Di Ujung Jalan

gdfshhjdrherh

sumber

Dulu, aku percaya tasbih dan salib dapat menyatu, dulu. Sebelum kau memilih pergi dengan yang seiman denganmu.

Seorang gadis menundukkan kepalanya sambil menggenggam erat kalung salib di antara kedua telapak tangannya. Dia terlihat sangat khusyuk berdoa di dalam hati pada sebuah gereja kecil, di antara bangku-bangku kayu berwarna cokelat tua yang berjejer. Sinar matahari pagi perlahan menembus kaca jendela gereja itu hingga menyentuh lantai. Suasana hening menyelimuti gadis itu. Udara di sekitarnya menjadi saksi bisu doa-doa yang diucapkan mempertaruhkan harapan terakhirnya.

Tuhan, kumohon persatukan kami hidup dan mati. Aku sungguh mencintainya. Aku mulai lelah. Permudahkanlah… Amin…, ucap gadis itu tanpa suara. Bulir-bulir air matanya mulai merebak dari ekor matanya, menjulur turun ke pipinya dan jatuh tepat pada kalung salib yang dia genggam. Wajah cantiknya tampak lelah berharap. Bibirnya bergetar mengais ketabahannya yang kian menipis.

Sementara itu, di suatu tempat yang berbeda di waktu yang sama.

Di sebuah kamar bercahaya temaram, seorang pria baru saja menyelesaikan sujudnya pada rakaat terakhir. Kedua telapak tangannya diangkat sedada, kakinya yang tertutup sarung bersila, dan kepalanya mendoak ke atas dengan mata memejam.

“Ya Allah, jika dia memang jodohku, jodohkanlah kami. Hamba mohon, kami sudah berjuang sejauh ini, kabulkan doa hamba untuk kali ini. Kabulkan doa hamba untuk kali ini. Amin…,” ucap pria itu sungguh-sungguh.

Bibirnya mengatup, hatinya bersuara melafalkan doa-doa yang dia hapal di luar kepala. Di atas sajadah, pria itu memasrahkan nasib hubungannya yang berada di ujung tanduk. Di dalam doanya pikirannya menerawang jauh pada ingatan pahit beberapa waktu lalu.

***

“BERANI-BERANINYA KAMU KE SINI LAGI, RAFLI. SAYA KAN SUDAH BERKALI-KALI BILANG, JAUHI ANAK SAYA! JANGAN BERHUBUNGAN LAGI DENGAN DIA! SAMPAI KAPANPUN SAYA TIDAK AKAN MERESTUI HUBUNGAN KALIAN!” Bentak seorang perempuan paruh baya sambil berkacak pinggang dan menunjuk pria di hadapannya. Dari sorot matanya yang tajam, terlihat kebenciaan yang sangat kentara. Wajahnya merah padam, napasnya tersungut menahan luapan-luapan amarah yang bergerumul dan siap menghancurkan tembok kesabarannya.

“Maaf tante Agnes, saya hanya ingin berbicara sama Fani. Kali ini saja untuk terakhir kalinya. Saya mohon, saya hanya ingin berbicara dengan Fani untuk menyelesaikan–”

“TIDAK! PERGI KAMU DARI SINI! DAN JANGAN PERNAH MENGINJAKKAN KAKI KAMU LAGI. FANI SUDAH TIDAK TINGGAL DI SINI! TOLONG JANGAN MERUSAK RUMAH TANGGA ORANG LAIN!” Tante Agnesia semakin kencang membentak, emosinya sudah tak dapat ditahan lagi hingga dia melempar toples cemilan yang tidak bersalah di meja ruang tamu ke arah Rafli. Pria itu segera menghindar ketika toples yang dilempar tante Agnes melayang di udara dan hampir mengenai kepalanya.

“PERGI ATAU SAYA LAPORKAN KAMU KE POLISI?!” ancamnya lagi dengan suara menggelegar di udara. Rumah yang sebegitu megah ini tampak kecil dengan suara tante Agnes yang memekakkan telinga.

Rafli berdiri mematung. Rahang pipinya mengeras. Jemari tangan kanannya dikepal menahan emosi. wanita yang mengusir dan mengancamnya itu adalah ibu dari kekasihnya, Fani. Dia sangat mengerti perintah dari wanita di hadapannya itu. Dia tidak dapat berbicara apa-apa lagi. Kedua telinganya sudah sangat kenyang mendengar bentakan dan cacian dari mulut tante Agnes selama ini. Rafli akhirnya dengan berat hati beranjak pergi meninggalkan rumah Fani. Pada setiap langkak kakinya, satu persatu harapan cintanyanya terbunuh keji.

Dari balik jendela, Fani menangis melihatnya. Perasaan Fani sangat terkoyak melihat kejadian barusan. Dia merasakan pedih yang menyayat hatinya saat melihat Rafli melangkah pergi. Dari kejauhan Fani memperhatikan dengan seksama pria itu mulai perlahan menghilang seiring dengan pandangannya yang memburam karena air mata yang mengucur deras menghalangi pengelihatannya. Tangisannya semakin kencang saat sosok Rafli tidak terlihat.

***

Fani mengecek ponselnya setiap dua menit sekali, menunggu kabar dari Rafli. Kepalanya celingak-celinguk melihat ke arah pintu kafe. Sudah hampir setengah jam dia menunggu, tetapi tidak ada tanda-tanda kedatangan Rafli. Mereka janjian bertemu di sini, di sebuah kafe di daerah Kemang selatan. Fani merasa gelisah memikirkan rencana mamanya yang hendak menjodohkan dia dengan Charles, anak dari sahabat lama almarhum ayahnya. Semenjak mengetahui rencana mamanya, dia semakin khawatir hubungannya dengan Rafli akan segera berakhir.

