The Missing Piece

tumblr_ktozefouPX1qzp8bdo1_500[1]

sumber: blogspot

*dengarkan lagu di bawah ini sampai cerita berakhir dengan earphone, agar semakin tenggelam dalam tiap kata yang kamu baca*

 

“Ray, gue cabut duluan ya. Jangan sampai lupa lo jadi manusia,” ujar Farhan, teman sekantorku, dengan nada meledek sambil terkekeh dari kubikelnya yang terletak di sebelah kubikelku.

“Oke deh, take carebro, i’ll do,” balasku singkat, tidak menanggapi gurauannya. Aku tetap fokus di depan layar Macbook Air-ku untuk mengerjakan deadline. Kemudian terdengar sepatu yang melangkah bergantian, disusul suara pintu terbuka, tertutup, lalu hening.

Aku melirik ke layar atas kanan laptop untuk melihat waktu. Pukul enam. Masih sore, pikirku. Suasana sangat hening, aku jadi merasa iseng dan tergerak untuk mendengarkan lagu. Aku memasang earphone, lalu mendengarkan lagu dari playlist iTunes dan memutarnya secara acak.

All I want is nothing more
To hear you knocking at my door
‘Cause if I could see your face once more
I could die a happy man I’m sure

Kesepuluh jemariku yang sedang bahu membahu mengetik laporan keuangan seketika terhenti. Oh, otakku baru benar-benar mencerna lagu yang kudengarkan. Keningku mengernyit. Aku ragu, antara melepas earphone atau menekan tombol next untuk mengganti lagu. Kedua pilihan yang menyelamatkanku dari lagu All I Want milik Kodaline.

Entah itu hanya sekedar hipotesis penelitian atau memang fakta, bahwa sebuah lagu dapat mengantarkan alam bawah sadar kita menjelajahi kenangan yang sudah lama dilupakan. Dan aku awalnya memilih untuk tidak mempercayainya, tetapi…, ya, mau bagaimana lagi, itu memang benar adanya.

Dear memories, go fuck yourself. 

Aku berdiri dan memandang ke seluruh sisi ruang kerja. Sudah sepi, tidak ada orang lain lagi di ruangan ini selain aku yang sedang lembur. Baiklah. Aku duduk kembali di kursi dengan posisi kepala menengadah. Aku tidak melepas earphone dari telinga atau mendengarkan lagu lain. Aku memilih mendengarkan lagu itu hingga detik terakhir sambil memejamkan mata. Kebetulan aku sedang merindukan bagian melodi pada lagu itu. Ya, bisa dibilang lagu itu berjasa menemaniku pulang dari sebuah perjalanan panjang. Berkat lagu itu pula aku jadi mengetahui sebuah hal yang mungkin tidak atau belum dirasakan orang-orang yang sedang berjuang mendapatkan cintanya.

Mengenang itu tidak ada salahnya, kan? Sekadar mengingatkan bahwa ternyata sehancur apa pun kita di masa lalu, toh, kita akhirnya mampu bangkit lagi dengan cerita baru.

Dan ada kalanya masa lalu diingat untuk ditertawakan.

If you love me, why’d you leave me?

“Tulus dan tolol itu memiliki perbedaan tipis, atau mungkin tercipta sebagai saudara. Kau percaya?”

***

Lampu tol Cipularang menuju Jakarta pukul sepuluh malam bersinar termaram kala itu. Menembus kaca pandang mobil Honda City keluaran lama yang kukendarai. Hujan turun deras. Bulir-bulirnya menempel di kaca pandang dan menjadi embun, sedikit menghalangi pandanganku. Debam suara petir memantak di langit, diperantarai udara hingga bunyinya sampai ke telingaku. Aku mengemudikan dengan kecepatan sedang, 60 kilometer per jam. Dahiku berkeringat, padahal dingin udara AC yang menguar dari dashboard mobil mampu menusuk ketebalan jaket berbahan parasut.

