For The First Time

boy-couple-girl-photography-Favim.com-302462

sumber: favim

20 Mei 2009

“Saya pesan macchiato ya, Mbak,” ucapku kepada pelayan wanita yang sedang bersiap menulis pesanan. Aku melirik sekilas ke arah Dias. Sepertinya akan terjadi intervensi dalam hitungan detik.

Benar saja…

“Kok kamu ngopi lagi? Enggak, enggak boleh. Hari ini kamu udah tiga gelas,” sanggah Dias kepadaku dengan wajah sedikit kesal, lalu ia berkata kepada pelayan itu, “Mbak, pesanannya diganti sama chocolate milk shake, ya.”

Pelayan itu melirikku dengan bingung. Aku menangkap sinyal itu, lalu meringis. “Iya, diganti aja, Mbak. Maaf ya ngerepotin.”

“Gapapa kok Mas, permisi saya ulang pesanannya. Nasi goreng spesial satu, strawberry milk shake satu, dan chocolate milk shake satu, ya. Ada tambahan lagi?” tanya pelayan itu dengan ramah.

“Nggak, makasih, Mbak,” ucap Dias singkat dengan menggelengkan kepalanya. Kemudian pelayan itu berlalu.

Dias menatapku dengan tajam. Bibir tipisnya cemberut. “Kamu tuh ngopi terus deh kerjaannya, nggak kasihan apa sama jantung dan lambung kamu,” katanya. Kedua kakinya yang mengenakan celana jeans hitam disilangkan dan…, menginjak telapak kakiku.

“Aw!” jeritku pelan. “Yas, kamu kan tau kalau aku nggak ngopi sehari aja ya kepalaku pusing. Kalau kepalaku pusing, ya aku nggak bisa kerja,” ucapku memelas. Aku menggenggam tangan dan menatap matanya dengan tatapan layaknya bocah kecil yang memohon ibunya tidak marah lagi.

“Andriansyah Saputra, kalau aku nggak ngebawelin dan ngingetin kamu kayak gini, keulang lagi deh kejadian masuk ICU-nya gara-gara asam lambung kamu naik.”

“Iya, maaf.”

Yah, beginilah, sepeninggal almarhum ibuku, Dias lah yang merawatku layaknya seorang ibu. Setiap akhir pekan, Dias datang ke rumahku untuk membantu membereskan rumah yang ia sebut ‘kapal pecah’. Ayahku bekerja di luar kota dan pulang hanya beberapa kali dalam sebulan. Bahkan, kadang dalam sebulan ayahku tidak pulang sama sekali. Ia hanya mengirimkan uang untuk kebutuhan hidupku. Sejujurnya, pekerjaan sambilanku sebagai ilustrator freelance di sebuah majalah cetak ternama sudah cukup untuk menutupi biaya kuliah dan kebutuhan sehari-hari. Satu gambar dihargai seratus ribu. Bila seminggu aku mendapatkan order 20 gambar, itu sudah cukup, bahkan lebih.

Namun Dias tidak suka aku terlalu mandiri. Ia selalu mewanti-wanti untuk menghargai uang kiriman ayahku. Bila tidak terpakai, tabung saja untuk keperluan mendadak sewaktu-waktu, katanya.

“Ndri, kamu kok melamun?” Dias mengibaskan tangannya di depan wajahku.

“Eh, siapa yang lagi ngelamun? Aku lagi liatin senyum kamu tau.” Aku tersenyum iseng sembari mengacak-acak rambut Dias.

Dias memanyunkan bibirnya lagi untuk kedua kalinya. “Dasar gombal! Cowok tuh ya pasti deh dapet celah buat ngegombal,” ucapnya dengan nada sebal seraya mencubit punggung tanganku saat aku menarik lenganku.

Aku mengusap-usap tanganku, sebetulnya cubitannya tidak sakit. Apabila sudah begitu wajahnya akan terlihat lucu sekali. Dias terlihat semakin manis. Jika saja sedang di rumah, aku tidak segan-segan untuk memeluk dan mendekapnya.

Demi tuhan, hari ini Dias cantik sekali. Pipinya lebih tirus dari sebelumnya, padahal aku sudah melarangnya untuk diet. Dasar perempuan. Bibir tipisnya…, oh aku harus menahan diri. Aku tercengang melihat gaya rambutnya yang dipotong pendek sepundak ketika menjemputnya di rumah tadi siang.