Di tengah perjalanan, Rafli terus menerus memperhatikan jam sambil memegang stir kemudi. Dia tidak sabar mengencangkan laju Xenia hitamnya di tengah suasana sore jalan Sudirman yang tidak pernah absen macet. Tetapi seperti yang dia lihat kini, jalanan di depan pandangannya sangat padat dengan kendaraan lain yang bernasib sama, terjebak dalam kemacetan.

Akhirnya setelah berhasil menahan kesabaran selama empat puluh menit, Rafli tiba di kafe yang dimaksudkan Fani malam sebelumnya. Dia segera memarkirkan mobilnya pada spot kosong yang terdapat di parkirkan kafe itu, di antara mobil-mobil lainnya.

Saat masuk ke dalam kafe, Rafli mengedarkan pandangannya mencari-cari sosok Fani.

“Ah! Itu dia!” kata Rafli pelan sambil setengah berlari menghampiri meja tempat Fani berada di pojok dekat jendela. Gadis itu mengenakan kaos biru muda yang dibalut dengan jaket jeans biru tua. Wajahnya jelas menunjukkan raut cemas, terbukti pada beberapa lipatan-lipatan di keningnya.

Rafli yang menyadari keterlambatnya langsung berbicara. “Sayang, maaf aku terlambat. Tadi macet parah,” ucapnya yang langsung menggeser tempat duduk kayu berwarna coklat tua dan menjatuhkan pantatnya sambil mengatur irama napas yang masih tersengal-sengal.

Melihat kedatangan kekasihnya, Fani menghembuskan napas lega dan merasa sedikit tenang. “Syukurlah, aku kira kamu gak datang. Kamu telat lebih dari satu jam, Raf. Yaudah gak apa-apa, nih, kamu minum dulu,” kata Fani seraya memberikan sebotol air mineral kemasan yang dipesan semenjak dia tiba ke kafi ini. Fani tau betul Rafli tidak menyukai minuman yang manis, terlebih dia baru sampai dari keterburu-buruannya.

Rafli langsung menerima dengan senang hati air mineral yang diberikan Fani. Dia langsung meneguk habis. Selesai Rafli minum, dia terdiam sebentar memperhatikan Fani. Perpaduan antara darah Sunda dan Oriental tersaji di wajah Fani membuat Rafli lemas. Meskipun gadis itu terlihat lelah dan cemas, tetapi dia tetap terlihat menawan. Rafli tahu persis apa yang disimpan rapi di pikiran Fani, beban yang juga sedang dia tanggung. Dia dapat merasakan segala rasa takut, cemas, dan lelah yang jarang ditunjukkan oleh Fani. Selama ini gadis itu selalu berusaha tampak tegar, namun kini wajah yang dahulu selalu ceria terlihat sangat muram. Rafli tau pasti ada sesuatu yang terjadi pada kekasihnya.

“Sayang, gimana keadaan kamu sekarang?” tanya Rafli membuka percakapan, kemudian dia menggenggam tangan Fani dengan lembut.

Fani tidak langsung menjawab pertanyaan kekasihnya itu, gadis itu mengeluarkan senyum khasnya yang membuat laki-laki normal mana pun jatuh hati. Beruntung sekali Rafli dapat memiliki pemilik senyum itu.

“Ya begini aja kok ngak terlalu banyak perubahan, Sayang. Kamu sendiri gimana? Aku kangen banget sama kamu,” jawab Fani yang balik bertanya.

“Aku lagi sibuk sama side job aku sekarang. Kita jadi makin jarang ketemu, maaf ya.”

“Iya, enggak apa-apa kok, kan sekarang kita udah ketemu. Itu juga kan demi masa depan kamu.”

“Demi masa depan kita,” ralat Rafli cepat seraya mengecup pelan punggung tangan Fani dengan penuh kehangatan.

Selama rentang waktu dua bulan kemarin, Rafli sibuk dengan side job-nya sebagai desainer di clothing-an temannya. Beruntung dia mahir dalam menggambar tangan dan menggunakan Adobe Photoshop serta Corel Draw, sehingga dia dapat mendesain gambar yang akan dicetak pada kaos yang dijual. Uang yang dihasilkan memang tidak terlalu banyak, namun dari pekerjaan sampingan itu dia mulai menabung untuk tujuan hidup terbesarnya. Menikahi Fani.

Rafli selalu bersemangat mengerjakan pekerjaannya, tak jarang hingga begadang demi memenuhi deadline yang disepakati dia dan temannya. Setiap kali Rafli merasa lelah, dia selalu mengingat Fani sebagai semangat hidupnya. Alangkah bahagianya bila gadis itu menjadi istrinya. Membayangkan sesi foto pre-wedding-nya saja membuat Rafli senang. Fani menyukai hal yang berbau vintage. Rafli sudah merancang sketsa pakaian pre-wedding mereka pada kertas kosong di buku catatan kuliahnya dulu. Sketsa Fani yang sedang memegang keranjang dengan mengenakan dress biru yang dipadukan syal cokelat pastel dan sepatu krem berbahan suede. Sedangkan dia sendiri mengenakan cardigan cokelat muda dan celana chino pendek dengan sepatu kulit.

Perlahan-lahan Rafli menggenggam erat jemari Fani. Memberikan isyarat bahwa semuanya akan baik-baik saja. Dia sangat mencintai gadisnya itu sejak lima tahun lalu. Meskipun halangan dan rintangan masih belum berhenti datang menghantam hubungan mereka hingga kini, tapi mereka masih bersikeras mempertahankannya.

Fani menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan kekuatan untuk berbicara. “Raf, aku punya kabar buruk, mama pengin ngejodohin aku sama Charles, anak dari sahabat lama almarhum papa yang dulu sempet deketin aku. Mama sungguh-sungguh mau ngelakuin hal itu, Raf. Tiga hari lalu Charles datang ke rumah dan ikut makan malam bersama kami. Mama langsung nentuin kapan tanggal lamaran. Aku takut Raf, aku takut,” jelas Fani dengan nada sangat khawatir. Baru kali ini Fani merasa setakut ini, sampai dia sulit tidur dan tidak nafsu makan. Pikirannya sangat terganggu oleh rencana mamanya tersebut.