Lagu Kodaline – All I Want terputar otomatis ketika aku menyalakan mp3 mobil dengan mode shuffle. Aku menggebrak pelan stir mobil dengan tangan kanan. Tidak, aku tidak sedang kesal karena terjebak di tengah kemacetan. Tetapi karena isi kepalaku sangat riuh dengan sebuah nama yang harus segera kuusir paksa dari pikiran, dan tentunya, hati. Ditambah dengan makna lirik lagu ini yang membuatku merutuki diri dan bersumpah tidak akan ke kota itu lagi.

Satu per satu momen-momen di ingatanku berkelebatan, beriringan dengan musik lagu itu. Seperti jutaan film hitam-putih yang berputar di dalam waktu yang bersamaan, memperkosa kesadaranku. Musik pada lagu itu mengajakku berdansa bersama kenangan yang hadir. Menindih dadaku hingga aku hampir lupa caranya bernapas. Aku harus tetap menjaga kesadaran demi perjalanan pulang hingga sampai di rumah. Aku tidak dapat berbohong bahwa sekarang aku sedang sekarat menghadapi kenyataan.

Deta, seandainya saja kamu…

Sungguh, aku tidak ingin hidupku berakhir tragis di jalanan hanya karena patah hati dengan menabrak bahu jalan atau mobil lain yang tidak berdosa. Tetapi apa daya, pengelihatanku mulai memburam oleh air mata. Aku pasrah. Semoga saja Tuhan masih menyayangi diriku dan malaikat berbelas kasih untuk mengundur waktu jadwal pencabutan nyawaku. Aku tidak ingin mati konyol. Patah hati bukanlah akhir dari segalanya.

Tiiiiiiiiinnnn… Klakson mobil di belakangku terdengar nyaring memaki.

“WOI GOBLOK! LO CARI MATI YA BAWA MOBIL SAMBIL MABOK!” teriak seorang pria dengan kasar dari samping kananku sambil membuka setengah jendela mobilnya. Aku tidak menjawab, hanya membuka jendela sesaat dan mengangkat telapak tangan. Memberikan isyarat permintaan maaf.

Akhirnya kuputuskan untuk menepikan mobil ke pinggir jalan hingga hujan reda. Terlalu berbahaya jika aku melanjutkan perjalanan dengan keadaan kacau. Setelah mobil menepi,  aku memundurkan posisi jok kemudi, lalu merebahkan diri. Aku mengusap wajah, kemudian melihat ke jok sebelahku. Membayangkan kehadiran sosok seseorang. Seseorang yang selama ini kukejar, kuperjuangkan.

When you said your last goodbye
I died a little bit inside
I lay in tears in bed all night
Alone without you by my side

Gigiku bergemertak menahan tubuh yang menggigil layaknya orang sakau. Aku mulai meracau, berteriak di tengah suara deras hujan dan petir yang meledak bersahut-sahutan.

Aku harus melupakanmu.

***

“De, aku besok malam sampai di Bandung,” jelasku lewat telepon sambil packing di dalam kamar. Baju, celana, jaket, handuk, laptop, dan lain-lain sudah tersusun rapi di atas kasurku.

“Oke, kamu nanti kabarin aja atuh kalau udah sampai di rumahnya Eno,” ucap Deta dari sebrang sana.

Siap, hatur nuhun ya, Deta. Sampai ketemu di sana.”

“Iya, sami-sami, Akang. Assalamualaikum.”

Walaikum salam.”

Tut. Sambungan terputus.

Deta, salah satu gadis cantik yang pernah kutemui. Mustahil bila laki-laki normal tidak jatuh cinta padanya jika sudah mengenal dekat. Aku mengenalnya pertama kali berkat Eno, sahabatku. Tadinya hanya sekedar berkenalan, tidak pernah terpikir untuk mendekati gadis itu, apalagi jatuh cinta padanya. Semua terjadi begitu saja. Seperti yang sudah diatur oleh Tuhan.

Kala itu Deta menjadi panitia acara sebuah konser musik yang diselenggarakan oleh salah satu brand rokok. Aku datang ke Bandung dengan tujuan untuk liburan, menginap di rumah Eno. Sehari sebelum konser berlangsung, ia sangat sibuk mengurusi ini-itu karena berada di bagian penanggung jawab. Aku menawarkan diri untuk membantunya. Tadinya Deta sempat enggan karena tak ingin merepotkan, tetapi melihatnya yang sepertinya sangat kualahan, aku justru memaksanya hingga ia menyetujui. Dan rencana pun berubah, aku bilang pada Eno bahwa aku tidur di hotel saja.

