Di Sampingmu

SA

Orang yang jatuh cinta diam-diam itu seperti bintang kecil yang berusaha bersinar di langit yang gelap. Dia ada, namun tidak terlihat.

***

Dua tahun lalu saat ospek kampus. Seorang mahasiswi baru kena hukuman oleh senior karena warna name tag yang dia kenakan tidak sesuai dengan yang telah ditentukan, warna biru.

Kala itu, dia dihukum menyanyikan lagu. Dan dia memilih lagu  Christina Perri – A Thousand Years untuk dinyanyikan di depan barisan mahasiswa baru yang mengikuti ospek. Tak kusangka gadis itu mempunyai suara yang lembut dan indah, selain dianugerahi wajah yang cantik.

Semua mata yang tadinya sibuk memperhatikan senior yang sedang memeriksa kelengkapan ospek merubah arah fokusnya. Mereka langsung terpaku kagum menatap cara gadis itu bernyanyi, seperti diva terkenal yang beraksi di atas panggung. Semua telinga tertawan untuk mendegnar suaranya secara sukarela. Mic-nya hanya kipas plastik yang bergambar wajah tokoh kartun Rapunzel yang sedang tersenyum, dan gaun yang dikenakannya hanyalah jaket almamater kampus berwarna abu-abu.

Heart beats fast
Colors and promises
How to be brave
How can I love when I’m afraid
To fall
But watching you stand alone
All of my doubt
Suddenly goes away somehow

One step closer

Gadis itu bernyanyi, meresapinya, seakan-akan dia sedang berada di atas panggung megah.

Dia berhasil menyedot seluruh perhatian barisan mahasiswa, termasuk aku, yang siang itu duduk dan terlihat sangat kelelahan mengikuti serangkaian kegiatan formalitas mahasiswa baru.

I have died every day
waiting for you
Darlin’ don’t be afraid
I have loved you for a
Thousand years
I’ll love you for a
Thousand more

Semua orang yang mendengar suaranya terdiam, terpukau. Menunggu gadis itu melanjutkan tiap kata yang menjadi lirik lagu yang dia nyanyikan.

And all along I believed
I would find you
Time has brought
Your heart to me
I have loved you for a
Thousand years
I’ll love you for a
Thousand more

Sesaat selesai dia bernyanyi, hening menjeda cukup lama sebelum digantikan sorak sorai yang berkolaborasi dengan tepuk tangan dan seruan.

“Gila, suaranya bagus banget!”

“WOW! Nyanyi lagi dong!” celetuk salah satu mahasiswa berkepala botak dengan wajah antusias.

“Lagi, lagi, lagi!” Seru beberapa mahasiswa baru lainnya yang menginginkan lagi aksinya. Namun dia hanya membalasnya dengan senyum malu ke arah para mahasiswa itu. Bibir tipisnya terbuka sedikit dan menunjukkan dua gigi gingsulnya. Ah, manis sekali.

Senior cewek berwajah galak yang tadi menghukum gadis itu bernyanyi, menghampirinya dan berkata, “Nama kamu siapa?”

“Aira Triaswari, Kak,” jawab gadis itu.

Ah, nama yang cantik, ucapku dalam hati.

“Aira jomblo nggak?” goda seorang senior cowok berwajah Arab yang berdiri tidak jauh dari senior perempuan yang menghukum Aira.

“Umm…, harus banget dijawab ya, Kak? Hehehe.” tanya Aira kikuk.

Senior cowok itu cengengesan. “Iya dong, harus. Udah banyak yang nungguin jawaban kamu tuh,” ucapnya sambil melemparkan pandangan ke arah senior-senior cowok lain yang berada tidak jauh darinya. Aira meliriknya sekilas, lalu menganggukkan kepalanya sambil tersenyum malu.

“Dasar ganjen lo, Onta!” bentak si senior cewek. Mahasiswa baru yang mendengarnya sontak tertawa.

“Yeee, elo, Na. Yang ditanya siapa, yang ngomel siapa. Dasar jomlo baru. Sensitif,” balas senior cowok itu, meledeknya. Suara tawa pun menggelegar di udara.

“Oke, Aira, kamu sekarang boleh duduk. Oh iya, yang tadi kakak cuma becanda. Suara kamu bagus tuh, mending pas mulai masuk kuliah nanti, kamu ikut UKM Padus aja, ” saran senior cowok itu.

“Iya kak, makasih buat sarannya,” jawab Aira lagi dengan senyum manisnya.

Setelah mengatakan kalimat itu, Aira berjalan menuju barisan kelompoknya diiringin dengan tatapan kagum dan penasaran para mahasiswa yang menyaksikannya. Bahkan, kulihat ada dua senior laki-laki yang sedang berbisik-bisik. Aku menduga mereka membicarakan Aira, dan akan mengajaknya berkenalan setelah acara ospek ini selesai.

Aku memperhatikan Aira yang terletak dua baris dari samping kanan barisanku. Meski terhalang dengan beberapa kepala mahasiswa lain yang sedang memperhatikan senior di depan, itu tak membuatku menyerah untuk melihatnya dari posisiku sekarang.

Gadis itu mempunyai rambut hitam yang panjang sesiku. Bentuk wajahnya oval dilengkapi hidung yang mancung, dan kulitnya putih bersih terawat. Aku baru benar-benar menyadari bahwa dia memiliki sepasang mata yang agak sipit dengan ekor mata yang meruncing. Sepertinya tanpa menggunakan eyeliner, sepasang mata miliknya itu tetap terlihat indah. Pipinya memiliki lesung di sebelah kanan, saat dia menghadirkan senyum. Sempurna.

Jantungku berdegup kencang saat tak sengaja dia menengok ke arahku. Mata kami beradu dalam hitungan beberapa detik. Dia tersenyum. Seakan ada kekuatan magis dari senyumnya, bibirku menghadirkan sebuah senyum dengan sendirinya.

Aku menyerah, Tuhan…

***

Aku melihat waktu di jam tangan Swiss pada lengan kiriku. Pukul setengah delapan pagi lewat. Dengan langkah gontai aku berjalan ke arah kelas dengan menaiki tangga ke lantai dua. Lorong gedung kampus yang kulewati sangat sepi. Hanya ada aku dan satu orang petugas kebersihan berbaju hijau yang sedang menyapu lorong itu.

Bodoh sekali, ini hari pertama aku masuk kuliah dan semalaman aku begadang menyaksikan pertandingan tim favoritku, Manchester United, melawan Chelsea, yang berakhir dengan kekalahan MU. Ah, aku merelakan jam tidurku untuk sebuah hal yang sia-sia. Mungkin jika keluhanku terdengar oleh fans fanatik , mereka akan meledekku dengan sebutan ‘karbitan’, atau malah disuruh menggemari klub lain. Persetan lah.

Sambil berjalan ke arah kelas yang terletak tiga ruangan lagi, aku mengambil binder dari dalam tas gendong dengan sebelah tangan untuk melihat mata kuliah pada selembar kertas yang berisi jadwal kuliah satu semester yang kemarin sore aku print. Tiba-tiba…

DUG!

“Aduh!”, ucapku spontan saat mendapati diriku jatuh terduduk di lantai. Keningku merasa menyut, secara reflek aku langsung mengusap keningku dan menyadari apa yang terjadi. Kepalaku membentur pintu. Tidak terlalu sakit memang, tetapi…. Eh? Aku menabrak pintu?

“EH! MAAF!” jerit seorang perempuan dari balik pintu dan melangkah keluar menghampiriku. EH, itu kan Aira? ucapku terkejut dalam hati saat melihatnya berdiri di hadapanku.

Dengan wajah bersalah, Aira berjongkok di sampingku. “Maaf ya, tadi gue buka pintu mau keluar kelas.”

