A Promise To Keep

tumblr_n2sxyudUCZ1rpc01mo1_500

sumber: Tumblr

Ardian baru saja selesai sarapan dan hendak bersiap berangkat kuliah. Setelah berpamitan dan mengecup kening ibunya –sebuah kebiasaan yang menjadi kewajiban setiap pergi, ia segera menyalakan motor Supra butut keluaran lama peninggalan almarhum ayahnya.

Sesampainya di parkiran kampus setelah dua puluh menit menikmati perjalanan, Ardian memarkirkan motornya di salah satu sudut dekat pos satpam dan berjalan santai menuju lobi kampus melewati pekarangan yang masih sepi. Pekarangan itu banyak tertanam tumbuhan rambat dan pohon besar, sehingga membuat suasana kampus menjadi teduh.

Ketika memasuki pintu lobi, Ardian melihat seorang gadis yang berjalan memunggunginya. Ia mengenali gadis itu selama kurang lebih dua tahun belakangan ini, namanya Viana Swastika Maharani. Gadis itu mengenakan cardigan cokelat dengan celana jeans hitam, dan memahkotakan rambut sepundaknya dengan kupluk berwarna senada dengan cardigan. Kedua matanya yang agak sipit dibekali kacamata cokelat frame tipis. Manis sekali.

“Pagi, Vi…” sapa Ardian dengan nada ramah dari belakang. Viana menengok ke arahnya dan tersenyum manis. “Pagi juga, Di.”

“Lo udah sarapan belum?” tanyanya sambil membuka tas dan mengeluarkan sebuah kotak bekal, lalu menyodorkannya kepada Viana, “gue bawa roti selai cokelat nih buatan nyokap. Hehehe.”

Viana menggelengkan kepala masih dengan senyumnya. “Enggak, makasih banget, Di. Gue udah sarapan kok. Hehehe.” Padahal ia berbohong. Dia belum memasukkan sebutir nasi pun ke perutnya.

“Jangan bilang lo lagi diet,” ledek Ardian sambil terkikik.

“Enggak, Ardi. Serius deh ini masih pagi jangan nyebelin,” gerutu Viana, ia menyilangkan tangannya ke dada dan pura-pura cemberut.

“Oke…” Ardian mendesah, ia selalu menyerah bila Viana mengucapkan kalimat itu. “Oh iya, lo ada kelas sampai jam berapa?”

Umm…., kalo gak salah sampai jam dua belas. Kenapa?”

“Nggak apa-apa, cuma nanya aja. Gue juga pulang sekitar jam segitu, kali aja lo mau pulang bareng.”

Mata Viana berbinar mendengar ajakan Ardian. “Boleh-boleh, eh tapi nggak langsung pulang bisa kan? Temenin gue nonton film dulu yuk?”

Kening Ardian mengerut. “FIlm apa, Vi?”

“Bagus deh pokoknya, Di. Kalau gak salah judulnya The False In Our–”

“The Fault In Our Stars, kali,” potong Ardian cengengesan.

Viana menjetikkan jarinya. “Ah iya itu maksud gue. Eh, kok lo tau?”

“Lo lupa ya kalo lo sering minta tolong download-in film sama gue?” Ardian memutar bola matanya, menunjukkan mimik angkuh.

Viana meringis dan tersipu malu. “Oh iyaaaa lupa. Hehehe. Yaudah gue masuk kelas dulu ya. See you, nanti gue kabarin kalau kelas gue udah selesai.”

“Oke dehsemangat ya! Jangan ngobrol mulu, Vi,” kata Ardian sambil mengacak-acak rambut Viana, lalu ia langsung mengambil langkah seribu meninggalkan gadis itu sebelum ia dihujani cubitan pada pinggangnya.

“ARDIAAAAN RESEEE! AWAS LO!” teriak Viana sebal, lalu segera menutup mulutnya ketika ia menyadari orang di sekeliling memperhatikannya.

***

*Inbox: From Viana S.M*

Di, gue udah di tempat biasa ya.”

Ardian tersenyum singkat membaca pesan singkat dari Viana. Gadis itu sudah duluan sampai di depan pintu gerbang kampus. Ia membalas pesan itu dengan kalimat. “Iya, tunggu di sana sebentar ya, Vi. Kelas gue sebentar lagi selesai.”

“Ya cukup sekian materi kuliah dari saya hari ini. Ada yang ingin bertanya?” kata pak Dendi, dosen Fisika Dasar yang mengajar di kelas Ardian.

Dosen berperawakan gemuk dengan kepala plontos itu membetulkan kacamatanya untuk memperhatikan seluruh siswa di dalam kelas, namun tidak ada satu pun yang mengacungkan telunjuk, termasuk Ardian.

“Baiklah jika tidak ada, kalian boleh pulang,” ucap pak Dendi. Kemudian seluruh mahasiswa satu per satu segera meninggalkan kelas.

Ardian memasukkan buku pelajaran, binder, pulpen, dan tipe-ex ke dalam tas selempangnya secara asal. Ia tergesa-gesa meninggalkan ruang kelas karena tidak ingin Viana menunggunya terlalu lama. Jika kurang dari dua puluh menit ia belum tidak di sana, maka gadis itu akan cemberut seharian.

This is my day. Please don’t ruin it, universe, ucap Ardian penuh harap sambil setengah berlari menuju parkiran.

***

Ardian dan Viana berjalan bersampingan dari parkiran menuju pintu Margo City. Di perjalanan tadi, gadis itu hanya duduk diam di belakangnya. Biasanya ia akan bercerita tentang kuliahnya selama di perjalanan. Tentang kelasnya yang berisik, tentang salah satu temannya yang centil, tentang dosennya yang menyebalkan, atau tentang apa pun. Namun kali ini Viana hanya duduk diam memandang lurus jalan tanpa berkata sepatah kata pun.

Langkah mereka berhenti sejenak di antara kerumunan orang yang menaiki eskalator yang mengantar para pengunjung menuju lantai dua. Kedua kaki Ardian dan Viana berpijak pada satu tangga yang sama, membuat tubuh mereka berdiri sejajar. Ardian menatap Viana lewat ekor matanya yang sekilas terhalang oleh kacamata yang ia kenakan. Gadis itu menunduk, seperti ada sesuatu yang telah terjadi dan mengganggu pikirannya.

Ah, Ardian mengenal kebiasaan gadis itu. Bila sudah begini Viana biasanya akan menghilang beberapa waktu sebelum kembali dengan wajah ceria. Atau, terkadang, dia bercerita tentang hal yang dialaminya tapi tentunya setelah berhari-hari atau berminggu-minggu kemudian. Ardian selalu ingin mengetahui langsung tentang apa yang dipikirkan Viana, tetapi ia tau, gadis itu takkan langsung menceritakannya, atau takkan bercerita sama sekali. Padahal jauh di dalam lubuk hati Ardian, ia selalu ingin menyentuh dan menyelami isi hati gadis itu agar dapat merasakan apa yang dialaminya.

