Sebelum Terlambat

tumblr_msqdmu4HEC1syb4qko1_500

source: tumblr

Sinar mentari pagi menelusup di sela-sela kaca halte busway Pejaten Phillips. Udara pukul tujuh lewat lima pagi yang masih segar begitu memanjakan paru-paru Harya yang tiba di halte itu tiga menit yang lalu. Pria itu harus sampai di kantornya tepat pukul setengah sembilan. Dia bukanlah tipe orang yang suka menyepelekan waktu di kota yang sangat terkenal macetnya seantero mancanegara, Jakarta.

Selama beberapa minggu terakhir, Harya kerja lembur di kantornya hingga larut malam karena dia memegang kepercayaan bosnya yang menitipkan proyek besar untuk akhir tahun. Tentunya Harya agak berat hati mengerjakan proyek itu jika dia tidak dijanjikan mendapat bonus besar untuk liburannya nanti. Dia berharap bonus yang diberikan bosnya itu cukup untuk menambahkan saldo tabungannya memberangkatkan kedua orang tuanya menunaikan ibadah haji.

Tujuh menit telah berlalu, orang-orang mulai berdatangan ke halte itu dengan ekspresi wajah yang masih mengantuk. Harya sendiri melihat dirinya dari pantulan kaca, mengecek penampilannya yang sedikit acak-acakan akibat kurang tidur. Bulu-bulu halus di sekitar pipi dan dagu mulai tumbuh di wajah maskulinnya dan harus segera dia cukur agar tidak terlihat berantakan. Dia tidak suka memelihara janggut. Rambutnya yang lurus baru saja dia cukur rapi seperti model rambut salah satu personil band Maroon 5, Adam Levine. Saat dia sadar ada salah satu penumpang yang memperhatikannya, Harya mengalihkan pandangannya dari pantulan kaca ke arah loket. Tiba-tiba kedua matanya tergelitik saat melihat seorang gadis yang memiliki rambut ikal tiba sedang membeli karcis Transjakarta.

Gadis itu menenteng sebuah map berwarna hijau tua di tangan kirinya, dan tas Gucci biru yang dikalungkan pada tangan kanannya. Dia terlihat sedikit kerepotan. Gadis itu  mengenakan kemeja putih bermotif kotak biru yang digulung sesiku. Rok hitam selututnya memperlihatkan jenjang kakinya yang putih mulus dan dipadukan dengan sepatu hak yang berwarna senada. Ah, dia memiliki lesung pipi di sebelah kiri ketika tersenyum menerima uang kembalian dari petugas karcis.

Sambil berdiri dengan posisi kedua tangan dimasukkan ke dalam kantong celana, Harya diam-diam memperhatikan gadis itu yang kini sedang berkutat dengan ponselnya di antara orang-orang yang berada di dalam halte. Meskipun pandangannya sesekali terhalang, Harya dengan jelas dapat melihat wajah cantik gadis itu. Harya memicingkan kedua matanya. Gadis itu tiba-tiba mengangkat telepon, dan Harya memberanikan diri untuk berdiri tidak terlalu jauh dari gadis itu.

“Halo? Iya, Li, aku udah di halte kok. Sekitar setengah jam lagi sampai,” ucap gadis itu pada lawan bicaranya di sebrang sana.

Bus Transjakarta yang ditunggu para penumpang tiba, namun gadis itu masih fokus dengan panggilannya. Harya agak sedikit ragu ingin melanjutkan acara nguping paginya itu dan naik bus berikutnya, atau mengakhirinya dan segera melangkah masuk ke dalam bus itu untuk segera sampai ke kantornya yang terletak tidak jauh dari Pasar Festival. Harya memilih opsi kedua, dan melangkah masuk ke dalam bus.

Dalam hitungan kurang dari sepuluh detik petugas yang berjaga di pintu bus mengisyaratkan penumpang untuk mengatur posisinya masing-masing. Pintu bus mulai perlahan tertutup. Dari posisinya yang sedang berpegangan pada tali gantung, sekelebat, Harya melihat gadis itu sedang mengakhiri panggilannya dan tergesa-gesa memasukkan handphone-nya ke dalam tas.

“EH! Tungguuu!” Teriak gadis itu seraya setengah berlari dan hendak melompat masuk.

Otak Harya otomatis mengiterpretasikan kejadian buruk apa yang akan terjadi jika gadis itu melompat masuk dalam keadaan pintu hampir tertutup.

“PAK SUPIR! BUKA PINTUNYA!” Perintah Harya. Petugas berkumis tipis yang berjaga di pintu memandang ke luar, ke arah gadis yang sedang berlari. Para penumpang yang sedang sibuk dengan urusannya masing-masing sontak melihat Harya yang kini menahan salah satu sisi pintu bus dengan kedua tangannya agar terbuka. Sang petugas yang melihat aksi Harya pun langsung reflek menahan sisi pintu yang satunya lagi hingga pintu terbuka setengah. Supir bus yang mendengar teriakan Harya langsung memencet salah satu tombol di sebelah stir yang berfungsi untuk membuka pintu.

Gadis itu melompat masuk ke dalam bus dengan wajah panik dan hampir menabrak besi yang terhubung dengan tempat duduk penumpang karena keseimbangannya goyah, untungnya dengan sigap tangan Harya melepas pegangan dari pintu bus untuk menarik tangan kiri gadis itu.

“Duh, Mbak, lain kali hati-hati ya kalau lagi buru-buru. Jangan nekat. Bahaya banget.” Harya segera menasihati perempuan itu ketika petugas yang menjaga pintu hendak menghampirinya dengan wajah gusar. Harya menggerakkan jari telunjuknya untuk memberi isyarat kepada petugas agar tidak menegur gadis itu. Si petugas pun menganggukkan kepalanya dan kembali ke posisi dia berdiri. Para penumpang yang melihat kejadian itu terlihat penasaran, beberapa di antaranya ada yang melirik tajam ke arah perempuan itu. Bus Transjakarta pun berjalan meninggalkan halte.

Gadis itu mengatur napasnya tanpa memedulikan tatapan para penumpang. Dia berusaha menenangkan diri sebelum menjawab ucapan Harya. Dia merapikan rambut dan kemejanya dengan kedua tangan, tanpa sadar kaca matanya jatuh entah di mana, dan map yang dia genggam tadi jatuh ke lantai.

“Iya Mas. Maaf tadi lagi fokus bicara dengan teman kantor saya, eh pintu busnya keburu ketutup,” jawab gadis itu dengan nada bersalah. “Terima kasih banyak ya. Tadi saya nggak mikir panjang lagi. Soalnya kalo saya naik bus berikutnya, bisa-bisa saya telat sampai kantor.”

Harya menganggukkan kepala seraya menyodorkan tangannya. “Nama saya Harya, nggak pake ‘Mas’.”

Gadis itu melirik Harya, lalu menyunggingkan senyum yang menghadirkan lesung kiri pipinya. “Saya Agia, panggil aja Gia. Terima kasih, Harya.”

“Oh yaudah gak apa-apa, saya cuma ngingetin aja, Gi,” ucap Harya sambil mengambil map milik Agia di lantai bus, kemudian menyerahkannya kepada gadis itu.

“Iya, Har, terima kasih banget ya. Kalo tadi kamu sama Pak petugas nggak buka paksa pintunya, nggak tau deh nasib aku sekarang. Astaga, kacamata aku jatuh,” Wajah Agia memelas saat menyadari pandangannya sedikit blur.

Harya terkekeh. “Iya sama-sama, Gi. Nggak apa-apa lah kacamata hilang bisa diganti kalo nyawa kan nggak bisa.”

“Iya, sementara ini kan bisa pake soft lens.

“Yup, ngomong-ngomong kamu kerja di mana, Gi?”

Agia membuka tas dan memasukkan mapnya, sebelah tangannya seperti mengambil sesuatu dari dalam tas. Sebuah kartu nama. “Ini…” Dia memberikan kartu namanya.

Harya menerimanya dan membacanya secara seksama. “Oh, kamu kerja di agensi toh. Eh alamatnya nggak jauh dari kantorku, lho.

Kening Agia mengernyit. “Iya, emang kamu kerja di mana, Har? Agensi juga?”

“Enggak, aku kerja di perusahaan multinasional di deket Pasfes. Ngurusin proyek pembangunan gitu, tapi aku punya teman yang kerja di agensi.”

“Kamu arsitek?” Agia penasaran. Kedua bola matanya berbinar memandang Harya dengan sedikit menyupit agar detail wajah pria itu terlihat jelas. Dia menyadari bahwa orang yang barusan menolongnya termasuk dalam kategori pria tampan.

“I… iya. Hehehe.” Harya menggaruk kepalanya, merasa canggung.

“WOW! Kamu keren, Har! Pagi ini aku ditolongin sama arsitek. Hahaha,” puji Agia berlebihan. Dia melebarkan senyum yang menampilkan jelas dua gigi gingsulnya. Harya pun ikut tersenyum, seakan-akan ada kekuatan magis yang membuat bibirnya bergerak sendiri.

Percakapan mereka berlanjut panjang, tanpa terasa bus Transjakarta yang mereka naiki sebentar lagi tiba di Pasar Festival, tempat Harya mengakhiri perjalanannya.

“Oh iya, Gi. Ini kartu nama aku. Nanti convo kita lanjut sambil chatting-an aja ya, soalnya aku turun di halte depan,” ucap Harya sambil menyerahkan kartu namanya. Agia mengangguk dan menerima kartu nama Harya, lalu menyimpannya ke dalam kantong kemeja yang terletak di dada kirinya.

“Agia, aku duluan ya.”

Mereka berdua pun berjabat tangan. Harya berjalan mendekati pintu busway bersama para penumpang lain sambil melambaikan tangannya ke arah Agia saat pintu terbuka.

Senyum Harya mengembang saat keluar dari bus. Dia berjalan kaki ke kantornya yang berjarak sekitar seratus meter dengan perasaan senang.

***

Suasana kantor Agia terasa sunyi. Tidak ada suara percakapan di sana, hanya ada suara keyboard yang dipencet bersahut-sahutan sepaket dengan irama mouse yang berdendang dengan bunyi ‘klik’, dan suara AC yang menguarkan udara dingin. Teman-temannya pasti sedang sibuk bercengkrama dengan pekerjaannya di kubikel masing-masing.

Gadis itu sendiri sedang fokus dengan komputer atas meja kerjanya. Jemarinya sigap memencet mouse dan keyboard sama seperti teman-temannya untuk mengerjakan pekerjaannya berupa membuat slide, surat perizinan, serta invoice. Namun sesekali dia berhenti dan menengok ke arah Nokia Xperia Z miliknya yang tergeletak hanya sejengkal dari komputernya. Sambil mengerjakan pekerjaannya, dia menanti pesan dari seseorang yang menolongnya di bus Transjakarta dua bulan lalu.

DRRTTT… ponsel Agia bergetar.

-INBOX-

‘Siang, Gi. Nanti kamu makan siang di mana?’

From Harya Setya Nugraha

Agia mendekatkan pandanganke ponselnya. Dia tersenyum saat melihat nama sang pengirim pesan. Pria itu, Harya, kini mereka berdua sering berangkat kantor dan pulang bersama. Agia tinggal bersama keluarganya di belakang mal Pejaten Village, sedangkan Damar tinggal di kos-kosan di daerah jalan Ampera, dekat SMA Gonzaga. Tidak terlalu jauh memang, namun mereka berdua jarang janjian bertemu atau jalan saat weekend karena mengurusi aktivitas masing-masing di luar jam kerja. Namun saat jam makan siang tiba, mereka selalu makan bersama.

Agia meng-klik menu ‘save’ pada aplikasi Power Point untuk menyimpan slide presentasi yang telah dia buat sejak satu jam yang lalu. Gadis itu mengetik pesan balasan sambil tersenyum.

‘Di tempat biasa aja yuk, warungnya Pak Min?

-SENT-

Lima menit berlalu. Untuk kedua kalinya ponsel Agia bergetar.

-INBOX-

Yaudah, ketemuan di sana aja ya. 10 menit lagi aku sampai.’

From Harya Setya Nugraha

Setelah membaca pesan balasan dari Harya, gadis itu segera merapikan meja kerjanya. Dengan hati-hati dia menyortir semua kertas file pekerjannya yang berpencar di meja dan membentuknya menjadi beberapa tumpukkan. Setelah dirasa cukup rapi, Agia memasukkan ponselnya ke dalam tas Gucci kesayangannya dan meninggalkan kubikel untuk makan siang, tentunya sekaligus bertemu Harya.

