumam pelan, lalu ia terkekeh kecil. “Kurasa benar juga ucapannya. Sepahit apapun kopi, tetap ada orang yang menikmatinya kan? Dan sepahit apapun kenyataan, tetap ada orang yang menghadapinya.”

“Ya, betul. Dan aku menjadi pecandu kopi setelah kepergiannya yang tiba-tiba menghilang entah ke mana. Beberapa waktu kemudian, kudapati ia telah bersama kekasih baru, dan aku tidak pernah menghubunginya lagi hingga detik ini, begitu pun dia. Meskipun saat aku tidak sengaja mengingatnya, masih ada debar jantung yang tersisa.”

An, gadis itu terdiam mendengar kalimat terakhir yang kuucapkan. Seakan-akan tiap deretan katanya menusuk hatinya. Tatapannya menjadi kosong. Aku menggoyangkan sendok kecil yang kugunakan untuk menyuap soufflé ke depan wajahnya. “An, kau melamun?”

Dengan segera, An menggelengkan kepalanya sambil tertawa hambar. “Tidak, tidak. Aku hanya tenggelam pada ceritamu.”

Keningku mengernyit, tidak percaya dengan ucapannya. “Masa?”

“Iya.” An terlihat agak salah tingkah, gadis itu mengalihkan pandangannya ke jendela. Aku tidak melanjutkan ceritaku hingga selesai kepada An karena pada kesimpulannya: aku berhasil mengikhlaskan gadis itu.

“Tapi aku sadar satu hal, An. Setelah banyak hari kulewati dengan luka dan banyak tanda tanya mengenai masa depan, aku menyimpulkan sesuatu; waktu tidak menyembuhkan luka, ia hanya memberikanmu proses. Selebihnya senyum dan keinginan untuk sembuh,” ucapku sambil tersenyum tulus.

Aku memberi jeda beberapa saat, lalu berkata lagi, “Yang harus kita lakukan untuk melepas masa lalu adalah ikhlas menerima semuanya telah terjadi dan tidak bisa diperbaiki. Kita perlu menyiapkan rencana dan melakukan yang terbaik untuk esok hari.” Aku sedikit bergetar setelah mengucapkannya.

An bergeming sebentar mendengar ucapanku. Binar matanya menunjukkan persetujuan. Kedua ujung bibirnya terangkat membentuk segaris senyum manis. “Juga belajar memaafkan diri sendiri. Setelah itu, semua akan baik-baik saja,” tambahnya.

Memaafkan diri sendiri, tiga kata itu seketika berputar kencang di kepalaku. Hal yang jarang disadari dan dilakukan. Aku baru sadar, kita lebih sering menyalahkan diri sendiri dan meratapi kesalahan di masa lalu. Kita mengeluh sulit melepas dan beranjak dari masa lalu. Bertanya-tanya apa penyebabnya dan cara apa yang bisa dilakukan demi mempercepat proses itu. Kini aku mendapatkan tambahan jawabannya dari An.

Ikhlas dan belajar memaafkan diri sendiri.

***

Aku menyelesaikan novel itu setelah tiga kali membaca halaman 293 –ini bukan halaman terakhir, tepat saat cappuccino yang kupesan beberapa jam lalu habis. Sambil merengggangkan tubuh yang pegal akibat terlalu lama duduk tanpa berganti posisi, senyumku mengembang diiringi rasa lega setelah berbagi rahasia dengan An, Anise. Ya, gadis itu mengajariku belajar memaafkan diri sendiri.

Anise, seorang gadis yang berusaha memperbaiki masa lalunya. Seorang gadis yang berusaha tersenyum di balik kerapuhan dirinya menghadapi hidup yang tidak lagi utuh. Seorang gadis yang keras kepala mewujudkan dua impian sekaligus sendirian. Seorang gadis yang akan menuntun kita melepas masa lalu lewat kisahnya agar kita bangkit dari lubang hitam penyesalan. Seorang gadis yang akan membuat kita tersenyum menatap masa depan.

Kurasa An adalah prototipe yang mewakili semua orang yang melepas masa lalunya. Jika kau mempunyai masa lalu yang buruk dan belum bisa melepasnya hingga detik ini, percayalah, bersama Anise dalam novel ‘Walking After You’, kau akan menemukan pencerahan tentang bagaimana proses melepas masa lalu lewat perjuangannya yang hebat.

Screen Shot 2014-12-27 at 23.21.00

Kalian pasti ada yang pernah atau sedang mengalami bagaimana sulitnya melepas masa lalu kan? Baiklah. Tak usah malu, curahkan pengalamanmu lewat cerita singkat di kolom komentar sebelum pukul sepuluh malam hari ini. Karena bagi seorang kamu yang beruntung akan bertemu An lewat satu eksempelar novel ‘Walking After You’, yang nanti aku berikan. Jangan lupa cantumkan akun Twitter-mu, ya. Semoga beruntung! 🙂

Kau tak perlu melupakan masa lalu, kau hanya perlu menerimanya.

Yang perlu kau segera sadari, ada seseorang yang sabar menunggumu menatap ke depan dan bersiap menggenggam tanganmu merakit masa depan.

*NB: terima kasih mbak Windry Ramadhina –yang bercerita mengenai proses panjang menulis kisah An– untuk perjuangannya merajut tiap kata ‘Walking After You’, lewat novel ini, saya tertawa saat mengingat masa lalu yang saya tuliskan di atas.

#VirtualBookTour @GagasMedia #TigaCeritaCinta #WalkingAfterYou
Advertisements

50 thoughts on “Masa Lalu Secangkir Kopi Bersama An

  1. Menapaki kembali jejak kenangan di masa lalu membuatku terpekur lama.
    ‘Memangnya dia masih di sana?’, tanyaku dalam hati.

    Sepertinya tidak. Sepertinya.

    ***

    Tujuh tahun lalu, aku masih bocah ingusan. Setidaknya begitulah orang-orang menyebut remaja seusiaku.

    Sinar matahari masuk melalui celah-celah ventilasi kelasku. Menimpa wajah lugunya. Dia? Siapa?

    Entah dia siapa. Aku tidak mengenalnya dengan baik. Tapi kehadirannya cukup menjengkelkan. Beberapa soal matematika ini seharusnya mudah untuk kuselesaikan, jika konsentrasiku tidak buyar karena dia.

    Lagipula, siapa yang tahu hati akan condong ke mana?

    Hari berganti tahun. Perasaan ini menjadi raksasa di dalam hati dan siap meledak kapan saja. Namun cinta harus menempuh bungkamnya, sebab si pemilik urung malu.
    ‘Biar saja perasaan ini di sini. Tak perlu diungkapkan. Ada waktunya..’

    Gelisah. Gundah.

    Hingga suatu hari, waktunya datang. Dia pergi selamanya. Sebelum ada pengakuan di ujung tenggorokan. Sebelum ada jalinan kenangan yang kubuat dengannya. Sebelum ada apa-apa di antara aku dan dia.

    Aku kehilangannya, dengan rasa kesal luar biasa. Sebab aku belum berjuang sama sekali. Untuk membuatnya merasakan hal yang kurasakan. Lebih miris, aku belum mengesankan apa-apa untuknya.

    Di sinilah aku, melepaskan angan-anganku tentang dia. Sebab dia sudah bahagia.

    ***

    ‘Sekarang, dia masih di hatimu?’
    ‘Sepertinya tidak. Sepertinya..’

    – @evizaid

  2. Aku masih ingat kenangan itu, kenangan di satu setengah tahun yang lalu yang membuatku menganggap bahwa ternyata terlalu banyak kenangan yang tak sanggup dilupakan. Semua berawal dari perkenalan biasa antar junior dan senior SMA di sekolah. Sebenarnya tanpa memperkenalkan diri pun, aku sudah tahu siapa dia, sejak SMP.

    Hubungan kami berlanjut, walau tanpa ada status yang mengikat, kami rasa kami bisa menjalani ini dengan cara adik-kakak. Lama kami bercerita dan bercengkerama walau hanya aplikasi chatting yang menjadi media. Sejak saat itu, keinginan memiliki semakin tumbuh, setidaknya untuk ukuran pelajar SMA. Aku ingin dia lebih dari sekadar Kakak, aku ingin dia juga ikut menjadi bagian cerita hidupku yang mewarnai suka, duka, senang, sedih.

    Hingga akhirnya… “Syif, maaf ya, rasanya kita udah terlalu jauh. Kakak ngerasa hubungan ini nggak kayak pertama kali, kamu terlalu asyik sama dunia maya kamu. Kita nggak bisa terus-terusan gini”. Aku tertohok, memangnya apa yang salah? Adik-kakakan tidak pernah meminta putus kan? Atau jangan-jangan, dia merasa bosan? Memang bukan hal yang mudah untuk melepas dan melupakan semuanya. Meskipun kami berada di satu sekolah dan lingkungan yang sama, tetap saja rasanya aneh. Dia menghindar… dan beberapa hari setelah itu, aku mendapati kabar yang mengatakan bahwa dia punya pacar baru. Hah, jadi ini alasan dia minta aku ngejauhinnya? Takut pacarnya cemburu, ninggalin, dan mutusin dia? Padahal jadi “adik boongan” nggak ada masalah kan!

    Aku mencoba meyakinkan diri bahwa dia memang bukan Kakak yang patut dijadikan sebagai Kakak. Aku mencoba melupakannya dengan mengikuti kegiatan lain yang sebisa mungkin membuat aku lupa dengan semua yang pernah terjadi, tapi… tetep aja nggak bisa. Dan karena kegiatan-kegiatan itu pula kami lebih sering bertemu dan nggak bisa menolak bertatap muka satu sama lain.

    Aku sadar bahwa caraku memang salah, sekeras apapun melupakan kalau dia masih ada disini, semua jadi percuma. Mungkin yang harus aku lakukan adalah menerima bahwa dia nggak bisa bersama-sama lagi denganku, dengan cara apapun itu, adik-kakak lah, senior-junior lah. Aku hanya harus rela menerimanya, karena seperti yang hidup ajarkan kita nggak bisa mendapatkan apa yang kita mau dan sesuai harapan di waktu yang kita inginkan pula. Hidup juga mengajarkan, bahwa saat kita merasa senang, di saat itu pula lah kita harus siap untuk sedih. Karena keduanya beriringan, nggak saling menyusul, ataupun meninggalkan. Dan sampai saat ini, walau intensitas hubungan kami tak sedekat dulu lagi, setidaknya aku masih bisa menganggapnya sebagai kakak kelas pada umumnya.

    @asysyifaahs

  3. Aku tahu dan mungkin semua orang tahu, masa lalu mampu mendewasakan kita untuk menjalani hidup. Termasuk masa lalu ku empat tahun lalu..

    Ketika kebersamaan berakhir dengan perpisahan tanpa terduga.

    Aku tahu, sampai saat ini kakanya masih menganggap aku adalah malaikat kematian adik tersayangnya.Sungguh aku pun tak menginginkan kejadian itu menimpa adiknya yang menjadi sahabatku juga. Tapi, waktu dan keadaan berkata lain.

    Aku dan dia bersaahabat sejak kecil. Kami selalu bersama, sekolah bersama, bermain bersama, lihat bintang bersama. Sampai suatu hari, aku ingin memberinya kejutan ulangtahun. Aku merencanakan sesuatu yang begitu indah. Aku yakin, ia pasti suka. Tepat dihari itu, ia datang dengan kakanya . Ia terlihat sangat tampan, aku tersenyum dan melambaikan tangan. Ini hari spesialnya, hari ulangtahunnya dan hari dimana aku akan mengatakan perasaanku yang sebenarnya ke dia. Kakaknya pergi, meninggalkan aku dan dia berdua saja diatas tebing tinggi. Dari tebing inilah aku dan dia melihat matahari bergeser ke bagian bumi yg lain, melihat burung-burung terbang ke rumah mereka. Ia meraih puncak kepalaku dan mengusapnya dengan sayang.

    Tiba-tiba angin yang kurasa aneh datang menerpa tubuh kami. Aku merasa angin itu bukan angin biasa. Ia mengajakku turun, saat turun dari bebatuan tebing, tiba-tiba dia terjatuh dan berguling-guling kebawah. Aku teriak, aku pun langsut meloncat turun. Berusaha mengejar tubuhnya yang terus berguling sampai akhirnya berhenti tepat dibatu besar yang menghantam kepalanya. Aku menjerit, berusaha menopang kepalanya. Dan kepalanya mengucurkan darah begitu banyak. Tangannya terulur mengusap air mataku, “Kamu jangan sedih. Kamu perempuan yang kuat. Aku tahu, kita dibawah rembulan yang indah. Aku tahu maksud mu mengajakku kesini. Aku sayang kamu, Li” . Setelah mengucapkan itu, ia tak bernapas lagi. Aku belum sempat mengucapkan rasa sayangku ke dia namun dia telah pergi untu kselamanya.

    Aku menangis sejadi-jadinya. Kakanya datang menghampiriku, ia memarahiku tanpa henti.

    Setelah kejadian itu, aku menjadi pendiam. Kehilangan seseorang yg kita sayang dan tanpa sempat membalas perasaannya pada kita, menjadi penyakit paling menyakitkan dalam hidup. Seseorang yg pernah berbagi hidup, tawa, cerita dan impian, kini tak ada lagi.

    Aku menutup diri sampai awal masuk SMA . Semua lelaki yg datang menghampiriku, seperti lalat yg hanya sejenak untuk berbincang. Aku masih menyesali kejadian itu. Jika saja, andai saja, membuat semakin sakit. Sampai ada seseorang yg membuat ku sadar, bahwa hidup ini sangatlah indah jika kita mau menerima kenyataan yg ada. Menerima masa lalu yg sangat sulit untuk diterima sebagai pelajaran hidup, jembatan untuk meraih impian yg tertunda. Dan kini, aku belajar untuk menjalani hidup dgn masa lalu yg masih mengenang di hati. Terkadang, tak cukup berpegang pada orang baru untuk merangkai hidup kembali. Namun hati lah yg berperan penting.

    @avalia_kitty

  4. “Bisa karena terbiasa”

    Mungkin itu kalimat yang tepat untuk perjuanganku selama 1 tahun belakangan ini.

    ***

    Remaja sepertiku mana tahu tentang cinta apalagi aku yang kala itu baru memasuki jenjang pendidikan SMP.

    Pesantren kilat. Ya, acara disekolah yang mempertemukan dengan tidak sengaja aku dan dia dengan alasan yang cukup konyol.

    Sebuah jepit. Ini semua berawal dari sebuah jepit berwarna soft pink milikku yang tertinggal dikelas 7-2. Dengan tergesa-gesa aku kesana kemari mencari jepit kesayanganku itu. Sampai pada akhirnya aku pasrahkan saja jika memang hilang. Aku pergi ke mushola yang ada di sekolah untuk menunaikan kewajiban. Saat aku bersiap mengambil air wudhu, seorang laki-laki yang juga murid di sekolah ini tiba-tiba menyodorkan barang yang ternyata itu adalah milikku. “Ah bukan main, akhirnya ketemu juga.” Batinku kala itu. Makasih ya, ucapku pada laki-laki yang belum kutau namanya itu. “Lain kali jangan ditinggal lagi tuh barangnya” jawabnya dengan nada sewot. “Ih sewot amat jadi cowo. Udah bilang makasih bukannya dijawab sama-sama malah gitu. Ih! Sumpah, gak bakal gue suka sama cowo itu.” Gerutuku dalam hati.

    ***

    Mau tahu apa yang terjadi saat aku di semester 2? Ya. Aku dekat dan akhirnya jadian alias pacaran dengan laki-laki yang pernah ku sumpahi untuk tidak kusukai saat itu. Ah, seperti menelan air ludah sendiri.

