Pesan Abadi Dari Mama

tumblr_muzgdys1ez1r1vwxpo1_500

sumber: tumblr

Kala itu, pada suatu sore berlangit penuh awan hitam yang baru saja menumpahkan hujan selama beberapa jam, mama telah memberi tahuku agar aku tidak pergi. Sebab udara sedang tidak bersahabat dengan paru-paru. Mama khawatir aku kelelahan dan penyakitku kambuh lagi.

“Ayuna, kamu jangan keluar ya, perasaan mama nggak enak. Ditunda saja minggu depan,” pinta Mama saat aku selesai mandi. Aku sedang mengeringkan rambut dengan handuk di depan kipas angin. Mama dudul duduk di pinggir kasurku dengan tatapan cemas.

“Nggak apa-apa kok, Ma. Ferdi pasti jagain aku kalau aku kenapa-kenapa. Ada Agnes, Naya, dan Ibet juga. Ini kan perginya ramai-ramai sama teman-teman kuliahku. Aku bosan di rumah terus selama hampir sebulan ini,” kataku seraya memencet tombol off kipas angin setelah kurasa rambutku telah cukup kering. Aku tersenyum kepada Mama, berusaha meyakinkannya, lalu menggenggam tangannya. “Mama nggak mau kan aku stress karena di rumah terus?”

Mama masih menatapku dengan ekspresi cemas yang tidak dapat disembunyikan dengan senyumnya. “Ya nggak mau lah, Ayuna sayang. Mama cuma khawatir karena cuacanya sedang buruk begini, udaranya dingin dan jalanan pasti licin.”

“Mama nggak percaya sama aku?”

“Mama nggak percaya sama kondisi kamu, Ayuna.”

“Atau Mama ikut aja?”

Mama mengalihkan pandangannya dari wajahku ke dada sebelah kiriku, lalu mengembuskan napas yang sangat berat seolah terpaksa mengiyakan keputusanku. “Nggak, Mama percaya sama kamu dan Ferdi. Yasudah, kalian selamat sampai tujuan, ya. Nanti kamu kabarin Mama kalau sudah sampai.”

Kedua mataku berbinar mendengar kalimatnya, aku mengangguk dan segera menelpon Ferdi untuk menjemputku. Tidak lama kemudian, sekitar dua puluh menit berselang, Ferdi datang dengan Yaris hitamnya di depan rumah. Setelah berpamitan dengan Mama –yang masih cemas, aku dan Ferdi memasukkan koper kecil yang berisikan beberapa setel pakaian untuk tiga hari ke dalam bagasi mobil, kemudian berangkat menuju puncak.

***

“Yun, Fer, nama vilanya apa?” Kedua mata sipit Agnes bergantian melirikku dan Ferdi, lalu ia menautkan dagunya di sudut jokku. Wajah orientalnya berada tepat di sebelah kepalaku.

Ferdi yang sedang fokus menatap jalanan di hadapannya melirik sekilas ke arah Agnes. “Kalau gak salah namanya vila Lestari, Nes.”

“Masih jauh?” Kali ini Ibet yang bertanya. “Ini udah di daerah Bogor, lho.”

Ferdi bergumam pelan, lalu berkata, “Lumayan sih, paling sekitar sejam lagi kita sampai.”

“Sip! Gue mau tiduran ah sebentar.” Naya menyahut, lalu menyandarkan kepalanya ke bahu Ibet.

“Kamu jangan ngiler ya tidurnya. Hehehe,” ledek Ibet seraya mengacak-acak rambut Naya.

“Oh jadi kamu nggak mau aku ilerin? Udah nggak sayang lagi sama aku?” Naya mengangkat kepalanya dan melirik kekasihnya itu sambil cemberut.

“Hahahaha!” Aku dan Ferdi tertawa, Agnes cekikikan, kami sangat geli melihat tingkah sahabat kami ini. Ibet cengengesan. “Hehehe, enggak kok, aku tetep sayang. Cuma ya nggak sampai ileran juga, dong.”