“Permisi Mas, ini pesanannya.” Pelayan yang tadi mencatat pesanan kami menaruh piring yang berisi nasi goreng spesial, strawberry milk shake, dan chocolate milk shake dia tas meja. Pelayan itu tersenyum simpul. “Kalo ada tambahan silakan panggil saya di sudut meja kasir ya.”

“Ah, iya, terima kasih,” ucapku pelan. Dias juga mengucapkan terima kasih kepada pelayan itu sebelum kembali ke sudut meja kasir.

“Eh, pelayannya ramah ya, cantik lagi,” celetuk Dias. Aku tau ia berusaha menggodaku dengan senyum isengnya. Beruntung aku tidak mempan dengan hal itu. Aku justru diam memperhatikan tingkah jahilnya.

Aku menggelengkan kepala. “Dasar cewek, liat sesamanya ada yang cakep pasti deh dikomentarin, apalagi lawan jenis.”

“Ih biarin, emang bener cantik kok. Kalau kamu jomblo juga pasti ngajak kenalan,” gerutu Dias sambil menyilangkan kedua lengannya di dada. Ekspresi wajahnya menggemaskan sekali.

“Becanda koook, kamu serius banget deh.”

“Iya, aku ngerti kok, Ndri…,” ujar Dias pelan. Aku kaget dengan intonasi suaranya yang berubah. Aku tau tujuan dia seperti itu. Dias ingin membangun suasana pembicaraan kami dengan hangat. Sebelum waktunya kami membahas hal yang lebih serius. Hal yang memang seharusnya kami bicarakan sekarang.

Aku menundukkan kepala dan mengatur napas, agar ritme jantungku tetap stabil. Aku harus mempersiapkan mental untuk mendengar semua penjelasannya.

Dias menggigit bibir. Aku tau ia sedang mencari kosakata yang tepat untuk membangun kalimat yang hendak ia ucapkan kepadaku. Namun entah, aku tidak mengerti dengan isi pikirannya saat ini. Aku hanya bisa berharap hal yang ia katakan adalah kabar gembira.

“Ndri…” Dias membuka topik pembiaraan dengan membuang muka, kedua bola matanya berhenti dan menetap pada gelas chocolate milk shake. Ia menggigit bibir, “maaf, aku harus pergi…”

Kesadaranku hampir hilang…

***

8 Februari 2010

Aku terbangun dari tidur dengan keadaan tenggorokan kering. Mengganjal sekali rasanya dan perlahan menyiksa. Kini aku duduk di tepi kasur dengan posisi kaki menggantung, lalu mengerjapkan kedua mata agar beradaptasi dengan cahaya matahari yang berhasil menembus jendela kamar Sabtu pagi ini. Untungnya semalam, sebelum tidur, aku telah menyiapkan teko air dan satu gelas plastik pada meja di samping tempat tiduru. Bila tidak, mungkin sekarang aku sedang menyeret-nyeret kaki dengan wajah konyol ke dapur hanya demi mendapatkan satu gelas air putih.

Aku melirik jam dinding yang tampak angkuh menempel pada dinding kamar sambil meneguk pelan segelas air putih yang barusan kutuang. Arah jarumnya menunjukkan pukul tujuh pagi. Tumben, aku sedikit heran karena terbangun sepagi ini pada hari sabtu. Biasanya aku akan bangun siang, atau karena perut lapar

Kuperhatikan sejenak isi kamarku. Ah, berantakan sekali. Baju dan celana kotor yang telah kupakai beberapa hari yang lalu menumpuk di lantai. Sprei bermotif logo klub raksasa Real Madrid yang menyelimuti kasurku sudah beraroma tidak sedap karena sudah dipakai berminggu-minggu. Aku mendesah pelan. Malas sekali rasanya membereskanya, tetapi aku tidak ingin Bi Ijah, pembantuku, yang mengurusnya. Aku kapok dengan keteledorannya yang mencampur semua pakaian dan mencucinya sekaligus dengan detergen. Habislah semua pakaianku yang tercuci menjadi luntur akibat ada salah satu baju hitam yang tidak dipisahkan.