Aku mengantar Deta meeting. Mengecek perlengkapan acara. Menemaninya mem-briefing artis, seperti asisten pribadinya. Dan sampai acara berlangsung, aku malah merasa inilah liburan yang kubutuhkan, Menikmati waktu bersama Deta, memperhatikan tiap detil gadis itu dan mengenalnya lebih jauh. Tidak lagi peduli dengan tujuanku berlibur. Deta adalah gadis yang sangat sempurna, terserah bila orang lain menganggapku hiperbola. Wajahnya cantik, Dian Sastro versi Bandung –Deta selalu cemberut bila aku meledeknya dengan memanggil ‘Deta Sastro’. Kulitnya putih susu. Rambut panjangnya hitam kecoklatannya. Suaranya lembut, memanjakan setiap telinga yang mendengar. Bibirnya yang tipis dan selalu terlihat merona merah basah, menawan setiap mata dengan cara bicaranya yang anggun. Senyumnya, oh astaga, kurasa malaikat pun gugup bila melihatnya.

Sikap Deta yang tidak manja, ramah, dan rendah hati itu yang menambah kesempurnaannya. Tidak membuat lawan bicara merasa terintimidasi secara fisik, terlebih bila sesama perempuan. Ia baik terhadap semua orang tanpa pandang bulu. Beda seperti gadis cantik kebanyakan yang terkadang suka melirik dari atas ke bawah lawan bicaranya terlebih dahulu.

Bila disandingkan denganku? Ah, aku hanya seorang pria biasa. Tidak tampan dan juga kaya raya. Jika aku berpacaran dengan Deta, kurasa orang memandang sebelah mata. ‘Ceweknya cakep, tapi cowoknya kayak pinggiran tiker gitu. Buluk.’

Tetapi aku percaya cinta terlahir ketika harapan perjuangkan, saat harapan itu diberi kesempatan untuk membuka pintu hati seseorang. Itulah yang kulakukan.

Setelah acara itu, aku baru benar-benar mengetahui kesibukan Deta yang pergi dari satu kota ke kota lainnya sebagai event organizer pernikahan. Pekerjaannya yang kemarin ternyata hanya membantu salah satu temannya. Dan untungnya kantorku fleksibel, aku bisa  merapel deadline untuk mendapatkan izin libur sehingga bisa sesekali menemani Deta bekerja. Ia pun akhirnya tidak menolak ditemani olehku. Dari Bandung, Jakarta, Yogyakarta, Solo, Semarang, Cilegon, dan kota lainnya telah kulalui. Berangkat naik bis dan kereta, sungguh, aku selalu senang dengan perjalanan itu demi bertemu Deta. Menikmati waktu bersamanya di sela-sela pekerjaannya yang sibuk. Membuat proposal, mengurus catering, sesi foto, mencari lokasi, melobi sewa gedung, hingga mengontrol acara pernikahan ketika berlangsung. Entah, aku lupa berapa pernikahan yang sudah terlaksana selama aku menemani Deta.

Namun, aku masih ingat betul beberapa detil kebersamaan bersama Deta yang hingga detik ini belum bisa terlupa. Makan malam bersama di sebuah angkringan di Malioboro setelah gadis itu menyelesaikan pre-wedding kliennya. Saat itu Deta bilang sedang diet, tapi aku membujuknya untuk tetap makan. Awalnya ia menolak, tetapi ujung-ujungnya ia kalap menyambar sate telur, sosis, ati ayam, dan nasi kucing tanpa memedulikan jumlahnya sampai ia kekenyangan dan tidak bisa berdiri. Kami makan sambil tertawa, melepas penat seharian dan membicarakan banyak hal. Hingga tanpa terasa waktu menuju pagi. Aku menggemblok Deta dari angkringan sampai ke penginapan yang tidak jauh dari sana karena ia tak sanggup berjalan.