Naya tidak menjawab. Ekspresi wajahnya berubah datar. Ia merajuk dan memilih bersandar pada bahu Agnes yang kini sedang berkutat dengan ponselnya. Aku tau Naya sedang bercanda kepada Ibet, paling tidak lama lagi sepasang kekasih itu saling meledek.

Momen-momen inilah yang aku rindukan dari sebuah persahabatan. Sudah lama sekali aku tidak merasakannya sejak terakhir kali merayakan tahun baru di Kepulauan Seribu setahun yang lalu. Pergi bersama orang yang kusayangi sekaligus bersama para sahabatku adalah momen menyenangkan. Menikmati waktu bersama mereka. Rasanya semua beban dan keluh kesahku menguap ketika bersama mereka, menciptakan senyum dan tawa.

Lima belas menit kemudian, suasana menjadi hening seiring langit yang mulai gelap. Ferdi memicingkan matanya dengan konsentrasi penuh memegang kendali stir mobil. Kabut mulai merambat sepanjang perjalanan yang mulai menanjak, mengaburkan jarak pandang karena mengembun di kaca. Ferdi mulai mengurangi laju mobilnya dan menyalakan lampu jauh. Kedua mataku terasa berat sekali digoda rasa kantuk yang ditimbulkan suhu dingin.

Tiba-tiba saja terdengar suara klakson yang sangat nyaring dari arah belakang mobil. Membuat fokus Ferdi terusik dan aku melonjak kaget. Mobil yang kami tumpangi sedikit bergerak ke kanan.

Tiiiiiiinnnnnn!!! Suara klakson lagi, kali ini dari ini dari arah depan.

BRAAAAAAAKKK!

Semua berlangsung terlalu cepat hingga aku tidak dapat melihat dengan jelas apa yang sedang terjadi karena kabut yang cukup tebal menghalangi pengelihatan. Aku hanya mendengar decit ban mobil Ferdi yang suaranya mengiris gendang telinga, disusul dengan tabrakan cukup keras menghantam bagian depan mobil. Sebelumnya, aku melihat ke arah Ferdi yang terbelalak dan juga teman-temanku di jok belakang yang berteriak spontan. Aku memejamkan mata untuk berdoa dan mulai merasakan sesak yang teramat sangat pada rongga pernapasanku. Aku pun jelas merasakan detak jantungku perlahan melemah. Kepalaku pusing dan keluar darah segar dari lubang hidungku.

Semuanya menjadi gelap.

***

“Seberapa parah, Dok?” tanya seorang wanita yang suara dan intonasi nadanya sangat kukenali kepada seseorang berjas putih di hadapannya pada sebuah ruangan dengan bau obat menyengat.

“Dia harus segera…–”

Aku tidak dapat mendengar percakapan mereka selanjutnya. Napasku tersengal-sengal. Rasanya paru-paruku sulit sekali meraup udara untuk bernapas. Aku sudah tidak peduli dengan rasa sakit sekujur tubuh selain di bagian dada, karena menyiksa sekali. Di mana Ferdi? Di mana Agnes, Naya, dan Ibet? Bagaimana keadaan mereka? Belum sempat aku menerka-nerka, kesadaranku hilang lagi untuk kedua kalinya.

***

Tut… Tut… Tut… Tut… Suara semacam mesin -aku tidak tau mesin apa- samar-samar terdengar. Aku merasa di sekelilingku ada banyak orang yang sedang melakukan suatu kegiatan, entah itu apa aku tidak dapat menebaknya. Setelah suara mesin yang-aku-tidak-tau-namanya, lalu disusul suara beberapa pria dan wanita yang bicara bergantian dengan jeda sebentar.

***

Berbahagialah Ayuna sayang, jalani kehidupanmu dengan penuh senyuman. Jangan tidur larut malam, jangan telat makan, dan dekatkanlah dirimu dengan ayah yang kini menjagamu.

Jadilah ibu yang baik, yang jauh lebih baik dari Mama. Karena Mama terlalu banyak mempunyai kekurangan dan takkan pernah bisa sempurna. Tapi Mama merasa sangat sempurna karena mencintaimu.