***

Belum ada tanda-tanda kedatangan Harya di warung Pak Min. Sejak sepuluh menit yang lalu, Agia telah berdiri di depan warung makan itu yang terletak di sebrang halte busway Plaza Festilval. Dia sesekali melihat ke arah sekitar untuk mencari-cari sosok pria itu dengan memicingkan matanya. Pandangannya terhambat setiap kali melihat objek yang jauh dari jarak lihatnya karena dia tidak sedang menggunakan soft lens. Agia melepas benda itu ketika sampai di meja kerjanya tadi pagi karena ruangan kantornya ber-AC sehingga matanya pasti sering kering. Karena jarak pandangnya yang terbatas itu, setiap kali Agia melihat ke arah sekitar atau ke objek yang dia perhatikan, gadis itu selalu menyipitkan mata untuk sedikit memperjelas fokus pandangannya.

“Hei, Gia?” Sapa seseorang dari balik punggung Agia.

Agia menoleh ke arah pemilik suara dan menemukan Joe yang berbalut kemeja hitam di hadapannya kini. Dia terperangah dengan kehadiran sosok pria itu.

“Eh, kamu Joe. Kok ada di sini?” tanya Gia menyelidik curiga. Tidak biasa-biasanya teman sekantornya itu ada di tempat seperti ini.

“Aku tadi ngeliat kamu jalan dari halte Pasfes, jadi aku samperin kamu di sini deh. Pengin nyapa aja, soalnya kita udah lama nggak ngobrol padahal sekantor. Hehehe,” jawab Joe santai.

Terakhir kali Agia melihat Joe sedang duduk berdua dengan seorang wanita di Solaria Pasar Festival sebulan lalu. Mereka terlihat dekat dan akrab. Agia menduga wanita itu adalah orang yang sedang Joe dekati. Akhir-akhir ini teman-teman kantor Agia, seperti Aulia, Resya, dan Heni ramai bergosip tentang Joe.

Dari teman-temannya itu, Agia mendapatkan informasi bahwa Joe sedang ‘ngejar setoran’ alias mencari pendamping hidup. Sebenarnya, Agia dan Joe sempat dekat setengah tahun yang lalu. Saat Agia mulai merasa nyaman dengan kehadiran Joe, namun entah karena apa pria itu perlahan-lahan menjauh darinya. Dalam dugaannya, Joe mencari wanita lain untuk didekati mengingat umurnya yang telah 27 tahun, dan tampaknya pria itu mendekati lebih dari satu wanita untuk mencari yang benar-benar sesuai kriterianya untuk menjadi pasangan hidup.

Resya dan Heni pernah bergosip tentang Joe yang sedang mendekati Alice, salah satu sekretaris di kantornya. Alice memiliki postur tubuh yang sempurna. Tinggi, putih, langsing dan memiliki wajah cantik yang mirip seperti artis Dian Sastro. Tentunya dengan kesempurnaan itu dia diagung-agungkan seluruh pria lajang di kantornya.

“Gi?” Tangan Joe dikibaskan ke wajah Agia. Gadis itu melamun.

“Eh…” Agia tersadar dari lamunannya. “Maaf Joe, tadi aku lagi nginget-inget nyimpen power bank di mana,” ucap Agia sekenanya agar dia tidak terlihat sedang berpikiran aneh.

Joe tertawa renyah seraya menggelengkan kepala dan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana bahan berwarna hitamnya.

“Kamu ada-ada aja deh, Gi. Oh iya, kamu makan siang sendirian?”

Eng…, sebenarnya sih–“

“Sendiri kan? Yaudah cari makan sama aku aja yuk di Pasfes,” ajak Joe. Pria itu menyunggingkan senyum simpul. Agia menengok ke arah sekitar untuk melihat tanda-tanda kehadiran Harya. Namun yang ditunggunya itu belum terlihat. Akhirnya Agia memutuskan untuk mengikuti ajakan Joe. Mereka berdua pun berjalan menghampiri mobil Honda Jazz RS merah milik Joe yang diparkirkan tidak terlalu jauh dari warung pak Min.

Dari kejauhan, Harya yang sedang berjalan kaki sambil menggenggam sebuah kado kecil berbentuk kotak persegi panjang. Dia melihat Agia dan seorang pria masuk ke sebuah mobil merah dan meninggalkan warung Pak Min.

***

‘Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar area.’

Sudah tujuh kali pesan dari operator provider kartu perdana ponsel Harya mengucapkan kalimat itu. Jam sudah menunjukkan pukul lima sore lebih tujuh belas menit, namun pria itu tidak melihat kehadiran Agia di halte busway Plaza Festival tempat mereka berjanjian untuk pulang bersama. Pikiran Harya terganggu dengan pertanyaan siapakah sosok pria yang membawa Agia saat jam makan siang tadi? Entahlah, Agia tidak pernah sedikit pun bercerita tentang pria yang mendekatinya atau menyinggung sedikit masa lalunya ketika sedang ngobrol bersamanya. Di kepala Harya, ada tanda tanya besar yang melayang tentang pria pemilik mobil merah itu.

***

“Halo? Harya?”

“Hai, halo, Gi? Kamu kok tadi sore aku hubungin nggak bisa?” tanya Harya, nada bicaranya jelas terdengar penasaran. Dia menyadari hal itu dan seketika mengatur intonasi nadanya agar tidak terdengar mengintrogasi.

Umm…, maaf, Har, tadi siang aku ketemu temen. Temen kantor sih, cuma aku jarang ketemu dan ngobrol bareng sama dia. Jadi tadi dia ngajak aku buat makan siang bareng. HP aku lowbat, jadi aku matiin aja, makanya nggak sempet ngabarin kamu, dan tadi siang pas sampai di warung Pak Min kamu belum datang,” jelas Agia, terdengar nada rasa bersalah di awal dan akhir kalimat.

“Oh gitu, kalo boleh tau, siapa namanya?”

“Joe, dia editor in chief di kantorku.”

“Oooh…”

“Kamu gak marah kan?”

Harya menjauhkan sejenak ponsel yang dia pegang dari telinganya untuk mengembuskan napas berat, lalu dia menempelkannya lagi. Ada rasa cemburu yang tercungkil di hatinya. Dia mulai menyadari hal itu.

“Nggak, nggak apa-apa kok, Gi. Santai aja. Hehehe.”

“Serius?”

“Iya, aku cuma khawatir kamu kenapa-kenapa aja. Soalnya kamu kan sempet nggak bisa aku hubungin. Huh, kamu bikin aku khawatir aja,” keluh Harya dengan nada kesal yang dibuat-buat.

“Iiiihh, Harya. Maaf. Iya deh janji nanti aku hubungin kamu deh kalo mendadak nggak bisa makan siang atau pulang bareng. Sekarang aku tidur dulu ya. Selamat malaaaam…”

“Hahaha. Becanda kok. Oh iya, Gi…” Harya hendak menjelaskan sesuatu, dia menggantungkan kalimat di ujung lidahnya beberapa saat. Menimang-nimang apakah ini momen yang tepat.

“Apa, Har? Ada yang mau kamu omongin?

Umm… Nggak apa-apa. Hehehe. Selamat malam.”

“Selamat malam juga.”

Tut. Panggilan berakhir.

Setelah panggilan berakhir, Harya menatap lekat-lekat sebuah kacamata minus dengan frame tipis yang terbungkus dalam kertas kado yang tergeletak di depannya. Di antara penggaris, kertas skecth putih yang dipenuhi banyak garis yang membentuk struktur bangunan, dan pensil yang terbaring di atas kertas itu.

Lampu kamar yang Harya nyalakan setengah redup membuatnya termenung. Dia berniat memberikan sebuah kaca mata untuk Agia sebagai tanda terima kasih telah mengenalkannya kepada CEO perusahaan tempat gadis itu bekerja.

Harya tau, Agia pasti belum sempat memesan kaca mata baru untuk menopang pengelihatannya karena terlalu sibuk. Namun dia tidak dapat menunggu lama karena bosnya baru saja menelponnya untuk mengabarkan paspor yang dibuat untuk keberangkatannya ke Jepang tiga hari lagi. Harya mendapat tugas yang sangat mendadak untuk mengurus proyek pembangunan kantor cabang perusahaannya di negeri sakura, dan dia tidak dapat menolak atau mengundurnya karena sudah keputusan final dan permintaan langsung dari bosnya.

Di dalam kamarnya yang kini gelap gulita, Harya melihat dengan seksama senyum Agia pada sebuah foto yang dia simpan dalam galeri ponselnya. Foto itu mengabadikan senyum Harya dan Agia yang menikmati akhir pekan lalu dengan menonton film “Her” di XXI Epicentrum. Sebelum gadis itu bertemu dengan Joe.

Napas berat baru saja terbuang. Jantung Harya berdegup kencang, dia merasa gelisah dan bingung. Dia belum tau bagaimana cara menjelaskan keberangkatannya ini kepada Agia. Dia tidak tau bagaimana nantinya respon gadis itu saat mengetahuinya. Yang jelas, Harya hanya tidak ingin pergi meninggalkan gadis itu sebelum semuanya terlambat.

Akhirnya Harya mematikan ponselnya dan menyambar bantal untuk segera memejamkan mata dan meredam pikirannya yang berkecamuk. Berharap saat terbangun esok hari, ada cara yang tepat untuk menjelaskan keberangkatannya tanpa perlu membuat gadis itu kecewa.

Meski belum tentu ada.

***

Seperti biasa, pukul tujuh pagi Harya sudah berdiri di halte busway Pejaten Phillips. Sembari menunggu kedatangan Agia, dia menikmati udara bersih pagi itu dan membiarkan kulitnya dilintasi sinar matahari yang bergerak merambat menembus kaca halte.

Sesekali, Harya mengecek jam tangan di lengan kirinya. Sudah sepuluh menit berlalu, dan belum terlihat kehadiran Agia dari sebrang halte. Pria itu sudah hapal betul cara Agia berjalan. Bila dari kejauhan ada seorang gadis yang berjalan sedikit kikuk dengan menggunakan sepatu hak rendah, itu pasti Agia. Karena dia tidak berbakat berjalan anggun selain menggunakan sepatu cats.

Ponselnya Harya tiba-tiba bergetar.

-INBOX-

‘Selamat pagi, Har. Hari ini aku berangkat ke kantor sama teman nih. Maaf ya nggak bisa berangkat bareng sama kamu. :(‘

From Agia Lestari

Agia pasti berangkat bersama Joe, pikir Harya. Rasa kecewa perlahan memenuhi pikiran dan hati pria itu. Tampaknya Agia memang sedang dekat dengan Joe.

Iya, selamat pagi juga, Gi. Yaudah gak apa-apa, kamu hati-hati ya di jalan.’

-SENT-

Tidak ada tanda pesan masuk setelah lima menit berlalu. Harya ingin sekali menelpon Agia, namun dia mengurungkan niatnya lagi, tidak ingin mengganggu kedekatan Agia dengan pria itu.

Harya menikmati perjalanan ke kantornya pagi itu dengan perasaan tidak tenang. Pikirannya khawatir memikirkan keberangkatannya ke Jepang sehari lagi. Secara perlahan namun pasti, Harya menyadari bahwa dia menyayangi Agia. Dia menyadari perasaan itu setiap kali Agia tidak sedang bersama dirinya. Dia rindu. Terlebih saat terakhir kali mereka bertemu. Harya selalu menikmati suara dan senyum Agia setiap kali gadis itu berbicara atau menanggapi godaannya tanpa menghiraukan keberadaan waktu.

Rasa nyaman yang dia rasakan semakin besar saat mereka berdua mulai intens saling bertukar kabar, dan mengobrol setiap jam makan siang. Klise memang, tetapi itulah cinta, sebuah rasa yang hadir diam-diam lewat komunikasi yang baik dan konsisten. Terlahir dari perhatian-perhatian kecil dan senyum sederhana setiap kali bertatap muka. Harya jelas merasakan itu, tetapi ia tidak mengetahui apakah Agia merasakan hal yang sama seperti dirinya. Kali ini, dia tidak ingin berharap banyak dan menebak-nebak apa yang akan terjadi pada esok hari nantinya.

Penumpang bus Transjakarta semakin ramai mendekati pukul setengah delapan. Satu persatu dari mereka memasuki bus dengan tergesa-gesa, dan Harya berada di antaranya. Dia tidak sabar untuk segera sampai ke kantor dan menyelesaikan pekerjaannya sembari menanti jam makan siang untuk bertemu dengan Agia.

Dalam hati kecilnya, Damar berharap Agia merasakan hal yang sama.

***

Thank you, Joe buat tebengannya, ya,” ucap Agia sambil membuka safety belt mobil Joe dengan perasaan senang yang mengaliri hatinya pagi itu.

You’re welcome, Gi, as my pleasure,” balas Joe. Mereka berdua saling bertatapan. Joe menggenggam lembut tangan Agia dan mengecupnya pelan. Secara spontan Agia merasa kaget dengan perlakuan pria itu. Jantungnya berdebar kencang sekali seperti kuda yang melaju dalam pacuan. Dia merasa gugup. Pipinya merona merah seperti buah tomat segar. Suasana hening di dalam mobil dan pelataran parkir yang masih sepi menjadi saksi bisu kecupan Joe yang tercipta di punggung tangan Agia.

