Di Antara Kalian

photo 2

“Bagaimana keadaanmu sekarang?” Ray bertanya kepadaku seraya menyesap minumannya pelan dan memandang ke jendela. Udara dingin di dalam kafe Dunkin Donuts kecil yang terletak tepat di sebelah pom bensin di bawah fly over jalan TB Simatupang ini membuat percakapan kami menjadi dingin, ditambah dengan suasana yang sepi. Keningnya berkerut samar. Aku melihat raut wajahnya yang menyiratkan cemas, jelas sekali. Pasti ia telah menunggu lama pertemuan ini.

Aku memutar leher ke belakang, melihat jam dinding dan sekilas seorang pria yang menggunakan jaket hoodie hitam yang duduk di belakang kami. Sepertinya pria berjanggut itu menguping obrolanku dengan Ray. Aku tidak suka jika ada orang yang memperhatikanku ketika sedang berbicara serius.

“Baik-baik saja, Ray, kamu sendiri bagaimana?”

“Hmm…, bisa kau lihat sendiri, Lani,” gumam Raya lesu. Tatapannya berubah menjadi sendu. Aku tidak tega dengan keadaannya sekarang.

“Maafkan aku, Ray.”

“Sudahlah, bila itu memang pilihanmu dan membuatmu bahagia. Aku merelakanmu. Kembalilah pada Jeff,” kata Raya sambil mendongakkan kepala.

Aku tersenyum getir, menatap Ray yang dulu terlihat gagah kini menjadi rapuh.

Tiba-tiba dadaku sesak dengan rasa bersalah yang begitu besar. Raya sangat mencintaiku, dan aku pun sebenarnya mencintainya. Hubungan kami seharusnya sudah berjalan tiga tahun pada Februari kemarin. Namun mendadak menggantung ketika Raya pergi ke Batam bulan September lalu untuk mengurusi perusahaan cukai keluarga karena ayahnya sakit. Aku sendiri paling tidak bisa menjalin hubungan long distance relationship. Karena aku trauma dengan hubungan itu.

“Iya, Ray, sekali lagi maafkan aku,” ucapku sambil menggenggam tangannya. Raya tidak berkutik sedikit pun atau berbicara. Dia hanya menatap kedua mataku dengan sisa-sisa harapan yang dimilikinya terhadapku. Aku melihat jelas kegelisahannya yang tidak merelakanku kembali kepada Jeff.

Aku hanya mencoba untuk mengakhiri hubunganku dengan Raya secara baik-baik. Aku tidak ingin menjadi musuh setelah hubungan ini benar-benar berakhir. Aku ingin tetap menjaga hubunganku -sebagai teman- dengan Raya. Pria itu adalah salah satu orang yang paling baik dalam hidupku. Seorang kekasih yang selalu ada di saat aku membutuhkannya. Kekasih yang sangat mencintaiku bahkan melebihi cintanya terhadap dirinya sendiri. Namun, maafkan aku, Ray, aku tidak dapat membohongi perasaanku bahwa aku masih mencintai Jeff.

Dulu, sebelum berpacaran dengan Raya, aku menjalin hubungan LDR dengan Jeff selama setahun. Hubunganku dengan Jeff tidak bisa dikatakan berjalan mulus karena pria itu sangat sibuk bekerja part time sambil mengambil beasiswa kuliah di Australia, sedangkan aku kuliah di Depok. Aku begitu mencintai Jeff hingga menyanggupi diri menjalani LDR walaupun terpaksa. Meskipun dengan kesibukannya gila karena harus membagi waktu antara kerja dan kuliah, Jeff tetap menjaga komunikasi denganku. Tiga hari sekali Jeff menelponku atau bertatap muka via Skype dan berbicara tentang hal apa saja hingga berjam-jam. Tapi itu tidaklah cukup bagiku. Aku ingin kehadiran nyata Jeff. Aku ingin Jeff berada di sampingku ketika aku merindukannya. Aku tidak suka sendiri dan merasa kesepian.

Singkat cerita, aku dan Jeff bertemu di suatu acara lomba melukis tingkat nasional di Jakarta, tepatnya di Istora Senayan. Aku begitu tergila-gila dengan pria yang bisa melukis. Saat itu Jeff menjadi salah satu finalis acara tersebut. Dia melukis sebuah gambar seorang wanita berambut panjang yang sedang memegang gitar. Lukisan Jeff terpajang dan dipamerkan pada susunan galeri acara itu.

