Tentang Sebuah Janji

tumblr_mxrkwwok2n1smm19oo1_500

sumber

Jarum jam tangan Kirana telah menunjukkan pukul 21.15. Sedari tadi jemarinya mengetuk meja besi berwarna abu-abu milik super market berlogo angka tujuh yang sering dijadikan tempat nongkrong anak muda. Sesekali Kirana menengok ke arah parkiran yang berada di sebelah kiri dan berjarak sekitar dua puluh meter dari tempat dia duduk. Dia sedang menunggu pacarnya.

Sudah hampir satu jam lebih dia berada di sana. Dia bahkan lupa sudah berapa kali mengirimkan pesan bertuliskan “Kamu udah di mana?”, namun tidak ada balasan. Rasa cemas berduet dengan kalimat penuh tanda tanya yang sedang menari di pikirannya, semakin lama semakin kencang. Dia berharap pacarnya segera datang untuk menjelaskan tentang apa yang dilihatnya dua minggu lalu di lobi bioskop salah satu mal di daerah Depok.

Tujuh menit kemudian, sebuah mobil Honda Jazz berwarna merah memasuki area parkir. Kirana memicingkan matanya untuk plat nomer mobilnya untuk memastikan siapa yang mengendarai, lalu berkata dalam hati, “Ah, akhirnya datang juga!”

Tidak lama kemudian, seorang cowok berwajah maskulin mengenakan kaos biru bergambar Iron-Man dan celana chino krem keluar dari pintu mobil itu sambil memegang handphone di telinganya, pandangan kedua matanya menyapu keadaan sekitar. Dia mencari seorang gadis yang telah menunggunya, lalu dia melihat seseorang melambaikan tangan. Dia bergegas berjalan ke arah lambaian tangan tersebut.

“Maaf nunggu lama, tadi macet dan handphone-ku mati,” ucap Neza membuka percakapan sambil menjatuhkan pantatnya ke kursi yang berhadapan dengan Kirana.

“Iya nggak apa-apa yang penting kamu datang. Aku kira kamu lupa atau ketiduran makanya nggak datang.” Kirana tersenyum  sekilas lega dengan kedatangan Neza. “Nih kamu minum dulu,” ucapnya lagi sambil menyodorkan jus jeruk buatannya di dalam botol minuman berwarna oranye, senada dengan minumannya.

Neza masih mengatur napasnya sejenak, lalu memperhatikan botol itu dengan senyum yang mengembang, dan dalam hitungan detik dia langsung meneguk jus jeruk itu. “Makasih ya sayang, kamu selalu inget hal kesukaan aku. Ini enak.”

“Iya, sama-sama,” balas Kirana dan menyunggingkan segaris senyum di bibir tipisnya, yang menjadikan wajahnya semakin cantik. Meskipun dalam senyumnya itu menyimpan banyak luka yang kasat mata, mata Neza.

“Oh iya, kamu pengin ngomongin apa?” tanya Neza polos setelah menyelesaikan tegukan terakhir. Sejenak, air wajah Kirana perlahan berubah kaku. Dia tidak menduga Neza akan bertanya dengan nada seperti itu. Tampaknya Neza benar-benar tidak tahu arah percakapan ini. Dia terlihat sangat santai seolah tidak ada yang terjadi.

Kali ini Kirana yang mengatur napa sejenak agar tidak terlihat gugup. “Hmm…, dua minggu lalu kamu pergi ke Detos, ya?”

Kening Neza mengernyit mendengar pertanyaan itu.

“Lho, kan kamu tau, dua minggu lalu aku nginep di rumah sepupu aku, si Dika,” jawab Neza.

Mendengar jawaban itu, Kirana menganggukan kepalanya pelan berusaha tenang. “Iya nginep di rumah sepupu kamu kan malamnya, tapi siangnya aku liat kamu pake baju yang sama seperti yang kamu pake sekarang di sana.” Kirana berusaha mengatur intonasi suaranya. Dia berdehem sekali. “Udah gitu sama gandengan sama cewek lagi.”

