Tolong Katakan Sekali Lagi

Aku sedang bercakap-cakap dengan kenangan di ruang tamu sambil menikmati hujan dan secangkir kopi hitam yang asapnya mengepul berlebihan. Tanpa sadar aku tenggelam memandang diorama percakapan antara aku dan kamu yang sudah lalu. Kenangan hanya tersenyum datar tanpa arti melihat wajahku yang sangat serius.

“Tolong katakan sekali lagi, ciuman itu milik siapa?” Saat itu aku bertanya padamu yang hanya tertunduk menatap baju kesayanganmu, baju yang kuhadiahi pada ulang tahunmu. Di kerahnya ada bekas bibir seseorang –atau lebih tepatnya anjing, ‘Setan mana yang berani menyentuh bibir kekasihku?’.

“Tolong katakan sekali lagi, ciuman itu milik siapa?” Aku mulai kehilangan kesabaran.

PLAK! Sebuah tamparan melayang di udara

Wajahmu memerah, tangismu berteriak lantang.

“Tolong katakan sekali lagi, ciuman itu milik siapa?” Kali ini aku mengatakannya dengan nada sedikit lebih tenang.

“Milik…-”

“Siapa?”

“Milikmu.”

“Tolong katakan sekali lagi,” ucapku frustrasi sambil mendongakkan kepalaku ke atas.

Kemudian kamu berjalan tergopoh-gopoh dengan sisa kekuatan yang habis terburai karena mencari alasan yang tepat. Sejurus kemudian bibirmu sudah berjarak sesenti di hadapan telingaku.

“Ciuman itu milikmu, sebelum kamu kehilangan pendengaranmu.”

***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s