Pelukan Terakhir

46153-This-Isn-t-Goodbye

sumber

“Aku tidak pernah memintamu meninggalkan kekasihmu.”

“Aku mencintaimu…”

“Aku juga tidak pernah memaksamu untuk mencintaiku.”

“Tapi…”

“Tapi apa?”

“Aku ingin selalu bersamamu…”

“Tidakkah itu terdengar egois?”

Kini aku memandang Nesa yang sedang menundukkan kepalanya. Dia terlihat bingung dan serba salah. Ini tentang pilihan. Pilihan yang menentukan kami akan tetap bersama atau sampai di sini aja.

Sudah hampir setahun aku dan Nesa menjalani hubungan-yang-entah-disebut-apa ini. Nesa mempunyai pacar yang sedang mengadu nasibnya di negeri orang. Sedangkan aku sudah lama mengakhiri hubunganku dengan mantan kekasihku jauh sebelum bertemu Nesa.

Singkatnya kami bertemu di sebuah halte bus daerah Sudirman dekat Lotte Mart. Saat itu pukul sepuluh malam. Jalanan sepi dan hujan turun sangat deras. Sepertinya hujan yang turun bertubi-tubi itu tidak membiarkan satu orang pun yang berada di halte beranjak.

Di halte itu hanya ada lima orang termasuk aku dan Nesa. Kami berdua duduk sudah hampir satu jam di sana dengan harap penuh hujan akan berhenti. Bodohnya, aku baru kepikiran untuk menelpon taksi Blue Bird untuk pulang. Sepertinya bukan ide yang bagus jika malam itu -di tengah jalanan sangat sepi- aku pulang naik kendaraan umum, karena saat itu belum ada busway. Dan setelah lima belas menit berlalu taksi pun datang, Nesa menghampirkiku dan berkata, “Maaf kak, itu taksinya pesananmu?”

“Ya, betul, ada apa?” jawabku.

“Boleh aku menumpangnya hingga Cinere? Nanti biar kubayar argonya sampai di sana.”

“Oh tentu, aku pun pulang ke arah pasar Minggu.”

Kami berdua pun menaiki taksi, dan sepanjang perjalanan yang singkat itu kami berkenalan. Bertanya mengenai nama dan pekerjaan, tak lupa kami bertukar kontak untuk melanjutkan silaturahmi. Silaturahmi yang berujung pada hubungan ini.

“Kamu tidak yakin denganku, Yud?” tanya Nesa yang seketika membuyarkan lamunanku.

Aku menatap mata penuh harapnya dalam-dalam. “Bagaimana aku bisa yakin jika kamu kekasih orang?”

Nesa memalingkan wajahnya. Setelah satu tetes air mata yang jatuh diam-diam dari kelopak matanya, berselancar lewat pipi dengan indahnya, kemudian terdengar isakan yang menjadi gong drama dimulai.

Aku tidak habis pikir, mengapa ketika aku benar-benar jatuh cinta, cintaku selalu jatuh pada orang yang tidak tepat di waktu yang tidak tepat juga. Mengapa? Semesta memang seringkali bercanda dengan pertemuan tanpa sengaja yang dibuatnya untuk umat manusia, lalu dengan teganya memisahkan seenak jidat saat sedang sayang-sayangnya. Jujur, aku benci sekali dengan paragraf ini.

Kembali aku menatap Nesa yang kini wajahnya terlihat lelah. Udara dingin yang menari di kosnya seperti orang yang pura-pura tidak tau dengan percakapan kami. Sedangkan kami sendiri sudah tidak tau apa lagi yang harus dilakukan demi menyelamatkan hati kami.

“Nes, aku sungguh membenci ini.”

“Aku pun…” balas Nesa yang langsung membenamkan kepalanya ke dadaku. Kedua tangannya melingkari tubuhku dan memeluk erat. Getir melintir hatiku dengan nyeri yang hampir setiap hari menggerogoti hatiku saat mengetahui nasib kami semakin berada di ujung tanduk.

Aku menghembuskan napas yang terasa berat sekali. Sesak rasanya mengambil pilihan dan keputusan -yang padahal tidak menjadi solusi- atas permasalahan ini. Kami berdua saling mencintai, tetapi keadaan tidak berpihak kepada kami. Semua terlihat jelas pada cincin yang tersemat dengan anggun di jari manis Nesa. Dia sudah ditunangkan orang tuanya dengan pria yang telah memiliki hatinya sejak dua tahun yang lalu.

