Apabila Esok Hari

IMG_5667

Sejujurnya, aku sedang cemas memikirkan esok hari kita akan seperti apa. Sebab begitu banyak kemungkinan dari ketidakmungkinan yang ada, serta ada satu hal yang mengganjal batinku tetapi enggan kutanyakan kepadamu, yaitu jawaban sebuah kalimat.

“Apakah engkau mencintaiku dan masihkah ada kemungkinan itu?”

Setiap harinya, aku memangkas rindu yang tumbuh kering seperti alang-alang, semakin kutebas, semakin mereka meranggas. Hingga rasa lelah menasihatiku untuk berhenti dan membiarkan setiap malam dadaku meledak dengan batuk yang sesak, sebab apalagi yang bisa kuperbuat ketika kau lenyap selain menghibur kedua mataku yang bengkak?

Kau dan aku tak pernah tau kapan takdir menghancurleburkan definisi kita. Ia bukanlah penyabar, melainkan penghitung dan penagih  tanpa belas kasih.

Apabila esok hari bukan aku lagi yang kau khawatirkan, kau boleh mengetahui aku yang terlampau sering mengemis kepada jarum jam agar waktu berjalan cepat hingga kau dan aku berhadapan saling tatap.

Apabila esok hari bukan aku lagi yang tiba-tiba membawa seikat bunga dan kau kegirangan tanpa aba-aba, kuharap itu bukan menjadi alasan kau melupakan tiap detil kenangan kita yang sebentar lagi kau makamkan.

Apabila esok hari ada lengan lain yang bukan milikku memelukmu erat kala udara dingin lebih tajam dari sindiran lidah remaja labil, betapa hangat tubuhmu membekas abadi tanpa koma dan karena.

Apabila esok hari bukan aku lagi yang membuat bekal makan siangmu, semoga orang itu rajin bangun sebelum bulan angkat kaki saat subuh dan tidak takut menantang minyak panas untuk meniriskan cinta dalam bentuk yang mengeyangkan perutmu, seperti aku.

Apabila esok hari ternyata ada orang lain yang kau cintai, ingatlah seseorang yang pernah begitu jatuh cinta padamu dalam gugup kali pertama menatap sepasang matamu yang serupa bintang jatuh.

Terima kasih telah membuat hatiku hidup lagi setelah mengalami mati suri yang panjang, sebab bila bukan karenamu, aku masihlah seorang pengecut yang tak pernah berani menciptakan bahagiaku sendiri. Terima kasih juga untuk kesediaanmu untuk ada untukku, karena aku selalu berangan dapat menghentikan waktu saat menggenggam tanganmu. Terima kasih terakhir kalinya, karena berkatmu aku belajar dengan baik menjadi aku.

Dan apabila esok hari itu tiba, aku telah mengikhlaskanmu. Sebab merelakan memang tak pernah sesederhana tangis perpisahan. Oleh karena hatiku telah luluhlantak sepaket dengan iman dan raga yang nyaris tumbang pada tiap kata yang mengakhiri tulisan ini, aku hanya ingin berkata sejujur-jujurnya apabila esok hari itu tiba.

“Selamat tinggal, aku pergi dalam keadaan sangat mencintaimu.”

Depok, 21 November 2014

***

Terinspirasi dari puisi Andi Gunawan yang berjudul “Kepada Tuan Penunggu”

Advertisements

2 thoughts on “Apabila Esok Hari

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s