Satu lagi, ketika pulang dari Surakata, di stasiun Balapan, kami duduk bersebelahan. Teman-teman Deta pulang naik bis. Deta tampak lelah sekali saat itu. Ia bersandar di bahu dan menggenggam tanganku.

“Kamu tidur aja, De.”

Ah nggak mau, nanti pas aku pules, kamu ninggalin aku.”

“Enggaklah, masa sih aku sejahat itu.”

“Ya siapa tau a–” Deta tidak meneruskan kalimatnya, ia terlelap. Aku tersenyum dan menatap ke arah jendela, melihat langit biru yang luas hingga bosan, lalu diam-diam mengecup kening gadis itu dan menyusulnya terlelap.

Sesampainya di Jakarta, seperti biasa aku menjalani aktivitas. Namun hidupku tidak statis lagi. Aku tidak duduk diam di hadapan layar laptop seperti robot dari pagi hingga malam. Sesekali aku terhenti untuk berbalas pesan dengan Deta, atau menelponnya saat jam istirahat. Farhan, temanku itu sepertinya melihat perbedaanku yang sering senyum-senyum sendiri setiap kali menatap ponsel di teras kantor.

Duh ileh yang lagi ngejar cewek sampe izin ngantor di luar mulu. Semangat banget, bor,” ledeknya seraya menyeruput kopi dan menikmati sebatang rokok yang baru saja ia bakar.

Kalau gak semangat ya, bukan berjuang namanya.”

Iya sih, gue liat lo kayaknya abis-abisan banget buat tuh cewek. Segala tiap dua minggu sekali ke Bandung, duit gajian diabisin buat beli tiket ke luar kota mulu. Geblek.”

“Ya inilah usaha, namanya berjuang mah nggak usah ngitung udah berapa banyak yang dikeluarin.”

Farhan terkekeh, lalu mengembuskan asap rokok ke udara sambil menyeringai. “Kalau usaha lo gagal, gimana?”

Aku yang sedang mengaduk kopi terhenti dengan pertanyaan itu. Aku memandangi permukaan kopi yang hitam pekat.

Seenggaknya gue udah nyoba semaksimal mungkin, biar gak penasaran, Han,” jawabku sambil meletakkan sendok ke cawan, lalu meminum kopi perlahan.

Ya, maaf-maaf nih kalau perkataan gue nyinggung. Gue sekadar mengingatkan lo aja, Ray.” Farhan menatapku dengan ekspresi serius sambil menyentil ujung bara rokoknya dengan jari telunjuk. “Lo harus tau batas juga, jangan terlalu over . Boleh aja lo tulus. Fine-fine aja kok lo ngejar tuh cewek sampai lo nganter jemput dan nemenin dia kerja, tapi jangan sampai rotasi hidup lo cuma berfokus ke dia. Jangan sampai lo ketergantungan sama dia dan nggak bisa lepas. Lo emang mau suatu hari lo kehilangan diri lo sendiri? Tulus dan tolol itu beda tipis, Ray.”

Aku terdiam, merenungi nasihat Farhan. Tulus dan tolol itu beda tipis. Harus kuakui yang dikatannya itu benar. Demi orang yang kita cintai, kadang kita melakukan segalanya dan memberikan semua yang kita punya demi mendapatkan hatinya. Dan bila semua yang sudah kita lakukan gagal, tak ayal kita sangat kecewa hingga kehilangan diri sendiri saat menghadapi kenyataan. Upaya kita yang semaksimal mungkin disandingkan dengan ekspetasi yang tinggi. Berharap hasil akhir yang sebanding dengan apa yang sudah kita keluarkan. Tetapi sayangnya tidak semua usaha berbuah manis. Sama seperti berbisnis dan berjudi. Apa yang kita pertaruhkan belum tentu sebanding dengan yang didapatkan, bahkan bisa saja nihil. Apalagi ini urusan hati.

Sejujurnya, itulah yang kutakutkan terjadi. Selama ini yang kuperhatikan dari Deta kebanyakan baik dan positif. Gadis itu tidak pernah sekali pun memberi penolakan bila aku ingin menemui dan menemaninya kerja. Dan aku takut itu menjebak harapan. Semua yang terlihat selalu baik dalam proses membuat kita merasa percaya diri dengan hasil yang baik juga di akhir. Padahal belum tentu. Baik adalah relatif, sedangkan isi hati seseorang tentatif. Kita tidak bisa kita menebak seperti apa isinya karena kasat mata. Kita hanya bisa melihatnya lewat perilaku yang ditunjukkan, itulah yang membahayakan.

