Sebuah Akhir

tumblr_kydinq2uzh1qzevelo1_500

source: oohgeephotography.files.wordpress.com 

Jakarta, 18 Maret 2010

“Mengapa kau menyembunyikan hal ini, Rey?!” bentak Bela sambil mendorong tubuh Rey ke dinding perpustakaan perpustakaan tempat mereka sepakat bertemu. Amarah dan kecewa yang Bela rasakan telah menggunung di kepalanya. Tangan gadis itu memegang secarik kertas yang membongkar perasaan Reynaldi selama ini. 

“Aku tidak ingin kau nantinya kecewa, Bela. Kau sudah terlanjur mencintai Hanif.”

“Tapi ini adalah perasaanmu, Rey. Aku pun tidak akan marah jika mengetahui bahwa kau mencintaiku,” ucap Bela, gadis itu menangis sejadi-jadinya. Rey berusaha memeluk Bela, namun gadis itu menepis tangan Rey dan menghindar. 

Rey berkata sambil meremas rambutnya. “Kau tau, selama ini aku hanya ingin selalu bersamamu tanpa sedikitpun mengutik-utik hubungan kalian. Kita telah bersahabat sejak lama.”

“Kau tak tau perasaanku! Lelaki itu bajingan!”

“Ya, lelaki itu memang bajingan dan kau tak pernah percaya dengan ucapanku, tapi kau tetap mencintainya, kan? Begitu pun kamu, Bel. Pernahkah kau sadar hal-hal kecil yang kulakukan untukmu? Aku tau batas di mana aku memperlakukanmu.”

“Jika kau memang mencintaiku, mengapa kau tidak memperjuangkannya?” 

Rey memalingkan wajah. “Perjuangan paling sia-sia itu memperjuangkan orang yang mencintai orang lain dan dibutakan oleh cinta yang menggebu-gebu.”

Kamu tersenyum membaca kalimat pada paragraf terakhir.

“Ceritamu klise, namun aku selalu jatuh cinta dengan tulisanmu,” pujimu sambil menatap mata dan mengacak-acak rambutku yang mulai gondrong. Kau mengatakannya seolah aku adalah penulis paling hebat sejagad raya.

“Sayangnya, cerita klise yang lebih laku di pasaran. Sayangnya juga, kau hanya jatuh cinta dengan tulisannya, tidak dengan si penulis,” ucapku sedikit sinis untuk ketiga kalinya. Setelah ucapan pertama dan kedua hanya kamu tanggapi dengan tawa datar.

Lagi-lagi kamu menatapku dengan tatapan yang tidak bisa kuartikan. Kedua matamu yang hitam gelap selalu penuh misteri yang tidak dapat kupahami meskipun kita telah saling mengenal selama lima tahun. Aku mengingat kita yang masih beranjak dewasa dahulu, kita sama-sama membangun kehidupan dari titik nol hingga sekarang aku mempunyai uang yang lebih dari cukup untuk menghidupi kita berdua. Namun sayangnya kau lebih memilih hidup bersama si bedebah itu.

Di kamar ini, dua tahun lalu, kita menghabiskan waktu bersama. Menulis cerita tentang angan-angan pada secarik kertas dan kau tempel pada dinding kamar kosku yang kita warnai ulang dengan warna biru. Warna harapan, katamu. Kita tidur di satu atap yang sama tanpa harus saling curiga salah satu dari kita akan berbuat jahat. Kau percaya padaku, dan aku pun percaya padamu. Kita sama-sama berambisi mempunyai hidup yang berwarna lewat jemariku yang kau dorong untuk terus menulis.

Aku bersyukur memilikimu, Nadia, meskipun bukan sebagai kekasihku. Aku berterima kasih kepada Tuhan karena telah mengenalkanku kepada seorang wanita yang gemar membaca dan berpengetahuan luas mengenai buku dengan selera dan sudut pandang yang baik. Berkatmu, aku menjadi seorang penulis sukses yang telah memiliki karya yang membuat hidupku jadi lebih baik meski tinggal di kos butut yang terletak di daerah Tebet ini, dekat tempatmu bekerja sebagai pegawai kantoran.