    1 tahun berlalu. Aku sudah tidak lagi bersamanya. Namun kita masih berkabar hanya saja tidak sesering dulu. Aku bersikeras untuk melupakannya. Namun apadaya, aku terlanjur mencintainya. Setelah banyak kebersamaan yang sering kita lalui di sekolah. Seperti naik bus ke sekolah bersama, dan lainnya. Semua berubah, terutama dia yang perilakunya menunjukan tidak lagi sayang padaku. Kuterima kenyataan pahit saat kutahu dia bersama dengan yang lain. Pahit.

    Aku biasakan diriku untuk tidak berkomunikasi dengannya. Di kelas pun aku berusaha cuek dengannya. Berbicara jika keadaan sangat mengharuskan aku bicara dengannya.

    Ujian praktek macam apa ini, yang mengharuskan ku mementaskan drama nenek-kakek bersama dia. Hih. Mimpi buruk macam apa ini. Tidak, ini bukan mimpi. Sayangnya.

    ***

    Pengumuman kelulusan sudah dikumandangkan. Aku dan semua teman seangkatanku lulus. Ini saat yang berat saat aku harus berbeda sekolah dengan dia. Ya, masih ada secuil rasa dihati ini untuknya.

    Setelah melalui dan merasakan sakit, menahan cemburu, sampai merelakannya. Aku bisa. Bisa dan berhasil melupakannya. Dan berpaling ke lelaki yang pantas mendapatkan hati ini.

    “Gue bisa. Karena terbiasa” 🙂

    @Ayumalihahr

  5. Engkau masa lalu ku, sedang apa? Sudah 3 tahun aku tak bertegur sapa. Ketika kita bertemu, kita seperti orang asing, tidak saling mengenal, saling buang muka. Percayalah, aku ingin menyapamu, tapi rasa gengsi ini mengalahkanku. Tahukah kamu? Aku diam-diam melihat wajahmu, aku suka sekali melihat wajahmu, tidak ada yang berubah, mungkin sekarang kamu lebih tinggi daripada 3 tahun lalu, badanmu masih kerempeng seperti dulu. Apa kau ingat? Ketika guru sedang menerangkan materi dan kita malah asyik mengobrol dengan bahasa isyarat, ingatkah ketika teman-teman menanyakan apakah kita pacaran dan kau hanya menjawab dengan cengiran lebar? Ingatkah ketika kau meledekku sampai aku cemberut dan kau tertawa puas. Tetapi tidak lama, kau berubah. Kau bukan dirimu yang ku kenal. Kau seakan-akan anak baru. Ketika kau dan teman-teman sedang bercanda, dan aku ikut bergabung, kau malah pergi, aku bingung, aku bertanya-tanya mengapa kau begitu?. Hatiku sakit ketika mendengar kau sedang dengan salah satu teman baikku, tapi aku hanya tersenyum, toh aku siapa kau? :’)
    Aku menangis menyadari kau sangat-sangat berbeda. Sekarang, sudah tak ada lagi senyummu, tawamu, ledekanmu, dan aku kangen semua yang ada di dirimu.
    Hm, aku ingin melepaskanmu, masa laluku. Aku tak ingin terbayang-bayang olehmu, masa laluku. Aku harus berjalan ke depan dan aku menemukan quotes yang memotivasiku, dan begini isinya;
    “Life Must Go On, With or Without You.” Ya, hidupku terus berjalan, dengan atau tanpa kau.

    Ps. With love, masa lalumu.

    @Diniadndapr

  6. Melepas masa lalu. Ah rasanya bagi saya itu sesuatu yang susah-susah gampang. Pasalnya bukan sekali dua kali saya jatuh cinta lantas waktu berikutnya saya patah hati. Tapi ada satu masa dimana saya merasa saya benar-benar ‘sakit’. November 2012, sejak itulah saya mulai merasa lebih susah untuk ‘move on’. Saat semua janji, semua canda tawa dan semua kebahagiaan yang saya anggap tulus dan tak akan (belum) berakhir, tiba-tiba mengejutkan saya dengan setumpuk rahasia menyesakkan didalamnya. Saat saya tahu bahwa saya bukanlah satu-satunya orang yang diberi janji manis oleh dia yang saya percaya. Saat diam-diam dia yang saya percaya mengkhianati saya dengan bercengkrama nan mesra via telepon dengan wanita lain. Dan yang paling menyakitkan adalah saat saya akhirnya berani menanyakan apa alasan dia melakukan itu sedang dia hanya diam dan tak mampu membela diri sedikitpun. Memang pembelaan diri sebaik apapun tidak akan menghilangkan jejak pengkhianatannya tapi setidaknya dengan saya mendengar dia bersusah-susah merangkai alasan, saya merasa (masih) diinginkan. Tapi nyatanya itu tidak terjadi, dia masih saja diam saat saya sudah berjam-jam mengeluarkan sumpah serapah, entah berupa kata-kata yang (masih) sopan sampai saya tak mampu lagi untuk tidak menangis. Sia-sia, mungkin itulah yang saya lakukan dengan masih menunggu jawaban dia. Saya muak dan marah, sampai akhirnya saat saya harus kembali pulang ke ibukota, saat kereta menarik saya pergi dari Purwokerto, dia masih saja terdiam dan tangisan pun kembali pecah selama saya berada di dalam kereta. Berat sekali rasanya memang saat saya harus kembali ke rutinitas kerja dengan isi kepala yang ruwet, hati yang sakit dan air muka yang sudah tak karuan. Saya merasa sakit hati yang benar-benar sakit. Saya yang mengenal dia sebagai kakak kelas dari semenjak saya ospek SMA di 2009, saya yang sering putus-nyambung dengannya, berlabuh dengan pasangan lain tapi pada akhirnya kami tetap kembali bersama. Tapi sekarang, saat saya mulai membuat angan-angan masa depan dengannya sedikit demi sedikit menjadi nyata, dia mengkhianati saya, tanpa alasan. Mana yang lebih menyakitkan, mengetahui dia selingkuh atau sekaligus tahu dia berselingkuh tanpa alasan? Entahlah. Dan sesakit apapun saya toh waktu tetap berputar juga, tidak lantas terhenti hanya karena saya patah hati. Hingga saat diawal tahun 2014 ini dia akhirnya menikah dengan wanita itu, dan saya datang, saya hanya mendoakan dia dan keluarga barunya akan baik-baik saja, mendoakan kebahagiaan? Biarlah itu jadi urusan mereka dengan Tuhan, saya tak mau munafik dengan pura-pura mendoakan mereka bahagia. Saya memang sudah melepas semua perasaan terhadapnya, saya tidak mau terus menahan perasaan yang membuat saya tidak bahagia. Tapi untuk soal melepas masa lalu dengan segala pernak-perniknya? Sepertinya saya masih dalam tahap belajar, karena buktinya sampai sekarang saya masih sendiri. Saya bukan takut untuk jatuh cinta lagi tapi saya hanya memilih untuk lebih lama lagi belajar. Belajar mengerti bahwa saat jatuh cinta saya juga harus siap untuk patah hati, belajar untuk bisa lebih menikmati rasa pahitnya rangkaian proses hidup. Agar nantinya saat sosok baru itu akhirnya datang, hati saya akan lebih berani dan sedikitnya berharap hubungan itu akan lebih jujur dan tulus. Dan oh mungkin saja, jika saya bisa ‘berdialog’ dengan An, saya bisa belajar darinya cara melepas masa lalu dengan bijak sekaligus bagaimana cara memaafkan diri sendiri 🙂

    @dyounglady

  7. ‘Masa lalu’ sebuah rumah yang pernah ku harapkan untuk menjadi masa depan. Namun pada kenyataannya, ia hanyalah sepenggal harapan yang berbeda tujuan.

    Beberapa bulan yang lalu, aku pernah merajut mimpi bersama ia yang dulu selalu ada di hati. Tujuh bulan bukanlah waktu yang singkat untuk membina sebuah hubungan. Apalagi, aku bukanlah orang yang mudah untuk menjatuhkan hati. Hingga pada akhirnya, aku jatuh cinta pada ia yang kini telah menorehkan luka. Ada banyak canda, tawa dan luka yang mewarnai setiap sudut kisah kita.
    Pada awal hubungan ini, aku sempat ragu dengan segalanya. Aku meragukan cintanya yang sebelumnya sering ia tawar ke sana ke mari. Entahlah, aku begitu tak yakin untuk bisa melangkah lebih jauh lagi. Berulang kali ia membuatku merasa tersakiti hati, dengan sikapnya yang selalu saja tak bisa ku mengerti. Namun, aku memutuskan untuk tetap bertahan. Rasa setia yang telah ku tanam sejak awal, mampu menggagalkan segala niatanku untuk meninggalkannya.
    Enam bulan berlalu, semakin banyak pertanyaan yang membuatku ragu. Sepertinya waktu telah memberi tahu padanya, soal rasa di hatiku yang kian tak menentu. Hingga pada akhirnya, tepat di tujuh bulan kami jadian, ia memutuskan untuk meninggalkanku, melepaskan segala mimpi-mimpi kita, hanya demi seseorang yang baru.
    Katanya, ia juga sudah lama meragukanku. Meragukan tentang cinta dan rasa sayangku. Dan, yang lebih parahnya lagi, katanya sejak dulu ia memang selalu mudah jatuh cinta pada orang yang baru. Entah siapapun itu, aku tak perduli. Sakit memang, segala usaha telah kukerahkan untuk mempertahankan, tapi ia malah memutuskan untuk pergi dan meninggalkan.
    Ternyata benar, keraguan adalah awal dari kenyataan yang menghancurkan. Namun tak apalah, berkat luka di masa lalu, aku mampu bertahan dan merajut mimpi-mimpi bersama orang yang baru. Dengan belajar masa lalu, tentang kedewasaan, kesabaran dan juga keikhlasan, ku harap, kini aku mampu melukis cerita yang akan berakhir bahagia selamanya.

    Terima kasih masa lalu, karenamu, kini aku mampu menemukan rumah yang baru.

    @CynthiaInkee

  8. Dikala itu ketika masa putih abuabu yang indah aku bertemu dia ketika sekolah sedang mengadakan Ujian Tengah Sekolah entah mengapa sebenarnya pihak sekolah yang menjadikan beda jurusan tetapi bisa 1 ruangan. Berawal sebenarnya aku tak mengetahui nama dia siapa, dia asli daerah aku atau bukan dia kelas mana yang aku tahu dia juga berteman dengan temanku 1 jurusan ketika dulu masih kelas 1. Dari itu aku baru menyadari karna teman aku sendiri bilang bahwa dia selalu memerhatikan secara diam diam, melihat dari kejauhan hingga membuat lekuk senyum yang menurutku biasa saja.

    Waktu itu Ujian sudah selesai tak sengaja aku bertemu dia dilorong kelas dan disaat itu pula aku bersama temanku yang juga temannya dan dia juga mengajak teman sekelasnya mungkin karna aku juga belum tahu. Ditempat itu juga aku dan dia berkenalan singkat cerita aku pun mulai dekat dengannya walau sebenarnya aku tak begitu peduli tetapi karna dia mencoba mengajari sesuatu hal yang aku anggap penting, dimulai dari apa itu hidup bagaimana menjalani hidup dan 1 hal lagi bagaimana cara menerima dan menutupi kelebihan serta kekurangan orang lain dari situ aku mulai merasa nyaman aku merasa dapat belajar serta memberiku sebuah arti memaknai sesuatu. Hingga akhirnya engingeeeeng kami pun memutuskan untuk menjalin sebuah hubungan. hingga 2 bulan berjalan….

    Diwaktu itu juga aku baru menyadari bahwa ada satu teman kelas ku yang sudah lebih dulu mempunyai perasaan bahkan dekat dengan dia, dari situ aku merasa bersalah besar karna sudah mengambil posisi yang sebenarnya harus ditempati oleh temanku ini. Dia pun mengatakan bahwa dia tak ada perasaan apapun lebih dengan temanku. Karna darisitu pun aku mulai menghindari dia sama seperti halnya hubungan kami menggantung tak jelas karena keegoisanku yang mengambil keputusan secara sepihak. Sakit memang perih juga bila dirasakan. disaat itu aku juga dalam keadaan bingung bagaimana dan apa yang selanjutnya terjadi.

    Hingga suatu hari dia diam diam bercerita kepada temanku yang intinya dia berkata; “Hapuslah perasaanmu bila memang itu maunya hatimu tapi 1 jangan pernah kamu lupakan apa yang sudah terlewati karna memang hidup ada untuk membuat kenangan entah itu manis ataupun pahit lewati mereka dengan senyum. maafkan aku yang telah membuatmu berada didalam keadaan seperti ini. kelak jika Tuhan berkehendak Jodoh tak akan lari kemana”

    Dari situlah puncak kesalahan kekecewaan aku pun menjadi satu rasa bersalah yang teramat besar dan dari situ pula aku mendapatkan pelajaran yang sampai sekarang aku masih memaknainya, mengambilnya sebagai hikmah.

    Hallo kamu masalaluku, apa kabar?

    @uchanifah

  9. ‘Masa lalu’ sebuah rumah yang pernah ku harapkan untuk menjadi masa depan. Namun pada kenyataannya, ia hanyalah sepenggal harapan yang berbeda tujuan.

    Beberapa bulan yang lalu, aku pernah merajut mimpi bersama ia yang dulu selalu ada di hati. Tujuh bulan bukanlah waktu yang singkat untuk membina sebuah hubungan. Apalagi, aku bukanlah orang yang mudah untuk menjatuhkan hati. Hingga pada akhirnya, aku jatuh cinta pada ia yang kini telah menorehkan luka. Ada banyak canda, tawa dan luka yang mewarnai setiap sudut kisah kita.
    Pada awal hubungan ini, aku sempat ragu dengan segalanya. Aku meragukan cintanya yang sebelumnya sering ia tawar ke sana ke mari. Entahlah, aku begitu tak yakin untuk bisa melangkah lebih jauh lagi. Berulang kali ia membuatku merasa tersakiti, dengan sikapnya yang selalu saja tak bisa ku mengerti. Namun, aku memutuskan untuk tetap bertahan. Rasa setia yang telah ku tanam sejak awal, mampu menggagalkan segala niatanku untuk meninggalkannya.
    Enam bulan berlalu, semakin banyak pertanyaan yang membuatku ragu. Sepertinya waktu telah memberi tahu padanya, soal rasa di hatiku yang kian tak menentu. Hingga pada akhirnya, tepat di tujuh bulan kami jadian, ia memutuskan untuk meninggalkanku, melepaskan segala mimpi-mimpi kita, hanya demi seseorang yang baru.
    Katanya, ia juga sudah lama meragukanku. Meragukan tentang cinta dan rasa sayangku. Dan, yang lebih parahnya lagi, katanya sejak dulu ia memang selalu mudah jatuh cinta pada orang yang baru. Entah siapapun itu, aku tak perduli. Sakit memang, segala usaha telah kukerahkan untuk mempertahankan, tapi ia malah memutuskan untuk pergi dan meninggalkan.
    Ternyata benar, keraguan adalah awal dari kenyataan yang menghancurkan. Namun tak apalah, berkat luka di masa lalu, aku mampu bertahan dan merajut mimpi-mimpi bersama orang yang baru. Dengan belajar masa lalu, tentang kedewasaan, kesabaran dan juga keikhlasan, ku harap, kini aku mampu melukis cerita yang akan berakhir bahagia selamanya.

    Terima kasih masa lalu, karenamu, kini aku mampu menemukan rumah yang baru.

    @CynthiaInkee

  10. Ayah tak pernah menuntut apapun dariku sebagai putri semata wayangnya. Ia tak pernah memintaku untuk selalu berprestasi di sekeloh. Tak juga memaksaku untuk mengikuti keinginannya agar putrinya ini bisa melanjutkan pendidikannya ke bangku kuliah dengan jurusan akuntansi. Ia pun tak pernah sekali pun memohon padaku untuk meneruskan cita-citanya yang tak terwujud sebagai akuntan. Ia membebaskanku untuk merajut mimpiku sendiri. Ia mendukungku untuk selalu tegap menghadapi kehidupan yang tak melulu lurus. Tak melulu datar. Kalaupun aku sampai terjatuh, ia akan merelakan dirinya untuk menjadi sayapku, kakiku.