Sebelah tanganku mengelus pelan rambut Nesa. Biasanya dia akan tertidur tak lama aku melakukan ini. Entah sejak kapan aku benar-benar mencintai gadis ini. Gadis yang selalu tampil riang menjalani menjalani hidup, namun kini menjadi sangat mendung dan kelabu setelah mamanya mempercepat rencana terakhir dalam hidupnya.

“Jadi bagaimana, Yud?” tanya Nesa dengan nada sumbang.

“Sepertinya kita memang harus–”

“Berpisah?” potong Nesa, “mengapa kamu menginginkan perpisahan jika kamu benar-benar mencintaiku, Yud? Apakah kamu rela aku harus tinggal selamanya dengan orang yang sudah tidak kucintai dan tidak pernah ada di sisiku?”

BANGSAT!, umpatku dalam hati. Kenapa kami harus dihadapkan pada kenyataan sepahit ini? Tidakkah semesta berbaik hati sebentar saja, seperti gadis kecil yang baru dibelikan boneka. Bayangkan saja, dalam hitungan kurang dari tiga bulan lagi, dia akan menjadi istri orang lain.

“Habis harus bagaimana lagi, Nes?” tanyaku pesimis.

“Bawa aku lari…”

“Tidak, dan tidak akan pernah.”

Nesa melepaskan pelukan dan mendorong tubuhku. “Aku ini memperjuangkanmu, Yuda! Mengapa kamu tidak memperjuangkan aku?”

“Tidak dengan cara ini…”

“Lalu dengan cara apa? Kamu ingin aku memohon dan merengek-rengek layaknya anak kecil yang meminta permen untuk membatalkan pernikahanku, ha? Kamu ingin mamaku terkena serangan jantung?” Nesa semakin frustrasi.

Aku menggenggam erat tangannya. “Lalu apa bedanya jika kamu kubawa lari? Apakah kamu tega membuat mamamu merasa malu dalam sisa hidupnya atau mendadak terkena serangan jantung?”

***

Di sebuah gedung bedekorasi mewah bertema Jawa. Orang-orang yang hadir berpakaian batik dan kebaya, seperti halnya aku yang mengenakan batik Pekalongan berwarna biru-hijau dan dipasangkan celana bahan hitam yang tampil elegan dengan tambahan sepatu pantofel mengilat berwarna senada.

Aku disambut oleh senyum seorang pagar ayu. Sepertinya dia tidak mengenalku. Ya, aku hanya mengenal dan dikenalkan dengan beberapa teman Nesa yang menjaga rahasia kami selama ini. Nesa menghindari orang-orang yang gemar bergosip. Dia takut hubungan ini terdengar sampai ke telinga mamanya.

Setelah aku menandatangani buku tamu, pagar ayu itu berkata, “Silakan masuk mas, resepsinya pernikahannya sebentar lagi dimulai.” Aku menjawabnya dengan anggukan.

Sungguh terasa asing aku berada di acara pernikahan Nesa dan Robi. Tak ada satu pun orang yang aku kenal di sini. Sepanjang mata memandang, yang kutemukan hanya orang-orang yang sedang asyik bercengkrama atau berbasa-basi menanyakan seputar kabar lawan bicaranya.

Sedangkan aku? Setelah memasuki pintu setinggi lima meter dan lebar tujuh meter, aku langsung berjalan ke arah sudut gedung. Mencari cemilan karena tidak lapar. Sebenarnya tujuanku ke sini hanya ingin menghadiri pernikahan Nesa dengan Robi. Tidak lebih.

Sambil mengunyah puding cokelat di piring kertas berwarna keemasan pandangan mataku mencari-cari sang pengantin wanita yang terakhir kali kutemui seminggu di kantornya. Nesa merengek memintaku menemaninya di kos semalaman sebelum dia dijemput oleh tantenya dan kemudian dipingit oleh mamanya hingga hari pernikahannya. Paginya, dengan perasaan yang sangat berat, aku meninggalkan Nesa dengan sebuah kecupan hangat di keningnya sebelum dia terjaga.