Menurutmu, hidup mewah bukanlah pilihan hidup yang dapat kau nikmati. Apa enaknya hidup seperti burung yang tinggal di dalam sangkar emas? Kau menikmati segala yang kau inginkan, segala kemewahan yang membuat harga dirimu tinggi. Namun kau terasa terkekang. Membuatmu tak dapat terbang bebas ke angkasa dan hinggap di satu pohon ke pohon lainnya bersama burung lain. Ku tidak dapat melihat keindahan dunia lewat berbagai sisi. Kau hanya bisa melihat dunia luar lewat sangkarmu tanpa pernah sedikit pun menjejakkan kaki atau menghirup udara di tempat yang ingin kau kunjungi.

Kamu mengajariku makna kesederhanaan meskipun uang yang kupercayakan pada bank sangat cukup untuk membeli rumah besar dan sebuah mobil yang dapat kau banggakan dengan berlebihan di hadapan teman-teman.

“Memangnya jika aku cinta dengan sebuah tulisan, itu harus sepaket dengan jatuh cinta dengan penulisnya?” tanyamu. Lagi-lagi kau mengucapkan hal itu.

“Tidak, Nad, kau tampaknya masih belum mengerti.”

“Bagian mana lagi yang harus kumengerti, Reza?”

“Entahlah.”

Kamu menyilangkan lengan, lalu membuang muka dengan ekspresi tidak suka. “Sudah berapa kali kubilang padamu, sampai kapan pun aku tak bisa mencintaimu, lagipula aku sudah mempunyai kekasih. Kita hanya sebatas sahabat, Re. Sahabat.” Kamu menekan kata terakhir pada kalimat yang kamu ucapkan.

“Kekasih yang kau sebut cinta pertama?”

“Ya. Kau tidak pernah tau perasaan wanita, Re. Hampir seluruh perempuan di dunia ini tidak pernah lupa dengan cinta pertamanya. Dan tidak semua perempuan beruntung mempunyai kekasih yang tidak lain dan tidak bukan cinta pertamanya,” jelasmu tanpa sedikit pun menatap ke arahku. Jika sudah begini, aku sudah malas berdebat. Kamu akan menghilang beberapa lama tanpa meninggalkan kabar. Kamu akan melupakanku sejenak dan sibuk dengan kekasih ‘keberuntunganmu’ itu, yang bahkan hingga detik ini tidak pernah ingin kutemui dan kulihat wajahnya.

Aku muak dengan penjelasanmu ini dan ingin segera mengatakan sebuah hal yang selama ini kurahasiakan padamu. Tapi aku tau, kamu tidak akan mempercayainya dan berkata bahwa aku hanya mengarang cerita saja –dilihat dari profesiku. Kita berdua terlalu dekat, terlalu tau sifat dan kebiasaan masing-masing. Namun kita tak pernah memahami isi hati kita sendiri.

“Aku memang tidak pernah tau dan tidak pernah peka,” ujarku seraya meneguk tegukan terakhir kopi yang kau buat setengah jam lalu, “karena wanita yang kucintai tak pernah mencintaiku, Nad.”

Suasana percakapan kita menjadi beku. Semua itu karena ulah udara AC baru yang kubeli seminggu lalu menguar ke berbagai sudut kamar, ditambah dengan sikapmu yang kini dingin.

“Nad, tampaknya aku akan berhenti menulis setelah naskah ini selesai.”

Kamu langsung memutar kepala dan menatapku kaget. “Maksudmu?”

“Harus kujelaskan ulang? Aku ingin berhenti menulis. Mungkin aku akan mencari pekerjaan lain.”

“Mengapa?”

“Karena…” Kali ini aku yang membuang muka, “karena aku sudah lelah dengan hal ini.”

Bagimu, tulisanku mempunyai keindahan yang membuat siapapun tak bosan membacanya. Dengan menulis, aku menghasilkan uang. Tapi apakah kau tau hampir sembilan puluh lima persen tulisanku ini terinspirasi darimu, Nadia? Aku mencintaimu sejak dulu, dan kau mengetahui hal itu. Namun kau menyangkalnya dan menganggap perasaanku hanyalah semu, sebatas rasa nyaman karena kita sudah lama bersama.

Tetapi kau tidak tau satu rahasia yang selama ini kusembunyikan, Nadia. Aku pun takkan tega untuk mengatakannya. 