“I… Iya nggak apa-apa,” balasku kikuk dan membuang muka. Sepertinya tanpa meminta maaf pun aku pasti memaafkannya. Wajahku merah padam seperti kepiting rebus. Sial. Aku tidak ingin terlihat konyol oleh Aira.

“Bagian mana yang sakit?” tanya Aira hati-hati dan memeriksa kepalaku. Dia memicingkan matanya. Lucu sekali wajahnya jika dia terlihat seperti itu.

“Nggak, nggak apa-apa kok, Aira.”

“Loh, tau nama gue dari mana?” tanyanya heran.

Aku menggaruk-garuk rambut meskipun tidak terlihat gatal. “Kemarin kan lo nyebutin nama pas ditanya kakak senior. Yang pas selesai nyanyi itu.”

Mendengar ucapanku, Aira langsung menutup mulutnya dengan sebelah tangan, dan kontras pipinya langsung merona merah. “Oh iyaaaa, berarti lo juga maba yah?”

“I.., iya,” jawabku kembali dengan kikuk.

“Oke, maaf ya. Duh, maaf lagi gue harus buru-buru fotokopi materi kuliah karena sebentar lagi kelas gue dimulai. Maaf banget ya, next time mungkin kita bisa ngobrol lagi,” ucap Aira tergesa-gesa dan kemudian berlari ke arah tangga. Aku memperhatikan setiap langkahnya hingga sosoknya menghilang.

Ah sial, aku belum sempat berkenalan dengannya.

***

Seminggu telah berlalu semenjak kejadian itu, dan aku belum melihat Aira lagi. Beberapa teman di kelas sempat membicarakan Aira. Reyhan, salah satu teman baruku, malah terang-terangan bilang bahwa dia menyukai Aira. Mengetahui hal itu, aku, Ryan, dan Zaky terus meledekinya.

“Yakin lo suka sama Aira, Rey?” tanya Zaky sambil menoyor kepala Reyhan. Kelihatannya mereka sudah akrab.

Reyhan cengengesan dan berkata, “Iya, kalo bahasa lebainya mah jatuh cinta pada pandangan petama.”

Zaky dan Ryan memandang jijik ke arah Reyhan. “Lo percaya sama hal gituan? Dih…”, ledek Ryan.

“Percaya. Lo pada kan nggak tau isi hati gue kayak gimana. Aira tuh indah bagaikan bulan di langit malam, dan bikin hati gue tertawan,” kata Reyhan puitis. Aku, Ryan, dan Zaky tertawa mendengar ucapannya. Teman-teman baru lainnya yang sedari tadi memperhatikan hanya memandang aneh ke arah Reyhan.

Aku sedikit tersentil dengan ucapan Reyhan yang seperti orang yang mendadak jadi pujangga karena jatuh cinta. Aku pun merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan Reyhan, bedanya, aku tidak berlebihan seperti itu. Saat jatuh cinta, semua terasa indah seperti kuncup bunga yang mekar. Semangat hidup juga meningkat drastis, dan rasa senang yang segar menjalar di hati.

Meski aku sangat tau, tidak semua jatuh cinta berakhir manis.

***

Tidak butuh waktu lama untuk seorang gadis cantik seperti Aira berstatus single. Ah, menurutku, istilah jomlo tidak elegan bila Aira yang menyandangnya. Oh iya, tiga bulan telah berlalu, dan aku mendengar kabar bahwa dia sekarang telah mempunyai pacar.

Pacarnya adalah salah satu kakak senior saat ospek dulu. Namanya Firza, dia ketua UKM basket fakultas kami. Cowok itu sangat populer seantero fakultas ekonomi. Jelas, sebagia anak basket, dia memiliki postur tubuh yang tinggi dan atletis. Aku melihat semua itu saat demo UKM saat ospek. Wajah maskulinnya membuat para cewek rela mempercantik diri demi mendapat perhatiannya. Meskipun mereka semua tau itu semua sia-sia, karena perhatiannya kini tercurah hanya untuk seseorang. Ya, orang itu adalah Aira.

Sejujurnya, aku merasa cukup kecewa saat mendengar kabar itu dari Reyhan. Ternyata dia benar-benar niat untuk mencari informasi tentang Aira.

Oh iya, aku belum bercerita bahwa Aira satu fakultas denganku, hanya berbeda kelas saja. Aku di EA05, Aira di EA11. Aku cukup menyesalkan letak kelas kami yang berjauhan sehingga jadwal kuliah kami pun terlongkap jauh. Tetapi, saat hari Kamis dan Sabtu, kami mengikuti kuliah lab di kampus sehingga kelas kami satu jadwal. Saat-saat itulah yang membuatku tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk melihatnya, tanpa harus berbicara atau menyentuhnya.

Bukan, bukan aku takut untuk melakukan dua hal itu. Aku terlalu sadar diri melihat siapa diriku. Pernah suatu kali kami tidak sengaja berpapasan saat mengantri untuk memasuki lab, dan dia hanya melihatku sekilas tanpa benar-benar mengenaliku, sebagai seseorang yang pernah dibuatnya menabrak pintu. Jika saja waktu dapat terulang lagi, aku ingin sekali kejadian itu terulang meski yang kutabrak adalah pintu gerbang kampus yang terbuat dari besi baja.

“Hoi, Demas. Ngelamun aja lu!” Suara Zaky tiba-tiba mengagetkanku yang sedang melihat Aira dari kejauhan di kantin kampus yang suasananya sedang sangat ramai.

“Ngeliatin siapa sih?” tanya Zaky sambil celingukan melihat ke arah sekitar dan duduk di sampingku. Sepertinya dia mengetahui bahwa aku sedang melihat seseorang.

Aku membetulkan posisi kepalaku yang sedang ditopang dagu. “Enggak, gue lagi mikirin tugas akuntansi dasar.”

Zaky memandang kagum ke arahku. “Gaya lo segala mikirin tugas. Eh, nanti malam ke kosan Reyhan yuk. Tuh anak lagi banyak makanan, nyokapnya kemarin ke sini,” ajaknya dengan mata berbinar.

“Perut mulu yang diurusin, otak lo tuh diisi biar nggak kosong-kosong amat,” ledekku. Zaky tersenyum masam mendengarnya. “Yeee, kalo perut kosong kan otak gak jalan.” Oke, alasan yang cukup masuk akal.

Sepertinya untuk seorang Zaky, sudah menjadi insting mempertahankan hidup jika melihat sepiring siomay milikyang masih utuh terletak di meja.

“Ini makanan lo, Mas? Gue sikat ya? Hehehe.” Zaky menatap penuh harap.

“Iya, sikat deh. Gue juga mendadak nggak laper gara-gara elo datang ke sini,” jawabku sekenanya agar Zaky tidak lagi mengajukan rentetan pertanyaan lain.

Sebenarnya perutku keroncongan, namun rasa lapar itu menguap begitu saja saat melihat Aira duduk di meja lain yang terletak sekitar dua puluh  meter dari mejaku. Dia sedang makan bersama teman segengnya. Tidak satu pun dari tujuh teman Aira yang satu meja dengannya ada yang kukenal. Mungkin, jika aku mengenal salah satunya, bisa saja aku meminta tolong untuk membantuku dekat dengan Aira. Tetapi jika hal itu memang terjadi, aku tidak akan melakukannya. Biarlah, Aira sudah bahagia bersama Firza. Aku tidak ingin mengganggunya.

Setelah Zaky menghabiskan siomay milikku dalam waktu kurang dari lima menit, dia mengajakku masuk. Sebelum benar-benar meninggalkan meja kantin, aku memalingkan wajahku ke arah meja Aira. Dia masih di sana dan bercengkrama dengan teman-temannya. Aku tersenyum tanpa sadar. Dan tiba-tiba entah dari mana asalnya, Aira menoleh ke arahku, dan aku langsung membuang muka sebelum gadis itu menangkap basah aku yang sedang melihatnya.