Kepalaku mendadak pening, tidak berminat lagi meminum kopi. Nasihat Farhan benar. Namun aku tidak menganggap semua yang kulakukan kepada Deta adalah kesalahan. Aku pun tidak munafik bahwa aku menginginkan hasil akhir yang baik. Memiliki Deta.

Apakah semuanya akan berakhir indah atau…, entahlah. Aku tidak berani membayangkan sebaliknya. Yang hanya bisa kulakukan sekarang adalah melakukan apa yang memang seharusnya kulakukan, mengikuti arah hatiku berkata. Karena itulah satu-satunya petunjuk yang kupercaya. Sisanya? Aku percaya bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Pada waktunya semua proses memiliki ujung, hasil akhir. Dan hasil akhir itu tak pernah kubayangkan.

Aku berusaha membuang jauh-jauh ingatan pada malam itu hingga detik ini, hari di mana kenyataan menghempaskanku dari ketinggian yang terlalu tinggi. Membuatku tidak sempat menyiapkan persiapan yang setidaknya menolongku ketika mendarat. Membuat aku hampir kehilangan diriku sendiri.

Udara dingin Bandung  mulai menggoda tubuh semua orang agar segera melapisi sesuatu yang menghangatkan. Di dalam mobilku, aku dan Deta duduk menikmati langit malam dari balik kaca mobil setelah menikmati akhir pekan dengan menonton film di bioskop, makan, dan jalan-jalan di Ciwalk dengan bergandengan tangan.

Aku mengatur napas sepelan mungkin agar kegugupan ini tidak terlihat kentara oleh Deta. “Hei, kita kok diem aja sih kayak orang lagi sakit gigi?” ucapku memecah keheningan, berbeda dengan jantungku yang kalang kabut berdebar dengan irama yang lebih bising dari musik metal.

Deta menarik garis bibirnya, deretan gigi putihnya terlihat malu-malu. “Aku teh bingung mau ngomong apa sama kamu, Ray.”

Aku mendesah pelan. Deta memandangiku dengan mata yang berbinar. Wajahnya pun terlihat bersinar. Bibir merahnya yang basah memantulkan cahaya lampu area parkir Ciwalk, membekukan pandanganku. Ia mengenakan kaus putih yang dibalut jaket varsity-ku yang berwarna navy blue. Celana jeans hitamnya dipadukan dengan sepatu cads hitam Converse. Penampilannya yang sederhana tetap tak dapat membatalkan kecantikannya. Tubuhku bergetar. Sangat gugup. Membuatku berkeringat.

“Oh iya, Ray, lagu yang sering kamu setel itu teh judulnya apa? Yang di akhir lagunya ada cewek ikutan nyanyi,” tanya Deta, lalu mengambil ponselnya dari dalam tas.

“Itu…, Remembering Sunday. Kenapa, De?”

“Kamu kan bawa gitar, nyanyiin bareng yuk,” katanya dengan senyum semringah. “Aku suka lagunya. Aku nyanyi sambil liat liriknya yah. Siapa tau aja nanti kita bisa bawain di acara nikah klienku.”

“Tapi itu kan lagu anak muda, De.”

“Eh, iya, sih, tapi yaudahlah gapapa.”

Aku mengangguk. Tanpa banyak bicara aku segera mengambil gitar yang tertidur di jok belakang, lalu membuka sarungnya.

“Okeee.” Aku berdeham, jemari tangan kiriku bersiap pada kunci Cm7.

Aku mulai menggenjreng gitar dan bernyanyi. Deta memperhatikanku dengan seksama untuk memperkirakan nada. Kepalanya bergerak mengikuti ketukan irama.

He woke up from dreaming and put on his shoes
Started making his way past two in the morning
He hasn’t been sober for days

Deta menarik napas dan menyanyikan lirik berikutnya dengan suara yang sangat merdu. Baru kali ini aku mendengar Deta bernyanyi. Aku sempat salah ketukan irama karena saking kagumnya.