    Ayah tak pernah menuntutku untuk segala hal yang bukan menjadi keinginanku.
    Ia membebaskan.

    Nyatanya sering kali, bukti kasihnya itu tak mendapat penghargaan dariku. Aku masih ingat dengan jelas -bahkan setelah hampir empat tahun kepergiannya yang begitu mendadak di satu subuh yang dingin karena serangan jantung- bagaimana ia selalu mengantar dan menjemputku sekolah. Atau jika ia tak bisa menjemputku di sekolah karena hujan, sedangkan motor Kawasaki tua keluaran tahun 1999-nya sedang tak bersahabat menerobos hujan deras, ia akan setiap duduk menantiku di teras rumah kami yang sederhana sambil merokok atau minum kopi hitam dengan dua sendok makan setengah gula pasir. Atau ini, saat aku harus pulang malam karena mengikuti tes seleksi masuk PTN dan ia tak bisa mengantarku, ketika aku hampir mencapai gang depan rumah yang selalu sepi, kudapati ia tengah duduk sambil merorok menungguiku.

    “Capek, Teh?” tanyanya setelah kucium punggung tangannya.
    “Banget, Yah.” Tanpa kuduga, ia meraih tas punggungku yang begitu berat berisi berbagai buku paket dan kamus lalu menggendongnya. Tak hanya itu, ia pun segera merangkul bahuku saat kami jalan bersisian. Tak ada obrolan lagi setelah itu. Aku memanglah bukan tipe anak yang begitu dekat dengan ayahnya. Aku lebih dekat dengan Ibu. Alasannya? Karena Ayah sering tak berada di rumah. Sesimpel itu. Pertemuan kami hanya ketika pagi Ayah mengantarkanku sekolah dan sore ketika ia menjemputku. Saat malam setelah makan malam bersama, aku langsung pergi ke kamarku. Tak banyak waktu yang kuhabiskan bersama Ayah. Bahkan untuk sekadar meluangkan waktu untuk mengobrol santai pun kami tak punya.

    Ayah sosok yang baik. Sangat baik malah. Namun ia sering kali dipandang terlalu tegas oleh keluarga besar ibuku. Jangan mereka, aku sebagai anak kandungnya pun merasa Ayah adalah sosok yang sangat tegas. Mungkih hal itu yang menjadikanku sedikit berjarak dengannya. Kupikir Ayah terlalu kolot jika aku ajak mengobrol tentang duniaku sekarang. Kupikir Ayah pasti akan melarangku untuk ini itu. Kupikir Ayah akan sangat mengekangku untuk segala hal. Karena pikiranku sendiri itu, aku telah memasang tembok yang sangat tinggi dan tebal antara diriku dan Ayah.

    Sering kali aku tak acuh dengan keberadaannya di rumah ketika akhir pekan tiba. Aku malah asyik pergi keluar dan berkumpul dengan teman-temanku. Menghabiskan hari di luar rumah. Kalaupun sekalinya kami tengah sama-sama berada di rumah, aku lebih banyak berada di kamar, menonton film dari laptop atau seru sendirian chatting dengan teman-teman hingga lupa waktu.

    Pernah di satu Minggu pagi, Ayah mengajakku untuk makan lontong sayiur di depan komplek rumah kami. Sambil menenteng koran pagi itu, Ayah menggandeng sebelah tanganku. Mendapat perlakuan seperti itu, meski dari ayah sendiri, tak urung membuatku kikuk. Alasannya? Karena tak terbiasa. Lalu setelah menghabiskan sepiring lontong sayur sebagai sarapan kami pagi itu, dalam perjalanan pulang Ayah mengajakku mengobrol.

    “Melihat kamu yang udah besar kayak sekarang, semakin ngingetin Ayah kalau waktu berjalan cepat banget. Kamu semakin dewasa, Ayah semakin tua.”

    “Tapi bukannya Ayah pernah bilang, meski aku udah tumbuh dewasa, aku akan tetap jadi gadis kecilnya Ayah?”

    “Ya, memang. Tapi Ayah cuma mikir, Teh, kalau nanti kamu udah kuliah bahkan kerja terus punya keluarga sendiri, gimana nasib Ayah sama Ibu? Teteh, kan, cuma anak satu-satunya Ayah sama Ibu, kalau Teteh pergi dan jarang di rumah, semakin sepi aja, deh.”

    “Ya ampun, Yah, mikirnya jauh, deh. Tenang aja, Yah, aku nggak akan ninggalin Ayah sama Ibu, kok.”

    “Yakin? Sekarang aja kamu lebih banyak waktunya sama teman-teman kamu, deh, dibanding sama Ayah.”

    Mendengar ucapan Ayah seperti itu, membuatku seperti tersengat arus listrik yang begitu kuat. Ucapannya kembali terulang dalam ingatanku.

    “Ayah nggak akan minta kamu macam-macam atau hal yang aneh-aneh, kok. Ayah cuma minta waktu kamu lebih banyak untuk Ayah. Kita bisa nonton bareng, ngopi bareng, atau berkebun dan masak bareng. Ayah cuma pengin kamu bisa meluangkan waktu sehari aja sama Ayah.”

    Kini, setelah bertahun-tahun dari kejadian pagi itu berlalu, aku masih dapat mengingat semua ucapan Ayah dengan jelas. Tak ada yang terlewat satu kata pun, bahkan nada kerinduan dan pengharapan dalam suaranya masih dapat kudengar. Wajahnya pun ikut menghiasi lamunanku.
    Ayah hanya minta waktuku untuknya, walau hanya sehari. Ayah hanya minta aku lebih memerhatikan dirinya, walau hanya sejenak. Namun aku tak pernah melakukannya untuknya. Andai kutahu jika seminggu setelah Ayah mengatakan itu, Ayah akan meninggalkanku selama-lamanya.

    Tak urung, mengingat hal itu semua, selalu berhasil membuatku diserang rasa bersalah yang teramat dalam. Begitu banyak kata andai yang silih berganti dalam benakku. Andai… Andai… Andai…

    Setelah kepergiannya, aku seperti ikut mati. Dalam beberapa bulan pertama, aku bahkan tak bisa melakukan kegiatan normal seperti dulu. Kerjaanku hanya diam berlama-lama di kamar Ayah. Memandangi album fotonya. Memeluk erat kemeja-kemeja kesayangannya. Tidur dalam balutan selimut yang masih tercium bau khas tubuhnya. Tak jarang aku sampai menangis histeris tengah malam.

    Aku terlampau merasa bersalah.
    Aku terlampau menyesal.

    Mengingat setiap penggalan kisah yang pernah kami lalui semakin membuat dadaku nyeri. Rasanya bagai ditusuk belati tajam berkali-kali. Sampai tiba di satu malam, dua tahun setelah Ayah meninggal, Ayah hadir menemuiku dalam mimpiku malam itu. Kulihat ia mengenakan setelan kemeja hitam dan blue jeans. Ia tampak gagah dan tampan. Wajahnya berseri. Tak luput seulas senyum mengukir sudut-sudut wajahnya. Ia mendekat lalu menarikku dalam dekapannya. Aku mencium wangi khas tubuhnya yang bercampur dengan aroma parfum kesukaannya harum green tea. Kubalas dekapannya. Lalu Ayah mengatakan sesuatu ketika memelukku.

    “Putri Ayah yang jelita, masihkah kamu menangis larut malam karenaku? Masihkah kamu menyesali waktu yang pernah kau lewatkan tanpa bersamaku? Masihkah kau menyalahi dirimu sendiri? Jika iya begitu, maka sudahi semuanya, anakku. Jangan kau teruskan lagi penyesalanmu itu. Aku sungguh tak mengapa. Yang tak pernah terjadi, biarlah begitu seharusnya. Jangan salahi lagi dirimu. Sekarang yang kau perlu lakukan hanyalah menerima apa yang sudah terjadi, menerima apa yang kau tak bisa lakukan. Lalu maafkanlah dirimu.”

    Ayah, dalam mimpiku itu, mulai melepaskan pelukannya. Aku tergagap menahan tubuhnya dalam pelukanku. Aku mulai menangis sesenggukan.

    “Lepaskan semua rasa bersalah dan sesalmu itu, anakku. Ada hari esok yang menjajikan kebahagiaan untukku. Berjanjilah padaku kau tak akan menangis lagi. Terima dan maafkanlah dirimu.”

    Sosok Ayah mulai mengabur dalam pandanganku. Aku tersentak dan terbangun dengan dada berdegup kencang. Kulirik jam yang baru beranjak pukul dua dini hari. Kuputuskan bangkit dari tempat tidurku lalu pergi ke kamar mandi untuk mengambil wudhu. Kutunaikan dua rakaat solat malam dan kuhaturkan doa dan beribu maaf kepada Ayah.

    Aku telah menerima apa yang tak sempat kulakukan untukmu, Ayah.
    Aku telah menerima apa yang telah menjadi kekuranganku padamu, Ayah.
    Aku telah menerima jika kini tak ada yang dapat kulakukan lagi untukmu, Ayah, selain doa yang senantiasa kupanjatkan demi kebaikanmu di surga-Nya yang indah dan damai.
    Aku juga telah memaafkan diriku yang sempat membuatmu bersedih hati dan terlarut dalam penyesalan.
    Aku telah memaafkan diriku, Ayah.

    Berbahagialah selalu dalam pelukan Tuhan di sana, Yah.
    Semoga damai dan tenang selalu menyertai jalanmu menuju Surga-Nya.

    Thank you, Falen, udah boleh meramaikan komennya. Maaf kalau ceritanya terlalu panjang 🙂
    @titiskandar

  11. perkenalan kami berawal dari chating di sosial media.
    Sebenarnya kita satu SMP, tapi tak saling kenal.
    **
    “hay, selamat malam” kurang lebih seperti itulah pertama kali dia menyapaku melalui chatting di sosmed. Malam itu kita chatting sampai hampir pagi. Tukar menukar nomer telpon pun sudah kita lakukan. Singkat cerita, kita sudah semakin dekat. Sampai pada suatu malam ketika kita sedang duduk berdua di teras depan rumahku dan malam itu kita resmi pacaran. Awalnya semua baik-baik saja. Hingga saat itu aku resmi diterima di sebuah Universitas Negeri di Jogja. Setiap bulan aku pulang dan dalam 3 hari itu selalu menyempatkan diri untuk bertemu denganya. Sampai saatnya sikapnya mulai aneh, dia acuh dan jarang sekali membalas pesanku. Dia hilang, dia sudah tidak menghubungiku lagi. Aku diabaikan. Berbulan bulan aku mencoba untuk melupakanya, tapi gagal. Sampai pada ketika aku sudah lelah untuk menunggu dan yaa aku lupa tentangnya.
    Siang itu mendapat sebuah sms dari nomer tak dikenal. Isi pesanya seperti ini “kamu apa kabar? maaf aku pergi nggak ada kabar  dim”. Sontak saja jantungku seakan hampir saja berhenti untuk berdetak. Aku lemas. Tapi dengan sisa-sisa rasa sayangku, aku memaafkan dan menerima dia kembali. Kali ini dia berbeda, dia bersikap lebih perhatian dan bahkan dia yang kini lebih protektive. Aku sangat bahagia sampai sampai aku lupa diri. Aku pikir dia yang sekarag bersikap seperti itu, dia tidak akan meninggalkanku. Tapi aku salah, dia kembali pergi. Tapi kini berbeda. Dia pergi tidak sendiri.
    Selama setahun aku masih saja terbayang oleh ingatanya. Sudah puluhan cerita aku buat untuk menjelaskan bagaimana aku tanpa dia. Tapi aku kini aku tersadar dari segala harapanku untuk seseorang yang tak pernah mengarapkanku.
    Ada yang lebih pantas untuk ku tunggu dari pada aku harus mengahabiskan waktu menunggu yang tak pasti. Masa lalu memang bukan untuk di lupakan. Karena setiap kali aku mencoba melupakan justru akan membuatku semakin ingin mengingat. Cara terbaik untuk pergi dari masa lalu adalah aku harus berteman baik denganya.

  12. “Scheidung ”
    Semua itu berawal saat tak ada lagi kebersamaan. Yang aku tahu dan lihat hanyalah pertengkaran, emosi dan saling menyalahkan satu sama lain. Hingga suatu saat aku berpikir untuk pergi. Tapi dalam hati kecilku berkata, “itu tidak akan menyelesaikan permasalahan, yang ada timbul permasalahan baru.”

    *** termenung ***
    Meliha bintang dan rembulan dari balik jendela kamar.
    “Apa yang harus aku lakukan sekarang”, teriakku dalam hati.

    Aku memutuskan untuk mengutarakan apa yang aku rasakan dan mencoba untuk berbicara kemasing – masing beliau.

    “Ayah…”, panggilku dengan nada pelan.
    (menoleh ke arahku) “iya, ada apa Nak ?”, jawab Ayah.
    “Maaf, jika pertanyaanku salah. Apa yang sedang terjadi antara ayah dan mama ?”, tanyaku dengan serius.
    “Kamu tak akan bisa memahaminya, Nak. Ini urusan orang dewasa, biarkan kami menyelesaikannya!”, jawab Ayah ( lalu berdiri dari kursi sofa dan melangkahkan kakinya )
    “Aku memang anak kecil yang tak tahu apa – apa, tapi biarkan aku.. “, ( teriakku )

    Terkadang hal yang menyakitkan adalah yang terbaik~
    » Papa, tu me manques… «

    – @nisaa_alena –

  13. ‘Masa lalu’ sebuah rumah yang pernah ku harapkan untuk menjadi masa depan. Namun pada kenyataannya, ia hanyalah sepenggal harapan yang berbeda tujuan.

    Beberapa bulan yang lalu, aku pernah merajut mimpi bersama ia yang dulu selalu ada di hati. Tujuh bulan bukanlah waktu yang singkat untuk membina sebuah hubungan. Apalagi, aku bukanlah orang yang mudah untuk menjatuhkan hati. Hingga pada akhirnya, aku jatuh cinta pada ia yang kini telah menorehkan luka. Ada banyak canda, tawa dan luka yang mewarnai setiap sudut kisah kita.

    Pada awal hubungan ini, aku sempat ragu dengan segalanya. Aku meragukan cintanya yang sebelumnya sering ia tawar ke sana ke mari. Entahlah, aku begitu tak yakin untuk bisa melangkah lebih jauh lagi. Berulang kali ia membuatku merasa tersakiti, dengan sikapnya yang selalu saja tak bisa ku mengerti. Namun, aku memutuskan untuk tetap bertahan. Rasa setia yang telah ku tanam sejak awal, mampu menggagalkan segala niatanku untuk meninggalkannya.

    Enam bulan berlalu, semakin banyak pertanyaan yang membuatku ragu. Sepertinya waktu telah memberi tahu padanya, soal rasa di hatiku yang kian tak menentu. Hingga pada akhirnya, tepat di tujuh bulan kami jadian, ia memutuskan untuk meninggalkanku, melepaskan segala mimpi-mimpi kita, hanya demi seseorang yang baru.

    Katanya, ia juga sudah lama meragukanku. Meragukan tentang cinta dan rasa sayangku. Dan, yang lebih parahnya lagi, katanya sejak dulu ia memang selalu mudah jatuh cinta pada orang yang baru. Entah siapapun itu, aku tak perduli. Sakit memang, segala usaha telah kukerahkan untuk mempertahankan, tapi ia malah memutuskan untuk pergi dan meninggalkan.

    Ternyata benar, keraguan adalah awal dari kenyataan yang menghancurkan. Namun tak apalah, berkat luka di masa lalu, aku mampu bertahan dan merajut mimpi-mimpi bersama orang yang baru. Dengan belajar masa lalu, tentang kedewasaan, kesabaran dan juga keikhlasan, ku harap, kini aku mampu melukis cerita yang akan berakhir bahagia selamanya.

