Beautiful Goodbye

o-MAN-DOOR-FLOWERS-facebook

sumber: huffpost.com

Siur angin malam ramah menyapa rambut ikal Firas yang sedari tadi duduk di sofa teras rumahnya. Suara jangkrik mulai terdengar sahut menyahut dari balik pepohonan. Mata bulat Firas memandang lurus gelapnya langit yang tak berbintang, tetapi sesekali ia menengok ponselnya yang tergeletak diam pada meja kaca di depannya dengan tatapan kosong. Firas menggosok kedua telapak tangannya sambil menggigil kedinginan. Sudah dua jam yang lalu ia berada di situ tanpa melakukan hal lain.

“Nak, Mama perhatiin daritadi kamu kok bengong aja? Udah mau tengah malam lho ini,” ucap Bu Mila, Ibu Firas, yang tiba-tiba muncul dari balik pintu dengan wajah bingung.

Firas menengok pelan ke arah ibunya. “Aku lagi nunggu, Mah.”

“Nunggu siapa?”

Bola mata Firas tertuju ke arah ponselnya, memberi isyarat kepada ibunya, lalu ia tersenyum getir.

“Pasti Sina,” tebak Bu Mila. Firas mengangguk kecil. Wajahnya jelas memperlihatkan raut cemas dan takut secara bersamaan. Sejak pertama kali ia duduk di sofa, pikirannya tidak dapat teralihkan sama sekali dari Sina. Ia terus memikirkan keberadaan gadis itu. ‘Sedang apa? Di mana? Lagi sama siapa? Kenapa kamu gak ngabarin?’ Pertanyaan itu berbondong-bondong mengacaukan logika Firas. Ia benar-benar tidak dapat berpikir jernih.

Bu Mila mengusap pelan punggung Firas. “Mungkin dia sudah tidur. Kamu juga tidur gih…”

“Belum, tadi sore Sina bilang ke aku kalau dia bakal ngabarin sepulang dia jalan-jalan sama temannya. Aku gak bisa tidur tenang sebelum Sina ngabarin aku,” kata Firas dengan nada lemah. Dadanya mulai terasa sakit dengan rindu yang ia tahan sejak semingu lalu, waktu terakhir ia bertemu dengan gadis itu.

“Ya siapa tau dia ketiduran, ini kan udah malam, Nak.” Bu Mila mencoba meyakinkan Firas sambil mengusap rambut anaknya itu dengan penuh kasih sayang. Firas merasa sedikit lebih baik karena usapan itu, kemudian ia bersandar pada bahu ibunya.

Tangan kanan Firas meraih ponsel dari meja, lalu ia mengecek semua akun sosial media milik Sina. Nihil. Gadis itu tidak mem-posting apapun semenjak sore tadi. Firas mendesah berat dan menggeletakkan ponselnya dengan kasar ke meja.

“Lho, kamu kenapa?” Bu Mila sedikit kaget dengan suara ponsel Firas yang bergeletak. Firas tidak menjawab. Ia mengangkat kepala yang tertempel pada bahu ibunya dan merebahkan diri di sofa.

Bu Mila menggelengkan kepala melihat Firas. Dari gelagatnya, ia tau pikiran Firas pasti sedang kacau. “Sudah Nak, nanti juga dia pasti mengabarimu,” katanya menenangkan. “Mamah buatkan susu panas ya? Biar pikiran kamu yang suntuk itu jadi encer.”

Firas menganggguk dan memijit pelan keningnya seraya mengerjapkan mata. “Boleh, makasih ya, Mah.”

Sepersekian detik kemudian, Bu Mila sudah menghilang ke dapur. Firas masih duduk di posisinya sambil menatap layar ponsel yang menyala. Pikirannya menerawang entah ke mana.

Tiga menit kemudian Bu Mila kembali membawa nampan hitam yang terdapat satu gelas bening yang berisi susu cokelat panaslalu meletakkannya di meja, sedikit berjarak dari ponsel Firas.

“Nih susunya udah mama bikinin segera diminum dong,” ujar Bu Mila sambil tersenyum.

Sekali lagi Firas mendesah. “Ya kali deh, Ma. Masih panas banget itu.”

“Kayak rasa khawatir ya,” celetuk Bu Mila spontan sembari terkekeh. Firas terbatuk-batuk, tertohok mendengar celetukan itu.

Suasana di antara mereka berdua hening sesaat. Hanya suara jangkrik dan deru napas Firas yang tidak tenang yang samar terdengar. Kemudian Bu Mila menatap hangat Firas. Ia jadi teringat masa silamnya dulu.

“Firas…” panggil Bu Mila sambil terus menatap Firas yang kini sedang melamun.

“Iya, Mah?” Firas menjawab tanpa menoleh sedikit pun.

“Kamu mau tau satu hal ndak tentang perempuan? Mama liat kamu yang sekarang jadi inget waktu zaman pacaran sama ayahmu dulu,” kata Bu Mila seraya tersenyum simpul. Firas mengangguk dan menyeruput pelan susu panasnya, binar matanya yang redup berubah menyala, lalu ia mengubah posisi duduknya yang tadinya membungkuk menjadi tegap.

Bu Mila tersenyum sesaat sebelum mulai menjelaskan. Firas memasang kedua telinganya baik-baik. Ibunya jarang berbicara hal-hal serius seperti ini.

“Perempuan itu seperti seekor burung, Nak. Kamu hanya perlu menjaga tujuan ke mana sayapnya terbang dan kedua kakinya mendarat. Jangan kekang ia di dalam sangkar, walaupun sangkar itu terbuat dari emas dan lengkap dengan segala kebutuhannya. Biarkan ia terbang bebas ke mana pun sesuka hati, asal kamu tetap menjaga raganya agar ndak hinggap di pohon yang salah,” jelas Bu Mila. Firas terdiam, mencoba mencerna ucapan ibunya.