Leaning now into the breeze
Remembering Sunday, he falls to his knees
They had breakfast together
But two eggs don’t last
Like the feeling of what he needs

Now this place seems familiar to him
She pulled on his hand with a devilish grin
She led him upstairs, she led him upstairs
Left him dying to get in

Kami berdua kompak bernyanyi dibagian reff hingga lagu berakhir. Perlahan-lahan muncul rasa hangat dari dalam dadaku menjulur ke sekujur tubuh, lalu berubah menjadi rasa yang menyenangkan. Inilah jatuh cinta.

Forgive me, I’m trying to find
My calling, I’m calling at night
I don’t mean to be a bother,
But have you seen this girl?
She’s been running through my dreams
And it’s driving me crazy, it seems
I’m going to ask her to marry me

Even though she doesn’t believe in love,
He’s determined to call her bluff
Who could deny these butterflies?
They’re filling his gut

Waking the neighbors, unfamiliar faces
He pleads though he tries
But he’s only denied
Now he’s dying to get inside

Aku memejamkan mata, tidak kuat melihat gerak-gerik Deta saat bernyanyi. Ia terlihat bagaikan bidadari tanpa sayap.

Forgive me, I’m trying to find
My calling, I’m calling at night
I don’t mean to be a bother,
But have you seen this girl?
She’s been running through my dreams
And it’s driving me crazy, it seems
I’m going to ask her to marry me

The neighbors said she moved away
Funny how it rained all day
I didn’t think much of it then
But it’s starting to all make sense
Oh, I can see now that all of these clouds
Are following me in my desperate endeavor
To find my whoever, wherever she may be

Suara Deta naik satu nada pada bait akhir, sedikit melengking seperti sang penyanyi wanita, Juliet Simms. Liuk suaranya menghantar di udara dengan indah. Aku semakin terlarut dalam suasana ini.

I’m not coming back (forgive me)
I’ve done something so terrible
I’m terrified to speak (I’m not calling, I’m not calling)
But you’d expect that from me
I’m mixed up, I’ll be blunt, now the rain is just (You’re driving me crazy, I’m)
Washing you out of my hair and out of my mind
Keeping an eye on the world,
From so many thousands of feet off the ground, I’m over you now
I’m at home in the clouds, and towering over your head

Aku membuka mata, bernyanyi sambil tersenyum.

Well I guess I’ll go home now…
I guess I’ll go home now…
I guess I’ll go home now…
I guess I’ll go home…

Lagu yang kami nyanyikan pun selesai. Dan entah kenapa tiba-tiba aku merasa ini adalah waktu yang tepat. Aku membulatkan tekad dan keberanianku untuk menjelaskan semua. Semua yang kurasa. Semua yang kuharapkan. Semua yang kupertaruhkan demi sebuah cerita baru di dalam hidupku.

“Deta…” Aku meletakkan gitar ke jok belakang, kemudian menggenggam tangannya. Aku tidak dapat menunggu dan menahan diri lagi. Dengan suara bergetar, aku berkata jujur. “Setelah semua yang kita lalui bersama selama ini. Aku nggak bisa membohongi perasaanku. Aku cinta sama kamu.”

Hening, tak ada suara lain selain laju debar jantungku. Deta tertunduk diam di hadapanku, membuang muka, namun tidak melepas genggaman tanganku.

“Raya, a…, aku.–” Deta menggigit bibirnya, ekspresi wajahnya berubah gugup.”Maaf Ray, aku…, maafin aku. Aku nggak bisa jadi pacar kamu,” ucapnya dengan tergagap dan lirih.

Ke…, kenapa?” tanyaku dengan terbelalak. Detak jantungku hampir berhenti..

“Maaf, aku nggak tau alasan apa yang harus kukatakan. Kamu baik, kamu tulus, kamu beda, dan kamu–” Napas Detta tersengal-sengal, “aku nyaman sama kamu dan kamu salah satu orang yang sangat berharga dalam hidupku. Tapi maaf Raya, aku nggak bisa.”

