Semangat Ya, Dira!

paper-airplane-gliders

sumber

*Inbox*
From Dion XI-IPA2
‘Semangat ya, Dira!’

Pesan singkat itu sukses membuatku membanting Blackberry Curve 8300 yang baru dibelikan ayah dua hari yang lalu ke kasur. Sebal sekali rasanya mendapatkan pesan dari cowok aneh itu.

Dion, namanya, teman sekelasku. Dia yang mengirimkan pesan tersebut sebanyak dosis orang minum obat. Tiga kali sehari. Pagi, siang, dan malam. Dan terhitung sudah tiga bulan ini dia mengirimkan pesan yang sama.

Semua berawal dari tulisan harapan yang menjadi tradisi sekolah kami. Jadi setiap tahunnya, saat kenaikan kelas, setiap murid wajib menuliskan harapannya pada secarik kertas dan membacakannya di depan kelas.

Saat itu aku menuliskan harapan “Aku ingin ada seseorang yang menyemangatiku setiap hari.” Dengan tujuan agar Rama, cowok yang kusukai dan kebetulan sedang mendekatiku mengetahuinya. Tapi sialnya, ketika aku membacakan harapanku itu, malah Dion yang berteriak “Aku siap menjadi orang itu.” Sontak membuat seisi kelas termasuk Rama tertawa dan meledek kami berdua. Aku sangat malu sekali setiap kali mengingat kejadian itu.

Semenjak saat itu, Dion tidak pernah bosan-bosannya mengirimkanku pesan singkat. “Semangat ya, Dira!”

Suatu hari, aku pernah memarahinya di kelas ketika bel tanda pelajaran telah berakhir dan kelas sudah sepi.

“Dion, lo ngapain sih ngelakuin hal ini terus?” Aku berdiri di hadapan dia yang sedang menulis sesuatu -entah menulis apa- di secarik kertas biru. Dia masih bergeming. Tanpa sadar aku memicingkan mata dan perlahan mendekatinya.

Dion menyadari gelagatku yang sedang memperhatikannya. Kemudian dia berhenti menulis. “Kan kamu pengin ada seseorang yang selalu nyemangatin kamu, Ra. Jadi daripada aku nggak ada kerjaan, ya aku nyemangatin kamu aja,” jawab Dion cengengesan sambil melipat kertas itu hingga membentuknya menjadi sebuah pesawat lalu memasukannya ke kolong meja.

Aku membuang napas sejenak. “Tapi nggak gitu juga, Yon. Gue ngerasa risih dan keganggu dengan hal ini. Lo bukan siapa-siapa gue, jadi sadar diri dong! Perbuatan lo tuh kayak anak kecil tau nggak sih!”

Dion terdiam mendengar ucapanku. Dia menundukkan kepalanya, sekilas wajahnya terlihat pucat. Dari gestur tubuhnya, aku menebak dia sedang mencari alasan untuk berkilah. Sepuluh detik kemudian dia menatap ke arahku.

“Iya sih, aku emang bukan siapa-siapa kamu. Aku juga kayak anak kecil yah. Maaf, Dir,” ucap Dion dengan nada bersalah. Aku merasa lega mendengar ucapannya, tetapi langsung tersenyum kecut mendengar ucapan berikutnya.

“Tapi ini kan harapan kamu, Dir. Dan harapan kamu udah terwujud karena aku. Harusnya kamu seneng dong!” kilah Dion dengan senyum jahilnya dan mengusap kepalaku sekilas lalu pergi ke luar kelas sambil terbatuk-batuk.

Ih apaan sih, nyebelin banget ini anak, omelku dalam hati.

Aku merasa gemas sekali hingga menceritakannya ke Ranti, sahabat dekatku yang beda kelas saat dia main ke rumahku. Dia pun tahu hal ini sebelum aku bercerita. Ranti hanya tertawa saat aku curhat bahwa aku merasa terganggu dengan kelakuan Dion.

“Ran, gue males banget deh sama itu anak,” keluhku sambil menyandarkan kepala ke pundak Ranti.

Mendengar keluhanku, Ranti tertawa kecil dan menggelengkan kepalanya. “Iya ya, gue juga pasti ngerasa males dan terganggu banget kalo berada di posisi lo,” dia mengelus rambutku, “tapi nikmatin aja sih, Ra. Daripada handphone kamu sepi. Mungkin dia suka kali sama lo. Hahaha.”

“Ih, elo tuh ya sama resenya deh. Gue tuh pengin disemangatin sama Rama, bukan sama Dion,” gerutuku.

