Dua Panggilan

blackberry-cute-phone-photography-white-Favim.com-52188

source: favim.com

***

Kau takkan pernah mengira bagaimana rindu menggelayuti dadamu, hingga dia terselip di antara keinginan terpendam. Dia akan membuat jantungmu berdebar-debar seakan panah cinta dari malaikat cupid terkena tepat di hatimu sekali lagi. Kenangan akan dengan senang hati membantumu mengingat saat-saat indah bersamanya.

Di sana kamu akan melihat pemutaran ulang bagaimana cara kerja Tuhan menunjukkan sebuah momen yang sangat dinanti-nanti umat manusia lewat sepersekian detik yang membuat waktu berjalan lambat. Fokus kedua matamu akan mengirim sinyal pada otak untuk menggerakan syaraf-syaraf wajah -terutama bibir- untuk membentuk sebuah lengkung senyum.

Dan saat itu juga kau akan merasa gugup dan bingung antara kau akan melanjutkan tatapan itu atau tidak, karena kau takut hatimu jatuh. Sebagian orang menanggap itu adalah pembuktian dari sebuah deskripsi singkat tentang jatuh cinta yang telah berlaku sejak zaman Shakespear masih menulis kisah Romeo dan Juliet. Kala itu kau merasakan hatimu begitu hidup, namun setelah kau benar-benar merasakan apa yang sedang terjadi, semua akan berubah.

Semua menjadi redup.

***

Di sebuah kamar dengan dinding berwarna biru, kau akan melihat seorang laki-laki, oh tidak, tepatnya laki-laki yang beranjak dewasa, sebut saja pria. Pria itu tertidur dengan posisi telentang di antara tumpukkan buku-buku novel yang telah dia baca sejak malam. Wajahnya tampak lelah setelah kedua matanya kerja rodi untuk membaca tiap deret kata yang tercetak pada buku-buku yang dia baca. Dia tertidur pulas.

***

TRINGGGG! TRIIIINGGGG! TRIIIINGGGGG! 

Suara ponsel nyaring berbunyi menandakan ada panggilan masuk.

Aku mengerang sembari membuka setengah kelopak mataku untuk melihat di mana letak ponselku. Sebelah tanganku meraba-raba ke arah sekitar kasur untuk segera mendapatkan ponsel jahanam itu. Ya, aku sangat terganggu dengan suaranya yang keras sekali yang mungkin akan terdengar sampai ke kamar sebelah. Dalam hitungan beberapa detik, aku mendapatkan Blackberry Armstrong berwarna hitam itu tepat di samping bantal.

Aku memencet tombol untuk menerima panggilan dan menempelkan ponsel ke telinga tanpa melihat nama orang yang menelpon.

“Haloo–“

“SAYAAAANG BANGOOOOON!” Teriak seorang perempuan yang suaranya langsung membuatku mengembuskan napas panjang.

“Aduh, kamu kenapa nelpon–” Aku menjauhkan ponsel sejenak dari telinga karena kaget sekaligus untuk melihat ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul dua pagi, “jam segini? Ada apa, Sayang?”

“Lho? Kamu nggak sahur?”

“Eh? Sahur? Emang udah puasa ya?” tanyaku polos. Aku mengucek sebelah mataku sebelum beranjak bangun dengan keadaan kacau. Aku tertidur ketika sedang membaca novel Ilana Tan yang berjudul ‘Sunshine Becomes You’, sepertinya saat itu aku sudah ngantuk sekali. Ya, sebagai cowok yang hobi bermain futsal, sepertinya aku akan ditertawai teman-teman perempuanku jika mereka mengetahui aku suka membaca novel romance.

“Iya, ini kan hari pertama puasa, Yang. Emang kamu nggak tau? Kamu kebiasaan deh, pasti tidurnya larut kan?!” Aku mulai diintrogasi oleh pacarku yang bawel ini. Jika sudah begini, dia tidak akan berhenti mengoceh menasihatiku untuk ini-itu.

“Maaf, aku nggak tau. Kayaknya aku nggak puasa dulu deh, Yang. Soalnya aku belum beli makanan buat sahur sekarang. Warung juga pasti tutup. Nggak apa-apa kan?” tanyaku dengan nada hati-hati, mengira-ngira respon apa yang akan keluar dari mulut pacarku ini.