Kemudian, setelah melirik Firas sekilas, Bu Mila melanjutkan. “Dulu waktu mama sama papamu pacaran, ya papamu persis seperti kamu. Sering banget khawatir kalau mama pergi sama teman-teman. Kadang papamu nelpon berkali-kali untuk nanyain kabar, sampai bikin mama kesal. Mama tau tujuan papamu itu baik, tetapi itu malah jadi menganggu. Akhirnya mama bilang ke papamu kalau mama ndak suka.

Papamu lalu bilang, ‘Ya abisnya kamu kalo pergi suka ngilang ndak ngasih kabar, aku kan khawatir kamu kenapa-kenapa dan ndak mau hal buruk terjadi’. Gitu katanya. Mama jelasin ke papamu caranya tuh ndak seperti itu. Mama ndak mau dilarang dan dikekang, karena masih pacaran. Alhasil, kami berdua diam-diaman berhari-hari. Akhirnya, mama ndak kuat juga, soalnya merasa aneh aja papamu yang penuh perhatian itu jadi pendiam. Mama mutusin ngehubungin papamu duluan, tapi ndak bisa. Eh, pas mama ke rumah papamu, ternyata dia sakit.

‘Kamu kok sakit ndak bilang ke aku?’ kata mama pas liat papamu tergetak lemas di tempat tidurnya. Dia jawab. ‘Aku nggak mau ganggu kamu kayak kemarin.’ Denger jawaban papamu seperti itu ya mama nangis denger jawaban papamu dan minta maaf. Mama jadi sadar betul kalau papamu tuh sayang banget sama mama, mikirin mama sampai sakit gitu.” Bu Mila menyeka air matanya sejenak, ia tidak menyangka kenangan lampau itu masih terasa berkesan di hatinya. Firas melongo tidak percaya dengan cerita ibunya.

“Terus, terus gimana kelanjutannya?” tanya Firas penasaran.

Ibunya menerawang kenangannya lagi, kali ini sambil menatap langit. “Ya kami baikan dan semakin saling memahami. Papamu sayang banget sama mama dulu. Meskipun mama ndak minta bantuan, papamu selalu bantuin. Nganterin mama ke mana pun kayak ojek pribadi. Masakin mama makanan. Dan nabungin uangnya buat ngasih kejutan-kejutan kecil untuk mama. Papamu itu sebetulnya orangnya romantis, Firas. Sayang sekarang udah ndak lagi,” kata Bu Mila sambil tertawa kecil.

“Aku juga sebenarnya gitu sama Sina, Mah,” ucap Firas jujur. Ia jadi teringat senyum gadis itu ketika ia berikan boneka Tedy Bear besar dua bulan lalu.

“Gitu gimana?”

“Ya, suka ngasih kejutan-kejutan kecil. Aku yang pengin belajar masak sama mama itu ya sebenarnya supaya bisa masakin makanan buat Sina.”

Bu Mila menggelengkan kepala dengan senyum lebar. “Kamu benar-benar foto kopian papamu, Nak.”

“Ya kan anaknya, pasti gak beda jauh lah.” Firas nyengir, sedikit demi sedikit pikirannya mulai tenang. “Tapi Ma, kalau aku biarkan aja dan dia tetep gak ngasih kabar gimana?”

“Dia ndak benar-benar sayang sama kamu. Jika dia sayang sama kamu, dia ndak akan bikin kamu khawatir. Sesibuk apapun, minimal dia mengabarimu meski singkat. Toh, jika butuh kamu, dia pasti ngabarin.”

Firas termenung sesaat sebelum menghabiskan susunya yang hangat-hangat kuku dengan dua kali tegukan. Ia melirik lagi ke ponselnya. Layarnya tetap hitam. Tidak ada notifikasi pesan masuk. Rindu yang ia rasakan semakin bergejolak. Bu Mila hanya memperhatikan Firas. Melihat anak lelaki semata wayangnya itu telah tumbuh dewasa.

Assalamualaikuuuummm…” Suara berat seorang pria memecah keheningan di antara mereka. Pak Isman, ayah Firas, tiba di teras rumah.

Walaikumsalam…” jawab Firas dan Bu Mila bersamaan. “Sini duduk Pak, gabung sama kita, anakmu lagi curhat tentang perempuan nih,” ajak Bu Mila dengan nada meledek. Firas cemberut.

Setelah melepas kaus kaki dari sepatu pantofelnya yang sedikit kotor di bagian hak, Pak Isman meletakkan tasnya ke bagian sofa yang kosong, lalu duduk di antara Firas dan Bu Mila.

“Jadi, udah sampai mana ceritanya?” tanya Pak Isman dengan senyum menggoda dan memegang pundak Firas. Kumis tebalnya ikut bergerak mengikuti garis bibirnya. Lucu sekali sehingga membuat Bu Mila cekikikan.

“Itu loh, pas kamu dulu sakit gara-gara mikirin aku, Mas.” Bu Mila menoel lengan Pak Isman sambil tersenyum genit.

“Oh itu, ya.” Pak Isman berdeham seraya melirik ke arah bu Mila, “dulu papa pernah sakit saking seringnya mikirin mamamu ini, Ras. Zaman kami masih pacaran, teman mamamu ini buaaanyak banget. Kadang papa bingung mau cemburuin yang mana. Hahaha.” Pak Isman tergelak, disusul Bu Mila yang juga tertawa.

Firas ikut merasa geli melihat tingkah kedua orang tuanya. Namun di dalam hatinya, ia tetap tidak dapat mengusir kekhawatirannya terhadap Sina. Firas merasa ada yang tidak beres. Entah dari mana asalnya pikiran buruk itu datang. Baru kali ini ia merasakan perasaannya kacau sekali.

“Ras, kamu kok malah jadi ngelamun?” Pak Isman menepuk Firas, ia jelas menangkap kekhawatiran anaknya itu.

“Ngg… Nggak apa-apa, Pah,” jawab Firas sambil tersenyum, tetapi senyumnya justru menunjukkan bahwa dirinya tidak baik-baik saja.