Joe tampaknya memang kembali melakukan pendekatan dengan Agia. Dan gadis itu mulai menyukai Joe itu untuk kedua kalinya. Agia senang diperlakukan layaknya seorang ratu, dan dia nyaman dengan hal itu. Terkadang, itulah kelemahan wanita, mereka mudah tenggelam dalam rasa nyaman dengan seseorang yang memperlakukannya secara spesial. Padahal belum tentu orang tersebut melakukan hal itu untuk memenangkan hatinya. Seorang raja harus terlebih dulu mengalahkan dirinya sendiri saat hendak memilih ratu. Mengalahkan egonya yang menginginkan ratu yang sempurna seperti kriterianya. Dan, Agia adalah calon ratu tersebut.

Namun satu hal yang tidak Agia sadari, dia terlalu terlena dengan kembalinya kehadiran Joe di dalam kehidupannya. Gadis itu mulai menaruh harapan padanya, dan mulai melupakan Harya.

***

“Gi…” Joe menggenggam tangan Agia, “don’t know what I am doing for now or later, but I feel in love with you,” ucap pria itu lembut. Kedua matanya berbinar penuh harap menatap Agia yang sedang terkesima dengan ucapannya.

Agia tidak serta merta langsung menjawab pernyataan Joe. Lilin merah yang mengapung di gelas kaca cembung memantulkan wajah Agia yang memerah. Lidahnya kelu. Dia tidak mengira Joe akan menyatakan perasannya secepat ini. Ini terlalu tiba-tiba. Namun Agia tak dapat menepis rasa senang yang membuncah di dadanya.

Restoran yang dipilih Joe untuk tempat mereka candle light dinner sangat tepat. Lesan romantisme-nya sangat kental. Lampu dinyalakan temaram untuk menghidupkan kesan samar, membiarkan lilin yang menyala di meja dan pada empat tiang di belakang kursi pengunjung memberikan intimasi untuk percakapan yang bersua.

Setiap meja dilapisi kain putih dan diletakkan dua bunga mawar yang berdiri gagah pada vas kaca bening. Sedangkan, hidangan utama yang direkomendasikan adalah steak tenderloin dengan rasa lezat dan tampilan yang apik dengan porsi yang pas. Ditambah ada sepasang penyanyi pria dan wanita yang selalu siap menyanyikan lagu request dari para pengunjung di atas panggung yang terletak tidak terlalu jauh dari jejeran meja pengunjung.

So, what’s your answer for me, Gi?” tanya Joe yang masih menunggu gadis di hadapannya itu menjawab pertanyaannya.

Agia menggigit bagian bawah bibirnya, dia gugup. Pikiran dan hatinya masih belum siap dengan pernyataan Joe. Dia masih menginginkan pendekatan yang lebih jauh sebelum memutuskan untuk menjalin hubungan yang serius agar dia yakin dengan perasaannya. Namun dari intonasi nada pernyataan Joe, sepertinya pria itu bersungguh-sungguh dengan ucapannya. Agia terpejam dan mengembuskan napas sejenak untuk meyakinkan ucapan yang sudah tergantung pada lidahnya, dia dapat merasakan jantungnya berdebar kencang.

I…–” Gita tergagap sebelum melanjutkan kalimatnya.

I…, I love you too, Joe.”

Mata Joe berbinar sepaket dengan senyum lebar mendengar jawaban Agia. Dia tidak lagi merasa canggung untuk menggenggam tangan gadis yang kini resmi menjadi kekasih. Bibirnya mengecup pelan punggung tangan Agia seperti yang pernah dia lakukan di dalam mobilnya. Namun, kali ini makna kecupannya berbeda. Kecupan itu bermakna bahwa hati Agia telah dimiliki Joe sepenuhnya.

Lamat-lamat, mereka berdua tenggelam dalam lagu My Heart Will Go On yang mengalun syahdu di udara.

***

Dua minggu setelah acara candle light dinner bersama Joe, Agia merasa ada sesuatu yang hilang dalam kesehariannya. Tak ada seseorang yang mengajaknya bercanda dalam keseharian aktivitasnya yang suntuk. Seseorang yang tidak ragu menggodanya dengan wajah konyol. Seseorang yang mengajaknya makan siang bersama di warung Pak Min.

Dan seseorang itu adalah Harya.

Pria itu tidak pernah lagi menghubunginya. Agia merasa ada yang janggal dengan Harya yang mendadak hilang. Sepertinya pria itu tau dia sedang dekat dengan Joe, sehingga dia sadar diri untuk tidak mengganggu. Awalnya Agia mengira Harya sedang sibuk sehingga tidak sempat berkabar dengannya. Karena saat terakhir mereka mengobrol, Harya bercerita tentang proyek pembangunan kantor baru perusahaannya yang dia pegang, dan tampaknya pria itu sedang dalam keadaan hectic.

Agia sampai di kantornya pukul delapan, hari ini dia berangkat sendiri naik Transjakarta. Joe sedang ada tugas di luar kota selama seminggu terhitung sejak tiga hari yang lalu, sehingga Agia harus berangkat dan pulang kantor sendirian.

Saat Agia menyalakan komputernya, Heni muncul dari atas papan kubikelnya dengan wajah menggoda.

“Cieee, dari siapa tuh kadonya?”

“Hah?” Agia mengerjapkan mata, berusaha mencerna pertanyaan Heni. “Kado apa, Hen?” tanyanya bingung.

Heni cekikikan geli, lalu tatapannya menunjuk ke arah tumpukkan berkas pekerjaan Agia. “Itu kado kamu, Gi.”

Agia langsung memutar bola matanya untuk melihat ke arah berkas pekerjaannya, ada sebuah kado kecil di sana.

“Wah iya, kado dari siapa ya?”

“Lha, kan itu punya kamu. Masa kamu nggak tau sih? ” Heni menggelengkan kepalanya.

Agia menebak-nebak siapa orang yang memberikan kado tersebut, karena ulang tahunnya masih lama, empat bulan lagi. Joe, mungkin? tanyanya dalam hati.

“Aku nggak tau siapa yang ngasih, Hen,” ucap Agia kalem. Dia lebih memilih menjawab dengan kalimat itu daripada nantinya menjadi gosip teman sekantornya.

“Ya deh, aku kan cuma ngegodain kamu aja. Hihihi. Nanti kalo kamu udah tau siapa yang ngirim cerita ya.”

“Enggak! Dasaaaar kepooooo!” Agia menggerutu dan siap mencubit. Tapi Heni lebih dulu menghilang sebelum Agia melayangkan serangan cubitan ke pipi tembem temannya itu.

Agia memastikan Heni sudah tidak memperhatikannya lagi. Pelan-pelan dia membuka kertas kado itu dengan melepas selotip putih bening di setiap sudut lipatan. Tidak sampai satu menit membuka, dia menemukan sebuah kotak kacamata. Dia membuka kotak itu dan mengambil kacamata di dalamnya. Kacamata berframe tipis berwarna biru muda, mirip seperti kacamata lamanya, hanya sedikit berbeda pada bagian kacanya yang tidak terlalu tebal.

Jika memang benar Joe yang memberikan, berarti pria itu peka dengan penampilannya beberapa waktu lalu yang menggunakan soft lens. Namun Agia terkejut saat melihat ada secarik kertas putih di dalam kotaknya. Dia segera membacanya.

Dear Agia,

Aku harap kacamatanya cocok ya sama kamu. Soalnya pas aku pesen, aku lupa nanya kamu suka bentuk frame yang seperti apa. Aku cuma tau ukuran minus mata kamu pas liat kotak soft lens kamu saat kita lagi makan siang. Saat itu kamu lagi netesin obat mata. Jadi, aku inget-inget aja bentuk kacamata kamu saat kamu lagi beli tiket busway sebelum kejadian ‘lompatan gila,’ yang kamu lakuin lalu. Hahaha.

Semoga kamu suka ya, Gi. Oh iya, maaf aku nggak ngabarin kamu sebelumnya karena kamu keliatannya lagi sibuk. Sekarang aku lagi bertugas di Jepang, ngerjain proyek yang pernah aku ceritain ke kamu. Aku nggak tau kapan selesainya, tapi yang jelas semoga cepat beres.

Well, I hope you like your new eye glasses now. I’m gonna missing you, see you later.

-Harya-

Selesai membaca tulisan di kertas itu, lutut Agia terasa lemas. Dia menyadari bahwa dia telah mengabaikan Harya saat bersama Joe. Kalimat terakhir di surat itu langsung membuat napas Agia terasa sesak. Dia rindu dengan Harya, rindu akan kehadiran pria itu. Entah, Agia tak dapat menilai rasa rindu itu benar atau salah dalam keadaan ini. Melihat posisi Joe sekarang adalah kekasihnya.

Agia merindukan Harya Damar yang ceria dan aktif berbicara, mereka berdua tidak pernah kehabisan bahan untuk mengobrol, hal apapun itu. Sedangkan, Joe lebih pasif, dia hanya berbicara hal yang penting mengenai hubungan dan seputar pekerjaan. Pria itu jarang membahas hal-hal remeh yang sebetulnya menarik untuk dibahas.

Apa kabar kamu, Har? Agia bertanya pada kacamata yang dia pegang di hadapannya.

Mendadak, Agia merasa malas mengerjakaan pekerjaannya hari itu setelah melepas soft lens-nya dan menggunakan kaca mata pemberian Harya. Gadis itu lebih memilih melamun. Mengingat saat-saat bersama Harya. Dia teringat pada sebuah momen ketika Harya menegur seorang pria berwajah garang yang terlihat berniat melecehkannya saat berdesakan di dalam busway ketika perjalanan pulang ke rumahnya. Harya menyadari hal itu dan langsung berdiri di samping pria itu dan memelototinya. Tak lama, pria itu turun di halte terdekat.

“Kamu tau orang itu pengin berbuat jahat sama aku, Har?”

“Enggak sih, tapi sejak dia masuk dan berdiri, aku sekilas ngeliat ada gelagat yang gak beres pas orang itu liat ke arah sekitar, semacam cari korban gitu. Bukan menilai dari wajahnya yang sangar sih, tapi pas lagi desak-desakan dia malah deketin kamu, ya aku langsung pelototin aja. Hahaha.”

Agia tersenyum saat mengingat kejadian itu. Harya selalu peka dengan hal-hal kecil yang terjadi dengannya. Misalnya ketika mereka sedang bersama ketika hari hujan dan Agia kedinginan. Harya selalu meminjamkan jaket hitam kesayangannya untuk Agia dan langsung membelikannya obat sebelum dia sakit tanpa diminta.

Berbeda dengan Joe yang lebih sering sibuk dengan urusan pekerjaannya. Kekasihnya itu romantis dengan segala fasilitas yang dimiliknya. Dia memang selalu bisa membuat dirinya merasa nyaman dan diperlakukan layaknya ratu. Selama bersama Joe, Agia tidak pernah sekali pun menikmati suasana pinggir jalan. Seperti hal favoritnya saat jam makan siang untuk makan di warung Pak Min. Joe tidak pernah mau makan di sana kecuali Agia sedikit memaksa, pria itu lebih memilih mengajak Agia makan di restoran.

Kadang, Agia merasa Joe menganggapnya tak lebih berharga dari pekerjaannya. Untuk bertemu saja mereka harus mengatur waktu, padahal satu kantor. Sedangkan bila dengan Harya, Agia tidak perlu memberi isyarat atau kode bila ingin sekedar berbicara, karena pria itu selalu berinisiatif mengajaknya berbicara, atau bahkan bila tidak sibuk dia mengajak bertemu. Harya sudah hapal di luar kepala waktu ketika Agia membutuhkan telinga. Gadis itu merasa Harya lebih mengenal dirinya jauh daripada kekasihnya sendiri. Dan hal itu  mulai mengganggu pikirannya, dia merasa ada sesuatu yang janggal pada perasaannya dan harus segera diselesaikan.

***

CIT! CEKIT! CIT!

Suara gesekan antara lapisan hak sepatu olahraga dengan permukaan lapangan terdengar sesekali memekakkan telinga, disusul dengan bunyi rantai besi ring basket yang dimasuki bola basket yang dilempar salah satu dari enam teman Harya yang sedang bermain basket di lapangan Yoyogi Park, Tokyo. Dua teman orang Indonesia; Fahri dan Thomas, dan empat teman orang Jepang; Nakama, Hyusa, Souta, dan Ren.

Di pinggir lapangan, Harya duduk pada bangku kayu yang diapit dua pohon rimbun. Menikmati suasana sore yang teduh sembari menerawang ke dalam pikirannya yang penat. Angin yang berembus di sekitarnya mulai terasa dingin karena mulai memasuki musim gugur, membuat daun-daun layu lepas dari rantingnya dan pasrah menari di udara sebelum jatuh ke permukaan tanah. Harya berharap sepoi angin yang sedang melewati sela-sela pipinya kini membawa lari rasa rindunya dengan tanah air.