Mendengar pernyataan tersebut, Rafli semakin erat menggenggam tangan Fani. Dia tak ingin kehilangan gadis itu. Rafli yakin ada jalan lain yang dapat mereka lakukan demi hubngan ini. Dia masih belum ingin menyerah memperjuangkan Fani meskipun hidupnya hancur sekali pun. Rafli memikirkan kebersamaan dan kenangan yang sudah dilaluinya dengan Fani selama lima tahun lebih. Haruskah semua ini berakhir hanya karena perjodohan yang dilakukan oleh tante Agnes?

“Kamu masih inget nggak? Lima tahun lalu saat kita pertama kali ketemu di gerbong kereta. Pas itu kamu lagi baca lagi baca alkitab sambil berdiri. Padahal suasana di gerbong itu lagi sesak banget. Ngeliat kamu ngelakuin itu aku langsung terenyuh. Aku berterima kasih sama bapak-bapak yang gak sengaja nyenggol tangan kamu. Pas tubuh tersenggol dan hampir jatuh, saat  itu pula aku langsung ngerangkul kamu. Dan kebetulan kita turun di stasiun yang sama, di Tebet, langsung aja aku beraniin diri kenalan sama kamu,” kenang Rafli sambil tersenyum menatap Fani. Dia berharap dengan mengulang masa pertama kali mereka bertemu dapat menjadi kekuatan untuk Fani agar tetap bertahan.

Fani pun tersenyum dan ikut mengenang hal itu. Dia ingat hampir jatuh di tengah kerumunan orang yang berdesak-desakan di gerbong kereta dalam posisi masih memegang kitab sucinya. Sebenarnya, Fani mengetahui bahwa selama dia membaca, Rafli terlihat sekali sedang memperhatikan dirinya. Tetapi Fani tidak terlalu memikirkannya karena sedang fokus membaca. Semenjak pertama kali mereka berkenalan, mereka tahu bahwa keyakinan mereka berbeda. Namun itu bukan halangan bagi mereka untuk semakin dekat.

Fani masih ingat saat pertama kali Rafli mengajaknya pergi berdua. Bukan ke restoran, mal, atau ke bioskop. Melainkan ke gereja tempat Fani beribadah. Saat itu Sabtu malam, Rafli menelpon dan menawarkan diri untuk mengantarnya ke gereja. Minggu paginya sekitar pukul tujuh, Rafli sudah menunggunya di gang kecil yang terletak tak terlalu jauh dari rumah Fani. Saat itu Fani bilang ke mamanya bahwa dia ke gereja dengan seorang kampusnya.

Rafli pun masih ingat Fani yang selalu menunggu dirinya selesai salat di luar masjid, gadis itu tidak pernah mengeluh menunggunya. Apalagi ketika dia salat tarawih di malam Minggu, Fani menunggunya di warung kopi di samping masjid dekat rumahnya, barulah mereka malam Mingguan setelah Rafli menyelesaikan ibadanya. Fani marah jika Rafli malas beribadah, dan sebaliknya.

Mereka berdua sangat toleransi menunggu salah satunya menjalankan ibadah. Meskipun lama kelamaan muncul semakin banyak masalah karena Fani dan Rafli ketahuan menjalin hubungan oleh orang tua masing-masing. Tante Agnesia sangat marah saat mengetahui Fani berhubungan dengan Rafli. Tante Agnesia sering mengurung Fani saat malam Minggu agar anaknya itu tidak keluar rumah dan pergi dengan Rafli. Sedangkan, orang tua Rafli sudah lepas tangan dengan hidup Rafli, karena anak itu nekat dengan pilihannya.

Ketika ayahnya Rafli benar-benar tidak lagi membiayai anaknya kuliah. Rafli memutuskan untuk pergi dari rumah dan kuliah sambil bekerja sebagai wartawan di perusahaan koran yang cukup ternama di Jakarta. Dia menghabiskan uang tabungannya untuk membeli kamera DSLR keluaran terbaru merk Canon, dan Fani pun memberikan sebagian uang tabungannya untuk menutupi kekurangan Rafli saat membeli kamera.

Mereka berdua saling menutupi kekurangan masing-masing. Fani yang kuliah di jurusan akuntansi dan memiliki banyak tugas dibantu oleh Rafli yang cukup pintar menguasai mata kuliah Fani, padahal Rafli kuliah di jurusan Ilmu Komunikasi. Sedangkan, Fani membantu mengerjakan tugas-tugas Rafli ketika prianya itu bekerja.

Selang dua tahun mereka berpacaran, timbullah niat Rafli untuk semakin serius menjalani hubungan mereka. Dia rela memendam keinginan lamanya untuk membeli laptop baru untuk menopang pekerjaannya dan lebih memilih membelikan Fani sebuah cincin emas putih yang hingga kini tersemat di jari manis kanan Fani. Cincin itu selalu Fani kenakan ketika berada di luar atau bersama Rafli, dan dia lepas ketika berada di rumah. Bagi Rafli, Fani adalah segalanya. Fani adalah harapan terakhirnya setelah dia tinggal sendiri.

“Kita udah berjalan sejauh ini, sayang. Kamu inget kan janji yang selalu kita ucapin sebelum kita mengakhiri doa kita? Kita akan selalu bersama seberat apapun halangan dan rintangan yang membentang. Percayalah, Sayang, semua ini pasti berhasil kita.” ucap Rafli meyakinkan Fani. Suasana kafe ini semakin sendu saat terdengar lagu Secondhand Serenade – Your Call mengalun di udara hingga sampai ke telinga para pengunjung. Lagu ini membawa Rafli dan Fani ke dalam cinta yang semakin erat, mengingat banyak sekali momen-momen berbagai macam rasa yang telah tercipta dan dilewati bersama.