Andai saja Dias masih… Tidak. Aku harus menyingkirkan jauh-jauh kenangan itu.

Drrrtt…

Kedua mataku memicing. Layar ponsel iPhone-ku menyala dari atas meja. Ada sebuah notifikasi yang terpajang, entah itu apa. Seingatku, semalam aku tidak chatting-an atau menelpon siapa pun. Baiklah, dengan malas aku menyeret diri ke meraihnya.

Ah, fuck you calendar. Aku segera mengunci ponsel dan membenamkan kepalaku ke bantal. Hari ini adalah hari pertama kali aku bertemu Dias. Gadis itu memutuskan terbang Perancis untuk menempuh pendidikan sastra perancis dari beasiswa yang ia dapatkan. Sungguh, aku tidak pernah bermaksud melarang Dias untuk meraih impiannya. Hanya saja, di sana ia pasti sering bertemu dengan Jodi…, kekasihnya yang sering berlaku kasar kepadanya.

Memang, aku memang egois. Sebagai orang ketiga aku tentu tidak berhak menuntut apa-apa darinya, apalagi melarang Dias untuk mewujudkan mimpinya. Tetapi melihat posisinya yang sering disakiti secara fisik, tentu aku tidak dapat membiarkan si bajingan itu melukai Dias. Aku tidak terima Dias diperlakukan seperti itu. Aku sering mewanti-wanti Dias untuk mengakhiri hubungannya dengan Jodi, terlebih mereka menjalani LDR, tetapi gadis itu selalu mengalihkan topik pembicaraan. Aku tau kedua orang tua Dias sangat dekat dengan Jodi, sahabat baiknya, Yuni, memberi tauku. Bagaimana tidak, si bajingan itu adalah pacar Dias semenjak kelas tiga SMA. Dan bagaimana mungkin Dias tahan pacaran hingga detik ini?

Aku pertama kali mengenal Dias -bertemu tepatnya- di sebuah restoran Jepang di Pondok Indah Mall. Saat itu Dias dan Jodi bertengkar hebat dan menjadi tontonan orang banyak. Jodi menampar Dias. Aku yang sedang menikmati suapan pertama sushi yang kupesan langsung berdiri dan melerai mereka, lalu tak sadar menghajar Jodi hingga bibirnya berdarah. Jodi pun membalas memukulku, sayangnya si bajingan itu terlalu lemah melayangkan pukulannya ke wajahku dan malah menerima bogem mentah di perutnya lewat kepalan tanganku.

Dias menangis hebat saat itu dan berteriak. Akhirnya ada sekuriti yang melihat dan melerai kami. Jodi, dengan tampang pecundang tololnya itu pergi meninggalkan Dias sendirian sambil mengancam akan menghajarku. Hahaha. Secuil nyaliku tak gentar dengan ancaman itu.

Lalu aku mengajak Dias ke mejaku dan meminta pelayan di sana membawakan kotak P3K. Dias hanya diam.

“Lo kok tahan sih pacaran sama banci?”

“…”

Aku mengusap wajah Dias yang memar di bagian ujung bibir dengan es batu. Dias masih tetap diam. Orang-orang yang menyaksikan kejadian itu memperhatikan kami, tapi aku tidak peduli. Toh tidak kenal ini.

“Nama gue Andri, maaf kalau gue mencampuri urusan kalian. Gue cuma nggak kuat aja liat cewek diperlakukan kasar, di depan umum lagi.”

“Thanks, tapi itu emang salah gue kok.”

“Sesalah apa pun cewek, lo tetap nggak berhak diperlakukan kasar. Kan bisa dibicarain baik-baik. Suami lo bukan, tapi berlaku seenaknya.”

“I…, iya.” Dias memaksakan senyumnya. Selera makanku sudah menguap. Setelah Dias terlihat sedikit mendingan, aku membayar pesananku. Kemudian mengantar Dias pulang ke rumahnya.

Ting…

Sebuah pesan masuk ke ponselku dan membuyarkan ingatan silam itu. Sekali lagi, dengan malas aku melihatnya.

*From 0817264231xx*
Aku harap kamu udah bangun. Aku tau kamu pasti masih inget ini hari apa. Have a nice weekend, Ndri.