Setengah jam kemudian, MC bertuksedo hitam dengan suara beratnya mengumumkan prosesi ijab qabul akan segera dilaksanakan. “Mari kita sambut mempelai pria dan wanita untuk segera melakukan prosesi sakral penyatuan hati mereka,” ucap sang MC seperti presenter wanita salah satu acara televisi lokal yang nada bicaranya sangat hiperbola.

Akhirnya aku melihat Nesa, melihatnya berjalan keluar didampingi mamanya dari arah ruang rias yang terletak sekitar dua puluh meter dari tempatku berdiri sekarang. Seluruh tamu undangan melihat ke arahnya. Dia mengenakan kebaya pengantin berwarna putih. Mahkota emas berbentuk segitiga dengan lima buah entah-apa-namanya-itu tampak elok tersanggah di rambut panjangnya yang kini membuatnya terlihat seperti seorang ratu. Bibir merah yang dulu tak pernah malu mengecup bibirku secara tiba-tiba pun dibalut listik merah terang. Cantik sekali, Tuhan. Sayangnya dalam hitungan waktu kurang dari setengah jam semuanya akan berakhir.

Dari arah yang berlawanan, Robi berjalan dengan gagahnya ditemani kedua orang tuanya di sisi kiri dan kanannya. Bak seorang raja berjas putih, langkah demi langkahnya menyedot perhatian para tamu yang satu per satu tersenyum senang menyambutnya dan tidak sabar dengan prosesi yang akan segera dilaksanakan beberapa saat lagi. Aku pun ikut tersenyum dengan rasa getir yang menyayat-nyayat hatiku tipis seiring langkahnya mendekati meja tempat penyatuan hatinya dan Nesa.

“Saya nikahkan dan saya jodohkan Nesa binti Agung Sumono kepadamu…” ucap sang penghulu dengan sangat jelas sambil menjabat tangan Robi yang sedari tadi tersenyum bahagia. Suara sang penghulu serta senyum Robi seperti kaki-kaki kuda yang lari terburu-buru dan menginjak-injak hatiku hinggak tak berbentuk.

“Dengan mas kawin seperangkat alat salat dibayar…–” Air mataku mengalir deras tanpa sadar dan tanpa peduli seorang ibu di samping kiriku menatapku dengan tatapan iba, “tunai.” Sang penghulu mengakhiri kalimatnya.

Robi memejamkan matanya sekilas dan membuang napas grogi untuk mengumpulkan nyali penuh di hatinya yang akan digunakannya untuk mengucap ijab qabul. Nesa memasang senyum manisnya, aku melihat senyum itu disunggingkan secara terpaksa, ya aku tahu itu. Mama Nesa menangis melihat anak satu-satunya itu akan tinggal bersama laki-laki yang telah memenangkan kepercayaannya untuk menciptakan kehidupan baru.

“Saya terima nikahnya Nesa binti Agung Sumonio untuk–” Napasku mulai tak beraturan mendengar kata demi kata yang terangkai mantap keluar dari mulut Robi. Persetan dengan semua ini.

Tuhan, inikah yang disebut-sebut level tertinggi mencintai?

“Saya dengan mas kawin seperangkat alat salat di bayar–” Isakan tangisku meledak dan beberapa orang di sekitarku memperhatikanku dengan berbagai macam tatapan. Ada yang melotot, simpati, dan tidak suka (karena mengetahui ada yang tidak rela dengan pernikahan ini).

Entah bagaimana caranya tiba-tiba Nesa bisa melihatku dari sekian banyak orang yang menyakiskan prosesi sakral ini. Dari kejauhan dia berusaha tampak menguatkan hatinya yang bersitegang dengan pikirannya. Aku tahu dia sedang menahan tangis.

Baiklah, dengan perasaan yang hancur dan hati yang tak berbentuk lagi aku harus rela membunuh dan mengakhiri semua perasaan ini, tepat ketika penghulu dan para hadirin menyerukan kata. “SAH!”

Selamat tinggal Nesa, semoga kamu bahagia selamanya dengan pilihanmu.

