Menghitung Mundur

Photography-Tumblr-photography-18503469-500-339

sumber

Tok… tok… tok…

“Akhirnya kamu pulang juga. Aku sudah menunggumu,” ucap seorang wanita berwajah oriental dari balik pintu yang langsung memamerkan senyum termanisnya serta dua buah gigi gingsul, lalu tanpa aba-aba, dia memelukku.

“Aku sudah memasak makanan kesukaanmu, yuk,” lanjutnya sambil menarik lenganku masuk ke rumah dan menuju ke ruang makan. Aku hanya mengekori langkahnya sembari memperhatikan punggung kecil yang sepanjang hari selalu berusaha ceria.

“Kamu selalu bisa membuatku bahagia. Aku beruntung sekali memilikimu, Zenna.” aku mengecup keningnya pelan, “bagaimana hari ini, Sayang?” Dia tersenyum mendengar pertanyaanku. “Seperti biasa, rumah ini tak pernah membuatku merasa bosan.” Aku tau, dia sedikit berbohong dengan jawabannya barusan. Siapa yang tidak jenuh jika hampir sebulan penuh hanya berada di rumah?

Tangan mungil Zenna cekatan melepas dasi berwarna merah marun yang tersimpul di kerah kemeja biru muda yang membungkus tubuhku. Perlahan, aku menggenggam jemari-jemari lentiknya, dan dia terpaku saat mata kami beradu.

Cup.

Sebuah ciuman hangat kudaratkan pada keningnya yang mulai penuh dengan peluh, di umurnya yang menginjak 27 tahun. Dia terpejam menikmatinya dengan senyum yang menawan. Zenna selalu berhasil membuat jantungku berdebar oleh senyumnya. Kini dia melingkarkan kedua lengannya di punggungku. Memelukku erat.

Zenna Wulansari, istriku, seorang wanita yang tak pernah kubayangkan sebelumnya menjadi pendamping hidupku. Seorang wanita yang tangguh. Seorang wanita yang lembut. Seorang wanita yang cantik, dewasa dan pintar memasak. Seorang wanita yang jarang mengeluh, dan seorang wanita yang mengajarkanku bagaimana cara untuk tetap tersenyum dalam titik terendah kehidupan. Aku berterima kasih sebanyak-banyaknya untuk semesta yang mempertemukanku padanya di batas jenuh penantianku. Hingga akhirnya ada seorang gadis yang selalu tulus mencintaiku.

“Cumi saus Padang kesukaanmu, Kangmas Rama Prasetyo.” Zenna menyendokkan makanan kesukaanku itu dengan wajah jahil ke piring yang telah dipenuhi butiran nasi porsi kuli -ya aku memang banyak makan.

“Kamu jangan mulai deh nyebelinnya,” balasku. Aku ingin sekali mencubit pipinya yang merona merah seperti buah tomat yang ranum saat dia mengucapkan kalimat itu. Sungguh, sayang saja, jika aku nekat melakukannya, dia akan merajuk dan tidak akan memasak apapun seharian sebelum aku memetikkan bunga mawar dari tangkainya langsung di kebun pamannya, di Garut. Jangan mengira aku hanya bercanda, karena jarak Jakarta – Garut tidaklah dekat.

Kami bercengkrama mengenai hari-hari yang mulai terasa berat sambil menikmati hidangan malam. Setelah selesai, kami menuju ruang televisi, tempat favoritku menunggu rasa kantuk menyerang di tengah malam yang kian melengang. Televisi, remote, majalah Minggu lalu, serta beberapa sisa cemilan ringan menjadi saksi bisu ciuman-ciuman mesra terukir bertubi-tubi di bibir kami. Hingga pukul satu atau dua malam lewat sepuluh menit, Zenna tertidur pulas di dadaku. Tempat dia menyandarkan seluruh perasaannya sejak di bangku kuliah semester dua hingga kami berumah tangga.