“Ngerti, Ra, ngerti. Tapi si Dion nggak jelek-jelek banget kok kalo dijadiin pacar,” goda Ranti. Aku jadi malas dengan topik obrolan ini.

“Nggak! Apaan sih, elo bukannya bantuin gue buat bikin si Dion berhenti ngelakuin hal itu, eh malah ngedukung..–” ucapanku terhenti. Ada pesan masuk.

*Inbox*
From Dion XI-IPA2
‘Semangat ya, Dira! :p’

“AAARRGHHH!!! Dia lagi, dia lagi!” Aku berteriak kencang membuat hingga Ranti kaget dan membungkam mulutku. “Apaan sih lo, Ra!”

Aku cemberut dan menunjukkan layar handphone-ku ke depan wajah Ranti. “Nih liat! Dia SMS gue lagi.”

Kini giliran Ranti yang tertawa kencang.

‘BODO AMAT! TERSERAH! MULAI DETIK INI GUE GANTI NOMER!”
Sent to Dion XI-IPA2

***

Aku memutuskan untuk mengganti nomer dan memberi tahunya pada teman-teman dan orang yang dekat denganku saja, termasuk Rama. Tidak lupa memperingatkan mereka untuk tidak memberi tahu kepada Dion.

Saat memberi tahu Rama tentang nomer baruku ketika kami sedang pergi ke toko buku, dia bertanya mengenai alasan mengapa aku mengganti nomer.

“Kamu kenapa ganti nomer, Ra?” tanya Rama menyelidiki.

“Aku rasa kamu tau alasannya.”

“Oh, karena hal itu toh,” ucap Rama santai. “Mungkin dia suka kali sama kamu,” lanjutnya. Aku melongo dan tertohok mendengar ucapannya.

“Iya, mungkin dia suka sama kamu jadi kayak gitu. Nggak semua orang tau cara yang tepat buat nunjukkin perhatiannya, Ra,” jelas Rama serius.

Aku memahami perkataannya sejenak, lalu berkata, “Tapi aku nggak suka dengan caranya itu. Lagipula aku nggak suka dan nggak tertarik sama sekali sama Dion. Yang ada aku malah ilfeel.”

“Hahaha, yaudahlah. Terus kamu sukanya sama siapa? Hayo jawab jujur…” Pertanyaan Rama membuat jantungku hampir loncat dari tempatnya. Sial!

Enng…, sama siapa ya? Hehehe.” Aku salah tingkah menjawabnya.

Rama menatapku geli. “Hahaha, aku cuma becanda kok.”

Aku tersenyum lega, sepertinya dia mengetahui bahwa aku menyukai dirinya. Lalu tidak lama handphone-ku bergetar.

*Inbox*
From 085621124xxx
‘Semangat ya, Dira! :D’

“Rama, abis dari sini kita nonton yuk,” ajakku mengabaikan pesan dari Dion. Rama hanya mengangguk mengiyakan.

***

Kini aku sedang berdiri bersama seluruh teman sekelasku dan menatap nanar enam orang yang sedang menggali tanah seluas 1,25×2,5 meter di sebuah pemakaman umum. Saat lantunan doa dari ayat-ayat suci semakin deras terdengar, tanpa komando air mataku tumpah dan aku menangis sejadi-jadinya bersamaan dengan teman-teman yang lain.

Ini nggak mungkin terjadi, nggak mungkin. Aku nggak percaya kalo kamu pergi secepat ini, ucapku dalam hati, masih belum bisa percaya dengan apa yang sedang terjadi di hadapanku.

“DIOOOOOONN!” Aku jatuh terduduk saat tubuh Dion dibaringkan ke dalam peristirahatan terakhirnya. Aku meyebut namanya berkali-kali hingga akhirnya tidak sadarkan diri.

Ya, mungkin kamu sekarang mulai mengerti apa yang telah terjadi. Dion meninggal dua hari setelah aku memintanya untuk tidak menggangguku lagi, dan aku mengancamnya jika dia masih melakukan hal itu, aku akan mengadukannya ke wali kelas.

Saat itu Dion sedang melakukan hal yang sama -menulis sesuatu pada secarik kertas warna biru- saat bel tanda jam pelajaran berakhir. Aku melihat ada yang berbeda dari dirinya. Di balik seragam sekolah dan jaket putih yang membungkus tubuhnya, Dion terlihat sangat kurus. Aku tidak menyadari bahwa dia sedang menderita penyakit yang membuatnya pergi selama-lamanya.