“Kalian pacaran baru empat bulan kan? Tapi kok kayak yang  udah mau nikah aja. Biasa aja, Ras. Kalem,” ucap Pak Isman dengan santai, namun tatapannya terhadap Firas sangat serius. “Kamu mesti tau, kita gak bisa memaksakan orang yang kita cintai untuk setia kepada kita. Kesetiaan itu lahir dari kesadaran diri untuk menjaga hatinya dan hati pasangannya. Nggak perlu kita paksa-paksa. Kan kamu tau segala sesuatu yang dipaksa itu nggak bagus. Begitu pun kesetiaan,” jelas Pak Isman, disusul dengan anggukan Bu Mila.

Memang benar. Benar sekali. Firas pun membenarkan ucapan itu. Tetapi sayangnya, dalam sebuah hubungan, terkadang kita menuntut kesetiaan itu ketika merasa sudah benar dalam mencintai seseorang. Padahal, kesetiaan akan lahir dengan sendirinya. Semua berawal dari komitmen dan komunikasi yang berlangsung baik, yang menumbuhkan kepercayaan. Dari kepercayaan itu, terbitlah perlahan-lahan kenyamanan yang mengikat, yang membuat sepasang hati enggan untuk beranjak. Setia itu layaknya sebuah gembok yang mengunci dua hati. Dan satu hal yang paling terpenting, setia bukanlah kata yang etis untuk sering diucapkan, meski dipasangkan dengan janji. Karena kata setia akan kehilangan makna bila sering dijanjikan tanpa ada bukti nyata. Berakhir menjadi omong kosong belaka.

Firas akhirnya beranjak dari posisi duduknya dan pamit kepada kedua orang tuanya untuk masuk kekamar. “Iya, makasih ya Pah, Mah, untuk nasihatnya.”

“Sebentar…” Pak Isman menahan pergelangan tangan Firas, membuat langkah anak itu terhenti. Bu Mila memperhatikan suaminya itu, ia tau pasti akan ada kalimat ajaib yang akan dikeluarkannya.

“Ada apa, Pah?” Firas memandang ayahnya yang sedang menatapnya dengan tatapan serius.

“Perempuan itu pada dasarnya senang dikejar, Ras. Dan kita, sebagai pria, memang harus mengejarnya. Tetapi jangan berlari terlalu kencang, berjalanlah santai mengikuti arahnya. Karena ketika kamu berlari, ia justru merasa tidak nyaman dan menjauh. Atur langkahmu sebaik mungkin,” ujar Pak Isman seraya menepuk punggung Firas. “Kamu sama seperti ayah dulu, semoga bernasib sama juga,” lanjutnya.

“Ya benar, kami suka dikejar, Nak.” Bu Mila menatap Pak Isman seraya tersenyum. Mereka berdua bertatapan sejenak, kemudian Bu Mila menambahkan. “Kalau pria yang mengejar kami memang serius berjuang, kami ndak akan membiarkannya berjalan tertatih-tatih, atau malah membuatnya mengemis. Karena cinta itu soal menerima, bila tidak bisa menerima pun ya disesuaikan, bukan berarti dipaksakan. Semua ada porsinya, Nak. Jangan lebih, pun jangan kurang. Tujuan memang satu, tetapi banyak arah yang bisa kamu lalui.”

Senyum Firas mengembang. “Terima kasih sekali lagi, Ma, Pa.” Kemudian ia melanjutkan langkahnya menuju kamar. Pak Isman dan Bu Mila saling bertatapan tanpa berbicara sepatah kata pun. Mereka berdua berharap Firas tidak salah dalam mengambil langkah.

Sesampainya di kamar, Firas mematikan lampu dan merenungi nasihat kedua orang tuanya berkali-kali sambil menatap langit-langit kamar. Dalam gelap yang ia lihat, muncul wajah Sina yang sedang tersenyum dari dalam benaknya. Sungguh, Firas begitu merindukan senyum itu. Ia memandangi layar ponselnya yang belum terlepas dari genggamannya sekali lagi, untuk melihat fotonya bersama Sina. Kemudian Firas pun tertidur karena dibuat menyerah oleh kedua matanya terasa begitu berat. Ia sangat lelah.

***

Sina terjaga dari tidurnya dengan kaget. Suara alarm yang ia nyalakan setiap hari pada pukul setengah enam pagi berdering kencang dari ponselnya dan memantul ke seluruh sisi kamarnya yang masih gelap, sehingga membangunkan paksa dirinya. Matanya terasa perih sekali. Gadis itu merasa tubuhnya rontok setelah seharian menghabiskan waktu hang out bersama teman-temannya. Sina lupa mengabari Firas ketika sampai di rumah pada pukul satu pagi tadi. Namun Sina berpikir, tidak mungkin Firas marah, lagipula ia sudah bilang terlebih dahulu akan pergi.

Dengan kondisi setengah sadar, Sina bangun dari tidurnya dan duduk di tepi kasur. Ia menggapai ponselnya yang terletak di sudut bantal –terhalang selimut yang ia gunakan, lalu mematikan alarm dan mengetik pesan untuk Firas. Baru saja Sina mengetik beberapa kata tiba-tiba ponselnya berbunyi, ada panggilan dari nomor yang tidak terdaftar dikontaknya. Sina menyipitkan mata saat melihat deretan nomor itu dan terdiam sejenak, mengira-ngira siapa yang menelponnya. Apakah Firas? Atau temannya? Atau justru orang lain? Entah, Sina tidak tau, dan memilih mengangkatnya.

“Halo, selamat pagi. Maaf ini siapa?” tanya Sina dengan nada serak kepada orang yang menelponnya di sebrang sana.

Sina terdiam mendengar jawaban si penelpon, perlahan-lahan ekpresi wajahnya yang masih menahan ngantuk berubah cerah dan semringah. Rambut panjang acak-acakan yang ia cat cokelat tua tanpa sadar ia sisir dengan jemari tangannya yang halus.