Wanita di dalam lukisan itu berwajah oval dengan warna merah dan memiliki satu mata berwarna oranye yang menunjukkan ekspresi sendu. Tubuh wanita itu berbentuk kubus-kubus yang bersambung dari enam persegi dengan berbagai macam warna yang dipadukan sedemikian baik. Background lukisan itu sendiri kombinasi warna merah-biru-hijau. Aku tidak begitu memahami makna lukisan Jeff, tapi aku bisa merasakan keindahan dan misteri di balik wajah sendu wanita di dalam lukisan itu.

Aku melihat judul lukisan itu  tepat di bawah bingkai.

Woman with guitar, by Jeffry Andrean.’

“Lo tau makna lukisan itu?” Sapa seseorang dari belakangku.

Aku memutar badan dan melihat seorang pria berambut gondrong dengan wajah tampan namun kusam. Pria itu memiliki kumis dan janggut tipis yang membuatnya terlihat menawan.

“Nggak. Gue gak begitu ngerti tentang seni lukis, tapi gue suka dengan lukisan.”

“Itu lukisan gue,” ucap pria itu dengan senyum bangga. “Ya. Gue Jeffry Andrean”, lanjutnya seraya memamerkan deretan gigi putih di balik bibir tipisnya yang berwarna merah kehitaman. Dia berkata itu seakan-akan tau pertanyaan yang akan kulontarkan.

“Ohhh…”

“Lo sendiri namanya siapa?” Jeff menyodorkan tangannya untuk berjabatan.

Aku memandangnya sekilas, ada rasa gugup yang memeluk benakku. “Gue…, nama gue Lani,” jawabku dan menjabat tangannya.

Jeff mengusap rambutnya yang gondrong, lalu berkata, “Lukisan itu terinspirasi dari salah satu karya Pablo Picasso.”

Pantes, kalo gak salah Picasso itu aliran kubisme kan?”

“Iya. Wah, lo keren, Lan, nggak banyak cewek yang tau tentang lukisan Picasso lho,” kata Jeff memujiku. Senyumnya mengembang, sedangkan pipiku memerah.

Semenjak perkenalan itu, kami pun berkenalan lebih jauh. Aku dan Jeff menjalani hari-hari bersama sebagai mahasiswa jurusan seni. Setiap akhir pekan, Jeff mengajakku pergi ke tempat-tempat seni yang memamerkan lukisan seperti Museum Universitas Pelita Harapan 3 yang terletak di Tanggerang, atau bermain ke markas teman-temannya mahasiswa seni lukis IKJ.

Jeff pernah bercerita bahwa dia tergila-gila dengan Picasso sehingga dia mendalami kubisme. Dan satu hal yang tidak pernah kulupakan dari Jeff adalah dia memberikanku sebuah lukisan potret diriku yang tidak sengaja tertidur di kosnya. Lukisan itu dia berikan sebagai hadiah hubungan kami yang kala itu menginjak setengah tahun.. Jeff memberi judul lukisan itu ‘Lady With Sharp Eyes’, karena saat itu aku menggunakan eyeliner sehabis pulang bermalam Minggu dengannya.

Hingga akhirnya hubungan kami merenggang pada bulan ke delapan, kami bertengkar hebat karena selama dua minggu Jeff tidak mengabariku atau membalas pesanku. Salahku memang, aku tidak bisa bersabar menunggunya menyelesaikan kuliah di sana. Tetapi aku pun merasa tersika dengan perbedaan zona waktu yang membuat kami jarang bertemu. Saat hubungan kami menginjak setahun, aku memutuskan untuk mengakhiri hubungan ini sepihak meskipun Jeff tidak setuju. Aku tidak peduli dan tidak tahan sendiri. Aku tidak bisa menunggunya pulang ke ibu kota.

Dan, saat aku menjalani fase terpuruk dalam hidupku tanpa Jeff, Raya datang ke dalam hidupku membawa angin segar dan kenyamanan yang ditawarkan walaupun aku belum benar-benar melupakan Jeff. Aku memberanikan diri untuk membuka hatiku untuk Raya dan menjalani hubungan dengannya. Sejujurnya, aku terjebak dalam zona nyaman bersamanya. Raya menjadi sosok pengganti Jeff yang teramat sempurna, namun aku sadar bahwa cintaku masih milik Jeff.

Hubungan inilah yang menjadi bumerang hatiku. Hubungan ini adalah sebuah kekeliruan yang begitu besar. Ketika Raya begitu mencintaiku dengan penuh, Jeff kembali dengan sejuta rasa dan ingatan yang membuatku tak dapat menolak dan menyangkal kehadirannya. Aku tau, bahwa aku seorang yang egois untuk kedua pria yang mencintaiku kini.

“Sudah pukul sepuluh, aku rasa sudah waktunya kita pulang,” ucap Raya membuyarkan lamunanku. Dia melepas genggaman tanganku seolah telah siap merelakanku pergi.