“Mau minta aku untuk berhenti, Ra?” tanya Dion yang sudah mengerti tujuanku mendatanginya.

“Iya, kali ini terakhir kalinya gue meminta dengan sangat jangan mengganggu gue lagi.”

Dion menganggukkan kepalanya, tanda dia mengerti permintaanku. Kali ini dia tidak tersenyum jahil. Dia hanya menatap ke arah papan tulis dengan tatapan kosong.

“Ra, kamu tau nggak?”

“Hah? Tau apa?”

Dion menunjukkan pesawat kertas berwarna biru ke arahku. “Biru itu warna harapan.”

“Maksudnya? Gue nggak ngerti,” tanyaku meminta penjelasan.

“Ya, biru itu warna harapan. Kita pasti pernah berharap, bahkan terlalu tinggi seperti pesawat di atas langit sana. Kayak misalnya berharap orang yang kita sayangi menyadari perasaan kita, meskipun kita tau orang itu menyayangi orang lain. Meskipun kita tau harapan itu hanya sia-sia, tapi kita tetap berharap dan menerbangkannya seperti pesawat,” jelas Dion.

“Orang seperti itu sebenarnya hanya ingin menikmati harapan yang takkan pernah terwujud. Dia tau dan sadar diri bahwa dia adalah seorang pengecut. Namun dia juga menyadari jika memaksakan perasannya terhadap orang yang dia sayangi hanya akan membuat dirinya menjadi seorang yang egois, seorang yang jahat.”

Keningku mengernyit mendengarnya. Aku mencoba mencerna ucapan Dion barusan. Jujur saja, aku tidak mengerti apa yang dia ucapkan.

“Iya, gue pernah berharap ada seseorang yang menyemangati gue, dan elo orangnya, meskipun gue nggak pernah meminta dan mengizinkan.”

Dion memaksakan senyumnya, seperti orang yang terlihat tidak menerima kenyataan. Aku memandang wajahnya dengan seksama kali ini. Benar yang dikatakan Ranti, ternyata cowok ini cukup tampan. Namun kini wajah innocent dan bibir tipis yang rajin menyunggingkan senyum jahil itu terlihat pucat.

“Lo kenapa, Yon? Jujur.” Aku tidak bisa menahan rasa penasaranku.

“Nggak apa-apa, cuma lagi sedikit kurang sehat,” jawab Dion singkat.

“Bohong! Pasti lo lagi sakit kan?”

“Iya, karena kecapean aja. Heh, tumben kamu jadi perhatian nanyain aku, kesambet demit kebon mana?”

Aku tertawa mendengar pertanyaannya, di saat yang bersamaan jantungku tiba-tiba berdebar kencang mendengar pertanyaannya. Tanpa aba-aba ada sesuatu yang terasa asing merasuki hatiku tepat saat ini. Namun aku belum mengetahui dengan jelas itu apa. Seperti semacam rasa hangat yang membuat diriku nyaman.

“Eh, apa sih, gue cuma nanya doang. Geer deh,” jawabku sedikit jutek.

Dion hanya cengengesan mendengar ucapanku, namun tiba-tiba Dion batuk, dan kali ini batuknya terdengar sangat menyiksanya. Aku khawatir. “Lo gak apa-apa, Yon?”

“UHUK! UHUK HUKK!!” Dion tidak menjawabnya karena masih terbatuk-batuk. Aku reflek mengambil air mineral di dalam tasku. Setelah meminum beberapa tegukan, perlahan-lahan batuknya berhenti dan dia terlihat lebih tenang, namun wajahnya semakin pucat.

“Haah…” Dion menghembuskan napasnya secara kasar melalui mulutnya. Kedua matanya terlihat lelah. Dia menatap wajahku dalam-dalam.

“Ra, maafin aku ya kalo selama ini aku ngeganggu kamu,” ucap Dion dengan nada lemah.

“Iya, gue maafin, nggak apa-apa kok.”

Dion menggenggam kedua tanganku dengan lembut. Entah kenapa tanganku tidak mengeluarkan reaksi penolakan. Lalu Dion memandangku sambil tersenyum dan meyerahkan pesawat kertas biru yang dia tunjukkan tadi kepadaku. Mendadak rasa bersalah dan berbagai macam pertanyaan muncul di pikiranku.

“Biru itu warna harapan. Di dalam kertas itu tertulis harapan yang nggak aku bacain, Ra,” ucap Dion. Aku baru menyadari bahwa Dion tidak membacakan harapannya di depan kelas waktu itu dengan alasan dia lupa menuliskannya. Dan kini tulisan tentang harapan miliknya ada di tanganku.

