Kenapa Kau Bertanya?

cute-love-quotes-question-157

sumber: cutequestion.com

Ketika menulis ini aku sedang menikmati secangkir kopi latte dengan dua bungkus kecil gula cokelat. Sambil menunggu malam meninggi, aku melihat ke sekeliling kafe. Beberapa pasang insan yang berpacaran, dua barista yang sedang sibuk dengan meracik kopi, dan sekumpulan ibu-ibu yang sedang bergosip dengan suara tawa yang lebih mengganggu daripada pengamen jalanan yang bernyanyi asal-asalan.

Sembari menikmati beberapa tegukan kecil kopi yang kupesan, aku menatap deretan tombol keyboard laptop yang berwarna hitam dengan perasaan yang aneh. Pikiranku menerawang…

Pada suatu malam, kurang lebih pukul satu lebih dua puluh, aku baru saja tiba di rumah. Sebelumnya, aku baru saja bertemu dan berkumpul sambil menikmati kopi dengan beberapa teman di kafe yang sama dengan tempatku menulis tulisan ini. Dengan pikiran yang berkecamuk, aku mencoba tetap mengontrol diri agar terlihat baik-baik saja agar topik obrolan kami tidak terganggu.

Setelah memasukkan motor ke dalam rumah, aku tak lantas membuka pintu kamar dan melempar diri ke permukaan kasur untuk segera tidur. Aku memilih merebahkan diri di sofa ruang tamu dengan keadaan gelap gulita. Isi kepalaku sedang ribut sekali hingga terciptalah ini.

BuYDNKVCEAEniCs

Setelah tulisan itu tercipta, tiba-tiba muncullah pertanyaan ini.

“Bagaimana jika kau mencintanya, namun kau ragu dengan dirimu sendiri?

“Bagaimana jika kau mencintainya, namun kau takut cintamu diabaikan?

“Bagaimana jika kau mencintainya, namun kau berpikir nantinya hanya akan berakhir sia-sia?

Bagaimana?

Kalimat tanya itu seolah tak habis menggerogoti pikiranku yang sudah lelah dan ingin terlelap. Aku mencoba mencerna jawaban yang tepat untuk semua pertanyaan itu, namun aku malah balik bertanya…

Jika kau memang mencintainya, kenapa kau bertanya?

Mungkin karena kita tak ingin membuang waktu untuk mencintai orang yang salah atau dalam keadaan yang salah. Mungkin karena kita tak ingin patah hati lagi. Mungkin karena kita melihat diri kita sebagai seorang yang tidak memiliki apa-apa. Begitu kan? Atau mungkin karena kita merasa jatuh cinta pada seseorang setelah sekian lama mati rasa?

Kurasa, semua pertanyaan itu hanya terjawab dengan keyakinan yang lahir dari dalam hati kita sendiri. Kita hanya harus yakin dengan perasaan sendiri. Kita hanya harus berani mengambil risiko bertaruh harapan jika nantinya gagal. Dan yang terpenting adalah…, kita harus berani memperjuangkannya.

Orang yang jatuh cinta sejatinya tidak memiliki apapun selain rasa cinta itu sendiri.

Satu-satunya orang yang mengerti keadaan adalah diri kita sendiri. Kita hanya harus yakini. Jangan menjudikan harapan dengan prediksi-prediksi yang tercipta dari rasa penasaran. Jangan merendahkan diri dengan membandingkan diri dengan orang-orang lain yang juga mencintainya. Lawan rasa takut dan semua trauma itu.

Mencintai seseorang dengan sebaik-baiknya bukanlah perkara mudah, karena kita harus berkali-kali berhenti menyerah.

Jika pada akhirnya memilih menyerah, entah sebelum atau sesudah mencoba. Siapkah kamu tetap mencintainya tanpa harus mendengar suara tawanya, melihat senyumnya, mengenggam tangannya, mengecup keningnya, dan memeluk tubuhnya?

Siapkah kamu melihat dia dibahagiakan orang lain? Siapkan kamu mencintainya hanya dengan berdoa?

Silakan tanya pada dirimu sendiri.

Advertisements

2 thoughts on “Kenapa Kau Bertanya?

  1. Ka Falen, bingung. Kalau kejadiannya mirip kaya gini, apa yang harus dilakukan?
    Ohiya, setelah ngecak-ngacak blogmu, suka banget sama tiap kata-katanya. Terima kasih telah menginspirasi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s