“Elo kenapa, Vi? Kok diem aja, tumben,” tanya Ardian dengan nada hati-hati.

Viana yang sedang menunduk mengangkat kepalanya, lalu ia melirik Ardian sekilas dan menggelengkan kepala. “Nggak apa-apa kok, Di.”

“Nggak apa-apanya cewek tuh selalu berlawanan dengan yang dialami, cerita aja kali.”

“Udah nggak usah dipikirin, Di. Kita kan mau nonton, bukan mau konseling,” balas Viana, tiba-tiba saja ia menggenggam tangannya. Ardian mengangguk mengerti dan tersenyum pada gadis itu. Seolah memberi tanda bahwa ia akan selalu ada untuk dirinya.

Setelah mengantri beberapa menit di Platinum Margo City dan mendapatkan tiket, mereka duduk di kursi B1 dan B2, posisi paling pojok atas deretan kursi studio dua. Entah kenapa Viana memilih posisi kursi yang biasa dimanfaatkan orang untuk bermesraan.

Sebelum film dimulai, Ardian memperhatikan Viana sejenak yang bersandar di bahunya. Gadis itu diam saja. Kemudian lima menit berlalu Film The Fault In Our Stars pun dimulai. Sejujurnya, Ardian tidak begitu menyukai film drama. Ia lebih suka film sci-fi atau action. Namun Ardian menuruti saja permintaan Viana untuk menemaninya menonton film ini. Ardian tersenyum. Momen inilah yang ditunggunya selama ini.

Sebenarnya hidup selalu memberikan kesempatan dan opsi. Menunggu atau menciptakan momen. Ardian ingin menciptakan banyak momen seperti ini bersama Viana, tapi ia mawas diri karena hati gadis itu belum benar-benar bisa berpaling dari masa lalunya. Oleh sebab itulah ia hanya bisa menunggu. Bukan tanpa alasan Ardian menunggu. Ia menunggu momen ini tercipta sebetulnya ingin tau seberapa penting dirinya di mata Viana.

Film memasukin menit ketika August mengajak Hazel bermain ke rumahnya dan mengenalkannya dengan Isaac. Ardian melirik Viana yang tenggelam dalam film itu sambil menggenggam tangannya, mata gadis itu berbinar. Ia jadi ingat ketika mengajak Viana bermain ke rumahnya dan mengenalkannya dengan Indra, tetangga sekaligus teman dekat satu kelasnya.

Saat itu Viana terlihat kikuk karena berada di tengah obrolan laki-laki. Saat itu Ardian dan Indra tengah membicarakan game Counter-Strike. Viana yang tidak mengerti hanya memperhatikan obrolan sambil sesekali tersenyum tertawa hambar. Setelah Indra pulang dan menyisakan suasana hening, giliran Ardian yang kikuk karena bingung ingin membahas apa. Akhirnya Viana bercerita tentang Nicky, mantan pacarnya. Bagaimana hubungan mereka berawal, bagaimana kedekatannya dengan orang tua Nicky, dan bagaimana perasaan Viana ketika mengetahui mantan pacarnya itu ketahuan selingkuh, dan bagaimana hari-hari berat yang dilaluinya tanpa kehadiran Nicky yang telah bersamanya semenjak SMA.

Rasanya Ardian ingin memeluk Viana ketika gadis itu terlarut dalam curhatannya, sehingga ia tidak dapat menahan air matanya berbicara. Ardian sungguh ingin menguatkannya. Meyakinkan bahwa hidup harus selalu melangkah ke depan dan sanggup mengikhlaskan indahnya masa lalu. Ardian hanya bisa berharap, suatu hari hati Viana yang tertutup rapat akan terbuka untuknya. Semenjak saat itu, hingga detik ini, Viana tidak pernah bercerita dan terlihat dekat dengan siapa pun. Bersama Ardian pun sebatas teman dekat. Tetapi, Ardian ingin lebih dekat dari teman dekat. Lebih dekat dari seorang sahabat. Lebih dekat dengan arti yang lain.

“Di…” Viana berbisik di telinga Ardian, ia menoleh. “Kenapa?”

“Lo percaya nggak sama cinta yang sementara? Gue udah nebak inti dari film ini.”

Ardian berpikir sejenak, bergumam pelan, lalu menjawabnya dengan suara rendah, “Ya percaya aja, seberapa singkat cinta, ya itu tetap cinta. Perasaan yang nyata dan harus dinikmati.”

“Terus gimana kalau cinta sejati? Cinta yang bertahan selamanya?” Viana kembali bertanya dengan polosnya, tapi ia tidak sadar bahwa kali ini bukan dengan berbisik. Ardian yang menyadari suara Viana jelas terdengar segera menyentuh bibir Viana.

“Ssssttt!” tegur para penonton di sekitar. Mereka berdua langsung terdiam.

Ardian mengeluarkan ponselnya dan mengetik sesuatu dan menunjukkannya ke hadapan wajah Viana. “Diskusinya nanti aja, kita lagi nonton. Aku gak mau kamu ditendang keluar. :p”

Viana tersenyum membaca kalimat itu dan kembali menggenggam tangan Ardian dan bersandar pada bahunya.

Tanpa terasa film pun mendekati akhir. Ketika August terserang penyakit komplikasi yang membuat kakinya lumpuh. Viana tiba-tiba saja membayangkan bagaimana rasanya berada di posisi Hazel. Menikmati cinta sejati yang sudah dihitung mundur oleh waktu. Tanpa sadar, air matanya pun turun perlahan melihat Hazel yang merasa dunia sangat tidak adil baginya. Bagi sepasang kekasih yang saling mencintai.

Apakah cinta sejati harus berakhir seperti itu? tanya Viana dalam hati.

Viana mengencangkan genggamannya sehingga Ardian menoleh, lalu berkata dengan lirih, “Di, jangan pernah tinggalin aku, ya.”

“Aku nggak memiliki alasan untuk melakukan itu,” jawab Ardian sambil tersenyum dan mengusap pelan pipi Viana.

***

“Kamu…, kamu ngapain ke sini?” Tiba-tiba saja emosi Viana tersulut melihat seorang di depannya.

“Aku…, aku kangen sama kamu, Via. Aku ke sini pengin ketem–“

“PERGI!” usir Viana, lalu mendorong Nicky hingga hampir terjatuh. Ia melakukannya secara refleks. Kebencian yang selama ini tertidur langsung terbangun dan berdiri tegap di hatinya.