“Oh itu…, dia temenku.” Sekali lagi, Neza menjawabnya dengan nada santai.

“Tapi kok aku nggak tau ya temen yang mana ya? Apa aku salah liat?” tanya Kirana pada dirinya sendiri.

“Udah deh, Za. Kamu jujur aja, kalo emang temen nggak mungkin kan jalan sambil gandengan tangan?” Neza tertohok mendengar ucapan Kirana. Ternyata dia tertangkap basah. Raut wajahnya kini mulai terlihat serba salah, meskipun dia berusaha menutupinya dengan terlihat santai.

“Yang kamu bilang temen kamu itu sebenarnya temen kampus aku, cuma beda kelas. Aku nggak terlalu deket sama dia, tapi aku tau namanya, Riska. Bener kan?” Kirana menghembuskan napas panjang. “Kamu belum berubah ya ternyata.”

“Ya, aku memang belum berubah. Aku akui itu, makanya aku pengin kamu bantu mengubah sifat buruk aku, sayang.” Neza akhirnya mengeluarkan kalimat jujur itu. Mengakui bahwa dia selingkuh.

“Masih nggak malu kamu manggil aku dengan sebutan ‘Sayang’?”

“Na…–”

“Inget kan janji kamu setengah tahun yang lalu gimana? Perlu aku praktekin sekarang?”

“Nggak usah…”

“Sebaiknya kita udahan aja ya, Za. Aku rasa sampai kapanpun kamu nggak akan pernah berubah kalo kamu tetep kayak gini. Lagipula aku pun nggak bisa bantu mengubah diri kamu kalo kamu sendiri nggak punya kesadaran untuk berubah,” ujar Kirana bijak. Sebijak sisi lembut perempuan yang tidak melempar, memukul, atau bahkan menyiram kekasihnya di depan umum seperti yang dilakukan perempuan lain –tentunya dalam keadaan sangat emosi.

Neza seakan membeku mendengar kalimat yang Kirana ucapan. Kepalanya memutar ulang adegan ketika dia berjanji untuk tidak selingkuh lagi, tapi nyatanya dia tetap melakukannya. Catat: sudah ketiga kalinya, dan entah yang tidak ketahuan ada berapa. Dan Neza tidak menyangka bahwa Kirana akan mengetahui itu. Entah dari mana asalnya atau setan mana yang memberi tahu Kirana mengenai hal tersebut. Lagipula itu sudah tidak penting lagi.

“Aku capek menghadapi kamu yang nggak pernah berubah, Za. Dan bodohnya aku selalu menuruti kebodohan aku,” ucap Kirana dalam isakan tangis yang perlahan terdengar. “Aku nggak bisa bilang kamu brengsek, karena aku terlalu sayang sama kamu. Tapi kali ini kamu benar-benar brengsek.”

Mendengar ucapan Kirana, Neza merasa tertampar sekaligus sangat malu. Dia tertunduk lesu. “Maaf, Kirana. Maafin aku.” Hanya empat kata itu yang keluar dari mulutnya. Sisanya jutaan umpatan kasar yang diucapkan untuk dirinya sendiri.

“Iya aku maafin kesalahan kamu. Apa sih yang nggak aku maafin selama ini? Tapi maaf, pemberian maafku nggak berlaku untuk tetap ngejalanin hubungan ini lagi. Aku nyerah.”

Mereka berdua pun hening. Hanya suara orang-orang di sekitarnya saja yang terdengar. Di antara dari mereka ada yang memperhatikan sambil mencoba menguping, dan sebagiannya lagi ada yang pura-pura tidak melihat –tidak peduli tepatnya.

“Aku percaya kamu pasti berubah meskipun aku nggak tau itu akan terjadi kapan, dan bukan denganku. Aku titip pesan jaga diri kamu baik-baik,” ucap Kirana sambil mengusap wajahnya yang sembab oleh air mata yang menggenangi pipi lembutnya. Ingin sekali Neza mengusap pipi itu, tetapi dia tidak berdaya.

