Bibir yang Baru Pertama Kali Mencium

Aku sedang mengikat kata setia pada nadi jantungku sesaat setelah kamu memberi jawaban yang membahagiakan hatiku, sepaket dengan kecupan manis yang mendarat di bibirku yang sesudah itu malah sibuk mencatat sejarah.

Aku tidak ingat kali keberapa aku jatuh cinta pada seorang gadis. Terakhir kali yang kuingat hanyalah rasa perih penghianatan, cinta tak berbalas, atau puisi-puisi yang kehilangan maknanya, lalu berakhir mati bunuh diri.

Aku belum pernah merasakan ciuman yang begitu lembut di bibirku. Bibir ini masih terlalu polos untuk merasakan bagian-bagian kecil cinta yang terasa nyata.

“Aku mencintaimu.”

Cup.

“Aku pun begitu, untungnya tidak terlambat.”

Cup.

Bangku bioskop yang disesaki berpuluh-puluh pantat pura-pura tidak melihat tindakan kami barusan. Dan film yang sedang menampilkan adegan ciuman pun tidak lagi berarti, sementara fokus kami terisi penuh pada satu bibir yang masih penasaran untuk memperagakan adegan yang sama.

“Manis sekali,” kata bibirku girang. Kini dia membuat sebuah janji untuk tidak lagi menyematkan berbatang-batang nikotin atau sekrat bir yang terasa sepat ketika patah hati.

***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s