“Aku datang ke sini untuk meminta maaf sama kamu. Selama ini aku benar-benar bodoh banget udah nyia-nyiain kamu, Via. Tapi aku akhirnya sadar pada satu hal. Kamulah yang selama ini aku cinta,” jelas Nicky seraya berdiri dan berjalan mendekat ke hadapan Viana. Gadis itu mundur satu langkah. Namun Nicky tetap mendekatinya.

“…” Viana hanya terdiam ketika Nicky memeluknya perlahan. Rindu di dalam dadanya menyeruak hebat meluluhlantakkan dinding pertahanan hatinya yang telah dibangun dengan susah payah. Ia tidak dapat menolak pelukan itu meskipun logikanya sudah meronta-ronta untuk segera melepasnya.

‘VIA! LEPAS PELUKAN ITU! INGET DIA UDAH MENGKHIANATI LO! JANGAN BERBUAT TOLOL UNTUK KEDUA KALINYA!’ Sisi logika Viana berusaha menyadarkan.

Sayangnya, rindu yang tertahan terlalu lama membuat kedua tangan Viana melingkari punggung Nicky. Membalas pelukan itu.

Di tengah pelukan yang semakin erat, Viana tidak menyadari. Di belakangnya, Ardian berdiri mematung layaknya raga tanpa nyawa. Seikat bunga mawar dan sekotak coklat yang digenggam Ardian jatuh ke tanah.

Langit yang sedari tadi mendung akhirnya membiarkan awan melahirkan hujan. Gemuruh petir sahut-menyahut seiring deras hujan membasahi bumi. Ardian berjalan dengan langkah kecil dalam keadaan kuyup. Ia tidak lagi menoleh ke belakang. Mungkin tidak akan pernah kembali.

***

Viana merasa bersalah terhadap dirinya sendiri. Janji yang telah dia masukkan dan dikunci rapat-rapat dalam sebuah kotak kecil di dalam hatinya terbuka dan teringkari dengan mudah. Namun di sisi lain ia merasa bahagia Nicky telah kembali.

Sebentar, Viana merasa ada hal yang aneh. Ardian tidak pernah lagi terlihat batang hidung dan kabarnya semenjak Nicky kembali. Gadis itu sadar betul dengan hal itu. Satu keanehan lagi yang dia temukan ketika pembantunya memberi tahu bahwa ada beberapa kelopak bunga mawardi pintu gerbang rumahnya. Bila itu milik Nicky, tidak mungkin. Karena pasti pria itu memberikannya langsung.

Apakah bunga itu dari Ardian? Viana bertanya pada dirinya sendiri. Ia benar-benar penasaran dan cemas. Selain itu, Ardian juga tidak bisa dihubungi, nomornya tidak aktif. Di kampus pun Viana tidak pernah lagi melihat keberadaannya. Sepertinya pria itu menjauh. Tapi apa alasannya? Bukankah ia pernah berjanji tidak akan meninggalkannya?

Viana duduk di atas kasurnya dan membuka tas. Mengambil sesuatu dari selipan dompetnya. Tiket bioskop The Fault In Our Stars. Ia mengusap tiket itu dengan perasaan yang aneh dan tidak dapat dijelaskan.

Kamu di mana, Di? Aku kangen sama kamu.

***

Malam semakin meninggi, tapi tidak ada satu pun bintang yang menghiasi langit. Gelap gulita. Seperti yang dirasakan Ardian yang kini sedang duduk termenung di teras rumahnya bersama Indra yang sedang mengutak-atik laptopnya.

“Lu kenapa sih, bro?” tanya Indra sambil perlahan menyeruput kopi yang baru saja diantarkan pembantu rumah Ardian. “Tumben lu malam Minggu gini kagak keluar.”

Ardian mengembuskan napas berat. “Gak apa-apa, Ndra.”

“Jawaban lu kayak cewek.”

“…”

“Cerita sih, masih aje lu kaku sama gua,” ucap Indra seraya menyenggol pundak Ardian. “Lu galau?”

“Kalau misalnya lo cinta sama seseorang dan berjanji nggak bakal ninggalin orang itu, terus lo ingkarin salah gak?”

Indra menggaruk-garuk kepalanya, lalu berdeham dan menutup layar laptop. Ia sudah menduga topik pembicaraan kali ini tentang hati.

“Ya jelas salah, apalagi lu ninggalin dia gitu aja tanpa alasan yang jelas,” jawab Indra santai.

“Kalau lo ninggalin dia karena dia yang duluan ninggalin lo, itu salah juga?”

“Tetap salah, kalo elu belum nepatin janji itu.”

Ardian menggeser posisi duduknya dan menghadap Indra, penasaran dengan jawaban temannya itu. “Maksudnya?”

“Kalo gua beneran ngejanjiin sesuatu, gua gak bakal ngingkarin. Sekali pun gua bakalan terluka karena janji itu,” jelas Indra sambil menyalakan sebatang rokok yang ia ambil dari kantung bajunya.

“Sekali pun kalau terluka?”

“Iya, itu baru pria sejati, men. Apa yang udah lu sungguh-sungguh janjiin, lu mesti berani nanggung risiko dan konsekwensinya demi menepati janji itu,” jawab Indra, kali ini dengan nada sangat serius.

Tangan Ardian menyambar kopi yang sedang Indra minum, lalu menghabiskannya dengan cepat. “Thanks, Ndra. Tumben lo nyambung ngomongin hal kayak gini.”

Indra terkekeh. “Gua cuma ngasih tau apa yang pernah gua alamin, karena itulah gua yakin ngucapinnya.”

Ardian tersenyum mantap. “Gue kayaknya bakal mengalami hal yang sama.”

Giliran Indra yang tersenyum mantap. “Itulah pria sejati. Nggak pernah ngingkarin janji.”

***

“Kamu ke mana aja, Di? Kok baru sekarang keliatan?” tanya Viana dengan raut wajah curiga. Sendok berisi siomay yang ia pegang di hadapan mulutnya tertahan beberapa detik, lalu dipulangkan kembali ke piring.

“Lagi banyak urusan, tugas kuliah juga numpuk. Aku lagi fokus selesain satu per satu biar cepet selesai,” jawab Ardian tanpa menatap Viana seraya menyeruput es teh manis. Ia sudah mempersiapkan jawaban ini sebelum bertemu Viana. Ia tidak ingin terlihat berantakan.

“Urusan ngejauhin aku?” Viana menatap lekat-lekat mata Ardian. Berusaha mencari secuil kebenaran pada kedua mata pria itu.

“Enggak.”

“Jujur.” Viana menekan ucapannya.

Akhirnya Ardian menghadap Viana dan membuang napas berat. “Kita kan ke kantin buat makan, Vi, bukan buat berantem.”