“Oh, iya boleh. Nggak kok. Iya deket situ, nanti lo kabarin aja kalo udah sampai,” kata Sina kepada lawan bicara sambil menggigit bibir.

“Gue tunggu ya. Oke. Makasih,” lanjutnya, kemudian mengakhiri panggilan. Sina merasa dadanya membuncah senang. Setelah beberapa menit berlalu, gadis itu bergegas mandi dan mengacak-acak isi lemari untuk menyiapkan pakaian terbaiknya. Pesan untuk Firas yang tadi ia ketik pun berakhir pada pilihan ‘cancel’.

***

‘The number you are calling is not active or out of coverage area, please try again later.’

Rahang Firas mengeras mendengar jawaban otomatis operator provider saat menelpon Sina. Sudah delapan kali ia mencoba menelpon gadis itu, tetapi tidak berhasil. Firas melirik jam tangannya, pukul sepuluh pagi lewat tujuh belas menit. Tidak mungkin gadis itu belum bangun tidur karena Firas tau, Sina selalu bangun pagi meski pada hari libur. Bila tidur pun biasanya ponselnya aktif. Sepertinya Sina sedang berada di luar rumah dan ponselnya lowbatt sehingga ia mematikan ponselnya, tetapi Firas tau gadis itu selalu membawa power bank. Atau justru Sina sengaja mematikan ponselnya? Entahlah, terlalu banyak kemungkinan yang ada. Dan Firas berusaha membuang jauh-jauh pikiran buruk yang mulai datang. Ia merasa gadis itu menghindarinya akhir-akhir ini, namun sebabnya apa? Firas merasa tidak melakukan kesalahan apapun.

Setiap Minggu siang –sekitar pukul 11, Firas selalu berkunjung ke rumah Sina sambil membawa bekal makanan untuk makan siang berdua karena orang tua gadis itu pergi mengurus bisnis mebel keluarganya di Bogor. Di rumah Sina tidak ada pembantu, itulah sebabnya Firas berinisiatif membawa bekal makan siang untuknya agar gadis itu tidak lupa makan.

Firas menimang-nimang ponselnya yang ia genggam di tangan kiri. Tangan kanannya menggenggam rantang susun perak yang berisi sup ayam, nasi putih, dan buah mangga yang sudah ia siapkan sejak pukul sembilan. Firas ragu antara tetap berangkat ke rumah Sina sekarang atau menunggu sampai gadis itu memberi kabar terlebih dahulu.

Sementara Firas terduduk lesu di sofa teras rumahnya sambil menunggu mesin motor Beat hitam miliknya memanas, Sina sedang senyum-senyum sendiri menahan rasa tertariknya pada seorang pria tampan yang dikenalkan oleh salah satu temannya kemarin, yang menjemputnya lima menit lalu.

***

“Eh ini gak apa-apa, serius?” tanya pria itu ketika mobil yang dikendarainya berhenti di depan lampu traffic light bersama mobil lain, lalu melirik Sina yang sedang melihat pemandangan jalan di sampingnya dari balik jendela.

Sina mengalihkan pandangannya dan menggelengkan kepala sambil melihat sekilas tattoo bunga mawar di lengan kiri pria itu. “Gak kok, Niel. Kita kan cuma jalan biasa, makan siang bareng,” jawabnya santai.

Pria berambut mohawk bernama Daniel itu tersenyum tipis. “Okay, gue cuma mastiin aja. Siapa tau ada yang ngomel semisal kita jadi nggak biasa. Hahaha.” Ia terkekeh dan menatap Sina dari balik kacamata hitamnya. Namun gadis itu menanggapinya dengan senyum simpul.

By the way, kita ke mana nih, Niel?” tanya Sina seraya mengaitkan poni rambutnya ke daun telinga.

“Kan kita abis jalan keliling galeri nih, pasti lo laper kan. Makan siang di resto baru di dekat apartemen Kalibata City aja gimana, Sin? Gue mau nyobain tempat itu, keliatannya enak.”

Sina berpikir sejenak, lokasi tujuan mereka makan siang itu sering dilalui Firas setiap kali ke rumahnya.

“Lo nggak mau?” tanya Daniel sekali lagi sambil melihat mobil di depannya.

“Umm…, boleh deh. Siapa tau worth it buat dicoba,” jawab Sina tanpa berpikir lagi, ia segera melupakan kemungkinan akan terlihat oleh Firas.

Then, we go…” Daniel menginjak pedal gas ketika lampu traffic light berubah hijau.

***

Firas mematikan mesin motornya dan melepas helm begitu sampai di depan rumah Sina beberapa menit yang lalu. Udara Jakarta mulai terasa panas, membuat Firas melepas jaketnya yang ia gunakan untuk melindungi kulit dari terpaan sinar matahari. Firas melihat sekeliling rumah gadis itu sambil menurunkan standar motornya, lalu turun. Sepi sekali. Tidak ada tanda-tanda orang di dalamnya. Kening Firas mengernyit. Ke mana perginya gadis itu? batinnya.

Gerbang besi berwarna metalik setinggi kepala Firas yang menjadi pelindung rumah Sina terkunci oleh gembok cokelat berukuran besar. Ia memencet tombol bel yang terletak di pojok kanan gerbang, menempel pada tembok putih, lalu memasang telinga untuk mendengar suara pintu rumah itu terbuka sambil merapikan kaus putih yang melapisi tubuhnya. Sebuah kebiasaan ketika berkunjung ke rumah kekasihnya itu.

Setelah menunggu beberapa menit, tidak ada suara orang membuka pintu rumah. Firas memencet tombol bel untuk ketiga kalinya. Namun tetap saja, nihil. Ia mulai menerka-nerka ke mana Sina pergi. Bila gadis itu ikut orang tuanya ke toko mebel keluarganya, sudah tentu ia mengabarinya sejak pagi tadi. Namun tidak ada kabar sama sekali dari gadis itu. Jika Sina menghindar darinya padahal Firas tidak melakukan kesalahan apapun, berarti ada sebab lain. Tidak mungkin kan orang melakukan sesuatu tanpa alasan?