***

Hari ini adalah tanggal 21 Mei, berarti sore nanti konser musik tahunan kampusku diselenggarakan lagi. Aku juga mendengar desas-desus bahwa Aira nanti akan bernyanyi di panggung pukul delapan malam. Aku memang sudah menebak Aira pasti mengisi panggung dengan suara indahnya. Apalagi teman-teman yang seangkatannya sudah pernah mendengar suara Aira saat ospek dulu.

Setelah menyelesaikan kelas Ekonomi Makro tepat pada pukul empat sore, aku mengabari Reyhan untuk nongkrong di kosnya. Sekadar membuang waktu menunggu malam tiba, daripada aku menghabiskannya di kampus. Bosan sekali rasanya jika menghabiskan waktu di lorong kelas atau di kantin dengan pemandangan orang yang berlalu lalang.

Sesampai di gerbang kos Reyhan yang terletak tidak jauh di belakang kampus, aku melihat motor Zaky, Ryan, dan Ghani sudah terparkir di depan pintu kamar Reyhan. Menurutku, kos tempat Reyhan tinggal ini cukup bagus. Dari pintu gerbang berwarna hijau kos ini, kita  akan melihat sebuah lapangan basket kecil yang dikelilingi kamar kos yang kurang lebih berjumlah sekitar 30 kamar.

Jejeran kosnya terbagi menjadi empat seperti persegi, satu jejeran memiliki lima kamar dan mengelilingi lapangan basket itu. Seluruh kos dicat putih dan memiliki pintu dan jendela yang berwarna hijau. Perpaduan warna tersebut sepertinya berguna untuk memperkuat kesan teduh, karena ada beberapa pohon mangga besar yang berada pinggir lapangan.

Eh tapi tunggu dulu, motor Ninja 250cc warna merah milik siapa yang ikut parkir berjejer di samping tiga motor tematku itu? Aku memicingkan mata dan memperhatikan baik-baik. Plat nomernya ‘F 4591 MP’. Sepertinya aku pernah melihatnya.

Ah palingan pikiran gue doang, ucapku dalam hati.

“Hoy!” Seseorang menepuk pundakku dengan kencang dari belakang. Aku terkejut dan reflek menjitak kepala Reyhan yang ternyata adalah tersangkanya. Dia malah cengengesan.

Aku mengatur napas sejenak. “Elu ngapain ngagetin gue, setan!” omelku pada Reyhan.

Reyhan menatapku dengan tatapan menyelidik. “Lagian elu mindik-mindik kayak maling gitu. Ya iseng aja gue kagetin, gue kirain elu mau nyolong sendal.”

“Ya enggak lah!” ucapku sebal. “Eh itu motor ninja siapa, Rey? Punya lo? Perasaan motor lo Supra butut deh.”

“Yeee biarin, gitu-gitu gue beli pake duit sendiri. Oh, itu motornya si Firza, senior kita itu loh. Dia kan ngekos juga di sini sejak sebulan yang lalu, kamarnya tiga petak dari kamar gue,” jelas Reyhan sambil menunjuk pintu berwarna hijau yang berada tiga puluh meter dari arahku.

Aku bengong sebentar mendengar ucapan Reyhan. “Lo kenapa nggak bilang, Nyet?”

“Lah elo nggak nanya, Pret!” balas Reyhan. “Lagian buat apa juga lo harus tau?”

“Eh iya juga ya, buat apa juga kalo gue tau,” jawabku. Hampir saja aku keceplosan ingin bertanya, ‘Berarti ada si Aira dong di sana? Kan nanti malam dia mau manggung.’

Selesai ledek-ledekan, kami berjalan ke kamar Reyhan. Pintu kamar Firza yang disebutkan Reyhan tadi terbuka dan aku melihat seorang perempuan dengan rambut panjang yang keluar dari pintu. Pasti itu Aira!, teriakku dalam hati.

“Rey, gue mendadak sakit perut nih. Gue ke kampus bentar ya,” ucapku tiba-tiba dan langsung melangakah keluar gerbang.

Reyhan menggelengkan kepalanya, lalu membalas, “YEEE PLAUT! Di kos gue kan ada kamar mandi!” Kemudian dia masuk ke kamar kosnya.

Entah kenapa setiap kali aku melihat Aira, selalu saja aku ingin menghilang seakan-akan tidak ingin dilihatnya. Padahal jelas aku ingin sekali melihatnya dari jarak yang sangat dekat. Semacam rasa takut yang dibuat sendiri. Rasa takut yang menjadi pedal rem agar aku berhenti di suatu batas tertentu supaya aku tidak terlampau jauh dan menabrak dinding. Dinding yang dinamakan ‘sadar diri’.

***

Acara konser musik tahunan kampusku pun dimulai. Aku berdiri di tengah kerumunan para penonton bersama Reyhan, Zaky, Ryan, dan Ghani. Mereka terlihat sangat menikmati sekali penampilan dari Efek Rumah Kaca yang menjadi guest star, dan sedang membawakan lagu Cinta Melulu. Sang vokalis yang merangkap gitaris, Cholil, mengajak para penonton untuk bernyanyi bersama.

Panggung acara ini cukup besar untuk seukuran acara kampus, sound system yang digunakan juga sangat memperantarai suara alat musik ke udara, sehingga suara yang dihasilkan nyaring namun tidak pecah. Di pinggir panggung, para panitia terlihat enjoy mengontrol acara karena sejauh ini kerumunan para penonton tetap tertib. Setelah lagu Cinta Melulu berakhir, aku memutuskan untuk menepi ke pinggir kerumunan untuk duduk menunggu aksi dari Payung Teduh. Ya, aku suka sekali dengan band ini, terlebih Is, sang vokalis adalah orang yang ramah dengan para fans.

Saat aku sedang berjalan ke tepian, aku melihat Aira dan Firza sedang bergandengan tangan menikmati musik di sudut salah satu pohon yang tidak jauh dari muka panggung. Aira mengenakan kemeja pendek merah dipadukan dengan jeans biru muda dan sepatu Converse putih. Sedangkan Firza mengenakan kaos hitam dan celana chino krem dengan warna sepatu yang sama dengan Aira. Mereka berdua kompak sekali. Keningku mengerut, membayangkan betapa bahagianya Firza mempunyai Aira.

Aku memberanikan diri untuk duduk tidak jauh dari belakang mereka, dan tampaknya Aira pun tidak menyadari keberadaanku. Dengan jelas aku memperhatikan siluet tubuh mereka yang berdiri dengan dua tangan yang sedang bergenggaman erat. Kepala Aira disandarkan ke pundak Firza, sesekali, cowok itu mengusap lembut rambut panjang Aira.

Tiba-tiba napasku terasa sesak, sepaket dengan rasa perih yang menjalar di hatiku. Entah rasa perih ini berasal dari mana. Perasaan yang aneh. Terlebih saat kulihat siluet kepala Firza berhadapan dengan Aira. Sebuah kecupan lembut baru saja tercipta di sana. Aku memejamkan mataku menikmati rasa sesak ini.

Setengah jam lebih telah berlalu, Payung Teduh pun menaiki panggung. Seperti biasa, Is menyapa para penonton dan bercengkrama sebentar. Aku mengurungkan niat untuk kembali ke tengah kerumunan penonton dan memilih untuk tetap di sini. Karena selain terlihat semakin ramai, tubuhku terasa berat sekali. Kedua kakiku seperti tidak mempunyai tenaga untuk melangkah. Kusandarkan tubuhku di tembok gedung.

Dari jauh aku melihat tangan Firza merangkul Aira dari belakang setelah Is menginstruksikan personil lainnya untuk memulai musik. Lagu Untuk Perempuan yang Sedang Dalam Pelukan pun dinyanyikan.