Dari mana Dias mendapatkan nomor ponselku? Aku sudah lama menggantinya dan memberi tau seluruh teman dekatku untuk tidak memberikannya kepada gadis itu.

Pada pertemuan terakhir itu ia tampaknya biasa saja, tidak seperti diriku yang…, ah sudahlah. Aku pun memutuskan untuk tidak menghubunginya lagi. Kuhapus semua kontak Dias. Mulai dari nomor telepon, akun Facebook, Twitter, dan Path. Dias tidak menyerah. Beberapa teman dekatku dihubunginya demi mengetahui kabarku. Aku menjelaskan kepada mereka tentang keadaan kami. Namun tidak berhasil. Sikap bodoh Dias terlalu keras dihalangi.

Kurasa, sebaiknya harus aku akhiri semua ini…

***

Den Andri, itu ada tamu di luar. Temennya tuuuh.” Bi Ijah mengetuk pintu kamarku. Aku mematikan shower dan membuka setengah pintu kamar mandi seraya berkata dengan sedikit kencang. “Saya lagi mandi, Bi. Cewek atau cowok?”

“Cowok…”

“Namanya siapaa?”

Eng… Aduh, Bibi lupa nanya lagi…”

He? Bila itu bukan Dias siapa? Teman-temanku pasti menghubungiku terlebih dahulu sebelum datang ke sini, dan tidak semua temanku dikenal Bi Ijah. Wanita tua itu hanya bekerja di rumahku dari pagi sampai siang di akhir pekan, sehingga jarang bertemu dengan temanku. Tetapi mungkin ini akal-akal Dias saja yang bersekongkol dengan Bi Ijah. Sayangnya jika itu benar, aku takkan tega memarahi wanita tua itu.

“Yaudah suruh aja nunggu di ruang tamu, Aden pake baju dulu.”

“Siap, Den,” balas Bi Ijah, lalu tidak terdengar suaranya lagi.

Setelah aku menyelesaikan ‘mandi bebek’, dengan segera mengeringkan sekujur tubuhku dengan handuk biru yang menggantung pada hanger di pintu kamar mandi. Kemudian aku mengambil baju dan celana pendek di lemari. Aku memilih baju kesayanganku. Baju berwarna navy blue dengan logo band The Beatles di permukaan depan. Aku melihat ke arah jam dinding sembari menyisir rambut ikalku yang mulai gondrong. Masih pukul delapan lewat lima belas. Kemudian berjalan ke ruang tamu.

“Hooo…–” Aku terperangah dengan seorang perempuan yang duduk di sofa ruang tamu. “Dias…”

ARGHHHH… Bi Ijah…

Dias berdiri dari posisi duduknya. Ia memakai kaus putih yang dibalut kemeja cokelat berukuran besar tanpa dikancingi dan celana denim yang digulung di atas mata kaki.

“Hai, Ndri. Apa kabar?” tanya Dias seraya melangkah kecil dan memelukku. “Aku kangen banget sama kamuuu….”

“Ba…, baik kok, Yas.”

Dias melepas pelukannya dan melirik sekujur tubuhku sambil tersenyum. “Kamu gemukan ya sekarang. Aku senang.”

Aku hanya menjawabnya dengan senyum. Dias tidak banyak berubah. Rambutnya masih sepundak. Ekor matanya digarisi sedikit eyeliner. Tapi kulitnya semakin putih, dan wajahnya terlihat semakin dewasa dan keibuan.

“Kamu kok diem aja?” tanya Dias, bibirnya cemberut. “Nggak kangen sama aku?”

“Aku masih nggak percaya kamu berada di hadapanku sekarang,” jawabku singkat dengan nada datar.”

Dias kembali duduk di sofa, lalu merapikan rambutnya sekilas seraya berkata, “Aku kira kamu udah nggak marah.”

“Aku nggak marah, hanya kecewa.”

“Apa bedanya?”

“Sudahlah, nggak usah dibahas.” Aku membuang muka. Bi Ijah tiba-tiba muncul dari belakang sambil membawa nampan cokelat yang berisi segelas susu panas dan secangkir kopi.

“Bu, tolong ganti kopinya jadi teh ya,” pinta Dias kepada Bi Ijah. Wanita tua itu melirikku. “Diganti, Den?”