Kedua mata Harya menatap lurus ke arah lapangan melihat enam temannya yang saling berebut bola. Dia tidak berminat sama sekali dengan olahraga basket. Bukan karena dia tidak bisa bermain basket, tapi dia trauma dengan olahraga itu karena dulu tangan kanannya pernah patah saat terpelanting akibat benturan keras temannya saat SMA. Dia lebih tertarik memperhatikan langit sore sembaril memikirkan Agia. Menanyakan kabar gadis itu pada dirinya sendiri.

Sudah setengah tahun Harya menjalani kehidupannya di negeri sakura. Sebulan pertama dinas, Harya kerja lembur untuk segera menyelesaikan proyek pembangunan yang dipegangnya. Namun ternyata perkembangan proyek itu jauh lebih lama dari waktu yang ditargetkan. Bosnya di sini, Sagara-san, sangat memanjakannya karena pria itu diutus langsung dari bosnya di Jakarta. Meskipun Harya mudah beradaptasi dan mendapat berbagai macam fasilitas dari bosnya itu berupa mobil, apartment, dan uang mingguan yang lebih dari cukup, Harya merasa Jakarta lebih baik daripada Tokyo.

Di Jakarta dengan segala penat pekerjaan dan macetnya, Harya merasa nyaman. Di Tokyo, tidak ada sanak saudara atau pun teman dekatnya yang bisa diajak berbagi. Dia rindu masakan ibunya dan kedua adiknya yang beranjak dewasa. Setiap akhir pekan, Harya rutin melepon kedua orang tuanya untuk bertukar kabar dan mengirimkan uang. Walaupun dia tidak merasa nyaman bekerja di sini, dia tetap bersyukur. Karena banyak orang di luar sana yang menjadi pengangguran, meskipun sudah mencoba melamar berbagai macam perusahaan. Bila mendapat pekerjaan pun, kadang gaji yang diberikan tidak sebanding dengan keringat yang dikucurkan.

“Har…” Souta mengibaskan tangannya yang berkeringat di depan wajah Harya. Pria itu masih bergeming.

DUK!

“AW!” Teriak Harya kesakitan karena kepalanya digetok bola basket oleh Hyusa. Kelima temannya yang lain malah tertawa.

“Iseng banget dah!” keluh Harya.

Hyusa terkekeh seraya mengangkat tangannya, jarinya membuat isyarat ‘peace’. “Habis kamu bengong aja,” ucapnya dalam bahasa Indonesia dengan sedikit terbata-bata.

“Mikirin apaan sih lu? Berat banget keliatannya,” tanya Fahri.

No, I just miss my…–“

Girlfriend?” Potong Hyusa. Teman yang lainnya hanya memperhatikan Harya. Mereka jarang sekali mendengar Harya membahas kehidupannya.

Nope, bukan, bukan pacar. Semacam orang yang gue deketin, tapi dia juga lagi dideketin orang lain,” jawab Harya pelan.

Nakama yang sedari tadi diam memperhatikan kini duduk di samping Harya. “So, what’s your problem, buddy?

I want to call her, but I am afraid.

“Nakama, kalo bagian ini kamu yang paling ngerti,” ujar Souta. “Kamu nasihatin Harya ya, kita pulang duluan ke flat.”

Okay,” kata Nakama. Teman-temannya pun berjalan menjauhi lapangan, meninggalkan mereka berdua.

Nakama memperhatikan wajah Harya yang lesu seperti kehilangan semangat hidup. “Kamu mau nelpon dia tapi takut? Pria macam apa kamu?”

“It’s been six months. Sepertinya dia dan orang itu sudah berpacaran,” jawab Harya pasrah.

Langit Tokyo yang menginjak pukul lima sore perlahan menggelap, Nakama beranjak dari posisinya dan mengambil bola basket yang tergeletak di permukaan tanah dan berjalan ke lapangan.

“Perhatikan ini, buddy!” Teriak Nakama saat berada di tengah lapangan. Pria tinggi itu mengambil ancang-ancang bersiap melakukan tembakan three point. Harya bingung dengan hal yang dilakukan temannya itu, dia hanya memperhatikannya.

Sepasang lengan kekar Nakama melempar bola basket ke arah ring. Lemparan pertama yang dilakukannya gagal, namun dia tidak berhenti. Dia mengambil bola yang menggelinding di permukaan lapangan tepat di bawah ring dan kembali ke posisi awalnya berdiri sambil me-dribble pelan bola. Sekilas, pria itu melihat ke arah Harya.

Lalu, Nakama melempar bola untuk kedua kalinya ke arah ring. Bola yang dilemparnya memantul di papan ring dan jatuh ke permukaan lapangan. Dengan postur atletisnya, Nakama dengan cepat dan mudah menangkap bola kemudian melakukan tembakan lay up.

SHRAK! Bola masuk ke dalam ring. Nakama tersenyum ke arah Harya saat dia mengambil bola. Pria itu memicingkan matanya dengan posisi kepala bertopang dagu, masih belum mengerti dengan apa yang dilakukan temannya.

Nakama bersiap melakukan lemparan ketiga, kali ini dia mencoba melakukan tembakan three point lagi dari garis setengah lapangan, pria itu memantulkan bola beberapa kali dan mengumpukan konsentrasi. Dia memandang lurus ke arah ring, lalu memejamkan matanya seraya membuang napas sebelum melempar bola. Keringat mulai mengucur lagi di lehernya.

Dengan matanya yang sedikit sipit, Nakama melempar bola dengan kekuatan penuh serta akurasinya yang terkenal baik oleh orang-orang yang biasa bermain basket di sini. Bola pun melayang di udara. Kali ini Harya berdiri melihatnya. Dalam gerakan lambat, Harya memperhatikan laju bola itu melayang di udara dan menuju ring.

SHRAK! Bola berhasil masuk ke dalam ring dengan mulus, tembakan three point kali ini berhasil.

“KAMU LIHAT ITU, BUDDY?!” Teriak Nakama, lalu dia tertawa kencang.

What a great shoot, bro!” ucap Harya tidak percaya dan memberikan tepuk tangan. Nakama berjalan menghampirinya dengan senyum penuh kemenangan.

See? kamu lihat itu, lalu apa yang bisa kamu simpulkan?” tanya Nakama sambil menepuk pelan pundak Harya.

Harya langsung berkomentar. “Kamu melempar bola dengan keren, three point dari tengah lapangan.”

“HAHAHAHA!” Nakama kembali tertawa kencang. “Bukan itu maksudku.”

“Lalu?” Harya memandang bingung.

Nakama kembali duduk di bangku kayu, di sebelah Harya. Jari telunjuknya menunjuk ke arah lapangan, lalu ke bola basket yang dirangkulnya.

“Cinta itu seperti pertandingan basket. Kadang kamu gagal memasukkan bola ke dalam ring pada lemparan pertama, dan bola yang kamu lempar memantul lalu direbut lawan, sialnya, malah lawan yang berhasil memasukkan bola ke dalam ring. Dan lawanmu yang memenangkan pertandingan,” jelas Nakama.

Harya terdiam mendengar penjelasan Nakama. Dia mencoba mencerna penjelasan temannya itu.

“Namun jika kamu hanya mencoba melempar bolanya sekali dan gagal, lalu kamu menyerah, kamu tidak akan mendapatkan hasil. Kamu harus mencobanya lagi dan lagi, sebanyak-banyaknya hingga kamu berhasil memasukkan bola ke dalam ring, meskipun hasil akhirnya kamu kalah, setidaknya kamu telah berusaha, buddy,” lanjutnya.

Senyum Harya mengembang. Dia mengerti sepenuhnya maksud Nakama.

“Aku tidak percaya kamu menganalogikan cinta dengan cara seperti ini,” kata Harya seraya menggelengkan kepala. Dia selama ini mengenal Nakama sebagai orang yang memiliki sifat cuek terhadap wanita. Dan yang membuatnya tidak percaya lagi, Nakama sudah menyandang status jomblo selama dua tahun.

“Begitulah, cinta itu universal, kamu bisa menganalogikannya dengan versi kamu sendiri. Asalkan masuk akal, dan analogi yang kujelaskan barusan adalah versiku. Jadi kamu sudah mengerti?”

“Ya, aku mengerti. Thank you,” kata Harya seraya meninju pelan lengan Nakama.

Langit di atas lapangan Yoyogi Park telah gelap sepenuhnya. Harya dan Nakama berjalan keluar lapangan, kemudian berpisah di pintu gerbang karena mereka berdua menaiki kendaraannya masing-masing. Perasaan Harya mulai membaik. Di pikirannya kini, dia memikirkan bagaimana alasan untuk mengajukan cuti beberapa hari kepada Sagara-san untuk pulang ke Jakarta.

Sementara itu, di zona waktu yang berbeda, Agia sedang duduk sendiri di warung pak Min. Ayam goreng kremes dan teh panas yang dipesannya tak tersentuh sedari setengah jam yang lalu. Keningnya berkerut, dadanya terasa sesak menahan rindu yang menyeruak. Dia merindukan Harya, bukan Joe.

***

Ponsel Harya berbunyi untuk yang keempat kalinya, pria itu akhirnya terbangun. Dia mengambil ponselnya yang terletak di meja di samping kasurnya dengan mata tertutup. Tanpa melihat nomor yang menelponnya, dia mengangkat panggilan itu.

“Halo?”

“Harya?”

“Iya? Maaf ini siapa?” tanya Harya dengan nada setengah serak.

“Oh, kamu lagi tidur ya? Maaf mengganggu, nanti aku telpon lagi.”

“Sebentar, ini siapa?” tanya Harya sambil menyalakan saklar lampu kamar yang terletak pada dinding di atas kasurnya, lalu dia duduk di pinggir kasur dengan kaki bersila.

“Aku…, aku Agia, Harya.”

Harya yang masih setengah sadar langsung terkejut mengetahui Agia yang menelponnya. “Agia, kamu apa kabar?”

“Baik,” jawab Agia. “Maaf ganggu kamu ya, aku nggak tau kalo waktu Tokyo sekarang malam.”

“Nggak apa-apa, Gi, santai aja.” Harya tersenyum.

Gadis itu terdiam sejenak di sebrang sana, menyusun kata yang tepat untuk menyampaikan apa yang dirasakannya kini.

“Gi?”

“Iya, Har. Umm…, Aku…, aku…, aku kangen suara kamu,” ucap Agia tergagap. Dia merasa grogi, namun perasaannya sedikit lega telah mengucapkan apa yang dipendamnya selama setengah tahun ini.

“Aku juga, Gi. Aku kangen kamu, tapi bukan cuma suara kamu aja. Aku kangen orangnya.” Harya tersenyum mengakuinya.

“Kamu kapan pulang ke Jakarta?” tanya Agia tanpa merasa ragu lagi. Ada rasa bersalah menyentil hatinya.

Harya berjalan ke arah jendela apartment dan membukanya masih dengan menempelkan ponsel di telinga. Dia melihat langit Tokyo yang sekarang memeluk pukul tiga pagi. Bintang berpendar terang di angkasa yang gelap. Lampu rumah, gedung, dan jalanan terlihat seperti titik-titik kecil dari lantai dua puluh empat. Udara dingin yang menerobos masuk tak membuatnya menggigil, karena dadanya kini terasa hangat setelah mendengar suara Agia.

“Aku usahain secepatnya, Gi,” jawab Harya dengan jantung berdebar.

“Haaah…” Agia bernapas lega. “Aku tunggu kedatangan kamu ya, Har,” ucapnya senang. “Yaudah, kamu sekarang lanjutin lagi tidurnya. Istirahat yang cukup. Kamu pasti sering lembur.”

“Sok tauuu, kamu tau dari mana?”

“Sagara-san cerita ke aku. Weee…” ledek Agia. “Okay, good night, Har.”

“Iya, good night too,” ucap Harya dengan senyum mengembang. Panggilan pun berakhir.

Harya merasa senang sekali, dia tidak sabar mengurus izin cutinya kepada Sagara-san. Dia langsung menyalakan laptopnya untuk lanjutkan pekerjaannya yang tinggal sedikit lagi, semakin cepat selesai berarti semakin cepat izin dari Sagara-san diberikan. Dengan semangat penuh, dia membuat kopi dan menyelesaikan pekerjannya hingga langit Tokyo berubah terang.

***

“Kamu kenapa, Sayang? Akhir-akhir ini kamu keliatan murung.”

Agia mengalihkan pandangannya dari logo Starbucks yang terpampang pada gelas plastik ice lemon tea yang belum dia sentuh sedari tadi ke arah Joe yang sedang memperhatikannya. Kekasihnya itu mulai menyadari perubahan sikapnya.