    Terima kasih masa lalu, karenamu, kini aku mampu menemukan rumah yang baru.

    @CynthiaInkee

  14. Masa lalu?
    Saya rasa semua orang mempunyai.
    Mungkin ada org yg beruntung, dpt memiliki masa lalu yg indahhhh~ well bisa diblg menyenangkan
    Tp tidak sedikit jg org yg mempunyai masa lalu kelam bahkan kelewat buruk.

    Salah satunya masa lalu kelam pasti mengenai cinta. Ya karena cinta sering kali menciptakan masa lalu yg selalu menghantui kehidupan seseorang dimasa depan.

    Uhuk, kali ini mau berbagi kisah masa lalu ku ah.
    Kisahnya sederhana dan banyak terjadi pst dikalangan remaja yg sdg asyiknya merasakan jatuh cinta well cinta monyet kali ya. Hahaha

    Waktu aku kelas 3 SMP, pernah pacaran sama kakak kelas 3 SMA.
    Siapa sih yg gk seneng punya pacar kakak kelas yg populer lg. Cewek mana yg gak mau? Dia populer karena kepiawaian’a bermain gitar secara otodidak. Pokoknya kalo ngeliatin dia main gitar tuh bawaan’a yg tdnya sendu sunyi senyap gtu tba-tba tanpa sadar bisa memberikan lekukan senyum yg luarrr biasa. Bisa diblg kalo aku liat dia main gitar nganga kali ya, bukan cuma sekedar bisa tapi tuh jago banget.

    Sampai akhir’a disukai sm kakak kelas yg populer tampang jg cakep kok. Boleh lah, lagian aku blm tau gmna rasanya punya pacar, psti seneng dong? Uhukkk, usia segitu lg genit-genitnya tuh.
    Ya kira-kira baru 3 bulan pacaran. Udh putus nyambung 5 / 6 kali gtu gara-gara hal spele. Hahaha akunya ngambekan.
    Tp akhir’a putus untuk yg ke 7 kali itu beneran! Gak ada baliknya smpe skrg.

    Waktu itu dia prnah nanya ke aku: “menurut kamu kakak kelas di SMA yg paling cantik siapa?” Aku jawab dong: menurutku sih ini,itu,blabla,blabla tp plg cantik sih “L” oya emg knpa kmu nanya? Dia jwb: “gpp sih buat survey aja soalnya temen aku lg mau nyari pacar” ohhhh.
    Ehekkk, 3 hari atau berapa hari kemudian temen aku bbm: “eh td sih V (pacar temenku) ketemu sma cowok lo tuh, goncengan sama sih L”
    Yg lucunya lg sih V ini sahabatan sma cowok itu! Hahaha dia ngasih tau kepacarnya keburukan sahabatnya sndri. Sementara pacarnya, kan temen gue wkwkwk.

    Terus malemnya gue introgasi dia, gua tanya kayak gini gitu dan blablabla smpe akhirnya dia capeeek sma ocehan gue trs blg gni: “gue tuh emg gak bisa punya pacar cuma 1 karena lo tau apa? Gue gak mau disakitin, gak mau ngerasain yg namanya ditinggalin. Jd gue selalu mau punya pacar 2 atau bahkan 3 jd kalo lu ninggalin gue sewaktu-waktu ya gue punya cadangan lah dgn gitu gue gk akan sakit hati”
    Fixxxx!! Kalo tuh org didepan gue rasanya udh gue jejelin mukanya ke sambel pecelll tau gak. Seenak jidat ngomongnya, dr awal emg gue tau sih dia itu punya kepribadian yg krg baik tp krna pesonanya gue jd suka masa (?)

    Kata org cinta pertama itu yg tak terlupakan.
    Tapi bagi gue cinta pertama itu cinta yg cepet kadaluwarsanya~ kata siapa yg tak terlupakan? Org yg berbicara seperti itu bohong! :’) ini masa lalu kelam yg kelewat buruk yg gue punya, tp gue gak mau ngelupainnya kok, krna kan gak selamanya saat gue bersma dia gue selalu mendapatkan yg buruk tp trkdg kisah kami ini jg manis kok. Masa lalu itu kan sebagai tujuan untuk hidup ke depannya lbh baik lg jd mau kah anda membagi kisahnya An kepada saya? Agar saya dpt berbagi kisah jg dengannya :’) ♡ @agnssaxu

  15. Masa lalu. Cerita masa lalu yang paling saya ingat mungkin saat SMA. Saya berusaha untuk keluar dari zona tersebut, namun saya tidak cukup kuat. Saya mulai berkenalan dengan dia sejak kelas 1 SMA, saat itu perasaan saya terhadapnya sama sekali tidak ada, begitu pula dengannya. Saya satu kelas bersamanya hingga kelas 3 SMA. Mungkin ini yang membuat saya dengannya semakin dekat. Dia menjadi sahabat saya, karena kita sama-sama sering berangkat terlambat. Kita sering duduk bersebelahan dan bercanda di setiap waktu kosong pelajaran. Saya sangat nyaman dengan hal itu, menyengkan sekali. Hingga akhirnya dia menyatakan cintanya pada saya dan saya pun menerimanya. Sejak saat itu, saya merasa dunia ini memang berpihak pada saya. Saya menjadi lebih semangat ketika itu. Pertemuan yang diikuti dengan belajar kelompok, dan pertemuan kami di luar sekolah. Hingga pada akhirnya ujian nasional pun kita saling menguatkan. Sayangnya, kemudian kami menjalani hubungan jarak jauh karena perbedaan kampus kami. Dia di semarang, dan saya di solo. Pada awalnya saya yakin hubungan ini akan baik-baik saja mengingat selama kami pacaran dulu, kami jarang sekali bertengkar. Namun, kenyataannya tidak. Saya lupa, dia adalah seorang yang hampir tidak pernah bicara ketika dia marah pada saya, begitu pula sebaliknya saya. Selama satu bulan, kami tidak saling berhubungan. Yah, meskipun medsos ataupun aplikasi chatting banyak yang kami punya. Kami sama sekali tidak bertukar kabar. Hingga akhirnya saya memulai dulu, hingga empat bulan hubungan kami sepeeti ibi, selalu saya yang menghubungi dahulu dan dia membalas pesan saya dengan singkat. Begitu seterusnya hingga pada akhirnya kami memang benar-benar menghilangkan diri kami masing-masing. Sekian kak :’) semoga saya bisa bertemua dengan An dan memulai bertukar cerita tentang masa lalu ini. Terimakasih sudah berbagi kisah dengan An, kak. 🙂
    @shintadia

  16. Sudah setahun lebih aku mendiamkan kenangan di ingatanku ini beranak-pinak. Sulit rasanya melupakan sebuah kenangan sepaket dengan rasa yang ada. Walaupun sebenarnya, aku tak yakin apakah ini bisa disebut kenangan atau tidak. Aku tak peduli, yang ada kenangan ini selalu menjejal dalam ruang ingatanku.

    ***

    Di luar hujan deras, aku masih bersama seorang wanita yg membuatku jatuh cinta lewat sambungan telfon. Hening suasana ditambah dinginnya percakapan itu membuat suasana makin membeku. Perlu diketahui bahwa dia yang sedang bertelfon dengan ku ialah dia yang aku cintai akhir-akhir ini setelah beberapa bulan aku putus dengan pacarku terdahulu. Aku memberanikan diri untuk mendakatinya, dan memperjuangkannya. Walaupun aku tahu dia adalah temanku sejak lama, kami sama-sama tahu sifat kami masing masing, kukira itu akan melancarkan kami dalam menjadi seutuhnya kita; iya benar, berpacaran maksudku.

    Tak kusangka, ini adalah malam yang paling tidak aku inginkan selama aku hidup. Aku masih mendengar suaranya yang lemah. Dia menangis, sepertinya dia sedang merangkai kata yang sulit untuk diungkapkannya. Dan tak kuduga kalimat terpahitnya pun keluar. “Kembalilah.”, suaranya pelan. “Apa?” , jawabku dengan mencerna kata yang sebelumnya ia ucapkan. “Kembalilah pada dia yg dulu pernah kamu cintai. Aku tidak bisa untuk bersamamu. Cerita ini terlalu rumit untukku.” “Bagaimana aku sanggup untuk kembali padanya, sedangkan aku telah memilih dirimu?” jawabku dengan kepalaku yang agak pening mendengarnya. Huuufffttt…, aku mendengar napas panjangnya, layaknya memberi aba-aba bagiku untuk siap mendengar setiap kata yang mungkin menusukku. “Cobalah mengerti. Kembalilah padanya. Aku hanyalah penyebab kalian tak bersama lagi. Kembalilah. Ku mohon. Atau kita tidak akan kembali lagi seperti awal.” “Tapi- tut…tut…tut… Dia menutup telfon sebelum aku melanjutkan kalimatku. Sungguh aku tak dapat menahan rasa sakitku.

    Sejurus dengan malam itu, dia tak pernah membalas pesan singkatku atau mengangkat panggilan dariku. Dan belakangan ku ketahui, dia sedang dekat dengan teman sekelasnya, yang juga teman baikku.

    ***

    Oleh karena kenangan itu, aku benci hujan. Dia membuka gerbang kenangan yang ada di ingatanku untuk mengingatkanku tentang kejadian setahun lalu. Di derasnya hujan, ada suara tangisnya yang terus menghipnotisku untuk mengingat malam itu. Memang sulit untuk melupakan kenangan, kini aku tahu bahwa aku cukup mengikhlaskan dan menerima masa lalu sebagai bagian hidupku tanpa menyalahkan diri sendiri.

    “Aku berjanji, Aku akan Melepas Masa Lalu.”

    – @aditaken –

  17. Saya selalu iri pada pernikahan. Pada orang-orang yang saling menemukan satu sama lain sembari berkata “ini dia orang yang saya cari”kemudian memutuskan menikah.

    Saya selalu tidak sabar pada hari itu.
    Hari dimana saya melihat seorang laki-laki dan berkata “Ini dia orangnya”.

    Tapi nyatanya hati saya tetap tidak terbuka. Sejatuh apapun saya dalam cinta. Setinggi apapun saya terbang dalam asmara. Tetap ada bagian di hati saya yang menolak keras seseorang yang baru.

    Saya sadar. Sebahagia apapun saya. Seikhlas apapun hati. Ada seseorang yang masih saja membekas di hati. Dia sudah tidak tinggal di hati, saya sudah tidak merasakannya. Tapi dia masih membekas layaknya prasasti kuno yang menciptakan sejarah.

    Saya sudah tidak melihat ke belakang. Tapi sayapun masih belum maju ke depan.

    Saya bahkan tidak tahu apa yang terjadi pada diri saya.

    @ellgaeul

  18. Berbicara tentang kenangan memang tak ada akhirnya. Banyak kenangan yang bisa saya lalui namun, ada satu kenangan yang masih tak bisa saya lupakan hingga sekarang.

    Saya mengenal dia hampir 9-10 tahun. Bisa dibilang dia adalah teman masa kecil saya. Kami saling mengenal sejak SD sampai sekarang. Kami sama sama satu SD dulu, dan untungnya berbeda SMP. Sialnya sekarang kami satu SMA.

    Saat SD, kami teman akrab. Saya tahu apa hobinya, apa kesukaannya, apa yang dia benci bahkan dia pernah main ke rumah saya. Lalu saya mulai main ‘naksir-naksiran’ seperti teman teman SD saya dulu. Hanya naksir mainan, tidak dianggap serius. Dan siapa sangka, ternyata saya menemukan diri saya mengagumi sosoknya.

    Saya iseng bertanya bagaimana perasaan dia pada saya dan dia bilang dia menyukai saya. Saya terkejut sekaligus senang. Tapi kami tidak sampai menjalin hubungan karena kami masih terlalu kecil untuk cinta-cintaan, kami menyatakan bahwa kami hanyalah teman biasa.

    Saya pun mulai melupakan dia setelah masuk SMP. Walau begitu terkadang dia mengirim chat atau pesan hanya sekedar bertukar sapa dan saya menganggap itu biasa saja.

    Bisa dibilang saat ini saya sedang mengulang kenangan masa kecil saya dengannya. Dia mulai mengajak saya pulang bersama. Dan lambat laun kami menjadi dekat seperti dulu lagi. Tentu saja dia sudah menghancurkan semua usaha saya untuk melupakannya karena sekarang dia muncul lagi–mewarnai hidup saya.

    Dan perlahan seperti buih, perasaan saya dulu mulai muncul kembali. Saya sudah tak bisa membendung lagi perasaan membuncah ini. Saya merasa ini waktunya kami bisa bersama, namun ternyata saya salah.

    Iseng iseng, suatu hari saya stalking akun sosmednya yang belum saya ikuti. Dari situ saya tahu bahwa dia sudah punya tambatan hati. Entah mengapa saya sakit hati karena dia bahkan tidak memberitahu saya apapun, padahal kami bisa dibilang teman akrab.

    Sejak saat itu, saya mulai berusaha menghindar darinya. Saya mengabaikan ajakan pulang bersamanya. Saya bahkan terlalu malu untuk bertemu dengannya karena perasaan yang saya punya ini.

    Walau begitu, saya merasa sulit sekali melupakan semua ini. Setiap hari, saya selalu menjumpai sosok dan senyumannya walaupun kami sekarang jarang mengobrol bersama. Di setiap goresan senyumnya, saya menemukan kenangan saya di setiap sudutnya. Pada akhirnya, kenangan harus dapat diterima dengan ikhlas bukan?

    @natrilafemi

  19. Berbicara tentang kenangan memang tak ada akhirnya. Banyak kenangan yang bisa saya lalui namun, ada satu kenangan yang masih tak bisa saya lupakan hingga sekarang.

    Saya mengenal dia hampir 9-10 tahun. Bisa dibilang dia adalah teman masa kecil saya. Kami saling mengenal sejak SD sampai sekarang. Kami sama sama satu SD dulu, dan untungnya berbeda SMP. Sialnya sekarang kami satu SMA.

    Saat SD, kami teman akrab. Saya tahu apa hobinya, apa kesukaannya, apa yang dia benci bahkan dia pernah main ke rumah saya. Lalu saya mulai main ‘naksir-naksiran’ seperti teman teman SD saya dulu. Hanya naksir mainan, tidak dianggap serius. Dan siapa sangka, ternyata saya menemukan diri saya mengagumi sosoknya.

    Saya iseng bertanya bagaimana perasaan dia pada saya dan dia bilang dia menyukai saya. Saya terkejut sekaligus senang. Tapi kami tidak sampai menjalin hubungan karena kami masih terlalu kecil untuk cinta-cintaan, kami menyatakan bahwa kami hanyalah teman biasa.

    Saya pun mulai melupakan dia setelah masuk SMP. Walau begitu terkadang dia mengirim chat atau pesan hanya sekedar bertukar sapa dan saya menganggap itu biasa saja.

    Bisa dibilang saat ini saya sedang mengulang kenangan masa kecil saya dengannya. Mulai dari pulang bersama, saling mengejek, saling merayu, saling jahil dan lainnya. Tentu saja dia sudah menghancurkan semua usaha saya untuk melupakannya karena sekarang dia muncul lagi–mewarnai hidup saya.

    Dan perlahan seperti buih, perasaan saya dulu mulai muncul kembali. Saya sudah tak bisa membendung lagi perasaan membuncah ini. Saya merasa ini waktunya kami bisa bersama, namun ternyata saya salah.

    Iseng iseng, suatu hari saya stalking akun sosmednya yang belum saya ikuti. Dari situ saya tahu bahwa dia sudah punya tambatan hati. Entah mengapa saya sakit hati karena dia bahkan tidak memberitahu saya apapun, padahal kami bisa dibilang teman akrab.

    Sejak saat itu, saya mulai berusaha menghindar darinya. Saya mengabaikan ajakan pulang bersamanya. Saya bahkan terlalu malu untuk bertemu dengannya karena perasaan yang saya punya ini.