Tak terasa gelap pun jatuh
Diujung malam menuju pagi yang dingin
Hanya ada sedikit bintang malam ini
Mungkin karena kau sedang cantik-cantiknya

Suara ramah Is terdengar mengalun di udara beserta suara gitar yang dia petik. Para penonton menikmati lagu itu dengan khusyuk sambil sesekali menggerakkan tubuh mereka ke kiri dan ke kanan pelan-pelan mengikuti tempo lagu. Aku terpejam membayangkan wajah Aira yang sedang memandangku sambil tersenyum. Kau memang sedang cantik-cantiknya, Aira.

Lalu mataku merasa malu
Semakin dalam ia malu kali ini
Kadang juga ia takut
Tatkala harus berpapasan di tengah pelariannya

Rasa perih semakin terasa di hatiku. Sudah dua tahun berlalu dan aku hanya bisa melihat Aira dari kejauhan dan menghindar setiap kali dia melihatku. Aku seperti seorang pria penguntit yang hanya bisa memperhatikan gadis pujaannya lewat jarak yang dia ciptakan sendiri. Setiap kali ada kesempatan untuk berpapasan, aku lebih memilih berlari. Tak ada keberanian yang kupunya meski hanya untuk memperkenalkan diri atau sekedar menyapa. Tidak. Tidak pernah berani.

Di malam hari
Menuju pagi
Sedikit cemas
Banyak rindunya

Malam semakin melarut. Rasa cemas di dadaku akan kehilangannya semakin besar seiring dengan rindu yang tak pernah tersampaikan. Aku harus mengumpulkan keberanian untuk berkata bahwa aku menyayanginya. Meski dengan risiko akan dihajar, ditusuk, atau dibunuh oleh Firza. Tak apa. Daripada aku terus menerus merasakan perih yang semakin menyiksa hatiku. Karena semakin hari luka yang kubuat sendiri akan terus bertambah lebar hingga aku tak kuat lagi menahannya

Mungkin aku harus segera mengakhiri perasaan ini tanpa benar-benar pernah memulainya.

***

Hujan deras membasahi sepanjang jalan Margonda, Depok. Aku memutuskan untuk berteduh di Gramedia dan memarkirkan motorku di sana. Sembari menunggu waktu sore tiba degan mencari buku bacaan yang mungkin akan menambah ilmu pengetahuanku mengenai akuntansi.

Dengan sedikit basah kuyup, aku memasuki Gramedia dan naik ke lantai atas. Suasana di sini tidak terlalu ramai. Hanya beberapa orang yang berlalu lalang  dan berdiri di sekitar rak buku untuk melihat dan membaca buku-buku yang rapi tertata di sana. Aku sendiri sekarang sedang berdiri di depan rak buku novel fiksi setinggi dua meter setengah. Sambil sesekali melihat sampul dan blurb novel-novel yang kupegang.

Perhatianku tertarik dengan sebuah novel berjudul Analogi Cinta Sendiri yang ditulis oleh Dara Prayoga. Dari blurb-nya aku menyimpulkan bahwa isi novel ini menceritakan tentang seorang pengagum rahasia yang tidak berani mengungkapkan perasannya. Tepat seperti posisi yang aku rasakan sekarang.

“Hei, elo…, elo itu yang waktu itu nabrak pintu gara-gara gue kan pas baru masuk kuliah?” tanya seseorang dari sampingku. Suaranya seperti… Aira?

Jantungku berdegup kencang ketika aku memutar pandangan dan melihat Aira sedang tersenyum. Lututku seketika terasa lemas. Aku tidak tahu harus mengatakan kalimat apa untuk berbicara Aira. Pikiranku mendadak kosong saat kusuruh paksa untuk mencari dan memilah kata-kata yang tepat untuk memulai percakapan.

“I…Iya, elo Aira kan?” BODOH SEKALI UCAPANKU INI YA TUHAAAN!

“Oh kirain udah lupa, gue soalnya hampir lupa. Hehehe.” Aira terkekeh.

“Wajar sih, udah lama nggak ketemu dan nggak pernah bertegur sapa. Hehehe,” ucapku salah tingkah. Ah, mengapa harus di sini kami bertemu? Semesta, kau ingin mengajakku bercanda?

Aira mengibaskan rambutnya sekilas. “Oh iya, pas itu gue belum sempet nanya. Nama lo siapa?” tanya Aira mengajak berjabat tangan.

“Gue Demas. Salam kenal ya, Ra,” jawabku sambil menjabat tangan Aira. Rasanya aku ingin berteriak bahagia karena lega. Akhirnya Aira mengetahui namaku juga.

Aira menyunggingkan senyumnya dan mengangguk. “Oke, Demas. Kebetulan banget bisa ketemu di sini. Lo lagi cari buku apa?” tanya Aira lembut.

“Sebenarnya gue cuma pengin neduh aja, Ra. Ya sekalian liat-liat buku siapa tau ada yang bagus.”

“Ooh, itu yang lo pegang buku apa? Kayaknya bagus,” ucap Aira sambil memiringkan kepalanya untuk melihat buku yang sedang kupegang.

“Eh, nggak tau, gue kan belum baca. Nih liat aja.” Aku menyerahkan buku Analogi Cinta Sendiri kepada Aira.

Aira melihat cover buku itu dan berdecak. “Oh, bukunya Okaaaa.”

“Siapa Oka?”

“Penulis buku ini. Nama panggilannya. Jadi buku ini tuh ceritanya tentang secret admirer gitu, Mas. Gue pernah baca. Isinya cukup bagus dan pas banget buat orang yang udah lama memendam perasaannya. Lo harus baca deh,” jelas Aira. Dia bersemangat sekali menjelaskan secara singkat mengenai buku itu.

“Eh, jangan-jangan lo lagi jadi secret admirer, ya?” tanya Aira tiba-tiba dan membuat aku tertohok.

“Eh? Enggak kok. Hehehe.” Aku berusaha berkata dengan nada setenang mungkin.

“Ngaku aja deh, tuh muka lo merah, Mas. Hahaha!” Aira tertawa geli melihat tingkahku yang mendadak gugup. Sial, sepertinya semesta memang sedang mengajakku bercanda dan ini benar-benar tidak lucu!

“Gimana yah, gue lagi liat buku yang nggak gue tau isinya apa. Tiba-tiba lo dateng dan nuduh gue secret admirer,” ucapku dengan nada menyindir. Oke aku tidak ingin mengikuti bercandaan ini.

Aira terkesima memandangku dan tertawa sambil menepuk tanganku. “Wooo, orang cuma bercanda doang. Serius banget sih lo, Demas.” Aira menyilangkan tangannya didada, “nggak asik ah, ambekan,” lanjutnya.

Gantian aku yang tertawa. “Hahaha. Nah kan, siapa yang ambekan?” sindirku lagi dengan tatapan jahil. Geli sekali melihat tingkah Aira seperti ini. Aku tak menyangka dia ternyata orang yang ramah dan mudah akrab dengan orang lain.

“Eh, lo di sini sendirian, Ra? Nggak sama Firza? ” Tiba-tiba saja mulutku mengucapkan kalimat tanya ini.

Wajah Aira langsung terlihat sedih saat mendengar pertanyaanku. Raut kecewa jelas terpampang saat dia menundukkan kepalanya. Bodoh sekali. Aku langsung merasa bersalah saat itu juga. Baru saja berkenalan dan mencoba untuk akrab, tetapi malah bertanya hal yang sensitif.

Aira mendongakkan kepalanya sambil membuang napas. “Nggak, gue udah putus sama Firza,” ucapnya dengan nada sedih.

Upssorry to hear that.” Aku langsung meminta maaf.