Wajah polosnya selalu membuatku tak pernah sekalipun bisa mengeluarkan amarah selama empat tahun pernikahan kami. Kedua kaki jenjangnya seperti tidak mempunyai rasa lelah setiap kali berbelanja keperluan rumah di mal atau sekedar mencuci mata di toko buku, memang sudah tabiat wanita sepertinya. Tapi dia jarang memintaku membelikan aksesoris atau perabotan lucu seperti kebanyakan wanita lainnya yang langsung membawanya kasir. Dia lebih memilih membawa pulang satu atau dua buku yang dapat menambah pengetahuannya, itupun dengan uang tabungannya sendiri.

Zenna mengerti betul bagaimana lelahnya mencari uang. Dulu, ketika kami masih kuliah, aku memutuskan untuk kerja sambilan. Dan dia selalu mewanti-wantiku untuk tidak boros menggunakan uang. Zenna rajin mengumpulkan uang sisa belanja mulai dari dua puluh ribuan hingga uang receh seratus rupiah, dan menyimpannya pada sebuah celengan kaleng di atas kulkas. Hingga dia rasa cukup dan ada waktu, dia akan membuat uang-uang yang telah terkumpul itu menyatu pada saldo rekening miliknya. Untuk berjaga-jaga jika sewaktu-waktu ada kebutuhan dadakan, katanya.

Aku pelan-pelan mengangkat tubuhnya dari sofa dan menggendongnya ke arah kamar yang terletak hanya sekitar enam meter dari ruang televisi. Kubiarkan televisi LED berukuran 21 inci itu menyala hingga pagi agar suasana rumah minimalis kami tidak terlalu sepi, hanya lampunya saja yang kumatikan. Ah, tubuhnya semakin terasa ringan saja, padahal dia telah menuruti anjuran dokter untuk mengkonsumsi makanan yang menambah berat badan. Tetapi hal itu tidak banyak membantu.

Setelah pintu kamar terbuka dengan dorongan kaki kiriku, aku segera menurunkan tubuh Zenna ke kasur yang berlapiskan sprei berwarna biru laut, warna kesukaannya. Dia mengigau memanggil namaku pelan. “Ramaaaaa…”

Aku tersenyum kecil dan menikmati wajah lelahnya. Lima menit kemudian aku mengecup lembut keningnya tiga kali, lalu mematikan lampu kamar. Aku belum benar-benar bisa memejamkan mataku. Sebelum tidur, dalam gelap aku berdoa, semoga kebersamaan ini akan terus berjalan hingga kami tua renta dan waktu menjemput kami. Tapi ternyata doa yang paling kuinginkan itu tak terkabul. Jika saja saat itu aku tau bahwa malam itu adalah akhir kebersamaan kami. Aku ingin meminta padaNya agar aku pun tidak terbangun lagi.

***

Sampai nanti kita bertemu lagi, ingatlah aku sebagai seorang yang selalu mencintaimu, dan jangan lupa untuk selalu tersenyum, Sayangku. Aku tidak ingin melihatmu menjadi pria cengeng yang ditinggal pergi orang yang sangat dicintainya. Mungkin suatu hari kamu akan menemukan penggantiku, aku akan dengan senang hati mengizinkannya mencintaimu. Asalkan dia dapat merawatmu dengan baik.”

Aku masih ingat pesan terakhir yang kau ucapkan hingga kini, hingga tujuh tahun kepergianmu. Sebuah pesan yang menjadikan hidupku lebih tegar dari suami-suami mana pun, yang pada akhirnya memutuskan untuk menikah lagi tak lama setelah istrinya pergi untuk selamanya.

Bunga warna warni yang kutaburkan pada tempat peristirahatan terakhirmu tercium wangi, ditambah siraman air mawar yang menggemburkan tanahnya. Menghancurkan jantung hatiku seketika dengan sesak di dada yang tak lagi tertahankan. Tanpa sadar setetes air bening jatuh dari ekor mataku di antara air mawar yang kusiram. Maaf Zenna, biarkan aku menjadi pria cengeng yang lemah hanya di hadapanmu. Aku sungguh merindukanmu.

Aku lupa kapan tepatnya terakhir kali tersenyum. Seingatku, saat itu kamu bilang bahwa kamu tidak punya alasan untuk bersedih.

Aku tidak pernah berjanji akan mencintaimu sampai kapan, tetapi aku akan mencintaimu sampai batas waktu yang Tuhan tentukan, dan telah kulakukan.