“Aku nggak ngajakin kamu berantem. Aku ngajakin kamu jujur.”

“Kalo aku bohong dan ngejauhin kamu, buat apa aku ada di depan kamu sekarang?”

Viana terdiam mendengar pertanyaan retoris itu. Ya, bila Ardian menjauhinya, kenapa dia berada di hadapannya sekarang. Kecemasannya perlahan menghilang.

“Maaf aku udah ngomong kayak gitu.” Viana menundukkan kepalanya, merasa bersalah telah merusak pertemuan ini.

Ardian tersenyum simpul –berusaha pura-pura tenang. “Iya, gak apa-apa. Salah aku juga sih tiba-tiba ngilang gitu aja. Aku kan udah janji nggak akan ninggalin kamu.”

Mendengar kalimat itu, Viana menggenggam tangan Ardian. Nafsu makannya hilang.

***

Sebuah kecupan lembut mendarat di bibir Viana. Di ruang tamu yang sepi, Nicky duduk merangkulnya. Orang tua Viana sedang pergi ke kampung halamannya di Purwokerto selama seminggu. Pembantunya pun sedang libur. Jadilah rumahnya sepi, dan Viana tidak suka sendirian. Ia meminta Nicky menemaninya di rumah.

“Udah, Nick,” pinta Viana seraya melepas pelukan kekasihnya itu.

Nicky menatap Viana dengan mata berbinar. “Aku udah lama banget nggak sedekat ini sama kamu, Vi.”

Viana yang sedang ditatap Nicky malah memejamkan mata, wajah Ardian tiba-tiba terbayang di benak Viana. Ia tersentak.

“Ka…, kamu kenapa, Sayang?” Nicky merasa ada hal aneh yang terjadi pada kekasihnya.

“…”

Why you crying?”

Viana hanya menggelengkan kepala tanpa mengucap sepatah kata dan duduk menjauh dari Nicky, membuat jarak di antara mereka.

“Kamu pulang ya, sekarang. Nggak tau kenapa aku tiba-tiba pengin sendiri, please…”

“Kenapa? Kamu kok tiba-tiba jadi begini?”

“Kamu nggak paham dengan apa yang tadi aku bilang? Aku pengin sendiri,” kata Viana dengan sedikit membentak, “maaf aku udah ngerepotin kamu,”

Nicky pun merapikan pakaiannya. “Okay, nanti cerita sama aku kalau kamu udah mendingan,” ucapnya, kemudian beranjak pergi meninggalkan Viana dengan kesal.

Setelah mobil Nicky menjauh dari teras rumah Viana, gadis itu jatuh terduduk di lantai. Ia tidak mengerti dengan isi hatinya saat ini.

***

“Semoga dia segera siuman, banyak-banyak berdoa saja ya, Nak Ardi,” kata dokter Farhan, mencoba menenangkan Ardian yang matanya berlumuran air mata dan keringat tegang mengucur deras pada sekujur tubuhnya.

Ardian hampir terkena serangan jantung saat mendengar kabar bahwa Viana kecelakaan dari salah satu temannya. Mobil yang dikendarai Nicky ketika mengantar Viana menuju ke kampus ditabrak sebuah truk yang melaju kencang dari arah berlawanan ketika menghindari jalan berlubang. Mobil Nicky dan truk yang menabrak rusak parah, namun supir truk itu selamat. Lain hal dengan Nicky dan Viana yang sedang dalam keadaan koma. Orang tua Nicky langsung membawa Nicky ke luar negri untuk melakukan operasi dan perawatan, sedangkan orang tua Viana sedang dalam perjalanan menuju ke mari.

Mengetahui Nicky dirawat secara terpisah, Ardian langsung naik pitam. Egois sekali orang tuanya hanya memikirkan keadaan anaknya. Sedangkan Viana ditinggal begitu saja, hanya mengurus biaya administrasi perawatan.

“Ta…, tapi, Dok. Viana selamat kan?” Ardian tidak puas dengan jawaban dokter Farhan.

“Saya belum bisa memastikan keselamatannya. Yang jelas kecelakaan yang dialami Viana cukup parah. Kami sudah melakukan pemeriksaan. Kemungkinan besar dia akan mengalami lumpuh di bagian kakinya karena kerusakan sumsum tulang belakang akibat benturan keras pada bagian tulang punggung dan kepalanya. Sepertinya bagian tengkorak kepalanya mengalami trauma, kami mendiagnosa sepertinya Viana akan mengalami amnesia,” jelas dokter Farhan seraya mengusap pundak Ardian agar membuatnya sedikit tenang.

“Amnesia, Dok?” Ardian terbelalak dan menggelengkan kepalanya tidak percaya.

Dokter Farhan membetulkan letak kacamatanya. “Ya, jika itu terjadi, Viana akan mengalami hilang ingatan di masa lalunya. Melupakan beberapa orang yang dikenal.”

“Ta…, tapi ingatannya bisa kembali kan, Dok?” Ardian merasa terpukul sekali mendengar penjelasan dokter Farhan.

“Semoga saja, cepat atau lambat. Saya harap kamu dapat membantu Viana memulihkan ingatannya. Jangan pernah tinggalkan dia ya, Nak Ardian,” pesan dokter Farhan. Pesan itu membuat Ardian semakin menguatkan hatinya untuk tidak pernah meninggalkan Viana.

“Pasti, Dok,” kata Ardian. Dokter Farhan mengangguk yakin, percaya dengan dua patah kata yang Ardian ucapkan.

***

Udara dingin menguar di dalam kamar ICU tempat Viana terbaring di atas kasurnya. Suasana kamar itu hening, hanya terdengar suara elektrokardiogram yang berfungsi mendeteksi detak jantung Viana. Mesin itu tersambung pada sebuah monitor bernama heart rate yang menunjukkan garis naik-turun aktivitas jantung Viana. Ardian tidak berani membayangkan bila monitor itu menunjukkan garis datar.

Sudah enam hari Viana belum bangun dari tidur panjangnya. Ardian selalu terjaga menemani gadis itu. Ia bertukar jaga dengan orang tua Viana karena gadis itu adalah anak tunggal, sehingga tidak ada lagi yang menemaninya. Sanak saudaranya pun tinggal berjauhan. Pak Adit, ayah Viana, dan Bu Nina, istrinya, mempercayakan penuh Ardian untuk menjaga Viana ketika mereka mengurusi pekerjaan dan rumah. Jadwal kuliah Ardian sempat terganggu, untungnya wali kelas Ardian, Pak Abi, mengizinkan niat baik Ardian sehingga memberikan keringanan absen asalkan tugas kuliah setiap dosen dikerjakannya.