Fani menatap dalam-dalam mata Rafli. Rafli pun melakukan hal yang sama. Mereka tenggelam pada tatapan masing-masing untuk saling merasakan perasaan satu sama lain. Dalam diam, mereka cemas memikirkan apa yang akan terjadi pada esok hari. Rafli hanya sesekali melahap makanan kesukaannya –udang goreng balado- yang sudah dipesan Fani sebelum dia datang. Sedangkan Fani hanya memainkan sedotan jus mangga yang tersisa setengah di gelasnya, dan sesekali menyeruput minuman itu tanpa gairah.

Dalam kesempatan bertemu kali ini. Mereka berdua sama-sama merasa sangat takut dengan hal buruk yang akan terjadi dalam waktu dekat. Apalagi setelah Rafli mendengar cerita Fani bahwa Fani akan dijodohkan dengan seorang pria bernama Charles. Kali ini Rafli mulai merasa pasrah, karena selama ini tante Agnes tidak pernah bercanda menjalankan rencana untuk memisahkan dia dan Fani. Rafli masih ingat ketika dia dikeroyok oleh tiga orang yang tidak dikenalnya di parkiran kampus Fani, beruntung ada satpam dan beberapa mahasiswa lain yang melihat dan menolongnya ketika dia hampir diinjak-injak.

Di dalam hati baik Rafli maupun Fani, mereka sama-sama sedang merasakan sakit yang hebat di hati masing-masing. Tragis saja, jika lima tahun hubungan yang telah dijalani dengan penuh perjuangan ini harus berakhir.

Semua karena perbedaan keyakinan yang menjadi garis penghalang hubungan mereka. Memang, hubungan yang berbeda agama itu pernah mudah. Tidak pula banyak yang berhasil. Ada yang berhenti saat baru saja dimulai, ada juga yang berhenti saat di tengah. Juga ada yang berakhir di ujung jalan. Dan perhentian di ujung jalan ini yang paling ditakutkan oleh Rafli dan Fani. Karena, baik dari orang tua Rafli dan Fani, tidak ada yang memberi restu hingga detik ini.

Jodoh memang di tangan Tuhan, tetapi bagaimana bila dalam nama Tuhan yang berbeda? Hubungan yang terjalin dalam perbedaan agama seperti halnya sebuah benih pohon yang ditanam dalam tabung kaca. Benih itu akan tumbuh subur perlahan-lahan disiram dan dirawat oleh harapan sepasang kekasih yang saling mencintai. Seiring berjalannya waktu dan cinta yang diperjuangkan, pohon itu akan meninggi dan berdaun rimbun. Namun semakin tinggi dan rimbun pohon itu, suatu hari akan menyesaki tabung kaca tempatnya tumbuh. Pada akhirnya saat tabung kaca sudah lagi tidak kuat menahan pertumbuhan pohon, tabung kaca itu retak dan pecah berkeping-keping. Dan tabung kaca itu adalah sepasang kekasih yang selama ini memperjuangkan cintanya dalam perbedaan nama Tuhan, yang akhirnya hancur dan berakhir.

Sekarang jika mereka ingin bertemu, mereka berdua harus sembunyi-sembunyi agar tidak ketahuan. Fani dijaga ketat oleh Elisa, teman kecil sekaligus tetangga dan teman sekampus Fani –meskipun sebenarnya Elisa tidak tega untuk melaporkan Fani ke tante Agnes. Fani seringkali memohon pada Elisa untuk tidak melaporkan ke mamanya saat Rafli menjemputnya di kampus. Tetapi Elisa sendiri merasa bersalah jika dia sering berbohong. Tante Agnes pernah memberi tahu pesan terakhir mendiang ayah Fani kepada Elisa, bahwa mendiang ingin Fani menikah dengan anak dari salah satu sahabat dekatnya. Itulah sebabnya Elisa kadang memberi tahu ke tante Agnes jika dia memang melihat Rafli menjemput Fani di parkiran kampus.

Kini Fani memandang Rafli dengan perasaan bersalah. Dia merasa sangat jahat jika harus menyerah dan pasrah dengan rencana ibunya yang menjodohkannya dengan Charles. Selama lima tahun ini, ini Rafli sangat setia menjaga dirinya dan juga hatinya dari wanita lain. Belum pernah Fani melihat atau mendengar kabar bahwa Rafli dekat atau berselingkuh dengan perempuan lain. Malah Rafli yang sangat bersabar menghadapi setiap laki-laki yang ingin mendekati Fani, meskipun para laki-laki itu sudah mengetahui bahwa Fani memiliki kekasih. Fani semakin tidak tega ketika mengingat keputusan Rafli meninggalkan rumahnya untuk tinggal sendiri demi dapat menjalani hubungan ini.

Sejak saat itu Fani memantapkan hatinya untuk mencintai Rafli. Tetapi, di lain sisi, Fani tidak sanggup lagi melihat mamanya marah dan menangis, dia tau tujuannya baik. Mamanya hanya ingin Fani mempunyai suami yang seiman. Namun bila dia menurutinya, sia-sia sudah hubungannya dengan Rafli yang telah diperjuangkan sampai detik ini.

Giliran Rafli yang menatap nanar mata Fani yang mulai berkaca-kaca. Rafli tampaknya sudah pasrah dengan nasib hubungan ini setelah ‘kediaman’ ini berakhir.

Rafli tertawa datar, lalu berkata, “Kok kita jadi diem-dieman gini sih, Sayang? Kamu lagi sakit gigi ya? Atau lagi sariawan? Kan dari awal kita udah tahu kan kalo semua ini pasti ada ujungnya. Meskipun kita nggak tau ujungnya gimana. Jangan sedih gitu dong.”

Fani melempar pandangannya dengan lemah dari gelas kaca yang memantulkan sinar senja dari jendela ke arah Rafli.

“Nggak apa-apa kok,” katanya lesu.

