Ada Kata yang Hilang

Ada kata yang hilang dari secarik puisi yang kubaca kali ini. Penulisnya sedang ambil cuti dengan alasan tak pasti; tak ada irama kesedihan yang bergelayut pada nada tiap aksaranya. Jejak-jejak retakan lukanya yang dulu berteriak lantang telah sembuh dari peluh yang tumbuh, dari ujung kuku kaki hingga ujung rambut kepala yang berkali-kali rubuh.

Ada kata yang hilang dari secarik puisi yang kubaca kali ini. Rindu sudah tak lagi menggigil akibat rasa pegal berdiri menjemput temu di stasiun, atau di bandara, atau di terminal, atau di pelabuhan, atau di kata kapan yang tergopoh-gopoh.

Ada kata yang hilang dari secarik puisi yang kubaca kali ini. Hutang janji yang baru dibayarnya dengan setengah napas sesak, sepertiga cambuk perih, dan seperlima aroma kematian yang mampir datang dalam sisa amin yang dilantunkan oleh sang pendoa. Saat hatinya patah dalam pengharapannya sendiri.

“Tuan…”

“Apa?”

“Tolong bilang pada penulis puisi ini, ada kata yang hilang dari secarik puisi yang sedang dibacanya kali ini.”

“Apa?”

“Cinta.”

Advertisements

2 thoughts on “Ada Kata yang Hilang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s