    Walau begitu, saya merasa sulit sekali melupakan kenangan ini. Setiap hari, saya selalu menjumpai sosok dan senyumannya. Di setiap goresan senyumnya, saya menemukan kenangan saya di setiap sudutnya. Pada akhirnya, kenangan harus dapat diterima dengan ikhlas bukan?

    @natrilafemi

  20. “hey, apa kabar, kamu?” – entah sudah berapa puluh kalimat ini masuk ke draft, masih belum sanggup menekan opsi send.
    aku harap kamu baik-baik saja, dan ia mejagamu baik.
    kamu tahu, namamu masih ada di setiap doaku. aku meminta Tuhan untuk menjagamu, mengasihimu setiap harinya. karna lenganku tak sanggup melakukannya (lagi).

    no matter how many times I tell myself that I’m okay I’m okay, everything will be right, but deep down inside I’m screaming like hell. There’s a part of me that will remember you, always.

    mungkin memang benar ini salahku seperti yang selalu kamu bilang.
    Aku yang selalu mencari kebaradaan kamu, aku kalah dengan rindu yang selalu memaksaku untuk memaksamu ada waktu untukku, aku yang selalu menangisi hal-hal sepele, sesepele tidak ada 5 menit darimu untuk memberi kabar bahwa kau baik-baik saja disana.
    tapi persetan akan siapa yang salah, sekarang sudah tidak ada “kita” lagi, yang ada kalian. 🙂
    terimakasih sudah membuat semuanya lebih mudah… iya lebih mudah berantakan, mbaknya. 🙂

    kau tahu aku mulai ragu akan kalimat – “time is the best medice to forget something”, karena nyatanya pagiku masih tentang kamu.
    dan setiap sepi datang, kenangan-kenangan keparat itu masih seperti film yang berputar otomatis di kepalaku. senyum itu, tawa itu, dan pelukan itu masih lengkap disana, tidak ada sedikitpun yang berubah. saat aku membaca cover depan Walking After You – Windry Ramadhina; -“Kau tak perlu melupakan masa lalu, kau hanya perlu menerimanya.” – sukses menamparku keras.

    berbahagialah disana, karena baik-baiknya kamu masih baik-baiknya aku juga. dan aku percaya, akan ada hari dimana aku sudah tak lagi menyebut namamu dalam doa. pasti. :))
    @Ririenurma

  21. Ini pengalaman masa lalu yang benar-benar tidak bisa saya lepaskan. Tidak setelah apa yang ia lakukan pada saya. Seseorang berkhianat kepada saya. Dan dia sahabat terbaik saya. Kami selalu bersama, curhat-curhatan bersama, sebelum semuanya rusak dan berubah. Awalnya saya bercerita kepada dia bahwa saya menyukai seseorang. Ia begitu semangat dan menasehati saya ini itu. Saya pun rasanya senang bisa membagi cerita saya kepadanya. Apalagi rumah kami berdekatan. Tidak ada hal yang tidak saya ceritakan kepadanya. Semua masalah selalu saya ceritakan. Karena saya sendiri bukan pribadi yang suka memendam suatu masalah sendiri.

    Ia mendukung saya. Berkata bahwa kami memang cocok. Namun seiring berjalannya waktu, ada keanehan yang muncul. Ternyata, sahabat saya juga menyukai orang yang saya sukai. Ia bahkan terang-terangan menunjukkan sikap sukanya kepada saya. Awalnya saya marah dan kecewa. Perasaan saya campur aduk waktu mengetahui hal itu. Sebegitu teganya ia melakukan hal itu kepada saya. Dan saya mulai menjauhinya. Apalah gunanya sahabat kalau hanya berkhianat ?
    Namun, saya sadar menemukan sahabat yang klik seperti dia sangat susah. Saya sadar seharusnya saya tidak melakukan hal itu padanya. Perlahan saya mulai menerimanya kembali, biarlah masa lalu tetap di belakang. Saya hanya tidak perlu menoleh lagi jika tidak ingin merasakan sakitnya. Kita hanya perlu memandang ke depan. Menjalani semuanya seakan tak terjadi apa-apa.

    Dan begitulah adanya. Kami kembali menjalin persahabatan. Meskipun masih canggung, saya yakin kami bisa memulai semuanya dari awal. Karena kita memang tak perlu melepas masa lalu, tak perlu melupakan masa lalu, karena masa lalu tidak pernah bisa di ubah. Kita hanya perlu menerimanya.

    @Rany_Dwi004

  22. Aku bertemu dengannya satu tahun yang lalu, lebih tepatnya bulan September. Dan sekarang, dia adalah masa laluku. Sebuah masa lalu yang masih melekat di ingatan. Bagaimana tidak, kami hampir setiap hari bertemu. Bertegur sapa, bercanda dan berbagi cerita bersama. Dia sangat pintar dalam hal melucu dan aku menyukainya. Rasa suka itu terus melebar, selebar lautan. Setiap hari, aku sangat menantikan dia datang dan menyapa. Saat dia tidak hadir, aku gelisah mencarinya. Yah, sebuah cinta konyol mungkin.

    Tapi akhirnya cinta itu pergi seiring dengan kepergianku. Aku terpaksa harus pergi karena pendidikan. Dan jarak jauh mulai membentang lebar di depan kami. Awalnya aku menganggap itu biasa, karena kami bisa mengatasinya. Tapi lama-lama cinta itu pudar juga layaknya cat dinding rumah yang mulai mengelupas. Waktu memang bisa mengubah semuanya, benarkan?

    Sulit sebenarnya melepasnya. Apalagi dengan kenangan yang sudah melekat erat di pikiran. Karena semakin aku melupakan masa lalu itu, dia akan terus hinggap dan menggerogoti seluruh pikiranku. Hampir setiap malam aku tidak bisa tertidur karena masa lalu itu.Dan tentu saja menangis. Menangis karena ternyata dia bukan orang yang bisa kumengerti. Dia berbeda, sejak saat itu dan aku mengetahui bahwa dia memilih orang lain. Dia dengan terang-terangan mengungkapkannya kepadaku tanpa rasa bersalah terpancar di wajahnya.

    Menurutku lebih baik menyisihkan sedikit ruang kecil dalam hati untuk menyimpan masa lalu itu. Karena dari masa lalu itu, aku akhirnya tumbuh menjadi perempuan yang kuat dan tegas hingga sekarang.

    @HikariMio

  23. @Akarui_Cha

    Dulu, aku dibesarkan oleh lingkungan yang sempat mengolok-olok keberadaanku, diriku, betapa berbedanya aku dibandingkan banyak anak lain di sekitarku. Bukan hanya teman seusia, namun guru sekolahku. Beruntung Mama dan Papa mendukungku, walau disela pekerjaan keduanya yang terlewat padat.

    Kini aku belajar menerima masa lalu itu, walaupun tak seutuhnya karakterku berubah menjadi lebih mudah santai, aku ceria seolah tak pernah memiliki masa kecil yang penuh ejekan.

    Hingga hari ini, aku masih mengejar tiap impian yang kutumbuhkan. Bukan karena ambisi. Namun sebagai wujud terima kasih dari tiap orang yang mengasihiku.

  24. Omong-omong soal masa lalu, pasti semua orang memiliki yang namanya masa lalu.

    Begitu juga denganku.

    Setiap masa, termasuk masa lalu, hanya dua gendangnya, masa bahagia atau masa sedih. Tapi, walau masa lalu itu bahagia ataupun sedih, tetap saja masa lalu menjadi kenangan yang bisa membuat kita menangis. Mungkin, karena masa itu tidak bisa terulang dan sangat jauh untuk kita raih.

    Seperti masa laluku, yang mencintai dirinya, tapi tidak bisa memilikinya. Rasanya lidah ini kelu untuk menguras semua perasaan yang ada di hati ini. Mungkin ada rasa tahu diri karena tidak pantas untuk dirinya.

    Tapi, di sisi lain, aku juga takut jika cintaku di tolak. Maka dari itu, aku hanya bisa memendam.

    Hingga masa-masa itu hanya menjadi masa lalu, dan dirinya semakin susah untuk kugapai, bahkan mungkin tak bisa dicapai.

    Ya, begitulah kira-kira tentang masa laluku.

    @_nikmal

  25. Hujan selalu mengingatkanku akan masa itu. Ketika seorang gadis dengan rambut tersampir di sebelah bahunya. Berdiri sembari mendekap tubuhnya erat-erat. Menunggu.
    Hujan telah mengguyur terminal Surabaya siang itu, beruntung aku sudah berada di sana sebelum hujan turun. Dengan hati berbunga-bunga dan harapan yang muluk, aku menunggunya datang untuk menepati janjinya. Menemuiku.
    Waktu pun berlalu, bus yang ia tumpangi tak kunjung datang. Terbesit perasaan ragu, namun kuyakinkan diri sendiri bahwa dia akan menepati janjinya. Sebentar lagi dia pasti akan datang, yakinku. Dan, memang benar, ketika kumandang magrib terdengar, aku melihatnya di sana. Di bawah tiang lampu yang belum menyala. Di atas jejak-jejak air hujan. Berdiri seorang lelaki dengan senyuman bocah. Rambut acak dan celana jins abu. Melambaikan tangannya ke arahku.
    Kami saling menyapa. Ini pertemuan pertama kami. Aku tersenyum gugup. Setelah itu, kami melewatkan tiga hari bersama di kota pahlawan, mengenal diri masing-masing. Dan, aku tahu aku telah jatuh cinta padanya. Pada lelaki yang memiliki senyum bocah itu. Namun, kebahagiaanku tak berlangsung lama. Ketika dia harus kembali ke kotanya, aku harus rela kehilangan dia. Kehilangan perhatian dan cinta yang ia berikan padaku selama tiga hari terakhir.

    Waktu yang singkat untuk menanamkan rasa cinta yang kuat.

    Dua tahun pun berlalu, tetapi bayangan akan sosok itu belum juga terlepas sepenuhnya dari ingatanku. Namun, kian hari berganti tanpa kusadari aku mulai tuk mencoba membiarkan masa lalu itu tetap ada. Tak berusaha tuk melupakan atau pun berusaha tuk menghapusnya karena kutahu pasti itu tak akan bisa. Maka, aku mencoba tuk melepaskannya, menanamkan pada diri sendiri bahwa aku bisa. Dan, aku pun mulai merelakan yang pernah terjadi meskipun tak sepenuhnya. Ini hanyalah masalah waktu dan aku percaya akan tiba waktunya aku akan memahami.

    Sejarah hanya tuk dipelajari, bukan tuk dijalani.

  26. Hari ini aku sibuk mencari dimana buku itu, buku yang di dalamnya tersimpan banyak kenangan saat aku duduk di sekolah menengah. Ya, kenangan itu aku simpan rapih di dalam buku itu. Buku yang setiap saat berada pada tas ranselku ketika itu. Akhirnya kutemukan buku itu di bawah tempat tidurku. Aku membukanya dengan perlahan karena buku itu terlalu rapuh seperti diriku ketika itu.

    Setelah lulus SMA, aku tidak tinggal bersama orangtuaku. Aku memilih untuk menetap di sini, di tempat aku memulai cerita hidupku dari awal. Terlalu banyak kenangan pahit jika berada di tempat tinggalku yang dulu.

    Mungkin aku akan membawa kalian ikut bersamaku kembali ke malam tahun baru setahun yang lalu, malam itu semua keluarga berkumpul di rumahku. Namun bukan itu yang akan kubahas, malam itu pula seseorang di masa lalu ku hadir di sana.

    Aku sudah 2 tahun belakangan ini dekat dengannya, namun tidak ada hubungan yang lebih mendekatkanku dengannya. Ya dia hanya “temanku”. Mungkin beberapa di antara kalian pernah mengalami yang namanya jatuh cinta pada sahabat sendiri.

    Malam itu aku menghabiskan malam tahun baru dengan beberapa temanku juga dan seseorang itu. Setelah jam menunjukkan pukul 2 pagi tiba-tiba langit menangis, akhirnya aku memutuskan untuk duduk bersamanya di depan teras dan melihat tangisan dari langit, tiba-tiba ia meletakkan kepalanya di bahuku, hatiku berdebar, ia tak pernah seperti ini sebelumnya. Akhirnya aku mencoba merapatkan kepalaku dengan kepalanya. Hanya ada satu kata yang dapat mewakili perasaanku. Bahagia.

    Pagi pun datang, dan ia pamit untuk pulang. Entah mengapa ada yang berbeda saat ku melihat matanya. Ya firasatku benar, memang ada yang ia sembunyikan.

    Malam itu menjadi akhir cerita diriku dan dirinya. Ya sejak malam itu aku tidak pernah bertemu untuk sekedar bertukar cerita dengannya karena sibuk UN.

    Singkat cerita, ketika acara wisuda ia menghampiriku dan mengajakku foto bersamanya. Aku merasa canggung karena sudah beberapa bulan ini kami tidak berkomunikasi, akhirnya aku menurutinya. Ia juga meminta agar aku mengambil gambarnya menggunakan ponselnya. Saat aku melihat screen lock di ponselnya, jatungku serasa lenyap, aku mendapati foto dirinya dengan seorang wanita yang memeluk mesra dirinya dalam foto itu. Aku pun bergegas mengambil gambarnya dan mengembalikan ponselnya dan tiba-tiba aku tak tahu bagaimana caranya tersenyum.

    Aku berharap acara ini cepat berakhir dan kuharap perasaanku padanya juga akan berakhir.

    “Put, kamu lagi ngapain? Udah ketemu buku yang kamu cari?” suara itu mengejutkanku. Aku langsung mengusap kedua mataku, menutup buku itu dan memasukkannya ke dalam “kardus kenangan”. Di kardus itu berisi semua kenangan yang ingin kusimpan rapih hingga akhir hidupku nanti.

    “Iya, udah ketemu kok, sayang.” kuberikan senyum termanisku untuk seseorang yang berada di belakangku. Ya dialah seseorang yang pada cerita hidupku yang baru seseorang yang sedang giat-giatnya mewarnai hidupku beberapa bulan ini.

    Masa laluku mungkin tidaklah manis, malah terasa miris. Namun, masa lalu yang miris itulah yang mengajariku merasakan manis setelah merasa miris.

    Selamat tinggal masa lalu, aku pasti bisa menyimpanmu tanpa terus mengingatmu.
    I’m Walking After You..

  27. Hari ini aku sibuk mencari dimana buku itu, buku yang di dalamnya tersimpan banyak kenangan saat aku duduk di sekolah menengah. Ya, kenangan itu aku simpan rapih di dalam buku itu. Buku yang setiap saat berada pada tas ranselku ketika itu. Akhirnya kutemukan buku itu di bawah tempat tidurku. Aku membukanya dengan perlahan karena buku itu terlalu rapuh seperti diriku ketika itu.

    Setelah lulus SMA, aku tidak tinggal bersama orangtuaku. Aku memilih untuk menetap di sini, di tempat aku memulai cerita hidupku dari awal. Terlalu banyak kenangan pahit jika berada di tempat tinggalku yang dulu.

    Mungkin aku akan membawa kalian ikut bersamaku kembali ke malam tahun baru setahun yang lalu, malam itu semua keluarga berkumpul di rumahku. Namun bukan itu yang akan kubahas, malam itu pula seseorang di masa lalu ku hadir di sana.

    Aku sudah 2 tahun belakangan ini dekat dengannya, namun tidak ada hubungan yang lebih mendekatkanku dengannya. Ya dia hanya “temanku”. Mungkin beberapa di antara kalian pernah mengalami yang namanya jatuh cinta pada sahabat sendiri.

    Malam itu aku menghabiskan malam tahun baru dengan beberapa temanku juga dan seseorang itu. Setelah jam menunjukkan pukul 2 pagi tiba-tiba langit menangis, akhirnya aku memutuskan untuk duduk bersamanya di depan teras dan melihat tangisan dari langit, tiba-tiba ia meletakkan kepalanya di bahuku, hatiku berdebar, ia tak pernah seperti ini sebelumnya. Akhirnya aku mencoba merapatkan kepalaku dengan kepalanya. Hanya ada satu kata yang dapat mewakili perasaanku. Bahagia.