“Hahaha. Nggak apa-apa. Selama ini ternyata gue nggak bisa jadi seperti yang dia pengin,” ucap Aira. Air mukanya terlihat seperti ingin menangis.

“Setau gue, bukannya cinta itu saling menyesuaikan dan saling melengkapi ya? Bukan banyak menuntut agar jadi orang yang dipenginin,” ucapku bijak.

Aira terdiam mendengar aku mengucap kalimat itu lalu mengangguk mengiyakan. Sepertinya dia merasakan sakit yang teramat dalam setelah putus dengan Firza. Terkadang cinta yang terlihat sempurna pun ada kurangnya. Selama yang kulihat selama ini Aira dan Firza terlihat baik-baik saja, bahkan seperti pasangan yang akan bersatu selamanya. Ternyata dugaanku salah.

Cinta bukan tentang ‘Aku pengin kamu tuh begini,’ atau ‘Kamu tuh harusnya begitu’. Cinta itu seharusnya saling menerima kekurangan dengan ikhlas bukan dengan terpaksa atau ada syaratnya. Bukankan memang tak ada yang sempurna di dunia ini? Jika memang ada, mungkin Romeo dan Juliet bukanlah legenda, karena akhirnya kisah cinta mereka akan berakhir bahagia. Bukan dengan bunuh diri bersama.

Aku menyayangi Aira meski tak pernah sekalipun berbicara banyak atau sering bertegur sapa. Tidak pernah. Rasa sayang itu mengalir tulus dengan sendirinya tanpa permintaan macam-macam, selain dilihat dan dibalas. Meskipun pada akhirnya balasan yang diterima tidak seperti yang diharapkan. Cinta itu banyak memberi dengan kesadaran diri, dan sedikit meminta sesuai dengan porsi dan kapasitasnya.

Seseorang yang kita miliki bukanlah lilin mainan yang bisa dibentuk sesuka hati. Bukan juga seorang budak yang bisa disuruh ini-itu. Tapi seorang yang kita miliki adalah seseorang yang seharusnya kita jaga, kita sayangi, kita lindungi, dan kita kasihi dengan kesadaran diri. Jika dia memperjuangkanmu dengan keras, kau harus memperjuangkannya lebih keras dari takdir. Jika dia mempertahankanmu dengan gigih, maka kau harus mempertahankannya hingga seluruh tulangmu hancur. Seharusnya begitu. Tidak ada tuntutan karena kau tulus mencintainya, bukan memanfaatkannya.

“Sabar ya, Ra. Mungkin Firza lagi pusing atau banyak masalah makanya dia begitu,” ucapku sambil mengusap punggung Aira.

Aira mengangguk dan memaksakan sebuah senyum. “Iya, thank ya, Demas. Mulai sekarang panggil gue Ai, ya. Oh iya, gue harus cabut nih soalnya adik gue udah nunggu di bawah. Gue boleh minta nomer lo?”

“Boleh, pasti mau curhat ya? Hahaha. Nih catet ya,” ledekku sambil mengucapkan beberapa digit nomor telepon. Oh Tuhan, aku ingin sekali menghiburnya jika saja dia tau perasaanku saat ini yang sama sedihnya. Aku tidak tega dan tidak mau melihatnya seperti ini. Seperti bukan Aira yang ceria seperti yang kulihat biasanya.

“Sip, gue cabut, ya, Mas,” pamit Aira lalu menepuk pundakku.

“Iya, hati-hati di jalan ya, Ai,” balasku sumringah.

Sepertinya malam ini aku tidak bisa tidur karena pertemuan ini. Oke, kali ini aku berterima kasih padamu, semesta.

***

Sabtu pagi yang sejuk dengan suasana yang tenang. Tidak ada aktivitas yang harus kujalani hari ini selain kuliah lab. Dan tandanya aku akan bertemu Aira sepulang kuliah. Kami janjian di depan gedung lab pukul dua siang. Semenjak pertemuan di Gramedia itu, aku tak pernah lagi diam-diam memperhatikannya dari kejauhan. Kami jadi sering chatting lewat WhatsApp. Jika berpapasan di kampus, Aira langsung menyapaku, begitu pun denganku yang tanpa rasa gugup berbasa-basi menanyakan kuliahnya. Tak ada yang lebih indah dari itu.

Setelah mandi dan sarapan, aku berpamitan dengan ibuku, dan langsung melajukan Aoi, motor Satria FU kesayanganku dengan kecepatan sedang. Udara Depok pukul setengah delapan pagi ini segar sekali, ditambah jam tidur yang mulai berangsur membaik membuat mood-ku hari ini bersemangat.

Sesampainya di kampus H, aku memarkirkan motorku di parkiran kampus yang masih lengang. Hanya ada lima belas motor yang sudah berjejer rapi.

“Hei! Demas!” Suara seorang perempuan memanggilku dari belakang. Aku menoleh dan mendapatkan Aira tersenyum ke arahku. Ah, dia cantik sekali. Aira mengenakan kemeja putih lengan panjang yang digulung sesiku. Rok hitam selutut yang digunakannya menampilkan sepasang kakinya yang putih mulus, terbalut sepatu Converse hitam. Eh tunggu? Converse hitam, bukan putih. Apa artinya ini? Apakah Aira sudah memulai melepaskan kebiasannya yang sering memakai sepatu Converse putih seperti Firza? Entahlah.

“Hai, halo, Ai. Selamat pagi,” ucapku sambil menyunggingkan senyum. Aira menghampiriku lalu berkata, “Lo suka pake sepatu Converse juga?” tanyanya, “hari ini kita samaan pake warna hitam. Ih lo ngikutin aja deh! Hihihi.” Aira cekikan. D

Aku memandang heran dan memperhatikan sepatuku. “Ah iya, kita samaan pake warna hitam hahaha! Bisa kebetulan gini, padahal kan nggak janjian.”

“Iya hahaha.” Aira tertawa lepas. Sungguh, aku tidak pernah membayangkan Aira bisa tertawa segirang ini. Pagi yangmenyenangkan sekali rasanya. Pelataran parkir yang masih sepi serta udara pagi yang masih ramah terhirup menjadi saksi bahwa detik ini aku merasakan bahagia yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Aira tertawa lepas bersamaku.

Aira mendekatkan kakinya ke arah kakiku sambil mengeluarkan Samsung Galaxy S3 dari kantong kemejanya.

CEKRIK! 

Satu foto yang merekam sepasang kaki yang mengenakan sepatu Converse hitam diabadikan oleh kamera. “Bagus nih kalo foto ini gue posting ke Instagram,” kata Aira sambil memilih filter foto.

Aku memandangi jemari kecil Aira, ingin sekali rasanya kugenggam. Namun hal itu tentu saja tidak mungkin kulakukan. Aku sadar bahwa aku bukan siapa-siapanya Aira, hanya teman. Tidak lebih dari itu.

“Oh ya, nanti sore jadi kan? Kita ketemuan di depan gedung lab. Jangan lupa, ya,” ujar Aira mengingatkan.

“Oke, nanti chat gue aja ya. Takutnya gue keluarnya telat,” balasku.

Kami berdua berpisah di tangga kampus. Aira kuliah praktik di lantai tiga, sedangkan aku di lantai dua. Aku bergegas berjalan lebih cepat ke lab, semoga praktikum kali ini berjalan lebih cepat.

Tepat pukul sembilan pagi kuliah praktikum dimulai. Aku segera mengerjakan semua soal yang diberikan komputer lab dengan cermat. Tidak lagi sambil bercanda dengan Ryan dan Zaky, meskipun mereka berdua beberapa kali mengajakku berbicara untuk…, mencontek. Ya, kurasa dua anak itu terlahir dengan IQ belalang sembah. Soal praktik yang paling mudah saja tidak bisa mereka kerjakan, padahal jelas semua materi kuliah praktik sudah dijelaskan di email kelas. Tapi sudahlah, untungnya kebodohan mereka tidak menular.