Namun Rafli mengetahui betul pasti ada yang sedang Fani pikirkan sekarang. “Aku sudah terlalu mengenal kamu, Fan. Apapun yang pengin kamu katakan, katakanlah.”

Gadis itu mendesah, air mukanya terlihat tegang. “Bagaimana jika suatu hari hubungan kita berakhir?” tanyanya dengan hati-hati.

Rafli mengembuskan napas berat seraya memejamkan mata mendengar pertanyaan Fani. “Kalau memang sudah takdirnya begitu, sekeras apapun kita mencoba ya relakan saja, Sayang. Bagian yang terpenting adalah kita sama-sama keras kepala memperjuangkan hubungan ini sampai sekarang.”

“Kita sudah memperjuangkannya sejauh ini, Sayang. Apapun yang terjadi nantinya, itulah yang terbaik. Aku percaya jika kita memang ditakdirkan bersatu, ya kita pasti bersatu walau pun banyak halangan,” lanjutnya meyakinkan Fani.

“Jika kita ditakdirkan untuk bersama, tapi nggak direstukan bersatu, bagaimana?”

Rafli terdiam beberapa detik, menatap kekasihnya dalam-dalam. “Tuhan kita tau apa yang terbaik untuk kita, Sayang,” katanya sambil tersenyum.

“Iya, aku percaya, Raf. Aku selalu percaya Tuhan kita tau apa yang terbaik untuk kita.” Fani pun berusaha tersenyum tegar dan menahan air mata yang sudah siap tumpah dari bendungan kelopak matanya. Dia menundukkan kepala, tidak ingin terlihat sedih, oleh karena itu dia tidak berani beradu tatap dengan Rafli yang masih menatapnya. Seperti ada sesuatu yang disembunyikan Fani, dan Rafli tidak menyadari hal itu.

Sebenarnya, Rafli mengatakan hal yang diharapkan dapat menambah meyakinkan Fani dan juga dirinya sendiri bahwa semua akan baik-baik saja. Namun jauh di dalam lubuk hatinya, dia sendiri takut bukan kepalang membayangkan suatu hari Fani pergi. Seorang pria pun takut kehilangan kekasihnya, apalagi bila hubungan yang sudah sangat serius. Ini bukan perihal siapa yang paling cinta. Tetapi siapa yang sama-sama bertahan. Dalam keadaan ini baik Rafli dan Fani sama-sama bertahan memperjuangkan cinta mereka di tengah perpisahan yang bisa terjadi kapan saja. Bila ada yang berpikir bahwa pria bisa saja langsung mencari pengganti ketika hubungan dengan kekasihnya berakhir, itu adalah pemikiran yang egois.

Cinta bukanlah sesuatu yang dapat dirangkai dengan mudah sendirian. Tentunya cinta yang hebat tercipta oleh dua orang yang sama-sama berjuang. Bukan yang satu compang-camping bertahan, yang satunya hanya acuh dan duduk diam. Hubungan yang terlihat baik-baik saja justru banyak permasalahan yang kasat mata. Hanya saja dua orang yang berada di dalamnya berusaha menutupi. Dalam posisi ini Rafli dan Fani sama-sama berusaha menjaga keutuhan mereka. Cinta mereka begitu hebat.

Rafli memandang jam tangannya. Sudah hampir satu jam dia dan Fani di sini. Perutnya sedikit kembung dan berkeinginan buang air kecil.

“Sayang, aku ke belakang dulu ya,” izin Rafli sambil menunjukkan jari telunjuk tangan kanannya ke arah toilet yang berada sekitar dua puluh meter dari tempat mereka berdua duduk. Gadis itu hanya menganggukkan kepala. Melihat Rafli berjalan ke toilet, tangis Fani tumpah. Dia mengambil secarik kertas dan sebuah pulpen hitam dari tasnya, kemudian menulis sesuatu.

Di dalam toilet, tiba-tiba saja hasrat ingin buang air kecil hilang begitu saja. Rafli justru berpikir keras harus melakukan hal apa lagi untuk hubungan ini. Sambil berkaca dan memegang westafel, dia memejamkan mata membayangkan keadaan terburuk yang akan terjadi. Apakah yang Fani ceritakan benar akan terjadi? Rafli bergidik ngeri.

Dia memutar keran dan menampung air mengalir dalam telapak tangannya yang menelungkup, kemudian membasuh wajahnya yang kusut. Rekaman kejadian yang telah dia lewati di tengah usahanya mempertahankan Fani satu per satu mulai berkelebatan. Ketakutan akan kehilangan Fani semakin jelas mencuat dalam lubuk hatinya. Tak ada harapan lagi selain keputusan Fani; tetap bertahan atau menyerah.

Setelah menghabiskan waktu sekitar tiga menit di toilet, Rafli berjalan keluar toilet dan kembali ke meja makan. Namun tidak ada Fani di situ. Dia memandang ke arah sekitarnya mencari sosok gadis itu.

Ah mungkin dia ke toilet juga, ucap Rafli dalam hati sambil berusaha keras menjauhkan pikiran negatif.

Tetapi setelah tujuh menit lebih dia menunggu, Fani tak kunjung kembali. Rafli panik bukan main. Rasa takut yang besar mulai menggerayangi hati dan pikirannya, menusuk-nusuk jantungnya. Rafli merasa ada yang tidak beres. Dia langsung mengeluarkan ponsel di saku celana kirinya dan menelepon Fani. Untuk memastikan keberadaan kekasihnya itu.

“Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada dalam jangkauan a–” Rafli langsung menjauhkana ponselnya dari telinga dan mengakhiri panggilan saat template operator menjawab otomatis panggilannya yang tidak tersambung, lalu encobanya lagi untuk kedua kalinya.

“Nomor yang anda tuju sedang –“

YA TUHAN ADA APA INI?! Teriaknya dalam hati. Pasti ada sesuatu yang tak beres terjadi. Setelah tujuh kali mencoba, dia menyerah. Rafli bersandar di kursinya dan menengadahkan kepala. Matanya memejam, setitik air mata mengalir dari kelopak matanya.