Aku tidak menjawabnya.

“Kebiasaan kamu masih belum berubah,” kata Dias dengan nada sedikit sarkas, “iya Bu, tolong diganti teh aja ya,” ucap Dias. Bi Ijah menganggukkan kepala mengiyakan.

Dias hendak mengambil ponselnya dari dalam tas selempangnya. Ia sedikit kesulitan mencarinya, lalu ia mengeluarkan beberapa perintilan miliknya dari dalam tas dan meletakkannya di atas permukaan meja. Setelah menemukannya, ia melihat ponselnya sekilas, lalu memasukkannya lagi beserta benda-benda yang ia keluarkan. Ia menatapku. Kedua kakinya yang menyilang digoyangkan.

“Hari ini kamu nggak ke mana-mana kan?”

“Enggak, tapi mau cicil kerjaan,” jawabku pelan. Sebenarnya semua pekerjaanku sudah selesai. Aku hanya malas saja. Aku tau Dias pasti ingin mengajakku keluar.

Please deh, Ndri. Ini hari Sabtu dan kamu masih ngerjain kerjaan? Pergi lah keluar, refreshing otak kamu itu. Kasihan dipake mikir terus,” keluh Dias sebal, “aku mau ajak kamu keluar. Kita makan di mana gitu, yuk?”

Aku menggelengkan kepala. “Enggak ah, kamu aja sendiri. Atau kamu ajak si kasar itu aja.”

Raut wajah Dias memerah mendengar jawabanku. “Aku ke sini mau ketemu kamu, bukan Jodi.”

Please deh, Yas. Ini hari Sabtu dan kamu ngajak orang lain buat jalan? Pergi lah keluar bareng pacarmu, nge-date. Kasihan dia dianggurin,” balasku dengan nada bicara mengikuti ucapannya tadi, dengan sedikit penekanan pada kata ‘pacarmu’ dan ‘kasihan dia dianggurin’.

Aku tau Dias akan marah dengan ucapanku tadi. Sebodo amatlah, aku tidak peduli lagi.

Wajah Dias semakin memerah. Kedua bola matanya berkaca-kaca. “Jadi kamu sekarang begini yah. Aku datang jauh-jauh dari Paris demi ketemu kamu, dan kamu malah bilang begitu…”

“Haaahh…” Aku mendesah pelan. “Aku nggak minta kamu ke sini.”

“Tega kamu, Ndri…”

“Mungkin seharusnya aku yang bilang tega ke kamu karena keputusan kamu dulu. Dan kamu nggak tau bagaimana keadaan aku setelah itu,” ucapku dengan suara bergetar. Sungguh, sebenarnya aku tidak tega. Namun aku memang harus mengakhiri semua ini.

Dias langsung mengambil tasnya dan melangkah keluar dari rumahku. Ia menangis.

Trang…

Aku kaget dengan suara benda jatuh. Kemudian aku menengok ke belakang. Kulihat Bi Ijah menjatuhkan nampan dan gelas plastik berisi teh dengan mulut menganga.

Lha, itu mbaknya kok pergi sambil nangis, Den?”

***

13 Februari 2010

Aku sedang menyelesaikan pekerjaanku malam ini. Jam sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Suasana kafe Betawi di PIM 1 ini masih ramai. Para pelayan yang mengenakan kemeja putih dan celana hitam masih sibuk mengantar pesanan ke meja para pelanggan. Pak Arif, atasanku, mengajakku meeting mendadak satu jam yang lalu. Nasi goreng Betawi yang kupesan masih tersisa setengah di atas meja. Aku tidak berniat menghabiskannya karena pasti akan kenyang. Bila merasa kenyang, yang ada aku akan mengantuk.

Pak Arif minta dibuatkan lima cover majalah untuk edisi bulan depan. Aku sudah menyelesaikan tiga ilustrasi –yang dua di antaranya ia setuju sukai. Namun ia mengubah deadline yang telah ditentukan menjadi lebih awal karena. Sekitar tiga hari lagi. Aku cukup pusing dibuatnya.