“Kamu hidup karena tulisanmu, Re. Aku ragu kamu bisa hidup tanpa jauh dari frasa,” katamu dengan nada tidak yakin. Ekpresi wajah tidak suka yang tadi kau tunjukkan tadi kini telah berubah menjadi kecewa.

“Aku bisa bekerja dengan ijazah Sarjana Komputer-ku, Nad.”

“Oke, jika kamu memang yakin dengan itu. Tapi aku ingin kau jujur mengatakan alasan sebenarnya mengapa kamu ingin berhenti menulis?”

Aku terdiam dengan kepala menunduk. Melihat cangkir kopi yang sudah habis. Mencari kalimat yang tepat dan masuk akal untuk menjawab pertanyaanmu. Tetapi hasrat dari dalam lubuk hatiku yang terdalam tidak dapat kutahan lagi. Kedua mataku sekarang tertuju pada sebuah buku catatan tebal yang tergeletak di samping laptopku. Di sana, di antara lembaran-lembaran tulisanku, ada secarik kertas setengah sobek yang menyimpan sebuah rahasia. Di kertas itu, aku menyimpan sesuatu yang akan membuatmu terkejut dan merasakan penyesalan sedalam-dalamnya.

“A-Aku…, aku ingin berhenti mencintaimu, Nad.” Aku menjawab jujur. Kamu menoleh ke hadapanku seraya menggelengkan kepala. Tidak percaya dan tidak menerima alasanku.

Aku mengembuskan napas berat untuk kalimat yang akan kuucapkan sesaat lagi. Aku mengumpulkan keyakinan dan keberanian untuk membuka buku catatan yang kubilang barusan.

“Kau tau, Nad, aku mencintaimu sejak lama. Kau hidup di dalam tulisanku.” Aku berhenti sejenak untuk melihat perubahan sikapnya. Tapi nampaknya dia menunggu penjelasanku selanjutnya.

“Selama ini aku menulis karena kamulah inspirasiku. Setiap kali aku menulis, orang yang selalu terbayang di pikiranku adalah kamu. Iya, kamu. Sedangkan kenyataan pahitnya adalah aku mencintaimu dan kau tidak bisa kumili—“

“Cinta tak harus memiliki kan? Kau pun sebenarnya bisa mencari kekasih yang cantik dan sempurna melebihi diriku. Lihatlah, Re, penggemarmu banyak sekali yang cantik dan tergila-gila denganmu.” Tiba-tiba kamu memotong penjelasanku dengan wajah dingin. Tidak menerimanya sama sekali.

“Sampai kapan aku bisa mencintaimu dengan cara itu? Aku ingin mencintaimu dengan utuh! Memilikimu. Aku ingin berhenti menulis karena rasa cintaku padamu abadi dalam tulisanku, Nad. Semakin aku sering aku menulis, semakin sering aku mencintaimu, dan aku ingin berhenti. Bagaimana aku bisa tidak memilikimu sedangkan aku begitu mencintaimu. Betul memang, bisa saja aku mencari kekasih yang cantik dengan titel penulis besar, atau memanfaatkan penggemarku, tetapi hanya bajingan yang melakukan itu. Aku memang egois, tapi aku tidak brengsek. Dan kurasa aku sudah terlalu memaksakan perasaanku padamu. Untuk itulah aku memilih berhenti,” lanjutku yang juga dengan nada putus asa.

Wajahmu memerah, aku melihatnya dengan jelas dan deru napasmu saat itu sudah tidak teratur. Itu pertanda dalam beberapa detik ke depan akan ada air mata yang jatuh. Sungguh, aku benci sekali dengan suasana ini –melihatmu menangis di hadapanku, terlebih penyebabnya karena aku.

“Kau akan pergi ke mana, Re?” tanyamu sambil mengusir air mata pada kelopak matamu.

“Ke tempat yang membuatmu takut tersesat. Tempat dulu pertama kali kau jatuh cinta,” ucapku bergetar dengan jawaban yang ambigu. Hatiku terasa sakit sekali. Nyeri. Seperti luka yang disiram dengan air cuka, lalu ditaburi garam. Namun aku lebih memilih menikmati luka itu selama ini daripada harus Nadia yang merasakannya.