    Pagi pun datang, dan ia pamit untuk pulang. Entah mengapa ada yang berbeda saat ku melihat matanya. Ya firasatku benar, memang ada yang ia sembunyikan.

    Malam itu menjadi akhir cerita diriku dan dirinya. Ya sejak malam itu aku tidak pernah bertemu untuk sekedar bertukar cerita dengannya karena sibuk UN.

    Singkat cerita, ketika acara wisuda ia menghampiriku dan mengajakku foto bersamanya. Aku merasa canggung karena sudah beberapa bulan ini kami tidak berkomunikasi, akhirnya aku menurutinya. Ia juga meminta agar aku mengambil gambarnya menggunakan ponselnya. Saat aku melihat screen lock di ponselnya, jatungku serasa lenyap, aku mendapati foto dirinya dengan seorang wanita yang memeluk mesra dirinya dalam foto itu. Aku pun bergegas mengambil gambarnya dan mengembalikan ponselnya dan tiba-tiba aku tak tahu bagaimana caranya tersenyum.

    Aku berharap acara ini cepat berakhir dan kuharap perasaanku padanya juga akan berakhir.

    “Put, kamu lagi ngapain? Udah ketemu buku yang kamu cari?” suara itu mengejutkanku. Aku langsung mengusap kedua mataku, menutup buku itu dan memasukkannya ke dalam “kardus kenangan”. Di kardus itu berisi semua kenangan yang ingin kusimpan rapih hingga akhir hidupku nanti.

    “Iya, udah ketemu kok, sayang.” kuberikan senyum termanisku untuk seseorang yang berada di belakangku. Ya dialah seseorang yang pada cerita hidupku yang baru seseorang yang sedang giat-giatnya mewarnai hidupku beberapa bulan ini.

    Masa laluku mungkin tidaklah manis, malah terasa miris. Namun, masa lalu yang miris itulah yang mengajariku merasakan manis setelah merasa miris.

    Selamat tinggal masa lalu, aku pasti bisa menyimpanmu tanpa terus mengingatmu.
    I’m Walking After You..

    @putri_wulanpw

  28. Perihal melepas masa lalu? Dulu aku pernah menjalin hubungan selama tiga tahun pas SMP. Mungkin benar dia cuma cinta monyet, tapi aku tidak bisa mangkir dari kenyataan adanya cinta pertama. Hahaha. Dia adalah genap dari ganjilku. Kami menjalani hubungan itu dengan manis. Cukup manis untuk membuat aku dengan segala gengsiku ini menangis. Klise, dia selingkuh. Entah, mungkin baginya aku hanya keremehan yang tidak perlu diusahakan. Tapi aku masih belum lupa semua hal-hal kecil yang kami habiskan bersama. Sepilu apapun hatiku diarak luka, namun aku tidak pernah berteriak perihal sumpah serapah. Aku mencintainya tanpa cela, maka aku tidak akan berharap karma untuknya.

    Beberapa tahun aku melanglang buana hingga hinggap dari pundak satu ke pundak lainnya, tiada yang membuatku betah untuk tinggal menetap. WALKING AFTER YOU. Aku berjalan setelahnya, aku mempersilahkan ia untuk berjalan mendahuluiku. Aku merelakan ia berjalan bersama yang lain. Karena sebenarnya perkara cinta memang begitu, bukan? “Jangan remukkan tangan yang sebenarnya sudah tidak ingin menggenggammu”.

    Beberapa bulan kemudian aku kaget mendapati undangan pernikahannya. Jujur terkejut pada usia kami yang 20 tahun ia sudah memutuskan untuk menikah. Aku tersenyum saat melihat dia dan mempelai wanitanya. Ah, gadisnya manis! Sama sepertiku. Mungkin tipenya tidak akan pernah berubah. Hahaha

  29. Perihal melepas masa lalu? Dulu aku pernah menjalin hubungan selama tiga tahun pas SMP. Mungkin benar dia cuma cinta monyet, tapi aku tidak bisa mangkir dari kenyataan adanya cinta pertama. Hahaha. Dia adalah genap dari ganjilku. Kami menjalani hubungan itu dengan manis. Cukup manis untuk membuat aku dengan segala gengsiku ini menangis. Klise, dia selingkuh. Entah, mungkin baginya aku hanya keremehan yang tidak perlu diusahakan. Tapi aku masih belum lupa semua hal-hal kecil yang kami habiskan bersama. Sepilu apapun hatiku diarak luka, namun aku tidak pernah berteriak perihal sumpah serapah. Aku mencintainya tanpa cela, maka aku tidak akan berharap karma untuknya.

    Beberapa tahun aku melanglang buana hingga hinggap dari pundak satu ke pundak lainnya, tiada yang membuatku betah untuk tinggal menetap. WALKING AFTER YOU. Aku berjalan setelahnya, aku mempersilahkan ia untuk berjalan mendahuluiku. Aku merelakan ia berjalan bersama yang lain. Karena sebenarnya perkara cinta memang begitu, bukan? “Jangan remukkan tangan yang sebenarnya sudah tidak ingin menggenggammu”.

    Beberapa bulan kemudian aku kaget mendapati undangan pernikahannya. Jujur terkejut pada usia kami yang 20 tahun ia sudah memutuskan untuk menikah. Aku tersenyum saat melihat dia dan mempelai wanitanya. Ah, gadisnya manis! Sama sepertiku. Mungkin tipenya tidak akan pernah berubah. Hahaha

  30. Dulu aku percaya bahwa perkara melepas atau berdamai dengan masa lalu adalah hal yang mudah dan lumrah. Perkara yang banyak dibincangkan dalam novel-novel cerita yang berjalan dengan berbagai klimaks tapi selalu punya akhir bahagia. Paling tidak itu menurutku dulu. Setidaknya begitu. Sampai aku benar-benar merasakannya. Dan ternyata hal itu tak semulus seperti apa yang selalu dikisahkan dalam novel-novel cinta.

    ***

    Aku pernah menyukai seorang perempuan secara diam-diam. Begitu diam, mungkin sampai angin pun tak tahu menahu bahwa rasa ini tiap hari kian tumbuh dengan wangi semerbak anggrek malam. Tepatnya 5 tahun yang lalu. Aku senior, dia seorang junior. Kedekatan kami dimulai sejak kelakarku yang entah mengapa bisa keluar begitu saja ketika tiba-tiba ia tergesa-gesa meninggalkan rapat persiapan kegiatan OSIS beberapa waktu yang lalu.
    “Salam sama bapak ya” kataku waktu itu.
    Dan ia menyambut dengan tersenyum malu.

    Berkat hal itu, kami semakin dekat. Akan tetapi tak pernah ada kata-kata cinta maupun sayang yang terucap di antara kita. Aku menemaninya kemanapun dia ingin pergi. Menjadi penasihat kala dia bingung. Sampai mendengarkan gurauan dan celoteh kesalnya yang tiada usai. Kami dekat. Bahkan semakin dekat sampai beberapa sahabat kami selalu bertanya apakah ada hubungan khusus di antara kami.

    Kedekatan dengan dirinya juga mengubahku. Aku tumbuh menjadi sosok yang melankolis! Betapa rasa punya kuasa yang tidak diduga. Aku mulai bersajak. Mulai berpuisi. Mulai menulis. Dan mulai “belajar” cinta dan “membaca” alam. Dia adalah inspirasiku. Kudungnya, senyumnya, tutur katanya, bahkan jejak langkahnya bisa aku puisikan. Aku merasa dia merasakan getar yang sama seperti diriku. Karena dia menunjukkan gejala yang sama seperti yang aku rasakan. Dia juga membutuhkanku.

    Tetapi, seperti juga hidup, jalan cinta juga tak selalu mulus. Aku harus menerima kenyataan pahit bahwa ternyata rasa nyaman, tawa, bahagia, dan perlindungan yang aku tawarkan tidak lebih dari yang ditawarkan dari teman baikku. Benar. Ia jatuh hati pada seorang temanku, karena aku begitu takut mengatakan perasaanku. Perasaanku waktu itu? HAHAHA. Aku ingin tertawa! Rasa yang mencampur aduk antara sedih, kesal, bodoh, sesal, dan bahagia itu benar-benar menyiksa.

    Akhirnya aku yang mengalah, memilih menjauh. Dia seakan membacanya. Ada gurat sedih sebenarnya dari garis matanya kala kita tak bertemu sengaja. Jalinan cintanya dengan temanku juga tak mulus. Hanya 3 bulan. Tapi perasaanku? Aku belum sepenuhnya bisa mengatasinya. Entah patah hati, sakit hati, atau apa namanya, aku tak tahu pasti. Berdamai dengan masa lalu (terutama dengan diriku sendiri) benar-benar amat sulit. Hanya saja, ketika bertemu dengan dirinya, getar-getar hangat di hati itu masih ada. Kenangan akan kebersamaan itu, meski bukan dalam ikatan apa-apa, terlalu berharga dan membekas. Sampai sekarang, jika aku ditanya, aku tak yakin apakah perasaanku benar-benar sudah damai atau justru sebaliknya.

    ***

    Aku setuju dengan ungkapan
    “Jika kenyataanmu sedang terasa pahit, minumlah secangkir kopi. Darinya kau akan belajar bahwa rasa pahit pun dapat dinikmati.”
    karena semenjak itu “masa lalu” itu pergi hal itulah yang aku lakukan. Percaya atau tidak, aku hanya berusaha tertawa akan semua cerita itu. Karena hidup tak lebih dari sebuah skenario dan kitalah para artisnya.

    twitter: @titikhenti

  31. Sekitar 3 tahun yang lalu. Aku menjalin suatu persahabatan erat denga seorang lelaki. Persahabatan? Ah, rasanya tidak. Dia begitu menganggapku spesial. Bahkan di hadapan teman-temannya, dia tak pernah malu untuk berkata bahwa dirinya menyayangiku. Tetapi, sejujurnya aku tak mengerti dengan jelas hubungan yang kami jalani. Kami hanya menikmati setiap waktu yang seolah telah Tuhan sediakan untuk kami.

    Singkat cerita. Keceriaan yang selalu hadir di saat aku bersamanya berubah menjadi tangis.
    “Lyl, Indi emang pacar aku. Maaf ya, seharusnya aku kasih tau dari awal kalau aku suka sama dia. Tapi aku tetap sayang sama kamu.”
    Ku rasa tak ada satu wanita pun yang hatinya tak hancur mendengar pria yang begitu dia sayangi mengatakan hal itu padanya. Sedih? Iya, aku sudah terlanjur beranggapan bahwa dia adalah milik ku. Marah? Iya, mengapa tidak dari awal saja dia berkata jujur. Bahagia? Mungkin itu seharusnya ku lakukan, namun tidak. Sama sekali tidak.

    Di setiap harinya, aku tetap menjadi wanita pertama dan terakhir yang dia sapa. Meski kami berbeda keyakinan, namun kami percaya Tuhan itu satu. Tak ada yang salah. Dengan halus, dia selalu menyuruh dan menungguku shalat.

    Milly & Nathan. Iya, itu film terakhir yang kami nikmati bersama. “Tetap jadi milly yang kayak gitu ya, seandainya aku jadi nathan. Aku sayang kamu.” Kalimat itu dengan entengnya dia ucapkan padaku. Aku hanya bisa diam. Merasa berdosa, di sana ada satu wanita yang mungkin hatinya terluka karena ini.

    Sadar bahwa langkahku salah, aku pergi dari kehidupan nya. Sekuat apapun dia mendekat, usahaku seolah lebih kuat untuk menjauh. Hingga tak terasa, setengah tahun sudah kami tak berkomunikasi.

    “Lyla, apa kabar? Ini windy, maaf baru kabarin kamu ya. Randy 3 bulan lalu pergi selama-lamanya. Randy bilang jangan kasih tau kamu, tapi kamu harus tau.” Pesan singkat dari adiknya sampai ke handphone ku.

    Feryant Randy Beryasmana, aku baca suratmu yang terakhir. Kamu bilang kalau kamu salah memilih Indi dan seharusnya bersamaku. Tetapi, inilah jalan Tuhan untuk kita. Sampai saat ini mungkin melupakanmu masih dalam tahap proses. Tidak ada tombol delete untuk nama mu. Namun aku tetap tegar. Tanpa hadirmu di sisiku aku tetap berjalan, karena nyatanya kamu selalu bersemayam di hati. Dan dari mu, aku banyak belajar dari masa lalu untuk selalu menghargai setiap detik dan setiap orang yang menyayangiku.

    @NLApriliani

  32. pernah atau sedang mengalami bagaimana sulitnya melepas masa lalu? Saya sedang. Cinta pertama. Ditambah dengan usia hubungan yg tidak singkat membuat kenangan yg tersimpan membludak. Jika bisa nego dengan semesta, saya ingin- setiap mereka yg beranjak pergi, harap kenangannya ikut serta dibawa lari.

    Sudah hampir dua tahun. Tapi tetap saja, saya blm bisa beranjak. Sedang dia? Dia sudah bisa tertawa lepas dengan yg baru. Dia saja sudah bisa berjalan ke depan, kenapa saya berdiri saja tidak bisa?
    pertanyaan itu berputar di kepala.

    Saya sulit membuka hati untuk orang baru sampai ada yg bilang “hati lo mah tembok semua ga ada pintunya.” ke saya. Saya tidak mau membuka hati, sampai saya berhasil menyembuhkan luka saya sendiri. apa itu salah?

    saya hanya sedang berusaha. karna saya percaya; apa yg membuat saya tertatih saat ini, kelak akan jadi lidah saya untk menertawakan hidup.

    @dedesii

  33. Tawa menjadi latar di antara mata yang menyipit itu. Mereka terbahak karena salah satu cerita di antaranya. Aku hanya tersenyum. Tak tahu ingin menanggapi apa. Aku seperti memiliki dunia yg berbeda dengan mereka.
    Selalu ada batas yang kokoh antara aku dan mereka. Tidak. Harusnya tidak ada. Karena mereka tak tahu masa lalu ku. Harusnya aku bersikap normal. Aku yang dulu dan kini berbeda. Semua harus baik-baik saja.
    ***
    Aku terlahir sebagai anak yang tak diharapkan. Lahir ketika mereka ingin bercerai. Aku harusnya tak lahir. Aku hanya sampah.
    Enam tahun kemudian mereka benar-benar berpisah. Aku ditinggal dengan ayahku. Anak perempuan yang haus akan kasih sayang ibu.
    Tahun demi tahun aku lewati. Hidup bersama ayah yang hanya bisa memukuli anaknya hanya karena aku tak becus menyapu atau memasak. Berhenti sekolah hany untuk membantunya mencari uang. Aku lebih senang mendengar musik dari headphone dibanding mendengar guncingan tetangga saat pergi ke pasar. Aku lebih senang berbicara dengan ikan dan sayuran di dapur daripada bergaul dengan teman-teman di luar sana. Aku terbelenggu dalam kepungan neraka. Aku ingin mati bersama darah yang mengalir deras dari setiap hantaman bambu di sekujur tubuhku.
    Sepuluh tahun kemudian, aku mencoba untuk kabur dari neraka itu. Mencari jalan ke surga. Mengambil resiko dosa menjadi anak durhaka. Mencari ilmu untuk bekal ku di masa depan. Aku pikir setelah aku keluar dari neraka itu, aku akan bahagia dan melupakan kenangan yang lebih pahit dari kopi hitam tersebut.
    Ah. Tidak. Sebelumnya aku tak menyangka bahwa setiap luka yang berbekas di sekujur tubuhku akan menjadi trauma mendalam seperti luka dalam hati yg enggan mengering. Aku takut melihat benda tajam di sekeliling ku. Aku takut melihat darah mengalir. Membayangkan darah itu keluar dari luka menganga yang selama ini kudapat. Perih. Sakit. marah. Mimpiku sejak kecil menjadi dokter seketika buyar. Aku pikir aku bisa meraih mimpiku setelah keluar dari neraka itu. Ternyata tidak. Lagi-lagi ia menorehkan luka. Bergelayut bahkan di kehidupan yang seharusnya bahagia.
    ***
    Aku menyeruput kopi hitam yang uapnya mengepul dari balik kacamata ku. Mereka masih tenggelam dalam cerita. Satu lagi derita yang ia torehkan. Aku tak tahu caranya berbicara.