Aku menancapkan sebuah flash disk Kingston berwarna hitam ke lubang USB Macbook Pro-ku. Flash disk itu milik Dias yang tertinggal di rumahku, tergeletak di meja. Mungkin ia lupa memasukkan benda kecil itu ke dalam tasnya. Aku penasaran dengan isinya.

Aku membuka isi flash disk itu. Aku menemukan empat folder yang berbeda. Satu bernama ‘dias foto’, ‘my music‘, ‘tâche’, dan ‘jangan dibuka’. Aku penasaran dengan folder berjudul ‘Jangan Dibuka’. Orang normal pada umumnya pasti menyimpan data penting -yang menyangkut privasinya- dalam folder yang diberi judul seperti itu. Dengan sedikit keringat dingin, telunjukku meng-klik dua kali folder itu.

Ada tiga video di dalam folder itu. Aku merasa agak tegang sekaligus penasaran ketika melihat video dengan judul ‘for ardian birthday’. Ternyata Dias tidak lupa dengan ulang tahunku yang dirayakan seminggu lalu. Pelan-pelan aku meng-klik pilihan play. Memutar video itu.

Kulihat Dias berdiri di depan menara Eiffel dengan mengenakan mantel cokelat di antara orang-orang di sekitarnya yang kebanyakan ras kaukasoid. Wajahnya putih pucat akibat suhu rendah. Lehernya dililit syal abu-abu. Rambutnya yang berderai dihembus angin dilindungi dengan kupluk putih, senada dengan salju yang turun. Dias tampak manis sekali. Kutebak Dias membuat video ini ketika musim salju tiba.

Dias menggoyangkan badannya ke ke kiri dan kanan serta bertepuk tangan sambil menyanyikan lagu happy birthday di depan kamera dengan riang. Setelah selesai bernyanyi, ia berkata, “Hai, happy birthday Andri! Wish you all the best!,” ucapnya dengan semangat dan senyumnya yang lebar dalam video itu.

“Kamu pasti nggak ngerti bahas Perancis kan? Yaudaaaaah. Aku doain pake bahasa Indonesia aja yaah.” Dias mengedipkan kedua matanya dengan genit.

“Semoga semua mimpi dan keinginan kamu terwujud, selalu sehat, panjang umur, makin ganteng dan sukses. Eh apa lagi ya?” Dias berhenti sejenak, bola matanya berputar seperti orang sedang berpikir dan ia menarik ujung bibir, “oh iya, KURANGIN DOSIS MINUM KOPINYA!” teriaknya pelan dengan wajah pura-pura galak.

“Hehehehe, becanda kok. Kamu tetep boleh ngopi, asal nggak kebanyakan aja. Mending dituker susu ajaaa kayak akuuu,” kata Dias sambil menggerakkan telunjuknya ke kamera seperti orang tua yang sedang menasehati anaknya.

Dias terdiam sejenak sambil menundukkan kepala. Bibirnya tersenyum. Kemudian ia menatap kamera dengan wajah hangat seraya berkata pelan, “Ah, je vous ai manqué, Andri. Je t’aime. Sampai bertemu lagi.”

Video itu pun berakhir, ditutup dengan Dias yang tersenyum sambil melambaikan tangan. Aku terkesiap dengan ucapan terakhirnya. Tubuhku bergetar hebat. Aku tidak menyangka dengan apa yang baru saja kusaksikan.

Aku segera memasukkan pensil dan kertas sketsa, mematikan laptop dan menutup layarnya, lalu memasukkannya ke dalam tas crumpler-ku. Setelah kupastikan tak ada barang yang tertinggal, aku melangkahkan kedua kaki dari kafe ini dengan jantung berdebar kencang dan perasaan gugup. Perasaan yang sama seperti pertama kali aku menatap mata Dias.

***

15 Februari 2010

She’s all laid up in bed with a broken heart
While I’m drinking jack all alone in my local bar
And we don’t know how
How we got into this mad situation
Only doing things out of frustration

Trying to make it work but man these times are hard.