***

Apa kabarmu, nyonya manis yang sangat cerewet?

Semoga kamu tersenyum saat membaca tulisan ini dari atas sana. Aku tau, kau pasti membacanya meskipun kamu lebih banyak menghabiskan waktu dengan membaca novel-novel picisan atau buku-buku tebal yang menambah kualitas kognisimu.

Bagaimana keadaanmu kini? Ah, sepertinya kau sudah duluan menjelajahi tempat-tempat yang belum sempat kita kunjungi dahulu. Foto-foto beberapa lokasi wisata yang kau tempelkan pada gabus biru persegi di dinding kamar kita masih angkuh tertempel di sana. Aku tidak akan membiarkan siapapun mencopot atau memindahkannya sebelum aku kunjungi semua.

Sepertinya kau sudah lebih dulu menikmati butiran pasir putih pulau Phuket dengan sepasang kaki lincahmu itu, pastinya kau iseng mencari kepiting kecil yang bersembunyi di sela-sela batu karang, atau diam-diam memotret beberapa turis yang sedang bermesraan lewat kamera polaroidmu. Biar kutebak, kau pasti menyusuri sepanjang garis tepi pantai itu sambil merasakan deru angin laut yang menerpa lesung pipimu. Seperti yang kau lakukan di pantai Anyer saat kita masih berpacaran dulu. Oh iya, kedua bola matamu pasti gembira sekali karena sudah menyaksikan setangkup senja yang sangat indah di sana.

Sedangkan, aku masih merutuki rutinitas kerjaku yang masih begitu-begitu saja. Maaf, aku lebih memilih lembur daripada bepergian ke luar. Kau kan tau, semenjak bersamamu, aku benci bepergian sendiri. Begitu pun ketika kau tak ada, aku semakin benci pergi sendiri. Ya, terserah jika kau ingin mengomeli atau meledekku karena sifat jelekku ini. Terserah.

Jika kau ingin menanyakan perihal bagaimana kabar mama dan papa, aku akan menjawabnya dengan senang hati. Mereka berdua sekarang sedang bahagia menyambut cucu pertamanya lahir, anak Rini, adikmu, yang tiga tahun lalu menikah dengan Edo, cowok yang selalu kau ancam untuk tidak menyakiti adikmu itu kini telah menjadi bagian dari keluarga kecil kita. Oh iya, anak mereka perempuan. Namanya Aura. Si kecil itu cantik, lucu, dan menggemaskan. Aku pernah membayangkan suatu hari anak kita seperti itu. Tolong jangan cemberut, aku hanya membayangkannya saja, sayangku. Sudah pasti anak kita akan lebih cantik dari anak siapapun. Iya kan?

Saat menulis ini aku baru saja selesai memasak dan memakan tumis buncis dicampur kornet, makanan kesukaanmu. Setelah belajar beberapa kali dengan panduan buku masak serta bimbingan ibu-ibu acara televisi yang secara live mengajarkan cara memasak, akhirnya aku berhasil memasaknya dengan sempurna.

Aku berani taruhan jika kau masih ada di sini, kau tidak akan menerima kekalahan karena masakanmu kalah dengan enak denganku. Lalu kau akan menyerah dan membiarkan bibirmu kukecup pelan. Aku makan sembari duduk termenung berhadapan dengan sebuah bingkai foto yang menjadikan rekaman wajahmu abadi. Dan lamat-lamat kurasakan nadi-nadi jantungku berdenyut pelan dan melemah setelah menyadari kau tak ada di sini. Kau mungkin benci jika kau tau, kini aku hanyalah tubuh kosong yang semakin terkikis hancur perlahan-lahan seiring berjalannya waktu.

Zenna sayang, andai saja waktu kuulang kembali meskipun dengan nyawaku sebagai taruhannya. Andai saja saat itu ambulance tidak telat mengantarmu ke rumah sakit akibat macet ibu kota yang haram jadah, yang mengakibatkan kau tersiksa oleh penyakitmu. Andai saja Tuhan berbaik hati untuk menyembuhkanmu. Tidak, aku tidak menyalahkan Tuhan atas semua yang telah terjadi. Aku hanya berandai-andai jika saja penyebab kepergianmu dapat kutukar dengan nyawaku sendiri. Karena aku akan melakukannya dengan senang hati.