Dari arah kasir seorang pelayan perempuan menghampiri meja Rafli dan menepuk pelan pundaknya dan berkata, “Permisi, Mas, pesanannya sudah dibayar, ini ada titipan dari Mbaknya.” Pelayan itu dengan sopan dan hati-hati meletakkan secarik kertas putih yang keadaannya sedikit lecak dan basah di permukaan tulisannya.

Melihat kertas itu, Rafli mengusap wajah sebelum membacanya untuk mempersiapkan diri. Ekspresi wajahnya berubah pucat dan seluruh bagian tubuhnya tiba-tiba lemas. Nyawanya bagai hilang ketika membaca deretan kata yang tertera pada kertas tersebut.

Maaf, aku harus pergi, Rafli. Maafkan aku karena aku tidak sanggup bertahan lagi denganmu. Kurasa ini batas kemampuanku mempertahankan cinta kita. Aku sungguh meminta maaf karena tidak ingin melihat mama menangis karena hubungan ini. Sungguh maafkan aku, terima kasih untuk cinta dan segala yang telah kamu berikan untukku selama ini. Terima kasih telah berjuang sejauh ini demi aku. Kurasa inilah yang terbaik untuk kita berdua. Apapun yang terjadi, aku yakin Tuhan menyayangi kita. Terima kasih. Aku mencintaimu, dan takkan pernah berhenti. – Fani.

Membaca kalimat terakhir, Rafli sudah tidak dapat lagi menahan air matanya yang sedari tadi ditahan. Dia menangis meraung-raung hingga orang-orang yang berada di sekitar melihat ke arahnya. Tak peduli lagi dia dengan malu karena perasaannya hancur berkeping-keping. Separuh jiwanya pergi dan membawa seluruh bahagianya tanpa tersisa sedikit pun selain kesedihan yang membabi buta mencekik sekaligus mencabik dan mengiris tipis hatinya. Tidak ada lagi yang dapat dia lakukan selain meremas kencang kertas itu dan memanggil Fani yang entah pergi ke mana.

Semenjak saat itu tidak ada lagi kabar tentang Fani, dan Rafli tidak pernah bertemu dengan gadis itu.

***

Enam tahun kemudian, setelah kepergian Fani, Rafli pindah ke kota Bandung untuk menekuni usahanya sebagai salah satu pemilik restoran yang sedang berkembang pesat –sekaligus meninggalkan segalanya tentang gadis itu. Rafli merintis usaha restoran yang dia bangun dari nol. Uangnya berasal dari tabungan yang dulu dia impikan untuk pre-wedding bersama Fani.

Restoran milik Rafli terletak di kawasan Dago, setiap harinya selalu ramai pengunjung. Pengunjungnya kebanyakan karyawan kantoran dan anak muda kelas mengah, apalagi saat jam makan siang dan sepulang kerja. Selain itu, di samping restorannya, Rafli membuka distro pakaian yang dijalaninya dengan salah satu temannya yang lulusan International Fashion Academy, Perancis. Distro itu menerusi side job lamanya karena hingga kini Rafli masih gemar mendesain gambar baju ketika mempunyai waktu luang. Temannya mengadaptasikan mode pakaian eropa dengan desain pakaian anak muda Bandung, sehingga desain-desain pakaiannya cukup berbeda dari distro-distro kebanyakan. Kabar baiknya juga, Bandung adalah salah satu kota berkembang yang mengkolaborasikan antara fashion dan musik. Itulah yang membuat distro miliknya juga tak kalah berkembang pesat dengan restorannya.

Sekarang Rafli sukses dengan kedua usahanya di tengah umurnya yang menginjak dua puluh enam tahun. Meskipun waktu terus berjalan, pada kenyataannya, Rafli belum benar-benar bisa melupakan Fani. Dia masih memikirkan kabar dan keadaan Fani. Tanpa gadis itu, dia tidak mungkin karirnya bisa menjadi seperti ini. Pria itu masih mencintai gadis yang mempunyai nama panjang Stefani Christiani tersebut.

Di suatu ketika, saat Rafli sangat merindukan Fani di tengah kesibukannya mengurus restoran, dia menulis puisi tentang cintanya terhadap gadis itu dan membacanya sesekali saat rindu bergerumul di dalam dadanya.

Doa tentang kita sudah terlalu sering kurapalkan.
Hingga mungkin Tuhan hampir bosan mendengar permohonan yang berulang kali kuucapkan.
Sejadah usang pemberianmu masih kusimpan, menjadi saksi bisu tentang percakapan malam.
Kuhidupi rinduku dengan rasa nyeri yang kupelihara hingga detik ini.

Cinta, akankah hadirmu memang benar ada di antara perbedaan namaNya?
Masihkah kau ingat pada pukul sepuluh pagi kau berdoa menggenggam salibmu?
Masih kuingat pada pukul dua dini hari, jemariku menggenggam tasbihku.
Masih sering kusebut nama panjangmu empat puluh satu kali, kemudian mengucap amin pada rakaat terakhir.

Hanya demi satu pengharapan iman; cinta kita dipersatukan.

Sekarang puisi itu tersimpan rapih di dalam dompetnya. Kertas yang menjadi bukti kesetiaannya untuk gadis itu terlipat pada selembar foto yang merekam senyum Fani.

***

Akhir tahun telah tiba, seperti biasa, Bandung pasti kebanjiran wisatawan pengendara plat nomer B yang liburan ke berbagai tempat, tak terkecuali Dago. Rafli enggan pulang ke Jakarta meskipun dia sangat merindukan keluarganya. Selepas kepergian Fani, Rafli memutuskan untuk kembali pulang ke rumahnya di daerah Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Ibu dan ayah Rafli sangat senang sekali anaknya pulang ke rumah setelah sekian lama tidak pulang. Orang tuanya sebenarnya mengetahui peristiwa menyedihkan tersebut dari salah satu teman Rafli, tetapi mereka lebih memilih untuk tidak pernah membahasnya. Saat mengetahui Rafli sedang membangun usaha restorannya. Mereka hanya bisa mendukung dan mendoakan anak laki-lakinya itu.