Ardian melihat Viana yang terbaring kaku. Wajahnya pucat dengan perban yang membalut bagian atas kepalanya. Bibir yang selalu tersenyum manis itu kini membiru. Kedua matanya -yang selalu memancarkan rahasia- tertutup rapat. Ardian mengusap wajahnya, mencoba menangkan diri dan percaya bahwa keadaan Viana akan cepat siuman.

Sambil menggenggam tangan Viana, Ardian terisak pelan, tetes-tetes air matanya jatuh tepat pada punggung tangan gadis itu. Tetes air mata yang mengandung doa dan harapan semoga Viana cepat sadar dan sembuh. Ia tidak pernah menyangka Viana akan tertimpa musibah setragis ini.

Ingatan Ardian terbang jauh meningat momen-momen yang pernah ia lewati bersama Viana. Tapi tiba-tiba kesadarannya kembali saat merasa ada yang bergerak di tangannya. Ia kaget dan melihat jemari tangan Viana. Telunjuk gadis itu bergerak pelan.

“Via…” Ardian langsung menekan tombol yang berfungsi memanggil dokter yang sedang berjaga. Tombol itu terletak di permukaan dinding di atas kasur Viana. Tidak lama kemudian, dokter Farhan dan satu suster masuk ke dalam ruangan.

“Ada apa, Nak Ardi?” tanya dokter Farhan yang kini berdiri di hadapan Ardian.

“Tadi saya melihat telunjuk Viana bergerak, Dok. Coba tolong diperiksa,” pinta Ardian dengan perasaan campur aduk. Antara bahagia dan tegang.

Dokter Farhan menyalakan sebuah senter kecil yang tersimpan pada saku snelli sebelah kirinya, lalu memeriksa bola mata Viana. “Syukurlah, sepertinya tidak lama lagi Viana akan siuman.”

“Alhamdulillah…,” ucap Ardian spontan, merasa sedikit lega mendengarnya.

“Yang kamu harus lakukan adalah sabar dan selalu berdoa, Nak. Dan…” Dokter Farhan terdiam sejenak, “siapkan mental kamu ketika Viana siuman dan tidak mengenal kamu.”

Ardian mengangguk dan tersenyum lirih. “Iya, Dok. Saya akan melakukan yang terbaik demi Viana.

***

Pukul tujuh pagi, sinar matahari merambat di sela-sela jendela kamar Viana, dan berhasil menembus celah hordeng sehingga di beberapa sudut lantai terpancar cahaya terang dan memantul ke ke berbagai sisi. Membuat pemandangan kamar Viana yang masih gelap seperti tertembak sinar laser berwarna putih.

Ardian terbangun dari tidurnya yang baru saja berlangsung tiga jam. Kedua matanya terasa sangat perih. Kemudian ia merenggangkan otot-otot badannya yang kaku. Selama delapan hari ini jam tidurnya kacau demi menjaga Viana. Ardian melihat jam tangannya. Sekitar satu jam lagi tante Nina akan datang. Syukurlah, Ardian senang dapat berkoordinasi dengan baik dengan orang tua Viana, pun sebaliknya.

Merasa masih sangat ngantuk, Ardian bergegas mencuci muka pada westafel yang terletak di dalam kamar mandi pasien. Ia berjalan terhuyung-huyung sambil mengalungkan handuk serta baju salinan ke arah pintu kamar mandi. Kemudian, ia membasuh wajahnya dengan air dingin dan mengganti bajunya yang mulai beraroma tidak sedap.

Saat ia sedang menggosok gigi, samar-samar terdengar suara erangan “Sshhh…” dari arah belakang. Tidak mungkin jika pagi-pagi begini ada hantu yang bergentayangan. Pikiran Ardian belum tersingkronisasi dengan alam sadar sepenuhnya. Ia tidak menyadari itu adalah suara Viana yang terbangun dan mengeluh sakit. Ia baru menyadarinya ketika mendengar ada sesuatu yang jatuh.

Ardian mengusap wajahnya dengan handuk untuk mengusir air yang masih menempel di permukaan kulitnya, lalu membuka sedikit pintu kamar mandi untuk menoleh ke arah kasur Viana. Ia terkejut.

“Vianaaaa, kamu udah sadar?” Ardian setengah berlari menghampiri gadis itu tanpa sadar lupa memakai sandal, sehingga saat dua langkah kakinya berpijak ke lantai, ia tergelincir dan hampir jatuh. Beruntung secara refleks ia berpegangan pada gagang pintu kamar mandi sebelum membentur sesuatu.

Viana mengerjapkan kedua matanya yang pegal. Pandangannya buram. Ia merasa sakit teramat sangat pada bagian punggung dan kepalanya. Ia melihat sebuah bayangan hitam di hadapan wajahnya. Telinganya mendengar seseorang berbicara, tapi tidak jelas mengucapkan kalimat apa. Pikirannya belum bisa mencerna semua itu. Semua masih abu-abu. Yang dapat ia rasakan di dalam pikirannya adalah seperti ada hal yang hilang pada dirinya.

“Aku…, aku di mana? Saa…, sakit…,” erang Viana. Rasa sakit yang dirasakannya begitu menyiksa. Ia ingin menangis untuk mengurangi rasa sakitnya tapi tidak bisa, ia hanya bisa mengisakan.

Ardian menggenggam tangan Viana pelan. Menatap lekat kedua mata cokelat Viana dengan perasaan terharu. “Akhirnya kamu sadar juga, Vi…”

“Lo…, lo siapa? Kok ada di sini?” tanya Viana panik saat pengelihatannya berangsung normal. Ia langsung menarik tangannya dan menyuruh pria itu menjauh darinya. “Pergi!”

“Ini aku Ardian. Ardian Saputra. A…, aku tem…, aku teman kamu,” ucap Ardian tergagap dan berdiri dari kursi. Ia bingung dengan kondisi seperti ini.

“PERGI!” bentak Viana. Ardian langsung melangkah mundur. Sikap defensif yang Viana tunjukkan membuat Ardian merasa kacau. Tidak lama kemudian terdengar langkah kaki tergesa-gesa dari luar ruangan.

“Ardian, ada apa?” tanya tante Nina dengan nada panik saat membuka pintu kamar ICU. “Oh, sayang, kamu udah siuman…,” lanjutnya ketika melihat Viana telah duduk di atas kasurnya, lalu menghampiri gadis itu. Ardian hanya memperhatikan.

Tante Nina langsung memeluk Viana. “Nggak, nggak apa-apa, Sayang. Dia bukan orang jahat,” kata tante Nina seakan mengetahui makna tatapan takut Viana ketika melihat ke Ardian.

“Maaa, badan aku sakit banget, terus kaki aku nggak bisa digerakin. Aku kenapa, Ma?” tanya Viana cemas.