    Twitter: @faaizaahh

  34. pernah atau sedang mengalami bagaimana sulitnya melepas masa lalu? Saya sedang. Cinta pertama. Ditambah dengan usia hubungan yg tidak singkat membuat kenangan yg tersimpan membludak. Jika bisa nego dengan semesta, saya ingin- setiap mereka yg beranjak pergi, harap kenangannya ikut serta dibawa lari.

    Sudah hampir dua tahun. Tapi tetap saja, saya blm bisa beranjak. Sedang dia? Dia sudah bisa tertawa lepas dengan yg baru. Dia saja sudah bisa berjalan ke depan, kenapa saya berdiri saja tidak bisa?
    pertanyaan itu berputar di kepala.

    Saya sulit membuka hati untuk orang baru sampai ada yg bilang “hati lo mah tembok semua ga ada pintunya.” ke saya. Saya tidak mau membuka hati, sampai saya berhasil menyembuhkan luka saya sendiri. apa itu salah? Saya tau, jika saya beranjak tapi saya masih teringat masa lalu, itu hanya akan mengecewakan orang baru.

    saya hanya sedang berusaha. karna saya percaya; apa yg membuat saya tertatih saat ini, kelak akan jadi lidah saya untk menertawakan hidup.

    @dedesii

  35. ” aku udah ketemu orang itu, orang yang entah kenapa masih muncul gangguin pikiran kamu sampe sampe aku kena imbasnya ” Arya membuka percakapan. seingatku, dua hari sebelum kedatangannya hari ini, kami bertengkar hebat, aku merasa bersalah dekat dengannya tapi hatiku masih tertinggal di masa lalu. sungguh aku tersiksa
    “ayoo move on, sama aku di sisi kamu, aku sayang kamu ay” ucap arya sembari menggenggam jemariku. merasakan genggamnya yang hangat, dan tuturnya yang lembut, tak kuasa ku menahan airmata, pertahananku luluh ‘ya tuhan, mengapa aku tak dapat membuka hatiku untuknya’ ucapku dalam hati, hanya isak tangis yang bicara kala itu. Arya bangun dari kursinya, mendekat ke arahku dan memelukku “aku nggak berharap kamu bakal cinta sama aku sebesar cinta kamu ke dia, karena aku tau semua orang punya caranya sendiri untuk dicinta. satu hal yang aku tau aku sayang kamu ay” bisiknya ditelingaku. Airmataku mengalir makin deras, aku membalas peluknya, lebih erat. “aku akan coba mencintaimu, arya”

  36. Tawa menjadi latar di antara mata yang menyipit itu. Mereka terbahak karena salah satu cerita di antaranya. Aku hanya tersenyum. Tak tahu ingin menanggapi apa. Aku seperti memiliki dunia yg berbeda dengan mereka.
    Selalu ada batas yang kokoh antara aku dan mereka. Tidak. Harusnya tidak ada. Karena mereka tak tahu masa lalu ku. Harusnya aku bersikap normal. Aku yang dulu dan kini berbeda. Semua harus baik-baik saja.
    ***
    Aku terlahir sebagai anak yang tak diharapkan. Lahir ketika mereka ingin bercerai. Aku harusnya tak lahir. Aku hanya sampah.
    Enam tahun kemudian mereka benar-benar berpisah. Aku ditinggal dengan ayahku. Anak perempuan yang haus akan kasih sayang ibu.
    Tahun demi tahun aku lewati. Hidup bersama ayah yang hanya bisa memukuli anaknya hanya karena aku tak becus menyapu atau memasak. Berhenti sekolah hanya karena untuk membantunya mencari uang. Aku lebih senang mendengar musik dari headphone dibanding mendengar guncingan tetangga saat pergi ke pasar. Aku lebih senang berbicara dengan ikan dan sayuran di dapur daripada bergaul dengan teman-teman di luar sana. Aku terbelenggu dalam kepungan neraka. Aku ingin mati bersama darah yang mengalir deras dari setiap hantaman bambu di sekujur tubuhku.
    Sepuluh tahun kemudian, aku mencoba untuk kabur dari neraka itu. Mencari jalan ke surga. Mengambil resiko dosa menjadi anak durhaka. Mencari ilmu untuk bekal ku di masa depan. Aku pikir setelah aku keluar dari neraka itu, aku akan bahagia dan melupakan kenangan yang lebih pahit dari kopi hitam tersebut.
    Ah. Tidak. Sebelumnya aku tak menyangka bahwa setiap luka yang berbekas di sekujur tubuhku akan menjadi trauma mendalam seperti luka dalam hati yg enggan mengering. Aku takut melihat benda tajam di sekeliling ku. Aku takut melihat darah mengalir. Membayangkan darah itu keluar dari luka menganga yang selama ini kudapat. Perih. Sakit. Penuh amarah. Mimpiku sejak kecil menjadi dokter seketika buyar. Aku pikir aku bisa meraih mimpiku setelah keluar dari neraka itu. Ternyata tidak. Lagi-lagi ia menorehkan luka. Bergelayut bahkan di kehidupan yang seharusnya bahagia.
    ***
    Aku menyeruput kopi hitam yang uapnya mengepul dari balik kacamata ku. Mereka masih tenggelam dalam cerita. Satu lagi derita yang ia torehkan. Aku tak tahu caranya berbicara.

    Thanks for ur attention.
    @faaizaahh

  37. Sore ini hujan begitu deras. sebuah memori yang indah, mengingatkan gue kepada gadis hujan…

    Gadis hujan itu, mantan gue.

    gue nggak tau kenapa, menyebut dirinya sebagai gadis hujan..
    tapi memang kenangan gue bersama dia banyak sekali tentang hujan..

    dia pacar terakhir gue di tahun 2014, maka dia harus dikenang dalam bentuk tulisan…
    teringat pertama kalinya gue chattingan sama dia.. cuaca hari itu gerimis..

    pertama kali gue ngajak dia hangout, gue gagal.. gue mengajak dia dinner. tapi dia sudah janji ada reunian, gue harus menerima kenyataan pahit… gagal kencan, dan kehujanan, tapi lebih baik, daripada gagal ginjal… serem..

    kemudian, mengajak hangout untuk yang kedua kalinya.. hampir gagal… dia nggak ada reunian lagi, tapi alam berkehendak lain.. sore itu, langit tidak bersahabat.. hujan deras membasahi wilayah Pamulang.. gue hanya bisa duduk memandangi jendela yang berembun di Lawson sambil menyeruput segelas kopi, makan pop mie, dan mandiin sapi..

    tak disangka, gadis hujan ini lebih memilih nekat untuk pulang, daripada menunggu hujan reda.. gue yang nggak ingin gagal lagi, harus ikutan nekat untuk mengejarnya…
    akhirnya semesta mempertemukan kita.. terkadang semesta memang suka mengajak bercanda, apa gue harus berjuang terlebih dahulu, hanya untuk bersama?

    gue mengutarakan perasaan gue ke dia.. sebuah boneka monyet gue berikan untuknya… kenapa monyet Yog? kenapa enggak beruang? kenapa enggak panda? atau kenapa enggak tikus? mickey mouse maksudnya… ya menurut gue, monyet itu lebih keren dari boneka jenglot… ehiya jenglot itu boneka bukan sih? udahlah lupakan… intinya monyetnya lucu, dia memakai baju warna cokelat, pake kacamata, dan di bawah telapak kaki kirinya, ada tulisan ‘i love you’ , so sweet nggak tuh gue?

    singkat cerita kami jadian..

    setelah pacaran, banyak juga kisah tentang hujan. makanya gue menyebutnya gadis hujan…

    hingga suatu waktu, kami bertengkar. hanya untuk menentukan film mana yang ingin ditonton. sepele memang… tetapi ini beneran… bagusnya, hari itu hujan, yang membuat kami batal untuk nonton, dan gue bbm dia, “udah ah.. hujan gini mending tidur, daripada berantem..” , gue berharap dia meminta maaf, dan bilang… “jangan tidur dong, aku minta maaf ya.. jangan tidur yaaa..” tapi realita berkata… diread doang.. ah kambing…

    gue tidur. hujan membuat tidur gue semakin nyenyak, suara hujan pun menjadi lagu nina bobo.. setelah terbangun, gue melihat blackberry. ada satu bbm, setelah dicek, broadcast… demi kalimat hoax yang ada di broadcast itu, gue kecewa karena nggak ada bbm dari dia.. asli gue bingung, kenapa dia marah?

    akhirnya gue berniat ke rumahnya. di perjalanan menuju rumah dia, gue melihat tukang bunga di sebelah kiri jalan. gue berhenti sebentar, dan menawar. dari harga 10.000 menjadi 5.000.. sumpah kereenn, ternyata gue jago nawar. sebelum gue melanjutkan perjalanan, ditanya sama pedagang bunga sebelah, “berapaan Dek?”
    “goceng bang..” jawab gue pelan
    “sama gue mah tiga rebu doang.”
    “…” *JEGEEEERRRR* gue kaget, dan nggak bisa ngomong. “kenapa nggak nawarin dari tadi?” gue mengeluh dalam hati.

    ***

    “Kamu apaan sih? Lebay banget dah!” kata gadis hujan sambil senyum, dan nyubit pipi gue
    “Yaudah yuk nonton.. jadi kan?”

    kami berdua nonton ‘Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck’ dia bahkan sampe nangis nonton film itu. asli hari itu gue ngerasa jadi cowok yang romantis. apalagi pas dia bilang.. “tadi, ibu aku bilang ke aku, sebelum kita pamit nonton. ‘Romantis amat sih Yoga… ke rumah nggak ngomong-ngomong dulu, tau-tau bawa bunga, mana abis hujan lagi, becek-becekan… jarang loh cowok yang begitu’ ciyee dipuji Ibu..”
    kalimat yang sederhana, tapi terasa luar biasa…

    setelah banyak hal tentang hujan yang sudah dilewati bersamanya…
    hal terakhir, yang membuat gue semakin yakin memanggil dia gadis hujan ialah… gue putus juga saat hujan… cuaca malam itu sungguh ekstrim. awalnya gue bertengkar berturut-turut selama 3 hari, dan hari itu ialah puncaknya emosi… padahal, gue udah rela hujan-hujanan ( meski pake jas hujan ) ngelewatin jalanan yang banjir, eh setelah sampai rumahnya… dia sudah kecewa berat sama gue… akhirnya kami putus… tadinya pengen cerita lebih lebar, tapi gausah diceritain deh ya.. pait soalnya.. nanti nyesek juga… hihi :’)

    meskipun sudah putus, kami masih berteman baik… gue juga nggak sedih, karena dia banyak memberikan gue pelajaran, tentunya ilmu ikhlas, dan diajarkan untuk selalu tersenyum…
    sulit memang untuk melupakannya, tapi masa lalu harus dilepas, harus direlakan. gue akan memulai masa sekarang, dan menata masa depan bersama seseorang yang nanti pasti akan hadir.

    Kamu boleh mencintai aku sebentar saja… tapi aku akan mengenangmu di setiap hujan..

  38. “will i see you, when the sun comes out?”
    terlalu sulit menerima yang baru, dan sangat sulit juga kembali pada orang yang sama. kamu hanya sekedar masa lalu. tapi masa lalu tak mudah untuk diganti, ibarat kata kamu “masa lalu hanya batu loncatan”. tak apa jika aku dianggap batu loncatan, toh aku pernah mampir di ruang hampa kamu.
    aku bukan budak yang seenaknya kamu menyuruhku untuk melupakan ‘kita’. aku tahu, apa yang kamu inginkan.
    iya. aku tak akan mengganggumu dengan lembaran baru mu. karena aku sudah menerima semua kehilangan yang sulit untuk aku lepas.

    @mianuramalia

  39. Melepaskan sesuatu yang sangat kau sukai bukanlah hal yang mudah, sangat sulit. Sesulit mengingat seseorang yang tak pernah kau kenal.
    Mudah bagiku untuk berkata, “Lepaskan saja dia, tuhan pasti memberimu yang lebih baik.”
    Namun, ketika aku berada di situasi tersebut aku tak pernah mampu melepaskannya, bahkan tidak sampai saat ini. Walaupun dia tak pernah memintaku tinggal.
    Ya, dia. Seseorang yang menempati ruangan di hatiku selama hampir tiga tahun ini. Mari sebut dia Chino, pemuda berwajah oriental dengan mata sipit.
    Tak ada yang istimewa dari perkenalan kami, sungguh. Dia hanyalah teman sekelasku, yang ‘berwajah pandai’. Kedekatan kami hanya bermula dari sebuah gunting. Ya, saat itu aku menjadi ketua ko-ordinator majalah dinding di kelasku. Padahal itu bulan pertama aku memasuki masa putih abu-abuku. Ketika ku tanya, tak seorang pun di kelasku membawa gunting. Hingga akhirnya, seseorang menyuruhku mengirimi Chino pesan, karena rumahnya dekat dengan sekolah. Aku dengan cepat mengetikkan pesan saat kuterima nomornya, namun baru satu kata “Hey,” ku tulis. Dia muncul tepat dihadapanku, mengagetkan. Hingga tanpa sadar aku menekan tombol kirim.
    Aku sama sekali tidak menyangka kalau itu akan menjadi hari yang akan mengubah hidupku. Awalnya aku tidak mengira dia akan membalas pesanku. Aku kira dia tipe cowok yang kutu buku, hobi belajar dan anti sosial. Tapi ternyata dia membalasnya, dan percakapan kami mengalir. Dia adalah pendengar yang baik, mau mendengarkan keluh kesahku meski diselingi dengan celetukan-celetukan menyebalkan. Dan aku rasa aku mulai menyukainya.
    Hingga suatu hari, tiga bulan setelah ulang tahunku yang ke-16. Dia berjalan menuju bangku ku, menaruh dua buah novel misteri kesukaanku. Katanya, “hadiah ulang tahun”. Aku tentu saja sangat senang, tak kusangka dia masih mengingatnya. Karena dia membelikan buku itu ketika ia berada di Surabaya. Kami semakin dekat, namun kami nyaris tak pernah berbicara di sekolah meski kami berada dalam satu kelas. Hanya berbincang melalui ponsel, dan terkadang jalan-jalan bersama. Harus kusebut apakah hubungan ini? Backstreet? Ah, kami bahkan tidak berpacaran.
    Satu setengah tahun kemudian (sebulan yang lalu), ketika kami sedang photoshoot untuk buku tahunan. Seperti biasa, kami tak bicara satu sama lain. Seseorang memanggilku, sehingga aku menoleh ke belakang. Dan, dapatkah kau menebak apa yang ku lihat? Dia sedang berlutut, membawa sebuah bunga di hadapan seorang gadis, teman sekelasku.
    Aku terdiam.
    Berusaha keras ku tahan air mataku. Kuingat kembali apa yang diucapkan sahabatku di kala aku sedang ingin menangis, “Jaga air matamu untuk hal yang lebih pantas untuk ditangisi.”
    Meski tidak menangis, aku sempat merasa ‘mati’ untuk beberapa hari. Mungkin, aku belum mampu melepaskannya kini. Karena melepaskan bukan sesuatu yang mudah…
    Tapi kelak akan kupandang dia dengan berani, sambil berbisik, “Dia pemuda yang pernah ada disini, di hatiku.”