“Hmmm…, ENGGAK! Ini tuh puasa pertama, masa kamu bolong sih? Parah banget! Yaudah tunggu setengah jam lagi.”

Tut. 

Panggilan diakhiri. Aku bersandar pada dinding kamar dan melihat keadaan kamar yang berantakan sekali dan aku tidak punya kekuatan untuk merapikannya saat ini juga. Aku bergegas mencuci muka agar wajahku tidak terlihat konyol di hadapan Nayla.

Oh Tuhan…

Pasti Bu Ratna, ibu kos tempatku tinggal, akan menertawaiku saat lewat pintu gerbang siang nanti. Dia akan menggodaku karena Nayla datang pagi-pagi buta ke kos untuk mengantarkan makanan untuk sahurku. Ibu kos di tempatku tinggal ini sudah dekat dengan pacarku.

Dia sepertinya tidak merasa ada masalah jika ada Nayla datang ke kosku kapanpun dia mau. Kau tau? Sebelum aku hendak tinggal di kos, ibuku sudah terlebih dahulu meminta izin agar Nayla boleh masuk ke kamar kosku. Kami belum menikah. Tapi jangan berpikir kami berbuat telah macam-macam, karena ayah Nayla adalah anggota militer yang bisa saja menembakku dengan pistol atau memasang ranjau di kolong tempat tidurku.

Bukannya aku tidak senang akan dibawakan makanan untuk sahur, tetapi Nayla pasti akan membaweliku dengan segala tiga alasan. Pertama, kamar kosku berantakan seperti kapal pecah. Kedua, aku lupa bahwa hari ini puasa pertama. Dan ketiga, aku tidur larut malam. Seandainya daun telingaku bisa secara otomatis tertutup saat Nayla mulai dengan nasihatnya, aku pasti merasa senang sekali.

Tok… Tok… Tok…

Aku berjalan dengan lunglai ke pintu kamar yang berjarak hanya tiga meter dari kasur. Dengan tenaga lemas aku membuka pintu. Aku tidak menyangka Nayla akan datang lebih cepat dari ucapannya tadi.

Selamat pagi…” ucap Nayla dengan nada yang dibuat-buat agar terdengar manis.

“Pagi, Sayang. Sini masuk,” kataku menyambutnya di samping pintu untuk mempersilakan masuk ke dalam. Aku melihat sekilas ke kamar sebelah. Masih sepi, lalu menutup pintu. Sepertinya teman-teman di kamar sebelah tidak sahur,

Nayla masuk ke kamarku dengan langkah seperti robot. Dia terlihat ngantuk. Tangan kanannya menenteng plastik hitam berukuran sedang dengan rantang makanan putih yang menyembul di antara lubang pegangannya.

“Kamar kamu ngenes banget siiiihhh…” keluh Nayla sebal saat melihat kondisi kamarku. “Kamu udah berapa kali aku bilangin supaya rapihin kamar kalo bangun tidur.”

“Aku masih lemes, Yang. Baru tidur dua jam.”

“Yaudah, nih kamu makan dulu. Aku bawain ayam goreng sama sayur sop dari rumah. Nasinya ada di rantang paling bawah,” ucap Nayla sambil meletakkan rantang di atas meja komputerku, “aku beresin kamar kamu,” lanjutnya.

Aku menggaruk-garuk kepala. “Besok siang aja deh aku beresinnya, sekarang sahur dulu. Kamu juga pasti masih ngantuk.”

Nayla mengangguk tanda setuju. “Aku beresin buku-buku kamu minimal nggak keliatan berantakan banget.”

“Iya, aku makan ya makanannya. Makasih banget sayang,” ucapku tersenyum. Syukurlah dia tidak menceramahi seperti dugaanku.

Aku membuka rantang dan meletakkan semua makanan di atas piring yang tersaji di samping rak buku. Untuk urusan makan, aku selalu rajin mencuci piring, sendok, garpu, dan gelas. Sebagai mahasiswa baru yang tinggal ngekos, aku tergolong cukup memperhatikan kesehatan. Karena pernah suatu ketika aku terserang diare, dan saat aku check up di rumah sakit tempat Nayla kuliah praktik, dokter yang memeriksaku mendiagnosa penyakitku disebabkan bakteri yang hidup di peralatan makan yang kotor. Semenjak saat itu aku selalu rajin mencuci peralatan makan.

