Oh My!

“Nada, malam Minggu depan kita double date yuk. Gue sama Beni, lo sama gebetan lo. Udah lama banget kan kita nggak jalan bareng,” ajak Santi sambil memasukkan sendok yang dipenuhi batagor ke dalam mulutnya yang sedari pukul sepuluh pagi mengeluh lapar. Untung saja Mang Eki, tukang batagor langganan mereka di samping gerbang kantor, sudah menyiapkan pesanan dan sepasang bangku di dekat gerobaknya agar mereka tidak mengantri seperti para pegawai lain yang rela berpegal ria menunggu sepiring batagor lezat khas Bandung.

Mendengar ajakan Santi, selera makan Denada tiba-tiba hilang entah ke mana. Ia memandangi sahabat sejak SMA-nya itu dengan tatapan sebal. Ia paling malas mendapatkan ajakan pergi yang berhubungan dengan lawan jenis dan asmara. Dua hal yang sudah ia tinggalkan jauh-jauh sejak memutuskan bekerja di salah satu majalah wanita ternama bagian konten gosip. Lowongan pekerjaan itu pun ia dapatkan dari Santi, yang akhirnya membuat mereka berdua kerja sekantor.

Please, Sasa, lo jangan mulai lagi deh,” keluh Denada. Mang Eki yang sedang menuangkan bumbu kacang dari botol ke piring yang sudah tertata batagor melirik mereka berdua sekilas. Pria setengah baya itu cengengesan dan menceletuk. “Iya dong, neng Nada. Sejak kerja di sini dua tahun yang lalu, Mamang belum perlah liat eneng digandeng cowok.”

“Mang Eki nggak usah ikut-ikutan juga deh.” Denada cemberut. Santi terkekeh mendengar celetukan Mang Eki. Denada mendengus kesal. Ajakan ini sama sekali tidak menarik dan tentunya lucu, menurutnya. Perut Denada mulai terasa nyeri, PMS hari pertama ini menyiksa sekali. Di tengah perutnya yang terasa sakit, Denada berpikir tidak ada salahnya juga ia mulai mencari kekasih, minimal pasangannya untuk menemani double date.

***

Denada duduk canggung di hadapan seorang pria yang mengajaknya kencan di sebuah kafe bernuansa eropa. Namanya Gerald, orang yang ia kenal lewat sebuah aplikasi media sosial yang memang sering dimanfaatkan untuk mencari pasangan. Pria ganteng itu setahun lebih tua dari dirinya dan bekerja sebagai Project Manager di sebuah perusahaan digital media. Informasi tersebut baru saja dia dapatkan lima menit lalu. Denada sebetulnya merasa cara mencari pasangan ini bukan-gue-banget.

Kedua mata Gerald memperhatikan Denada yang terdiam terhitung sejak kali pertama mereka bersalaman dan mengucapkan nama. Lain hal dengan Denada, kedua mata gadis itu memperhatikan gelas bening berisi air putih. Tidak, ia tidak sedang memikirkan kalimat apa yang akan digunakan untuk membuka pembicaraan atau menjawab pertanyaan-pertanyaan standar tentang dirinya Pikirannya melayang, kembali ke masa di mana hidupnya tidak serumit ini.

“Kok pesanannya gak dimakan?” tanya Gerald dengan senyum tipis.

“I…, iya, Ge.” Tangan Denada menancapkan garpu ke daging steak yang dipesannya.

“Nah, gitu dong. Kan gue jadi bisa nyusul makan,” ujar Gerald.

Setelah menyekesaikan suapan pertama makanannya, Denada menatap dalam-dalam kedua mata Gerald. Menerka-nerka apakah dia pria yang tepat untuk menjadi pasangannya double date. Dilihat dari gestur tubuh dan caranya berbicara, sepertinya Gerald bukan tipikal pria brengsek yang suka memainkan wanita. Itu yang Denada pikirkan.

“Ge, lo mau nggak jadi temen gue double date sama sahabat gue Minggu depan?” Denada menggigit bibirnya. Tidak lagi memikirkan pemikiran negatif tentang cewek agresif, murahan, atau apapun.

Gerald tersenyum. “Gue nggak akan bilang enggak. I like you for the first time we talk.

“Oh my!” Denada bernapas lega dan membiarkan tangannya digenggam erat oleh Gerald.

#TantanganNulisKPP

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s