Jangan pernah berhenti berdoa dan bersyukur. Jangan takut menghadapi dunia, karena Mama selalu bersamamu dan mendampingi setiap jengkal langkahmu.

Aku mendengar suara indah mama meski samar dari ruang serba putih ini. Hanya ada aku seorang yang sedang berdiri dengan berpakaian gaun putih. Kemudian dari depanku, seberkas cahaya yang sangat terang perlahan menghampiriku. Entah mengapa aku tidak merasa takut dengan cahaya itu, justru tubuhku tanpa sadar mendekatinya. Cahaya itu silau sekali. Cahaya itu semakin dekat senti demi senti. Dengan perlahan, aku memejamkan mata, membiarkan cahaya itu memeluk dan menyatu dengan diriku.

BLAP!

“Ayuna sayang, buka mulutnya. Aaaa… Auumm.” Aku melihat adegan Mama sedang menyuapiku. Ah, ternyata aku menggemaskan sekali ketika bayi.

Ayo dihabiskan makanannya, Sayang. Biar cepat tumbuh besar,” lanjut Mama dengan semringah, ia tampak sangat bersabar menunggu mulut kecilku melumat bubur.

BLAP! Cahaya putih itu mengilat dan memperlihatkanku adegan lain.

“Nina bobo, oooh nina bobo. Kalau tidak bobok, Yuna digigit nyamuk.” Kali ini aku melihat Mama bernyanyi pelan dengan wajah mengantuk. Ia menguap beberapa kali sambil mengusap kepalaku, dan hampir tertidur. Ah, Mama, kau begitu menyayangiku dan sabar sekali merawatku.

SLAP! Cahaya putih itu mengilat lagi, jantungku tiba-tiba berdebar kencang. Seperti pertanda aku akan melihat sebuah adegan yang tidak ingin kulihat.

Mas, kamu nggak bisa ya meluangkan waktu sehari saja untuk anak semata wayang kita? Dia butuh kasih sayangmu!” kata Mama bersungut-sungut di dalam kamarnya. Wajahnya memerah melihat ayah yang sedang melepas satu per satu kancing kemeja yang ia kenakan.

Kulihat wajah lelah ayah juga memerah, ia berkata dengan nada membentak. “Aku ini sangat sibuk, Dik! Kamu tau kan kerjaanku seperti apa? Aku jelas ingin sekali mempunyai waktu untuk Ayuna, jika saja pekerjaanku bisa ditinggal!”

“Kalau begitu nanti aku bilang kepada bosmu meminta cuti untuk Ayuna,” ucap Mama sambil menggelengkan kepala dan menyilangkan kedua tangannya ke dada.

Kamu jangan cari perkara, Dik. Kamu pun tau bosku orangnya bagaimana. Kalau aku tidak kerja keras seperti ini. Kita tidak akan punya hidup berkecukupan seperti ini,” kata Ayah seraya menggunakan kaus yang ia ambil dari dalam lemari.

CUKUP APA?” Nada bicara Mama meninggi, “uang? Ya cukup memang untuk makan enak dan membiayai hidup kita. Tapi kamu gak pernah punya cukup waktu untuk darah dagingmu sendiri, Mas!”

SUDAHLAH! Aku capek! Aku ingin beristirahat tidur pulas!” Suara Ayah menggelegar. Ia mengibaskan tangannya di hadapan mama sebelum keluar dari kamar meninggalkan Mama yang kini terduduk di lantai sambil terisak.

Tanpa sadar, aku pun ikut terisak melihat Mama menangis dan Ayah semarah itu. Rasanya aku ingin sekali memeluk Mama sekarang juga. Seumur hidupku, aku tidak pernah melihat mereka berdua bertengkar seperti ini. Kukira hubungan mereka berdua baik-baik saja. Ternyata mereka berdua menyembunyikan selisih pahamnya dari hadapanku.