Tante Nina mengusap rambut Viana dengan lembut sambil mengecup kening Viana untuk menenangkan anaknya. “Kamu nggak apa-apa, Sayang. Sebentar lagi sembuh. Itu, dia, cowok yang di hadapan kamu itu yang ngerawat kamu di sini. Namanya Ardian. Dia itu teman baik kamu.”

“Tapi aku nggak kenal dia siapa, Ma. Aku nggak pernah merasa punya teman yang namanya Ardian,” sanggah Viana, ada nada takut yang jelas terdengar pada kalimat yang ia ucapkan. Ardian yang mendengarnya menundukkan kepala. Ia seharusnya sudah siap dengan hal ini, tetapi nyatanya tidak. Ternyata ucapan dokter Farhan benar terjadi. Kini Ardian tidak mengerti harus berbuat apa menghadapi Viana yang menganggapnya orang asing dan…, jahat.

Ardian tersenyum getir. Tante Nina dan Viana hanya memperhatikannya. Wanita berumur empat puluh tujuh tahun itu memandangnya dengan mata yang sedikit berkaca-kaca. Ardian jelas dapat merasakan kesedihan tante Nina. Tidak ada orang tua yang baik-baik saja ketika mendapati kenyataan seperti ini.

“Tante, Viana, aku pamit dulu ya. Ada kuliah siang nanti,” izin Ardian dengan nada bergetar. Ia mencium tangan tante Nina dan tersenyum. Ia ingin sekali menyalami tangan Viana, tetapi tidak mungkin dilakukan pada waktu seperti ini. Jadilah ia hanya menatap gadis itu seraya melangkah mundur mendekati pintu kamar, lalu membukanya dan menutup kembali. Ardian melangkah dengan lunglai sepanjang perjalannya dari koridor rumah sakit menuju jalan raya untuk menyetop taksi.

Vi, kamu yang tabah ya. Jangan pernah takut karena aku nggak akan ninggalin kamu, ucap Ardian sambil terus berjalan. Ia tidak peduli tatapan orang di sekelilingnya yang memandangnya heran. Ya, wajahnya tampak kacau sekali.

Setelah menunggu sekitar tiga menit. Sebuah mobil taksi menghampirinya. Kemudian ia membuka pintu dan duduk, lalu memberi tau alamat tujuan kepada sang supir, ke rumahnya. Ia meminta untuk dibangunkan ketika sudah sampai. Kemudian ia mencoba memejamkan matanya yang sudah lelah, tetapi tidak bisa. Ia hanya memandang jalanan yang mulai padat oleh kendaraan.

Hatinya terasa seperti tersayat tipis dan ditetesi cairan asam. Mengingat kenyataan yang ia hadapi. Tapi ia ingat harus selalu menepati janjinya. Ini tidak seberapa dibandingkan perasaan Viana ketika mengetahui dirinya hilang ingatan dan kakinya lumpuh total. Ardian tidak boleh menyerah membantu gadis itu dalam usaha mengembalikan ingatan dan selalu berada di sampingnya.

Satu jam kemudian, Ardian sampai di depan rumahnya. Ia menyerahkan dua lembar uang lima puluh ribu sambil mengucapkan terima kasih dan memberikan kembaliannya sebagai tip. Langkah kakinya terasa berat berjalan menuju ke dalam. Rumahnya sepi, hanya ada pembantunya yang sedang mencuci pakaian dengan mesin cuci. Ibunya sudah berangkat kerja.

Di kamarnya, Ardian melempar tas ke meja belajar dan merebahkan tubuhnya di kasur. Ia mengurungkan niatnya untuk kuliah hari ini dan memilih tidur seharian. Sebelum memejamkan matanya, Ia berdoa terlebih dahulu dan berharap ketika terbangun Viana kembali seperti sedia kala.

Namun Ardian tau itu tidak mungkin terjadi.

***

Viana memeluk Ardian dan berkata lirih, “Di, jangan pernah tinggalin aku, ya.”

“Aku nggak memiliki alasan untuk melakukan itu,” jawab Ardian seraya mengecup lembut kening Viana.

Viana tersenyum mendengar jawaban Ardian. Di ruang bioskop yang hening, di tengah berpasang-pasang mata yang fokus dengan film yang tersaji di hadapanya, gadis itu membenamkan kepalanya di dada Ardian. Ia sudah tidak tertarik lagi dengan film yang ditontonnya.

Viana lebih tertarik menikmati debar jantung Ardian, yang seirama dengan debar jantungnya.

SLAP!

Viana terbangun dengan napas tidak beraturan setelah cahaya putih menghentikan mimpinya. Mimpi itu. Mimpi itu telah mengembalikan ingatannya tentang siapa Ardian. Kemudian Ia terisak dengan perasaan hati yang perih. Tangisannya terdengar menderita sekali. Terlebih ia mengingat lagi fakta tentang dirinya sekarang. Kedua kakinya lumpuh. Ya, hidupnya sudah hancur sekarang. Tiada lagi yang bisa dia lakukan dengan kecacatannya. Dengan kursi roda pun ia takkan bisa mewujudkan cita-citanya sebagai pramugari. Ibunya terbangun dan kaget melihat Viana, lalu memeluknya.

Dalam pelukan ibunya, Viana merasa hina. Merasa rendah. Merasa tidak pantas untuk bersama siapa pun. Ia merasa tidak pantas berada di samping Ardian.

***

Langit sore perlahan menggelap seiring arah jarum jam yang menunjukkan waktu terus berjalan. Cuaca sedikit mendung. Sepertinya sebentar lagi akan turun hujan. Ardian baru saja sampai ke kamar Viana yang dipindahkan ke ruang Mawar yang terletak di lantai tiga. Ia menaruh tasnya di dekat jendela, kemudian menatap ke arah luar sejenak untuk berpikir apa yang harus dibahasnya ketika Viana bangun dari tidurnya.

Sebelum berangkat ke rumah sakit. Ardian telah menyiapkan beberapa hal yang semoga dapat berguna membantu Viana untuk mulai mengembalikan ingatannya. Foto, buku bacaan, laptop, pakaian, dan tiket bioskop film yang pernah mereka tonton.

“Hei, gimana keadaan kamu, Vi?” tanya Ardian seraya tersenyum ketika menyadari Viana bangun dari tidurnya, berharap senyumnya itu dapat membuat Viana melakukan hal yang sama.

Gadis itu tidak menjawab pertanyaannya.

“Kamu udah merasa laper belum? Aku siapin makanan ya, abis itu kamu minum obat.”

“Belum, nanti aja,” jawab Viana datar.

Ardian mengangguk dan berjalan ke meja di sebelah Viana untuk memindahkan gelas dan piring kotor ke pojok ruangan, agar ketika gadis itu sarapan, ia tidak perlu membereskannya terlebih dahulu.