Aku meraih tanganmu tanganmu yang dingin seiringin dengan sikapmu. “Ini, Nad, bacalah buku ini sebelum kita benar-benar saling meninggalkan. Sebelum kita menyudahi apa yang telah kita tata bersama. Di tengah buku itu ada secarik kertas yang menyimpan rahasia tentang hatimu.”

Kamu menerima buku catatanku dan membereskan barang-barang; lima pasang baju dan celana serta novel-novel kamu tinggalkan di kamarku ke dalam tas ranselmu yang kamu simpan di bawah tempat tidur. Aku tidak menahanmu pergi, jika itu nantinya akan membuatmu bahagia tanpa rasa bersalah tidak membalas cintaku, Nadia.

“Pergilah, Nadia. Aku membiarkanmu menentukan kebahagiaanmu sendiri,” ucapku untuk terakhir kalinya.

Kamu menyeka air mata. Pemandangan yang mengiris hatiku tipis-tipis. Tubuhmu bergetar hebat ketika kamu mengalungkan kedua tanganmu ke punggungku. Memelukku. Untuk pertama dan terakhir kalinya, kau mencium bibirku selama lima tahun kita tinggal bersama.

Pergilah, maafkan keegoisanku dalam mencintaimu. 

***

Depok, 28 Nopember 2013

Tiga tahun telah berlalu semenjak Nadia pergi meninggalkan Reza, gadis itu tidak lagi mendengar kabar atau pun cerita mengenai pria itu. Dia sempat menghubungi penerbit mayor yang setia telah menerbitkan tiga naskah Reza menjadi buku, tetapi mereka pun tidak mengetahui sosok Reza setelah buku buku keempat –buku terakhirnya, diterbitkan.

Nadia sempat mencari tahu lewat para penggemar Reza –tentunya mereka tidak tau siapa sebenarnya Nadia– yang sering hadir ke acara-acara semiar, talkshow, atau acara yang Reza selenggarakan khusus untuk bertemu para penggemarnya, tapi tidak satu pun yang mengetahui kabar terakhir pria itu. Nadia dab mereka telah benar-benar kehilangannya. Gadis itu benar-benar rindu dengan Reza dan merasakan firasat buruk terhadap pria itu.

Sekarang Nadia bekerja menjadi sebagai akun eksekutif di sebuah perusahaan public relation di Jakarta dengan keseharian layaknya robot. Mulai bekerja di kantor pukul delapan pagi dan hingga pukul lima sore. Hubungan Nadia dengan pacarnya, Edy, telah berakhir ketika gadis itu telah mengetahui rahasia yang dulu Reza berikan pada secarik kertas di dalam buku catatan yang diberikan pria itu.

Tidak ada satu orang pun yang mengetahui keberadaan Reza, termasuk teman-teman terdekatnya. Pria itu telah hilang layaknya ditelan bumi. Nadia masih mengingat betul semua kebaikan Reza terhadap dirinya, dia adalah salah satu orang yang berjasa dalam hidup Nadia. Orang yang membantu Nadia menghadapi kehidupannya yang pas-pasan sebagai anak rantauan.

Sore itu, sekitar pukul lima, Nadia sedang berada di Margo City. Dia baru saja meeting dengan salah satu klien yang mengajaknya ngopi di Starbucks mal besar kebanggaan masyarakat Depok. Setelah melewati dua jam perbincangan alot tentang kerja sama, akhirnya Nadia menyepakati keinginan sang klien tentang proyek besarnya itu. Sekeluarnya dari Starbucks pukul tujuh malam, Nadia merasa iseng untuk mampir ke toko buku Gunung Agung yang terletak di lantai dua. Gadis itu menaiki lift dari lantai dasar menuju lantai dua. Dan toko buku itu terletak hanya beberapa meter dari pintu keluar lift.

Nadia memasuki toko buku itu dengan rasa rindunya yang meluap. Sudah hampir setengah tahun dia tidak lagi membaca novel. Gadis itu terlalu sibuk di depan layar laptopnya untuk mengetik pekerjaan dan membuat slide presentasi yang nantinya dia presentasikan saat rapat mingguan.