Dua jam penuh aku berkutat di depan komputer. Karena ini adalah kuliah praktik, suasana ruangan sedikit sunyi seperti halnya dengan ujian. Hanya sedikit mahasiswa lain yang berbicara, karena mahasiswa yang mengikuti kuliah praktik ini diacak secara random. Sehingga, kami bisa saja satu ruangan dengan mahasiswa jurusan dan angkatan lain.

Aku menyelesaikan soal setengah jam lebih cepat. Sambil menunggu bel tanda selesai berbunyi, aku mengedarkan pandangan ke arah sekitar, sekadar melihat wajah-wajah yang berada di dalam ruangan ini. Siapa tau saja, ada mahasiswa lain yang kukenal selain Ryan dan Zaky.

Karena di dalam ruangan praktik ini AC-nya dingin sekali, seringkali aku dan mahasiswa lainnya merasa ngantuk. Saat aku merasa tidak kuat lagi menahan rasa kantuk, aku meminta izin kepada petugas lab untuk ke toilet, membasuh muka agar lebih segar. Aku berjalan melewati barisan mahasiswa yang sedang duduk sejajar, berkutat di depan layar komputer, sesekali aku melihat melihat wajah-wajah yang sedang berpikir serius, ada juga yang tampak malas, sampai ada yang menumpu kedua tangannya di atas keyboard untuk tidur sembari menunggu bel tanda praktir berakhir berbunyi.

Sesampainya di WC, aku membasuh muka di westafel, lalu seorang mahasiswa laki-laki berambut gondrong berkaca untuk merapikan rambutnya sambil berkata, “Za, lo nggak ngajak balikan?” Aku terdiam dengan ucapan laki-laki itu, dan melihat ke arah belakang lewat pantulan kaca. Ada laki-laki lain yang sedang buang air kecil, dia bertubuh tinggi atletis dan wajahnya tidak asing.

EH? kataku dalam hati. Virza?!

Belum tau nih, Ki, kayaknya dia masih marah sama gue,” jawab Firza sambil merapikan kemeja putihnya.

“Lagian, lo ada-ada aja sih. Nyari cewek yang sempurna, lo pacarin aja noh manekin,” celetuk Kiki. Firza menoleh dengan wajah malas ke arah temannya itu. “Abisnya, cewek tuh jalan berpikirnya ribet banget sih. Gue cuma pengin dia jadi cewek yang gue pengin aja.”

“Aira itu cewek, bukan mobil yang bisa lo modif sesuka lo, Za,” ucap Kiki.

Firza menatap kesal ke arah Kiki. “Udah deh, gak usah sok nasihatin gue, Ki. Lo tuh sama aja kayak yang lain,” balas Firza dengan nada sedikit emosi.

“Oke, sorry. Gue cuma ngasih tau lo aja, Za. Nyantai aja kali.”

“Lo tuh bawel, kayak cewek,” ucap Firza sambil menoyor kepala Kiki lalu keluar dari toilet, diikuti Kiki yang mengekor di belakangnya. Baiklah, lewat percakapan barusan aku mengerti mengapa Aira kecewa sekali dengan mantannya itu.

***

“Udah lama nunggu?” tanya Aira yang kini duduk di sampingku. Wajahnya terlihat kusut.

“Soalnya labnya susah ya?” Aku balik bertanya sambil tersenyum jahil.

Aira menghembuskan napas sambil mengusap muka. “Iya, eh kok lo malah balik nanya sih?”

“Abisnya muka lo kusut banget. Hahaha. Nggak kok, cuma telat sekitar 10 menitan aja,” jawabku.

Aira menganggukkan kepalanya pelan. Sebelah tangannya membetulkan posisi rambutnya ke telinga, sehingga lehernya sedikit terlihat. Dia terlihat cantik sekali. Entah sudah keberapa kalinya aku dibuat tersenyum dengan hal-hal kecil yang dilakukan, meski pada dirinya sendiri.

Aku melihat ke arah jam tanganku. Sudah pukul 14.26, hari sudah mulai sore. “Kita mau ngobrol di mana nih? Oh iya, lo bawa helm kan?” tanyaku pada Aira yang sedang menggerak-gerakkan kakinya yang bergantung di antara lantai dan kursi besi di depan gedung lab yang mulai sepi.

“Kopi Bar aja, gimana? Sambil ngopi. Helm nanti gue ambil di motornya Endah, tadi gue udah sms dia, ngabarin kalo gue pulang bareng sama lo.”

“Gue sih ayo aja, enjoy.”

Kami pun bergegas pergi ke parkiran dan pergi ke Kopi, sebuah kafe yang cukup asik untuk menikmati secangkir kopi berjam-jam di pinggir jalan Margonda, Depok. Sepanjang perjalanan, aku dan Aira tidak berbicara sepatah kata apapun, lagipula kafe ini jaraknya dekat dari kampusku, dan sangat dekat dengan Gramedia tempat aku dan Aira bertemu beberapa hari lalu. Oh iya, aku cukup menyukai konsep kafe nya yang tidak terlalu luas, namun selalu ramai dengan harga yang lumayan murah untuk kalangan mahasiswa.

Di bagian luar kafe, pengunjungnya dapat menikmati hidangan mereka di bangku kayu panjang berwarna coklat tua yang dipasangkan dengan beberapa kursi kayu berwarna senada sambil menikmati lalu lalang kendaraan, atau pemusik jalanan yang menjajakan suaranya.

Di bagian dalam kafe, pintu masuknya terbuat dari kaca transparan setinggi dua meter setengah. Pengunjung yang datang akan disambut dengan televisi LCD 29 inci yang terletak di atas meja kasir, dan playstation tiga di dekat pintu masuk. Meja yang tersedia di sini ada tiga posisi. Yang pertama, lima meja yang dipasangkan dengan sofa yang berderet. Yang kedua meja panjang setinggi setengah meter yang dipasangkan dengan sepuluh kursi, dan yang ketiga adalah tiga meja rendah setinggi paha orang dewasa yang dipasangkan dengan dua belas bangku. Jarak ketiga posisi meja itu sekitar satu meter, tdak terlalu sempit untuk orang berlalu lalang. Aku lebih menyukai duduk di meja di posisi yang kedua.

Aku memarkirkan motor di depan kafe. Suasana di sana masih sepi, hanya ada empat orang yang bergerombol duduk di sofa. Biasanya kafe ini ramai mulai pukul empat sore.

“Duduk di meja mana nih?” tanyaku pada Aira di saat masuk ke dalam kafe.

Aira menjentik-jentikkan telunjuknya di dagu untuk berpikir sejenak. “Di situ aja, di meja tinggi, kita duduk berhadapan,” jawab Aira sambil menunjuk meja tinggi.

“Kayak orang pacaran dong?”

Mata Aira mengerling. “Eh, emang iya, ya?”

Aku tertawa mendengar pertanyaannya. “Hahaha, enggak, gue cuma bercanda.” Lalu kami berdua duduk berhadapan di barisan kedua meja tinggi. Aku memesan secangkir cappuccino dengan tiga shoot gula, sedangkan Aira memesan iced chocolate mint.

“Jadi gimana kuliah lo?” tanyaku membuka percakapan.

“Ya gini-gini aja, cuma masih pusing sama masalah kemarin. Hmm…,” jawab Aira.

“Oh gitu, ya asalkan nggak berpengaruh ke nilai UTS aja. Hehehe.”

“Enggaklah, masa sampai segitunya…”

Pesanan kami tiba di meja setelah tiga menit menit menunggu, diantar oleh salah satu barista laki-laki berwajah ramah. Sambil mengaduk gula untuk menambah rasa manis cappuccino, dengan santai aku berkata, “Ya, biasanya cewek kalo galau tuh merembet ke mana-mana. Biasanya sih gitu. Soalnya beberapa temen gue kayak gitu. Malah sampai ada yang stress. Kacau banget.”