“Oke, kamu bilang aja kapan pun kamu lapar ya.”

“Ya.” Viana hanya mengucapkan dua kata itu, masih dengan nada datar.

“Oh iya, kamu pasti bosen. Aku udah bawain laptop, novel, sama tablet kamu. Jadi kamu bisa nonton film –aku udah download-in film romance terbaru yang pasti kamu suka, baca novel kalo kamu pengin baca, dan main game. Hehehe,” jelas Ardian, berusaha membuat suasana di antara mereka tidak kaku.

“Lo bisa berhenti ngomong nggak? Kuping gue capek.”

“O…, okay. Aku pergi keluar dulu sebentar.”

Ardian memejamkan matanya seraya mendesah pelan dan berjalan ke luar kamar Viana. Gadis itu kini menjadi asing, bukan seperti yang Ardian kenal. Namun harus sabar menghadapi Viana. Ardian paham sekali Viana pun tidak mungkin bersikap datar dan menyebalkan seperti ini bila tidak kehilangan ingatannya. Perlahan-lahan, Ardian merasakan rindu yang teramat sangat kepada sosok Viana yang lama, yang ia kenal. Untuk saat ini, yang bisa dan harus selalu ia lakukan adalah sabar.

Terdengar suara sendok jatuh ke lantai saat Ardian baru saja menutup pintu, lalu ia segera membuka kembali pintu kamar Viana dan segera berlari menghampiri gadis itu. Ardian mendapati Viana sedang berusaha meraih piring pada meja besi di samping kasurnya. Gadis itu terlihat tampak payah sekali.

“Ini, pegang, Vi.” Ardian memberikan sendok yang terjatuh di lantai, tapi sebelum itu ia membersihkannya dengan air panas dan mengelapnya dengan handuk bersih.

Thanks, tapi gue bisa sendiri kok tadi,” ucap Viana dengan senyum sekilas, lalu membuang muka.

“Iya, ini sekalian makanannya, Vi.” Ardian membuka plastik transparan yang menutupi nampan tempat mangkuk sop, piring bubur, dan sepotong buah pisang, kemudian menaruhnya di samping Viana duduk. “Gak apa-apa kalau misalnya tumpah, nanti biar aku yang bersihin,” lanjutnya, seolah mengerti tatapan gadis itu ketika memperhatikannya menaruh nampan.

“Oke…” Viana mengangkat bahu.

“Perlu aku suapin?” kata Ardian seraya tersenyum. Berharap gadis itu mengangguk setuju.

Namun Viana malah menatapnya dengan tatapan tajam, lalu berkata dengan ketus. “Nggak perlu, nggak usah sok jadi malaikat penyelamat gue deh. Lo tadi katanya mau keluar?”

Kalimat itu menusuk hati Ardian seketika tanpa dicernanya lagi. Setitik emosi terbakar dan menjalar ke dalam pikirannya. Sabar, Di, Sabar, Ardian mengelus dada dan mengatur napasnya yang mulai memburu.

“Gue nggak sok, kok. Gue ngelakuin ini dengan tulus dan juga karena permintaan lo, Vi,” ucap Ardian seraya memaksakan senyumnya untuk Viana.

Viana memiringkan kepalanya dan menyilangkan kedua tangannya ke dada. “Masa? Kalau gitu mulai detik ini gue batalin permintaan itu. Gue nggak mau nyusahin orang.”

Ardian berdiri mematung. Astaga, amarah benar-benar menjunjung tinggi dan bergelora di kepalanya.

“Gue ngelakuin ini karena gue mau menepati janji gue. Dan gue selalu berusaha menepatinya. Please, Vi, gue tau sekarang gue asing di mata lo. Tapi di luar dari itu semua,” Ardian berusaha menahan air matanya, menatap lekat-lekat gadis itu yang sedang memandangnya dengan tatapan tidak suka, “gue mau lo cepat sembuh dan kembali seperti dulu lagi. Gue gak peduli keadaan lo sekarang kayak gimana karena gue nggak akan ninggalin lo. Karena…–” ucapannya terhenti.

“Karena apa?” tanya Viana dengan nada menantang.

Ardian menundukkan kepalanya, lalu menengadah dan menggigit bibir. “Karena gue sayang sama lo, Vi.”

Viana terdiam. Ia menutup wajahnya, lalu menangis terisak melihat Ardian yang mengambil tasnya dan melangkah pergi.

***

“Nak Ardi, kamu kenapa?” tanya om Adit sambil menepuk pundak Ardian yang sedang duduk sendiri di bangku taman rumah sakit, kemudian duduk di sebelahnya.

Ardian melirik. “Eh, om Adit. Nggak apa-apa, Om. Saya cuma lagi duduk aja. Cari angin.”

Om Adit tersenyum sambil mengelus punggung Ardian. “Ya, ya ya. Semoga kamu sabar ya. Om juga jadi nggak enak sama kamu, banyak ngerepotin.”

“Ah, enggak kok, Om. Saya justru senang bisa bantuin om Adit dan tante Nina, semua kan demi kesembuhan Viana.”

Cahaya mata om Adit berubah sendu. Pria baya itu menatap dalam-dalam Ardian yang sedang mengisap rokoknya. Ia tidak menyangka ada seseorang yang betul-betul peduli dengan keadaan anaknya. Ia dan istrinya pun kaget ketika mendapati Ardian yang duduk dengan wajah tegang di luar ruang operasi. Selama ini Viana tidak pernah lagi mengenalkan teman laki-lakinya, apalagi membawanya ke rumah dan dikenalkan, selain Nicky. Tidak mungkin Ardian hanyalah sebatas teman Viana. Bila sahabatnya pun, tidak mungkin ia dan istrinya tidak kenal. Ardian pasti memiliki hubungan yang bukan sekedar teman dengan Viana, baik kekasihnya atau bukan, om Adit yakin Ardian menyayangi anaknya.

“Ehm…,” Om Adit berdeham, Ardian mengerjapkan matanya lalu menatap pria itu yang sedang menatap lurus ke arah air mancur. “Kenapa, Om?”

“Kamu sayang sama Viana?” tanya om Adit dengan ekspresi serius.

Ardian merasa gugup mendengar pertanyaan itu, jantungnya berdebar kencang kuda perang yang sedang berlari. Ia bingung harus menjawab apa. Tentu saja bila yang mengajukan pertanyaan itu adalah Indra atau temannya yang lain, Ia akan dengan sangat yakin menjawab “Iya.” Dengan sungguh-sungguh. Namun kali ini berbeda, orang yang dihadapannya kini adalah ayah Viana.

“Ardi, kok pertanyaan Om nggak dijawab?”