Setelah semua makanan telah tersaji di piring. Aku melahapnya dengan penuh sukacita. Pasti makanan ini buatan Nayla. Aku sudah hapal rasa makanan yang dibuat pacarku itu. Dia memiliki salah satu keibuan -selain bawel, yaitu pintar memasak. Itulah sebabnya aku jatuh cinta padanya dua tahun yang lalu. Setiap kali aku sakit, dialah yang memeriksaku terlebih dahulu sebelum berobat ke rumah sakit, dan memberikan obat yang dia tau, karena dia kuliah di fakultas kedokteran.

“Enak?” tanya Nayla sambil merapikan buku di atas kasur.

Aku mengangguk, dengan mulut penuh makanan aku berkata, “Selalu!”

Nayla senang mendengarnya jawabanku. Dia tersenyum dengan mata berbinar yang terlihat dari kaca mata berframe hitam tipis yang dia gunakan. Senyum yang menghadirkan lesung pipi kirinya, membuatku gemas dan ingin mencubitnya.

Setelah selesai makan, aku mencuci piring. Nayla duduk di kasurku sambil memeluk guling. Aku mengelap kedua tangan pada handuk kecil yang tergantung di samping lemari pakaian.

“Kamu mau lanjut tidur di sini?”

“Iya, aku baru tidur sejam. Tadi abis ngerjain bagan buat presentasi besok.”

“Yeee, kamu ngomelin aku tidur larut tapi sendirinya begadang.” Aku merebahkan kepala di pangkuannya. “Udah bilang mama belum?”

“Udah kok, kata mamah yang penting nggak kebablasan aja tidurnya. Aku juga udah nelpon mamah kamu, minta izin, terus kata mamah titip salam aja jangan sampai kesiangan,” jawab Nayla sambil mengusap rambutku yang mulai terlihat gondrong.

“Yaudah, aku tidur yah,” ucap Nayla. Dia meletakkan bantal yang tadi dia peluk ke permukaan kasur, lalu hendak merebahkan tubuhnya. Namun aku menahannya sejenak dengan menggenggam sebelah tangannya dan mengecupnya lembut.

Nayla terdiam. Dia hanya memperhatikan. Aku menatapnya lekat-lekat, tanpa terasa wajah kami berdekatan. Sangat dekat. Jarak wajah kami tidak lebih dari lima senti. Nayla memejamkan matanya, aku pun melakukan yang sama. Perlahan-lahan bibir kami bertemu. Beberapa kecupan manis tercipta. Jantungku berdebar, dan aku merasakan jantung Nayla pun berdebar saat kami berpelukan.

Nayla memelukku erat seolah tak ingin kehilanganku. Aku menikmati pelukan ini hingga dia mengendurkannya dan tertidur pulas. Saat kulihat dia mulai terlelap, aku menggelar karpet biru yang kutaruh di kolong tempat tidur ke lantai dan mengambil guling di samping Nalya. Aku menatap wajah cantiknya sejenak sebelum memejamkan mata.

Dalam pejam yang aku rasakan sebelum memasuki pintu gerbang mimpi, aku ingat pernah berbicara pada Nayla sebuah hal.

“Kau tau ketakutan terbesarku selama ini, Nay?”

“Apa?”

“Ketakutan terbesar dalam hidupku adalah, ketika aku menemukan alasan untuk berhenti mencintaimu.”

Nayla terdiam mendengar ucapanku.

“Kamu ngerasain hal itu?”

“Iya, selalu, setiap kali kita lagi nggak bersama.”

“Aku nggak pernah terpikir tentang hal itu, tapi aku juga merasakan hal yang sama. Aku takut kehilangan kamu.”

“Sungguh?”

“Ya, semoga aku pun nggak menemukan alasan untuk berhenti mencintaimu…”

***

RINGGGG! TRIIIINGGGG! TRIIIINGGGGG! 

Suara ponsel nyaring berbunyi menandakan ada panggilan masuk.