Suasana siang di jalan Dago yang semakin meramai. Rafli mengendarai mobil Honda City-nya dengan kecepatan sedang seraya menikmati suasana sepanjang jalan tersebut. Udara Bandung yang segar membuatnya menurunkan kaca pintu kanan mobil. Rafli hendak menuju restorannya untuk memantau beberapa pegawai barunyanya daripada dia berdiam diri di rumahnya. Sebagai bos, tentunya dia memiliki tanggung jawab untuk mengontrol keadaan restoran. Dia tidak ingin ada kejadian memalukan yang terjadi di saat restoran sedang ramai.

Sekitar dua puluh menit Rafli berkendara, akhirnya dia tiba di parkiran restorannya. Setelah mematikan mesin mobil, dia berkaca sejenak untuk merapikan rambut dan kemeja biru kotak-kotak yang dia kenakan. Setelah sudah merasa rapi, barulah Rafli keluar dari mobilnya dan berjalan santai menuju restoran.

Sambil berjalan, dia tersenyum mengingat-ingat restoran ini saat pertama kali didirikan hingga sudah berjalan hampir dua tahun. Perpaduan antara nuansa modern dan klasik menjadikan restoran ini terkesan elegan dan banyak disukai orang. Dinding restoran yang berwarna biru langit tampak teduh. Di beberapa sudut dinding terdapat tiga lukisan besar menggantung. Di dekat pintu masuk terdapat satu lukisan penari bali. Pada ruang tengah tedapat dua; satu lukisan pacuan kuda dan satunya lagi replika monalisa. Tidak lupa Rafli menambahkan fasilitas wifi yang kencang untuk membuat para pengunjung betah.

Saat Rafli menghampiri meja kasir dan menyapa pegawai yang bertugas di sana, ada seorang anak kecil laki-laki berumur sekitar tiga tahun yang berlari ke arahnya dengan tergesa-gesa. Rafli tidak terlalu memperhatikan anak kecil itu karena dia sedang mengobrol dengan supervisor restorannya untuk menanyakan kinerja pegawai baru. Tetapi, tiba-tiba anak kecil itu terpeleset jatuh ke lantai sekitar dua meter dari tempatnya berdiri, dia langsung menghampirinya.

Anak kecil itu menangis. Rafli langsung menggendongnya. “Cup…, cup…, cup. Jangan nangis ya. Cowok nggak boleh cengeng…,” hiburnya dengan wajah semringah. Anak kecil itu yang bertubuh gemuk dan berkulit putih dibalut kaus putih dengan celana pendek berwarna krem. Pipinya tembam seperti bakpau dengan mata sipit oriental. Lucu sekali, membuat Rafli gemas.

“RAFKAAAA! Kamu jangan lari-larian nanti jatuh.” Tiba-tiba seorang wanita setengah berteriak dari ruang tengah restoran beranjak dari kursinya dan sedikit berlari menghampiri Rafli yang membelakanginya.

“Duh, makasih ya, Pak. Maaf, anak saya nggak bisa diam daritadi lari-lari terus,” ucap wanita itu dengan nada bersalah.

Suara itu… Jantung Rafli langsung berdegup kencang seperti pacuan kuda.

Rafli membalikkan badannya menghadap ke arah asal suara tersebut. Matanya terbelalak melihat wajah wanita itu.

“Kam…kamu…?” ucap Rafli terbata-bata tak percaya. Kakinya seketika terasa lemas. Beruntung dia tetap kuat berdiri dengan posisi masih menggendong anak kecil bernama Rafka itu.

Wanita yang menjadi ibu dari anak itu pun sangat terkejut melihat sosok pria di hadapannya. Dia menutup mulutnya sambil menggeleng tidak percaya dan langsung air mata deras mengucur ke pipinya.

“Raf…, fli. Raf…, li. Kamu kah?” tanyanya dengan terisak pilu. Tangannya yang menunjuk Rafli menggantung di udara. Wanita itu adalah Fani.

Dalam gendongan Rafli, Rafka yang tadinya menangis malah menatap heran ke arah ibunya. Belum bisa mencerna kejadian yang sedang terjadi di depannya.

“Oh, ini anak kamu toh, Fan. Diawasin dong, untung aja gak kenapa-kenapa,” kata Rafli spontan mengucapkan kalimat itu ketika terdengar bisik-bisik dari meja kasir dan beberapa orang yang sedang makan di sekitarnya dengan tatapan curiga.

Fani masih berdiri mematung di hadapan Rafli, tidak mampu mengeluarkan sepatah kata apapun untuk menjawab. Rafli hanya tersenyum getir melihat seseorang yang masih dia sangat cintai berdiri di depannya.

Tidak lama kemudian, seorang pria berwajah Tionghoa berbadan tegap dengan rambut klimis dan mengenakan kemeja hitam melangkah menghampiri mereka bertiga. Pria itu memandang heran ke arah Fani. “Ada apa, Mah?”

Fani segera menyeka wajahnya dan menggelengkan kepala. “Gak apa-apa, Pah. Tadi Rafka hampir kepleset. Saking panik ngeliatnya mama jadi nangis,” kilahnya yang jelas-jelas berbohong. Tidak mungkin Fani menjelaskan alasan sebenarnya mengapa dia menangis.

“Oh begitu, kirain ada apa. Rafkanya diawasin nanti celaka,” kata pria itu kepada Fani. Sekarang dia memandang Rafli yang menggendong anaknya. “Ini siapa, Mah?”