Emm…, ya…, saya…” Ardian menggaruk kepalanya.”Ya, saya sayang sama Viana, Om.”

Om Adit tersenyum mendapatkan jawaban singkat itu. Kemudian, ia merangkul Ardian dan berkata, “Kalau begitu, jagalah Viana selayaknya Om menjaganya. Temani Viana dan ubah dunianya menjadi berwarna lagi seperti dulu. Om percaya sama kamu.”

Tubuh Ardian bergetar mendengarnya. Sudah pasti bukanlah hal yang biasa jika seorang ayah mengucapkan kalimat seperti itu. Terbesit bahagia yang memeluk hatinya karena pesan itu. Mungkin bila diartikan, itu adalah tanda lampu hijau untuk Ardian.

Ardian tidak berkata apa-apa lagi. Ia hanya menganggukkan kepala dan meyalimi tangan om Adit.

***

Viana duduk pada kursi rodanya, posisinya menghadap jendela, melihat pemandangan di luar sana dengan tatapan kosong. Ia melihat lalu lalang pasien yang berjalan sambil membawa tiang infus di lorong rumah sakit, ada yang sendiri, ada yang ditemani. Banyak pengunjung rumah sakit yang berjalan dengan ekspresi sedih bercampur khawatir. Fokus mata Viana berpindah pada seorang gadis -yang sepertinya seumuran dengannya- yang duduk pada kursi roda. Viana sedikit memicingkan mata untuk melihat gadis itu, tampaknya ia susah payah mendorong kursi rodanya sendirian.

Tiba-tiba saja air mata mencelos dari kelopak matanya, ia membayangkan sebentar lagi akan berada dalam posisi yang sama dengan gadis itu. Viana semakin sedih karena dua malam yang lalu ia bermimpi Ardian yang pergi dari kehidupannya. Ia berusaha tegar menghadapi kenyataan buruk itu bila terjadi.

Setelah ucapan Ardian terakhir kali, ia tidak pernah lagi datang menemaninya. Viana merasa bersalah telah mengucapkan kalimat yang bertentangan dengan isi hatinya. Sejujurnya, ketika ia merasa bahagia sekali melihat Ardian yang sangat peduli dengan dirinya. Akan tetapi, Viana merasa malu dan rendah. Ardian pantas mendapatkan gadis yang jauh lebih baik darinya, yang lebih cantik, dan yang tidak cacat seperti dirinya.

Viana sangat malu dengan kondisinya yang cacat. Ia tidak ingin merepotkan Ardian untuk mendorong kursi rodanya. Ia tidak ingin orang-orang melihatnya dengan tatapan kasihan, seperti yang ia rasakan kemarin ketika teman-teman kampusnya menjenguk.

Ia hanya tidak ingin Ardian merasa malu ketika bersama dirinya.

Terdengar bunyi suara pintu kamarnya terbuka. Lamunan Viana buyar dan segera menghapus air matanya, lalu melihat ke arah pintu.

“Maaf, gue cuma mau ambil barang-barang gue aja kok. Nggak bermaksud mau ganggu,” ucap Ardian sambil melepas sepatunya, lalu menaruhnya di samping pintu.

Ardian berjalan ke sudut kamar, mengambil barang-barangnya; buku kuliah dan beberapa helai baju yang disimpan di dalam sebuah lemari besi. Ia memasukkannya ke dalam tas ransel berukuran sedang. Setelah selesai, ia berdiri dan berjalan pelan menghampiri Viana.

“Gue pamit, Vi. Makasih ya. Maaf udah bikin lo terganggu. Gue cuma–,” Ardian tidak sanggup melanjutkan ucapan yang sudah berada di ujung lidah, “ah, lupakan.”

Viana membuang muka, kembali menatap pemandangan dari jendela karena tidak kuat melihat Ardian yang dalam hitungan detik akan melangkah pergi. Viana merasa ini adalah yang terbaik. Ini adalah saat-saat terakhir ia melihat Ardian dalam hidupnya. Viana memejamkan mata, menangis perlahan.

Entak kenapa Viana merasa tubuhnya terasa berat, ada sesuatu yang hangat mendekap dirinya. Ada debar yang terdengar di telinganya.

Ketika Viana membuka mata, ia kaget melihat Ardian sedang memeluknya dengan erat. Tangisnya pun pecah dan membalas pelukan Ardian.

“Maafin aku, Di. Sebenarnya aku nggak bermak–“

“Ssstt…” Ardi menutup mulut Viana dengan telunjuknya. “Aku tau maksud kamu selama ini. Aku pun hampir nggak kuat untuk melakukannya. Tapi, tapi aku punya janji yang harus aku tepati.

Air mata Viana semakin turun deras membasahi pipi. Membuat pelukan mereka basah. Langit biru mulai berubah oranye, mengajak senja menebarkan pesona cantiknya. Dedaunan tepisah dari rantingnya dan menari mengikuti alunan semesta. Burung-burung pulang ke sarangnya. Seperti Viana yang akhirnya pulang ke pelukan Ardian.

“A…, aku malu dengan keadaanku. Aku takut kamu pergi,” ucap Viana dengan terisak hebat.

Ssshhh…, don’t be afraid. Bagaimana pun keadaanmu, kamu tetaplah Viana. Wherever you will go, I always beside youI have no reason to leave,” bisik Ardian di telinga Viana, kemudian mengusap air mata gadis itu dan mengecup pelan bibirnya. Viana menikmati momen ini dengan cinta penuh di dalam hatinya. Pintu hatinya terbuka lebar untuk Ardian. Inilah momen paling membahagiakan yang pernah ia rasakan. Hidupnya sempurna.

I’ve got no reason not to falling in love with you,” ucap Viana dengan senyum termanisnya.

Me too, and I always do,” kata Ardian, kemudian mendorong kursi roda Viana keluar dari kamar menuju taman rumah sakit untuk mengenalkan pada dunia bahwa Ardian memiliki kekasih yang hebat.

Pada akhirnya, kau akan menyadari siapa orang yang benar-benar kau cintai, dan siapa orang yang benar-benar mencintaimu.

Advertisements

8 thoughts on “A Promise To Keep

  1. aah menyedihkan 😥
    kalimat ini, “Kalo gua beneran ngejanjiin sesuatu, gua gak bakal ngingkarin. Sekali pun gua bakalan terluka karena janji itu,” masih adakah pria-pria semacam itu di semesta ini kak ? 😦

    btw, bukankah kata “hordeng” itu seharusnya “gorden” ?

  2. Reblogged this on Bintang Kecil and commented:
    “Pada akhirnya, kau akan menyadari..”sayangnya sampai detik ini aku belum tersadar tentang siapa yang benar-benar ku cintai dan mencintaiku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s