Aku sangat merindukanmu, Zenna. Kuharap Tuhan tidak sengaja tertidur karena bosan saat namamu panjangmu kulafalkan beserta ayat-ayat suci dalam doa penuh air mata yang kupanjatkan di malam yang semakin terasa lambat.

Seringkali aku meneriakkan aamiin dalam satu hela napas panjang di atas sejadah, mengadukan nasib yang perih, menabur duka pada lukaku yang getir, atau meracuni diri dengan seonggok harapan semu. Aku tak ayalnya seperti serigala yang puasa berbulan-bulan hingga lolongannya terdengar letih, namun kematian hanya membuatnya terpaksa mencumbu kesendiriannya sendiri.

Maafkan aku yang sesekali menangis menjelang subuh. Ketika kedua mataku yang lelah terpejam, tanpa sadar aku terbuai dengan rekaman-rekaman lama peristiwa kepergianmu yang ingin sekali kuenyahkan seumur hidup. Aku masih ingat malam itu, di ruangan dengan bau obat menyengat, aku menjudikan harapan dengan doa-doa untuk nyawamu. Tapi semuanya sia-sia. Tuhan lebih menyayangimu, dan tidak tega melihatmu semakin melemah dari hari ke hari.

Aku benci mengingat dokter yang menyuntikmu dengan obat enta-apa-itu ke pembuluh darahmu, lalu tanpa teganya membedah tubuhmu yang kecil itu -aku hanya terdiam pasrah menyaksikannya, dan meletakkan alat kejut pemicu detak jantung di dadamu ketika usaha mereka gagal. Dan akhirnya, kau memilih menerima uluran tangan malaikat yang menjemputmu dengan tersenyum ketika air mata terakhirmu jatuh di depan mataku. Aku merasakan tikaman paling hebat di hati dan jantungku, ketika takdir paling keras itu harus kualami dan tak bisa kuhindari.

Kini setiap kali mataku hendak ingin terpejam, aku harus bergulat terlebih dahulu dengan rindu yang datang menyerbu. Tak ada kata bosan dalam agenda mereka, dan tak ada letihnya mereka meminta temu meski hanya bisa kukabulkan lewat mimpi-mimpi tentangmu yang menjelang pagi akan terhapus kembali. Aku bersyukur dengan kehadiran rindu, tanpa mereka, aku takkan pernah bisa merasa dekat denganmu dan mengerti bagaimana cara setia. Meskipun aku tau aku bisa hidup tanpamu, tetapi jujur, aku tetap tidak suka. Karena aku dan rindu mengerti, kau takkan pernah kembali, meskipun hanya satu kali.

Bersabarlah, malaikat kecilku. Aku takkan pernah bosan mengunjungimu setiap sebulan sekali di akhir pekan dengan membawa tujuh tangkai bunga kesukaanmu, mawar merah yang kupetik langsung dari kebun pamanmu, dan meletakkannya di samping nisanmu. Kumohon, bersabarlah dengan senyum manismu. Terhitung detik ini, aku akan selalu mengingatkanmu untuk selalu tersenyum di atas sana. Kecup kening dan peluk tubuhku dengan cara yang kau bisa. Aku akan dengan penuh cinta merasakannya.

Tunggu aku, sayang. Kau boleh menghitung setiap detik yang bergulir meski aku tidak tau apakah di atas sana ada jam dinding, hingga pada suatu waktu aliran darah di seluruh nadiku berhenti, pun dengan napasku, lalu kita akan bertemu pada sebuah pertemuan yang takkkan terjadi perpisahan. Percayalah, kita akan dipertemukan di sebuah pengulangan abadi, di mana air mata kita menari gembira menyambut hangat dua hati yang disatukan tanpa harus takut kehilangan lagi.

Salam rindu dan peluk hangat, dari aku yang selalu mencintaimu dan gemar menghitung mundur.

Rama.

Siapkan senyum paling manis milikmu untuk menyambutku nanti, sayang.

Advertisements

5 thoughts on “Menghitung Mundur

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s