Kedua kaki Nadia seolah dituntun oleh naluri membacanya untuk berjalan di antara jejeran rak buku. Dia mulai melihat buku lewat sampul dan blurb-nya. Sudah empat buku yang dia lihat namun belum ada satu pun yang membuat Nadia tertarik untuk membawanya pulang. Perhatian Nadia tertuju pada sebuah novel bersampul biru dengan gambar bintang dan sebuah baju berwarna sama dengan sampulnya. Buku itu terbaring di sudut rak di antara buku-buku best seller. Novel itu berjudul ‘Sebuah Akhir’, dan penulisnya bernama Arez Syahrial.

‘Siapkah kau menerima kenyataan bila itu adalah kejujuran yang sebenarnya ingin kau tau sejak dahulu? 

‘Dan, apakah kau akan menerima kenyataan itu lalu memperbaikinya? Atau, kau berlari dan mencari kenyataan lain yang bisa kau terima serta kau jalani?

Percayalah, sejauh apapun kau berjalan, kau dituntun pada sebuah akhir.

Sebuah akhir yang tak pernah kau bayangkan.’

Nama penulis dan blurb novelnya unik, pikir Nadia. Sebentar. Arez Syahrial? Syahrial? Nadia langsung teringat dengan nama belakang Reza, yaitu Syahrial. Gadis itu langsung membawa novel itu ke meja kasir dan pulang ke kosnya dengan rasa penasaran yang sudah bergerumul di kepala.

Sesampainya di kos, dia membuka pintu dan menjatuhkan diri ke atas kasur. Nadia membuka kemeja kerjanya yang berwarna putih dan menggangungkannya di belakang pintu. Gadis itu hendak bergegas mandi, tapi langsung mengurungkan niat karena keringat di sekujur tubuhnya masih belum kering setelah terjebak di kerumunan penumpang kereta selama satu jam lebih dalam keadaan AC mati.

Nadia membuka bungkus plastik bening novel yang dibelinya itu, lalu mulai membaca lembar pertama dan seketika hanyut pada alur cerita. Pada saat memasuki bab ketiga, dia merasa tulisan si penulis novel itu terbaca familiar di matanya. Diksinya lembut dan manis, serta ada beberapa analogi dan pesan makna di tiap bab, mirip seperti tulisan Reza.

Apakah ini Reza? Atau hanya perasaanku saja? Apakah dia menulis lagi dengan nama pena? Atau memang ada penulis yang gaya menulisnya mirip seperti Reza. Nadia bertanya pada pikirannya sendiri.

Premis cerita yang dapat Nadia simpulkan dari novel itu adalah tentang seorang wanita yang tidak percaya dengan sahabatnya. Entahlah, ceritanya seperti mirip dengan dirinya dan Reza dahulu. Karakter utama dalam novel itu seorang perempuan bernama Ilana dan sahabat laki-lakinya bernama Luki. Ilana mempunyai pacar bernama Anji.

Seiring alur cerita semakin mendekati akhir, pikiran Nadia benar-benar tenggelam dalam novel itu. Gadis itu semakin penasaran ketika flash back cerita tentang puisi yang Luki bacakan pada acara seni di sekolahnya.

“Kau takkan percaya pada cinta pertama.
Setelah kau rasakan sendiri degup jantungmu berdetak tanpa irama
Hatimu dengan malu-malu melirikmu genit
Menunjuk dengan jari kecilnya ke senyum seseorang yang kau damba 

Jika bahagia adalah rasa yang absolut
Aku ingin bahagia bersamamu
Memilikimu dan menyangkal naskah takdir

Karena semesta tak tau ada seseorang yang tulus mencintaimu setengah mati
Dalam kehidupan yang tak abadi dan tak sempurna

Biarkan aku mencintaimu, sekali dan selamanya.”