“Nggak apa-apa kok, Har. Aku lagi pusing banyak kerjaan aja,” jawab Agia. Dia tidak sadar bahwa telah salah mengucap nama.

“Har? Siapa dia?” Joe kaget. Tatapan hangatnya mendadak berubah menjadi tatapan menyelidik. Deru napasnya langsung memburu seperti hatinya yang langsung terpercik api cemburu.

ASTAGA! Salah ucap gue, Agia panik. Dia langsung membetulkan posisi duduknya.

“Engg–, maksud aku, kamu, Joe.”

“Nama aku Joe, bukan Har. Sejak kapan kamu ngasih panggilan ‘Har,’ ke aku?” Joe membuang muka.

“Jujur, Har itu siapa? Selingkuhan kamu?”

Agia menarik napas panjang dengan berat. Jantungnya berdebar tegang. Mungkin sudah saatnya dia berkata jujur mengenai Harya daripada dia dituduh berselingkuh. Selama ini dia tidak pernah bercerita apapun tentang Harya selain teman-teman kantornya.

“Dia teman lama aku, namanya Harya. Dulu kita sering berangkat dan pulang bareng ke kantor. Aku kepikiran aja sama dia karena udah lama lost contact, dan kita kan udah mau tunangan. Aku belum ngasih tau dia tentang hal ini,” jelas Agia. Kedua matanya menatap nanar cincin emas putih yang tersemat di jari manisnya yang dipasang oleh Joe seminggu lalu di kantor. Saat itu Joe pulang dari dinas luar kotanya dan memberikan surprise. Kekasihnya itu mengajak Agia tunangan untuk hubungan yang lebih serius.

Joe menyilangkan tangannya ke dada, merasa heran dan tidak suka. “Sepenting itukah teman kamu?”

“Iya, kita udah seperti sahabat dekat. Dia orang yang berjasa menyelamatkan nyawa aku.”

“Nyawa kamu? Kok kamu nggak pernah cerita?” Nada bicara Joe semakin naik. Beruntung suara mereka tenggelam oleh suasana ramai para pengunjung lain dan kendaraan yang berlalu lalang di jalan Sudirman.

Agia memijit pelan keningnya. Dia tidak ingin hubungannya berantakan jika dia bercerita jujur. Perasaannya terasa gundah. Di satu sisi, dia merasa bersalah telah mengabaikan Harya begitu saja dahulu, dan di sisi lain dia telah menerima ajakan Joe untuk bertunangan. Dan dalam waktu dekat dia akan bertemu dengan Harya.

Hatinya terbelah dua, antara Joe atau Harya. Jelas, jika ada alat indikator untuk mengukur perasaan, Agia telah mengkhianati perasaan Joe yang telah bersungguh-sungguh mencintainya karena hatinya kini condong memilih Harya.

Joe memberikan apa yang Agia ingin, namun Harya memberikan apa yang Gita butuh. Dua-duanya sama penting. Dalam posisi ini Agia tidak bisa memutuskan harus berbuat apa, dia tidak ingin menyakiti perasaan dua pria yang ada di hatinya itu. Tapi akhirnya Agia memilih bercerita.

“Dulu saat aku baru kerja di kantor kita. Suatu pagi, aku berangkat naik busway di halte Pejaten Philips. Saat itu aku nunggu bus datang sambil teleponan sama Aulia yang nanyain kabar tentang kerjaan yang dikasih Pak Rico. Bus pun datang, tapi aku masih fokus teleponan nggak sadar kalo busnya mau berangkat karena penumpang masih keluar masuk. Pas pintu bus hampir tertutup aku loncat ke dalam.” Agia mengatur napasnya sejenak. Ingatannya memanggil kenangan silam yang membuat sosok Harya terlihat begitu jelas di benaknya sekarang.

“Dan, saat itu kalo Harya nggak melihat aku dan membuka paksa pintu bus, nggak tau deh nasib aku gimana, antara terjepit atau nabrak pintu dan jatuh ke aspal.” Agia menyelesaikan ceritanya perasaan yang kalut. Matanya memerah, dia berusaha menahan air mata yang berusaha mendobrak pertahanan hatinya.

Joe membisu mendengar cerita kekasihnya. Dia tidak menyangka jadi selama ini Agia memikirkan pria lain selain dirinya. Rasa kesal bercampur kecewa terasa kontras sekali di hatinya.

“Jadi begitu,” ucap Joe datar.

“Ya.”

“Dan, kamu sayang sama dia?”

Agia tertohok dengan pertanyaan Joe, dia tidak berani menjawab pertanyaan itu. Logika dan perasaannya beradu sengit antara menjawab jujur atau tidak. Dia tidak ingin membohongi Joe, namun dia juga tidak bisa membohongi perasaannya sendiri.

“Entahlah. Aku nggak pengin membicarakan hal ini sekarang.”

Tsk! Kenapa sih setiap kali hubunganku sudah memasuki tahap serius, selalu ada aja masalahnya,” gerutu Joe. Tangannya mengepal. Dia merasa sangat kesal, namun tetap berusaha menahan amarahnya.

Pria itu menatap sedih Agia, dia benar-benar tidak menyangka gadis yang dicintainya yang akan dia tunangi tiga bulan lagi ternyata menyimpan rahasia seperti ini. Sebagai kekasih, tentu Joe merasa geram karena Agia tidak pernah terbuka dengannya. Dia tau Agia memang pendiam, dan dia cuek, namun itu bukan berarti dia tidak peduli dengan kekasihnya, terlebih dengan hal yang mengganggu hubungannya ini.

“Joe…” Agia menggenggam tangan Joe pelan. “Maafkan aku.”

Kepala Joe menunduk lesu, tanpa memandang Agia, dia berkata, “Oke, kita pulang ya.”

“Kamu maafin aku, kan?” tanya Agia. Namun Joe tidak menjawab. Pria itu menarik tangan Agia untuk beranjak meninggalkan Starbucks, tempat mereka mengawali malam Minggu.

Malam Minggu yang biru bagi Agia.

***

Suasana Bandara Narita pukul enam pagi sudah ramai dengan derap langkah sepatu dan roda koper yang didorong para penumpang pesawat. Berbagai ekspresi wajah terlihat di sana. Ada orang yang menahan kantuk, ada yang cemas mengantar kepergian orang tersayang, dan ada yang bosan menunggu pesawat datang sambil sesekali menyeruput kopi panas.

Sedangkan, Harya sedang duduk di bangku lobi terminal setelah melengkapi registrasi penerbangannya menuju Jakarta. Pria itu menggulung lengan kemejanya sesiku sebelum mengenakan cardigan hitam yang dia simpan di kopernya. Dia melihat jam tangan Swiss Army-nya di lengan kiri, sudah tiga puluh menit berlalu, berarti sekitar lima belas menit lagi pesawat yang mengantarkannya ke Jakarta akan siap diberangkatkan.

Harya beranjak dari duduknya dan berjalan pelan melewati lobi terminal menuju apron. Perasaannya tidak sabar. Durasi penerbangan dari Tokyo ke Jakarta memakan waktu sekitar delapan jam. Beruntung Thomas yang membantunya mengurus paspor minggu lalu dan memberi tahunya bahwa delay pesawat di Jepang tidak terlalu lama, tidak seperti maskapai penerbangan di Indonesia.

Selang lima menit mengantri dengan penumpang lainnya untuk melakukan pemeriksaan tiket, Harya sudah berada di dalam pesawat. Dia memilih menghabiskan waktu untuk tidur, sama seperti seorang bapak di sebelahnya. Sepertinya bapak itu orang Indonesia juga. Namun Harya sedang tidak mood untuk berbasa-basi mengobrol dengan bapak itu. Kedua matanya melihat ke luar jendela, melihat semburat-semburan jingga langit Tokyo yang masih ranum biru muda.

Sampai bertemu, Agia.

***

Pesawat dari maskapai penerbangan Japan Airlines perlahan mendarat ke landasan pacu bandara Soekarno Hatta menuju terminal 2D. Harya terbangun saat salah satu pramugari membangunkannya. Dia tertidur pulas semenjak pesawat take off. Harya mengusap wajahnya yang masih setengah mengantuk dan segera bersiap turun.

Langkah kaki Harya berjalan mengikuti arus para penumpang lain yang berjalan di apron menuju lobi bandara. Mereka langsung berhamburan untuk mencari orang terdekat yang telah menjemputnya di sana. Harya keluar dari lobi bandara untuk mencari taksi. Dia tidak menghubungi keluarga ataupun teman-temannya untuk kepulangannya ini karena dia tidak ingin merepotkan sekaligus membuat suprise.

Harya itu menaiki salah satu taksi Blue Bird yang sudah siap berangkat di antara jejeran taksi lainnya. Kopernya dimasukkan oleh supir taksi yang terlihat berumur empat puluh tahunan. Harya terkesiap melihat supir taksi tersebut, wajahnya terlihat lelah dengan rambut klimis setengah botaknya yang mulai memutih dan kantong mata yang berkerut. Sepertinya supir taksi itu banyak pikiran.

“Pak, kita ke Pasar Festival ya. Saya turun di sebrangnya,” ucap Harya pada supir taksi yang sedang menyalakan mesin mobil.

Supir taksi itu melihat Harya dari kaca spion yang terletak di plafon mobil. “Siap, Mas.”

“Bawanya santai aja ya, Pak.”

“Ya, Mas. Lagipula sore-sore ghini juga jalanan biasanya macet,” kata supir taksi seraya menyalakan argo lalu menginjak pedal gas dan memulai perjalanan. Harya menyandarkan tubuhnya di kursi joknya. Tubuhnya pegal sekali hampir setengah hari tidur dengan posisi duduk di kursi pesawat. Dia merasa lega telah kembali di Jakarta, tempat segala kehidupannya bermula. Rasa rindunya yang menggebu-gebu kini sedikit mereda, tinggal melunasi hutang pertemuan bersama keluarga, teman, dan…, Agia.

“Kalo boleh tau, asli mana Pak Sugiarto?” tanya Harya setelah melihat panel plastik yang mencantumkan identitas supir taksi di dashboard mobil.

“Saya asli orang Solo, Mas. Tapi udah lama tinggal di Jakarta,” jawab pak Sugiarto dengan logat Jawanya yang kental.

“Jakartanya di mana?”

“Di Pasar Minggu, Mas. Dekat jalan Salihara.”

“Berarti deket dong sama saya, Pak. Saya di Ampera. Salam kenal, Pak, nama saya Harya. Hehehe.”

“Oh iya, tho? Wah kalau begitu kita bisa ngopi bareng kapan-kapan, Mas Harya.” Pak Sugiarto terkekeh senang, merasa penumpangnya kali ini ramah.

“Iya Pak, boleh banget. Kebetulan saya juga suka ngopi,” balas Harya sambil tersenyum simpul.

Percakapan antara Harya dan Pak Sugiarto berhenti sejenak. Senja mulai ambil bagian menggeser sinar mentari yang terik menjadi teduh di langit Jakarta yang berawan tipis. Jalanan di daerah Cengkareng mulai padat merayap. Kendaraan mulai memenuhi ruas-ruas jalan, belum lagi di tengah kemacetan para pengendara motor yang suka seenaknya memaksakan laju rodanya di trotoar. Menyebalkan sekali.

“Mas daritadi keliatan melamun, mikirin pacarnya yha?” tanya Pak Sugiarto. Pria baya itu menyunggingkan senyum iseng, namun pandangannya tetap melihat lurus ke jalan.

Harya mengalihkan pandangannya dari kaca dan melihat punggung pak Sugiarto. “Wah bapak merhatiin aja. Hahaha. Bukan pacar, tapi…, umm…, seorang gadis yang udah lama nggak saya temui, Pak.”

“Tapi Masnya cinta?”

“Ya begitulah, gadis itu spesial, dia punya mata cokelat dan senyum yang nggak bisa saya lupakan,” ungkap Harya. Dia menganggap topik obrolan ini sebagai percakapan ringan yang menghangatkan suasana perjalanannya ini.

“Kalau saya boleh tau namanya siapa, Mas?” Kali ini pak Sugiarto bertanya dengan nada serius.

Suasana di dalam mobil mendadak hening. Harya terdiam, mempertimbangkan cerita ini berlanjut atau tidak karena ini adalah salah satu privasinya. Tadinya dia mengira topik obrolannya hanya hal-hal ringan seperti pertandingan bola atau keadaan Jakarta yang sampai saat ini belum membaik dari kemacetan. Namun ternyata menjadi panjang dan serius. Harya memang tidak menaruh pikiran macam-macam kepada Pak Sugartio, namun bagaimana pun supir taksi itu adalah orang yang baru dia kenal.

“Agia, Pak.”

“Agia? Nama yang unik, Mas Damar. Kalau begitu, buatlah dia bahagia, seperti namanya.”

Haryar terdiam lagi, senyumnya getir. “Tapi dia sudah mempunyai kekasih.”

