Merayakan Kehilangan

asd

sumber foto: http://images.rapgenius.com

Malam semakin hingar dengan suara kesunyian. Bunyi kaki jangkrik yang bergesek bersatu padu dengan keheningan. Wajah kusam, rambut berantakan, mata yang melotot bak burung hantu yang lelah terjaga, sebotol bir hitam, serta udara dingin yang lebih tajam dari pisau pembelah daging seakan belum cukup menujukkan ketersiksaan pikiran yang kalut.

Mengecap kepahitan pada tiap hela napas, memahami rekaman kebisuan dalam diri tak pernah sesederhana permintaan maaf seorang bocah yang tertangkap basah mencuri roti. Tak penting seberapa damai keadaan atau pun sesahih apapun tingginya pengharapan apabila banyak doa yang mengendap pada sisa ingatan yang konon menumpuk pada leher langit demi mengantri pengabulan.

Kenangan seolah algojo bengis yang menghakimi kepalamu. Desau peluh di pori-pori kulit rindu enggan lagi merengek seperti bayi kecil yang ingin merayakan air susu ibu mengingat ancamannya. Jantungku mengabaikan panggilan lelah seluruh nadi atas kehilangan yang terpaksa kuterima meskipun logika menyangkal hati yang bersikukuh mempertahankan idealismenya bahwa kau masih ada.

Dan aku, hanya seorang pecundang yang geram ingin menyangkal naskah takdir. Kukira aku takkan senestapa ini setelah kepergianmu yang telah lama dari sisiku. Seandainya saja bukan waktu atau keadaan yang kau jadikan kambing hitam untuk penyesalan jenjang kakimu.

Pada mulanya kita tak lebih dari seorang pendongeng yang terlalu percaya keajaiban kata semoga. Tetapi sorot matamu selalu menyiratkan arah keganjilan mengenai cerita yang sembunyi-sembunyi kau tunjukkan ketika terlelap. Lewat mimpi kau mengajarkanku menjahit kebahagiaan tanpa takut ada benang kesedihan yang tak sengaja terikat. Lewat mimpi juga kau menceritakan tentang kisah lubang jalan yang meresapi tiap bulir hujan yang menciptakan genang sehingga kita dapat bercermin lewat sisi yang lain.

Demi menyelamatkan alur kehidupan yang hampir punah, kau obati lukamu dengan kebersamaan kita. Nyatanya, kau lihai berbohong pada janji yang sudah berteriak kegirangan suatu hari akan ditepati. Kau malah memilih mendidihkan darah seluruh tubuhmu, kemudian pergi tanpa sedikit pun meninggalkan pesan agar aku bangkit lagi dari keniscayaan.

Persetan dengan kehidupan, katamu. Itu kalimat umpatan yang terakhir kali kudengar dari bibir tipismu yang berwarna merah lebam karena tak henti-hentinya mengecup kekosongan.

Kini, aku berdiri dengan kedua lengan menjaga kepalaku agar tetap tegak tanpa harapan di trotoar jalan. Menatap bayanganmu yang sedang melambaikan tangan untuk menyapaku di bawah lampu penerang. Kau tak tau di dalam pikiranku sudah ada kenangan yang sedang duduk bersila dengan senyum terbaiknya. Dia siap membunuhku dari dalam kapan saja hanya dengan menghunuskan pedangnya jika aku menunjukkan gerak-gerik menjudikan sesuatu di dalam keikhlasan.

Inilah yang kumaksud merayakan kehilangan.

Advertisements

3 thoughts on “Merayakan Kehilangan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s