Air mata Nadia mengucur deras jatuh dan pada bantal yang menjadi spot favorit kedua tangannya yang sedari dua jam lalu bertopang saat membaca novel itu. Dadanya sakit sekali karena puisi itu adalah puisi yang tertulis pada secarik kertas yang Reza berikan pada buku catatannya. Puisi itu adalah rahasia yang selama ini disembunyikan oleh Reza

Puisi itu adalah puisi yang Edy baca saat mengungkapkan cintanya, dan ternyata puisi itu adalah karya Reza. Sebuah kenyataan klise yang teramat sangat pahit. Nadia jatuh cinta pada Edy saat pria itu membaca puisi buatannya saat acara seni di sekolahya dulu. Kini Nadia tau alasan mengapa Reza begitu membenci Edy. Nadia telah mengetahui hal yang selama ini Reza sembunyikan. Bahwa Edy adalah teman Reza di sekolahnya saat SMA. Semua itu tertulis di buku catatan itu, tentang semua cerita teman-temannya saat sekolah. Dan pertemanan mereka berdua hancur saat Edy berpacaran dengan Nadia, karena ternyata Reza juga jatuh cinta padanya.

Ternyata intisari novel itu adalah cerita mengenai cinta segitiga antara Nadia, Reza, dan Edy. Azer adalah nama pena Reza yang barisan katanya ditukar. Dia mengetahui hal itu saat melihat profil penulis di halaman terakhir. Tanpa berpikir lagi Nadia langsung menelpon kontak penerbit yang menerbitkan novel itu. Namun setelah menghubungi kontak penerbit tersebut, gadis langsung terduduk lemas dan menangis semalaman.

***

Tebet, 18 Januari 2014

Pukul tiga sore, Nadia turun dari taksi yang dinaikinya di daerah bilangan Tebet. Dia berjalan kaki di sekitar jajaran ruko yang terletak di jalan Saharjo dengan mengenakan celana jeans panjang hitam serta kaos putih yang dibalut jaket baseball berwarna biru.

Tidak butuh lama untuk membangkitkan kenangan tentang daerah itu di kepala nadia. Makan malam di angkringan mas Engkus di daerah Tebet selatan, atau jalan-jalan menikmati sore di sekitar taman Honda untuk melihat komunitas sepeda BMX yang rutin unjuk gigi di sana.

Nadia masuk ke rumah kos-kosan tempat Reza menata kehidupannya. Kos-kosan yang terdiri dua lantai seperti rumah susun kecil itu kini terlihat tua. Cat putih di beberapa dinding kamar mulai terkelupas. Kolam ikan bundar di tengah jalaman yang dahulu airnya jernih kini sekarang tidak terurus.

“Nyari siapa, Mbak?” tanya seorang perempuan saat Nadia menatap pintu kamar yang terbuat dari kayu. Di permukaan tengah pintu itu tertulis ‘No.12’. dan tidak terlihat ada penghuninya.

Nadia membalikkan kepalanya, melihat perempuan itu, menatapnya seksama. “Dira, ya?”

Perempuan yang disebut Dira oleh Nadia itu kaget. Dia langsung menyelidiki penampilan Nadia. “Iya, Mbak siapa kok tau nama saya?”

“Wah kamu udah gede sekarang,” kata Nadia. Senyumnya mengembang melihat perempuan yang dahulu masih duduk di sekolah menengah pertama kini sudah besar dan cantik. “Ini aku Nadia, Ra.”

Perempuan yang memiliki wajah Jawa dengan kulit yang putih itu mengingat nama yang disebutkan lawan bicaranya barusan. “Ng…, Nadia yang mana ya, Mbak?”

“Nadia… Nadianya Ka Reza!” Seru Nadia dengan tatapan berbinar. Dia ingin sekali mengusap kepala Dira. Dulu saat sore menjelang anak itu sering duduk di pinggir kolam dan bercerita banyak tentang teman-teman di sekolahnya yang nakal. Sambil mendengar cerita Dira, Nadia sesekali mengusap kepala anak itu agar dia tidak sedih.

“Oooh…” Dira langsung mengingatnya, sikapnya berubah menjadi ramah, “ka Nadia sekarang udah dewasa. Dira jadi pangling. Hehehe,” ucap Dira sambil menyunggingkan senyum.

“Ibu ada?”

“Ibu sekarang pulang ke Yogya, Kak. Sekarang aku yang ngurus. Ka Nadia mau nyari siapa?” tanya Dira polos. Dia tidak menyadari raut wajah Nadia yang berubah menjadi sendu.

“Aku mau liat kamar bekas kosnya ka Reza aja, Ra. Boleh?”