“Iya sih, tapi gue nggak pengin sampai segitunya. Meskipun gue gak bisa bohong kalo gue masih sayang sama Firza,” ucap Aira

“Owh…” Aku menganggukkan kepala dengan perasaan sedikit kecewa dan malah mengucap, “Kenapa lo nggak balikan aja?”

It’s so hard for me, do you know?” balas Aira dengan nada berat.

“I am sorry.”

“Hahaha, apaan sih, udah ah. Ganti topik pertanyaan dong…” pinta Aira. Bibirnya cemberut.

Aku menatap hangat kedua mata Aira. Gadis itu menatapku balik. “Eh, kok lo ngeliatin gue kayak gitu?”

“Gue… Umm…, boleh deket sama lo, nggak?”

“Deket? Ya bolehlah, Demas. Emang siapa juga yang ngelarang?” jawab Aira santai. “Lo kok kayak orang gugup gitu sih?”

Jelas saja aku gugup, aku ingin sekali menceritakan tentang penantianku selama dua tahun untuk mengenalnya lebih dekat, meskipun bukan di saat yang tepat, di saat seperti ini. Namun, aku pun takut menghancurkan momen ini. Aira belum lama putus dengan Firza, dan dia mengakui bahwa dirinya juga masih menyayanginya. Aku tidak ingin Aira malah kaget dan menjauhiku.

Aku pernah membaca buku dari Raditya Dika yang berjudul ‘Marmut Merah Jambu’. Buku itu menceritakan tentang orang yang jatuh cinta diam-diam. Singkatnya, orang yang jatuh cinta diam-diam hanya menunggu ketidakpastian yang sia-sia, membuang waktu yang berujung pada merelakan. Merelakan sesuatu yang memang tidak mereka miliki. Dan aku tidak ingin berakhir seperti itu. Aku ingin sekali berkata jujur tentang perasaanku pada Aira.

Aku melihat Aira yang tampaknya menunggu kalimat yang ingin kuucapkan. Baiklah…

“Gue mau ngomong jujur, tapi lo jangan marah ya,” kataku sambil menundukkan kepala.

“Tentang apa dulu nih? Bukan tentang kebohongan lo kan?” tanya Aira. Wajahnya berubah serius.

“Sebenarnya…”

Jeda cukup lama…

“Sebenarnya apa?” Aira mulai merasa penasaran.

“Selama dua tahun ini, gue selalu memperhatikan lo…, dari kejauhan,” ucapku sambil memalingkan wajah, berharap raut malu ini tidak terlihat.

Kedua mata Aira menatapku tidak percaya. “What? Dua tahun lo merperhatikan gue? Karena apa?”

Sudah saatnya ternyata, aku tidak dapat memendamnya lagi. “Karena gue jatuh cinta sama lo sejak pertama kali gue ngeliat lo. Maaf, Ai. Gue tau kita belum lama berkenalan, kita pun belum benar-benar dekat. Tapi gue udah lama sayang sama lo.”

“Dua tahun lalu, saat ospek kampus. Ketika lo kena hukuman nyanyi dari senior, gue terpaku ngeliat lo bernyanyi. Ngeliat lo menikmati hukuman itu dengan suara merdu dan bibir yang tersenyum tanpa merasa malu di hadapan para maba lain,” jelasku, lalu mengatur napas.

“Semenjak saat itu gue selalu memikirkan lo, gue pengin mengenal lo lebih dekat. Tapi gue takut. Gue merasa kalo gue gak pantes untuk dekat dengan lo, apalagi jadi pacar lo. Dan saat kita pertama kali berpapasan di lorong kampus ketika lo nggak sengaja bikin gue nabrak pintu karena lo buru-buru, gue berharap bisa berkenalan dengan lo. Tapi ternyata hal itu nggak terjadi. Perkenalan kita terjadi saat di Gramedia lalu, dan saat itu lo bilang ke gue bahwa lo baru aja putus sama Firza,” jelasku panjang lebar.

Aku menggenggam tangan Aira perlahan. “Maafin gue, Ai. Inilah yang gue sembunyiin selama ini. Terserah lo mau bilang gue pengecut, pecundang, whatever, inilah gue.”

Suasana kafe berubah kaku. Aku bisa merasakan ketegangan Aira yang masih terdiam menatapku tidak percaya. Dia tidak menolak genggaman tanganku. Aira hanya menggelengkan kepalanya sesekali, seperti meyakinkan diri bahwa ini bukanlah mimpi. Ya, aku pun berharap bahwa ini bukanlah mimpi.

Tiga menit telah berlalu, Aira masih terdiam. Aku sedikit mengeratkan genggamanku berharap Aira tidak menjauhiku. Aku takut ketakutan terbesarku ini terjadi.

“Jadi selama dua tahun lo memperhatikan gue diam-diam? Memperhatikan gue saat kelas kita bersebelahan, saat gue lagi makan di kantin, dan saat gue lagi sama Firza di kampus?” Aira akhirnya berbicara dengan nada pelan.

Aku memejamkan mata dan membuang napas grogi. “Iya, Ai…”

“Kenapa lo nggak bilang dari dulu?” tanya Aira. Dia terlihat marah dengan pengakuanku.

“Maaf, gue takut lo nggak suka sama gue. Maaf,” jawabku. Aira menarik tangannya yang sedang kugenggam untuk menutupi wajahnya yang memerah.

“Gue sayang lo, Ai…”

“…” Tidak ada jawaban dari Aira.

Aku tidak tau harus melakukan apa dengan keadaan seperti ini. Aku hanya bisa duduk dan berharap bahwa ketakutan terbesarku tidak terjadi. Aku tidak ingin kehilangan Aira.

“Demas, jujur, gue kecewa dengan pengakuan lo ini,” ucap Aira dengan nada kecewa, “harusnya kalo lo emang sayang sama gue, lo nggak melakukan hal ini. Lo harusnya melakukan apa yang memang seharusnya dilakukan orang yang jatuh cinta. Buktiin dan perjuangin perasaan lo.”

“Gue barusan melakukannya. Gue menunggu momen ini, Ai. Meskipun bukan momen yang tepat buat ngungkapin perasaan. Gue bukanlah orang yang bisa terang-terangan mengutarakan perasaan ke orang yang gue sayang. Terlebih orang yang gue sayang itu udah dimiliki orang lain,” jelasku kepada Aira.

“Lo egois…”

“Gue cuma gak pengin merusak kebahagiaan orang lain, Ai. Gue sadar diri dengan posisi gue yang bukan siapa-siapa lo. Dengan lo tau nama gue aja itu udah bikin gue bahagia banget. Seenggaknya penantian gue selama dua tahun untuk berkenalan dengan lo itu nggak berakhir sia-sia, nggak berakhir dengan penyesalan karena nggak pernah berani jujur.”

Aira mengusap air mata di ekor matanya. “Iya, lo emang nggak merusak kebahagiaan gue dan Firza, tapi lo merusak hati lo sendiri.”

Aku terdiam mendengar ucapan Aira. Benar, selama ini aku merusak hatiku sendiri dengan perasaan yang tidak bisa dipertanggungjawabkan.

“Lo tau ketakutan terbesar orang yang jatuh cinta diam-diam itu apa?” tanyaku.

Aira terdiam, dia hanya menggelengkan kepala mengisyaratkan tidak mengetahui jawaban dari pertanyaanku.

“Ketakutan terbesar orang yang jatuh cinta diam-diam itu adalah dia nggak pernah mengukapkannya,” ucapku pelan, lalu memberanikan diri untuk menggenggam tangannya lagi.

“Maaf Demas, gue nggak pengin menyakiti perasaan lo. Karena…–“

“Karena apa?”