Firas mengingat ucapan Sina pada komunikasi mereka yang lalu. Tetapi ia tetap tidak menemukan alasan mengapa gadis itu kini menghilang. Komunikasi mereka lewat aplikasi chatting berlangsung lancar tanpa ada satu pun konflik yang terjadi. Hanya saja, Sina seperti menanggapi Firas dengan datar, tanpa emoticon seperti pasangan-pasangan pada umumnya. Namum Firas tidak terlalu ambil pusing akan hal itu. Firas jarang membahas atau meributkan hal-hal sepele seperti itu, karena baginya, itu hanya membuang tenaga. Pokoknya, bagi Firas, yang penting ia tidak pernah berbuat hal yang memicu konflik. Ia tidak pernah berkomunikasi secara intens dengan perempuan lain semenjak berpacaran dengan Sina, Firas begitu menjaga perasaan kekasihnya itu.

Namun lain hal dengan Sina, ia banyak memiliki teman laki-laki. Bahkan tidak jarang berhubungan dekat. Hang out, jalan-jalan, dan bermain ke rumahnya. Sina sangat welcome. Mengetahui hal itu, awalnya, Firas merasa khawatir dan terganggu, tetapi ia memilih untuk tidak terlalu ambil pusing. Lagipula ialah yang menjadi kekasih Sina. Bukankah itu sudah sangat cukup? Ya meskipun ketika mereka berdua sedang bersama, Sina tidak pernah update di sosial media seperti anak-anak muda kebanyakan.

Setengah jam berdiri dan merasa kakinya pegal, Firas mencoba menelpon Sina lagi, tetapi ponsel gadis itu tetap tidak aktif. Jam tangannya menunjukkan pukul setengah satu. Sudah waktunya makan siang. Firas berdecak kesal, kemudian menaruh plastik berisi rantang makanan yang ia genggam ke sebuah pengait yang terdapat di dekat kunci motornya, dan menarik gas untuk kembali pulang ke rumahnya.

***

“Sudah sampai, cantik,” goda Daniel seraya menarik rem tangan mobilnya ketika sampai di sebrang sebuah restoran baru di dekat apartemen Kalibata City.

“Oke, yuk turun.” Sina melepas seat belt, merapikan terusan merahnya sejenak, kemudian membuka pintu mobil dan melangkah keluar menghampiri Daniel yang sedang memencet tombol pengaman di kunci mobilnya.

Daniel tersenyum ketika Sina berdiri sejajar dengannya dan hendak menyebrang. Pria itu memperhatikan sejenak jemari tangan kanan Sina yang lentik, lalu tanpa merasa canggung, ia menggenggamnya. Sina sedikit kaget dengan perilaku Daniel tersebut, tetapi ia tidak menolak. Ini kan mau nyebrang, wajar aja kalo dia genggam tangan gue, pikir gadis itu.

Mereka berdua pun menyebrang menuju restoran bertajuk eropa itu tanpa perasaan bersalah. Dan Sina tidak sadar, sebelum mereka berdua berjalan menyebrang, Firas lewat di depan mereka dan melihatnya yang sedang dalam genggaman tangan orang lain.

Tidak lama kemudian, sekitar dua ratus meter dari jalanan itu, terdengar suara hantaman keras benda bertabrakan. Darah seseorang mengucur deras di permukaan aspal panas bercampur dengan kuah makanan dan nasi yang berceceran, kemudian terdengar suara seorang ibu-ibu tua yang berteriak histeris. “TOLONG!”

Di dalam restoran, sambil memperhatikan suasana dan menikmati obrolannya bersama Daniel. Tiba-tiba saja Sina tidak sengaja menyikut gelas jus stroberinya hingga pecah di lantai.

“Lo gak apa-apa?” tanya Daniel sambil mengusap lengan Sina setelah memanggil pelayan untuk merapikan pecahan gelas di lantai.

Wajah Sina berubah pucat dan napsu makannya mendadak hilang menghilang. “Nggak apa-apa Niel, maaf ya. Gue ceroboh banget.”

***

Lima hari sudah tidak terdapat kabar dari Firas. Sina mulai cemas. Rasa bersalah menggelayuti pikirannya. Ia merasa bodoh sekali karena lupa mengabari Firas berhari-hari sejak pergi bersama Daniel, dan justru giat bertukar kabar dengan pria itu. Kini, ia menatap layar ponselnya dengan bingung. Nomor Firas tidak aktif. Sina telah menelponnya berkali-kali. Gadis itu berpikir pasti Firas marah dengannya. Sina ingin sekali pergi ke rumah Firas. Tetapi niatnya itu segera diurungkan. Sina takut kehadirannya yang tiba-tiba menjadi masalah. Ia pasti ditanyai ini-itu oleh Firas karena telah menghilang beberapa waktu, dan Sina pun tidak mempunyai jawaban tepat yang aman untuk dijelaskan.

Pria mana yang tidak marah bila tau kekasihnya pergi bersama orang lain? Sudah begitu saling menggenggam tangan sepanjang jalan dan makan suap-suapan, atau malah bisa jadi lebih dari itu. Sebenarnya dalam beberapa waktu kemarin, Sina merasa bosan dengan Firas yang terlalu sering menghubunginya dan datang ke kampusnya, meskipun untuk bertemu beberapa temannya. Sina merasa Firas memonitorinya, dan itu tidak membuatnya nyaman. Sina tau maksud yang Firas lakukan, tetapi ia tidak dapat menerimanya. Ia ingin memiliki waktu sendiri, oleh karena itu dua minggu lalu ia pergi bersama teman-temannya, Ria, Ushi, Deli, dan Shandya. Dan Shandya lah yang mengenalkan Sina kepada Daniel.