She needs me now but I can’t seem to find the time,
I’ve got a new job now on the unemployment line,
And we don’t know how,
How we got into this mess
Is it a God’s test?
Someone help us ’cause we’re doing our best,

Trying to make it work but man these times are hard

Aku mengemudikan Suzuki Swift biru pemberian ayah yang jarang kugunakan dengan kecepatan sedang di jalanan Jakarta yang sedang diguyur hujan. Aku pergi menuju rumah Dias tanpa memedulikan gadis itu ada di rumahnya atau tidak. Tapi aku tau betul ia pasti enggan keluar rumah jika hujan. Lagu For The First Time milik The Script terputar otomatis dari flash disk Dias yang kugunakan untuk mengusir keheningan. Sambil memegang kemudi menuju rumah Dias dan menatap jalan men yang tergenang air, aku mengkhayati lirik lagu itu.

But we’re gonna start by
Drinking old cheap bottles of wine,
Sit talking up all night,
Saying things we haven’t for a while
A while, yeah,
We’re smiling but we’re close to tears,
Even after all these years,
We just now got the feeling that we’re meeting for the first time

Bagian lagu itu mengantarkan pikiranku pada kenangan yang kujalani bersama Dias. Menjalani malam yang panjang bersama dengan menatap bintang di langit dari lantai atas kamarku sambil bertukar minuman. Dias dengan kopi yang kubuat, dan aku dengan teh yang Dias buat. Aku yang selalu diomeli karena kamar berantakan dan sering bangun siang. Sebaliknya, aku mengocehi Dias yang selalu malas mengerjakan tugas kuliahnya dahlu. Menggodanya untuk meminum kopi hitam tanpa gula, dan menyembunyikan ponselnya saat dia sedang menemaniku mengerjakan pekerjaanku. Aku sadar kebersamaan itu terlalu berharga untuk diakhiri.

Oh these times are hard
Yeah, they’re making us crazy
Don’t give up on me baby

Maafkan aku, Dias. Aku menambah kecepatan mobil ketika sampai di satu belokan yang jaraknya tidak jauh lagi sampai ke rumah gadis itu.

Sesampainya di komplek rumah Dias, aku menepikan mobil di depan rumah gadis itu, dekat sebuah pohon besar. Sambil merapikan kaus kesayanganku dan mengambil sekotak cokelat yang telah kusiapkan, aku memperhatikan rumah Dias yang terlihat sepi. Kedua orang tuanya pasti sedang bekerja.

Aku melangkahkan kaki ke pintu gerbang dengan tangan kanan memegang payung, dan tangan kiri menggenggam plastik yang berisi kotak cokelat, lalu memencet bel rumahnya.

Tidak lama kemudian seorang wanita tua berbaju daster batik yang kukenal menghampiriku sambil menutupi kepalanya dengan kedua tangan, lalu membuka pintu gerbang.

“Mas Andri, udah lama nggak ke sini,” ucap mbok Iyem, pembantu rumah Dias, ketika tiba di depan pintu rumah. Aku menutup payung sambil merapikan rambut di pantulan kaca jendela dekat pintu. “Iya, mbok. Saya sibuk banget sama kerjaan, Dias juga kan kemarin di luar negri. Hehehe.”

“Iya yah, Mas Andri sekarang gantengan,” puji mbok Iyem.

“Hahaha, si mbok bisa aja. Dias ada kan?”

“Ada kok, Mas, di kamarnya. Tadi sih pas sarapan mbok liat Dias kayak lagi sedih gitu. Mukanya kunyel kayak orang abis nangis,” ujar mbok Iyem sambil membukakan pintu, “bukan gara-gara si Mas kan?”

“Semoga aja bukan karena saya, mbok. Yowis, saya masuk dulu ya,” jawabku dengan nada santai. Aku tidak ingin mbok Iyem bertanya lebih jauh.

Kemudian aku berjalan ke arah kamar Dias dengan jantung berdebar kencang ditambah kemunculan rasa gugup yang dahulu pernah kurasakan. Kali ini aku tidak akan melepasnya lagi. Aku akan menjaga Dias dari siapa pun yang akan menyakitinya.

Ketika tiba di depan kamar Dias, aku mengetuk pelan pintunya. Tanganku sedikit bergetar. Di dalam kamarnya terdengar alunan musik The Script – Breakeven.

Tok… Tok… Tok...

Sepuluh detik kutunggu tidak ada jawaban. Mungkin Dias tidak mendengar suara ketukanku karena tersamarkan bunyi hujan yang deras dan musik yang ia putar. Atau mungkin dia sedang mandi? Tapi aku tau Dias tidak pernah mandi di siang hari.