***

Setengah tahun telah berlalu, aku mendengar kabar dari salah satu temannya bahwa Nesa telah hamil dua bulan. Aku rasa anaknya laki-laki, dan akan sangat tampan seperti ayahnya. Tapi sudahlah, itu bukan lagi urusanku…

Sebenarnya, setelah pernikahan itu Nesa menghubungiku untuk bertemu. Namun sepertinya semua sudah tak berarti lagi. Semua sudah selesai dan berlalu. Tak ada lagi yang harus diributkan atau dibahas. Dia sudah mempunyai kehidupan baru, dan aku pun ingin memulai kehidupanku dari nol lagi.

Tapi tampaknya usahaku untuk pergi sia-sia, meskipun aku sudah tinggal di kota yang berbeda, Nesa berhasil menemukanku. Menemukanku di sebuah pekarangan kecil di sudut keraton Yogyakarta. Aku memutuskan untuk pindah ke kota ini untuk bekerja di tempat teman baikku, Deni, sekaligus untuk melupakan Nesa. Oh iya, dasar Deni sialan. Tak kusangka dia memberi tahu Nesa bahwa aku sedang berada di sini. Tega-teganya dia membantu Nesa mempertemukanku. Aku bersumpah tidak akan menuruti permintaannya lagi untuk lembur mengerjakan permintaan klien yang selalu dikeluhkannya.

“Kenapa? Kaget karena aku ada di hadapanmu sekarang?” Nesa membuka percakapan dengan santai, “kenapa kamu pergi dan menghilang setelah pernikahanku? Bukankah kita masih bisa berteman baik kan?”

Aku terdiam cukup lama untuk menjawab rentetan pertanyaannya. Aku masih tidak percaya gadis yang sudah menjadi istri orang ini datang jauh-jauh dari Jakarta hanya untuk menemuiku.

“Tidak semudah itu…” Hanya tiga kata yang keluar dari mulutku untuk menjawab pertanyaanya.

Nesa tersenyum. “Mengapa?”

“Hei Robi tidak mengkhawatirkan istrinya apa?” Aku berusaha mengalihkan topik pembicaraan.

“Jawab!” perintah Nesa. Raut wajahnya berubah serius. “Mengapa kamu menghilang begitu saja? Kamu tidak tau perasaanku bagaimana saat dulu mengetahui kabar bahwa kamu pindah?”

“Kamu sendiri, apakah tau bagaimana perasaanku dulu saat namamu dan Robi resmi tercetak di buku pernikahan?” Aku berbalik tanya.

“Bukankah itu yang kamu mau? Kamu kan yang pengin kita berpisah?”

“Oke, jadi ini semua salahku ya, Nes?”

“Bukan, bukan begitu…”

“Lalu apa?” aku mulai emosi, “memang seharusnya begini kan? Dari awal kita memang tau bahwa kita tidak akan pernah bisa bersama. Yasudah. Jangan lagi meributkan hal yang sudah terjadi.”

Nesa menatap nanar cincin pernikahan yang tersemat di jari manisnya. Dia tau betul telah sangat menyakitiku. Tapi hal yang membuatkku semakin belum bisa menerima kenyataan adalah bahwa dia sekarang berada di sini, berada di hadapanku.

“Aku hanya ingin tetap berteman baik denganmu, Yud,” ucap Nesa pelan.

“Maaf, aku tidak menginginkannya. Anggap saja cerita kita yang lalu tidak pernah ada.”

Langit Yogyakarta menampakkan kuning senja yang menawan setiap mata yang melihatnya. Orang-orang yang berada di sekitar sini satu demi satu melangkah pulang. Begitu pun dengan burung-burung yang terbang di angkasa satu per satu pulang ke sarangnya. Tetapi aku tidak seperti burung itu, aku tidak akan pernah lagi kembali ke rumah, ke Jakarta, di rumah orang tuaku. Aku sudah memutuskan untuk selamanya tinggal di sini untuk memulai kembali merajut kehidupan yang sudah setengah hancur.

“Jadi sekarang siapa kekasihmu?” tanya Nesa. Kamu harus membayangkan sendiri bagaimana raut wajahnya saat dia menanyakan pertanyaan ini. Menyebalkan.

“Memang penting untuk kamu tau?”

“Tidak juga, tapi bolehkah aku mengetahuinya? Aku hanya ingin memastikan dirimu dimiliki oleh perempuan yang baik,” ujar Nesa. Lagi-lagi senyum keparatnya disuguhkan padaku setelah sekian lama tak pernah kulihat.