“Aku boleh minta satu permintaan sama kamu?”

“Bb…, boleh, Yon.”

“Tolong jaga baik-baik pesawat kertas ini ya, dan kamu boleh membuka kertas itu dan membaca tulisan di dalamnya setiap kali kamu butuh seseorang untuk menyemangati kamu.”

Mendengar ucapan Dion, dadaku langsung terasa sesak sekali. Entah asalnya dari mana, perasaan sesak ini seperti pertanda bahwa aku akan merindukan dirinya, seperti pertanda bahwa aku akan kehilangannya.

“Iya, gue pasti jaga, ini kan harapan lo. Oh iya, emang lo mau ke mana, Yon?” Aku berusaha terlihat tenang dan tidak berpikir aneh-aneh.

“Nggak ke mana-mana, aku selalu ada di samping kamu buat nyemangatin kamu. Semangat ya, Dira!” ucap Dion sambil tersenyum manis dan mengecup keningku, aku menikmatinya. Manis sekali, senyum terakhir yang membuatku sangat merindukan dirinya.

***

Semangat ya, Dira!

Maaf jika hanya hal konyol itu yang bisa kulakukan untuk menunjukkan rasa sayangku yang selama ini kupendam. Karena aku tau kamu menyukai Rama, sohibku. Aku akui, aku memang menyebalkan. Maafkan aku yang nggak mengerti bagaimana cara nunjukkin perasaan aku dengan cara yang benar, dan itu justru malah mengganggumu.

Aku tau waktuku nggak lama lagi, untuk itu aku menulis ini di secarik kertas biru dan melipatnya menjadi bentuk pesawat. Aku ingin menerbangkan harapanku yang terlalu tinggi ini ke angkasa. Menikmatinya melayang di udara meski hanya beberapa saat lalu jatuh terhempas ke bawah dengan kasar dan terasa sangat sakit karena itu. Namun itulah harapanku, aku ingin menikmatinya.

Aku memang orang bodoh dan pengecut. Aku tidak pernah berani mengungkapkan perasaanku padamu. Tapi kini aku lega karena kamu telah mengetahuinya.

Aku harap saat kamu membacanya, kamu sedang tersenyum.

Semangat ya, Dira!
Aku menyayangi kamu semenjak pertama kali melihatmu. Aku sadar, aku bukan tipe orang yang akan disukai kamu. Jadi, aku memilih untuk nggak pernah mendekati kamu seperti cowok-cowok lainnya yang terang-terangan menunjukkan rasa sukanya terhadapmu.

Aku ingin kamu selalu semangat menjalani hari-hari meskipun akan terasa semakin berat. Aku yakin kamu bisa! Dan karena itu aku pengin selalu menyemangati kamu, walaupun kamu nggak butuh semangat dari aku. Tapi aku tetap ingin melakukannya, meskipun dengan cara yang menurutmu menyebalkan.

Jika aku boleh bertanya, apa harapanmu?

Semangat ya, Dira! Semoga harapanmu terwujud. Aku sayang kamu, dan akan selalu menyemangati kamu.

Dion.

Pandangan mataku semakin kabur saat aku membaca kalimat terakhirnya. Tulisan itu, tulisan itu adalah harapan Dion yang dia pada pesawat kertas biru yang diberikan kepadaku. Aku tidak pernah menyangka bahwa selama ini ternyata dia memendam perasaannya, dan aku tidak menyadarinya. Maafkan aku, Dion.

Harapanku adalah jika waktu bisa berputar kembali, aku ingin kamu menyemangatiku lagi dengan cara yang menyebalkan itu selamanya. Aku berjanji, aku pun akan melakukan hal yang sama padamu. Aku akan mencoba membuka hati untukmu.

Namun aku tau, harapan itu tak akan pernah terwujud.

Dion, aku kangen disemangatin sama kamu. Semangatin aku dari atas sana ya.

***

Advertisements

24 thoughts on “Semangat Ya, Dira!

  1. Nangis parah, padahal udah gue tahan-tahan eh netes juga ! Gilak 😥 gue beliin pecel ayam paling enak buat lo bang :’*

  2. Kak, bagian “Tulisan itu, tulisan itu adalah harapan Dion yang dia pada pesawat kertas biru yang diberikan kepadaku.” kok rancu, yah?

  3. Mungkin maksudnyaa adalah : “Tulisan itu, tulisan itu adalah harapan Dion yang dia tulis pada pesawat kertas biru yang diberikan kepadaku.”
    Bener ga bang? HiHiHi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s