Tok… Tok… Tok...

Sekali lagi aku mengetuk pintunya. Namun tidak ada jawaban dari sang pemilik kamar.

Aku menarik napas, membiarkan udara masuk ke memenuhi paru-paruku. Tangan kananku memegang gagang pintu, bersiap membukanya. Entah dari mana datangnya keyakinan bahwa kamar Dias tidak terkunci.

Krek… Pintu kamar Dias terbuka perlahan, aku memberanikan diri untuk membuka lebih lebar lagi. Dan ketika pintu terbuka lebar, aku melihat isi kamar yang berantakan, majalah, buku, dan baju berserakan di lantai. Aku melihat Dias yang mengenakan kaus merah jambu dan celana pendek sedang bertelungkup di atas tempat tidurnya. Kedua tangannya memeluk bantal pink tempat kepalanya bersandar.

Aku berjalan dengan langkah kecil mendekati Dias, lalu duduk di sampingnya. Kulihat wajah cantik Dias sembab. Aku pun kaget melihat bantalnya basah. Dias sepertinya habis menangis. Tiba-tiba saja aku merasa bersalah telah bersikap jahat kepadanya.

“Hei…, Dias.” Aku mengusap rambutnya yang halus dengan pelan, lalu mengelap pipinya yang masih basah.

“…” Dias masih belum menyadari kehadiranku di sampingnya.

“Dias…” Aku menyondongkan kepala dan merebahkannya di depan wajah Dias.

Mata Dias mengerjap pelan dengan bulu mata yang sedikit basah. “Ka…mu…”

Aku tersenyum menatap Dias yang masih belum menyadari orang di hadapannya adalah aku.

“A…, Andri…” Dias tiba-tiba bangun dengan sedikit kaget, namun langsung memelukku. Gadis itu melanjutkan tangisannya di dadaku. “Kamu nggak boleh pergi lagi…”

“Iya, maafin aku,” ucapku pelan sambil mengelus rambutnya lagi. “Maafin aku, kemarin aku terbawa emosi.” Dias menatap wajahku dengan tatapan nanar, lalu mengencangkan pelukannya tanpa berkata apa pun.

“Valentine udah lewat sehari, tapi masih nggak telat kan buat ngasih kamu cokelat?” tanyaku sambil melepas pelukan Dias. Ia tetap diam.

“Ini…” Aku memberikan sekotak cokelat besar yang di dalamnya ada lembaran foto kami yang aku cetak sehari yang lalu. Kuharap Dias menyukainya ketika tau.

Dias menerima kotak cokelat sambil tersenyum, lalu menaruhnya di meja itu. “Makasih ya, hadiah dari aku cuma nasihat aja. Kurangin ngopi.”

Aku menggangguk pelan dan menatap matanya dalam-dalam, lalu menggenggam tangannya. “Je t’aime, Dias.”

Mmm…, ngomong pake bahasa Indonesia aja, nanti kalo aku bales kamu nggak ngerti,” ledek Dias sambil senyum menyeringai.

Gagal romantis deh, pikirku. Baiklah. “Aku sayang kamu, Yas,” ucapku sungguh-sungguh. Sudah tidak kuhiraukan lagi rasa gugup dan perasaan bersalah yang nantinya akan menghantui hari-hariku.

Dias membenamkan wajahnya ke dalam dadaku sambil tertawa kecil. Aku mengecup pelan kening dan punggung tangannya.

“Aku lebih sayang kamu,” kata Dias yang melepas pelukannya dan mendekatkan wajahnya ke wajahku, “kamulah satu-satunya orang yang ada di hatiku.”

Dias mengecup bibirku pelan, dan aku menikmati sikapnya yang tiba-tiba. Kali ini tidak ada tatapan ragu dari matanya karena ia terpejam. Aku membalas ciuman itu dengan perlahan. Belum pernah kurasakan sebahagia ini. Kulihat sekilas ke mejanya yang terletak banyak bingkai foto. Aku tersenyum bahagia untuk pertama kalinya.

Hanya ada foto kami berdua sedang tersenyum bahagia.

Advertisements

6 thoughts on “For The First Time

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s