Mendengar kalimat tanya tersebut jelas sudah terjawab semua pertanyaan Rafli mengenai keadaan Fani selama ini. Tiba-tiba saja hatinya terasa tertusuk-tusuk pisai tumpul. Namun dia malah tersenyum memandang suami-istri di hadapannya sambil pelan-pelan menurunkan Rafka. Dalam sakit yang mendera tanpa aba-aba, Rafli merasa lega melihat Fani ternyata baik-baik saja.

“Anu…, inii…–” Fani tergagap, tidak tau harus berkata apa.

“Kenalkan, saya Rafli, teman Fani saat kuliah,” potong Rafli seraya menjulurkan tangan kanannya untuk mengajak berjabatan dengan suami Fani.

Suami Fani memandang curiga melihat Rafli yang mengetahui nama istrinya dan bahkan menggendong Rafka, tetapi dia membalas jabatan tangan Rafli. “Saya Charles, senang berkenalan dengan anda,” katanya singkat.

Rafli tersenyum dan memasukkan kedua tangannya ke saku celana, sedikit menjaga jarak. “Saya pun begitu, senang berkenalan dengan anda,” balas Rafli singkat.

Pandangan mata Rafli memperhatikan Fani sekilas yang menundukkan kepala. Sekarang pandangannya pindah memperhatikan  Charles, gemuruh emosinya memuncak mengingat pria inilah penyebab berakhirnya hubungan dia dengan Fani. Tetapi emosi itu langsung menguap entak ke mana setelah melihat keberadaan Rafka.

Rafka menengadahkan kepala, melihat Rafli dengan tatapan penasaran. Rafli sadar sedang diperhatikan, dia berjongkok menyetarakan tingginya dan , “Adik, kenalin nama om, Rafli. Temen mama Fani dulu.” Rafli menggenggam tangan kecil Rafka dengan lembut sambil memperhatikan wajah dan mata anak itu yang ternyata persis sekali dengan milik ibunya.

“Rafka kalo udah gede jagain mama Fani yah,” lanjut Rafli sambil tersenyum lebar. Charles memandang Rafli yang sedang berbicara pada anaknya dengan seksama, rasa-rasanya dia pernah mendengar nama tersebut.

Lain hal dengan Fani, perasaannya tak menentu antara senang dan sedih. Senang karena bertemu dengan Rafli lagi, tetapi sangat bersalah mengingat dia telah meninggalkan Rafli dengan sepihak dulu. Nyeri yang dahsyat merambat di hatinya. Fani tidak tau harus berbuat dan berkata apa.

Tuntas sudah semua pertanyaan dan penantian Rafli untuk bertemu Fani. Rafli sadar setelah ini dia harus benar-benar meninggalkan masa lalunya, mengingat mantan kekasihnya sudah menjadi istri orang dan mempunyai seorang anak yang tampan.

Melihat suasana yang kaku, lantas dengan mantap Rafli berkata, “Saya pamit dulu ya, Fan, jaga diri kamu baik-baik ya. Pak Charles, tolong jagain Fani sama Rafka kecil. Terima kasih,” pesannya, kemudian meninggalkan mereka bertiga.

Charles terdiam mendengarkan pesan dari Rafli. Setelah memutar otak beberapa saat, Charles kini ingat siapa Rafli, tetapi setelah mendengar ucapan pria itu, dia mengangguk mengiyakan, tidak ingin sekalipun membalas atau membahas maksud pesan Rafli. Sedangkan, Fani sedang membersihkan sisa-sisa air mata di pipinya. Dengan mata sembab, dia menggendong Rafka yang berdiri di kakinya. Lalu, Fani meminta Charles untuk bergegas pergi dari restoran ini.

Sementara itu, Rafli masuk ke ruang kerjanya dengan perasaan lega. Pertanyaan terbesarnya sudah terjawab, dan doa yang paling ia harapkan tidak terkabul. Dia tidak menyalahkan Tuhan atas kenyataan yang terima sekarang. Inilah jalan terbaiknya dan dia harus tabah mengetahui Fani bukanlah jodohnya. Dengan begitu dia memaafkan masa lalunya.

Kini Rafli tau tentang pertanyaan terakhir yang diucapkan Fani.

Semua yang terjadi pasti telah direncanakan dengan sangat baik oleh Tuhan, meskipun dalam namaNya yang berbeda. Selalu ada maksud yang baik dari perpisahan, walau pun ada hati yang tidak selamat. Nyatanya, Fani sudah bahagia dengan Charles dan Rafka. Kini tinggal tugas Rafli merapikan masa depan dengan seseorang yang baru untuk mendampingi hidupnya.

Kita memang pernah ditakdirkan bersama, tetapi tidak ditakdirkan untuk bersatu.

Tanpa terasa, beberapa tetes air mata pun turun ke pipinya ketika kalimat itu terlintas dipikirannya, sekali lagi, Rafli berusaha tegar. Dia mengambil dompetnya dari saku celana dan mengeluarkan kertas puisi beserta foto Fani, lalu meletakkan kedua benda itu di meja kerjanya.

Rafli memperhatikan kertas itu dengan seksama, mengingat kembali perasaan yang dia rasakan saat pertama kali dia menulis puisi itu. Dia membaca puisi itu sekali lagi untuk terakhir kalinya dengan suara pelan, lalu mengecup foto Fani penuh cinta dan mengakhirinya dengan doa.

Tuhan, terima kasih untuk jalan terbaik yang Engkau berikan. Aku sadar terlalu mencintai Fani dan berharap terlalu tinggi hingga hampir melangkahiMu. Maafkanlah hamba yang selalu egois memaksa ingi bersatu dengannya dalam setiap doa. Berikanlah hamba kekuatan dan kebahagiaan baru untuk melanjutkan hidup. Aamiin.

Rafli sudah mengikhlaskan segalanya.

Advertisements

9 thoughts on “Di Ujung Jalan

  1. Aku ada di posisi itu, baru berjalan setahun lebih 3bulan tapi pihak orangtuaku tidak merestui, tapi aku dan dia tetap nekat mempertahankan sampai akhir :’) makasih inspirasinya kak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s