“Memangnya kalau dia sudah punya pacar, kita tidak boleh buat seseorang itu bahagia tho?” tanya pak Sugiarto, nada bicaranya sekarang terdengar santai.

“Kalau memang Mas Harya cinta sama gadis itu, bahagiakanlah meskipun dia sudah mempunyai pacar. Membahagiakan seseorang kan ndak selalu harus memilikinya, Mas,” lanjutnya.

Klise. Satu kata yang terlintas di pikiran Harya saat mendengar ucapan Pak Sugiarto. Kini dia memalingkan wajahnya ke kaca jendela dan melihat langit senja yang perlahan mendung.

“Saya nggak ingin merusak hubungannya, dan lagipula dari awal saya sudah tau nantinya hanya akan berakhir sia-sia.”

Ndak ada yang lebih tulus dari seseorang yang sudah tau sejak awal akan disia-siakan, tapi tetap tak berhenti mencintai, Mas,” ucap Pak Sugiarto bijak. Mobil yang dikendarainya berhenti di sebuah traffic light di jalan K.H. Hasyim Ashari. Tiba-tiba pria baya itu membalikkan badan ke arah Harya.

“Yang namanya berusaha, apapun hasilnya, ndak ada yang sia-sia, Mas Harya.” Pak Sugiarto menatap Damar, meyakinkan penumpangnya itu.

Kali ini Harya tidak menjawab, dia kaget sekaligus kagum dengan kalimat yang diucapkan Pak Sugiarto.

“Iya, Pak. Semoga saya bisa membahagiakannya,” balas Damar, kemudian suasana hening.

Tanpa terasa satu jam lebih telah berlalu, setelah tersendat pada kemacetan ibu kota yang bertubi-tubi. Harya sudah sampai di daerah Menteng. Dia ingin mampir dulu ke kantornya untuk menaruh beberapa berkas pekerjaan yang dia bawa dari Tokyo.

“Sudah sampai, Mas,” kata pak Sugiarto sambil menepikan mobilnya di depan Pasar Festival.

“Sip, ini Pak uangnya, ambil aja kembaliannya,” ucap Harya sambil menyerahkan dua lembar uang seratus ribuan, “ah hampir lupa, saya boleh minta kartu namanya, Pak?”

Pak Sugiarto mengeluarkan dompetnya dan memberikankan selembar kartu namanya setelah menurunkan koper Harya, sambil tersenyum senang, dia berkata, “Terima kasih ya, Mas Harya. Kalau mau pergi naik taksi tinggal hubungi saya saja.”

“Oke, Pak. Terima kasih juga untuk nasihatnya.” Harya mengancungkan jempolnya sambil tersenyum dan memasukkan kartu nama Pak Sugiarto ke dalam dompet, kemudian dia menutup pintu mobil dan berjalan ke kantornya.

Suasana kantor Harya sudah sepi, hanya ada satpam yang berjaga di dekat pintu masuk. Dia masuk ke ke dalam sambil sesekali melihat kubikel teman-teman kantornya yang sudah kosong. Saat masuk ke ruangannya, dia menyalakan AC, lalu menyeduh satu sachet kopi hitam yang dia simpan di lemari meja kerjanya. Di dalam ruangannya tersedia dispenser kecil yang terletak di pojok ruangan. Harya selalu menyimpan stok kopi untuk dia minum ketika kepalanya penat setiap kali lembur dan begadang. Dia tidak ingin merepotkan OB kantor hanya untuk sekedar minta tolong membuat kopi.

Tiga teguk kopi panas telah mengaliri tenggorokannya. Harya begitu menikmati minuman itu seraya menerawangkan pikirannya. Sambil berdiri dengan bersandar di meja kerja, dia mengingat apa yang dia lakukan terakhir kali di ruangannya. Pria itu memejamkan mata, mengingat sebuah pigura yang dia letakkan di dalam laci meja sebelum dia berangkat ke Tokyo. Sebuah pigura kecil berwarna hitam yang dia sembunyikan di antara tumpukkan kertas kerja yang sudah tidak terpakai.

Kemudian, Harya mengambil kunci laci meja kerjanya itu di koper bagian depannya, lalu membuka laci tersebut untuk mengambil sebuah pigura tersebut. Kedua matanya menatap menatap hangat selembar foto seseorang yang ditampilkan dalam pigura itu.

Akhirnya, kita bisa ketemu juga, Gi.

***

Hari Minggu yang tenang, Agia terbangun dari tidurnya saat alarm ponselnya nyaring berbunyi. Dia tidur lebih awal dari biasanya setiap akhir pekan untuk mengisi tenaganya yang terkuras selama lima hari, terlebih jika lembur. Agia mengambil ponselnya yang terbaring di atas meja cokelat yang berada di samping kasurnya untuk mematikan alarm. Ada satu pesan yang masuk, namun dia tidak segera melihatnya. Dia mengangkat kedua tangannya ke atas, lalu menggerakkan badannya ke kiri dan ke kanan untuk melemaskan persendian tulangnya yang kaku.

Agia memilih langsung mandi untuk menyegarkan diri ketimbang berleyeh-leyeh yang malah nantinya membuat dia semakin malas untuk melakukan aktivitas. Selesai mandi, dia membereskan kamarnya yang berantakan. Beberapa pakaian kotor tergantung di keranjang plastik di samping lemari bajunya. Sebetulnya Agia merasa malas untuk melakukan hal ini, tapi mengingat dia mempunyai ibu yang bawel, dia tidak ingin mendengar nasihat yang sama lagi untuk yang entah ke berapa ribu kalinya hanya karena mempunyai anak gadis yang malas.

Ponsel Agia berdering, ada panggilan masuk. Dia melihat nama si penelpon. Joe. Gadis itu tidak mengangkatnya, dia menyalakan mode silent pada ponselnya. Dia tidak ingin diganggu dengan Joe sementara ini, dua hari yang lalu mereka bertengkar hebat di kantor saat jam kerja selesai dan saat itu kantor sudah sepi karena seluruh teman-temannya sudah pulang. Joe sempat membentaknya karena merasa dia sekarang berubah total. Kekasihnya itu menilai dirinya sudah tidak serius dengan pertunangan yang sebentar lagi akan dilaksanakan, padahal Agia sudah mempersiapkan segala hal yang diperlukan.

Dia merasa kesal dengan sikap Joe yang mudah marah. Berkali-kali dia meminta maaf jika telat membalas pesan atau mengangkat telepon. Joe kini lebih posesif terhadap dirinya. Jika Agia hendak pergi, Joe pasti menanyakan ke mana kepergiannya dan bersama siapa, belum lagi introgasi yang dilakukan Joe lewat telepon saat Agia bersama teman-temannya. Jelas, Agia tidak nyaman diperlakukan seperti itu. Dia merasa dikekang.

Sebetulnya Agia masih sayang dengan Joe, tapi dia mulai tidak tahan dengan sikapnya. Perlahan-lahan rasa sayangnya itu memudar seiring sikap Joe yang semakin menyebalkan. Dia ingin mengakhiri hubungannya dengan kekasihnya itu, tapi dia masih merasa bersalah jika hal itu dilakukan melihat tanggal pertunangannya sudah dekat. Agia hanya berharap sifat Joe kembali berubah seperti dulu, meskipun Agia tetap tidak mendapatkan apa yang dia butuh dari seorang kekasih. Gadis itu mencoba untuk tetap sabar menjalani hubungan ini.

Untuk ketujuh kalinya ponsel Agia berdering. Emosinya memuncak. Rasa kesalnya pagi itu tidak dapat terbendung lagi. Agia menangis terduduk di samping kasurnya.

Tuhan, aku harus bagaimana menghadapi ini semua?

Mood-nya hari ini sudah rusak. Agia langsung membuka lemarinya untuk mencari pakaian yang akan dia kenakan hari ini. Dia memakai kaos biru bergaris putih dan celana jeans hitam yang dipadukan dengan sepatu cads Vans authentic agar terlihat santai, lalu menggunakan kaca mata pemberian Harya. Rambutnya diikat ekor kuda. Agia membawa sebuah tas selempang kecil berbahan jeans biru untuk menyimpan barang bawaannya. Gadis itu terlihat manis sekali.

Agia ingin pergi ngopi untuk menenangkan diri sambil membaca novel ‘Cinta’ karya Bernard Batubara yang dia beli dua hari yang lalu. Pikirannya sudah terlalu suntuk untuk memikirkan pekerjaan dan kekasihnya.

Rumah Agia masih sepi. Ayahnya belum pulang dari dinas di Bandung, dan adiknya, Nanda, masih belum keluar dari kamarnya. Hanya ada ibunya yang sedang duduk di sofa ruang tamu dengan mengenakan baju daster motif batik berwarna cokelat. Kedua tangan dan matanya berkutat dengan jarum dan benang rajut.

“Kamu mau ke mana, Gi? Masih pagi udah rapi aja,” tanya Mamanya seraya memandang anak gadisnya itu yang kini duduk di sampingnya dan hendak berpamitan.

“Mau refreshing, Ma. Agia suntuk banget nih,” ucap Agia, bibirnya cemberut.

“Kamu kapan sih gak suntuknya? Pergi sendiri atau sama pacarmu?”

“Sendiri. Aku lagi males ketemu sama dia. Semakin hari makin nyebelin.”

Yowes, yang penting hati-hati kamu di jalan,” pesan Mamanya.

Agia menganggukkan kepala, lalu mencium tangan mamanya. Dia membuka pintu rumah dan berjalan keluar untuk mencari tukang ojek. Gadis itu memutuskan pergi ke Taman Ayodya.

Sesampainya di sana suasana masih sepi. Agia langsung mencari spot yang cocok untuk duduk berjam-jam. Dia memilih duduk di antara anak tangga yang terbuat dari semen dan batu alam. Jejeran tangga itu menurun ke arah air mancur, sehingga sambil membaca dia bisa dengan leluasa melihat ke arah sekitar. Ada beberapa orang yang berlari pagi atau hanya sekadar menikmati kopi pagi sambil merokok. Dan juga ada beberapa pedagang makanan dan minuman berjejer di pinggir jalan dekat gapura taman itu.

Sebelum mulai membaca, Agia memesan satu piring bubur ayam tanpa kacang dan daun seledri serta sebotol teh Sosro pada tukang bubur yang menawarkan dagangannya ketika dia baru saja duduk di tangga. Pada suapan pertama, Agia membaca blurb novel itu sambil mengunyah makanannya.

‘Mengapa cinta membuatku mencintaimu, ketika pada saat yang sama kau mencintai orang yang bukan aku?

Ketika telah membuka hati, aku pun harus bersiap untuk kehilangan lagi. Apakah setelah cinta memang harus selalu ada air mata dan luka hati?

Kalau begitu, bagaimana jika kita bicarakan satu hal saja.

Cinta.

Tanpa ada yang lain setelahnya.

Kita lihat ke mana arahnya bermuara.’

Agia semakin tertarik dengan novel itu, dari prolognya saja dia sudah menangkap apa yang akan di ceritakan sang penulis lewat tokoh utamanya, Nessa.

Perselingkuhan.

Memasuki bab tiga cerita, buburnya telah habis. Agia merasa tempat dia membaca kini tidak sesuai dengan novel yang dia baca. Dia memutuskan untuk pindah tempat, mungkin ke sebuah kafe. Dia melihat jam yang telah menunjukkan pukul sebelas kurang lima menit.

Agia menimang-nimang sejenak destinasi kafe tempat dia melanjutkan bacaannya. Dia mengingat-ingat kafe yang suasananya tidak terlalu ramai di daerah Kemang. Gadis itu memutuskan untuk membaca di Signature Coffe di jalan Kemang. Matahari mulai meninggi dan menghantarkan sengatan panasnya ke bumi. Dia mencari taksi di antara kendaraan yang berlalu lalang di jalan. Setelah tiga menit menunggu, sebuah mobil taksi Express menghampirinya dan langsung mengantarkannya ke kafe yang dia tuju.

Perjalan Agia menuju ke Signature Coffe berlangsung singkat, hanya sekitar dua puluh menit. Jalanan di Jakarta Selatan saat itu masih belum terlalu macet dan jarak dari taman Ayodya ke Signature Coffe tidak sampai lima kilometer. Kafe itu sendiri berlokasi strategis, yaitu terletak di samping pom bensin yang tidak jauh dari lampu merah Kemang.

Taksi berhenti tepat di pinggir jalan dekat lampu merah. Agia keluar dari taksi setelah membayar argo dengan tiga lembar uang sepuluh ribu dan memberikan uang kembaliannya untuk tip si supir taksi. Kemudian dia berjalan kaki sekitar dua puluh meter. Agia memperhatikan sekilas ke bangunan Signature Coffe yang menurutnya unik, bersebelahan dengan Anomali Cafe. Tulisan ‘Signature, Coffee & Grill’, itu terpampang pada sebuah panel berbentuk persegi panjang vertikal berwarna merah marun. Dan panel tersebut menempel pada susunan kayu persegi berwarna cokelat yang mirip seperti bidak catur.