“Kamarnya udah lama kosong, Kak. Terakhir yang ngisi orang Bogor sekitar dua bulan yang lalu, terus keluar. Boleh kak, tunggu sebentar aku ambil kuncinya,” kata Dira, dia langsung melangkah masuk ke dalam rumahnya yang terletak empat petak dari kamar bekas kos Reza.

Tak lama kemudian, Dira memberikan kunci pintu kamar kos Reza kepada Nadia. Gadis itu masuk ke dalam kamar itu dengan perasaan yang tidak dapat dijelaskan. Antara rindu dan bingung. Nadia merasa sangat rindu dengan tempat ini, namun dia juga tidak tau tujuan jelas kedatangannya ke sini. Gadis itu ingin menengok tempat tinggal yang telah merekam banyak jejak pencapaian dan kenangan yang telah dilaluinya bersama Reza.

Kamar itu sepertinya tidak di urus. Nadia menyapu pandangan ke seluruh sisi kamar itu. Langit-langit kamar terlihat bekas kebocoran air hujan. Dinding yang dulunya putih bersih kini ada bekas coretan pulpen yang tidak jelas tulisannya apa. Lemari tempat Reza menyimpan baju, serta rak buku yang dulu berdiri tegak tepat di samping pintu kamar mandi sudah tidak ada. Sepertinya penghuni terakhir kamar ini atau ibu kos telah memindahkannya.

Nadia terduduk di lantai dengan posisi memeluk kedua kakinya sambil menangis. Dia menyesali dirinya yang terlalu bodoh. Terlalu bodoh karena dia tidak pernah bisa membuka hatinya untuk Reza. Dia terlalu buta karena cinta pertamanya, Edy, yang ternyata adalah teman Reza dahulu. Seandainya saja dia tau sejak awal bahwa puisi yang dibacakan Edy adalah ciptaan Reza, hati Nadia pasti tidak akan terjatuh pada lubang kesalahan yang begitu dalam. Lubang kesalahan yang membuat lubang besar di dalam hatinya dan tidak bisa tertutup sedikit pun hingga detik ini.

Tak disangka, sebuah karya sederhana dapat mengubah hati dan kehidupan Nadia. Puisi yang ditulis Reza adalah karya terindah yang pernah Nadia baca selama hidupnya. Puisi itu hidup dan menghidupi hatinya di antara tulisan indah Reza lainnya yang dibukukan.

Setelah lelah menangis, dengan mata sembab dia berpamitan dengan Dira untuk pulang, karena lusa dia akan bertemu dengan editor novel Reza yang bernama Ratih. Mereka berdua janjian bertemu di sebuah kafe yang terletak di Depok.

***

Depok, 20 Januari 2014

“Hai, selamat malam. Kamu Nadia, ya?” sapa seorang wanita berumur tiga puluh tahunan. Wajahnya terlihat keibuan namun tetap terlihat cantik. “Saya, Ratih, editornya Reza. Udah nunggu lama ya?” Wanita itu berjabat tangan dengan Nadia, kemudian meletakkan tasnya di samping kursi yang berhadapan dengan Nadia. Ratih duduk dan meletakkan novel Reza di meja.

“Oh, iya Bu Ratih. Salam kenal, saya Nadia.” Nadia tersenyum, senyumnya terlihat jelas dipaksakan.

“Panggil saya Ratih aja,” kata Ratih seraya merapikan lekuk rok selutut yang dia kenakan. Dia meliaht senyum Nadia dan langsung mengerti perasaan gadis itu yang sedang terpukul.

“Iya, Ratih. Hehehe.” Ada hening yang panjang di antara mereka berdua. Nadia tidak tau ingin memulai percakapan dengan topik apa. Di pikirannya kini hanya berisi dengan berbagai macam pertanyaan mengenai Reza. Gadis itu ingin segera mengetahui seluruh informasi mengenai pria itu.

Ratih mengambil map hijau dari tasnya dan memilah beberapa lembar kertas. “Jadi kamu sahabatnya Reza?” tanyanya masih sambil memilah kertas di dalam map itu.

“Iya, sejak dia pertama kali menulis.”

“Oh, udah lama banget ya. Hmm…, jadi mengenai Reza.” Ratih langsung menuju inti pembicaraan, “dia udah nggak ada, Nadia.”