Aira meneguk minumannya sejenak untuk menenangkan dirinya. Dia sepertinya sedang memilih kata-kata yang tepat untuk melanjutkan ucapannya.

“Karena gue masih sayang sama Firza. Gue nggak pengin menjalani pendekatan dengan lo dengan keadaan hati gue masih sama orang lain. Itu hanya akan menyakiti lo nantinya, Demas,” jawab Aira bijak.

Aku tidak dapat berkata-kata lagi mendengar penjelasan Aira. Mungkin ini adalah penolakan halus atau entahlah. Tetapi tidak apa-apa, sekali lagi, aku hanya ingin menuntaskan segala yang kurahasiakan selama ini. Mulai detik ini, tidak ada lagi yang diam-diam kulakukan di belakangnya. Semua penantian ini telah berakhir.

Telepon Aira berdering, aku memicingkan mata untuk melihat nama orang yang tertera di layar handphone-nya. Tepat sekali. Firza. Namun Aira tidak langsung mengangkatnya, dia melihat ke arahku untuk memperhatikan responku. Aku pun menatap mata Aira. Kami saling bertatapan sejenak, dan akhirnya Aira memilih mengangkat panggilan Firza.

“Halo? Kenapa Za?” tanya Aira kepada Firza di sebrang sana. Aira terlihat setengah hati menjawab kalimat-kalimat yang entah-apa-yang-diucapkan Firza. Dugaan kuatku adalah Firza mengajak Aira untuk balikan. Aku memperhatikan Aira, mendengarkan kalimat yang akan diucapakannya.

“Maaf, Za. Aku rasa kita nggak perlu lagi melanjutkan hubungan ini,” ucap Aira. Aku terbelalak tidak percaya dengan ucapannya. Aira tadi bilang bahwa dia masih menyayangi Firza, mengapa dia tidak balikan saja? Entahlah. Aku masih terus memperhatikan Aira. Melihat ekspresi wajahnya yang terlihat lelah, melihat kedua matanya yang baru saja menangis, dan melihat Aira yang seperti ini. Aku baru menyadari bahwa Aira adalah gadis yang tegar. Tidak ada isakan tangis yang terdengar seperti halnya perempuan-perempuan lain yang tidak kuat menahan luapan perasaannya yang meledak-ledak.

Hati yang patah layaknya sebatang rokok yang terbakar. Asap rokok yang terbang adalah harapan yang melayang di udara untuk hilang, dan abunya adalah sisa-sisa rasa yang terbuang sia-sia. Ujung permukaan rokok yang terbakar akan menyusut sedikit demi sedikit hingga habis oleh isapan sang perokok, lalu dimatikan pada asbak. Tepat seperti hati yang patah, perlahan-lahan, dia akan menyadari bahwa semua yang dirasakannya akan berakhir pada waktunya.

Aira mengakhiri panggilan dari Firza, dia tidak lagi melanjutkan hubungannya dengan mantannya itu meskipun dia masih menyayanginya. Jujur saja, aku masih belum mengerti maksud dari hal yang dilakukannya itu. Tapi di dalam lubuk hati yang terdalam, aku bersyukur bahwa orang yang kusayangi tidak lagi dimiliki oleh siapapun, termasuk diriku, saat ini.

“Maaf ya jadi bikin lo nunggu, Demas,” ucap Aira sambil tersenyum lega.

“Iya gak apa-apa. Hmm…”

Aira memainkan sedotan di permukaan gelas, seperti mempertimbangkan sesuatu. Kali ini aku benar-benar tidak mengerti harus berbuat apa selain menunggu Aira berbicara, atau menyudahi pertemuan ini.

“Demas, lo weekend ini ada acara nggak?” tanya Aira sambil menopang kepalanya dengan posisi tangan menahan dagu.

Aku memeriksa kalender lewat handphone-ku. Tidak ada. “Nggak ada, kenapa, Ai?”

Kedua mata Aira mengerjap dan kali ini jemarinya mengetuk meja, lalu dia berkata, “Lo mau temenin gue nonton konser Payung Teduh di UI?”

Aku terkesiap mendengar ajakannya, tanpa perlu berpikir panjang aku mengiyakan ajakannya. “Boleh, jam berapa?”

“Jam tiga sore lo jemput gue di rumah ya. Gue udah pesen tiket ke temen gue buat dua orang,” ucap Aira sambil tersenyum. “Oh iya jangan lupa, lo hapalin dulu lagu Payung Teduh yang judulnya ‘Berdua Saja’, ya, sampai benar-benar hafal.”

“Lho, buat apa?”

Wajah Aira mememerah, dan dia menggigit bibirnya. “Gue pengin kita berdua nyanyiin lagu itu,” ucapnya. Aku terperangah tidak percaya dengan ucapannya.

“Lo…, kenapa?” tanya Aira dengan senyum kikuk.

Aku menggelengkan kepala sambil tersenyum kikuk pula. “Eng…, enggak kok. Iya, gue pasti hapalin lagunya. Hehehe.”

Aira tersenyum dan mengangguk senang. “Yaudah, pulang yuk udah sore. Gue masih ada tugas yang harus dikerjain buat besok.”

“Oke, yuk,” ucapku, lalu aku memanggil waitress untuk membayar pesanan kami. “Jangan komentar, karena lo yang ngusulin kita nongkrong di sini, jadi gue yang traktir. Hehehe,” kataku sambil menahan tangannya yang sedang mengeluarkan uang dari dompet.

Kami pun berjalan ke arah parkiran, sama halnya seperti saat berangkat, aku dan Aira tidak berkata sepatah kata pun. Kami menikmati suasana hening ini dengan perasaan lega. Aku lega dengan perasaanku, dan Aira lega dengan perasannya, meskipun Aira belum menjawab perasaanku. Kedua lengan Aira berpegangan di pinggangku dan kepalanya bersandar di punggungku, tanpa rasa canggung. Aku belum pernah sebahagia ini.

Sesampainya di depan rumah Aira yang ternyata terletak di perumahan daerah jalan Nusantara, gadis itu turun dari motorku. Dia membuka pagar rumahnya yang terbuat dari besi metalik sambil berkata, “Mau mampir dulu, nggak?”

“Nggak sekarang ya, lo kayaknya capek banget hari ini. Mending lo istirahat lebih cepet deh, gue gak pengin lo sakit, nanti nggak jadi nonton konser Payung Teduh-nya. Hehehe,” jawabku malu-malu.

“Oke deh,” balas Aira. “Oh iya, by the way.” Aira mendekatkan wajahnya ke telingaku. Dia tersenyum dan berbisik, “Kita jalani hubungan ini pelan-pelan ya. Semoga lo adalah orang yang tepat buat gue.”

“Dan satu lagi…” Aira mengangkat telunjuknya di depan wajahku sebelum melangkah masuk ke rumahnya, gesturnya seolah-olah hendak mengancam.

“Jangan jatuh cinta diam-diam lagi, karena ada gue di samping lo,” lanjutnya sambil mencubit pipiku.

Aku tidak dapat berkata sepatah kata pun. Jantungku berdebar kencang sekali, rasanya seperti akan ada yang mencuat keluar dari dadaku. Perasaan hangat yang menjalar di dada ini terasa menyenangkan sekaligus menenangkan. Aku belum pernah merasa sejatuh cinta ini pada seseorang, dan aku merasakannya pada Aira.

“Terima kasih Aira, aku sayang kamu.”

Kini aku percaya, tak ada perjuangan yang sia-sia jika kita tulus melakukannya.

Pada akhirnya, seseorang yang selama ini jatuh cinta diam-diam hanya akan berakhir sendirian, jika dia tidak pernah berani mencoba untuk mengungkapkan perasaannya.

Advertisements

6 thoughts on “Di Sampingmu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s