Tangan Agia membuka gagang pintu yang terbuat dari besi perak dan masuk ke dalam kafe. Dia melangkah masuk ke dalam untuk melihat suasana kafe itu. Tembok kafe itu berwarna putih dan terbuat dari batu bata. Ada sebuah kaca display yang menampilkan beberapa jenis kue, serta sebuah meja panjang kayu yang dilapisi semacam keramik hitam di atasnya ada mesin kasir dan mesin penghancur biji kopi. Sejurus kemudian dia disambut oleh seorang barista pria berwajah ramah yang mengenakan apron merah. Dia tersenyum ramah pada Agia.

“Silakan, Mbak. Mau duduk di mana? Di atas atau di bawah?” tanya barista itu, kemudian salah satu pelayan pria menghampirinya dari arah dapur dengan mengenakan kemeja putih dan celana hitam. Pelayan itu memberikan buku menu kepada Agia

Agia memutar bola matanya, memikirkan tempat dia duduk untuk menikmati kopinya. “Di bawah aja, Mas. Saya cuma mau ngopi sendiri sambil baca buku,” jawab Agia sambil menjatuhkan pantatnya di bangku merah dan meletakkan novel ‘Cinta.’ ke meja yang menempel pada dinding kafe.

“Iya, silakan Mbak, ini daftar menunya,” ucap pelayan itu.

Sejenak, Agia melihat daftar menu itu. Banyak pilihan menu makanan dan  minuman –serta jenis kopi yang tersedia. Namun, gadis itu memilih hot mochaccino dan french fries.

“Mas, saya pesan hot mochaccino sama french fries ya,” kata Agia. Pelayan itu mengangguk seraya mencatat pesanan Agia, lalu beranjak ke arah dapur.

Sambil menanti pesanannya, Agia mengetuk meja dengan telunjuknya dan melihat keadaan sekitar. Tak ada yang menarik. Hanya ada barista yang sibuk dengan mesin penghancur kopi, kasir yang memencet tombol pada layar touchscreen untuk menghitung pesanan, dan beberapa pelayan yang berjalan mengantar pesanan para pelanggan.

Lima menit berlalu, pesanan Agia pun diantarkan ke mejanya oleh pelayan yang melayaninya tadi. Setelah mengucapkan terima kasih, gadis itu menyeruput pelan mochaccino pesanannya sambil membuka halaman bab ketiga. Dia mulai tenggelam dengan bacaannya itu, menyelami diksi yang ditulis oleh penulis yang akrab disangka Bara. Melanjutkan kisah cinta Nessa yang membuatnya penasaran.

Tak terasa tiga jam terlewati. Agia telah sampai pada bab 8 pada halaman155. Fokus matanya terhisap saat membaca saduran judul bab yang tertulis ‘Cincin’. Gadis itu membaca paragraf pertama dengan seksama.

“Bagaimana jika luka adalah sebuah lingkaran?

Luka yang tidak bermula dan tidak berakhir. Mengelilingi hati dengan jeratan berhiaskan duri. Seperti cincin yang terbuat dari batang bunga mawar. Menusuk dari seluruh sisi. Luka yang tidak mengenal waktu. Luka yang tidak tahu dan tidak pernah mendengar kata berhenti. Luka yang hanya tau ia ada untuk melukai.”

Agia berhenti membaca sejenak. Dadanya terasa sesak setelah membaca kata demi kata yang tertulis pada kalimat itu. Dia menyeruput kopi dan french fries-nya yang tinggal tersisa sedikit sebelum membalikkan kertas menuju halaman berikutnya.

“Luka yang tidak bisa disembuhkan. Luka yang tidak mau –disembuhkan. Luka yang menolak segala usaha perbaikan. Luka yang menganggap dirinya abadi. Luka yang mengenal kata berpisah. Luka yang selalu bertemu dengan luka lain. Luka yang terkoloni. Luka yang berkumpul dan berumah. Luka yang beranak-pinak, melahirkan luka-luka kecil yang lain. Luka-luka yang baru. Luka-luka yang gembira. Luka-luka yang bahagia karena menjadi jamak, menjadi banyak. Menjadi lebih berkuasa dan merajalela. Luka-luka yang menunggu inangnya menyerah. Menyerah, bertekuk lutut, dan mengaui kedigdayaan mereka. Luka-luka yang berambisi menjadi raja. Raja di dalam hati yang rusah. Hati yang rusak karena si pemilik hati terlalu naif dan berharap. Hati yang berharap karena ia tidak belajar dari kekecewaan.”

Berhenti. Agia berhenti lagi, namun dia memilih untuk berhenti total dan menutup novel itu. Tidak melanjutkannya. Gadis itu memijat pelan keningnya. Merasa ada sesuatu yang janggal dalam hatinya. Seperti luka. Seperti luka yang dia baca pada novel itu. Dan, sepertinya luka itu harus segera diselesaikan sebelum merambat pada bagian lain di hatinya. Dia sadar dia telah begitu naif dan berharap banyak pada Joe, dan itu hanya akan menyakiti diri serta kekasihnya itu. Agia akhirnya sadar bahwa selama ini dia hanya tidak ingin sendiri. Dan kini, dia berharap untuk mengakhiri semua ini.

***

“Halo, Joe?”

“Iya…” Agia menarik napas dalam-dalam, “kita bisa ketemu sekarang? Ada yang pengin aku omongin sama kamu.”

“Sekarang, di Signature Coffee, Kemang. Oke? Iya, aku tunggu.”

Agia mengakhiri panggilan dengan napas sedikit tersengal. Merasa cemas sekaligus takut. Di pikirannya kini, yang ada hanyalah kekhawatiran-kekhawatiran tentang hubungannya jika tetap dia jalankan bersama Joe. Gadis itu sebenarnya berharap Joe dapat berubah seperti sedia kala, namun semenjak dia bercerita tentang Harya, kekasihnya itu selalu menjadi sosok yang menyeramkan, yang bahkan hampir tidak dikenalinya.

Setelah dua puluh menit berlalu, sebuah mobil Jazz berwarna merah tiba di area parkir Signature Coffee. Agia memicingkan matanya untuk melihat plat nomor mobil. Ya, benar. Itu mobil Joe. Agia mempersiapkan mentalnya untuk berkata sejujur mungkin tentang perasaannya kini.

Joe masuk ke dalam kafe dengan wajah gusar, dia tidak menghiraukan sapaan barista yang menyambutnya. Hanya butuh waktu beberapa detik untuknya mengetahui di mana Agia duduk.

“Ada apa, Gi?” tanya Joe yang langsung duduk di hadapan Agia.

Agia menatapnya Joe tajam. Memberi isyarat untuk pria itu agar menjaga sikap. Tempat mereka bertemu adalah tempat umum. Dia tidak ingin mempermalukan dirinya sendiri dengan pertengkaran kacangan seperti yang sering terjadi di sinetron-sinetron, yang di mana ada sang tokoh utama menyiram air atau melempar makanan ke wajah kekasihnya. Gadis itu ingin membicarakannya dengan baik-baik.

“Begini, Joe–” Agia mengerjapkan matanya seraya mendongakkan kepala ke atas, kemudian menatap Joe dalam-dalam dan berkata setenang mungkin, “aku mau tanya tujuan kamu dalam hubungan kita ini apa?”

Rahang Joe mengeras mendengar pertanyaan yang diajukan Agia. Dia menatap heran. “Maksud pertanyaan kamu ini apa?”

“Aku menginginkan jawaban kamu, bukan kamu balik bertanya.”

“Kamu gak salah nanya kan?”

Agia diam, dia mulai gusar dengan sikap yang ditunjukkan Joe. “Jawab…”

“Ya jelaslah tujuan aku dalam hubungan ini untuk menjalani masa depan kita bersama, Gi,” jawab Joe ketus. Barista, kasir, dan pelayan mulai melihat ke arah mereka.

“Tapi kamu sadar sikap kamu yang sekarang ini menyebalkan dan bikin aku nggak nyaman?”

“Menyebalkan dan bikin kamu gak nyaman? Aku melakukan semua ini demi hubungan kita. Aku marah ya karena aku punya alasan, kamu memikirkan pria lain selain aku, dan kenapa aku posesif? Karena aku menjaga kamu supaya kamu nggak diganggu atau direbut siapapun. Aku cinta kamu, Agia,” jelas Joe lepas kendali. Pria itu sangat frustrasi.

Wajah Agia memerah, dia benci sekali dengan keadaan ini. Rasanya seperti sebuah percakapan buntu. Joe memberikan jawaban yang memang masuk akal, tetapi cara dia memperlakukan dirinya tidak lantas membuatnya nyaman, justru Agia merasa terkekang, jawaban yang diucapkan Joe tidak menjadi solusi untuk menjaga hubungannya tetap utuh.

Kepala Agia bersandar ke dinding, kali ini dia sedikit menunduk. Dia ingin segera beranjak dari tempat ini bukan karena malu dilihat oleh orang di sekitarnya, melainkan karena sepertinya percakapan ini tidak berguna. Kopi yang dia minum hanya tersisa ampas. Seperti hatinya, yang dulunya penuh terisi dengan cinta, sekarang kering kerontang layaknya gurun pasir. Tak ada sisa rasa sedikit pun. Dan pertengkaran yang terjadi di sinetron-sinetron sepertinya akan dia alami.

“Kamu sadar kalo cara kamu itu salah?” Agia kini memberanikan diri menatap Joe lagi.

“Cara aku salah? Ya jika menurut kamu begitu. Bagaimana aku cara aku bisa benar kalo kamu sendiri nggak pernah cerita tentang apa yang kamu rasakan, Gi?” Joe balik bertanya. Agia terdiam.

Aura tegang mulai bergerumul di antara mereka, salah seorang barista yang memperhatikan mereka sedari tadi berbisik kepada teman di sebelahnya, seperti memberi isyarat untuk segera menegur Agia dan Joe yang membuat suasana kafe menjadi tidak nyaman.

“Jawab, Gi. Pernahkah kamu selama ini percaya untuk bercerita sama aku tentang kamu? Tentang kehidupan kamu, tentang keseharian kamu, tentang orang yang kamu kenal dekat, tentang siapapun, tentang APAPUN!” Joe menggebrak meja dan membanting cangkir kopi yang sedari tadi menjadi saksi bisu perdebatan mereka hingga pecah di lantai. Amarahnya sudah tidak dapat ditahannya lagi. Semua orang di lantai bawah kafe itu menyaksikan pertengkaran mereka.

Barista yang tadi berbisik kepada temannya menghampiri Joe dan berkata, “Sabar, Mas. Maaf kalo mau berantem jangan di sini. Di luar aja, di tempat lain.” Kemudian dia mengambil pecahan cangkor kopi yang berserakan.

Air mata Agia tumpah melihat apa yang Joe lakukan. Baru kali ini dia melihat kekasihnya semarah itu. Hatinya hancur. Dia ingin segera menyudahi semua ini.

“Kamu…–” ucapan Agia berhenti. Dia menutup mulutnya dengan sebelah tangan. “Kamu keterlaluan, Joe!”, ucapnya dan berlari keluar kafe dengan penuh air mata.

Kedua angan Joe mengepal, dia tidak menahan kepergian Agia. Dalam lubuk hatinya, dia menyesalkan perbuatan yang barusan dia lakukan. Tapi apa daya, semua telah terjadi, dia sudah tidak dapat menahan amarahnya lagi. Meskipun hal yang dilakukannya sebenarnya salah, itu semata-mata dilakukan demi mempertahankan hubungan ini.

Akhirnya, Joe sadar telah melamun beberapa saat dengan berdiri terdiam. Dia baru sadar banyak orang menatapnya dengan tatapan penasaran dan tidak nyaman. Sudah terlanjur menanggung malu, Joe mengeluarkan dompetnya dan melempar beberapa uang lembar seratus ribuan untuk mengganti cangkir yang dipecahkannya lalu pergi meninggalkan kafe itu dengan ekpresi wajah merah padam.

***

Di dalam taksi, Agia menangis hebat. Dalam tangisnya dia bingung dengan tujuan kepergiannya ini. Tidak mungkin dia pulang ke rumah, tidak mungkin juga dia pergi ke tempat umum dengan keadaan seperti ini. Dia bilang kepada supir taksi untuk mengikuti arah jalan saja. Supir taksi hanya mengangguk, diam-diam dia memperhatikan Agia lewat kaca spion membuka suara.

“Berantem sama pacarnya, ya, Mbak?” tanya supir taksi itu.

Agia tidak menjawab. Dia masih sibuk dengan isakan tangisnya.

Supir taksi itu menggelengkan kepala sambil tersenyum simpul. Dia jadi mengingat ucapan salah seorang penumpangnya tempo hari yang bercerita tentang gadis yang dicintainya.