Lamunan Sina berhenti ketika ponselnya bergetar, sebuah notifikasi LINE dari Deli muncul di layar ponsel.

‘Lo udah putus sama Firas? Cepet amat lo sama si Daniel.’ – Deli Nafisa

‘Belum, kenapa, Del?’ – Sina Rizkita

Seriusan? Kok lo nggak jenguk Firas?”  – Deli Nafisa

Dia koma, kecelakaan empat hari yang lalu di deket KalCit‘ – Deli Nafisa

APA? ASTAGA… DI MANA RUMAH SAKITNYA?’ – Sina Rizkita

SANTAI DONG! Makanya gue nanya sama lo, kirain udah putus. Gue lupa nama rumah sakitnya, yang jelas patokannya di dekat jalan gede Duren Tiga.’ – Deli Nafisa

Okay, makasih infonya, Del. Gue ke sana sekarang juga.’- Sina Rizkita

Sina memasukkan ponselnya dengan asal ke dalam tas selempang kecilnya, membuka pintu rumahnya dengan kasar, lalu berlari ke pinggir jalan di depan rumahnya untuk mencegat taksi.

***

Kedua kaki Sina yang dibalut sepatu flat hitam melangkah terburu-buru memasuki rumah sakit setelah menyerahkan selembar uang lima puluh ribu untuk membayar argo taksi yang mengantarnya ke rumah sakit di daerah Pasar Minggu ini. Sesampainya di meja resepsionis, Sina bertanya di mana letak kamar Firas kepada salah satu suster perempuan yang berjaga. Sesudah menyebutkan nama lengkap Firas, Sina langsung melangkah lagi dengan setengah berlari menuju kamar Firas yang terletak di ruang ICU.

Sina tiba di depan kamar Firas dengan napas terengah-engah. Jantungnya berdebar kencang bukan main. Rasa bersalah, takut, khawatir, panik dan perasaan negatif lainnya bercampur menjadi satu. Gadis itu mencoba untuk menenangkan diri terlebih dahulu sebelum membuka pintu kamar Firas. Namun ia tidak dapat menahan air matanya yang sudah turun deras menempel di pipinya. Sina terisak hebat hingga jatuh terduduk di lantai. Suasana sekitar ruangan sunyi, hanya udara dingin dengan bau obat menyengat yang menyambut kedatangannya.

Setelah dirasa sedikit tenang, Sina membuka gagang pintu kamar Firas pelan-pelan dan memasukinya dengan hati-hati. Ketika di dalam, Sina melihat Bu Mila sedang tertidur di samping…, Sina hampir pingsan melihat sekujur tubuh Firas terilit perban. Hatinya luluhlantak seketika mengetahui keadaan Firas yang mengenaskan. Tubuhnya Sina hebat hingga ia harus berpegangan pada dinding kamar sebelum keseimbangan tubuhnya goyah. Tangisannya meledak hebat dari balik telapak tangannya yang menutupi wajah, hingga membuat Bu Mila terbangun.

“Sina?” tanya Bu Mila sambil mengerjapkan mata dan berdiri.

“I…, iya Tante…” Suara Sina terdengar tidak jelas tertutupi isakan tangisnya.

“Sini…, sini…, tenangin diri kamu dulu yuk di belakang,” ajak Bu Mila sambil merangkul Sina yang masih menangis.

Di belakang kamar Firas, ada sebuah ruangan kecil yang terdapat sofa berukuran cukup besar berwarna cokelat, meja kayu di depannya, dan sebuah tempat tidur kecil dilengkapi satu bantal. Ruangan itu dipisahkan oleh dinding kaca yang berfungsi untuk mengedapkan suara pengunjung yang berbicara. Bu Mila dan Sina duduk di sofa itu bersampingan, dan mengusap punggung Sina dengan lembut agar gadis itu merasa tenang.

Isakan Sina mulai surut, ia mengusap wajahnya yang sembab dengan tisu yang tersedia di meja. Sambil melihat Firas dari balik kaca, Sina berkata, “Tante, Firas kenapa?”

Bu Mila menarik napas panjang, lalu menggenggam tangan Sina. “Dia kecelakaan, ditabrak mobil pick up seminggu yang lalu, Sina. Beberapa tulang rusuk dan kaki kirinya patah serta mengalami pendarahan di beberapa bagian tubuhnya.”

“Kok bi…sa? Astagfirullah…” Sina memeluk erat Bu Mila sambil meraung pelan.

“Kita ndak pernah tau kapan musibah terjadi. Seinget tante, sebelum kecelakaan, dia pergi ke rumah kamu bawa bekal makan siang,” jelas Bu Mila, ia berusaha setenang mungkin menjelaskannya.

“…”

Sina menggelengkan kepala dengan keras mendengar penjelasan Bu Mila. Gadis itu menangis lagi, jauh lebih hebat dari sebelumnya. Ia merasakan rasa sakit yang teramat sangat menghujam hatinya bertubi-tubi. Sina merasa musibah ini terjadi akibat perbuatannya yang bodoh. Bersenang-senang dengan temannya hingga lupa mengabari kekasihnya berhari-hari, dan yang paling parah pergi bersama Daniel, yang jelas-jelas gelagatnya ingin menguasai hatinya.

Semua karena Sina menuruti egonya. Jelas, keinginan Firas sederhana; hanya menginginkan kabar darinya. Firas hanya ingin komunikasi yang baik dengan dirinya saat sedang tidak bersama. Tidak lebih dari itu. Semudah itu ia menghancurkan kepercayaan Firas? Sina merasa tolol sekali.

Pandangan mata Sina memburam karena air matanya tidak berhenti turun. Ia melihat Firas dari balik kaca ruangan ini. Pasti ia merasa sangat menderita dengan rasa sakitnya.

“Sabar, ya Sina. Firas pasti sembuh kok,” ucap Bu Mila sambil terus mengusap punggung Sina. “Firas sempat siuman dan saat itu bilang ke tante, dia titip salam sama kamu ketika kamu ke sini. Firas juga menulis sesuatu, tante ndak ngerti itu apa, dan ia pun menyembunyikannya.”