Aku mengerang sembari membuka setengah kelopak mataku untuk melihat di mana letak ponselku. Sebelah tanganku meraba-raba ke arah sekitar kasur untuk segera mendapatkan ponsel jahanam itu. Ya, aku sangat terganggu dengan suaranya yang keras sekali yang mungkin akan terdengar sampai ke kamar sebelah. Dalam hitungan beberapa detik, aku mendapatkan Blackberry Armstrong berwarna hitam itu tepat di samping bantal.

Siapa sih yang nelpon pagi-pagi buta gini? tanyaku dalam hati. Merasa sebal karena kedua mataku terasa perih sekali.

Aku memencet tombol untuk menerima panggilan dan menempelkan ponsel ke telinga tanpa melihat nama orang yang menelpon.

“Halo?”

“Vio, kamu udah bangun? Udah jam setengah tiga pagi lho.” Suara cempreng seorang wanita berumur empat puluh tahunan yang sangat kukenali terdengar dari sebrang sana. Ibuku.

“Belum! Yaudah lah, Ma. Kalo belum bangun siapa dong yang ngangkat?” tanyaku jengkel.

“Kirain si Purwo, kan mama pernah nelpon kamu terus yang ngangkat dia.”

“Iyaaaa, ada apa nelpon pagi-pagi buta gini, Ma?”

“Kamu nggak sahur emang? Ini kan hari puasa pertama! Pasti kamu begadang lagi deh, gara-gara nggak ada yang ngomelin.”

Aku tertohok mendengar ucapan mamaku. Hatiku tiba-tiba merasa nyeri sekali, seperti teriris tipis lalu diinjak-injak. Pikiranku langsung melayang dan menerawang, mengingat nama seseorang yang melakukan hal ini dua tahun yang lalu.

“Yo?”

“Nak, kamu tiduran lagi kan? Kamu nggak apa-apa kan?” tanya Ibuku, nadanya sedikit khawatir.

Aku masih terdiam, tidak menjawab pertanyaan dari mamaku.

“Kamuuuu pasti tidur lagi deh, dasar anak bandel! Uang mingguan kamu mama potong, liat aja nanti.”

Tut. Panggilan diakhiri. Seketika aku merasa kamar ini sempit sekali, menghimpit kesadaranku yang belum terkumpul sepenuhnya membuat tubuhku terasa lemas. Aku merasakan keringat perlahan keluar dari pori-pori tubuhku.

Aku mengembuskan napas panjang, mencoba menenangkan diri, mencoba mengusir kenangan yang mulai mendobrak masuk ke ingatanku. Aku tidak ingin mengingat dia lagi. Aku tidak ingin mengingat kejadian barusan. Aku ingin mengapus semua memori tentang dia.

Dengan segera aku menghidupkan laptop dan menghapus semua fotonya yang masih kusimpan, dan juga di galeri ponselku. Setelah kurasa tubuhku mulai tenang, aku mencuci muka dan menghangatkan nasi serta memasak ikan sarden kalengan yang kubeli tadi sore dengan kompor elektrik yang dibelikan ibuku.

Sambil menunggu ikan sarden matang, aku melihat ke rak buku dan mencari sebuah novel. Novel yang dua tahun lalu kubaca tepat dua tahun lalu, hari ini. Aku menemukan novel berjudul ‘Sunshine Becomes You’, itu terselip di antara novel seri dengan penulis yang sama, Ilana Tan.

Aku menatap novel itu, novel pemberian Nayla yang dijadikan kado ulang tahunku, kemudian aku mengambil ponsel di atas tempat tidur dan membuka Twitter. Aku melihat suasana timeline pagi ini masih sepi, hanya beberapa teman yang ku-follow nge-tweet tentang sahur. Aku tergelitik untuk nge-tweet sesuatu yang sekarang mengganggu pikiranku:

Tahun ini puasa dan lebarannya nggak bareng kamu. It’s been 2 years ago but I’m still thinking about you, sometimes. Sorry.

Dia berhasil melawan ketakutan terbesarnya, dan telah menemukan alasan untuk berhenti mencintaiku.

Advertisements

4 thoughts on “Dua Panggilan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s