“Ini Mbak tisu buat bersihin air matanya,” ucap supir taksi itu seraya memberikan tissue yang dia ambil dari dalam dashboard.

“Terima kasih, Pak,” jawab Agia. Dia menerima tisu yang diberikan supir taksi itu kemudian mengusap wajahnya.

“Saya jadi teringat seseorang yang bercerita tentang gadis yang dicintainya, Mbak.” Tiba-tiba supir saja menceletuk dengan logat Jawa. Agia tidak merespon, namun diam-diam mendengarkannya meskipun pandangannya diedarkan ke luar jendela.

“Kalau ndak salah, sekitar tiga hari yang lalu, ada penumpang cowok yang naik mobil ini dan bercerita tentang gadis yang dia cintai, Mbak.” Supir taksi itu mulai bercerita tanpa diminta, “dia bilang kalau dia mencintai seorang gadis bermata cokelat yang senyumnya tidak bisa dia lupakan. Tapi, sayangnya, gadis itu sudah mempunyai kekasih, dan cowok itu ndak pengen ‘nganggu hubungannya, Mbak,” lanjutnya sambil terkekeh.

“Siapa nama cowok itu, Pak?” tanya Agia dengan hati-hati, namun intonasinya nadanya tidak dapat menutupi rasa penasarannya.

“Hayooo, si Mbaknya kepo. Hehehehe,” ledek supi taksi. Agia yang sedari tadi cemberut berubah tersenyum geli. Perasaan sedihnya perlahan terlupakan, digantikan dengan rasa penasaran mengenai cowok yang diceritakan supir taksi tersebut.

Supir taksi itu melirik Agia yang kini sedang menunggu jawaban darinya. “Namanya…, Engg…, kalau ndak salah namanya Har…, yo…, Har…, Harya, Mbak,” ucap supir taksi itu setelah mengingat-ingat nama penumpang itu.

“HAH?!” Mata Agia melotot saat mendengar nama yang baru saja dia dengar. Namun nama itu masih tentatif, bisa saja yang Harya yang diceritakan itu bukanlah Harya Setya Nugraha yang dia kenal.

“Kenapa, Mbak? Lha kok kaget gitu?”

“Orangnya kayak gimana, Pak?” Agia balik bertanya.

Pak supir mencoba mengingat-ingat sosok Damar yang dia ceritakan sambil tetap fokus memperhatikan jalan. “Orangnya tinggi, putih, ghanteng, dan ramah,” jelasnya. Namun Agia masih kurang yakin dengan detail yang dijelaskan supir taksi itu.

Hmm… dia turun di mana, Pak?”

“Di Pasfes, Mbak, kantornya dekat daerah situ,” jawab supir taksi singkat.

“AH! Harya!” Reflek Agia berteriak. Dia segera meminta supir taksi itu berbalik arah, menuju jalan Ampera. Ke rumah Damar.

***

Tok… Tok… Tok…

“Assalamualaikumm…” Agia mengucap salam sambil mengetuk pintu rumah Harya.

Belum ada tanda-tanda penghuni rumah membuka pintu. Agia mengetuknya sekali lagi. “Assalamualaikumm… Harya?”

“Iya, tunggu sebentar.” Suara seorang pria dari dalam rumah membalas. Suara itu. Suara yang membuat jantung Agia berdebar kencang. Dia langsung merasa gugup.

Krek… Pintu terbuka.

“Harya?!” teriak Agia saat melihat pria di hadapannya, tanpa aba-aba gadis itu langsung memeluk erat Harya yang berdiri bengong. Harya tidak percaya gadis yang kini memeluknya erat adalah Agia. Dia benar-benar tidak menyangka kedatangan gadis itu yang tiba-tiba.

“A…, Agia?” Harya memegang pundak gadis itu.

“Iya, Har? Ini aku Agia, masih inget kan?” ucap Agia antusias. Mata cokelat yang dirindukan Damar itu berbinar menatapnya.

“Ya aku ingetlah,” jawab Harya, “tapi…–“

Agia langsung melepas pelukannya dan menggaruk kepala, merasa sikapnya berlembihan. “Maaf, Harya.”

“Iya nggak apa-apa, sini masuk.” Harya mempersilakan Agia duduk di sofa ruang tamu.

Rumah Harya sepi, karena ayah, ibu, dan adiknya sedang pergi ke luar. Harya memilih untuk diam di rumah untuk beristirahat. Dia masih merasa sedikit jet lag.

Kening Harya mengernyit, merasa canggung dengan kedatangan Agia yang tiba-tiba dan memeluknya dengan wajah sembab. Dia melihat wajah gadis itu yang kini sedang terdiam dengan tatapan kosong di balik kacamatanya. Tidak banyak perubahan, hanya rambut ikalnya kini panjang tergerai dengan poni menyamping di sudut telinganya.

“Kamu, apa kabar, Gi? Aku kaget tiba-tiba kamu ada di sini.”

“Baik, enggak baik banget sih. Tadi aku ke sini dianter sama supir taksi yang katanya kenal kamu.” Raut wajah Agia mendadak menjadi sendu saat menjelaskannya. Gadis itu mengusap kantung dan ekor matanya yang telah dipeluk oleh sebulir air mata.

“Siapa? Kok dia bisa kenal aku?” tanya Harya, dia mengingat-ingat siapa supir taksi yang pernah berkenalan dengannya. AH! Pasti Pak Sugiarto, teriaknya dalam hati. Jika ini adalah sebuah kebetulan, Harya yakin ini memanglah takdir.

“Pak Sugiarto.”

“Ah, ternyata benar…”

Sebulir air mata kembali muncul perlahan ke pipi Agia melewati frame kacamatanya, namun langsung segera dia hapus. Agia tidak ingin terlihat kacau di hadapan Harya. Terlebih ini adalah pertemuannya yang pertama setelah sekian lama tidak bertemu. Tapi usahanya tidak berhasil, dia menangis hebat dan meluapkan segalanya.

“Kamu berantem sama Joe?” Wajah Harya mulai memerah melihat kondisi Agia yang sangat rapuh. Dia tidak kuat melihat gadis yang dicintainya itu seperti ini.

“Iya, Har,” jawab Agia sambil terisak.

“Bukannya kalian mau tunangan?”

Agia mengigit bibirnya. ” I… Iya, nggak lama lagi. Tapi..–“

“Tapi apa?”

“Aku sama dia baru aja bertengkar hebat. Semua itu Karena aku nggak nyaman sama sikapnya. Dia sekarang pemarah dan posesif. Aku nggak tahan dengan hal itu, apalagi saat dia tau tentang kamu, Har.” Agia menangis semakin kencang. Dia melepas semua emosi yang dipendamnya di hadapan Harya, satu-satunya orang yang mengerti dirinya.

Harya mendekatkan posisi duduknya dan mengusap punggung Agia. Pelan tanpa berbicara sepatah kata pun. Dia dapat merasakan jantung Agia berdebar kencang saat gadis itu tiba-tiba memeluknya. Perasaan Harya langsung tak karuan. Ada rasa bersalah saat dia membalas pelukan Agia mengingat yang dipeluknya itu adalah kekasih orang lain. Tetapi untuk saat ini Harya membiarkan Agia memeluknya jika itu membuatnya lebih tenang.

“Harya..” Agia melepas pelukannya, lalu menatapnya dengan penuh air mata, “menurut kamu, sekarang aku harus gimana?”

Mendengar pertanyaan itu, Harya memikirkan jawaban yang tepat. Meskipun dia mencintai Agia, dia harus tetap bersikap netral. Harya harus sebijak memberikan saran dan solusi terbaik, dia harus mengesampingkan perasaannya. Dia tidak ingin memanfaatkan momen ini untuk dijadikan celah merebut hati Agia. Namun di lain sisi, Harya tidak ingin kehilangan Agia lagi untuk kedua kalinya.

“Selesaikan, bicarakan baik-baik, Gi,” kata Harya, dia memilih mengucap kalimat tersebut. “Kamu ini kan calon tunangannya, jadi sebisa mungkin, sekesal mungkin, kamu harus tetap menghargai Joe yang masih berstatus sebagai pacar kamu.

“Tapi…, tapi aku udah nggak cinta dia lagi, Har. Aku nggak bisa,” ucap Agia jujur, dia memeluk Harya lagi, “aku sadar bahwa selama ini hanya berharap mendapatkan pria yang sempurna, yang bisa aku banggakan. Aku nggak ingin sendiri. Tapi saat aku mendapatkan pria itu, Joe, dengan segala keistimewaannya, aku nggak mendapatkan apa yang aku butuh. Aku nggak merasa bahagia.”

Agia menatap Harya dalam-dalam. “Selama ini aku merasa bersalah telah mengabaikan kamu, melupakan kamu, meninggalkan kamu tanpa pemberitahuan apapun. Hingga akhirnya aku sadar suatu hari bahwa ternyata orang yang sebenarnya aku cintai adalah kamu, Har.”

“Aku kira hanya aku yang ngerasain hal itu selama ini, Gi. Aku pikir kamu nggak merasakan hal yang sama,” ucap Harya yang tersenyum getir.

“Maafin aku, Har. Aku terlalu naif dengan perasaan aku sendiri sehingga aku mengabaikan hal-hal kecil yang kamu lakukan untuk mengerti dan mencintai aku.”

“Ya sudah nggak apa-apa, lagipula semua udah terjadi. Lalu sekarang kamu bagaimana?” Harya menggenggam erat tangan gadis itu. Dia teringat dengan ucapan Pak Sugiarto. Harya ingin memperjuangkan Agia meskipun harus dengan risiko terburuk. Harya tidak akan mundur lagi.

“Aku memilih kamu dan membatalkan pertunangan ini, Har,” jawab Agia dengan senyumnya penuh harap.

Harya memegang pipi Agia dengan lembut dan perlahan melepas kaca mata yang dulu dia berikan, kemudian menghapus seluruh air mata di wajahnya. Cinta yang selama ini terlewatkan dan dia tunggu sejak lama telah kembali, bukan sebatas angan atau khayalannya seperti mimpi yang selama ini dia harapkan menjadi kenyataan.

Harya tidak ingin kehilangan Agia lagi, dia mencintainya.

“Bantu aku menghadapi semua ini, Har.”

“Pasti, Gi. Aku mencintaimu. Dan aku nggak mau ngeliat kamu menangis lagi seperti ini. Aku akan membuat kamu bahagia, dan itu harus menjadi arti dari namamu. Agia, bahagia,” ucap Damar dengan penuh keyakinan. Dia memeluk erat Agia, membenamkan wajah gadis itu dalam pelukannya. Membiarkan debar jantungnya terdengar jelas agar gadis itu mengetahui betapa Harya mencintainya selama ini.

Harya merenggangkan pelukannya sejenak untuk mengusap wajah Agia lagi agar gadis itu berhenti menangis. Kemudian dia mendekatkan wajahnya. Dalam gerakan lambat wajah mereka mendekat inci demi inci. Mata hitam Damar menyelam ke dalam mata cokelat Agia yang sudah tidak lagi menyimpan rahasia. Semua sudah terungkap.

Bibir mereka bertemu dengan sempurna, meskipun kisah mereka tidak berjalan sempurna sejak awal. Mereka tidak menghiraukan waktu yang sedang berjalan, mereka melupakan sejenak tentang apa yang terjadi nanti, biarlah dihadapi bersama. Mereka hanya ingin menikmati cinta mereka yang dulu tersesat, dan kini telah saling menemukan.

Harya dan Agia hanya ingin berdua, dan berbahagia.

Jangan menyimpulkan cerita ini adalah perselingkuhan. Cerita ini adalah tentang dua hati yang akhirnya menyadari takdir mereka di pinggir jurang keputusasaan, dan berusaha memperjuangkannya.

Tak ada cinta yang sesuai dengan rencana, karena Tuhan Maha Pembuat skenario yang hebat. Dia tau siapa yang terbaik untukmu dan memberikan orang itu tepat pada waktunya.

Dalam pelukan dan ciuman panjang, Agia melepas cincin yang tersemat di jari manisnya.

Sebelum terlambat…

*Ditulis untuk menjawab tantangan dari @aMrazing dalam proyek #WhatIfLove

Advertisements

5 thoughts on “Sebelum Terlambat

  1. baguuusss !!! selalu senang membaca tulisanmu kak. karena selalu memotivasi aku untuk bisa terus menulis sebagus kak falen 🙂
    btw, aku bingung sebenernya nama Harya itu Harya Damar atau Harya Satya Nugraha ? 😐

  2. Bagus ceritanya kanda, Harya nya ngga fiksi banget, lumayan realistik. Yang aku bingung kenapa di bagian akhir Harya tau nama pacar Gia itu Joe padahal Gia ngga cerita apa-apa tentang pacarnya. Trus Gia juga ngga cerita kalau dia udah tunangan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s