“Fi…, Firas bilang apa tante?”

“Dia sayang banget sama kamu, maaf kalau dia bikin kamu kesal. Dia juga minta maaf karena tidak bisa mengantar bekal makan siang buat kamu pada hari itu.” Bu Mila menjelaskannya dengan suara bergetar. Ia pun akhirnya tidak dapat menahan tangisnya. “Firas sayang banget sama kamu, Sina.”

“Firas nggak bisa tidur ketika kamu nggak ngabarin dia, Sina. Dia minta diajarin masak sampai tangannya berkali-kali kena pisau saat memotong dan terciprat minyak panas. Dia bangun pagi nemenin tante belanja dan ternyata masakan yang dia buat itu untuk kamu.” Bu Mila menarik napas panjang sambil memeluk Sina.

Sina mendengar penjelasan itu dengan kalut. Napasnya sesak, rasanya ia lupa cara bernapas. Dadanya bagai terhimpit batu raksasa. Potongan demi potongan kenangan berkelebatan di ingatannya. Ketika Firas mengantar Sina pulang ke rumahnya dari kampus saat hujan deras dengan satu jas yang Sina gunakan. Saat Firas datang menemui Sina di kampusnya secara tiba-tiba sambil membawa seikat bunga setiap kali moodnya sedang rusak. Ketika Firas pagi-pagi buta datang ke rumahnya hanya untuk mengantarkan sebuah boneka Tedy Bear sebagai hadiah hari jadi yang kedua bulan. Hal-hal kecil lainnya yang Firas lakukan serta berikan untuk Sina. Semuanya karena Firas begitu mencintainya.

Tidak dapat terbantahkan lagi, Sina mengamuki kebodohannya dan benar-benar menyesali perbuatannya telah menyia-nyiakan cinta Firas yang begitu besar, lalu malah mengkhianatinya.

Akhirnya, setelah sama-sama lelah menangis, Sina meminta maaf kepada Bu Mila karena telah mendiamkan Firas. Saat mereka berpelukan, tiba-tiba saja sebuah lampu merah di dinding berkedip. Bu Mila langsung melepas pelukannya dan menghampiri Firas, lalu memencet tombol pemanggil dokter yang terdapat di samping tempat tidur anaknya.

Sina menutup wajahnya saat melihat detak jantung Firas yang melemah di sebuah monitor. Garis naik turun yang terpampang di layar semakin rendah. Sina langsung menggenggam tangan Firas sambil berdoa. Beberapa saat kemudian seorang dokter pria dan dua suster wanita masuk ke dalam kamar Firas. Sekali lagi, perasaan Sina dibuat hancur ketika melihat mendapati wajah Firas menjadi pucat. Sina kalap dan terisak hebat memanggil Firas berkali-kali.

Ketika dokter menggosok sepasang alat kejut jantung berbentuk seperti setrika dan meletakkan ke dada Firas, samar-samar terlihat mata Firas mengeluarkan air mata. Sina jelas melihatnya. Kemudian terdengar bunyi yang memekakkan telinga dari alat itu, yang kemudian mencabik habis hati Sina. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Sina merasakan sakit yang begitu luar biasa hebat, membuatnya merasakan mati dalam keadaan hidup. Bola matanya yang mulai lelah menangis seolah ingin membutakan diri karena tidak kuat melihat apa yang terjadi di hadapannya.

Dua suster yang berdiri di samping dokter kemudian mengusap punggung Sina dan Bu Mila, menguatkan mereka berdua untuk menghadapi kemungkinan yang paling terburuk terjadi dalam hitungan mundur. Setelah itu, berbagai alat kedokteran seperti selang dan jarum satu per satu mulai dijejali ke tubuh Firas demi membuat nyawanya tetap pada raganya. Sina menggenggam tangan Firas dengan kencang. Entah kenapa ia merasakan ada cengkraman kuat dari tangan Firas yang sedang ia genggam. Seolah-olah, kekasihnya itu tidak ingin meninggalkan Sina.

Namun takdir berkata lain, mulut Sina yang terus menerus memanggil nama Firas dan mengiba pada rapalan doa tidak bisa membuat takdir berbelas kasih. Suara Sina yang semakin lirih terdengar melacurkan harapannya yang terus meminta kepada Tuhan agar Firas diberi kesempatan untuk hidup lebih lama. Agar Sina sempat mengucapkan permintaan maafnya. Agar Sina dapat menjelaskan betapa ia mencintai Firas.

Tetapi semua yang Sina lakukan tetap melahirkan kenyataan yang lain. Dokter yang sudah berusaha semaksimal mungkin pun ternyata tidak dapat mengubah keinginan Tuhan. Ia menundukkan kepala dan menyeka air matanya, kemudian meminta maaf kepada Bu Mila dan Pak Isman yang baru saja datang, yang langsung menangis kencang sambil memegangi kaki Firas.

Sina memeluk Firas yang sudah pergi dengan tangisan tanpa suara. Gadis itu menggoyangkan tubuh Firas, berharap dapat menarik kembali roh kekasihnya. Dan, ketika Sina sadar itu hal yang percuma, selembar foto terjatuh dari balik punggung Firas ke lantai. Sina mengambil dan memeluk foto itu, foto yang mengabadikan senyum mereka berdua saat pertama kali berfoto bersama. Sejurus kemudian, seorang suster menarik selimut putih di ujung tempat tidur Firas dan menutupi sekujurnya.

Tubuh Sina kehilangan keseimbangan dan semuanya berubah menjadi gelap.

***

Tangis pilu para pelayat terdengar menyayat hati siapapun yang mendengar. Dari belakang kerumunan, empat orang menggotong jasad Firas menuju tempat peristirahatan terakhirnya. Sina hanya terdiam. Hatinya sudah terlalu lelah untuk merasa sakit. Matanya terasa sangat perih hingga ia menggunakan kacamata hitam agar orang-orang tidak melihat kantung matanya yang bengkak.