Mama…, Mama…, Aku berusaha memanggilnya agar Mama melihat ke arahku. Tapi hasilnya nihil. Aku merentangkan kedua tanganku untuk menggapainya, namun tidak ada perubahan. Aku tetap tidak dapat menyentuhnya, hanya bisa melihatnya dan menikmati adegan yang kulihat. Aku yakin seyakin-yakinnya, adegan yang kulihat ini pasti pernah terjadi.

“Mama, aku cinta Mama!” teriakku sekencang mungkin berharap Mama mendengarnya.

Tiba-tiba pemandangan yang kulihat berubah. Aku melihat Mama duduk di atas sejadah dengan suasana kamarnya yang temaram. Tetapi wajah Mama bersinar terang. Cantik sekali. Aku mendengar Mama memanjatkan banyak doa pada salatnya.

“Ya Allah, lindungilah selalu buah hati kami satu-satunya. Ayuna Citra Dewi. Aamin ya robbal alamin,” ucap Mama dengan suara yang nyaris tidak terdengar, kemudian senyumnya basah oleh air mata.

“Ayuna, Mama cinta kamu…”

***

Aku mengusap sebulir air mata yang terbit di kedua ekor mataku dengan sebelah tangan. Aku sedang melihat dan mengusap pelan senyum Mama di balik bingkai foto yang menggantung di dinding ruang tamu sambil menggendong Rama, anakku yang usianya hampir satu tahun. Di dalam bingkai foto itu, Mama sedang tersenyum merangkulku ketika aku baru lulus SMA -dengan seragam penuh warna pilok dan mama sempat mengomeliku sebelum kami berfoto. Aku tersenyum mengenang momen itu. sedang sangat merindukan Mama. Rasanya senang sekali hari ini akan bertemu dengan beliau.

“Nak, nenek kira-kira lagi apa, ya?” tanyaku pada Rama kecil yang memandang bingung ke arah bingkai foto Mama. Tiba-tiba saja Rama tersenyum senang dan tangan kanannya terangkat ke depan, berusaha menyentuh bingkai foto neneknya. Aku terkekeh melihat tingkahnya buah hatiku, dan mendekatkannya pada bingkai foto itu.

“Adek, udah selesai belum?” tanya Ferdi dari teras rumah, tampaknya ia sudah selesai memanaskan mobil. Aku melirik jam dinding, sudah pukul delapan lewat dua puluh satu menit.

“Sebentar lagi, Mas. Aku masukin bunga sama air mawar dulu ke dalam tas,” jawabku sambil memasukkan kedua benda itu dari atas meja ke dalam tas. Beberapa saat kemudian, Ferdi menghampiri dan mengecup pelan keningku dan kening rama bergantian, lalu memegang tasku.

Aku memejamkan mata sejenak, merasakan debar jantungku perlahan-lahan, karena saat itulah aku merasa sangat dekat dengan Mama. Sejurus kemudian, aku membuka mata dan tersenyum pada Ferdi, lalu mengusap bingkai foto Mama dengan tatapan penuh kerinduan. “Yuk berangkat, tadi Ayah udah nelpon minta dijemput. Mama juga pasti udah nggak sabar pengin ketemu kita.”

Di hari ibu ini, aku telah menjadi seorang ibu, Ma. Aku selalu ingat dan menjalankan pesan Mama. Di hari ibu ini pun, aku masih merasakan kehadiran dan kasih sayang Mama pada tiap hela napas dan darah yang mengalir di sekujur tubuhku.  Terima kasih Mama, atas keikhlasanmu berbagi nyawa lewat jantungmu yang menopang hidupku hingga detik ini. Mama, engkau adalah ibu yang sempurna dalam ketidaksempurnaan. Engkau selamanya berada di dalam diriku. Tuhan pasti memberikan tempat terindah dan termulia untukmu. Semoga aku bisa menjadi ibu yang baik seperti Mama, bantu aku ya, Ma. Peluk dan ciumku dari sini, aku cinta Mama.

Selamat hari ibu, Mama. Kasihmu lebih abadi dari waktu.

Advertisements

2 thoughts on “Pesan Abadi Dari Mama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s