Aku memandang nanar wajah Raya yang tidak dapat kutebak ekspresinya. Antara marah, kecewa, dan sedih. Rasa bersalah di hatiku kian membesar ketika kalimat perpisahan yang terbentuk di dalam pikiranku tertahan di lidah. Aku…, aku benar-benar bodoh.

“Ray…” Aku menggenggam lagi tangan Raya dengan senyum yang berusaha menguatkannya.

Raya menarik kedua tangannya perlahan. “Tak apa, aku memaafkanmu, Lani. Aku akan menerima semua ini dengan ikhlas, karena kenyataannya hatimu bukanlah milikku. Aku tidak ingin cinta yang dipaksakan, apalagi hanya karena kamu merasa kasihan terhadapku.”

Tiba-tiba ponselku bergetar. Ada sebuah pesan masuk dari seseorang. Raya memicingkan matanya untuk melihat sang pengirim pesan, lalu dia tersenyum getir dan mengembuskan napas berat.

“Pergilah, Lan. Kau harus tau, aku memang akan selalu baik-baik tanpamu. Namun kau juga harus tau, aku begitu membenci kalimat ini,” ucap Raya dengan nada lemah. Dia berdiri dan pergi ke meja kasir untuk membayar pesanan kami. Aku pun berdiri dan melangkah ke arah pintu keluar dengan langkah gontai. Jika saja aku tidak menuruti keegoisanku, semua ini tak mungkin terjadi.

Selesai membayar, Raya berjalan ke arahku dan menggenggam kedua tanganku dengan erat seolah-olah ini adalah genggaman terakhirnya. Sakit. Sakit sekali. Ini bukan karena genggaman tangan Raya terlalu erat, tetapi aku tau setelah ini Raya tidak akan ada lagi di kehidupanku. Hatiku teramat sakit untuk menghadapi kenyataan ini.

Di luar kafe, kami tidak berbicara sepatah kata pun di tengah semilir udara dingin malam yang sehabis diguyur hujan. Keadaan di sekitar kami pun sepi, hanya ada dua petugas pom bensin yang duduk menghadap layar televisi yang tergantung di atas kotak penyimpanan uang. Raya masih mengenggam kedua tanganku hingga sebuah mobil Toyota Yaris merah datang menghampiri kami.

Seorang pria berambut gondrong dengan jaket merah keluar dari mobil dan berjalan ke arah kami dengan tangan dimasukkan ke dalam kantong celana jeans hitam pendek. Ya, dia adalah Jeff. Pria itu berdiri di hadapan kami dengan wajah datar.

“Hai, Ray,” sapa Jeff. Sebelah tangannya dikeluarkan dari kantong celana dan mengajak Raya berjabat tangan.

Aku menunggu respon Raya yang memandang dingin ke arah Jeff. Kulihat rahangnya mengeras seperti menahan emosi. Namun dia menjawab jabatan tangan Raya dengan tetap menggenggam tanganku. Jeff menganggukkan kepalanya, kemudian membuang muka.

“Apa kabar?” tanya Jeff.

“Baik,” jawab Raya datar.

“Begitu, bagus deh. Udah kan, Lan? Yuk pulang, udah malam nih,” ajak Jeff sembari tersenyum manis. Dia tampaknya tidak memedulikan pria di hadapannya kini.

Aku terdiam menatap Raya yang menundukkan kepalanya. Aku dapat merasakan ketegangan hatinya dalam genggaman tangannya. Tidak, aku tidak ingin perpisahan seperti ini.

Aku menggigit bibir. Mencari kata-kata yang tepat untuk menyudahi suasana dingin di antara Ray dan Jeff. “Sebentar, Jeff. Aku rasa Ray masih pengin ngomong sama aku.”

Setelah aku mengucapkan kalimat itu, Raya memandang ke arahku dengan tatapan lesu. Sejurus kemudian, terdengar alunan reff lagu D’Masiv yang berjudul ‘Di Antara Kalian’ dari dalam kafe. Sebuah kebetulan yang mengoyak hatiku.

Lupakan aku kembali padanya, aku bukan siapa-siapa untukmu
Kucintaimu, tak berarti bahwa kuharus memilikimu selamanya.

Ray melepas genggamannya dan berkata, “Ya, aku rasa udah waktunya kamu pulang, Lan. Jeff juga udah jemput kamu.”

“Tapi, Ray–”

“Pergilah, dan jangan pernah kembali,” ucap Raya dengan nada lirih kepadaku, kemudian berjalan mendekat ke arah Jeff. Dia menepuk pundak Jeff pelan.