“Siapapun kekasihku sekarang bukanlah lagi urusanmu.”

“Baiklah jika jawabanmu begitu. Aku akan menemanimu hingga orang yang sedang kau tunggu datang. Aku yakin dia adalah kekasihmu,” ucap Nesa semangat. Mulai lagi sifat egois keluar di saat-saat seperti ini. Ingin sekali rasanya aku menelpon suaminya untuk segera ke sini dan menendangnya sampai ke Jakarta.

“Jangan macam-macam, Nes.”

Setelah kalimat terakhir yang kuucapkan, suasana berubah hening. Kami tenggelam pada isi kepala masing-masing. Pikiranku berkecamuk dengan segala perasaan yang seakan hidup lagi. Rindu di dada yang sekian lama terpendam seperti diberi angin segar, mereka berteriak riang menyambut kedatangan Nesai. Sebetulnya aku sudah lama sekali memakamkan perasaan ini sejak tiba di stasiun tugu sambil bernyanyi lagu sedih. Lagu yang dulu sangat tenar diperdengarkan oleh Peterpan, Kukatakan Dengan Indah.

Kau hancurkan hatiku, hancurkan lagi. Kau hancurkan hatiku ‘tuk melihatmu.
Kau terangi diriku, redupkan lagi. Kau hancurkan hatiku ‘tuk melihatmu
.

Tanpa sadar mulutku mengucapkan lirik reff lagu itu pelan. Nesa mendengarnya dan hanya terdiam, sejurus kemudian dia berkata, “Maafkan aku, Yud.”

“Tak apa, sudahlah, semua sudah berlalu,” ucapku tulus. Entah mengapa aku masih berdiri di sini, bukannya mencari tempat lain yang tidak diketahuinya untuk menunggu kekasihku pulang. Atau menghubungi kekasihku dan menyuruhnya pulang sendiri. Entah mengapa aku tidak melakukannya.

“Yudaaa, yuk pulang!” Suara seorang perempuan memecah suasana. Dia adalah Lili, kekasihku kini. Lili sadar aku tidak sendirian di sini.

Lili memperhatikan Nesa sekilas. “Siapa Yud? Temen kamu? Bukannya dikenalin, ih.”

“Halo, kenalin namaku Lili.” Lili berinisiatif duluan mengajak Nesa berkenalan.

“Hei, aku Nesa,” ucap Nesa menerima jabat tangan Lili. Aku masih terdiam dengan dugaan-dugaan buruk yang akan terjadi setelah perkenalan mereka berdua.

Nesa tersenyum melihat Lili yang berdiri di sampingku kini, lalu berkata, “Kamu pacarnya Yuda?”

Lili menganggukkan kepalanya. “Iya, kamu temennya?”

“Iya, teman lama. Masa lalu. Hehehe” Nesa tertawa renyah. Dia tau kehadiran dirinya akan menjadi sebuah pertanyaan besar yang akan diajukan Lili kepadaku setelah ini.

“Ohh…” Lili memutar bola matanya dan melirikku lewat ekor matanya. Matilah aku…

“Cantik. Kamu cantik ya, Li,” puji Nesa, “sepertinya aku harus pergi sekarang, boleh minta waktunya sebentar untuk ngomong sama Lili?” Nesa memegang tangan Lili, kemudian menggenggamnya.

“Li, aku titip pesan, tolong jaga Yuda baik-baik ya. Dia pria yang baik dan bertanggung jawab. Jangan sakitin atau bahkan meninggalkan dia…, seperti yang pernah kulakukan dulu, ya,” ucap Nesa pelan dengan nada bergetar. Seperti orang yang menyerahkan sesuatu yang paling dia sayang untuk orang lain.

“Kenapa?” tanya Lili bingung, dia sepertinya sudah mempunyai segudang pertanyaan yang akan segera diajukan pada Nesa.

“Karena dia orang yang paling kucintai…” Nesa tiba-tiba terisak. Aku tersentak mendengarnya, Lili melonjak kaget. Suasana berubah tegang.

Sambil terisak Nesa berkata, “Kami dulu saling mencintai, dan aku pun masih mencintainya. Tapi aku sudah menyakitinya dan meninggalkan dia bersama pria lain. Untuk itu, tolong cintai Yuda seperti aku mencintainya, Li.”

