Senyum Kikuk

Sebaiknya kamu tidak sedang membayangkan ada seorang wanita cantik di hadapanku kini. Tapi terserah saja, yang penting aku sudah mengingatkanmu. Karena akan…, ah sudahlah.

Wanita itu berambut panjang hitam legam, wajahnya oval dengan dagu seperti lebah menggantung. Dia memiliki kulit putih mulus seperti beras mahal, dua belahan bibir tipis yang dia punya semakin terlihat sempurna karena ditambah balutan lipstik merah muda. Membuatnya semakin tampak cantik –dan menggoda tentunya. Sekilas, wajahnya mirip artis Revalina S Temat, tetapi sayangnya, dia tidak memiliki tahi lalat di pipi kanannya.

Aku tidak mengenalnya sama sekali, namun aku perhatikan, dia sama sama seperti aku, sering mengunjungi kedai kopi ini. Kami belum pernah sekalipun bertegur sapa, hanya beberapa kali sekilas beradu tatap mata tanpa mengeluarkan sepatah kata. Kami terlalu sibuk di balik layar laptop masing-masing.

Pernah suatu kali aku iseng menanyakan perihal wanita itu pada barista kopi yang sedang berjaga ketika kedai ini sepi dan wanita itu sedang tidak berkunjung. Wawan, nama barista itu, dia yang sering membuatkanku secangkir cappuccino manis dengan empat suntikan gula cair. Dia adalah barista paling senior di kedai ini –tentunya buatan kopinya yang paling enak dari empat barista lainnya yang bekerja di kedai ini.

Saat itu, aku menghampiri bang Wawan yang sedang duduk di hadapan televisi berlayar tipis. Televisi yang bergantung setinggi kurang lebih satu setengah meter pada tiang yang berdiri gagah di samping meja kasir. Perhatian barista asli Betawi itu terfokus pada stasiun televisi HBO yang sedang menayangkan film yang-entah-judulnya-apa.

“Bang Wan…” Aku memanggilnya dari belakang. Wawan masih mematut diri untuk fokus pada layar kaca yang suaranya tidak terlalu jelas berdialog apa.

“Bang Wan…” Kali ini aku memanggilnya sambil memberi bonus sebuah tepukan di pundaknya.

Bang Wawan sedikit kaget dan merasa terganggu akibat tepukan yang kulakukan. Dia memalingkan wajahnya ke arahku. “APAAN?!”

“Eh, sorry ganggu. Hehehe. Gue pengin nanya.”

“Nanya ape?” tanya dia dengan logat Betawinya.

Aku memikirkan kalimat yang tepat untuk mengajukan pertanyaan perihal siapa wanita yang kujelaskan sebelumnya padamu. Aku berdehem. “Cewek rambut panjang yang sering ke sini itu namanya siapa?”

Bang Wawan menatapku bingung. “Banyak, Gi. Lo kate cewek yang dateng ke sini cuma satu-dua orang ape.”

Aku terdiam sejenak, memilah informasi pada otakku yang sedang memproses ciri-ciri yang lebih signifikan tentang wanita itu. Sepuluh detik kemudian. AH!

“Itu, cewek yang rambutnya panjang. Badannya nggak teralu tinggi tapi berisi. Sering ke sini sama temennya yang pake kaca mata itu. Pernah lo ajak ngobrol kok.”

Bang Wawan mengingat-ingat sejenak siapa wanita yang kusebut itu. “Yang suka bawa laptop kayak lo juga, ye?

“Iya! Bener, yang nada ketawanya lucu itu.”

Bang Wawan menjentikkan jarinya. “Ooh, itu sih si Nindya. Kenape? Lo suka ye?”

Mendengar pertanyaan bang Wawan, aku hanya menjawabnya dengan cengar-cengir.

Yaileh, bilang aje kali, Gi. Emang cakep tuh anak, asik lagi orangnye,” jelas bang Wawan.

Aku mengibaskan tangan ke udara. “Nggak, gue cuma tertarik aja. Dia jomblo gak ya kira-kira?”

Kali ini bang Wawan yang tertawa terkekeh-kekeh. Aku agak salah tingkah dengan pertanyaan yang barusan aku ajukan.

“Ya mane gue tau, emang gue emaknye,” jawab bang Wawan yang kemudian menyalakan rokoknya. “Tapi kayaknye sih die jomblo, Gi.”

“Eh serius?”

Iye. Sikat dah!” ucap bang Wawan menginstruksikan layaknya komandan batalion yang memerintah pasukannya untuk menyerang musuh. Aku tertawa sambil mendorong pelan tubuhnya.

***

“Boleh minjem korek?” tanyaku pada wanita di hadapanku.

Wanita itu melihatku sekilas sambil tersenyum dan meminjamkan korek gas biru bermerk Cricket miliknya padaku. “Tentu saja.”

Aku menyalakan sebatang Djarum Super yang sudah dari lima detik lalu terselip di bibirku. Sejurus kemudian rokokku menyala. Aku menghisap dalam-dalam untuk menikmati asap yang sudah diketahui ratusan juta orang mengandung ribuan jenis racun mematikan, yang bisa membunuhku lewat serangan jantung kapan saja.

Dengan perlahan aku menaruh rokok ke asbak hitam di sampingku dan mengembalikan korek yang kupinjam dari wanita itu, lalu menyodorkan tangan dan berkata, “Thank you, nama gue Nugi. Lo?”

Sebuah pick up line sok keren baru saja kuluncurkan, namun persetan, daripada aku tidak pernah berkenalan dengan wanita yang berhasil membuatku penasaran seminggu ini.

Wanita itu melirik ke arahku dan meluncurkan senyum yang menjadi penyebab rasa penasaranku terbakar sambil menyambut tanganku. “Gue Nindya, salam kenal.”

Dalam adegan lambat, kamu bisa melihat tangan kami berdua masih menggantung di udara dengan posisi saling berjabatan. Kamu bisa melihat dua pasang mata saling menatap. Yang satunya lagi dengan tatapan biasa-biasa saja, yang satunya lagi dengan rasa penasaran yang menggebu-gebu. Tidak ketinggalan, sepasang bulan sabit terbit pada bibir kami.

Sorry to say, kalo lo kenalan buat deketin gue, kayaknya nggak bisa,” ucap Nandya langsung to the point meng-upper cut perkenalan ini.

Aku menatap Nindya dengan raut wajah bingung. “What? Why?”

My husband is behind you,” jawab Nindya terkekeh.

Mendengar jawaban Nindya, secara otomatis tubuhku berbalik ke belakang. Aku melihat sosok seorang pria tinggi berumur sekitar tiga puluh tahunan yang entah sejak kapan berada di situ. Pria itu berdiri tepat di belakangku dan menatapku dengan wajah datarnya namun dengan senyum mengejek penuh kemenangan.

Secara otomatis juga aku langsung mengutuk bang Wawan dengan sumpah serapah di dalam hati, karena telah memberikan informasi yang…

ANJRIT, BINI ORANG! teriakku dalam hati, lalu tersenyum kikuk ke arah pria itu.

***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s