“Kirana…”

Tidak ada jawaban, hanya seuntai senyum terakhir yang berganti menjadi derap langkah kaki yang mungkin menjadi jawaban alternatif panggilan itu. Lamat-lamat langkah itu menjauh meninggalkan meja itu beserta Neza yang tertunduk menutup wajahnya yang terlihat frustrasi. Dalam gerakan lambat dan tanpa disadari, bulir-bulir air matanya pun berselancar dan jatuh ke permukaan meja. Tangis penyesalan. Dia malu dengan dirinya sendiri. Dia menyesal sekali telah melakukan hal bodoh ini.

Tapi sesal tak dapat merubah keadaan. Dahulu, sifat buruk Neza terlalu kokoh untuk diruntuhkan dengan kebaikan dan kelembutan hati Kirana, namun kini kekokohan itu sudah hancur berkeping-keping. Begitu pula dengan hati Kirana yang kini lebur digenggam rasa perih yang teramat dalam di tengah sisa perasaannya. Tidak ada lagi yang berdiri kokoh selain botol jus jeruk yang berdiri mematung dan salah satu dari ego mereka yang menang dalam pertempuran yang berhadiah sebuah piala kekalahan.

Kirana mengira mantan kekasihnya akan berubah dan menepati janjinya dulu seiring dengan berjalannya waktu. Dengan segenap kesabaran yang dia balut dalam setiap senyumnya. Dengan segenap kepercayaan yang dia rajut dalam setiap kabar yang dia tunggu lewat suara dan pesan singkat. Dengan segenap rasa sayang yang dia limpahkan tanpa berharap hal lain selain setia. Tapi janji hanyalah janji, tak ada bukti yang menunjukkan janji itu ditepati. Hanya pengkhianatan yang membayangi di belakang hubungannya, dan akhirnya ketahuan karena tidak terlalu lihai bersembunyi.

Entah ini salah atau tidak, Kirana terlalu menyayangi seseorang yang tidak pernah benar-benar menyayanginya. Dan kali ini dia baru menyadarinya. Namun biarlah, semesta sepakat dengan waktu, dan akhirnya membantu Kirana untuk mengetahui ujung cerita, meskipun berlinangan air mata. Kirana tetap mensyukuri itu, hingga pertemuannya dengan orang yang tepat.

Dalam perjalanannya di dalam taksi, cucuran air mata yang bersumber dari kesedihannya semakin deras. Dia yakin keputusan yang diambil kali ini adalah benar. Dia yakin inilah jawaban terakhir dari tanda tanyanya. Supir taksi yang sedari tadi memperhatikan Kirana dari spion yang tergantung di dekat layar kaca hanya tertegun.

“Neng, abis putus sama pacarnya yah? Aduh jangan sedih gitu dong, nanti luntur cantiknya loh. Putus cinta mah udah biasa, putus rem yang bahaya. Hehehe,” canda pak Narto, sang supir taksi yang mencoba menghangatkan suasana.

Kirana sontak tertawa mendengar guyonan pak Narto, lalu membalas, “Ah bapak bisa aja.”

Setelah tawanya mereda dan berganti dengan suara rintik hujan yang menabrakkan diri ke kaca jendela, dalam hatinya, Kirana membisikkan doa dengan sangat pelan.

“Semoga Neza berubah.”

Kadang kita terlalu baik untuk orang yang kita cintai, tapi sesekali sadarilah, jika kita baik kepada orang yang salah, kita hanya memperoleh rasa sakit.

Setia adalah pilihan dan sebuah janji yang tak terlihat tentang kesanggupan kamu dalam menjaga hati.

Dan, setia bukanlah janji yang dengan mudahnya diobral oleh mulut yang tidak yakin dengan isi hatinya sendiri.

***

Advertisements

One thought on “Tentang Sebuah Janji

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s