Mengingat Lima Hal

Entah kenapa malam ini rindu sedang bangsat-bangsatnya. Kau tau? Tiba-tiba saja mereka datang tanpa meminta izin terlebih dahulu. Aku hanya diam, lalu menyalakan sebatang rokok dengan harapan asap yang khidmat kuembuskan dapat membunuh mereka saat sedang mencegat pita suaraku yang hendak mengucap namamu saat tertahan di kerongkongan.

Kau ingat saat ciuman-ciuman singkat yang kucuri dari bibirmu sembunyi-sembunyi kala ibuku sedang memasak di dapur?

Kau ingat pelukan erat yang sesekali kau minta kendurkan dan kau menjelaskan dengan senyum manis bahwa kau takkan pergi ke mana-mana?

Kau ingat genggaman tangan yang tak ingin kau lepaskan malam itu, lalu kau berkata, “Sejauh apapun kita terpisah, kita tetap berada di bawah langit yang sama.”

Kau ingat ketika kau memejam, memberi tanda bahwa keningmu yang lugu ingin didaratkan sebuah kecupan lembut, lalu kau malah cemberut melihatku yang tertidur pulas di dadamu?

Kau ingat ketika kamu baru saja keluar dari kamar mandi dengan wajah semringah, kemudian dengan gerakan mata yang teduh, kau memintaku menggelar sejadah untuk segera mengucap kata semoga dan amin dalam satu irama.

Apakah rindumu mengingat hal yang sama?

Advertisements

2 thoughts on “Mengingat Lima Hal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s