Wajah Nadia langsung sendu, dia menutup wajahnya dengan kedua tangan. Sebelum pertemuan ini dijanjikan, dia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk menerima kenyataan yang akan dia ketahui. Nadia sudah mempersiapkan diri dan mentalnya untuk mendengar kabar terburuk.

“Sejak mengirim naskah novel itu, Reza sudah sakit-sakitan, Nadia. Tidak ada yang mengurus Reza saat itu. Dia tinggal sendiri di kontrakannya. Kamu tau kan dia tidak mempunyai orang tua, dia juga tidak dekat dengan saudara-saudaranya,” ucap Ratih, nada bicaranya sedih.

Ratih mengengang Reza adalah salah satu penulis berbakat yang berkepribadian ramah dan baik. Menganggap editor adalah temannya, bukan partner kerja. Ratih pun tau Reza adalah pria kesepian. Pria itu bercerita tentang kehidupannya dari nol tanpa sanak saudara. Dia hidup sendiri bersama temannya –Nadia, namun tidak bercerita banyak tentang gadis itu.

“Dia kecelakaan tiga bulan lalu tidak lama novelnya naik cetak. Saat itu dia mengendarai mobilnya menuju rumah salah satu temannya di Pasar Minggu, Nadia. Menurut saksi mata yang memberi keterangan kepada polisi, mobil yang dia kendarai tergelincir saat menghindari lubang dan tertabrak mobil yang sedang melaju kencang dari arah berlawanan. Saat itu hujan turun deras. Pertolongan terlambat dan Reza tewas di tempat,” jelas Ratih. Wanita itu pun menangis pelan. Dia mengambil tisu yang terletak di atas meja untuk mengusap wajahnya.

Nadia sendiri sudah bercucuran air mata sejak kalimat pertama yang diucapkan Ratih. Wanita itu beranjak dari tempat duduknya dan duduk di samping Nadia untuk mengusap punggung gadis itu untuk saling menguatkan.

“Sabar ya, Nad.”

“…” Nadia tidak merespon. Hanya isakan tangisnya yang terdengar. Orang-orang yang berada di kafe itu melirik iba ke arah mereka berdua.

Ratih mengambil selembar kertas dari tasnya dan memberikan kertas itu kepada Nadia. Kertas itu adalah salah satu lembar naskah novel ‘Sebuah Akhir’. Sambil menyeka air mata, Nadia menerimanya kertas itu.

“Kertas itu adalah bagian terakhir dari naskah novel Reza, Nad. Dia menuliskan nama kamu. Kami tadinya sempat berpikir mungkin ini adalah salah satu kalimat percakapan yang salah disisipkan pada format naskah. Kami pun tadinya ingin menyisipkannya kalimat itu di kata pengantar penulis. Namun kami ragu karena Reza menggunakan nama pena, bukan nama aslinya. Jadi kami tidak ingin pesan ini berarti ambigu bagi para pembaca nanti,” kata Ratih sambil membuka bagian kata pengantar novel itu.

“Dan ini—“ Ratih menunjukkan barisan kalimat pada kata pengantar novel itu kepada Nadia, “di sini tertulis sebuah nama pada ucapan terima kasih. Andia. Mungkin ini adalah namamu yang kata-katanya ditulis acak, Nad.”

Nadia memegang lembar naskah novel Reza dengan tangan bergetar. Air matanya jatuh menetes deras ke permukaan naskah. Dia membacanya dengan perasaan hati yang hancur lebur tak bisa berkata-kata lagi.

“Aku rasa hidupku tak lagi berarti semenjak kepergianmu. Menulislah, Nadia. Abadikan aku di dalam tulisanmu dengan kata-kata sederhana yang bisa kau buat seperti halnya aku menulis tentangmu. Mungkin kau takkan melihatku lagi saat kau membaca tulisanku, untuk itu menulislah. Dengan menulis, kau akan selalu merasakan kehadiranku dan menemukan aku lewat tiap kata pada tulisanmu meskipun ragaku tak ada.

Aku mencintaimu, Nadia.

Inilah yang kusebut sebuah akhir dalam cerita kita, yang tak pernah kau bayangkan.”

Advertisements

3 thoughts on “Sebuah Akhir

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s