    @ayulitaa_

  40. Melepaskan sesuatu yang sangat kau sukai bukanlah hal yang mudah, sangat sulit. Sesulit mengingat seseorang yang tak pernah kau kenal.
    Mudah bagiku untuk berkata, “Lepaskan saja dia, tuhan pasti memberimu yang lebih baik.”
    Namun, ketika aku berada di situasi tersebut aku tak pernah mampu melepaskannya, bahkan tidak sampai saat ini. Walaupun dia tak pernah memintaku tinggal.
    Ya, dia. Seseorang yang menempati ruangan di hatiku selama hampir tiga tahun ini. Mari sebut dia Chino, pemuda berwajah oriental dengan mata sipit.
    Tak ada yang istimewa dari perkenalan kami, sungguh. Dia hanyalah teman sekelasku, yang ‘berwajah pandai’. Kedekatan kami hanya bermula dari sebuah gunting. Ya, saat itu aku menjadi ketua ko-ordinator majalah dinding di kelasku. Padahal itu bulan pertama aku memasuki masa putih abu-abuku. Ketika ku tanya, tak seorang pun di kelasku membawa gunting. Hingga akhirnya, seseorang menyuruhku mengirimi Chino pesan, karena rumahnya dekat dengan sekolah. Aku dengan cepat mengetikkan pesan saat kuterima nomornya, namun baru satu kata “Hey,” ku tulis. Dia muncul tepat dihadapanku, mengagetkan. Hingga tanpa sadar aku menekan tombol kirim.
    Aku sama sekali tidak menyangka kalau itu akan menjadi hari yang akan mengubah hidupku. Awalnya aku tidak mengira dia akan membalas pesanku. Aku kira dia tipe cowok yang kutu buku, hobi belajar dan anti sosial. Tapi ternyata dia membalasnya, dan percakapan kami mengalir. Dia adalah pendengar yang baik, mau mendengarkan keluh kesahku meski diselingi dengan celetukan-celetukan menyebalkan. Dan aku rasa aku mulai menyukainya.
    Hingga suatu hari, tiga bulan setelah ulang tahunku yang ke-16. Dia berjalan menuju bangku ku, menaruh dua buah novel misteri kesukaanku. Katanya, “hadiah ulang tahun”. Aku tentu saja sangat senang, tak kusangka dia masih mengingatnya. Karena dia membelikan buku itu ketika ia berada di Surabaya. Kami semakin dekat, namun kami nyaris tak pernah berbicara di sekolah meski kami berada dalam satu kelas. Hanya berbincang melalui ponsel, dan terkadang jalan-jalan bersama. Harus kusebut apakah hubungan ini? Backstreet? Ah, kami bahkan tidak berpacaran.
    Satu setengah tahun kemudian (sebulan yang lalu), ketika kami sedang photoshoot untuk buku tahunan. Seperti biasa, kami tak bicara satu sama lain. Seseorang memanggilku, sehingga aku menoleh ke belakang. Dan, dapatkah kau menebak apa yang ku lihat? Dia sedang berlutut, membawa sebuah bunga di hadapan seorang gadis, teman sekelasku.
    Aku terdiam.
    Berusaha keras ku tahan air mataku. Kuingat kembali apa yang diucapkan sahabatku di kala aku sedang ingin menangis, “Jaga air matamu untuk hal yang lebih pantas untuk ditangisi.”
    Meski tidak menangis, aku sempat merasa ‘mati’ untuk beberapa hari. Mungkin, aku belum mampu melepaskannya kini. Karena melepaskan bukan sesuatu yang mudah…
    Tapi kelak akan kupandang dia dengan berani, sambil berbisik, “Dia pemuda yang pernah ada disini, di hatiku.”

    @ayulitaa_

  41. Masa lalu?
    Aku pernah bersimpuh dusta. Berusaha meraih seseorang yang kucinta diam-diam selama 3 tahun. Dan dia adalah sahabat dari pria yang selama 3 tahun ini bersamaku.

    ***
    Pagi itu, dengan bermodalkan kenekatan yang luar biasa, aku menghubungu dia. Dia yang kusebut Matahari.

    Aku menghubunginya, tentu saja dengan menyamarkan identitasku. Aku meminjam foto adikku, dan aku menggunakan nama lahirku yang hanya keluargaku yang tahu. Tentu saja hal ini kusembunyikan rapat dari Bumi–pria yang selama tiga tahun ibu bersamaku.

    Awalnya aku sempat ragu, apakah Matahari akan membalas pesanku, aku berpura-pura menjadi penggemar dari tulisan-tulisannya di blog. Sebenarnya aku tidak terlalu berpura-pura, aku memang menyukai setiap tulisannya, apalagi kalau dia sudah berpuisi. Demi Tuhan, itu membuat hatiku berdebar, walaupun bukan aku yang dimaksdu dalam puisi itu.

    Awal perkenalan itu, rupanya berjalan dengan lancar. Sangat lancar malah. Ia membalas semua pesanku. Kami bahkan keasyikan chatting hingga hampir subuh, setiap malam.

    Tak hanya chatting, kadang kami juga sering video call, karena ia berada di kota yang terpisah denganku. Dan aku selalu membenci setiap kali video call berlangsung. Ia sama sekali tak mengenali wajahku. Sama sekali tidak.

    Aku kecewa, tentu saja. Tapi aku tetap bertahan pada kebohongan. Berbagai cara kulakukan setiap kali ia mulai merasa curiga karena aku hanya memiliki 1 akun sosial media. Beruntungnya, aku selalu mampu mengatasi kecurigaannya. Dengan dalih, bahwa aku sedang sakit dan aku belum bisa bertemu sekarang.

    Aku tak sepenuhnya berdusta. Aku memang sakit. Belum lagi, aku menghindari terjadinya keributan besar antara Matahari dan Bumi. Karena aku masih memiliki Bumi di sampingku.

    Aku ingat, dua bulan berhubungan dengan Matahari, kami semakin dekat. Tiada hari tanpa chatting dan telepon. Dan kami saling mencinta. Bahkan 3 tahun dalam diam dan perhatianku. Aku belum pernah melihat Matahari mencintai seseorang sedalam dia mencintaiku.

    Senang. Tentu saja aku senang. Bahagia malah. Belum lagi, saat Matahari menikah. Dan dengan bodohnya aku langsung mengiyakan.

    Aku memang tak berpikir panjang. Yang aku inginkan memang hanya Matahariku. Apalagi saat dia bilang bahwa seluruh keluarganya mendukung. Dan siap menemui keluargaku kapan saja. Ya, aku memang cukup dekat dengan adik dan ibu dari Matahari. Walaupun percakapan yang kami lakukan hanyalah lewat telepon. Mereka semua menyayangiku.

    Masalahnya, aku belum bisa menjauhkan Bumi. Bumi pun juga melamarku. Dan dengan bodohnya juga, aku langsung menolak. Hal itulah yang membuat segala prahara meledak.

    Bumi marah. Dan ia mencari tahu sebab aku menolaknya mentah-mentah.

    Tentu saja, aku tak lagi mampu menutupi semuanya. Lewat cara yang sampai sekarang tak kuketahui, Bumu berhasil menjauhkan Matahariku. Sangat jauh. Matahariku menghilang. Bahkan seluruh keluarganya bungkam.

    ***

    Tiga bulan.
    Tiga bulan aku merasa mati karena menghilangnya Matahariku. Dan tiga bulan juga aku mencoba menjauhi Bumi yang terus mengejarku.

    Dan di hari ke seratus dua puluh. Aku menumpahkan semua kesalku pada Bumi. Semua. Tanpa sisa.

    “Kenapa kamu menolakku? Bahkan setelah Matahari tak lagi ada!” Tukasnya sore itu.

    “Aku tak bisa mencintaimu! Bahkan setelah 3 tahun aku mencoba. Aku tetap tak bisa!” Balasku kencang. “Menjauhkan Matahari, bukan berarti kamu mendapatkan cintaku ” aku melanjutkan, “jika kamu terus memaksa, yang kamu dapatkan h yalah ragaku. Sementara jiwaku, sudah mati dengan menghilangnya Matahari!”

    Aku tahu. Itu membuat Bumi sangat marah. Aku juga tahu, itu membuat Bumi kecewa. Tapi aku juga lebih tahu, aku tak bisa lagi mencoba mencintainya. Tidak. Bahkan jika Matahari mati.

    Dan sore itu, aku benar-benar berharap bahwa itu adalah terakhir kalinya aku bertemu Bumi. Tapi ternyata Tuhan menginginkan hal lain. Dua hari sejak kejadian itu, Matahari kembali. Dengan sebuah pesan, dan dua baris kalimat.

    ‘Hai, Ca, apa kabar? Ini aku, Matahari.”

    ***

    Enam bulan lebih dipanggil Bulan, dan tiba-tiba dipanggil lagi dengan nama asliku, itu membuat jantungku mencelos. Duniaku serasa runtuh. Bukan karena aku menyukai kepura-puraan, tapi aku merindukan lembut suara saat dia memanggil namaku dulu. Bulan….

    Tapi, ya sudahlah. Yang terpenting dia kembali. Dan berjanji akan datang ke kotaku.

    Dan memang, seminggu setelah pesan itu. Dia datang. Dengan senyum lebar yang selalu kulihat di layar laptopku, dengan potongan rambut yang sedikit berbeda seperti yang terakhir kali kulihat, dia menyongsong ke arahku, dan menggenggam tanganku erat, saat aku menjemputnya di bandara.

    Kalian tahu apa yang kurasakan? Bahagia. Bahagia luar biasa. Setelah tiga tahun, akhirnya aku bisa kembali bertemu dengannya dan tanpa perlu berdusta.

    Dan selama tujuh hari. Nyaris 24 jam, dia selalu berada di sisiku. Kami melakukan semua yang kami selalu angan-angankan dulu, sebelum dia menghilang.

    Dan di hari terakhir dia berada di kotaku, kami memutuskan untuk menyusuri pantai, sambil bergandengan tangan.

    “Aku pergi dulu, bukan karena aku membencimu. Tidak. Bahkan setelah aku tahu kamu membohongiku. Aku pergi, karena aku harus menenangkan keluargaku yang membencimu. Atas semua dusta yang kamu lakukan selama enam bulan itu,” ucap Matahari sore itu.

    Aku terdiam. Aku tahu, Matahari bukanlah orang yang akan pergi begitu saja. “Aku minta maaf,” kataku pelan.

    “Aku sudah memaafkanmu.” Matahari berbisik sama pelannya. “Tapi aku tak bisa lagi bersamamu. Keluargaku pasti menentang. Apalagi mereka mengenalmu sebagai sahabat Bumi.”

    “Aku tahu.” Kataku lirih. Sungguh, sakit rasanya jika tahu bahwa kita tidak akan pernah bisa lagi bersama orang yang kita cintai.

    Matahari tersenyum. Perlahan. Dia memelukku erat. Tuhan…. damai ini sungguh memabukkan. Jika bisa, aku ingin waktu berhenti. Membiarkan aku bersama Matahariku, selamanya. Seperti ini. Dalam balutan kasih yang damai. Dalam gegap cinta yang nyaman. Tapi sayangnya, harap itu tak terkabul.

    Itu adalah kali terakhir, aku bertemu Matahari. Sejak senja itu, dia kembali menghilang. Tepatnya satu minggu setelah dia kembali pulang ke kota asalnya.

    Aku tak pernah tahu jika selama Matahari di kotaku, Bumi memata-matai kami. Dan kemudian melaporkan semuanya pada ibu Matahari. Tentu saja ibu sangat marah. Beliau bahkan sampai menelponku.

    “Jangan pernah hubungi Matahari lagi. Sudah cukup kesakitan yang kamu ciptakan karena semua kebohonganmu dulu. Saya bahkan butun waktu dua bulan untuk menyembuhkannya dari strrs berkepanjangan. Tak hanya itu, studio yang gelah dirintisnya sekian tahun, harus ditutup karena setiap ruang di studio itu mengingatkan dia padamu! Dan Bumi, jauhkan dia dari Matahari! Sebelum dia merusak hidup Matahari lebih parah lagi!”

    Itu adalah kata-kata tersakit yang pernah kudengar. Bahkan hingga delapan bulan berlalu sejak hari itu.

    Aku memang berhasil menenangkan Bumi. Berdamai dengannya tanpa aku harus bersamanya. Tapi aku tak bisa berdamai dengan keluarga Matahariku. Walaupun aku tahu Matahari tak akan memusuhiku, tapi tetap saja. Aku merasa bersalah untul semua kesakitan yang dia terima.

    Butuh sangat banyak waktu, untukku bisa berdamai dengab masa lalu, kebohongan, juga cinta yang teramat besar.

    Aku bahkan tak ingin menikah lagi. Masih terlalu besar nama Matahari terukir di dalam hatiku. Dan masih terlalu sakit aku untuk semua dusta yang aku lakukan dulu.

    Jangankan untuj menerima hati dan nama yang lain. Memaafkan diriku sendiri saja pun, aku rasa aku masih butuh waktu.

    ***

    Twitter: @eincasarii

  42. kemana lagi air mata ini pergi aku tak tau
    hujan selalu berubah dan aku masih tetap mencintaimu

    apa kau tak bisa melihat hatiku?
    aku melihat tawa bahagiamu namun tawa itu bukan karena aku namun karena Dia yang saat ini ada di sisimu

    Aku tersenyum namun disisi lain aku menangis.. ya ingin aku menjerit dan katakan aku masih mencintaimu tak bisakah kau merasakan apa yang aku rasakan?

    ah pasti kau tak merasakan itu karena kini bahagia telah menyelimuti hatimu
    dan sebaliknya kesedihan menyelimuti hatiku

    terkadang aku tak bisa menangis lagi namun hatiku sesak jika air mata tak bisa menetes
    namun jika aku menagis mungkin aku akan tenggelam dalam air mataku sendiri

    begitu ingin aku menghilang dari muka bumi yang luas ini namun aku sadar tuhan tak relakan aku pergi hanya karena putus cinta dengan dirimu

    aku yakin tuhan merancang hari yang indah untuk diriku dan aku harus bertahan dan merelakan dirimu dengan kekasih barumu itu

    Tuhan dunia ini sangatlah kejam
    ku tau kau selalu memberikan cobaanmu dengan keterbatasan yang manusia punya masing-masingnya

    namun terkadang manusia itu tak sanggup untuk menjalani apa yg telah enggau rancang cobaan itu

    aku merasakan sakit yang terlalu lama hingga hatiku kering tak ada cinta

    terkadang aku tak percaya lagi dengan cinta sejati. aku tak percaya lagi cinta buta. dan aku tak percaya lagi cinta yg ada membuat bahagia.

    aku letih aku ingin menangis namun air mata tak bisa lagi mengeluarkan airnya
    aku tak bisa lagi menagis sudah habis segalanya.

    ah aku tak tau lagi harus apa aku latih karena cinta buta yg tak kunjung terbalas melihat sepasang cinta bahagia disana

    entah apa yg harus aku katakan aku tak bisa lagi untuk berkata karna cintaku telah hilang terbawa arus kencang dan tak kembali pulang.

    arus itu terlalu tinggi hingga tak lagi mampu untuk bertepi
    hati ini tak lagi merasakan apapun karena terlalu lama tak disinggahi

    mungkin jika dikatakan bisa jadi ini sudah hancur tak bisa kembali. hati yang selalu mencinta terlalu tulus akhirnya terluka dan ditinggalkan

    entah kapan akan ditemukan oleh pasangan hatinya. aku berdoa semoga secepatnya agar otak ini tak lagi memikirkan hati yg tidak seharusnya dipikirkan. sudah cukup..

    @aura_ra1

  43. Pingback: Masa Lalu Secangkir Kopi Bersama An | meperput's paper

  44. Masa lalu kadang tidak harus dilupakan, namun disimpan dan dibuka sesekali agar kau tau bagaimana caranya belajar. Oiya mampir ya di blog aku siapa tahu cerita mi ada di dalamnya, enjoy your read 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s