Darah di sekujur tubuhku rasanya berhenti berdesir mendengar penjelasannya. Tiba-tiba pikiranku kalut. Rasa hangat yang tadi kurasakan berubah menjadi nyeri mahadahsyat yang menghujam hati. Menerbitkan rasa seperti teriris tipis. Ketakutan terbesar dalam hidupku akhirnya terjadi dan tak bisa kuhindari.

Aku tidak dapat mengucapkan kalimat apa pun lagi karena tidak dapat berpikir jernih. Aku menyalakan mobil untuk mengantar Deta pulang. Di perjalanan, aku hanya menatap lurus dengan raut wajah dingin yang jelas menyimpan kecewa besar. Aku tau, Deta memperhatikanku dengan segudang rasa bersalah.

Namun aku mulai memaksa diri untuk menerima keputusannya dan kenyataannya, bersikap dewasa. Setidaknya kesempatan yang diberikan Deta telah kugunakan dengan baik, meski tidak sama dengan hasil akhirnya.

Sesampainya di depan rumah Deta, aku mematikan mobil. Suasana hening kembali menyelimuti kami. Namun keheningan ini terasa sangat dingin. Beku. Bila diterjemahkan, ini adalah saat-saat terakhir dua orang yang saling mengenal dengan baik berubah menjadi sepasang asing.

Mulut Deta terbuka, tapi ia tidak mengucap sepatah kata. Ia hanya menatapku dengan tatapan sedih. Aku hanya tersenyum getir tanpa melihatnya.

Maafin aku, Ray,” ucap Deta dengan pelan dan sangat lirih seperti angin yang berembus. Suara indahnya menghilang entah ke mana.

“Aku kira, aku adalah orang yang tepat untuk kamu.”

Deta terdiam. Namun lengannya menyentuh pipiku, lalu mengarahkan kepalaku untuk melihatnya. Aku memejamkan mata, tidak ingin menatap wajahnya karena terdengar isakan pelan. Mengoyak batinku.

Ray…” panggil Deta dengan terisak. Aku mengumpulkan semua kekuatan yang tersisa untuk membuka mata dan menatap Deta, melihat binar matanya yang berkaca-kaca. Wajah cantiknya jelas menampakkan duka.

“Aku sayang kamu, tapi nggak bisa mencintai kamu,” ucap Deta sambil memegang kepalaku dengan kedua tangannya, lalu mendekatkan wajahnya ke wajahku sampai hidung kami bersentuhan. Tubuhku tidak dapat bergerak, terbius dengan tindakan yang Deta lakukan.

Bibir kami bertemu dengan lembut lewat gerakan lambat dalam sepersekian detik.  Aku menatap matanya yang sembab, ada sesuatu yang mencair di hatiku sekaligus mencengkram erat. Membuat goresan dengan perlahan namun sangat dalam. Inilah cinta dan luka yang kurasakan bersamaan. Semesta seolah mematikan gravitasi dan rotasi bumi, tidak ada pergerakan lain di sekitar kami, selain dua bibir yang menyapa. Waktu pun terasa berhenti. Aku tidak dapat merasakan apa pun selain rasa manis bibir Deta yang meluruhkan pertahanan kelopak mataku. Kedua mata dan bibir kami seperti medan magnet negatif dan positif yang berpelukan. Tidak ingin terlepas, karena aku tau, ini adalah salam perpisahan.

Terima kasih untuk semua yang kamu berikan untukku, maafkan aku,” ucap Deta seraya melepas bibirnya dengan pelan. Aku memejamkan mata dan menahan napas, menikmati ribuan hujaman belati kenyataan di hatiku, yang dalam hitungan mundur membawa lari seluruh bahagiaku.

Aku sayang kamu, Raya.”

Kemudian semuanya menjadi hitam-putih.

***

If you loved me
Why’d you leave me?
Take my body,
Take my body.
All I want is,
All I need is
To find somebody.
I’ll find somebody like you.

Oh…

DRRTTTTT… TING!

Aku terjaga ketika ada sesuatu yang bergetar dan berbunyi di saku celana kiri. Ah, itu notifikasi ponselku yang menandakan ada pesan masuk. Napasku sedikit tersengal, rupanya aku tertidur. Aku mengusap wajah untuk mengumpulkan kesadaran, lalu melihat isi pesan.