Lili mengangguk mengiyakan dengan kikuk. Dia pun tampak bersedih mendengar pengakuan Nesa. “Iya, aku akan menjaganya, Nes.”

“Syukurlah, aku lega mendengarnya. Boleh aku meminta permintaan yang cukup kurang ajar?”

“Apa?” Dua perempuan ini sekarang menangis bersama. Dan aku hanya terdiam memperhatikan dialog mereka berdua seperti orang dungu.

“Aku ingin memeluk Yuda untuk terakhir kalinya, Li. Aku ingin menyudahi perasaan ini dan melepaskan Yuda untukmu selamanya,” pinta Nesa. Entahlah Tuhan, aku tidak semakin tidak mengerti dengan jalan pikiran wanita.

Lili syok mendengar permintaan Nesa, tapi dia mengangguk mengizinkannya. Dan aku? Aku? Aku kini pasrah, pasrah berdiri mematung dengan posisi lengan Nesa yang sudah melingkari leherku dan memelukku erat sambil menangis –meluruhkan seluruh perasannya dalam pelukan itu. Aku bisa merasakan debar jantungnya berdegup kencang sekali, aku pun merasakan hal yang sama. Namun tidak dengan perasaan cinta. Tidak lagi. Cintaku sudah kuberikan untuk Lili.

Aku tidak menikmati pelukan Nesa sama sekali karena Lili melihat kami sambil menutup mulutnya dengan sebelah tangan. Maafkan aku Lili, ucapku dalam hati. Lima detik kemudian Nesa melepas tangannya dari leherku dan kemudian memeluk Lili. “Terima kasih, Li. Kuharap kamu tidak marah denganku.”

“Yud, maafkan aku telah mengganggu kehidupanmu. Aku pamit,” ucap Nesa yang kemudian melambaikan tangannya dan melangkah pergi dengan senyum terakhirnya. Dia tampaknya sudah lega dan tak lagi menanggung beban. Ini sudah menjadi pilihannya sejak awal.

Lili menggenggam jemariku erat seakan tidak akan pernah melepaskanku dan membiarkanku pergi. “Aku tau aku bukanlah siapa-siapa yang mengetahui masa lalumu, Yud. Tapi aku berharap, semoga kamu mencintaiku dengan tulus, karena aku juga akan belajar sepenuh hati mencintaimu.”

“Iya, aku akan selalu mencobanya.” Senyumku mengembang menanggapi ucapan Lili.

Kami berdua berjalan meninggalkan pekarangan itu. Langit senja pun berubah menjadi semakin gelap. Aktivitas malam kota Yogyakarta mulai terdengar. Lalu lalang kendaraan di sekitar kami menutup perpisahanku dengan Nesa. Sungguh, aku tidak pernah menyangka seseorang dari masa laluku akan datang lagi setelah meninggalkanku hanya untuk mengucapkan selamat tinggal.

Aku pun berharap, semoga suatu hari Lili tidak melakukan hal yang sama.

***

“Kamu kalo mau selingkuh, bilang sama aku ya. Sekalian nanti kenalin selingkuhan kamu ke aku.”

“Maksudnya?”

“Nggak apa-apa, aku cuma pengin tau aja orangnya siapa dan sekalian pengin titip pesan tolong jagain kamu dengan baik.”

“Kenapa?”

“Karena kalo kamu mencintai dan bersyukur memilikiku, kamu nggak akan selingkuh.”

Apa bedanya pergi tanpa alasan ataupun dengan alasan? Jika pada akhirnya hasilnya adalah perpisahan yang menyakitkan.

Menyesal lah dan belajar dari penyesalan itu. Agar kita lebih berhati-hati dan berpikir milyaran kali dalam memilih pilihan dan mengambil keputusan.

Level tertinggi mencintai adalah merelakan orang yang paling kita cintai tersenyum bersama orang lain.

***

Advertisements

11 thoughts on “Pelukan Terakhir

  1. Ka Falen, seseorang sepertinya copas tulisan kaka yang ini wisnuprakosoo.blogspot.com/2014/07/pelukan-terakhir.html?m=1
    Ngga ditulis penulis aslinya nih ka.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s