“Jagalah gadisku ini dengan baik, jangan pernah sekali pun menyakitinya.”

Jeff menganggukkan kepalanya dan menepuk pundah Raya. “Pasti, gue mencintainya dari dulu, Ray, bahkan sebelum lo mencintai dia. Gue nggak akan menyakiti Lani.”

Mereka berdua berjabat tangan dengan erat dan menyudahi perpisahan ini dengan sikap laki-laki yang sebenarnya, tanpa perlu perkelahian demi memiliki seorang wanita egois seperti diriku.

“Lan, terima kasih untuk selama ini. Untuk terakhir kalinya aku ingin bilang bahwa aku mencintaimu,” ucap Raya. Nada bicaranya terdengar lega. Dia mengecup pelan tanganku. Jeff hanya memperhatikan perbuatan Raya itu dan menganggapnya bukan sebuah kesalahan.

“Jaga dirimu baik-baik,” lanjutnya dan mundur perlahan, memberi aku dan Jeff jarak untuk berdekatan. Tetapi aku masih bergeming.

Tanpa sadar, setitik air mata menetes di pipiku dan terus menetes deras perhalan-lahan. Perpisahan ini adalah jalan terbaik untukku dan Raya. Aku tidak ingin menyakiti hatinya lebih jauh. Sudah cukup bagiku membuat Raya bersedih karena keegoisanku. Aku berharap Raya menemukan seseorang lain yang mencintainya lebih baik dariku.

Tubuhku menghadap ke arah Raya dan memeluknya erat dan mengecup pipi pria itu untuk terakhir kalinya. “Terima kasih, Raya, kamu juga jaga diri baik-baik. Aku yakin pasti kamu mendapatkan gadis lain yang lebih baik dari aku.”

“Ya, semoga. Dan semoga kamu bahagia dengan Jeff selamanya,” kata Raya tulus dengan senyumnya. Senyum yang menawarkan kenyamanan untukku saat pertama kali aku bertemu dengannya.

Jeff berjalan ke arahku dan menggenggam tanganku untuk meninggalkan tempat ini. “Sampai jumpa, Ray,” ucapnya seraya melambaikan tangan ke udara.

Aku dan Jeff masuk ke dalam mobil. Dia menyalakan mesin mobil dan membuka kaca jendelanya. “Kau pria yang hebat!” teriak Jeff kepada Raya sambil mengacungkan jempol. Raya terlihat hanya mengangguk pelan.

Mobil Jeff perlahan melaju meninggalkan tempat itu. Aku merasa suasana masih terasa tegang, sehingga aku berinisiatif menyalakan radio mobil. Jeff hanya menatap lurus ke hadapan jalan tanpa berkata sepatah kata pun.

Seketika, aku terdiam ketika radio menyala dan mendapatkan satu gelombang yang tertangkap secara otomatis dan memutar lagu ‘Di Antara Kalian’, yang memasuki lirik terakhir.

Kucintaimu tak berarti bahwa, kuharus memilikimu selamanya…

Jeff mengusap punggungku dengan sebelah tangannya dengan posisi masih fokus menyetir, menenangkanku yang menangis lagi. Hatiku terkoyak untuk kedua kalinya setelah baru saja merasa lega.

Laju mobil perlahan berkurang, Jeff menepikan mobilnya ke bahu jalan di sekitar daerah Lenteng Agung, tepatnya di dekat SMA 38. Jalanan sudah lengang karena kendaraan yang berlalu lalang mulai jarang terlintas. Jeff melepas kemudinya dan menggenggam kedua tanganku erat. Dia mengusap pipiku pelan untuk menyeka sisa-sisa air mata.

“Terima kasih telah memilihku, Lani. Kaulah tempat hatiku kembali.”

Aku menganggukkan kepala dan berkata seraya menatap wajah Jeff dengan tersenyum. “Aku pun mencintaimu, Jeff. Terima kasih telah kembali untukku.”

Dan maafkan aku, RayaAku telah mengkhianati cintamu.

*NB: Cerita terinspirasi ketika saya sedang mengisi bensin di pom bensin di bawah fly over jalan TB Simatupang, menuju pulang dari kantor. Ketika itu saya sedang mengantri giliran pengisian dan iseng memotret dua orang yang sedang mengobrol di dalam kafe Dunkin Donuts yang terletak di samping pom bensin tersebut.

Advertisements

4 thoughts on “Di Antara Kalian

  1. keren banget kak cerpennya, kalo memang menulis dari hati, hasilnya pasti akan selalu bagussss. Kk juga hebat, dapet inspirasi di mana saja dan kapan saja. tetaplah menulis kak, aku suka tulisan kk 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s