*INBOX*
-From Manda Kurnia-

‘Sayang, kamu masih di kantor? Mampir ke rumah aku dulu ya. Aku sama mamah masak banyak, kita makan malam bareng. Love youuu. :*’

Aku tersenyum senang, itu pesan dari calon istriku. Lalu aku melihat jam di layar ponsel dan meletakkannya ke meja. Pukul delapan. Aku melepas earphone dari telinga dengan sebelah tangan dan mencopot penghubungnya dari laptop, kemudian mematikan laptop dan membereskan meja.

DRRTTTTT… TING!

Ponselku bergetar lagi saat baru saja memasukan laptopku ke dalam tas. Siapa lagi yang mengirim pesan? Bosku tidak mungkin, ia selalu menghubungiku via telepon. Teman-temanku pun tidak mungkin, karena biasa menggunakan WhatsApp atau LINE. Aku bergumam pelan dan membuka pesan itu.

*INBOX*

-From 0878163240xxx-

‘Hai Raya, kamu apa kabar?

Deta.’

Jantungku berdebar membaca tiap kata yang tertera, ada kegetiran yang datang menyapa. Namun itu hanya sekilas saja. Kegetiran yang mengingatkan betapa tololnya aku dulu demi ketulusan yang berakhir semu untuk seseorang yang pernah hampir kumiliki. Deta pernah menjadi bagian paling indah di hidupku. Pernah. Namun sudah tidak lagi.

Sekarang semuanya telah berlalu, tak ada lagi yang harus diungkit. Layaknya sebuah puzzle, hidup tak melulu harus lengkap dengan yang kita ingin. We lost things. Namun Tuhan Mahabaik, Dia memberikanku seseorang yang jauh lebih baik untuk melengkapi kepingan yang hilang. Menjadikan puzzle hidupku lengkap tanpa satu pun celah yang kurang. Aku pun sadar, bahwa semua yang kulakukan dulu tidaklah berakhir sia-sia, karna itu mengantarkanku pada pertemuan baru dengan orang yang tepat, yang kini kumiliki.

Aku tertawa di dalam hati dan tersenyum singkat melihat foto Manda yang sedang mengecup keningku dalam bingkai foto di sudut meja. Kemudian menghapus pesan Deta dan memblokir nomornya. Selamanya.

***

Kita hanya harus percaya, di balik sebuah perpisahan, semesta telah mempersiapkan skenario pertemuan yang sudah direncanakan oleh Tuhan.

Kadang kita memang harus (berkali-kali) memperjuangkan orang yang salah, sebelum dipertemukan orang yang tepat.

Pada akhirnya, Tuhan memberikan apa yang kita butuh, bukan yang kita ingin. Dan kita harus menerima, karena itulah yang terbaik.

Advertisements

13 thoughts on “The Missing Piece

  1. komen perdana di blog lo, bang. tapi jujur, gue udah lumayan sering baca blog lo.baru berani.

    ‘Pada akhirnya, Tuhan memberikan apa yang kita butuh, bukan yang kita ingin. Dan kita harus menerima, karena itulah yang terbaik.’

    yah, gue percaya dgan kata” itu.walaupun memang akan selalu berat untuk menjalaninya. kece banget, bang tulisannya.

  2. “Aku pun sadar, bahwa semua yang kulakukan dulu tidaklah berakhir sia-sia, karna itu mengantarkanku pada pertemuan baru dengan orang yang tepat, yang kini kumiliki”. insyaAllah
    Semua masih rahasia kelak siapa yang akan jadi teman hidup memantaskan diri dulu itu tugas ku 🙂 Worth it banget ka 🙂

  3. Hearty and foolish is sheer difference..
    Agak tertabok bacanya.. Haha..
    Dear sgala kelakuan2(ku) yg sudah menjadi atau akan menjadi masa lalu,,
    Ya Allah..Jauhkan dr yg nama nya “Dulu ngerasa tulus, skrg ngerasa tolol” ’cause even saying “regret” for a thousand times pun is percumaaa… Hikss =))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s