Lantunan ayat-ayat suci bergema seirama mengiringi jasad Firas yang dikebumikan. Sina ternyata tidak sanggup menahan kesedihan yang bertamu lagi ke dalam hatinya. Ia terisak di balik kacamatanya. Di antara para pelayat yang kebanyakan teman-teman Firas dan keluarganya, Pak Isman terlihat merangkul Bu Mila yang menutupi setengah wajahnya dengan syal hitam.

Setengah jam kemudian, para pelayat satu per satu meninggalkan makam Firas. Bu Mila dan Pak Isman pamit pulang kepada Sina, dan menyarankannya untuk segera pulang.

“Sina, tante dan om pulang duluan ya, ndak baik sedih-sedihan di sini,” ucap Bu Mila sambil menggenggam tangan Pak Isman, ayah Firas itu hanya melihat Sina dengan tatapan kosong. Seakan separuh nyawanya telah hilang seiring kepergian Firas selamanya.

Sina mengangguk. “Iya, tante, om, silakan. Saya juga nanti segera pulang ke rumah. Saya masih pengin di sini nemenin Firas.”

Bu Mila dan Pa Isman tersenyum. Sebelum meninggalkan Sina, Bu Mila memeluk gadis itu terlebih dahulu. Dalam pelukannya, ia berbisik. “Terima kasih ya, Sayang. Kamu ada di saat-saat terakhirnya. Firas pasti bahagia di sana.” Setelah Bu Mila melepas pelukannya, Sina mencium tangan Bu Mila. Kemudian Bu Mila dan Pak Isman melangkah pergi.

Sina mengambil air bunga mawar dan taburan bunga yang tersisa dari dalam tasnya ketika sosok Bu Mila dan Pak Isman telah masuk ke dalam mobil.

Perlahan-lahan, Sina menyiram makam Firas yang masih basah dengan air bunga mawar dan menaburinya dengan bunga berbagai macam warna. Sina merasa lupa terhadap sesuatu, lalu terdiam sebentar. Foto. Foto itu. Sina merogoh kantung kecil di dalam tasnya dan menatap nanar foto itu, lalu berjongkok di samping batu nisan Firas. Batu nisan hitam persegi yang bertuliskan nama ‘Firas Adi Ismana’ dengan warna kuning terang.

“Sayang, maafin kesalahan aku ya. Aku baru sadar satu hal, ternyata aku cinta banget sama kamu,” ucap Sina pelan seraya mengusap papan nama Firas dan menatap lagi foto yang ia pegang.

“Penyesalan memang datang belakangan ya, Sayang. Aku baru ngerasainnya sekarang. Kenapa ya aku bodoh banget malah nyia-nyiain kamu?” Sina tertawa hambar karena ucapannya sendiri, lalu tersenyum getir meratapi batu nisan Firas.

“Oh iya, kamu udah sampai di surga belum, Sayang? Kalau masih di sekitar sini, peluk aku dong sekalian ndusel deh. Kamu kan belum pernah ndusel sama aku,” lanjut Sina, ia mulai terisak pelan.”Aku kangen kamu, Firas. Kangen berada di pelukan kamu, denger ocehan kamu yang bikin aku geregetan. Kangen kecupan kening kamu yang nenangin. Kangen semua tentang kamu.”

“Tiga belas bunga yang kamu kasih aku simpen di kamar, tapi ada satu bunga yang paling indah kelopaknya, aku suka, dan itu aku laminating buat dijadiin pembatas buku. Soalnya kamu kan nggak suka sama angka tiga belas.” Sina tersenyum lebar dan mengusap air mata di pipinya sejenak, “gapapa kan, Sayang? Kamu nggak marah kan?”

“Nanti kalau kamu udah di surga nggak akan ngelupain aku kan? Nggak kan?” Tubuh Sina bergetar hebat di tengah monolognya dan ia hampir jatuh duduk, “soalnya di surga kan banyak bidadari yang cantiknya lebih dari aku. Mereka pun nggak suka ngilang kayak aku, pasti setia sama kamu. Tapi aku percaya kok kamu nggak selingkuhin aku. Soalnya cukup aku aja yang bodoh, kamu jangan.”

Sina menarik napas dengan susah payah karena sesak di dadanya terasa sangat perih setelah mengucap kalimat itu, kepalanya juga terasa pusing sekali. Kesadarannya lamat-lamat menghilang di antara udara dingin cuaca mendung. Kemudian Sina melepas kacamatanya dan mendekatkan wajah ke batu nisan Firas. Sina mengecup permukaannya pelan sambil terpejam dan merapal doa, sangat lembut. Seolah mengucap kening Firas untuk terakhir kalinya. Tetesan air mata Sina yang deras berselancar dari pipinya satu per satu jatuh tepat di atas tulisan nama Firas.

“Aku cinta kamu, Firas. Terima kasih telah sangat mencintaiku.”

***

Terinspirasi dari puisi Apabila Esok Hari.

Advertisements

6 thoughts on “Beautiful Goodbye

  1. mungkin kalau ndak buka twitter gak bakal baca blog ini
    keren banget
    dan buat mas Falen terimakasih banyak subuh” sudah ngebuat air mata membasahi pipi saya :’)

  2. Ceritanya bagus banget kak. Sedih. Tapi ada sedikit koreksi nih kak. Pada saat mamanya firas bilang ke sina kalo “Firas sempat siuman dan saat itu bilang ke tante, dia titip salam sama kamu ketika kamu ke sini. Firas juga menulis sesuatu, tante ndak ngerti itu apa, dan ia pun menyembunyikannya.”
    Kok malah jadi aneh ya kak bayanginnya. Karna kan firasnya habis kecelakaan hebat bisa nulis sesuatu dan setelah itu koma. Rasanya terlalu di dramatisir keadaannya. Tapi ceritanya keren kok. Keren banget.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s